Author : Yuri Masochist or Han Youngra

Title : The Time: June 6th, 2012

Cast :

+ Main Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun), Se7en (masih bingung ni orang masuk maincast apa kagak)

+ Other Cast : YunJae, Taemin, Jungmo, Junsu, Junho (kembaran Junsu), KiVin (KiseopxKevin), HanChul, Eunhyuk, Shindong, Minho, OnKey, Baekhyun, Henry, Soohyun

+ Cameo : Ryeowook, Siwon, Jonghyun, Leeteuk, Yesung, Eli, T.O.P, GD, Kangin, Sooman, Jay, Seungri, Daesung, Alexander, SooSun (SooyoungxSunny), YulSic (YurixJessica), YoonSeo (YoonaxSeohyun), Narsha, Thunder, Mir, Joon

+ Say 'Goodbye' to : Sungmin, Donghae, Kibum, Kai, Zhoumi and who's next?

[DBSK | Super Junior | SHINee | TRAX | Big Bang | U-Kiss | Se7en | MBLAQ]

[SNSD | B.E.G]

Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror

Rated : PG-15 | T semi M deh untuh semua chap~

Type : Yaoi

Length : Chapter

Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!

Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!

A/n : 6 JUNI! Kuharap kalian mengerti keadaanku. Maaf, aku sedang sakit dan sibuk. Aku baru membuat chapter ini. Maafkan aku.

.

.

.

.

The Time: June 6th, 2012

.

Satu jam menjelang pukul 00:00

"Ini~."

Changmin kembali ke kesadarannya ketika ada secangkir coklat panas yang disodorkan tepat di depan wajahnya. Dia menengadahkan kepalanya, melihat ke arah Jaejoong yang tersenyum kepadanya.

"Kenapa masih merenung di balkon, hm?"

Changmin menggeleng perlahan seraya menerima cangkir itu dari tangan Jaejoong. Jaejoong tersenyum, mendudukan dirinya di samping Changmin dan mengikuti arah pandangan Changmin. Menatap bintang-bintang yang menjadi penghias dalam langit hitam, bersama rembulan yang menerangi kegelapan.

Changmin menyesap sedikit coklat panas itu dengan hati-hati. Menarik napas dan menghembuskannya setelah itu.

Changmin masih bisa mengingat apa yang telah Se7en lakukan pada dirinya. Yang menurutnya kini ia sudah sangat hina. Pernah tidur dengan Kyuhyun dan Se7en, padahal sudah ada Yoochun disampingnya. Dia merasa sangat berdosa.

Pada hari dimana Se7en berhasil membawa dirinya ke California, dimana ayah dari Se7en sedang berada disana. Namja itu berhasil menidurinya dan membuat sebuah sandiwara yang membuatnya seolah-olah membenci Yoochun dan mencintai Se7en. Dan setelah itu Mr. Shim menyusul mereka dan membuat pembicaraan empat mata dengan ayah Se7en. Dan berujung pada kabar bahwa mereka bertunangan.

Argh!

Demi Tuhan, Changmin membenci Choi Dongwook itu! Namja licik itu!

"Changmin-ah, jadi sebenarnya apa yang terjadi diantara ka-"

Tin! Tin!

Jaejoong terpaksa menelan kembali kalimatnya yang belum tersampaikan secara sempurna. Jaejoong berdiri, meletakkan cangkirnya di meja kecil samping kursi balkon.

"Yunho pulang memakai mobil Yoochun. Mungkin dia juga membawa Yoochun."

Jaejoong tersenyum lagi dan mengacak rambut Changmin. Changmin meletakkan juga cangkirnya dan berdiri.

"Nah, ingat, jika kau punya salah pada Yoochun, meminta maaflah sekarang. Tentu Yunho tidak membawa Yoochun yang terselubungi emosi, bukan?" Jaejoong mengangkat dagu Changmin agar menatapnya. "Bicaralah berdua."

Changmin menatap Jaejoong dengan tatapan 'dia pasti akan sangat marah' namun Jaejoong hanya menggeleng dengan senyuman lembutnya. Dia menepuk punggung Changmin dan mendorongnya perlahan ke dalam rumah.

"Bicaralah dengannya. Umma akan menemui Yunho, dan melihat Taemin apa dia sudah tidur atau belum."

