"Aku tidak mengerti, sebenarnya apa yang kau pikirkan?"
Luna memalingkan wajah. Sekuat mungkin mencoba menyembunyikan raut sedihnya. Rasanya sesak, rasanya ia sulit sekali bernafas, sekalipun saat ini hidungnya terhubung dengan alat bantu pernafasan. Berulang kali ia mengambil nafas, dalam diam mencoba bersikap tenang. Ia tak ingin suaranya terdengar bergetar, terdengar ganjil, dan menyedihkan.
"Jangan bohongi perasaanmu sendiri, Oppa."
Luna tersenyum sebisa yang ia lakukan. Ia ingin menunjukan di depan Yesung bahwa aku baik-baik saja, dan aku bukan yeoja yang lemah.
"Sejak awal, semua ini terjadi dengan dilandasi sebuah kesalahan."
Bagi seorang pria, rasanya menyakitkan melihat seorang wanita menangis di hadapannya, dan itulah yang Yesung rasakan. Ia tahu bahwa Luna tak sekuat ucapannya, karena air mata wanita itu cukup membuktikannya.
Air mata tak pernah berbohong, dan air mata tak akan jatuh tanpa sebuah alasan. Yesung menghapusnya dengan lembut, menghapus air yang sudah membasahi pipi wanitanya.
"Aku membuatmu berada disisiku setelah aku merebutmu dari sisinya. Aku membuatmu menikahiku setelah aku menghancurkan pernikahanmu dengannya. Aku membuatmu membohongi perasaanmu setelah aku menjadi penghalang perasaanmu untuknya. Aku… a-aku…"
Luna terisak dalam tangisnya. Ia tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya, ia merasa sudah terlalu banyak kesalahan yang secara tak langsung ia perbuat. Walau tak secara nyata, tapi ia sudah menyakiti dua orang— tidak, bahkan tiga orang sekaligus.
Yesung, Ryeowook, dan Jongie.
"Tanpaku, seharusnya kalian menjadi sebuah keluarga kecil yang bahagia."
Tangan ringkihnya menggenggam tangan Yesung. Pria itu tak bergeming, menutup mulut dan menatap Luna dalam. Namun dari sorotnya, pria itu benar-benar memperhatikan setiap ucapannya, atau sesekali menghapus air matanya dan memberinya ketenangan dengan sebuah usapan di punggung tangannya.
"Aku ingat, Oppa, kau pernah berkata bahwa kau dan Ryeowook Oppa dipertemukan dalam sebuah kesalahan."
Yesung tersenyum kecil mendengar ucapan Luna. Ia mengingatnya, ia berbicara saat hubungannya dan Ryeowook masih begitu buruk. Bahkan ia pernah berkata pada Luna, bahwa kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah bertemu dengan Ryeowook.
"Mungkin itu memang benar, tapi menikah denganku adalah kesalahan lain yang jauh lebih besar."
Luna menatapnya teduh. Yesung dapat melihatnya, sebuah ketulusan dari tatapan dan sebuah kesungguhan dari setiap kalimat yang Luna ucapkan.
"Kebahagiaan adalah hak setiap orang," rasanya Luna ingin kembali menangis saat mengucapkannya. "dan kebahagiaanmu berasal dari kesalahanmu, yaitu keluargamu yang hadir tanpa maumu."
Dan untuk kali ini, tanpa maunya ia merasa kedua pandangannya memburam. Yesung mengumpat saat tanpa sadar kedua ujung matanya basah. Ia hampir menangis. Semua ucapan Luna menyadarkannya, menyadarkan semua kesalahan yang pernah ia lakukan.
"Buat mereka bahagia," ucapannya terdengar nyaris berbisik, "buat keluarga kecilmu bahagia."
Dan Yesung memberinya sebuah pelukan.
Sebuah pelukan tanda terima kasih bagi Yesung.
Sebuah pelukan tanda perpisahan bagi Luna.
.
.
.
.
My Little Family © Choi RinRi
Super Junior © God, SMEnt, and their parents.
Maint Cast : Kim Jongwoon & Kim Ryeowook
Warning : Shounen-ai, OOC, OC, AU, M-Preg.
Don't Like? Don't read!
.
.
[Chapter 9]
Enjoy!
.
.
.
Ryeowook begitu sibuk di dapur. Heechul baru saja meneleponnya dan berkata bahwa sebentar lagi akan pulang ke rumah. Tak hanya bersama Jongie, tapi Heechul datang bersama Donghae dan Hyukjae. Karenanya, ia menyibukan diri di dapur untuk menyiapkan makanan kecil dan minuman untuk menyambut tamunya nanti.
Bel pintu berbunyi, dan dengan senyuman Ryeowook melangkah cepat ke arah bagian depan rumahnya. Ia berpikir jika Heechul dan yang lainnya datang lebih cepat dari perkiraannya. Ryeowook membuka pintu, dan ternyata sosok Kim Jongwoon yang kini berada di hadapannya.
Dalam hitungan detik Ryeowook terdiam, menatap Yesung tanpa berbicara dan pria di hadapannya itu pun melakukan hal yang sama.
"O-oh, hai,"
Ryeowook tak tahu apa yang membuatnya seperti ini. Lidahnya terasa kaku untuk mengucap kata, dan anehnya itu hanya berlaku saat dirinya berhadapan dengan Yesung.
"Kukira Umma." ucap Ryeowook kemudian.
Ryeowook menunduk, lebih memilih memperhatikan kedua ujung kakinya dibanding harus bertatapan langsung dengan Yesung. Jantung yang Ryeowook sebut sialan itu berdetak dengan cepat, ia dibuat berdebar.
"Ryeowook, aku—"
"Ayo masuk," Ryeowook tersenyum sewajarnya, yang justru sebenarnya terlihat ganjil karena tersenyum di hadapan Yesung adalah hal yang jarang ia lakukan.
"Aku—"
"A-ayo masuk!" untuk kedua kalinya Ryeowook memotong ucapan Yesung. Mengingat beberapa insiden yang dialaminnya bersama Yesung membuat Ryeowook salah tingkah.
Tanpa memperhatikan Yesung, Ryeowook berniat melangkah masuk dengan membalikan badan. Dan baru ia berjalan satu langkah, Yesung menahannya. Pria itu menarik pergelangan tangannya,
"Cukup disini,"
—lalu Yesung memeluknya.
