Author : Yuri Masochist or Han Youngra

Title : The Time: Gloomy | April 28th, 2012

Cast :

+ Main Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun), Se7en (masih bingung ni orang masuk maincast apa kagak)

+ Other Cast : YunJae, Taemin, Jungmo, Zhoumi, Junsu, Junho (kembaran Junsu), KiVin (KiseopxKevin), HanChul, Eunhyuk, Shindong, Minho, OnKey, Baekhyun, Henry, Soohyun

+ Cameo : Ryeowook, Siwon, Jonghyun, Leeteuk, Yesung, Eli, T.O.P, GD, Kangin, Sooman, Jay, Seungri, Daesung, Alexander, SooSun (SooyoungxSunny), YulSic (YurixJessica), YoonSeo (YoonaxSeohyun), Narsha

+ Say 'Goodbye' to : Sungmin, Donghae, Kibum, Kai

[DBSK | Super Junior | SHINee | TRAX | Big Bang | U-Kiss | Se7en]

[SNSD | B.E.G]

Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror

Rated : PG-15

Type : Yaoi

Length : Chapter

Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!

Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!

A/n : 4F~ Siapa yang rindu saya~?

Readers : GAK ADA!

Tomcat : Saya rindu padamu~!

Me : ARGHH! TOMCAT! *ngubur diri dalam tanah*

.

.

.

.

The Time: Gloomy | April 28th, 2012

.

Saturday

April 28th, 2012

09:11 AM

Junho memperhatikan Soohyun yang tengah melakukan latihan untuk Junsu pada matanya. Junsu mencoba untuk membaca beberapa kalimat yang tertera pada papan yang di pegang Soohyun. Ketika Junsu berhasil, Soohyun akan memundurkan satu langkahnya dan mengganti papan dengan tulisan lain, mengetes Junsu apa ia bisa membacanya atau tidak.

Baekhyun duduk di salah satu kursi ruangan itu. Tersenyum senang khas anak kecil melihat ibunya yang sudah delapan atau sembilan hari ini bisa kembali melihat. Dia senang, tentu saja. Akhirnya anak kecil itu bisa melihat senyum sempurna dari wajah ibunya. Sekarang, Baekhyun hanya berpegang pada harapan dari Junho bahwa Junsu bisa kembali berjalan jika mengikuti terapi dengan rutin.

Ah, semoga saja.

Berbeda dengan Baekhyun, wajah Junho terlihat cemas. Bukan, bukan dia tidak senang untuk Junsu. Dia hanya sedang memikirkan bagaimana jika seandainya Junsu bertemu Yoochun? Ah, bagaimana juga jika Baekhyun yang bertemu dengannya? Mau bagaimana pun juga, pertemuan terakhir mereka di taman rumah sakit membawa Yoochun melihat anaknya. Mungkin saja Yoochun masih mengenali rupanya.

Sudah lebih dari satu minggu mereka bolak-balik ke rumah sakit ini. Sebenarnya mereka bisa mengganti rumah sakit yang jauh dari sini. Tetapi ada banyak alasan Junho tidak melakukannya. Pertama, rumah mereka dekat dengan rumah sakit ini, tentu saja tidak akan mempersulit Junho untuk membawa Junsu. Kedua, ada Soohyun, teman mereka sejak kecil yang membantu mereka dengan berbagai harapan, tentu saja Junsu akan lebih nyaman dengannya daripada dengan dokter lain. Ketiga, rumah sakit ini adalah rumah sakit yang paling bagus di Seoul—menurut pandangan Junho—jadi semua harapan untuk kesembuhan bisa terwujudkan disini.

Jadi, bagaimana jika seandainya mereka akan bertemu?

Apa... Junsu masih akan ketakutan seperti waktu itu?

.

.

The Time

Gloomy | April 28th, 2012

A Nonsense Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"

Time to Play

.

.

.

