Aku pernah merasakannya.
Sebuah perasaan yang dikatakan cinta.
Cinta…
Ya, benar namanya cinta.
Kami bertemu tanpa sebuah perencanaan. Dan sesuatu yang disebut cinta itu datang tanpa mauku. Hadir di antara kami, mungkin tepatnya hanya berawal dariku.
Dia membuatku seakan memujanya. Terpesona dalam setiap kehangatannya. Pria yang baik, dan aku mencintainya.
Cinta membuatku menjadi seorang wanita kuat. Dan sadarku jika cinta membuat keegoisan itu tumbuh secara cepat. Aku mencintainya, egoku berkata aku tak akan pernah melepasnya. Sekalipun kenyataan pahit itu kuketahui—
Dia sama sekali tak pernah mencintaiku.
Kim Jongwoon tak pernah mencintaiku.
Dan aku tak peduli.
Hingga hal itu datang. Seseorang yang mengusik garis yakinku—
Dialah Kim Ryeowook.
Dia datang dan mencuri perhatiannya. Mencuri cintanya. Mencuri Kim Jongwoon dariku.
Dan apakah ini yang disebut sebuah pembalasan? Pembalasan untuk seorang wanita yang terlalu memaksa, terlalu meminta, dan terlalu mengharap sepertiku?
Hingga sadarku pun kembali terlahir. Aku sadar, tak seharusnya aku seperti ini.
Dan kini, Aku— Park Luna, melepasmu.
Ya, aku melepasmu, Kim Jongwoon.
Aku melepasmu, suamiku.
.
.
.
.
My Little Family © Choi RinRi
Super Junior © God, SMEnt, and their parents.
Maint Cast : Kim Jongwoon & Kim Ryeowook
Warning : Shounen-ai, OOC, OC, AU, M-Preg, italic text = flashback.
Don't Like? Don't read!
.
.
[Chapter 11]
Enjoy!
.
.
Langkahnya terasa cepat, dan Ryeowook belum pernah seperti ini sebelumnya. Ia masih menunduk, bahkan sejak pertama kali Yesung mengenggam tangannya dan membuatnya berjalan cepat seperti ini.
Banyak hal yang kini Ryeowook pikirkan. Sebut ia pengecut, karena pada kenyataannya Ryeowook sama sekali belum siap untuk bertemu Luna. Belum siap untuk berkata "Hai, Luna! Aku ini simpanan suamimu, lho!" dan Ryeowook berpikir mungkin saja saat itu juga Luna akan kembali dilarikan ke ruang UGD.
Berkati aku, Tuhan.. berkatilah aku..
Apa yang harus pertama kali ia ucapkan saat bertemu Luna nanti? Haruskan ia berkata jujur tentang apa yang selama ini sudah terjadi di antara dirinya dan Yesung? Dan lengkapnya terjadi di belakang Luna?
Ryeowook mencoba menyamai langkah lebar Yesung. Kepalanya masih menunduk dan ia lebih memilih menatap ujung sepatunya. Sesekali ia mengangkat wajah untuk melihat Yesung. Pria itu tampak serius, pandangannya lurus ke depan.
Dan inilah yang sama sekali tidak Ryeowook inginkan. Berdiri di depan ruangan Luna. Hanya perlu membuka pintunya dan dipastikan ia akan segera bertatap muka dengan wanita itu.
"Kau gila." Ujar Ryeowook pelan.
Yesung menoleh ke arahnya, yang berdiri di sampingnya. "Kenapa kau menyebutku gila?" tanyanya heran.
"Tentu saja kau gila! Istrimu sedang sakit dan kau ingin membuatnya kembali dalam keadaan kritis dengan mengatakan bahwa kau telah berselingkuh?!"
Yesung tak menanggapi. Ia hanya diam seraya menatap lurus ke depan.
"Sekarang kau masuk ke dalam."
"A-Apa?!"
Yesung berdecak pelan. "Kau masuk ke dalam, hanya kau, tanpa aku."
"Apa maksudmu?!" nada bicara Ryeowook kembali meninggi, "Kenapa aku harus— mphh!" —dan Yesung memotong ucapannya dengan menciumnya.
"Kubilang, masuk ke dalam." Yesung tersenyum kecil melihat Ryeowook yang kini diam.
.
.
.
.
Luna hampir memejamkan kedua matanya saat pintu ruangannya tiba-tiba terbuka. Luna memutar arah pandangannya yang semula bertumpu pada dinding di sampingnya. Ketika ia mengalihkan perhatiannya, dua caramel itu kini menatapnya. Pandangan keduanya bertemu.
"Ryeowook.. Oppa?" ujar Luna pelan, bahkan nyaris berbisik.
Ia tak menyangka akan bertemu Ryeowook di ruangan ini. Ryeowook kini berada di dekatnya, berdiri di ambang pintu yang terbuka.
Sedangkan Ryeowook masih diam, ia terlihat ragu untuk melangkah masuk. Sebelah tangannya menggenggam erat kenop pintu, dan tanpa sadar Ryeowook menggigit bibir bawahnya. Kali ini Ryeowook memilih menunduk, ia benar-benar tak yakin dan sama sekali tak mau untuk bertatap muka seperti ini dengan Luna.