Ryeowook merasa tubuhnya begitu kaku. Ia terkejut dengan tindakan Yesung yang tiba-tiba. Ryeowook diam mematung, walau kini Yesung memeluknya. Memeluknya begitu erat.
Yesung baru menyadari ternyata tak hanya jantungnya yang berdebar, Ryeowook pun seperti itu. Yesung bisa merasakannya, detakan jantung namja itu yang terasa cepat. Dan setelah sekian lama mengenal Ryeowook, Yesung baru menyadari bahwa namja itu memiliki tubuh yang begitu ramping seperti seorang yeoja. Tubuh yang membuatnya nyaman saat memeluknya.
Perlahan, Ryeowook membalasnya. Ia tak tahu alasan apa yang membuat Yesung memeluknya seperti ini. Tapi Ryeowook tak peduli, ia terlanjur dibuat nyaman dengan apa yang dilakukan pria ini. Tangannya perlahan terulur, memegang pinggang Yesung dan semakin naik hingga menyentuh punggung lebarnya.
Dan Ryeowook pun balas memeluk Yesung.
Memeluknya tak kalah erat.
Keduanya memejamkan mata, keduanya menikmati pelukan ini.
Terlalu menikmati, bahkan hingga membuat keduanya tak menyadari pasang mata lainnya yang kini memperhatikan mereka. Heechul, Donghae, Jongie dan Hyukjae sudah berada di depan gerbang, dan sepertinya keduanya masih tak menyadari.
"Dan untuk kedua kalinya, aku menjadi orang pertama yang melihat adegan cinta tak terduga yang mereka lakukan." Heechul tersenyum jahil.
"Appa! Umma!"
Jongie terlihat bersemangat, ia menghampiri Yesung dan Ryeowook dengan sedikit berlari. Ia harus cepat, ia sudah tak sabar memperlihatkan mainan terbaru yang Heechul belikan untuknya.
Menyadari kehadiran Jongie, Yesung dan Ryeowook pun memilih melepas pelukan mereka. Wajah keduanya memerah, terlebih menyadari kehadiran Heechul dan Donghae yang kini memperhatikan keduanya.
"Hai, sayang, sudah puas bermain dengan Halmoni?" tanya Ryeowook, mencoba bersikap sewajarnya.
Ryeowook menggendong Jongie, di sampingnya Yesung mengusap rambut namja kecilnya itu. Keduanya memperhatikan dengan antusias saat Jongie dengan heboh memperlihatkan mainannya.
"Ne, Umma. Lihat! Halmoni membelikan robot super ini untuk Jongie!"
"Wah, robot yang bagus, tapi Appa bisa membelikan yang lebih super dari itu."
Mendengar ucapan Yesung, seketika membuat kedua mata sipit Jongie membulat. Semangat namja kecil itu semakin terpacu saat ayahnya berkata seperti itu.
"Mereka seperti sebuah keluarga yang sempurna." Ujar Heechul yang masih berdiri di depan gerbang, memperhatikan Yesung, Ryeowook, dan Jongie dari kejauhan bersama Donghae dan Hyukjae.
Ia rasanya ingin menangis, terlalu senang karena melihat hubungan Yesung dan Ryeowook yang semakin hari semakin membaik. Terlebih saat ini Jongie berada di tengah-tengah keduanya, dan entah apa yang mereka bicarakan tapi mereka kini terlihat tertawa lepas.
"Ya, seharusnya mereka bisa melakukan itu," Donghae tersenyum simpul. "aku bisa melihat bahwa Yesung-ssi adalah sosok yang tenang, ia bisa menjadi seorang ayah yang baik untuk Jongie."
"Itulah anakku, walau terkadang gengsinya yang tinggi dapat membuatnya terlihat bodoh."
Donghae tertawa mendengarnya. Walau tak mengenal dekat, tapi ia bisa menilai Yesung dari bagaimana pria itu bersikap. Dan pertemuan pertama mereka saat makan malam beberapa hari yang lalu, cukup membuatnya mengerti seperti apa karakter Yesung yang sesungguhnya.
Donghae sependapat, seperti yang dikatakan Heechul bahwa mantan suami sahabatnya itu terlalu mementingkan gengsinya.
"Dan Ryeowook adalah namja yang manis, sikapnya begitu lembut, ia merupakan sosok ibu yang sempurna bagi Jongie."
"Dan kata-katamu terlalu manis untuk menilai Ryeowook. Seakan kau begitu mengaguminya, jangan katakan bahwa kau menyukainya!"
Heechul memberi deathglare andalannya, dan seperti biasa Donghae menanggapinya dengan sebuah tawa lepas.
"Jika aku memang menyukainya, bagaimana menurut Ahjumma? Apa aku dan Ryeowook cocok? Sepertinya Hyukjae akan senang memiliki ibu baru seperti Ryeowook, bukan begitu sayang?"
Donghae mengedipkan sebelah matanya, sedangkan Hyukjae hanya menatapnya dengan tatapan polos. Namja itu tak mengerti dengan apa yang diucapkan ayahnya.
"Hey! Dia bagian putraku!"
Dan Donghae hanya menanggapinya dengan sebuah tawa, untuk kesekian kalinya.
.
.
.
.
Yesung dan Donghae duduk berhadapan di ruang tamu. Hanya mereka berdua, tanpa Heechul dan Ryeowook, ataupun dua namja kecil di rumah ini.
Hening, tak ada pembicaraan berarti yang mereka lakukan. Donghae duduk tenang dan ia mencoba bersikap sewajarnya saat menyadari Yesung yang sedari tadi terus memperhatikannya.
Yesung pun melakukan hal yang hampir sama. Hanya saja, ia duduk tenang dengan kedua mata yang terus terpaku pada sosok pria di hadapannya tersebut. Ia terus memperhatikan Donghae, entah apa sisi apa yang membuat Yesung sampai mempusatkan penuh perhatiannya pada Donghae.
"Donghae-ssi,"
Dan Yesung menjadi orang pertama yang membuka pembicaraan.
Sebenarnya, Yesung bukanlah tipe pria yang talk active. Ia lebih banyak diam, bahkan terkesan pasif untuk memulai pembicaraan. Tapi di hadapan Donghae, Yesung ingin terkesan berbeda. Ia akan memulai pembicaraan, ia tidak mau terlihat payah di depan Donghae.