Saturday

April 28th, 2012

09:20 AM

Jaejoong membuka pintu kamar Taemin dengan perlahan, dengan hati-hati. Tidak berniat untuk mengganggu hal yang sedang dikerjakan Taemin. Ketika pintu sudah terbuka, Jaejoong masuk ke dalam dan mendapati Taemin tengah menggambar sesuatu di kertas gambarnya, dengan crayon yang berserakan di sekitarnya. Jaejoong menggeleng pelan. Dia mengambil posisi jongkok di hadapan Taemin yang terlihat sama sekali tidak terusik atas kehadirannya.

"Kenapa menggambar di lantai, Sayang? Lantai kan dingin, nanti Taemin sakit. Kenapa tidak di meja belajar saja?"

Taemin hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Jaejoong walau jari kecilnya tidak berhenti untuk melukiskan warna di atas kertas gambar. Jaejoong mengusap kepala anaknya, menundukan kepalanya untuk melihat apa yang tengah di gambar Taemin. Namun, Jaaejoong hanya bisa melihatnya dengan samar karena tertutupi oleh kepala Taemin yang menunduk.

"Nanti Taemin jadi bungkuk, ayo pindah. Biar Umma temani."

Taemin masih tidak menjawab ucapan Jaejoong. Dia meraih crayon lain, menuangkannya pada gambaran yang sama sekali tidak bisa Jaejoong lihat apa itu.

Jaejoong masih mengusapi rambut Taemin dengan gerakan yang begitu lembut dari seorang ibu.

"Ah, Taemin mau keluar bersama Umma tidak? Aegya bilang dia ingin melihat dunia luar. Musim semi begitu indah, Sayang. Kita bisa melihat banyak bunga yang bermekaran."

Taemin tetap diam, bahkan mempercepat gerakan jarinya yang mewarnai gambarannya. Jaejoong menggigit bibir bawahnya. Dia tidak tahu apa lagi yang harus ia lakukan melihat Taemin yang seperti ini. Lebih sering mengurung diri di kamar tanpa mau berbicara. Seringkali Jaejoong mendapati anaknya tengah menangis sendiri di atas ranjang. Memeluk gulingnya dan memanggil nama anak yang meninggal beberapa minggu yang lalu itu. Dan ketika malam, Jaejoong sering melihat Taemin berdiri di balkon rumah, memandangi bulan—jika ada—dan berbicara bahwa dia akan pergi ke sana suatu hari nanti, bertemu Kai katanya.

Sungguh, hati Jaejoong miris melihatnya.

Anak sekecil Taemin, kehilangan seseorang yang begitu dekat dengannya. Walau umur pertemanan mereka baru sekitar dua bulan lebih tetapi Jaejoong dapat melihat Taemin begitu bahagia dengannya. Dan bagi Taemin yang harus menyaksikan orang itu meninggal ketika memeluknya membuat Taemin berubah sekarang. Taemin yang ceria, aktif, cerewet, pemalu dan pembawa suasana bahagia kini menjadi sosok yang pemurung. Dan hal itu tak baik untuk anak sekecil itu.

Dan Jaejoong sama sekali tidak tahu apa yang dapat merubah kembali anaknya seperti dulu.

Tanpa sadar, ada setitik air mata di suduk mata Jaejoong. Jaejoong mengusapnya perlahan dengan jarinya yang masih mengusapi rambut Taemin.

"Taemin... Taemin sebentar lagi masuk SD lho~. Ba-bagaimana perasaan Taemin? Disana Taemin pasti bisa mendapat banyak teman, bukan? Taemin senang, 'kan?"

Trak

Setelah kalimat Jaejoong terlontar, crayon biru yang tengah Taemin gunakan terbelah oleh jari kecil itu. Jaejoong memandangnya kaget. Dia segera bergerak panik, berusaha mengangkat wajah anaknya agar melihatnya.

"A-astaga, Taemin! Apa Umma salah mengatakan sesuatu? Maafkan Umma, Sayang. T-tetapi Umma tidak bisa melihatmu seperti ini terus."

