"Sudahlah, Umma. Aku tidak ingin menjawab—"

"Dasar anak kurang ajar! Umma belum selesai bicara!"

Seketika Yesung mengatupkann mulutnya, kemudian berdecak pelan seraya menghempaskan punggungnya pada sofa. Menghela nafas sesaat, sebelum ia benar-benar tak berbicara apapun lagi.

Lain lagi dengan Ryeowook, namja itu sedari tadi hanya diam menunduk. Kedua kakinya merapat dengan masing-masing kepalan tangannya bertumpu di atas paha. Remasan-remasan jarinya semakin bermain ketika Heechul baru saja berbicara dengan suara yang meninggi.

Yesung terlihat diam, diam karena kesal lebih tepatnya. Berbeda dengan Ryeowook, jantungnya berdetak dua kali lipat dari biasanya! Lihat, wajahnya pun memerah padam setiap kali mendengar Heechul berbicara. Mendengar Heechul yang sedang mengintrogasi mereka.

Mengintrogasi— Ya, semua ini terjadi karena fotonya dan Yesung yang tiba-tiba terkirim begitu saja ke nomor Heechul itu!

"Jelaskan padaku, Jongwoon, Ryeowook."

Heechul melempar sebuah amplop coklat ke atas meja, dan saat itu juga terlihatlah isinya. Isi dari amplop yang seketika dapat membuat kedua mata Ryeowook melebar, sedangkan Yesung segera mengusap wajahnya kasar. Ia semakin kesal dan kali ini malu berat.

Demi Tuhan! Ryeowook bahkan tak menyangka jika Heechul bahkan sampai mencetak fotonya dan Yesung yang dalam keadaan telanjang bulat itu menjadi tiga lembar!

"Karena Yesung tak mau menjawab, baiklah, Umma lebih baik bertanya padamu."

Heechul kali ini menatap Ryeowook, dan yang mendapat tatapan hanya bisa membalasnya dengan tatapan takut. Ia bisa merasakan aura menyeramkan dari sosok Kim Heechul ini.

Ia bahkan masih mengingat, kesan kurang menyenangkan saat pertama kali ia dan Yesung bertemu Heechul pagi ini.

'Dasar anak bodoh! Anak bodoh!' ujar Heechul seraya memukul kepala Yesung dengan sebuah tas berukuran kecil yang memang selalu dibawanya. Ryeowook hanya bisa mencoba untuk menghentikan aksi membabi buta Heechul tersebut. Kasihan Yesung, di pagi buta seperti ini sudah menjadi sasaran amukan ibunya.

"Wookie,"

Ah! Persiapkan dirimu, Kim Ryeowook!

"N-ne, Umma?" Ryeowook seketika gugup.

"Jadi, sudah berapa kali kalian melakukannya?"

"Um.. satu.. y-ya, hanya satu malam."

Ryeowook tersenyum kaku. Ia melirik Yesung, meminta bantuan pria itu agar tak hanya dirinya yang menjawab pertanyaan Heechul. Tapi, tampaknya pria itu masa bodoh dengannya.

"Benarkah?" Raut Heechul benar-benar terlihat serius.

Ryeowook mengangguk pelan.

"Lalu, bagaimana menurutmu? Apakah permainan Yesung bagus?"

Sekali lagi Yesung mengusap wajahnya kasar. Ia membenturkan keningnya pada kepala sofa beberapa kali. Ryeowook yang melihat reaksi Yesung atas pertanyaan Heechul hanya bisa tertawa kaku.

"B-begitulah, Umma."

"Begitu? Ah, sepertinya memang tidak bagus." Cibir Heechul.

"Ya!" seketika Yesung berseru tak terima.

Heechul mengusap dagunya pelan, sepertinya ia sedang menyiapkan pertanyaan selanjutnya.

"U-Umma, apa ada lagi yang ingin ditanya—"

"Berapa ronde?"

"A-Apa?!" Ryeowook terkejut dengan pertanyaan Heechul yang semakin menggila.

"Berapa ronde kalian melakukannya, sayang?"

"Demi Tuhan! Haruskah Ryeowook menjawabnya?!" Yesung yang semakin kesal bahkan kini menjambak rambutnya sendiri.

Heechul justru tersenyum, ia sedang menggoda Yesung dan Ryeowook.

"Berhentilah bertanya yang—mphh!"

"Tiga kali! Ya! K-kami hanya melakukannya tiga kali!" potong Ryeowook cepat, dengan sebelah tangan yang masih membekap mulut Yesung.

Ryeowook sebenarnya malu berat, namun ia tahu jika Heechul adalah tipe orang yang keras kepala. Maka dari itu ia menjawab. Karena sekeras apapun Yesung tak ingin memberitahu, saat itu juga Heechul semakin keras ingin diberitahu.

Ingat, buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya, kan?

Yesung menepuk jidatnya mendengar jawaban yang begitu mudahnya keluar dari mulut Ryeowook. Ia bersumpah ingin sekali menyumpal mulut Ryeowook dengan milikny— lupakan.

"Lain kali, jangan kirim foto seperti itu lagi padaku."

Heechul menatap Yesung dan Ryeowook secara bergantian. Tatapannya terlihat serius, tatapan yang seperti itu selalu membuat nyali Ryeowook menciut.