Karena payah bukanlah dirinya, bukan Kim Jongwoon sekali!
"Ya, Yesung-ssi?"
Suasana terasa canggung saat masing-masing dari keduanya saling memanggil nama dengan panggilan formal. Hubungan keduanya yang tidak dekat mengharuskannya seperti itu.
"Um— tidak jadi."
Donghae dibuat bingung. Yesung baru saja memanggilnya dan ia berpikir pria itu akan memulai pembicaraan dengannya. Mungkin obrolan ringan tentang kedua putra mereka, atau pembicaraan bisnis seperti yang sering dibicarakan para pria dewasa pada umumnya, dan mungkin juga tentang—
"Ryeowook,"
Tepat sasaran. Baru saja Donghae memikirkan itu, dan ternyata Yesung melakukan option terakhirnya.
"Maksudku, bagaimana hubunganmu dengan Ryeowook?"
"Aku dan Ryeowook adalah teman."
Jawaban Donghae tak lantas membuat Yesung puas. Ia masih dibuat penasaran, ia masih ingin bertanya lebih jauh tentang hubungan yang sebenarnya antara Donghae dan Ryeowook.
"Hanya sebatas teman?"
"Sebenarnya tidak."
Dan Yesung dibuat terdiam. Ia menatap Donghae, tatapanya seakan berkata apa maksud ucapanmu?
"Kami lebih dari teman, kami adalah sahabat."
Diam-diam Yesung dibuat tersenyum. Senyuman tipis yang bahkan nyaris tak terlihat.
"Ada yang salah, Yesung-ssi? Kenapa anda tersenyum seperti itu?"
Oh, ternyata tidak.
Ternyata Donghae dapat melihat senyuman itu.
.
.
.
.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Ryeowook berjalan mendekati Yesung. Pria itu tampak terdiam, kedua sikunya bertumpu pada teralis yang membatasi sisi beranda kamarnya. Sebenarnya bukan kamar tidurnya, karena Ryeowook lebih senang menempati kamar tidur di lantai bawah, tepat di samping kamar Jongie.
"Memangnya kenapa? Tidak boleh?"
Ryeowook dibuat berdecak sebal. Setelah beberapa sikap manis yang Yesung tunjukan padanya, kini ia harus berhadapan kembali dengan sosok menyebalkan dari si Kim Jongwoon itu. Ryeowook menggerutu dalam hati.
"Hanya bertanya."
Ryeowook menyandarkan punggungnya pada dinding kamar, kedua tangannya terlipat di depan dada. Ia memasang wajah sesebal mungkin.
Yesung membalikan badan, melihat apa yang di lakukan mantan istrinya tersebut.
"Dia sudah pulang?"
Satu alir Ryeowook terangkat saat mendengarnya. "Dia? Dia siapa?" tanyanya bingung.
"Donghae, memangnya siapa lagi?"
Mulut mungilnya membulat mendengar jawaban Yesung. "Donghae Hyung dan Hyukjae sudah pulang, sekitar sepuluh menit yang lalu."
"Oh, pantas saja kau kemari."
Yesung kembali menghadap ke depan. Memperhatikan pepohonan rindang yang tertanam di taman kecil milik Ryeowook. Sebenarnya tidak menarik, tapi apa pedulinya?
"Sebenarnya kau kenapa?"
Kali ini Ryeowook melangkah lebih dekat. Berdiri di samping Yesung yang bersikap mengacuhkannya.
"Aku baik-baik saja."
"Tidak mungkin," ujar Ryeowook, "buktinya, selama aku, Umma, dan Donghae Hyung mengobrol di ruang tamu, kau jutru menghilang entah kemana. Hingga akhirnya aku menemukanmu disini dengan sikapmu yang kembali menyebalkan—"
"Aku memang menyebalkan," potong Yesung cepat, kali ini ia menoleh ke arah Ryeowook. "tidak seperti Donghae, dia orang yang menyenangkan. Benar, khan?"
Sekali lagi Ryeowook dibuat bingung. Ia tidak mengerti arah pembicaraan Yesung.
"Kenapa Donghae Hyung kau sebut-sebut?"
Keduanya saling menatap. Tatapan tajam yang bahkan hampir melibatkan emosi di dalamnya.
Yesung menghela nafas. Ia memilih membuang muka, memperhatikan hal lain dibanding balas menatap Ryeowook yang berdiri di sampingnya. Ia sendiri tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Yang jelas, ia merasa kesal sejak kedatangan Donghae kemari.
Lebih tepatnya, setelah melihat kedekatan Donghae dan Ryeowook yang baginya melebihi kata sahabat, seperti apa yang Donghae ucapkan sebelumnya.
"Aku memilih diam disini karena aku merasa tidak dibutuhkan." Yesung berucap pelan, "awalnya aku datang kemari karena aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Tapi ternyata kau memang tidak menginginkan kehadiranku. Kau lebih senang bersama Donghae, kau sibuk bersama Donghae, dan kau melupakan kehadiranku."
Setelah ia mendengar ucapan Yesung, rasanya Ryeowook begitu sulit untuk membuat mulutnya terkatup rapat. Ia menatap Yesung dengan tatapan tak percaya.
"Oh, astaga, Kim Jongwoon," Ryeowook mendengus pelan. "kenapa kau sampai berpikir seperti itu?"
Yesung tak manjawab, ia hanya menatap Ryeowook.
"Aku sama sekali tidak seperti yang kau pikirkan. Aku dan Donghae Hyung hanya sebatas teman—"
"Aku tahu, Donghae sudah mengatakannya." untuk kedua kalinya Yesung memotong ucapan Ryeowook.
Ryeowook menghela nafas. Sejak dulu, ia selalu menyiapkan kesabaran ekstra jika sudah berbicara dengan Yesung. Dan walaupun hubungan keduanya sudah membaik, tapi pria ini baginya tetaplah Kim Jongwoon yang menyebalkan. Tetaplah Kim Jongwoon yang selalu membuat emosinya tersulut.
"Kalau begitu, apa yang harus dipermasalahkan? Baiklah, maaf jika kau merasa seperti itu. Tapi sungguh, aku tak mungkin meninggalkan Donghae Hyung sendirian karena dia adalah tamu di rumah ini. Dan aku sebagai tuang rumah harus—mphh!"