Taemin berusaha sekuat tenaga untuk menunduk. Jaejoong tak bisa menghentikan air matanya yang kini datang lagi menembus pertahanannya. Dia tidak bisa melihat anaknya seperti ini. Dia tidak mampu melihatnya. Dan perlahan, dapat Jaejoong lihat bahwa ada setetes cairan bening jatuh membasahi gambar yang Taemin buat.

Itu artinya, anaknya menangis sekarang.

"S-Sayang... jangan seperti ini terus. K-Kai pasti tidak suka melihat Taemin menjadi pemurung seperti ini."

Dan setelah itu, Taemin segera menabrakan dirinya terhadap Jaejoong. Terhadap sebuah pelukan yang langsung Jaejoong buat untuk menenangkan anaknya. Jaejoong memeluk tubuh kecil itu erat, mengusapi rambutnya secara lembut dan menenangkannya yang meremas baju yang Jaejoong kenakan dengan erat. Dan mata Jaejoong bisa menangkap apa yang Taemin gambar.

Tiga orang anak kecil yang sedang berpegangan, dengan senyum pada wajah mereka dan nama masing-masing di atas kepala.

Minho, Taemin dan Kai.

Jaejoong membiarkan rembesan air mata yang membasahi dadanya.

.:o~o:.

Saturday

April 28th, 2012

01:13 PM

Plak!

Satu tamparan mendarat mulus di pipi kanan Zhoumi. Membuat namja tinggi itu terdiam di posisinya.

"Kau seorang dokter! Mau jadi apa jika mabuk-mabukan seperti itu?"

Plak!

Satu tamparan lagi mendarat disana.

Hangeng memandang marah pada adiknya. Beberapa jam yang lalu dia dan Heechul membiarkan Henry pulang ke apartement-nya bersama Zhoumi—karena sudah beberapa minggu ini Henry tinggal di rumah Heechul dan Hangeng oleh perintah Heechul, agar Zhoumi bisa menyadari kesalahannya. Dan sungguh tak disangka, ketika Henry datang kesana dengan niat untuk memaafkan Zhoumi atas insiden pelukan itu, dia menemukan kekasihnya tidur di atas ranjang mereka dengan seorang wanita. Ada bau alkohol yang menyengat disana. Dan segera setelah itu Henry berlari pulang, membuat Zhoumi terbangun dan menyusulnya—setelah mengusir pelacur itu dengan tidak terhormat.

Heechul memandang Zhoumi marah. Dia benar-benar tidak suka dengan perbuatannya.

"Aku menjauhkanmu dari Henry agar kau berubah! Agar kau bisa menyadari kesalahanmu! Agar kau bisa berpikir! Tetapi dimana otakmu sekarang?"

Heechul tahu bahwa dia bukan kakak kandung dari Zhoumi maupun Henry. Tetapi dia tidak bisa melihat hubungan keduanya bisa hancur dalam waktu dekat jika Zhoumi tidak berubah. Heechul dan Hangeng tidak tahu apakah Zhoumi masih bertemu dengan Kyuhyun atau tidak di luar sana. Tetapi, dengan cara Zhoumi yang melampiaskan semuanya pada mabuk dan pelacur juga bukan jawaban yang tepat. Dan hal itu mengundang kemarahan bagi pasangan suami istri itu.

Hangeng berusaha mengontrol emosinya. Jika dia tidak melakukannya, maka tidak akan ada yang bisa menenagkan Heechul.

"Dasar bodoh! Seharusnya kau berpikir dan mem—"

Hangeng menahan dada Heechul yang memajukan langkahnya. Dia memberi isyarat kepada Heechul untuk berhenti, biar Hangeng yang mengatasi adiknya.

"Sekarang bicara secara baik-baik dengan Henry. Jelaskan semuanya kepadanya." ucap Hangeng, mencoba untuk bijaksana.