"Maafkan kami, Umma." Lirih Ryeowook. Selain malu, kali ini ia benar-benar merasa tak enak hati. Ia merasa sudah tak memiliki muka lagi di hadapan mantan mertuanya tersebut.

Ini benar-benar memalukan!

"Aku tak suka mendapat foto seperti itu." Heechul berdecak, pura-pura terlihat kesal.

"M-maafkan kam—"

"Karena apa? Karena aku lebih menyukai videonya. Jadi, lain kali, jika kalian kembali melakukannya lagi, jangan lupa untuk merekamnya dan kirim lagi ke ponselku." Heechul berkedip genit.

Dan detik kemudian Heechul tertawa lebar, puas melihat wajah Yesung dan Ryeowook yang kini semakin memerah.

.

.

.

.

My Little Family © Choi RinRi

Super Junior © God, SMEnt, and their parents.

Maint Cast : Kim Jongwoon & Kim Ryeowook

Warning : Shounen-ai, OOC, OC, AU, M-Preg, Name Bold = Point Of View.

Don't Like? Don't read!

.

.

[Chapter 9]

Enjoy!

.

.

.

"A-Appa, hiks.. maafkan Jongie, hiks.."

Yesung mengacak rambutnya kasar. Niat awalnya hanya ingin bertanya, namun kini Jongie justru dibuat menangis. Sudah cukup pagi harinya yang indah ini dihancurkan oleh kedatangan Heechul yang tiba-tiba, dan sekarang harus ditambah dengan kebisingan yang ditimbulkan dari jagoannya yang kini menangis keras?!

"Seharusnya Jongie tidak melakukan itu. Akibat ulahmu, Appa dan Umma malu berat! Kau tahu?"

Yesung terus berjalan mondar mandir di depan meja makan, yang disana terdapat Ryeowook dan Jongie duduk di salah satu kursinya. Jongie duduk meringkuk di pangkuan ibunya, menangis karena takut melihat kemarahan ayahnya. Sedangkan Ryeowook memeluknya, mencoba menenangkan Jongie dan meyakinkan putra kecilnya itu jika Yesung sama sekali tak marah padanya.

"Belum Appa belikan ponsel saja, kau sudah nakal seperti ini."

'Yang sebenarnya nakal itu kau, bodoh!' omel Ryeowook dalam hati saat mendengar ocehan Yesung, yang masih dengan berjalan mondar mandir di depannya.

"Bagaimana jika Appa benar-benar membelikanmu ponsel? Mungkin, Appa yang sedang mandi pun akan kau foto lalu kau kirimkan pada Halmoni!"

Ryeowook menggeleng pelan dengan wajah yang memerah mendengar ocehan bodoh Yesung. Mana mungkin Jongie akan melakukan itu. 'Anakku tidak sebodoh kau, tahu!' omel Ryeowook dalam hati, lagi.

Ryeowook menghela nafas. "Sudahlah, tidak perlu dipermasalahkan lagi. Lagipula, Jongie itu masih terlalu kecil, ia tak mengerti apapun tentang masalah ini."

Dengan mata yang memerah, Jongie menatap takut-takut ayahnya. Ia beringsut memeluk Ryeowook saat Yesung memperhatikannya. Ryeowook menarik lengan kecil Jongie dan membiarkan putra kecilnya itu memeluk lehernya, beserta wajahnya yang dibenamkan di antara perpotongan lehernya. Ryeowook tersenyum kecil menyadari anaknya yang saat ini ketakutan, diusapnya lembut punggung kecil itu.

Ucapan Ryeowook benar. Tak seharusnya ia marah-marah seperti ini.

Yesung mengambil tempat di samping Ryeowook. "Baiklah, maafkan Appa. Appa tidak bermaksud memarahimu, sayang." Ujarnya, setelah berhasil mengontrol emosinya dan melupakan sejenak rasa malunya pada Heechul.

Yesung membujuknya, tapi Jongie tidak bergeming.

Yesung menghela nafas. "Jagoan, maafkan Appa, oke?" Yesung membujuknya sekali lagi.

"Dengar, Appa tidak marah padamu sayang." Ryeowook berbisik seraya mengusap rambut hitam Jongie yang sedikit basah oleh keringat.

"Benar. Kalau Jongie memaafkan Appa, nanti Appa belikan mainan baru. Terserah apapun itu."

Mendengar itu, seketika membuat Jongie luluh juga. Meski masih sedikit ragu-ragu, Jongie mulai berani mengangkat wajahnya dan balas menatap Yesung.

"Benarkah? Appa akan membelikan mainan yang Jongie mau? Apapun itu?" tanya Jongie, terdengar nada semangat dari suaranya yang serak. Efek bangun tidur dan menangis menjadi satu.

"Tentu!"

Anggukan yang diberikan Yesung membuat Jongie tersenyum senang, bahkan anak kecil itu berseru riang. Seolah lupa jika baru saja ia menangis karena dimarahi ayahnya.

"Kalau begitu, mana ciuman dan pelukan untuk Appa, hm?"

Tanpa menungu apapun, Jongie segera beringsut mendekat pada ayahnya. Duduk di pangkuannya dan memeluk serta mengecup pipi ayahnya.

"Aku sayang Appa!"—lalu mengecup pipi Ryeowook, "dan sayang Umma juga!"

.

.

.

.