Dan untuk ketiga kalinya, Yesung memotong ucapan Ryeowook.
Namun kali ini berbeda. Bukan dengan sebuah perkataan.
Melainkan sebuah ciuman.
"Kau terlalu banyak bicara, Ryeowook."
Kali ini Yesung yang berbicara, dan Ryeowook mendengarkannya dengan wajah memerah.
.
.
.
.
"Persiapkan dirimu dan ucapkan selamat tinggal pada ruang ICU karena siang ini kau akan segera di pindahkan ke kamar inap."
Junhyung menghampiri Luna dengan senyuman di wajahnya. Luna balas tersenyum, walau tak seantusias Junhyung.
"Ada apa?" tanya Junhyung, menyadari raut wajah Luna yang terlihat tak terlalu senang.
"Aku sudah mengatakannya," Luna berbicara pelan, "kami akan segera bercerai."
Sejenak Junhyung dibuat terkejut, ia tak menyangka bahwa pasien sekaligus teman barunya itu akan melakukannya. Luna pernah berkata bahwa ia akan meminta cerai pada Yesung, dan kini wanita itu benar-benar melakukannya.
Luna selalu bercerita banyak hal, termasuk urusan pribadinya. Karena itu, Junhyung tak perlu bertanya lebih lanjut alasan apa yang membuat Luna melakukan hal tersebut. Bahkan tentang Yesung dan Ryeowook pun, Junhyung sebagai orang luar sudah mengetahui cerita hubungan keduanya.
Setiap orang membutuhkan tempat untuk berbagi, dan Luna memilih Junhyung dalam hal tersebut. Dokter muda itu selalu dapat membuatnya nyaman dengan segala respon dan masukan yang diberikannya, pria itu adalah pendengar yang baik. Hingga membuatnya merasa tak ada batasan untuk menceritakan semua apa yang ia alami.
"Jangan menangis,"
Junhyung mengambil tempat di sisi ranjang, menggenggam tangan Luna saat melihat wanita tersebut mulai terisak.
"Aku menangis bukan karena aku tak bisa melepaskannya," ucapnya lirih, "tapi aku menangis karena aku senang, aku senang karena akhirnya aku bisa melepaskannya, setelah sekian lama aku selalu memaksanya untuk tetap bersamaku."
Junhyung dapat melihat sebuah senyuman samar tercipta di wajah Luna. Wanita itu tersenyum, dan ia bisa merasa genggaman tangannya mengerat.
"Aku tahu kau adalah wanita yang kuat, kau bisa melakukannya."
Luna mengangguk pelan, mendengar ucapan Junhyung membuat hatinya semakin terasa tenang. Ia merasa tak ada lagi beban yang menghantuinya.
"Terimakasih, Dokter Im. Terimakasih untuk segalanya."
.
.
.
.
Yesung dan Jongie duduk bersama di sofa. Yesung dengan ponselnya, sedangkan Jongie terfokus pada sebuah acara anak-anak di televisi. Sebuah tontonan yang menampilkan actor berkostum serba tertutup yang terus bertarus dari awal acara hingga akhir— yang anehnya tontonan pertengkaran seperti itu justru digemari banyak anak kecil, khususnya namja. Jongie salah satunya.
Saat acara favoritnya sudah habis, Jongie mulai terlihat bosan. Menguap beberapa kali, lalu melirik ke arah ayahnya yang masih saja berkutat dengan ponselnya.
Jongie memperhatikan dengan seksama, bagaimana Yesung yang terlihat serius dengan benda persegi di tangannya tersebut. Memperhatikan bagaimana jari-jari kecil ayahnya bergerilya di atas layar ponsel.
Jongie jadi berpikir, semenarik apakan ponsel hitam milik ayahnya tersebut?
"Appa,"
Jongie menarik-narik ujung baju Yesung, dan butuh beberapa detik hingga ayahnya itu mengalihkan perhatian padanya.
"Ya, jagoan?"
Sejenak Yesung melupakan ponselnya. Tidak menaruhnya, benda itu masih dalam genggaman tangannya.
"Apa sih yang appa lihat dari benda itu?" tanya Jongie, dengan gaya seorang anak kecil yang sedang penasaran pada umumnya. Wajah yang serius namun terlihat menggemaskan dalam bersamaan.
"Ponsel?" Yesung menunjukan ponselnya di depan wajah putranya, "Appa baru saja mengecek beberapa e-mail masuk dari teman kerja."
"E-mail?"
Yesung tersenyum melihat Jongie yang semakin penasaran. Sepertinya putranya itu dibuat bingung dengan kosa kata baru yang ia dapatkan hari ini.
"Nanti kau akan tahu sendiri, jika sudah besar nanti." Yesung mengusap lembut rambut hitam Jongie.
Namja kecil berusia hampir 5 tahun itu hanya mengangguk singkat. Jongie masih ingat saat Ryeowook pernah berkata jika seorang jagoan selalu menuruti apa perkataan orang tuanya. Jadi, disaat Yesung berkata seperti itu, Jongie hanya mengiyakan saja.
"Umma punya ponsel, Appa pun memilikinya, lalu Halmoni juga, Nemo Ahjussi juga! Kenapa Jongie tidak?"
Kali ini Jongie membuat bibir mungilnya mengerucut. Ia ingin menunjukan pada Yesung bahwa ia sedang sebal, ia ingin ayahnya itu merasa takut, tapi Yesung justru tertawa dan itu membuatnya semakin sebal.
"Jongie belum boleh—"
"Tapi Key memilikinya! Key di sekolah selalu sombong, dia selalu mempamerkan ponselnya pada teman-temanku! Aku sebal!"
Yesung menghela nafas. Ia tahu bagaimana watak putranya tersebut. Jongie adalah anak yang keras kepala— sama seperti Ryeowook, menurutnya (dan menurut Ryeowook seperti Yesung). Jongie akan selalu mempertahankan pendapatnya, apa yang ia ucapkan baginya adalah sesuatu yang benar.
Benar-benar watak yang mirip dengan kedua orang tuanya.
"Baiklah, nanti akan Appa belikan." Sekali lagi Yesung menghela nafas.
"Benarkah? Appa janji?"