Heechul menggeleng tidak suka. Dia menepis tangan Hangeng dari dadanya dan memandangnya kesal.

"Apa? Membiarkan dia bertemu Henry? Apa kau gila! Kau tidak bisa—"

"Ini masalah adikku dengan Henry. Kau tidak bisa ikut campur disini."

Dan dua kalimat itu membuat Heechul naik pitam. Dia mendorong dada Hangeng lagi secara kasar dan setelah itu pergi dari ruang tengah, menuju kamarnya.

Hangeng mengalihkan perhatiannya ke arah Zhoumi yang menunduk. Hangeng menarik napasnya, berusaha untuk tidak memukul adiknya.

"Temui Henry di kamar sekarang. Jelaskan semuanya."

Dan Hangeng berjalan meninggalkan Zhoumi, menyusul istrinya.

Sedangkan Zhoumi bergerak ragu menuju kamar dimana Henry berada.

Dengan langkah yang hati-hati, Zhoumi melangkahkan kakinya ke arah kamar itu. Dia menarik napas sebelum meraih kenop pintu dan—

Klek! Klek!

—terkunci.

Zhoumi mencoba mengetuk pintu itu berulang kali, memanggil nama Henry namun tidak ada jawaban. Maka dia hanya diam di depan pintu, menunggu pintu itu terbuka dan menjelaskan semuanya.

.:o~o:.

Saturday

April 28th, 2012

01:21 PM

"Aku ingin mencari udara segar di luar."

Jungmo menggelengkan kepalanya, membuat Yoochun mendengus kesal. Dia berdiri dari duduknya, berjalan mendekati Jungmo yang menatapnya.

"Kau pasien yang aneh. Orang sakit itu diam di dalam ruangan, atau tidur saja. Tetapi kau tidak bisa diam sama sekali. Mengapa tidak ke kamar Changmin saja?"

"Aku ingin meminta izin kepadamu untuk membawa Changmin juga. Lagipula aku hanya ingin ke taman belakang, banyak pasien yang sering kesana bukan?"

Jungmo mengangguk, namun setelah itu dia melipat kedua tangannya di dada.

"Tidak boleh. Lagipula kasihan Changmin jika harus kau bawa."

"Yasudah, biarkan aku keluar sendiri. Aku benar-benar bosan disini." kata Yoochun dengan keras kepala. Dia berjalan mendekati pintu namun Jungmo menahannya.

"Aish! Lagipula harus ada yang menemanimu! Kau ini pasien macam apa, sih?"

"Aku ini dokter." kata Yoochun terkekeh. Jungmo memutar kedua bolamatanya. "Dan aku bekerja disini."

"Tetapi kau sedang menjadi pasien sekarang."

Yoochun mengangguk acuh. Dia mendorong bahu Jungmo dan berhasil menuju pintu kamarnya.

"Ya! Aish, kau ini! Diam saja di kamar!"

Yoochun hanya terkekeh pelan seraya melangkahkan kakinya menuju lift. Jungmo menyusul di belakangnya dengan kesal, memandang temannya yang begitu menyusahkan—menurutnya.

"Lalu, jika sudah di taman belakang kau mau apa?"

Pintu lift tertutup ketika keduanya sudah masuk ke dalam. Yoochun menekan tombol nomor satu—lantai dasar tempat lobi dan pintu keluar—dan membiarkan lift turun membawa keduanya.

"Kau sendiri mau apa?" tanya Yoochun.

"Aku?" Jungmo menunjuk dirinya sendiri. "Sebagai dokter aku harus menjaga pasiennya."

Yoochun terkekeh pelan sebelum pintu lift terbuka pada lantai yang mereka tuju. Segera keduanya keluar dari dalam lift dan menuju ke arah pintu untuk ke taman belakang.