"Oppa?"
Sekali lagi Luna menyebut namanya, membuatnya kembali tersadar dari lamunan sesaat itu. Ryeowook mengangkat wajahnya, dan saat pandangan mereka kembali bertemu, Ryeowook dapat melihat senyuman itu.
"Kemarilah, Oppa. Aku tahu, kedatanganmu bukan tanpa alasan."
Luna tersenyum hangat padanya.
.
.
.
.
"Aku ingat, Oppa, kau pernah berkata bahwa kau dan Ryeowook Oppa dipertemukan dalam sebuah kesalahan."
Yesung tersenyum kecil mendengar ucapan Luna. Ia mengingatnya, ia berbicara saat hubungannya dan Ryeowook masih begitu buruk. Bahkan ia pernah berkata pada Luna, bahwa kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah bertemu dengan Ryeowook.
"Mungkin itu memang benar, tapi menikah denganku adalah kesalahan lain yang jauh lebih besar."
Luna menatapnya teduh. Yesung dapat melihatnya, sebuah ketulusan dari tatapan dan sebuah kesungguhan dari setiap kalimat yang Luna ucapkan.
"Kebahagiaan adalah hak setiap orang," rasanya Luna ingin kembali menangis saat mengucapkannya. "dan kebahagiaanmu berasal dari kesalahanmu, yaitu keluargamu yang hadir tanpa maumu."
Dan untuk kali ini, tanpa maunya ia merasa kedua pandangannya memburam. Yesung mengumpat saat tanpa sadar kedua ujung matanya basah. Ia hampir menangis. Semua ucapan Luna menyadarkannya, menyadarkan semua kesalahan yang pernah ia lakukan.
"Buat mereka bahagia," ucapannya terdengar nyaris berbisik, "buat keluarga kecilmu bahagia."
Dan Yesung memberinya sebuah pelukan.
Sebuah pelukan tanda terima kasih bagi Yesung.
Sebuah pelukan tanda perpisahan bagi Luna.
"Terima kasih, Luna," Yesung tersenyum lembut, begitupun Luna. Yesung menaruh tangan Luna di pipinya, mengusapnya lembut. "aku.. aku begitu bahagia."
Luna mengusap pipi pria di hadapannya itu lembut, kemudian mengusap ujung matanya saat menyadari satu tetes air mata mengalir disana. Pria ini menangis, untuk pertama kalinya ia melihat Yesung menangis. Sebuah tangisan penuh kebahagiaan.
"Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan untukku, Oppa."
"Aku akan mengatakannya, Luna," Yesung menatap Luna penuh keyakinan, "hari ini juga aku akan mengatakan padanya bahwa aku mencintainya. Aku mencintai Ryeowook, namja yang pernah hadir dalam hidupku karena sebuah kesalahan, dan kesalahan itu adalah asal dari kebahagiaanku berada."
Luna senang mendengarnya. Ia bahagia karena pada akhirnya Yesung mau mengakui perasaannya sendiri. Ia mau mengakui perasaan yang selama ini selalu ia tutupi dan berusaha ditepisnya jauh.
Ia mau mengakui jika selama ini ia mencintai Ryeowook.
.
"Setelah kami sepakat untuk segera bercerai, ia pun berkata ingin segera menemuimu, Oppa." Luna menggenggam erat tangan Ryeowook, "ia mencintaimu, Oppa. Sangat mencintaimu."
Ryeowook menangis tanpa suara. Saat ini perasaannya tak menentu, semua bercampur menjadi satu. Ia terkejut dengan penuturan Luna, tak percaya jika Yesung seperti ini, dan tentu saja ia bahagia. Ia bahagia karena kini ia tahu jika Yesung memang mencintainya.
Ia sangat bahagia.
Karena ia pun mencintai Yesung.
Sangat mencintainya.
Tapi sesuatu mengganjal hatinya.
"Maafkan aku," Ryeowook kini mulai terisak, "aku.. aku sama sekali tidak berniat untuk mengancurkan rumah tangga kalian. Seharusnya kau membenciku, aku membuatmu harus berpisah dengannya. Aku—"
"Oppa," Luna memotong ucapan Ryeowook. Masih dengan senyum hangatnya, ia kembali berbicara, "seharusnya kau yang membenciku, Oppa."
Ryeowook menatap Luna dengan kedua mata yang memerah dan basah. Ia tidak mengerti maksud pembicaraan wanita tersebut.
"Apa kau lupa? Justru aku yang menghancurkan rumah tangga kalian. Aku mencintainya, aku memaksanya untuk secepatnya menceraikanmu dan menikahiku," Luna memejamkan kedua matanya, kenangan masa lalu itu kembali teringat di benaknya. "padahal, mungkin jika aku tak ada, Yesung Oppa belum tentu akan menceraikanmu. Karena aku tahu, saat itu ia hanya dalam keadaan kalut. Ia masih terlalu syok dengan kenyataan yang ia terima."
Ryeowook terdiam sesaat, merenungi setiap perkataan Luna.