Jongie terlihat antusias, bahkan kini ia berpindah posisi dengan mendudukan dirinya di pangkuan Yesung. Menarik-narik baju ayahnya dengan kedua mata yang terlihat berbinar. Anggukan dan sebuah gumaman pelan dari Yesung membuat namja kecil itu bersorak senang.
Sebentar lagi ia akan bisa mengalahkan Key! Temannya yang bagi Jongie selalu tak mau kalah darinya itu.
"Sebelum Jongie benar-benar memiliki sebuah ponsel, sekarang Appa akan jelaskan bagian-bagian apa saja yang terdapat di dalamnya dan bagaimana cara menggunakannya."
"Ne, arraseo!"
Jongie yang begitu bersemangat.
Dan Yesung berdoa dalam hati, semoga setelah ini Ryeowook tak mengamuk karena putra kecilnya akan segera memiliki benda yang sepantasnya dimiliki oleh orang dewasa tersebut.
.
.
.
.
Waktu menunjukan pukul 10 malam. Kim Jongie terlelap dalam tidurnya, di dalam kamar Ryeowook.
Kedua orang tuanya yang berada di masing-masing sisi tubuhnya. Jongie tak memintanya, tapi Yesung dan Ryeowook melakukanya. Keduanya menemani putra kecil mereka untuk melewati tidur malamnya hingga tak mampu lagi untuk terjaga.
"Sepertinya hari ini adalah hari yang melelahkan dan sekaligus menyenangkan untuk Jongie. Lihat, ia terlihat lelap dalam tidurnya. Biasanya, Jongie menghabiskan waktu beberapa menit untuk merengek sebelum ia benar-benar tertidur."
Ryeowook tersenyum kecil, dan mengusap pipi putra kecilnya itu.
Yesung memperhatikan Ryeowook dengan seksama. Yesung memperhatikan bagaimana namja itu memperlakukan putra kecil mereka dengan begitu lembut. Mengusap rambut hitamnya, mengusap pipi bulatnya, atau kini Ryeowook yang sedang menciumi kening Jongie dengan lembut.
Yesung tahu, dibalik sikap Ryeowook yang menurutnya menyebalkan dan selalu tak ingin mengalah itu, Ryeowook adalah sosok namja yang lembut. Ryeowook mampu mengurus Jongie dengan baik, karena ia memilki sikap keibuan yang kuat.
Dan Yesung merasa beruntung karena putranya memiliki ibu seperti Ryeowook.
Yesung jadi berpikir— setidaknya, ia tak salah pilih untuk menghamili anak orang lain, tak salah memilih Ryeowook untuk menjadi ibu dari putra kecilnya. Dan pikiran konyolnya mengatakan bahwa ia tak menyesal pernah menghamili Ryeowook.
Hal itu membuat Yesung mendengus geli tanpa sadar, dan Ryeowook memperhatikannya.
"Ada yang lucu?" tanya Ryeowook.
Yesung menggeleng pelan, mengalihkan perhatiannya pada Ryeowook kemudian tersenyum kecil.
"Tidak, hanya sedang memikirkan sesuatu."
"Oh, ya? Memikirkan apa?" Ryeowook dibuat penasaran.
Yesung tersenyum miring, menyeringai lebih tepatnya.
"Aku sedang berpikir, bagaimana jadinya jika Jongie memiliki seorang adik?"
Ryeowook seketika dibuat mematung.
"B-bodoh! Kenapa berpikir seperti itu?"
Wajah Ryeowook memerah, ia memalingkan wajah. Kemanapun, asalkan ia tak menatap Yesung.
Yesung diam, menyeringai semakin menjadi. Ia mendekati Ryeowook, memposisikan tubuhnya berada di hadapan Ryeowook yang mendudukan tubuhnya di atas ranjang. Disamping Jongie yang sampai saat ini masih tertidur lelap, tak mau tahu apa yang kini dan selanjutnya akan dilakukan kedua orang tuanya itu.
"Kau tahu, untuk seorang pemula sepertimu, kau cukup baik dalam berciuman." Yesung mendekat perlahan, bertingkah seolah ia adalah harimau yang siap menerkam mangsanya. "ciuman yang basah dan… terkesan bergairah."
Ryeowook menggigit bibirnya kuat-kuat, Yesung berbisik tepat di telinganya dengan suara rendah yang baginya terdengar sangat seksi.
Jantung Ryeowook berdegup kencang. Yesung membahasnya lagi, membahas ciuman mereka siang tadi. "Ciuman itu… a-aku—"
"Menikmatinya" Yesung memotongnya, dan ia menyeringai tajam. "kau menikmatinya… Ryeowook."
Ryeowook menelan ludahnya paksa. Yesung semakin mendekat dan itu membuatnya harus mundur dalam posisi duduk di atas ranjang. Ia mundur, terus mundur hingga ia sadar bahwa ia sudah mencapai batas.
Punggungnya menabrak kepala ranjang dan itu artinya ia sudah terkunci!
Tidak ada ruang gerak lagi baginya.
Yesung membenamkan wajahnya pada perpotongan leher Ryeowook, dan Ryeowook dibuat mendongkak karenanya. Kedua matanya terpejam, Ryeowook terlalu takut dan gugup untuk melihat apa yang akan Yesung lakukan padanya.
Pria di hadapannya itu mengecupnya, mengecup tiap titik pada lehernya dengan perlahan. Yesung memperlakukannya dengan lembut, membuainya dengan kecupan-kecupan di leher putihnya.
Kedua tangannya mencengkram kuat-kuat pundak Yesung, menahan agar dada pria itu tak menempel sempurna padanya. Ryeowook masih menggigit bibirnya, terlebih saat kini Yesung merengkuhnya. Melingkarkan kedua tangannya pada pinggangnya dan membuat tubuh keduanya menempel sempurna.
Yesung memejamkan kedua matanya, masih terus mengecupi setiap titik pada perpotongan leher putih itu. Dan kali ini Yesung menjilatnya, menggesek lidah kasarnya pada kulit putih Ryeowook yang menggodanya. Ryeowook mendesis karenanya, dan Yesung mendengarnya dengan jelas.
"Mhh.."
Ryeowook mendesah, ia mendesah karena Yesung. Ryeowook menarik kuat pakaian pria itu, menyalurkan rasa menggelitik yang ia dapatkan karena Yesung. Pria itu semakin menjadi, kini menggigit lehernya dan menghisapnya kuat-kuat.
"Akhh.. mhh.."