"Sudah mau berangkat?"

Ryeowook menyandarkan punggungnya pada ambang pintu kamarnya.

Yesung yang saat ini sedang bercermin memandang Ryeowook dari pantulan kaca lemari di hadapannya. Kemudian ia menoleh ke belakang.

"Ya, begitulah,"

Ryeowook mengangguk beberapa kali. Memperhatikan Yesung dengan seksama. Pria itu terlihat gagah, selalu tampan walau dalam setelan pakaian formalnya saat bekerja.

Sepertinya Yesung sudah merencanakan sejak awal jika dirinya akan menginap. Ryeowook tak mengira sebelumnya, hingga ia melihat pagi ini Yesung mengeluarkan sebuah tas dari dalam bagasi mobilnya. Tas berisi pakaian kantornya.

Dan untuk yang semalam… Ryeowook tak tahu apakan itu juga sudah direncanakan oleh Yesung. Uh, mengingat itu membuat wajahnya memanas!

"Kalau begitu akan kubuatkan sarapan."

Ryeowook hendak melangkah pergi, hingga kemudian Yesung berkata; "Tumben sekali, apa yang membuatmu berbaik hati seperti ini?"

Kedua alis Ryeowook menyatu dengan kening yang mengkerut. Wajahnya mulai terlihat sebal.

"Kalau begitu aku tak perlu berbaik hati—"

"Cukup buatkan aku kopi,"

Yesung tersenyum kecil dengan tangan yang menggenggam pergelangan tangan Ryeowook, menahan namja kecil itu untuk tak melangkah pergi.

Ryeowook menatap Yesung dengan pipi yang merona. Ucapan Yesung seperti sebuah permintaan seorang suami kepada istrinya. Terlebih kini pergelangan tangannya berada dalam genggaman tangan Yesung, terasa hangat namun seakan membakar kulitnya.

Bagus, kini jantung sialan itu berdetak cepat lagi.

"B-baiklah," ucap Ryeowok pelan.

Ryeowook ingin memilih beranjak dari kamarnya, namun Yesung tetap menahannya. Ia dibuat bingung.

"Sebelumnya, bisakah kau membantuku membenarkan ini?" Yesung menunjuk dasi yang melilit kerah kemejanya. "masih terlihat berantakan."

Ryeowook menghela nafas. Ia tahu ini, kebiasaan Yesung yang sejak dulu tak pernah hilang.

Saat mereka masih di bangku sekolah, Yesung tak pernah memakai dasi, dengan alasan ia tak bisa memakainya. Karena Ryeowook adalah anggota kedisiplinan yang tegas, tak memandang murid yang bersalah itu adalah temannya ataupun saudaranya, ia tetap menyuruh Yesung memakai dasinya.

Karena Yesung yang memang tak bisa memakainya, akhirnya Ryeowook lah yang selalu memakaikan dasi di kerah seragam namja tersebut. Memakaikannya dengan telaten dan rapi. Selalu seperti itu.

Dan setelah tahun-tahun itu berlalu, Ryeowook tak menyangka jika hingga kini menjadi seorang direktur di perusahannya, Yesung masih tak bisa memakai dasi dengan benar.

Memalukan.

Ryeowook berjalan mendekat, berdiri di hadapan Yesung yang saat ini hanya memakai kemeja putihnya. Jas hitamnya di biarkan begitu saja terletak di atas ranjang.

Ryeowook mengangkat lipatan kerah kemejanya, kemudian menarik lilitan dasi dan memakaikannya ulang. Yesung memperhatikan Ryeowook dengan baik. Namja itu masih sama, telaten dan rapi saat memakaikannya dasi.

Sedangkan Ryeowook, Yesung tak menyadari jika sedari tadi dirinya menahan nafas dan mencoba mengatur debaran jantungnya karena harus berdekatan sedekat ini dengan Yesung.

Bagai tersengat listrik, Ryeowook dibuat terkejut saat Yesung tiba-tiba menaruh kedua tangannya di masing-masing pinggangnya. Ryeowook mengadah, menatap Yesung namun pria itu masih terlihat tenang. Tatapannya yang tajam membuat Ryeowook kembali menunduk dan berkonsentrasi pada dasi yang sebentar lagi di selesaikannya. Membiarkan kedua tangan Yesung yang masih menempel di pinggang rampingnya.

Saat ia hampir menyelesaikannya dalam satu tarikan saja, kali ini Ryeowook merasa deruan nafas hangat menerpa wajahnya. Dan saat ia mengangkat wajah, ia dapat melihat wajah Yesung dengan jelas karena pria itu membuat jarak di antara mereka semakin sempit.

Seolah terhipnotis, Ryeowook diam saat Yesung semakin lama mendekatkan wajahnya. Bahkan tanpa sadar, kini ia meremas dasi yang masih berada dalam genggaman tangannya. Ryeowook gugup namun masih mencoba untuk bersikap tenang.

Dan hidung mereka bersentuhan, sebelum akhirnya kedua bibir itu bertemu. Yesung menciumnya, tepat di bibirnya. Pria itu mengecup bibirnya. Hanya sekedar menempelkan bibir, namun terasa begitu lembut. Saat Yesung melepaskan bibir mereka, ia pun melakukannya secara perlahan.

"Terima kasih," bisik Yesung kemudian, dan ia tersenyum kecil menyadari wajah Ryeowook yang memerah padam.