Ketika Changmin membuka mulutnya, berniat untuk bertanya, dia sudah melihat Yoochun berdiri dihadapan mereka. Dengan plester di pelipisnya dan sedikit lebam di wajahnya. Jaejoong tersenyum lagi. Menepuk punggung Changmin beberapa kali dan setelah itu meninggalkannya bersama Yoochun disana.

Dan kini keduanya saling menatap selama beberapa saat. Tatapan takut dari yang satunya dan juga tatapan yang tidak dapat diartikan dari yang satu lagi.

Deg... deg...

Bahkan Changmin dapat mendengar detak jantungnya dalam keheningan ini.

Yoochun melemaskan otot wajahnya secara perlahan. Menarik napas dan setelah itu menghembuskannya. Dia berjalan perlahan, mendekati Changmin yang terdiam takut. Dalam satu gerakan, dia membawa Changmin ke dalam sebuah pelukan.

"Saranghae."

Yoochun mengusap rambut Changmin dan berbisik di telinganya.

Changmin berniat membalas pelukan itu, namun ia takut. Sangat takut. Ia takut Yoochun akan sangat marah setelah ini.

"Tenang Sayang. Yunho-hyung sudah memukulku berulang kali tadi, untuk menyadarkanku agar tidak melakukan hal yang kasar padamu. Aku mengerti. Itu bukan keinginanmu. Itu keinginan si brengsek itu. Aku mengerti. Aku tahu kau mencintaiku, dan kau juga tahu seberapa besar cintaku padamu."

Dan setelah itu Changmin dengan cepat membalas pelukan itu erat. Dia menenggelamkan kepalanya di bahu Yoochun, menggigit bibir bawahnya agar tidak menangis.

"Saranghae. Jeongmal saranghae."

.

.

The Time

June 6th, 2012

A Nonsense Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"

Time to Play

.

.

.

Wednesday

June 6th, 2012

12:00 AM

"Dia bisa mendengar dan melihat apa yang kita lakukan, bukan?"

Taemin segera memeluk Changmin di sampingnya—dia memang belum tidur sejak tadi. Sedangkan Yoochun yang juga duduk di samping Changmin segera mengusap rambut anak kecil itu. Yunho dan Jaejoong yang duduk di sebrang ketiganya hanya memandang dengan khawatir kearah Taemin.

Changmin menolehkan pandangannya ke arah Yoochun dan setelah itu mengangguk, menjawab pertanyaan namja itu. "Dan aku harap dia mengabulkan permintaanku. Aku ingin Dongwook yang mati."

Yunho dan Jaejoong tidak dapat melakukan apapun. Yoochun meraih jemari Changmin, menggenggamnya erat dan menenangkannya.

"Sudah jam duabelas. Akan ada yang mati. Semoga bukan salah satu diantara kita."

Dan setelah itu, ada hembusan angin yang sangat kencang di luar rumah. Membuat ranting dari pohon diluar rumah itu mengetuk jendela di lantai dua. Taemin semakin mengeratkan pelukannya terhadap Changmin dan menyembunyikan wajahnya di dada namja itu.

Sebentar lagi...

Sepertinya...

Kuharap... tidak ada yang mati disini...

Yunho, Jaejoong, Changmin, Yoochun dan Taemin menutup mata mereka perlahan.

Hanya... satu detik.

Dan ketika terbuka...

...semuanya berubah.

Kim Jaejoong terduduk di sebuah jalanan panjang. Ada banyak gedung tinggi di sekitarnya. Namun sangat sepi, penuh benda-benda ringan yang terbang terbawa angin di langit dan juga beberapa mobil dan motor yang tergeletak begitu saja di jalanan. Seperti kota mati. Tak ada cahaya matahari sama sekali. Namun langitnya tidak segelap malam. Hanya gelap, mendung, penuh dengan awan hitam. Sungguh, semuanya terlihat sangat mengerikan.

Ditambah dengan kehadirannya secara tiba-tiba di tempat yang tidak ia ketahui apa?

A-apa yang terjadi?

Apa ini... yang Changmin sebut tentang kematian berurut itu?

A-apa dia masuk... siklusnya?

Apa... ini juga yang terjadi kepada... Kai?

Deg!