Selama ini, Ryeowook selalu menganggap bahwa dirinya lah yang paling menyedihkan. Nasibnya yang ditakdirkan untuk mengandung di luar pernikahan, menikah tanpa kesiapan, dan semua itu terjadi pada usia yang begitu muda, membuatnya membenci Yesung dan menyalahkan semua kesalahan ini pada pria itu.
Tanpa sedikitpun berpikir bagaimana posisi Yesung.
Disaat orang tuanya akan bercerai, Yesung justru membuat anak orang lain mengandung dan ia melakukannya di luar kesadaran. Dan setelah kedua orang tuanya bercerai, ayahnya meninggal dunia. Belum sampai disitu, setelahnya ia menikahi seorang wanita yang sama sekali tak ia cintai.
Jadi, sebenarnya siapa disini yang lebih tersakiti?
Dirinya atau Yesung?
Dan fakta menyebutkan jika sebenarnya keduanya sama-sama tersakiti.
Bahkan, disaat keduanya sudah sama-sama menyadari perasaan itu, mereka masih harus merasa sakit karena untuk bersatu pun mereka sulit. Entah apa yang membuat mereka seperti ini, tapi keduanya tak pernah sedikitpun menginginkan jalan yang rumit seperti ini.
"Tapi kini aku melepasnya, Oppa." Luna mengeratkan genggaman tangannya. "aku melepasnya untukmu, Oppa."
Saat itu juga Ryeowook langsung memeluk Luna. Memeluknya begitu erat. Tangisnya pecah, ia sudah tak bisa untuk menahannya lagi.
"Terima kasih, Luna," ucapnya parau, "terima kasih."
Luna pun ikut menitikan air mata, ikut merasakan kebahagiaan yang Ryeowook rasakan. Ingin rasanya Luna balas memeluk Ryeowook erat, hanya saja infuse yang terpasang di tangannya tak memungkinkan ia untuk melakukan hal tersebut. Jadi, Luna hanya bisa mengusap lembut punggung Ryeowook dengan sebelah tangannya. Dengan sebuah senyuman tulus dan air mata yang membasahi wajah cantiknya.
"Katakan padanya bahwa kau juga mencintainya, Oppa." Ucap Luna, setelah Ryeowook melepas pelukannya.
Luna meyakinkan Ryeowook dengan kedua tatapan matanya. Ryeowook tersenyum, kemudian ia mengangguk.
"Sebelum kau yang berkata seperti itu, aku yang akan terlebih dahulu berkata seperti itu padamu."
Ryeowook sedikit terkejut saat seseorang melingkarkan kedua tangannya pada lehernya dari belakang. Ryeowook mengadah, dan ia dapat melihat Yesung yang tersenyum padanya,
"Aku mencintaimu," –dan mencium keningnya dengan lembut.
Ryeowook kembali menangis dengan sebuah senyuman terlukis di wajahnya. Ia segera bangkit dari duduknya dan memeluk Yesung dengan sekali terjangan. Ia terlalu bahagia.
Yesung tertawa pelan dan balas memeluk Ryeowook erat.
"Bodoh! Kenapa kau tak mengatakan kalimat itu sejak awal?!" beberapa kali Ryeowook menghadiahi pundak Yesung dengan sebuah tinjuan kecil. "Aku lebih mencintaimu!"
Yesung tersenyum kecil mendengar Ryeowook yang terus berbicara. Tangannya tergerak untuk mengusak lembut rambut coklat Ryeowook dan menciumnya lembut.
Ryeowook masih menangis dan memeluk erat Yesung. Ia tak peduli pada Yesung yang kini terus mengatainya cengeng, bahkan ia tak peduli pada Luna yang kini melihat tingkahnya yang seperti anak kecil ini.
"Aku mencintaimu,"
"Aku juga mencintaimu, lebih mencintaimu." Sekali lagi Yesung mencium kening Ryeowook.
Yesung berjalan mendekati Luna saat Ryeowook melepas pelukannya. Ia meraih sebelah tangan wanita itu, lalu menggenggamnya erat.
"Terima kasih, Luna."
Dan kali ini Yesung memeluk Luna.
.
.
.
.
Luna belum berbicara apapun, bahkan sejak Junhyung kembali datang ke kamarnya dan langsung memeluknya seperti ini saat pria itu melihatnya menangis. Memeluknya begitu erat.
Luna terisak, meremas punggung berbalut jas putih khas seorang dokter seperti Junhyung.
"Aku berhasil, Dokter Im. Aku berhasil.." ujar Luna disela tangisnya.
"Ya, kau berhasil, Luna. Aku tahu kau mampu melakukan ini."
Junhyung masih memeluk Luna, membiarkan wanita itu menangis sepuas yang ia mau dalam rengkuhannya.
"Aku berhasil melepasnya, aku berhasil membuatnya bahagia.."
.
.
.
.
Setelah beberapa hari melakukan perawatan di rumah sakit, akhirnya Luna dibolehkan untuk keluar dari rumah sakit. Dan sesuai seperti apa yang pernah Yesung dan Luna bicarakan, keduanya sepakat untuk melakukan perceraian setelah Luna keluar dari rumah sakit.
Tapi itu membutuhkan waktu, karena Junhyung menyarankan agar sidang perceraian itu dilakukan setelah kondisi Luna benar-benar stabil. Luna tetap tinggal di rumahnya bersama Yesung, karena bagaimana pun status mereka saat ini masih sepasang suami istri.