Ryeowook tak mampu lagi untuk tak mendesah. Ia membiarkan Yesung melakukan apapun pada tubuhnya, termasuk menandai lehernya.
Yesung tak hanya merengkuhnya, kini ia benar-benar menindih Ryeowook. memposisikan tubuhnya di atas dan membiarkan Ryeowook terlentang di bawahnya dengan tatapan sayu yang begitu menggodanya.
Setelah tadi siang, kini Yesung kembali membuat bibir mereka bertemu. Ciuman itu terjadi lagi, ciuman yang Yesung anggap basah dan menggairahkan. Ryeowook tak canggung lagi untuk memeluk leher Yesung, memeluknya erat hingga ciuman keduanya semakin dalam.
"Mhh.. umhh.."
Beberapa kali Yesung dan Ryeowook menggerakan kepala mereka, ke kiri dan ke kanan untuk membuat ciuman mereka terasa panas. Kecupan basah yang terjadi berulang-ulang dan membuat mereka terbuai. Keduanya menyukainya. Ryeowook menyukai bagaimana Yesung mencium bibirnya begitu dalam dan Yesung menyukai bagaimana Ryeowook mendesah untuknya.
Akal dan logika mungkin sudah tak berfungsi lagi. Bahkan gengsi yang selama ini mereka junjung tinggi-tinggi pun dapat hancur begitu saja. Keduanya sudah tak mempedulikannya, bagaimana status mereka saat ini, bagaimana hubungan mereka selama ini. Persetan dengan semuanya, Yesung dan Ryeowook sudah terlalu lama memendam ini.
Mereka menginginkannya.
Sekarang juga.
Dua namja itu sudah tak segan untuk tak saling bertingkah agresif. Saling membukakan baju dan disini Yesung yang lebih terlihat tak sabar karena ia langsung membuang begitu saja saat berhasil menarik paksa kemeja Ryeowook.
Ryeowook baru pertama kali melihatnya. Dada bidang dengan kulit putih yang kini terpampang di hadapannya. Menggodanya untuk menyentuhnya, membelainya, hingga akhirnya ia kembali memeluk punggung Yesung karena pria itu menindihnya lagi.
"H-hentikan…" Ryeowook mencengkram dua bahu lebar pria di hadapannya tersebut, mencoba mendorongnya.
Yesung menurut, ia yang awalnya ingin kembali mencium Ryeowook pun dibuat diam. Ditatapnya Ryeowook penuh tanya.
"Kenapa?"
Ditanya seperti itu, Ryeowook justru merasa malu. Wajahnya memerah.
"Bisakah kita tidak… disini?" Ryeowook melirik ke arah Jongie yang masih tertidur lelap.
Yesung tersenyum tipis. Dan detik berikutnya, terdengar pekikan pelan dari mulut Ryeowook karena Yesung yang tiba-tiba menggendongnya.
.
.
.
.
Junhyung berjalan tenang menyusuri koridor rumah sakit. Saat ini sudah larut malam, ia berjalan melewati beberapa ruang inap pasien untuk mengecek keadaan para pasiennya. Memastikan apakah mereka tak ada lagi yang terjaga, termasuk pasien khususnya yang bernama Luna itu.
Dan sampailah ia di depan kamar Luna. Junhyung tak langsung masuk, entah apa yang dilakukannya namun ia terlihat menarik napas sesaat, sebelum akhirnya dokter muda itu memutar kenop dan mendorong pintu ke dalam.
Junhyung dapat melihatnya, Luna yang tertidur di ranjang dan dalam keadaan yang tidak sesuai dengan harapannya. Yeoja itu belum tidur, dan justru kini sibuk dengan ponselnya.
"Peraturan mengatakan—"
"Hanya sebentar, kumohon." Luna memotong cepat, tatapannya yang memohon membuat Junhyung mau tak mau mengiyakan saja.
Junhyung menarik kursi dan memposisikan duduk di samping ranjang Luna.
"Yesung Oppa, aku mencoba meneleponnya."
Luna tersenyum kecil, menjawab raut tanya yang Junhyung perlihatkan padanya.
"Lalu?"
"Hingga sekarang panggilanku tidak dijawab." Luna tersenyum sebisanya, masih dengan ponsel yang tertempel pada telinganya.
"Bukankah kalian sudah mau bercerai? Untuk apa masih menghubunginya?"
Pertanyaan Junhyung seketika membuat Luna mengurungkan niatnya. Ia memutus panggilannya dan menaruh ponselnya di meja nakas.
"Ya, kau benar."
Junhyung sadar bahwa ucapannya terdengar tajam. Ia tahu jika ia pasti sudah melukai Luna.
"Maaf, tak seharusnya aku berkata seperti itu."
Junhyung menatap Luna. Sejak awal bertemu denganya, ia selalu mengagumi Luna. Mengagumi dalam artian ia kagum pada sosok yeoja yang kuat seperti Luna. Wanita itu selalu terlihat kuat dalam menghadapi penyakitnya, ataupun masalah rumah tangganya, itulah yang Junhyung kagumi.
Sesaat hening tercipta di antara keduanya. Junhyung diam di tempatnya, sedangkan Luna hanya memainkan ujung selimutnya.
"Tak apa, ucapanmu memang benar."
Junhyung sedikit terkejut saat Luna meraih satu tangannya, menaruhnya di samping ranjang dan wanita itu mengusapnya. Luna tersenyum padanya, senyum itu terlihat manis bagi Junhyung. Melihat itu, Junhyung akhirnya ikut tersenyum juga.
"Tak perlu merasa tak enak hati. Aku tak merasa tersinggung, karena itu memang benar." Luna terkekeh pelan. "tadi aku hanya ingin mengobrol dengannya, aku tidak bisa tidur dan aku merasa bosan."
"Sekarang ada aku, jadi kau bisa mengobrol denganku. Tak perlu meneleponnya."
Junhyung menggenggam tangan Luna, yang baginya berukuran jauh lebih kecil dari telapak tangannya.
"Memangnya apa yang bisa aku bicarakan dengan dokter muda sepertimu, hm? Masalah penyakit atau mungkin obat-obatan, ne?"
Junhyung tertawa kecil mendengarnya. "Apapun itu, pasienku. Mari mengobrol sampai pagi."