Jaejoong menatap sekitarnya dengan penuh rasa takut. Dia tidak tahu harus melakukan apa untuk pergi dari keadaan ini.

Dimana Yoochun?

Dimana Changmin?

Dimana Taemin?

Dimana Yunho?

"Y-Yunho..."

Jaejoong menggeleng tidak percaya dengan gerakan tubuhnya yang masih berputar di jalanan itu. Tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Tidak percaya bahwa semua ini terjadi pada dirinya.

Ini asli.

Nyata.

Tidak masuk akal.

"Y-Yunho..."

Jadi.. apa aku akan mati?

Jaejoong segera mengambil langkahnya untuk berlari. Entah ke arah mana, yang terpenting adalah ia harus mencari jawaban.

"Changmin... bagaimana caranya keluar dari sini?"

Wednesday

June 6th, 2012

01:00 AM

Jaejoong mengambil langkah cepat, menyusuri jalan itu dengan tergesa. Tangannya memegang perutnya, takut terjadi sesuatu pada kandungannya. Namun yang ada di pikirannya sekarang hanyalah mencari jalan keluar. Selamat. Dan bertemu dengan suami, anak dan dua orang yang disayanginya.

"Yunho! Taemin! Ya Tuhan... bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari sini?"

Wednesday

June 6th, 2012

02:00 AM

Jaejoong menghentikan larinya ketika ia sudah merasa kelelahan. Dia mengusap wajahnya, menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Dia harus tenang. Dia tidak boleh panik. kepanikan tidak akan bisa menyelamatkannya.

"Tenang, Jaejoong tenangkan dirimu. Kepanikan tidak akan bisa menyelamatkanmu. Tenang, kau bisa menghadapi ini. Kau bisa melakuk—"

Bruk!

Kalimatnya tidak selesai ketika dia mendengar sebuah suara di tempat yang begitu sepi ini. Suara yang membuat dirinya terlonjak, kaget. Suara yang berasal dari belakang tubuhnya.

Jaejoong berusaha mengatur napasnya secara perlahan.

Sudah ia katakan, ia tidak boleh panik. Maka dari itu, ia membalikan tubuhnya secara perlahan.

Deg!

Wednesday

June 6th, 2012

03:00 AM

Ada sesuatu... di belakang tubuhnya.

Sebuah... potongan kepala.

Deg!

Jaejoong merasakan jantungnya berdetak dengan begitu cepat. Dia tidak pernah membayangkan bertemu dengan sesuatu yang seperti ini. Apalagi... di tempat yang seperti ini.

Tap!

Mata potongan kepala itu terbuka. Sontak Jaejoong memundurkan tubuhnya sedikit. Tepat ketika mulut kepala itu terbuka dan tertawa dengan keras.

"Nyeahahahaha!"

Deg! Deg! Deg!

Jantungnya berdetak dengan begitu cepat. Membuat ia menahan napasnya. Kakiknya mulai mundur sedikit, membuat aba-aba untuk berlari.

"Nyeahahaha!"

Dan ketika potongan kepala itu menggelinding ke arahnya, Jaejoong segera membalikan tubuhnya dan berlari. Berusaha agar kepala itu tidak bisa menangkapnya. Berusaha agar ia bisa selamat.

"Oh, Tuhan! K-kenapa bisa ini terjadi?"

Jaejoong menengokkan kepalanya ke belakang, berusaha melihat sampai mana kepala yang menggelinding itu, namun...

... tidak ada apapun.

Jaejoong menghentikan larinya secara perlahan, dengan tangannya yang memegang perutnya. Napas yang terengah dan ketakutan yang menguasai dirinya.

Grep! Deg!

A-ada... sesuatu yang memeluk tubuhnya dari belakang. Kakinya melingkar di paha Jaejoong, sedangkan tangannya mulai tampak ke hadapan Jaejoong. Berkuku panjang. Membuat Jaejoong sangat ketakutan sekarang. Apalagi, ketika ada sebuah kepala sesuatu itu beristirahat di bahunya, dan lidahnya yang panjang mulai menjilat pipinya.

Wednesday

June 6th, 2012

04:00 AM

Deg!

Jaejoong menolehkan kepalanya secara perlahan, untuk melihat sesuatu apa yang berada di punggungnya.