.

.

.

.

Ryeowook melirik arlojinya, waktu menunjukan pukul 12 siang. Pantas saja, di luar sana langit terlihat terik. Hari ini sedikit membuatnya gerah. Oleh karena itu, saat jam sekolah Jongie berakhir, Ryeowook memutuskan untuk tak langsung pulang. Menyantap dinginnya ice cream yang dapat memanja lidah menjadi pilihannya saat ini. Berkunjung ke sebuah kedai ice cream yang terletak di dekat sekolah Jongie.

Jongie sudah disibukan dengan satu porsi ukuran besar ice cream cokelat. Sambil sesekali berceloteh tentang teman-temannya di sekolah tadi siang, namja kecil itu terlihat begitu menikmati ice creamnya. Ryeowook menjadi pendengar yang baik, dengan sesekali mengelap bibir Jongie yang berlumuran ice cream.

Dan siapa sangka, di tempat ini ia dapat bertemu dengan Sungmin. Tak hanya Sungmin, si kecil Kyungsan dan Kyuhyun pun berada disini. Sungmin terlihat berjalan menuju kasir untuk memesan ice cream, sedangkan Kyuhyun dengan Kyungsan di gendongannya sedang mencari-cari tempat. Mereka sepertinya belum menyadari kehadirannya disini.

"Kyu!"

Ryeowook tersenyum lebar seraya melambaikan tangan saat Kyuhyun melihat ke arahnya. Pria itu tak langsung menghampirinya, melainkan berjalan mendekati Sungmin dan sepertinya ia memberitahu jika disini ada Ryeowook juga. Dan lihatlah, kini Sungmin mulai heboh karena tanpa diduga dapat bertemu dengan Ryeowook.

Kyuhyun dan Sungmin berjalan menghampirinya. Bahkan dari kejauhan pun, Ryeowook dapat melihat Kyuhyun dan Sungmin benar-benar keluarga yang bahagia. Yang satu tampan, yang satu cantik, dan mereka memiliki satu anak yang begitu menggemaskan. Lengkap sudah.

Dan kenyataan itu terkadang membuatnya iri.

Ia sering bertanya,

Kapan aku bisa memiliki sebuah keluarga yang sempurna?

"Ryeong!"

Seruan Kyuhyun menyadarkan lamunan sesaatnya. Ryeowook mengerucutkan bibirnya sebal, "Panggil aku, Hyung!"

Kyuhyun hanya tertawa tanpa dosa, sedangkan Sungmin sudah mengambil tempat di hadapannya.

"Wah, tidak menyangka kita dapat bertemu disini!" Sungmin terkekeh pelan, tak luput membuat Ryeowook tertawa juga.

"Iya, Hyung. Sedang menghabiskan waktu makan siang bersama ya?" Ryeowook memperhatikan keduanya. Kyuhyun dengan balutan pakaian kerjanya, sedangkan Sungmin dengan pakaian santainya namun masih terkesan formal. "Aih, romantisnya." Bibirnya kembali mengerucut, pura-pura terlihat iri— walau sebenarnya memang iri, sih.

Sungmin dan Kyuhyun kembali tertawa mendengarnya. Pasangan yang sudah menjadi sahabat Ryeowook sejak dulu ini memang terkenal romantis, bahkan sejak ketiganya masih sama-sama berstatus sebagai pelajar.

"Hai, Jongie, lama tidak bertemu."

Jongie, yang awalnya tidak terlalu memperhatikan pun mengangkat wajah. Kini di hadapannya ada seorang pria. Oh, Jongie kenal siapa dia.

"Evil Ahjussi!"

Jongie berseru dengan riangnya.

Kyuhyun merengut sebal. "Ya! Aku tidak setua itu, bocah. Jangan panggil aku Ahjussi!"

Ryeowook dan Sungmin dibuat tertawa mendengarnya. Bahkan, Kyungsan yang sudah mulai pintar berbicara pun mulai berkata 'pil.. pil juci.. epil juci!' sambil menusuk-nusuk pipi ayahnya dengan jari-jari kecilnya.

Seorang pelayan menghampiri mereka, menaruh beberapa ice cream yang Sungmin pesan. Ryeowook memperhatikan, di atas meja kini ada dua porsi ice cream strawberry.

"Oh, aku tak menyangka jika kau kini kau sefeminim ini, Kyu." Ryeowook tersenyum geli, seraya menatap ice cream strawberry dan Kyuhyun secara bergantian.

Mengerti arti tatapan itu, membuat Kyuhyun berdecak sebal.

"Ya! Sungmin Hyung yang memesannya, bukan aku!"

.

.

.

.

Kim Jongie.

Aku suka makan ice cream cokelat, dan hari ini Umma mengajakku makan ice cream.

Aku senang sekali! Hihihi.

Tapi, saat aku sedang sibuk memakan ice cream, seseorang memanggil namaku. Orang itu Evil Ahjussi. Huh! Ahjussi yang satu ini memamng selalu saja menggangguku!

Umma sering memanggilnya dengan sebutan Kyu Evil, maka dari itu aku juga ikut memanggilnya Evil Ahjussi. Walaupun aku tidak mengerti artinya, sih.