Keduanya tertawa, dan malam itu benar-benar mereka habiskan dengan mengobrol. Dan sepertinya Junhyung melarang aturan dokter untuk tidak memperbolehkan pasien mereka tidur terlalu larut.
.
.
.
.
Ryeowook menggigit bibirnya, menahan dirinya untuk tak menjerit.
Ia tak pernah tahu bahwa rasanya sesakit ini. Panas, perih, ia dapat merasakan semua itu pada bagian tubuhnya. Air mata mengalir di sudut matanya, dan Yesung dengan cepat menghapusnya, dengan menjilatnya dan menciumi pipinya.
"Cakar saja punggungku, agar aku juga merasa sakit, tak hanya dirimu."
Yesung berbisik pelan, masih dengan menggerakan tubuhnya. Ia tak bisa untuk bergerak perlahan, Ryeowook sendiri yang membuatnya menggila. Yesung menggeram berat, menikmati kenikmatan yang ia dapatkan dari tubuh bawahnya.
Ryeowook mencakar punggung Yesung hingga membuat pria itu meringis kesakitan. Ryeowook tak peduli, apapun ia lakukan agar rasa sakit itu teralihkan.
"Aku pernah… ngh.. memasukan miliku ke dalam lubangmu, dan sialnya saat itu aku.. akh tak bisa merasakannya. Tak bisa ngh.. merasakan kenikmatan ini.. akhh…"
Yesung mulai meracau, ia dibuat menggila karena miliknya yang terjepit kuat di dalam sana. Ryeowook masih sesekali menjerit, ia masih belum terbiasa dengan ini. Hingga beberapa kali gerakan, akhirnya Ryeowook mendesah. Ia mendapat kenikmatannya. Merasa melayang saat Yesung menyentuh tittik kenikmatannya.
"Akhh akhh.. H-hyungh.."
Yesung sedikit terkejut mendengarnya, setelah sekian tahun akhirnya Ryeowook kembali memanggilnya dengan sebutan Hyung. Terlebih Ryeowook menganggilnya Hyung dalam sebuah desahan.
Ruangan itu terasa panas. Suhu meninggi dengan desahan-desahan liar yang terdengar jelas disana. Ryeowook merengkuh tubuh Yesung, menikmati setiap gerakan liar yang Yesung lakukan padanya. Kedua kakinya terbuka lebar dan Yesung menariknya ke atas. Membuatnya semakin mudah untuk bergerak cepat.
"Yeshh… akhh akhh.."
Tubuh telanjang keduanya berkeringat. Panas dan saling menyatu. Ranjang berdecit keras karena gerakan Yesung yang cepat.
Malam yang penuh keringat, malam yang penuh desahan.
Malam yang begitu panas.
Dan malam yang begitu menggairahkan.
"Akhh.. akh… Good akhh.."
.
.
.
.
Hari menjelang pagi. Sudah waktunya Jongie bangun dari tidurnya.
Namja kecil itu bangun dengan wajah yang masih sedikit mengantuk. Ia melirik ke kanan dan ke kriri. Jongie merasa aneh, ia tak merasakan tanda-tanda Ryeowook sudah bangun dari tidur. Ibunya adalah namja yang rajin, biasanya saat Jongie bangun, ia akan mencium aroma masakan karena ibunya sudah disibukan dengan kegiatan memasak di dapur. Dan yang lebih anehnya, kenapa hari ini ia tidur tidak di kamarnya? Bukankah sudah menjadi perjanjian, jika Jongie masuk sekolah ia akan terus tidur di kamarnya?
Jongie memperhatikan sekeliling. Ryeowook benar-benar tidak ada di kamar ini. Jika Yesung, ia sudah terbiasa dengan keberadaan ayahnya yang sering menghilang secara tiba-tiba itu. Tapi tidak untuk Ryeowook. Hal itu membuat Jongie cemberut, jangan-jangan ia ditinggal sendiri di rumah dan ternyata ibunya itu pergi bermain bersama Nemo Ahjussi dan Hyukjae! Begitulah pemikiran Jongie.
Tangannya menggapai meja, mencoba bertumpu karena ranjang ini cukup tinggi untuk ukuran anak berumur hampir 5 tahun sepertinya. Dan saat memegang meja, sesuatu mencuri perhatiannya.
Sebuah ponsel.
Jongie jadi ingat, kemarin malam Yesung mengajarinya menggunakan ponsel. Dan tepat sekali, ponsel yang tergeletak di meja itu milik ayahnya! Jongie tersenyum lebar. Ia segera mengambil ponsel dan mengotak-atik apapun yang belum diketahuinya.
"Ini untuk menelepon, kalau ini untuk mengirim pesan singkat," Jongie melangkah keluar kamar sembari bergumam, pandangannya bertumpu pada layar ponsel.
Saat keluar kamar, Jongie tak mendapati ibu ataupun ayahnya.
"Appa dan Umma kemana, ne? Atau mungkin mereka sedang mandi bersama?" gumam Jongie, sebelum ia kembali terfokus pada mainan barunya.
Tapi ternyata, terlalu lama berkutat dengan ponsel membuat Jongie bosan juga.
"Umma! Appa!"
Jongie berteriak di dalam rumah, mencari keberadaan Umma dan Appanya. Jongie berjalan cepat, memeriksa setiap sudut rumah dan ruangan.
Setelah memeriksa kamar mandi dan ternyata disana tidak ada ayah dan ibunya, kali ini sasarannya adalah kamar tidurnya sendiri. Saat membuka pintunya, Jongie dibuat cemberut lagi.
"Ternyata ini alasan kenapa tadi malam aku tidur di kamar Appa dan Umma? Ternyata Appa dan Umma lebih memilih tidur berdua dibanding denganku!"
Jongie kesal, bahkan ia menghentakan kakinya ke lantai.
Dengan wajah yang ditekuk sebal dan tangan yang terlipat di depan dada, ia berjalan mendekati kedua orang tuanya yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Tidur hanya berdua, lalu mereka membuat kamarku berantakan juga, huh!" Jongie merengut sebal, kemudian memunguti satu persatu pakaian Yesung dan Ryeowook yang tergeletak di lantai dengan polosnya.
"Umma selalu bilang tidak boleh menaruh baju sembarangan, tapi sekarang Umma justru melakukannya. Huh!" dan lagi Jongie menggerutu.