"Aku bisa sendiri, Jungmo. Aku bekerja disini, aku sudah hapal semua tempat disini. Jika aku butuh bantuan, aku juga tahu dimana tempatnya. Jadi sebaiknya kau kembali ke atas, bantu pasien lain."

Jungmo menggeleng melihat kelakuan temannya.

"Bisa-bisa aku dimarahi Dokter Sooman jika tidak menjagamu! Aish! Kau ini menyusahkan!"

"Oh, begini. Kau bilang ingin membantuku, bukan?" tanya Yoochun seraya menoleh ke arah Jungmo.

Jungmo mengangguk ragu mendengar pertanyaan itu. "Tapi jangan permintaan yang aneh-aneh."

"Kau pasti bisa membelikanku sebucket bunga untuk Changmin? Nanti aku bayar deh. Kau tahu bukan bahwa aku belum bisa keluar dari lingkungan rumah sakit ini?"

Jungmo membuang napasnya mendengar permintaan itu.

"Aku berharap kau cepat sembuh, Dr. Yoochun. Kau harus tahu bahwa permintaanmu selalu menyusahkan." kata Jungmo.

Yoochun terkekeh seraya melangkahkan kakinya menyusuri taman. Sedangkan Jungmo memilih untuk menuruti keinginan Yoochun, karena dia begitu menyayangi Yoochun dan juga Changmin sebagai temannya.

"Kuharap kau membayarku mahal setelah ini!"

Itulah kalimat terakhir dari Jungmo yang Yoochun dengar pada saat itu. Yoochun hanya tertawa kecil. Senang juga menjadi orang sakit, membuat semua orang menuruti keinginannya. Lagipula, dia melakukan hal ini untuk Changmin-nya.

Dan setelah itu Yoochun bisa menikmati rasanya menghirup udara segar di luar. Tanpa ada bau obat-obatan—walaupun ini masih area rumah sakit, setidaknya dia tidak berada di dalam ruangan secara terus menerus.

Yoochun melangkahkan kakinya, berjalan di sekitar taman, memperhatikan musim semi yang cukup indah. Beberapa bulan yang lalu dia punya rencana untuk membawa Changmin jalan-jalan ke pulau Jeju pada musim semi ini. Namun, apa daya, setelah kecelakaan sebulan yang lalu mereka hanya diam di rumah sakit seperti ini. Membuat Yoochun harus membatalkan segala rencananya.

Tetapi tidak apa, selama Changmin masih menjadi miliknya sampai sekarang.

Dan ketika langkahnya sudah berjalan lama, kedua mata Yoochun menangkap seseorang yang duduk di atas kursi roda. Yang menangkap juga sosok dirinya yang hanya berjarak beberapa meter darinya.

Namja itu...

"Ju-Junsu..."

Junsu memejamkan mata dan menarik napasnya. Menghembuskannya secara perlahan, berusaha menghapus masa lalu kelam yang dialami keduanya. Lagipula dia tidak boleh selamanya terpuruk atau ketakutan. Jika dia seperti itu, Yoochun akan merasa hebat karena membuat seseorang menjadi lemah.

Dan indra pendengaran Junsu menangkap suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya.

Aku harus bisa bertahan.

Aku bisa hidup tanpanya.

Jangan takut, Junsu. Kau bisa lebih kuat dari yang sebelumnya.

Junsu membuka matanya secara perlahan dan menangkap sosok Yoochun yang sudah berdiri di hadapannya.

"J-Junsu, aku—"

"Oh, hai Yoochun. Bagaimana kabarmu? Maaf, ketika pertemuan beberapa minggu yang lalu aku hanya masih kaget karena mendengar suaramu, jadi aku tidak menyapamu. Dan ah, aku mendapatkan mata baru sekarang, jadi aku bisa melihatmu setelah sekian lama kita tidak berjumpa."

"Maafkan aku." kata Yoochun pelan.

Junsu mengangkat sebelah alisnya. "Minta maaf? Untuk apa? Kejadian bertahun-tahun yang lalu? Lupakan saja."