Setelah mengurus segala keperluan, akhirnya sidang perceraian itu pun akan dilakukan tepat seminggu setelah Luna benar-benar siap untuk menjalaninya. Dan saat ini, bisa terhitung sudah dua minggu semenjak kepulangan Luna dari rumah sakit.
Hari minggu yang cerah ini Luna habiskan untuk menonton acara memasak di televisi. Setelah semua yang terjadi, kini Luna dan Ryeowook memiliki hubungan yang begitu baik. Tak jarang Ryeowook datang kemari, menemaninya mengobrol, atau bahkan memasak bersama.
Sekaligus untuk bertemu Yesung tentunya.
Oleh karena itu, Luna jadi gemar menonton acara masak. Karena menurutnya, untuk ukuran seorang namja seperti Ryeowook, kemampuan memasaknya justru lebih bagus dibanding dirinya. Dan karena itu, ia bertekad akan belajar lebih baik lagi!
Bel pintu terdengar saat koki di acara tersebut sedang memotong sayur-sayuran yang menjadi bahan masakannya hari ini.
"Biar aku saja," ujar Yesung yang saat itu sedang menyesap kopinya dengan sebuah Koran harian di tangannya.
Luna mengangguk, kemudian ia kembali terfokus pada acara di televisi.
Namun ia teringat, apakah orang yang bertamu pagi ini adalah Ryeowook dan Jongie? Karena hari ini mereka memang berencana untuk membuat cake dan pudding, ataupun beberapa makanan manis yang lain.
Yesung berjalan menuju arah pintu utama rumah ini. Tangannya menggapai pintu dan membukanya, hingga kini terlihatlah seseorang yang berdiri di hadapannya.
"Selamat pagi, Yesung-ssi."
Yesung terkekeh pelan menyadari siapa yang pagi-pagi seperti ini sudah bertamu ke rumahnya. Terlebih, seseorang itu datang dengan sebuah buket bunga mawar merah di tangannya.
"Selamat pagi, dokter Im," Sapanya balik, "kupikir siapa, ternyata seorang namja yang datang ke rumahku, dengan membawa sebuket bunga mawar merah. Oh, romantis sekali."
Junhyung tersenyum kecil mendengarnya. "Memang sudah seharusnya kita memperlakukan wanita seperti ini,"
"Dan jangan lupa, wanita itu masih berstatus sebagai istri orang lain, dokter Im." Yesung menyeringai jahil, sedangkan Junhyung dibuat tertawa mendengarnya. "Ayo, silakan masuk."
.
.
.
.
Hari itu pun akhirnya datang. Sidang perceraian Yesung dan Luna dihadiri keluarga dan kerabat terdekat. Dan saat ketukan palu terdengar, kini keduanya pun sah bercerai. Yesung dan Luna pun telah sah dinyatakan tak terikat lagi hubungan suami istri.
Sejenak Yesung dan Luna berpelukan, keduanya merasa lega karena semua ini berakhir.
"Terima kasih, Oppa. Terima kasih atas kebaikanmu selama ini, kesabaranmu dalam merawatku, dan keteguhanmu untuk membuatku sembuh. Dan semua kebaikanmu kini mendapat balasan." Ujar Luna dengan senyuman hangat seperti biasanya.
Yesung balas tersenyum. Ia tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.
"Sudah sana, Oppa. Dia sudah menunggumu." Luna berkedip genit, kemudian sedikit mendorong Yesung untuk segera menghampiri Ryeowook yang duduk di salah satu kursi di ruang sidang ini, sejak awal sidang perceraian ini dimulai hingga berakhir.
Ryeowook bangkit dari duduknya saat Yesung menghampirinya. Ia tak sendirian, ia duduk bersama Heechul dan Jongie. Disini juga ada Junhyung. Sepertinya dokter muda itu selalu ingin tahu dengan apa yang dilakukan mantan pasiennya. Dan kini, dokter muda itu sudah lebih dahulu melesat menghampiri Luna.
"Appa!"
Jongie segera menghampiri ayahnya dengan berlari. Yesung pun dengan sigap menangkap tubuh putranya dan menariknya dalam satu gendongan.
"Appa tadi ngapain, sih? Kenapa lama sekali? Jongie bosan tau disini!"
Seperti biasa, Jongie akan selalu berceloteh panjang dalam keadaan apapun. Yesung hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman.
"Akhirnya kalian bercerai juga, Jongwoon."
Heechul menepuk salah satu pundak Yesung, ia tersenyum. Terlihat jelas raut lega di wajahnya.
Setelahnya Yesung memberikan Jongie pada Heechul, kemudian ia berjalan mendekat pada Ryeowook yang berada di belakang Heechul.
Ryeowook tersenyum saat melihat Yesung merentangkan kedua tangannya, meminta Ryeowook untuk datang menghampirinya dan memberinya sebuah pelukan. Tak membutuhkan waktu lama, Ryeowook pun segera memeluk erat Yesung.
"Aku bahagia, akhirnya semua ini berakhir."
"Akupun begitu. Aku bahagia, dan aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu."