Disini juga ada Kyungsan, yang sama menyebalkannya dengan Evil Ahjussi karena setiap dia bermain denganku, Kyungsan selalu mengemut mobil-mobilanku dan karenanya mainanku menjadi basah oleh liurnya! Lalu robot-robotku juga, beberapa di antaranya dibuat cacat karena kaki dan tangannya dipatahkan oleh Kyungsan.

Aku sebal! Dan setiap kali aku melapor pada Umma, dia hanya berkata,

"Kyungsan kan masih terlalu kecil, wajar jika dia melakukannya."

Dan pada akhirnya, setelah aku membuat Kyungsan menangis karena memarahinya, aku pun ikut menangis.

Huh! Umma tidak bisa mengerti perasaanku!

Oh, ya, disini juga ada Sungmin Ahjussi. Hanya dia yang baik padaku. Dia sangat cantik, tapi tentu saja lebih cantik Ummaku, tahu!

Aku tidak terlalu memperhatikan apa yang mereka bicarakan, karena aku harus focus pada ice cream ku! Harus!

Aku tetap focus tapi Evil Ahjussi selalu saja menggangguku! Aku ingin menyuap ice cream ke dalam mulutku, tapi Evil Ahjussi justru menarik-narik tangaku hingga beberapa kali sendok yang kuarahkan ke mulut menjadi meleset. Dan akhirnya justru mengenai pipiku.

Aaaa! Tuh, kan, dia mulai menggangguku lagi!

"Kyu!"

Bagus, Umma! Marahi saja!

Pipiku menggembung dengan kedua mata yang menatap tajam, tapi kenapa Evil Ahjussi tidak takut?! Ia justru semakin menggangguku dan tertawa.

"Akan kuadukan pada Appa!" ancamku. Ancaman yang menakutkan, bukan?!

Tapi Evil Ahjussi justru tertawa, dan ia terlihat seram saat tertawa.

"Adukan saja, adukan aku pada si kepala besar itu!"

"Ya! Kepala Appaku tidak besar!" Aku melotot seram, seseram mungkin yang aku bisa lakukan. "T-tapi.. tapi memang besar, sih.. seperti balon udara.." gumamku pelan.

Ucapanku justru mengundang tawa para namja dewasa ini.

Ih! Aku sebal ditertawakan seperti ini!

Dan siang hariku yang indah ini terus terganggu oleh kejahilan paman bernama Kyuhyun ini. Belum lagi Kyungsan yang sedari tadi terus menarik-narik mangkuk ice creamku. Sedangkan Umma, dia terlihat sibuk mengobrol dengan Sungmin Ahjussi. Aku dicueki dan dibiarkan dijahili oleh dua orang sekaligus seperti ini!

Saat aku baru memasukan suapan terakhir ke dalam mulutku (setelah berjuang melawan kejahilan Kyuhyun), Kyuhyun Ahjussi mendorong kursinya ke belakang dan bangkit dari duduknya. Ia memberikan Kyungsan pada Sungmin Ahjussi.

"Waktu makan siangku akan segera berakhir. Aku harus segera kembali ke kantor, sayang."

Yes! Akhirnya Evil Ahjussi pergi juga!

Aku melihat Evil Ahjussi mencium pipi Sungmin Ahjussi. Jadi, seperti itu ya cara orang dewasa ketika berpamitan pergi? Kukira hanya aku saja yang mencium pipi Umma sebelum masuk ke dalam kelas.

Tapi, kenapa aku tidak pernah melihat Appa mencium Umma, ya?

"Nanti kita makan ice cream bersama lagi ya, jagoan!"

Evil Ahjussi tersenyum lebar seraya mengacak rambutku. Aku hanya cemberut, kemudian menjulurkan lidah saat Evil Ahjussi melambaikan tangan, berpamitan kepada kami.

.

.

.

.

"Dia tak pernah berubah," Ryeowook memperhatikan Kyuhyun yang berjalan melewati pintu utama kedai ini.

Sungmin tersenyum simpul.

"Ya, sejak dulu tak ada yang berubah darinya. Masih jahil dan kekanakan." Begitu katanya.

"Padahal sudah memiliki satu anak,"

"Bahkan menjelang dua."

Wajah Sungmin merona. Ryeowook menatapnya dengan tatapan tak percaya.

"Kau mengandung lagi, Hyung?!"

Sungmin mengangguk pelan sebagai jawaban, dengan wajah manisnya yang diliputi senyuman.

"Aih, selamat, Hyung! Aku tak menyangka Kyungsan akan mendapat adik secepat ini!" dan mereka pun sesaat berpelukan.

"Terima kasih, Wookie," Sungmin tersenyum bahagia, "Kyuhyun memang tidak mau diajak kompromi soal menunda kehamilan." Bibirnya mengerucut lucu.

Ryeowook tertawa dibuatnya. Ia tahu betul bagaimana Kyuhyun, ia memaklumi.

Siang itu mereka habiskan dengan mengobrol. Bahkan sampai pesanan ice cream mereka pun habis, sepertinya Sungmin dan Ryeowook terlihat enggan untuk segera beranjak. Padahal siang ini kedai cukup terbilang ramai.

"Hari ini benar-benar panas, aku jadi malas keluar dari kedai dan pulang ke rumah." Ujar Sungmin, sebelah tangannya mengipas-ngipas wajahnya.

"Akupun begitu, Hyung."