Walaupun Junsu mencoba untuk berani, namun tetap saja tubuhnya masih bergetar dan menegang ketika harus berhadapan dengan namja yang membuatnya terpuruk.

"Ba-bagaimana dengan anak—"

"Oh, Baekhyun. Dia anakku. Tetapi sepertinya kau tidak bisa bertemu dengannya, Junho akan membunuhmu jika hal itu terjadi. Dan jika Junho melihat kita berbicara sekarang juga, aku tidak tahu apa setelah ini kau akan menjadi pasien di rumah sakit ini atau tidak. Ah, ya, kudengar kau berhasil menjadi dokter disini. Tetapi... mengapa kau memakai pakaian pasien?"

"Itu tak penting, Junsu. Maafkan aku."

Junsu memejamkan matanya sebentar, berusaha untuk menguatkan hatinya. Dia tidak boleh terlihat lemah di hadapan Yoochun. Tidak boleh untuk yang kedua kalinya.

"Maafkan aku."

Junsu membuka matanya. "Berhentilah meminta maaf."

"Aku tidak bisa hidup dalam dosa. A-aku percaya akan karma sekarang. Kau tahu? Aku punya seseorang yang sangat aku cintai sekarang, dan aku tidak ingin dia direbut oleh siapapun. A-aku takut akan karma sekarang, maka dari itu maafkan aku."

"Kuharap orang yang kau cintai itu tak berakhir sama sepertiku." ucap Junsu seraya memberikan penekanan pada kata 'cintai'.

Yoochun menggeleng pelan. "Kau boleh menghinaku, memukulku atau apapun yang ingin kau lakukan sekarang. Tetapi, aku meminta maaf atas segala yang kulakukan dahulu. Maaf karena meninggalkanmu disaat kau ham—"

Junsu meremas tangannya sendiri dengan keras. "Berhentilah sebelum aku memukulmu!"

"Pukul aku! Aku hanya ingin mengucapkan maaf padamu."

Junsu memejamkan matanya lagi ketika merasakan tubuhnya kembali bergetar. Dia tidak bisa. Dia tidak bisa jika harus bertindak kuat di hadapan namja ini. Junsu sadar bahwa dia sudah menghapus rasa cintanya terhadap Yoochun tepat ketika namja itu meninggalkannya. Namun tetap saja, perasaan cinta tetap ada walau hanya sedikit. Dan mendengar bahwa Yoochun sudah mencintai orang lain dengan sungguh-sungguh, itu membuatnya sakit. Mengapa bukan dia yang dicintai seperti ini?

"Pergilah sebelum Junho datang." kata Junsu. Matanya terbuka secara perlahan.

Yoochun menggeleng. Dia meraih jemari Junsu dan menggenggamnya erat.

"Aku tahu aku brengsek. Aku datang kepadamu hanya menginginkan kata maaf, bukan untuk bertanggung jawab. Tetapi sungguh, maafkan aku. Aku tidak bisa bertanggung jawab. Aku sudah sangat mencintai seseorang sekarang dan jika aku kehilangannya sama artinya seperti kehilangan hidupku sendiri. Kumohon maafkan aku, Junsu. Aku tidak bisa selamanya terbayang oleh dosa yang kubuat padamu."

Junsu menggigit bibir bawahnya dan memejamkan kembali matanya. Jika seperti ini, dia lebih memilih untuk buta atau mati ketika tahun duaributujuh lalu. Daripada seperti ini. Bertemu dengan orang yang menghamilinya, mendengar bahwa dia mencintai orang lain dan tidak berkeinginan untuk bertanggung jawab. Dia hanya ingin kata maaf.

Masih brengsek seperti dulu.

Egois!

Dasar iblis!