.
.
.
.
"Baiklah, perhatiannya, anak-anak."
Ruangan kelas seketika sunyi saat guru mereka bersuara, meminta para murid kecilnya untuk tidak berisik. Karena saat ini Jongie sedang berdiri di depan kelasnya, di hadapan semua teman-temannya dengan senyuman lebar.
Hari ini ia dan teman-temannya yang lain diberi tugas oleh guru untuk menggambar sesuatu, lalu mereka harus menjelaskan apa yang sudah mereka gambar di depan gelas.
Dan kali ini giliran Jongie.
"Annyeonghaseyo, Kim Jongie imnida," Jongie mulai memperkenalkan diri. "aku akan memperlihatkan gambar buatanku."
Semua perhatian teman-temannya kini terpusat pada gambar yang Jongie perlihatkan.
"Ini adalah keluargaku. Ini Appaku, ini Ummaku, dan ini aku." Jongie masih tersenyum lebar.
"Appaku adalah namja yang tampan, sama sepertiku." Jongie memperlihatkan cengiran lebarnya. "Umma bilang, Appa sangat mirip denganku. Matanya, hidungnya, bentuk wajahnya, semua mirip denganku. Hanya saja, Umma juga bilang, kepala Appa besar tidak sepertiku."
Jongie bercerita dengan polosnya. Terselip rasa bangga saat teman-temannya terlihat memperhatikannya dengan wajah yang kagum.
Entah apa yang membuat bocah-bocah itu kagum pada Jongie.
"Appa tidak pernah marah pada— eh, pernah, sih. Tapi setelahnya dia langsung meminta maaf dan membelikanku mainan yang super, super, dan benar-benar super!"
Hampir semua teman-teman namjanya dibuat menganga, mungkin karena kagum dengan Jongie yang bisa memiliki Appa sebaik itu.
"Woah, hebat sekali, Jongie!" komentar salah satu temannya.
"Tentu saja!" Jongie semakin dibuat senang, "dan ini Ummaku, Umma sangat cerewet!"
Mendengar hal itu sontak membuat beberapa temannya tertawa, atau ada pula yang berkata 'Ummaku juga cerewet!' atau 'Pasti Ummanya lebih cerewet dari Ummaku' atau 'Ummanya galak juga tidak, ya?'
"Tapi, walaupun begitu, aku sangat menyayangi Ummaku. Ummaku adalah Umma terhebat yang pernah ada di dunia ini, lebih hebat dari mainan super yang dibelikan Appa!"
Semua temannya bertepuk tangan mendengar ucapan Jongie yang begitu bersemangat itu.
"Yang terakhir, yang berada ditengah-tengah ini adalah aku, Kim Jongie" Jongie meletakan jari tangannya yang kecil di atas gambar seorang anak kecil di buku gambarnya.
"Dan Kim Jongie sangat bangga memiliki Appa seperti dia," Jongie menunjuk salah satu gambar yang ia sebut sebagai ayahnya, "dan bangga memiliki Umma seperti dia," lalu menunjuk salah satu gambar yang ia sebut sebagai ibunya.
"Kim Jongie bangga memiliki Appa seperti Kim Jongwoon, dan Umma seperti Kim Ryeowook. Aku bangga memiliki mereka, dan aku sangat menyayangi mereka!"
Kalimat itu menjadi penutup penampilan Jongie di depan kelas, dengan diiringi tepukan tangan teman-temannya.
.
.
.
.
Senyumannya masih mengembang bahkan ketika Jongie kini telah kembali ke tempat duduknya.
'Appa pun bangga padamu, Jagoan.' batinnya.
Hari ini, untuk pertama kalinya, Yesung berada di sekolah Jongie. Ia datang untuk menjemput Jongie, dan ia datang disaat yang tepat.
Hatinya menghangat saat mendengar ucapan Jongie. Ia baru menyadari bahwa ia memiliki putra yang hebat seperti Jongie. Dibanding ucapan Jongie yang berkata jika putranya itu bangga padanya, justru ia lah yang lebih bangga pada namja kecilnya itu.
Yesung menunggu, berdiri di depan pintu kelas Jongie. Beberapa pasang mata memperhatikannya, terutama para ibu-ibu. Mungkin heran melihat orang baru sepertinya— sekaligus terpana dengan ketampanan yang dimiliki pria ini. Yesung hanya tersenyum setiap ia beberapa kali menangkap orang-orang disekitarnya sedang memperhatikannya.
Saat jam pelajaran berakhir dan anak-anak bersiap untuk pulang, Yesung sengaja mengambil tempat lain agar Jongie tidak menyadari kehadirannya. Karena Jongie pun sejak awal tak mengetahui jika ayahnya itu akan datang ke sekolah.
Tak lama, terlihat Jongie berdiri di depan kelasnya dengan raut kebingungan. Bel pulang telah berbunyi, kelas sudah berakhir, namun ia tak menemukan kehadiran ibunya disini. Hingga di tengah-tengah kebingungannya, Yesung langsung saja menghampirinya dari belakang menggendong tubuhnya hingga membuatnya memekik kencang.
"Kau terkejut, jagoan?" Kedua mata sipit Jongie melebar melihat kehadiran ayahnya di sekolah, "Appa datang untuk menjemputmu."