Sungmin tersenyum tipis mendengarnya. Pandangannya teralih ke jalanan kota yang cukup ramai dilalui oleh pejalan kaki. Sungmin memastikan jika orang-orang diluar sana juga merasakan hal yang sama. Panas.

Dan kini pandangannya teralih pada Ryeowook. Sesuatu menarik pandangannya.

"Y-ya! Hyung!"

Ryeowook memekik pelan saat tiba-tiba saja Sungmin menarik kerah kemejanya. Hal itu membuat Ryeowook gugup seketika.

"Apa saja yang sudah kalian lakukan, Wookie?" tanya Sungmin penuh selidik.

"Apa maksudmu, Hyung?" Ryeowook tersenyum kaku, mencoba menutupi kegugupannya.

Astaga, betapa bodohnya ia karena memakai kemeja putih yang sama sekali tak menutupi lehernya— yang perlu ditekankan terdapat banyak sekali tanda-tanda indah disana.

"Aku tak menyangka kalian akan sejauh ini."

Sungmin menatapnya intens, sedangkan Ryeowook hanya bisa menunduk.

"S-semua terjadi begitu saja, Hyung." Ucapnya pelan.

"Dan kau dengan mudahnya terhanyut ke dalam permainannya. Ya ampun."

Sungmin berdecak pelan. Ia tak menyangka jika sahabatnya akan berhubungan sejauh ini dengan mantan suaminya sendiri.

"Aku memang tak berhak mencampuri, tapi aku sahabatmu, Ryeowook. Jadi, dengarkan aku,"

Sungmin menaruh kedua siku tangannya di atas meja, jari-jarinya saling meremas. Sejenak ia terfokus pada Ryeowook, membiarkan Kyungsan yang duduk di sampingnya mulai asyik berbicara dengan Jongie.

"Kau tahu, saat ini apa statusmu dengannya?"

Ryeowook mengangguk pelan, "Kami.. kami hanya mantan.. aku mantan istrinya.. dan dia mantan suamiku." Jawabnya, masih dengan menunduk. Hal yang sering ia lakukan untuk menghindari tatapan mematikan yang tertuju padanya.

"Bagus," Sungmin yang kali ini mengangguk, "dan apa kau lupa bagaimana status Yesung Hyung? Dia memiliki seorang istri, dan kau pernah berkata jika istrinya itu sedang dirawat, kan? Sedang berjuang melawan penyakitnya, kan?"

Ryeowook bungkam. Ucapan Sungmin seakan menohok ulu hatinya. Ia tahu ini, ia mulai mengerti maksud dan arah pembicaraan Sungmin.

"Bayangkan, jika kau berada di posisinya.. dan suamimu— maaf, mungkin ini sedikit kasar, tidur bersama orang lain. Bagaimana perasaanmu?"

.

.

.

.

Yesung diam memperhatikan ke luar jendela. Saat ini ia sendirian, dengan mobilnya yang terparkir di pinggir jalan, tepat berada di depan sebuah toko mainan.

Seperti janjinya, Yesung akan membelikan mainan yang Jongie mau.

Pria itu mengambil ponselnya yang berada di atas dashboard mobil, kemudian mencoba menghubungi Ryeowook. Dan ini jarang terjadi, nomor Ryeowook tidak aktif. Yesung sedikit dibuat kesal.

Walaupun ia tidak bisa menghubungi Ryeowook, dan dalam artian yang sama ia tak bisa bertanya pada putranya mengenai Jongie ingin Appa belikan mainan seperti apa, tapi ia tetap memilih keluar dari dalam mobil.

Angin di sore ini menerpanya. Tidak seperti tadi siang, kini cuaca mulai bersahabat. Beberapa pejalan kaki memperhatikannya, terpesona dengan ketampanan yang dimilikinya. Heran melihat seorang pria yang terlihat bukan dari orang biasa kini berada di depan sebuah toko mainan. Melihat Yesung seperti melihat seorang artis yang berkeliaran di jalan tanpa pengamanan.

Untuk ukuran seorang pria dengan satu istri dan satu orang anak, ia masih bisa dikategorikan sebagai pria berusia muda. Tentu saja, itu karena ia menikah dan memiliki anak di usia yang terlalu muda, kan? Jadi tak heran, mengapa ia masih terlihat tampan walaupun dalam setelan jas kantoran sekalipun.

Kini ia sudah berada tepat di depan toko mainan tersebut. Untuk putra tersayangnya, sepertinya Yesung tak keberatan untuk turun langsung dan mencari sendiri ke dalam toko yang terisi ratusan mainan tersebut.

.

.

.

.

"Selamat sore, Nyonya Kim."

Luna menoleh kea rah pintu ruang inapnya, ada Junhyung disana. Melihat Junhyung yang kini tersenyum jahil membuat Luna justru merengut sebal.

"Dokter yang menyebalkan."

Junhyung dibuat tertawa mendengarnya. Ia menghampiri Luna dan duduk di kursi yang berada di samping ranjangnya. Hari ini sudah ketiga kalinya Junhyung berkunjung ke ruang inapnya. Saat pagi, siang tadi, dan kini sore hari.

Kadang Luna berpikir, apakah Junhyung tak memiliki pekerjaan lain selain mengecek keadaannya?