"Kau memang tidak pernah mengerti perasaan orang lain, ya?" Junsu membuka matanya lagi. "Aku tidak menyangka Baekhyun lahir dengan ayah brengsek sepertimu. Tetapi, dia bukan anakmu. Aku tahu kau tidak menginginkannya, dan aku juga tidak menginginkanmu untuk menjadi ayahnya."

"Demi Tuhan, maafkan segala dosaku Junsu."

Junsu menggigit kembali bibir bawahnya, menahan rasa panas yang memaksa keluar dari matanya. Dia tidak boleh menangis. Dia tidak boleh terlihat lemah. Dia harus kuat dihadapan Yoochun.

Grep!

Junsu merasakan sebuah pelukan melingkari tubuhnya. Dia dapat melihat Yoochun memeluknya. Pelukan ini... sudah lama sekali Junsu tidak merasakannya. Pelukan yang membuatnya merasa hangat dan nyaman.

"Permintaan maafku benar-benar tulus. Aku harap kau menemukan orang lain yang baik, tidak brengsek sepertiku."

Ingin sekali Junsu mendorong tubuh Yoochun. Menjauhkannya agar tidak pernah untuk menyentuhnya lagi. Namun, rasa rindu itu begitu kuat. Dia sangat merindukan ucapan lembut dari mulut namja ini. Dia begitu merindukan pelukan hangat seperti ini. Dia begitu merindukan dirinya, walau tak rela jika dia menjadi bagian dalam hidupnya lagi.

"Jangan pernah kau bertemu dengan Baekhyun. Dia bukan anakmu, kau perlu tahu hal itu. Dia tidak punya ayah."

Yoochun menggeleng pelan, menyetujui.

"Maaf jika aku lancang, tetapi..." Yoochun melepaskan pelukanya dan menatap Junsu yang berusaha menahan air matanya. "Ini adalah kegiatan tertulus yang pernah aku berikan terhadapmu. Maafkan aku."

Yoochun menelusupkan bibirnya di antara kedua belah bibir Junsu. Memberi tahunya bahwa permintaan maafnya begitu tulus. Junsu memejamkan matanya, membiarkan beberapa tetes air mata terjatuh, lepas dari pertahanannya.

Dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk melupakan Yoochun. Dia berjanji kepada Junho untuk menghindarinya jika ia bertemu dengannya. Namun, Junsu tahu bahwa perasaannya tidak bisa dibohongi.

Masih ada cinta darinya untuk Yoochun.

Dan hal itu membuat dia sama sekali tidak bisa menolak ciuman itu. Melupakan segala ketakutan dari dalam dirinya.

Sementara, beberapa lantai di atas—tepatnya di sebuah jendela yang tidak tertutup gorden, seorang namja berdiri disana. Melihat pemandangan itu dengan berbagai emosi dalam dirinya.

Dia mencoba bersikap dewasa, mungkin itu hanya sebuah salam perpisahan. Tetapi, bagaimana jika cinta Yoochun hanya kepalsuan untuknya? Bayangan bahwa Yoochun adalah laki-laki brengsek berputar lagi dalam benaknya.

Cklek!

Pintu kamarnya terbuka, membuat namja itu—Changmin—membalikan tubuhnya. Dia melihat ada seorang namja yang tersenyum kepadanya, dengan sebucket mawar merah di tangannya—seperti biasa.

Jika Yoochun bisa melakukan hal itu, mengapa dia tidak bisa?

Maka, dengan cepat, sebelum namja bernama Choi Dongwook yang masuk ke dalam kamar VVIP-nya itu sempat mengatakan sesuatu, Changmin sudah berjalan cepat ke arahnya dan mencium namja itu tepat di bibirnya.

Kalah oleh emosi. Biarlah! Ini salah Yoochun yang membuatnya sakit hati!

Bucket mawar merah yang dibawa Se7en terjatuh di lantai. Untuk Se7en, ini adalah sebuah kesempatan besar ketika Changmin tiba-tiba menciumnya. Dan dengan segera, Se7en membawanya ke dalam ciuman yang lebih panas. Memeluk Changmin dengan begitu intens dengan ciuman mereka.