Ayahnya.. berada di sekolah.. untuk menjemputnya.. Itu adalah hal yang sudah lama Jongie mimpikan!
"Appa!" Jongie berseru senang seraya memeluk leher ayahnya, "Jongie senang Appa datang kemari! Jongie senang sekali! Jongie sudah lama ingin dijemput oleh Appa seperti ini!"
Yesung tersenyum mendengarnya, sedikit merasa bersalah saat mendengar penuturan polos putranya. Ia tak pernah tahu Jongie akan sesenang ini, dan ia juga tak pernah tahu jika Jongie sudah memimpikan hal seperti ini sejak dulu.
"Dan mulai sekarang, Appa akan sering menjemputmu, jagoan." Ucapan Yesung semakin membuat Jongie senang.
"Tapi, Umma kemana? Tadi pagi Umma mengantar Jongie dan sekarang Umma hilang!"
Yesung tertawa melihat Jongie yang terlihat heboh atas Ummanya yang menghilang secara tiba-tiba itu.
"Umma ada, dia menunggu kita di kafenya. Oleh karena itu, lebih baik kita segera ke kafe."
Kemudian Yesung dengan menggendong Jongie berjalan menuju tempat mobilnya terparkir. Saat mereka ingin memasuki mobil, tak sengaja keduanya bertemu dengan salah satu teman Jongie.
Dia adalah Key.
"Key!"
Key, yang sama halnya dengan Jongie sedang ingin masuk ke dalam mobilnya, membalikan badan karena Jongie memanggilnya. Ia meminta izin kepada orang tuanya, kemudian dengan sedikit berlari menghampiri Jongie yang berdiri di depan pintu mobil yang terbuka. Kebetulan jarak mobil Yesung dan mobil orang tua Key tidak terlalu jauh.
"Aku ingin mengenalkan seseorang kepadamu."
"Eh? Siapa?" tanya Key penasaran.
Kemudian Jongie membuat pintu mobil lebih terbuka, sehingga membuat Key bisa melihat Yesung yang kini sudah duduk di kursi pengemudi.
Merasa diperhatikan, Yesung menoleh ke arah Key, "Oh, hai, temannya Jongie?" tanya Yesung, ia sama sekali tidak tahu jika dirinya sedang 'dipamerkan' oleh Jongie kepada bocah kecil itu.
Tapi Key tidak menjawab, dia justru memperhatikan Yesung dengan tatapannya yang terlihat takjub. Kedua matanya berkedip beberapa kali dengan mulut terbuka. Dan tanpa sadar bibir mungilnya bergumam kata 'mirip'. Yesung terkekeh pelan mendengarnya.
"Nah, sekarang kau tidak menyamakan ayahku dengan ayahmu lagi, kan? Ayahku tidak mengikuti ayahmu lagi, kan? Ayahku mirip denganku, bukan dengan ayahmu, tahu!" ujar Jongie dengan menggebu-gebu. Sedangkan Yesung hanya bisa tertawa melihat perilaku putranya itu.
Hah, sepertinya Jongie masih belum melupakan 'perdebatan hebat' dirinya dan Key beberapa waktu yang lalu.
.
.
.
.
Hampir satu jam Ryeowook menunggu kedatangan Yesung dan putranya itu datang kesini. Semua ini memang sudah direncanakan. Tepat saat Jongie pulang, bertepatan dengan jam makan siang Yesung di kantornya, dirinya dan Yesung berencana akan makan siang bersama.
Yesung menyuruh Ryeowook untuk lebih dulu ke kafenya, mengingat Ryeowok selalu membawa mobilnya sendiri dan tidak memungkinkan mereka diam dalam satu mobil. Dan setelahnya Yesung akan datang ke sekolah Jongie, menjemput putranya tersebut dan membawanya ke kafe untuk makan bersama.
Makan siang bersama kedua orang tuanya, hal yang belum pernah Jongie lakukan selama hidupnya.
Tapi tanpa sengaja, di kafenya ini ia justru bertemu Donghae dan Hyukjae. Pasangan ayah dan anaknya itu memang berencana makan siang di kafenya hari ini. Sepertinya ia pulang lebih dulu dari Yesung dan Jongie. Untuk membunuh rasa bosannya selama menunggu kedatanga Yesung dan Jongie, ia memilih untuk duduk satu meja bersama Donghae dan Hyukjae.
"Oh, itu mantan suamimu, Wookie." Ujar Donghae.
Ryeowook tersenyum senang, kemudian melambaikan tangan meyuruh Yesung untuk berjalan ke tempatnya.
"Menunggu lama, sayang?"—dan Yesung mencium pipi Ryeowook. Donghae dibuat tersenyum geli melihat kemesraan yang dipelihatkan Yesung.
"Ya, begitulah, tapi tidak masalah." Ryeowook tersenyum seraya mengusap lembut pipi Yesung.
"Jadi… sepertinya aku ketinggalan banyak informasi." Donghae berdehem pelan.