Memang, Junhyung adalah dokter yang diperuntunkan khusus untuk merawatnya. Tapi untuk masalah pengecekan obat dan keadannya, masih ada perawat yang dapat mengurus semua itu. Sedangkan Junhyung? Ia sebenarnya hanya perlu duduk manis di ruangannya dan menerima laporan tentang dirinya dari para perawat, lalu setelah itu baru ia akan datang langsung.

Dan faktanya, sebenarnya Junhyung sering menemuinya hanya untuk sekedar mengobrol.

"Oh, baiklah, apa panggilan itu mulai menyebalkan untukmu, hm?"

Luna tersenyum kecil mendengarnya, "Tidak, yang menyebalkan itu justru dirimu, dokter."

Junhyung sekali lagi tertawa mendengarnya. Ia sudah terbiasa dengan ini, Luna sudah terlalu sering menyebutnya sebagai dokter yang menyebalkan.

"Aku anggap kau sedang mengejeku, dokter."

Luna memalingkan wajah dan pura-pura terlihat kesal.

"Oke, kalau begitu aku tak akan memanggilmu dengan sebutan Nyonya Kim." Junhyung mengangkat kedua bahunya.

"Terserah saja." Luna kali ini tersenyum.

"Bagaimana dengan Nyonya Im? Sepertinya itu terdengar lebih baik."

Sekali lagi dokter muda itu tersenyum jahil. Senyumnya melebar saat menyadari rona merah di pipi pasiennya tersebut.

.

.

.

.

Hari ini Yesung tak pulang selarut biasanya. Jam menunjukan pukul 9 malam saat dirinya memarkir mobilnya di halaman depan rumah Ryeowook. Yesung keluar dari dalam mobilnya dan baru menyadari jika tak ada tanda-tanda aktifitas di rumah Ryeowook. Apa dia sudah tidur? Pikir Yesung.

Sebelah tangannya menjinjing paper bag berisi mainan pesanan Jongie. Walau tak sempat bertanya pada Jongie tentang mainan apa yang diinginkannya, tapi Yesung mengingat jika Jongie sempat berkata ingin dibelikan mainan robot terbaru dan sebuah mobil mainan yang juga tak kalah terbarunya. Dan Yesung kini mengabulkannya.

Ia mengetuk pintu beberapa kali, tak perlu menunggu lama hingga Ryeowook membuka pintu dan kini berdiri di hadapannya.

Ryeowook tak berbicara apapun, ia hanya diam dan menatap Yesung… dengan tatapan yang tak bersahabat.

"Kau kenapa?" tatapan itu membuat Yesung bertanya.

Ryeowook menatapnya sinis, "Harusnya aku yang bertanya seperti itu, kau yang kenapa?"

Satu alis Yesung terangkat, bingung melihat sikap Ryeowook yang tiba-tiba menyebalkan seperti ini. Mungkin dulu ia terbiasa, dulu Ryeowook begitu menyebalkan dan itu bukan hal yang aneh lagi.

Tapi, setelah semua yang terjadi di antara mereka, apa Ryeowook masih tak bisa merubah sikapnya?

"Kau kenapa datang kesini? Bukankah kau memiliki rumah sendiri dan memiliki seorang istri? Kenapa kau justru pulang ke rumah orang lain? Kau pikir aku simpananmu?!"

Yesung justru mendengus geli mendengarnya. Ryeowook yang bawel seperti ini membuatnya teringat pada ibunya.

"Simpanan?"

Kedua mata Ryeowook menyalang tajam. "Ya! Kau menjadikanku sebagai simpananmu!"

Oh, bahkan rasanya Yesung tak kuat untuk menahan tawanya.

"Aku sedang tidak bercanda, bodoh!" Ryeowook mendorong keras kedua bahu Yesung dengan kepalan tangannya.

Dan setelahnya, ia mulai terisak. Yesung dibuat terkejut sekaligus bingung melihatnya.

"Hey," Yesung menangkup wajah Ryeowook dan mencoba mengangkatnya, namun Ryeowook berusaha keras menepisnya dan masih memilih untuk menunduk. Menyembunyikan wajahnya yang terlihat menyedihkan dengan kedua mata yang basah.

"Sebenarnya ada apa?"

Yesung masih mencoba bersikap tenang. Mencoba meminta penjelasan pada Ryeowook yang masih menolak untuk berbicara dan menatapnya.

"Apa aku berbuat salah? Katakan padaku."

Yesung menarik bahu Ryeowook untuk membawanya dalam rengkuhannya namun sekali lagi Ryeowook memberikan penolakan. Ia kembali mendorong Yesung untuk menjauh kemudian memilih masuk ke dalam rumahnya dengan menutup pintu rumahnya dengan sekali bantingan. Membiarkan Yesung yang masih berada di luar, mematung karena pintu yang baru saja di banting di depan wajahnya.

Yesung mengusap dadanya, kemudian memilih menyusul Ryeowook masuk ke dalam rumah.

"Bicaralah," sebelah tangannya menahan pergelangan tangan Ryeowook, kedua matanya menatap tajam.

"Tak ada yang perlu kita bicarakan, lebih baik sekarang kau pergi dari rumahku!"

Yesung tak menyerah, ia masih mencoba Ryeowook untuk bicara padanya. Ditariknya tubuh kecilnya dan dengan sedikit dorongan keras Yesung membuat punggung Ryeowook membentur dinding. Ryeowook dibuat menciut saat melihat kedua mata elang itu menatapnya tajam, membuat Ryeowook diam seketika.