Dengan telaten, anak kecil itu menaruh pakaian kedua orang tuanya di dalam keranjang. Niat awalnya ingin berteriak, membangunkan (sekalikus mengerjai) orang tuanya, tapi saat ia melihat raut wajah orang tuanya, ia merasa kasihan.
"Appa dan Umma terlihat kelelahan."
Jongie hanya diam di pinggir ranjang, memperhatikan kedua orang tuanya yang bahkan hingga kini tak menyadari kehadirannya.
Hingga akhirnya, tiba-tiba ide jahil terbesit di pikirannya. Jongie merasa wajah lelap orang tuanya yang terlihat lucu ini perlu diabadikan. Ia pun kembali menjalankan aplikasi ponsel ayahnya, kali ini ia akan mencoba memotret.
"Satu… dua… tiga!"
KLIK!
"Yeay!"
Jongie tersenyum senang melihat hasil karyanya.
.
.
.
.
Yesung mengerang pelan, sinar matahari seakan berada di depan wajahnya. Berat hati ia membuka mata, walau sinar matahari membuatnya silau, namun ia masih dapat melihat jelas wajah Ryeowook di hadapannya.
Dan kegiatan semalam itu kembali diingatnya.
Bagaimana Ryeowook yang terus mendesah di bawahnya, ikut bergerak liar dengannya, atau kini ia mengingat bagaimana Ryeowook yang terus mencakar tubuhnya karena pagi ini ia melihat bekas garis-garis merah di punggungnya.
Yesung segera menghilangkan pikiran itu, ia tak ingin sesuatu di bawah sana terbangun dari tidur lelapnya. Jongwoon kecilnya.
"Selamat pagi."
Yesung memperhatikan Ryeowook yang perlahan membuka matanya.
"Umhh, pagi."
Yesung tersenyum kecil melihatnya, ia menarik tubuh Ryeowook ke dalam dekapannya. Membiarkan namja itu bersandar pada dadanya. Ryeowook diam saja, memeluk tubuh pria itu erat. Ia masih mengantuk.
Masih dengan memeluk Ryeowook, Yesung mengulurkan tangannya mencoba menggapai ponsel yang tergeletak di meja nakas. Ia ingat nanti siang ada pertemuan dengan beberapa rekan kerjanya.
Yesung mengedipkan kedua matanya beberapa kali, heran mendapati puluhan panggilan dan belasan pesan singkat di ponselnya. Dan itu dari satu orang, yaitu ibunya.
"Umma?"
Ryeowook mendongkak, "Ada apa?" tanyanya, dengan suaranya yang terdengar berat.
"Umma berulang kali mengirim pesan dan meneleponku."
Belum sempat Yesung membuka pesan singkat itu, satu panggilan diterimanya.
"Umma menghubungiku, sebentar."
Yesung melepas rengkuhannya dan membuat dirinya terduduk di ranjang. Ryeowook masih memilih berbaring di ranjang, memperhatikan Yesung dengan sebelah tangan yang memeluk pinggang pria itu.
"Umma—"
'KAU KEMANA SAJA?! KENAPA BARU MENGANGKAT TELEPONKU?!'
Yesung segera menjauhkan ponsel dari telinganya saat mendengar suara Heechul yang begitu menggelegar. Ryeowook yang melihat itu mengernyitkan dahi, sedangkan Yesung menjawabnya dengan mengangkat kedua bahunya.
"Aku baru—"
'DEMI TUHAN, KIM JONGWOON! APA YANG SUDAH KALIAN LAKUKAN?'
"Maksud Umma?"
Mendengar pertanyaan Heechul membuat Yesung bingung sendiri.
'APA MAKSUDMU MENGIRIMIKU PESAN GAMBAR BERUPA FOTOMU DAN RYEOWOOK DALAM KEADAAN TELANJANG, HAH?! APA YANG SEMALAM KALIAN LAKUKAN?!'
"M-mwo?!"
Oh.
Matilah kau, Jongwoon.
.
.
.
.
A/N
Berapa lama saya ga muncul? Astaga, saya kangen kalian! T_T rencanya semi-hiatus, tapi saya ga nyangka bisa selama ini. Ga hanya ngaret publish, bahkan saya udah lama ga ngecek fanfiction buat baca fanfic-fanfic yewook! Huwaaaaa /apasih
Sedikit curhat, saya cuman bisa ngetik sedikit sedikit lanjutan fanfic cuman hari minggu aja T_T dan itupun kalau idenya lagi ada. Waktu itu MLF hampir selesai, dan tiba tiba mati lampu, terus saya lari ke kamar, dan besoknya file saya hilang T^T jadinya saya bikin ulang hahahaha… dan baru selesai sekarang.
Saya udah kelas tiga, mau fokus buat UN sama nanti SNMPTN. Doakan saya ya! Saya mau bener-bener take hiatus T_T
Dan soal cerita, AAA SUMPAH KENAPA YEWOOKNYA DIBIKIN NC SIHHHHHH /plak. ADUH ADUH. Ngomong-ngomong kenapa saya jadi suka Junhyung sama Luna ya /wht. Saya jadi JunLun Shipper /emang ada.
Ada yang sempet nanya, "Jongie itu KAI ya?" aduh bukan, itukan Kim Jongin, kalau ini Kim Jongie T_T
Nama-nama seperti Jongie (anak yewook), Junhyung (dokternya luna), Sunkyu (tetangga jongie sama ryeowook), Kyungsan (anak kyumin), itu semua OC, karakter buatan author. Untuk membayangkan bagaimana mereka, aku udah jelasin ya. Misalnya jongie itu kaya duplikat yesung waktu versi kecilnya, atau junhyung yang aku gambarin matanya sipit, pake kacamata, ganteng gitu deh hehe :3 kecuali key, dia itu key shine. Bayangin aja gimana dia versi kecilnya XD
Aduh A/Nnya panjang banget ya udah kaya novel. Ya segitu aja deh. Rinri kangen kalian! Kangen kangen kangeeeeen! Sampai berjumpa di chapter selanjutnya. Rinri izin hiatus ya :'3 maaf belum bisa balesin reviewnya, dan rinri ucapin makasih ya udah mau setia dan selalu review fanfic ini. Sekali lagi terimakasih dan mohon maaf sudah menunggu lama T_T
Akhir kata,
Bye & review please? :-)
n/b : doakan rinri ya! XD