Yesung mengambil tempat di samping Ryeowook, dan sepertinya ia tidak keberatan dengan kehadiran Donghae dan Hyukjae yang tiba-tiba seperti ini. Ia justru semakin memperlihatkan kemesraannya bersama Ryeowook dengan memeluk pinggang namja tersebut dengan posesive. Sedangkan Jongie duduk di pangkuan Ryeowook.
"Sepertinya ucapanku salah, ya, Wookie? Dia bukan lagi mantan suamimu." Donghae menunjuk Yesung dengan tatapan matanya, ia tersenyum jahil.
Yesung menyeringai mendengarnya. "Tentu saja, aku ini bukan mantan suaminya, aku ini calon suaminya."
Donghae tertawa pelan mendengarnya, sedangkan Ryeowook yang duduk di hadapan Donghae terlihat bersemu.
"Oke, jadi.. kapan aku bisa segera memanggilmu dengan sebutan nyonya Kim Jongwoon, Wookie?" senyum jahil Donghae semakin menjadi. Membuat Ryeowook menghadiahinya sebuah deathglare tajam.
"Hyung!"
.
.
.
.
"Apa harapan terbesar dalam hidup kalian?"
Sungmin menatap satu persatu member Art Voice. Saat ini mereka sedang istirahat setelah hampir seharian penuh berlatih untuk penampilan mereka dalam sebuah perlombaan nanti. Dan untuk mengisi waktu istirahat, mereka menghabiskannya dengan mengistirahatkan tubuh dan sharing tentang apapaun.
Seperti yang saat ini Sungmin lakukan.
"Eh, kenapa diam saja? Jawab pertanyaanku!" Sungmin mempoutkan bibirnya lucu.
Kyuhyun memutar kedua bola matanya malas, "Baiklah, harapan terbesar dalam hidupku, ya?"
Sungmin mengangguk antusias, tak sabar mendengar jawaban temannya tersebut.
"Aku hanya berharap, suatu saat nanti, aku dapat hidup bahagia bersama PSP kesayanganku ini." Ujarnya apa adanya. Kyuhyun kemudian mengeluarkan PSP dari dalam tasnya, dan mulai larut dalam dunianya sendiri. Hanya antara dirinya dan PSP kesayangannya tersebut.
Lagi-lagi Sungmin mengerucutkan bibirnya, sebal dengan jawaban Kyuhyun yang sama sekali tidak memuaskan.
"Akupun begitu, Hyung. Aku juga ingin hidup bahagia, hanya saja bersama Kibum."
Siwon memperlihatkan cengiran lebarnya. Andai saja saat ini Kibum ikut berlatih dan hadir di antara mereka, mungkin namja manis itu akan merona hebat karena ucapan Siwon.
"Aku juga!"
Kali ini Ryeowook berseru riang, dengan sebelumnya ia menelan habis potongan roti yang berada di dalam mulutnya.
"Ingin hidup bahagia? Dengan siapa?"
Ryeowook mengusap tengkuknya. Benar juga ucapan Sungmin, memangnya ia ingin hidup bahagia dengan siapa?
.
.
"Nanti malam aku akan menginap disini, nanti kau ingin kubelikan apa untuk makan malam?"
Ryeowook tersenyum mendengarnya. Nanti Yesung akan menginap, dan bukannya berkata 'bolehkan aku nanti menginap disini?' tapi ia justru berkata 'nanti malam aku akan menginap disini'. Selalu saja semaunya sendiri, benar-benar Kim Jongwoon.
Kim Jongwoon yang dicintainya.
"Aku ingin semangkuk ramen yang sangat pedas." Ujar Ryeowook yang berjalan di belakang Yesung. Ia ingin mengantar Yesung sampai dengan gerbang, menemaninya sampai pria itu masuk ke dalam mobilnya hingga akhirnya melaju menuju kantornya.
"Kupikir kau tak menyukai makanan yang terlalu pedas." Yesung membuka gerbang dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depannya, sedangkan Ryeowook berhenti di dekat gerbang rumahnya.
Ryeowook tersenyum kecil, "Dia yang meminta, sih." Ujarnya. Ryeowook menghampiri Yesung dan membenarkan posisi dasinya yang sedikit berantakan. Selalu saja seperti itu.
"Oh, Jongie sedang ingin ramen? Baik—"
"Bukan, bukan Jongie," Ryeowook menggeleng pelan.
Satu alis Yesung terangkat, "Lalu siapa?" tanyanya heran.
Ryeowook mengambil satu langkah ke belakang, kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya.
Sebuah amplop kecil berwarna putih.
Kemudian memberikannya pada Yesung.
Yesung menerimanya dengan beribu tanda tanya di pikirannya. Ia sedang bertanya, tapi kenapa Ryeowook justru memberinya amplop yang tak tahu jelas apa isinya ini?
Yesung membukanya, dan saat itu juga kedua matanya membelalak kaget.
"Ini.. i-ini.."
"Tiga minggu," Ryeowook mengusap perut datarnya, "hasil pemeriksaan dokter seperti itu, sayang."
"Ryeowook.. kau— Oh, Ya Tuhan!"
Ryeowook tak bisa menahan tawanya melihat reaksi Yesung yang begitu terkejut. Ia berjalan mundur, berniat masuk ke dalam rumah.