"Apa yang sebenarnya terjadi padamu?"

Ryeowook memalingkan wajah, dan ia dibuat meringis saat Yesung menaruh kedua tangannya di masing-masing sisi wajahnya, terasa perih saat Yesung menggenggam pergelangan tangannya terlalu kuat.

"Katakan padaku!"

Kehilangan kesabaran, kali ini Yesung membentak. Ryeowook menahan nafasnya,tubuhnya bergetar pelan.

"Berhenti.. berhenti membuatku berharap lebih.." dan akhirnya itulah yang Ryeowook katakan.

Yesung menatap Ryeowook dalam, mencari jawaban atas ucapannya tadi.

"Aku.. aku hanya mantan istrimu.. tak seharusnya kau dan aku seperti ini," tangisnya kembali pecah, "kau bahkan sudah memiliki istri, tapi kau selalu bersikap seakan aku dan kau kembali menjalin hubungan yang khusus.. a-aku.. aku.."

Ryeowook mencoba mengatur dirinya. Rasanya sulit saat harus berbicara dan menangis dalam waktu yang bersamaan. Dadanya terasa nyeri, sesuatu di dalam sana seakan meremasnya kuat.

"Sudah berapa hari kau tak datang menjenguk istrimu? Sudah berapa hari kau tak pulang ke rumahmu sendiri?"

Ryeowook menatap Yesung dengan kedua matanya yang memerah, nafasnya tak teratur.

"Aku bisa mengurus Jongie dan diriku sendiri, tanpa dirimu. Aku tak memerlukanmu, aku sudah terbiasa sendiri, bahkan sejak kau menghamiliku."

Serasa ada batu menghantam dadanya kuat, ucapan Ryeowook tadi benar-benar menusuk hatinya. Yesung dibuat bungkam, tak berbicara apapun dan balas menatap Ryeowook dengan tatapannya yang sendu.

"Aku sudah terbiasa sendiri. Aku sudah terbiasa dengan hubungan kita yang dulu, hubungan kita yang begitu buruk. Namun, tiba-tiba semua itu berubah. Kau seakan menghipnotisku dengan segala sikap manismu, kau seakan memberiku harapan baru."

Ryeowook memejamkan mata, membiarkan air mata terus membasahi pipinya.

"Kau melupakan fakta bahwa kau masih terikat dengan hubungan orang lain. Kenapa kau setega ini padanya? Dia sedang berjuang melawan penyakitnya dan kau bermain dengan orang lain, dan bodohnya orang lain itu aku!"

Emosinya mulai meluap. Ryeowook sudah tak bisa menahannya lagi. Ia ingin Yesung mengerti tentang dirinya, ia ingin Yesung mengerti tentang segalanya.

Yesung tak berbicara apapun, ia lebih memilih melepas cengkraman tangannya pada pergelangan tangan Ryeowook dan berjalan menjauh. Membiarkan Ryeowook yang masih menangis.

Ryeowook berpikir, disaat seperti ini Yesung sama sekali tak berbicara apapun atau bahkan memeluknya. Memberinya sedikit ketenangan walau hanya sekejap.

Semua ini membuat Ryeowook mengerti dan yakin, jika semua hal manis yang telah mereka lakukan selama ini hanyalah palsu. Yesung mempermainkannya, Yesung hanya mencintai Luna, Yesung hanya menjadikannya pelampiasan, dan semua prasangka itu membuat hatinya berdenyut nyeri.

Yesung berdiri di depan pintu rumah yang tertutup rapat, kemudian pria itu terlihat mengeluarkan ponselnya. Ia terlihat menghubungi seseorang

"Apa yang kau lakukan?"

Yesung melirik Ryeowook dari sudut matanya.

"Menghubungi Umma." Ujarnya, masih menunggu panggilannya yang hingga kini belum dijawab Heechul.

"Untuk apa?! Kau ingin melibatkan Umma dalam masalah kita lagi?!" tanya Ryeowook dengan nada bicaranya yang meninggi.

"Tidak," Yesung memutar tubuhnya, membelakangi Ryeowook, "aku ingin memintanya datang kemari, menemani Jongie yang sudah tidur. Karena kita akan segera pergi ke rumah sakit, menemui Luna, dan segera menyelesaikan semua ini."

.

.

.

.

A/N

Halo! Saya merindukan kalian semua! XD

Terima kasih untuk dukungan dan kesetiaan kalian pada fanfic ini. Saya senang sekali, walaupun sedang hiatus tapi masih banyak yang mengingat saya dan memberi dukungan agar saya segera melanjutkan fanfic :'3 Padahal rencananya saya bakal ngelanjutin semua fanfic kalau semua ujian sekolah saya selesai XD

Saya usahakan, disaat ada waktu luang seperti ini, saya pasti akan menyempatkan untuk melanjutkan fanfic fanfic saya yang berjamur. Dan sekedar informasi, mungkin MLF akan tamat di chapter 12/13. Jadi tunggu saja :D dan maaf akhir akhir ini saya jarang membalas review m(_ _)m lain waktu pasti saya balas :D

Saya ucapkan terimakasih dan sampai berjumpa di chapter selanjutnya ^^

Saranghae.