Jika Yoochun membuatku sakit lebih dari ini, aku akan meminta ayah untuk menikahkanku dengan Dongwook-hyung. Tak peduli akan perasaanku, aku hanya tak ingin dibohongi. Itu saja.

.:o~o:.

Lagi, lagi, kau hanya tidak mengerti caranya mengontrol emosi, Changmin.

.:o~o:.

Maaf baru datang chingu~

Aku gak bisa banyak bacot~ gara-gara tanganku nih *liatin tangan*

Kemarin aku baru saja balas dendam ke Sasuke karena gara-gara dia Deidara tercintaku mati /PLAK!

Eh bukan, tanganku cidera (?) gara-gara kecelakaan kecil. Dua-duanya. Demi Tuhan, ngetik tuh rasanya menyakitkaaaaaaann sekali, masalahnya yang cidera tuh dua-duanya *lirik tangan*

Ah, buat makan choki-choki aja susah banget ngangkat tangannya

Okay, jadi maaf belum bisa balas review

Ah, untuk pertanyaan dari seseorang~

Nama saya Yuri

Cewek

16 tahun

2 SMA

Okay, terjawab bukan? Hoho~

Note : Saya fujoshi tapi straight

Ada waktunya untuk ngomongin Death Cycle, tapi bukan sekarang

Big thanks for my beloved readers

MinnieGalz | elfishy | shihyun sparkyumin | kangkyumi a.k.a BunyyMin25 | KyuHyunJiYoon | anonym | eunhee24 | putryboO | BlackAngel | HanRyuu | Halcalilove12 | Wonkyurity | shakyu | Cloud1124 | Stella | Cho Luna Kuchiki | WindaaKyuMin | Hayaka Koizumi | Hyorin | maxdisaster | widiwMin | minnie beliebers | Meong | Hyeri | VitaMinnieMin | Kulkasnya Changmin | ma'on clouds | Leeyasmin | lee jungmin | Hikari | schagarin | Han HyeYoo | chidorasen | Els a.k.a HyeFye | Soldier of Light | dn | ukechangminnie | trueetr| ChoKyuLate| lilin | someone | blacknancho21 | zakurafrezee | | Jiji | Park YUIrin | Lu I-Mo | Cho Kyurin | doubleU26 | X | PoLipo | jungyunhae | Cho RhiYeon | HanChullie | ressijewelll | NakamaLuna | Madamme Jung | Arisa tanaka | Momoelfsparkyu | jinki jung a.k.a ejinki | pumpkins | mutun | RedWineCouple | nobinobi | KyuNa | jielf02 | pL.h | Min Yeon Rin | Elf-eviL'without'Horn | Ticia | Kaguya | vanillaScarlet | Jung Ye Eun | zen hikari | dnr0502 | Jisuu Kim | honey | bella | ninamum itha | MinKi Lie | eL-ch4n | Lil'cute Bear | MinKyu | Natsue | michio giichi chan | mhiakyu | missrama | Zhao Gui Xian | magiciankunai | Ruffy tabooty | EviLisa2101 | Shim Minsu | dew | jungyunhae | Shania9ranger | yui | CloudSomniaLoveYunJae | Reader menunggu | scuit | MinkyuKihae | Reinatta | vitthia | anon | Cho min ri | Yui-chunnie | KaiHyun | cho-choi | E.V.E | puzzpitjewelforever | moonHJ | Lee Hyuknie | saera park | mutun | Choi Taenma | ceekuchiki | leenahanwoo | Park Sung Rin | Ryu | Cha2LoveKorean | rikha-chan | MiNamGirls | My Baby Dongho dan untuk semuanya.

Siapa yang namanya kesebut 2 kali? :/ atau ada yang belum kesebut? Kasih tau ya :)

Just call me Yuri :)

With love, Yuri Masochist

SARANGHAE~!