"Ya, selamat, Kim Jongwoon, kau menghamiliku diluar nikah— untuk kedua kalinya." Ryeowook tersenyum geli mendengar ucapannya sendiri. Kemudian berjalan memunggungi Yesung berniat masuk ke dalam rumah. Sebelah tangannya melambai pada Yesung.
Yesung masih berdiri di luar pagar, dengan amplop berisi surat hasil pemeriksaan yang menyatakan Ryeowook positive hamil beserta sebuah testpack di dalamnya.
"Dan kutunggu lamaranmu secepatnya, dan kuharap kali ini tanpa harus ayahku lagi yang datang menemuimu, Kim Jongwoon."
Yesung tersenyum mendengarnya. Tekatnya untuk menikahi Ryeowook semakin besar.
"Tentu saja, aku akan menikahimu, Ryeowook!" Yesung berteriak di depan rumahnya, tak peduli jika tetangga di sekitar rumah Ryeowook mungkin akan mendengarnya.
Sebelum benar-benar memasuki rumahnya, Ryeowook berhenti sejenak. Berbalik menatap Yesung yang kini menatapnya dengan raut bahagia. Ia tesenyum bahagia dengan rona memerah yang menghiasi pipinya.
.
.
"Umm… aku ingin bahagia dengan.. dengan.." Ryeowook tampak berpikir sebentar, "tentu saja dengan pasangan hidupku! Suatu saat nanti, aku ingin memiliki seorang kekasih yang baik hati, kekasih yang begitu mencintaiku seperti aku mencintainya. Lalu kami pun menikah, berbulan madu di tempat romantis!"
Kali ini Sungmin yang memutar kedua bola matanya. Saat ini Ryeowook tampak seperti gadis-gadis remaja yang sedang membayangkan kehidupan indah layaknya putri dongeng.
"Setelah itu kami memiliki anak. Um, satu juga cukup, kok. Entah itu namja ataupun yeoja." Ryeowook terkikik sendiri membayangkannya.
"Tapi menurutku, lebih baik memiliki dua anak saja." Yesung kali ini berkomentar.
"Aniyo! Aku ingin satu anak saja, Hyung!" Ryeowook menggembungkan kedua pipinya.
Yesung menggeleng pelan, "Tapi, apa kau tidak kasihan pada anakmu nanti? Dia pasti kesepian karena hanya tinggal sendiri, tidak memiliki saudara. Aku saja kesepian karena tidak memiliki kakak ataupun adik."
Ryeowook terdiam. Benar juga, sih, pikirnya.
"Iya, sih, kalau begitu aku ingin memiliki dua anak saja, deh." Ujar Ryeowook kemudian.
Kali ini Yesung mengangguk.
"Aku juga, harapan terbesar dalam hidupku nanti, aku ingin memiliki seorang istri yang cantik dan mampu mengurus anak-anakku dengan baik. Pokoknya aku ingin istriku pintar memasak agar aku tidak kelaparan, lalu dia bisa memakaikanku dasi ketika aku berangkat ke kantor. Aku ingin memiliki dua anak, dan aku akan membuat anak dan kedua istriku bahagia!" ujar Yesung dengan semangat berapi-api.
Ryeowook mengangguk-ngangguk mendengar ucapan Yesung.
"Semoga harapan kita tercapai, ya, Hyung!"
"Ne, semoga saja."
.
.
.
.
END
.
.
.
.
A/N
Tamat..
Ini tamat..
Beneran tamat..
IYA MY LITTLE FAMILY TAMAT! AAAAA SUMPAH GA NYANGKA TAMATNYA SECEAT INI /sobs/
DAN INI, UNTUK SEKIAN LAMANYA CHOI RINRI DI FFN, AKHIRNYA SALAH SATU FFKU TAMAT JUGA :'D
(itu capslock jebol, rin)
Oh, iya, maaf aku terlalu seneng hahahaha /plak/
Awalnya fanfic ini mau saya bikin tamat di chapter 10 kemarin, tapi saya pikir kecepetan, jadi saya mikir mungkin nanti chapter 12/13. Tapi tebakan saya meleset, justru di chapter 11 :'D
My Little Family aalah Fanfic multichapter ke-9 yang Rinri publish di FFN, fanfic multichapter terbaru dibanding yang lain. Dan jujur aja, diantara fanfic yang pernah Rinri buat, feel aku paling dapet di fanfic ini. Dan sekarang fanfic ini udah tamat yuhuuuu ;-;
Masih banyak banget kekurangan dari fanfic ini. Seperti ceritanya yang terlalu drama, sinetron, pasaran, kekurangan dari penokohannya, dan lain sebagainya.
Walaupun begitu, saya bersyukur banget masih ada yang menyukai fanfic ini. Yang selalu meminta untuk dilanjut, atau review review fanfic ini yang positif dan membuat semangat saya terpacu. Saya ucapkan terima kasih.
Saya ucapkan terimakasih untuk reviewers, followers, dan favoriters fanfic My Little Family. Respon kalian benar-benar luar biasa! Terima kasih banyak!
Semoga, akhir dari cerita ini membuat kalian semua senang X'D
Sekali lagi saya ucapkan terimakasih, dan sampai berjumpa di fanfic yang lainnya :D