Deg!

Sebuah lidah panjang... masih menjilati pipinya. Sedangkan kuku-kuku dari jemari keriput itu melingkari perutnya, merabanya. Wajah menakutkan, penuh keriput dan mata besar berwarna putih yang aneh.

Dan berbisik dengan suara parau...

"Berikan anakmu..."

"Arrgghh!"

Jaejoong segera meronta, berusaha melepaskan sosok yang hampir menusukkan jarinya ke dalam perut Jaejoong.

"Arghh! God!"

Dia membanting tubuh itu kasar hingga menjauh, namun kuku itu telah lebih dahulu mencakar bagian perutnya, hingga bajunya sobek. Jaejoong tidak peduli. Dia segera memegang perutnya dan berlari sekuat tenaga untuk menjauh dari makhluk aneh yang kini mengejarnya dengan jalannya yang merangkak dan lidah panjang yang terjulur keluar.

"God! Kenapa seperti ini? Ukh..." jarinya berusaha menahan darah dan rasa perih dari perutnya, sedangkan kakinya berusaha untuk lagi menjauh.

Makhluk dengan lidah terjulur keluar itu terus mengejarnya. Walau ia merangkak, namun larinya tetap kencang. Napas Jaejoong sudah tidak beraturan. Dia harus melarikan diri. Dia tidak boleh mati sebelum menemukan semua orang yang ia yakin sebelumnya tengah berada bersamanya.

"Yunho.. kumohon..."

Wednesday

June 6th, 2012

05:00 AM

Bruk!

"A-akhh..."

Karena cepatnya ia berlari untuk melarikan diri, tak sengaja kakinya terkilir, membuat Jaejoong terjatuh langsung menghempas aspal dengan sangat keras. Terutama di bagian perutnya.

"A-akh... s-sakit..."

Krkrkkk...

"Berikan anakmu... krkrk..."

Jaejoong meringis dan menyentuh perutnya. Lututnya mulai menekuk, menopang tubuhnya, membantunya untuk bangkit. Dia melihat ke arah belakang, ke arah makhluk yang hampir mencapai dirinya. Ia yakin perutnya terhempas dengan sangat keras, begitupula dengan kepala dan lututnya.

"Ngh.. ukh.."

Krkrkrkkk...

Dengan bertumpu pada lututnya, dia mencoba untuk bangkit secara cepat. Namun, gerakannya kalah cepat oleh tangan berkuku panjang itu yang berhasil menarik kakinya.

Bruk!

"Akhh!"

Jaejoong merintih keras, ketika perutnya kembali menghantam aspal dengan sangat keras. Makhluk itu segera merangkak ke atas punggung Jaejoong. Berusaha memeluknya lagi dengan lidahnya yang bergerak di sekitar wajah Jaejoong.

Wednesday

June 6th, 2012

06:00 AM

Tubuh Jaejoong bergetar. Antara sakit dan ketakutan. Di dalam hati dia berdoa kepada Tuhan. Menangis tanpa suara, menginginkan Yunho sekarang.

Lidah itu menjilati seluruh permukaan wajahnya, sementara kuku-kuku itu bergerak perlahan ke arah perut Jaejoong. Luka di perutnya masih mengeluarkan darah. Menghias warna abu pada jalanan menjadi bernoda merah.

"Nhh... p-pergilah.."

"Anakmu.. hh anakmu... krkrkk..."

Jaejoong menggigit bibir bawahnya, ketika lidah panjang itu menjilati leher hingga pelipis lalu kembali lagi ke lehernya. Tubuh Jaejoong bergetar, sangat ketakutan. Namun dia tidak hanya diam untuk pasrah. Tangannya berherak perlahan, berusaha untuk melakukan sesuatu yang dapat membuatnya bebas dari makhluk mengerikan ini.

Slrrpp

Tangan Jaejoong masih bergerak, berusaha meraih sesuatu yang bisa menghentikan makhluk yang masih menjilatinya.

Krrnyk!

"Akhh!" Jaejoong merintih keras, ketika kuku panjang itu menusuk luka yang juga disebabkan oleh kuku itu. Kuku yang menggoresnya dengan dalam. Tangan Jaejoong segera meraih rambut putih milik makhluk itu dan menariknya dengan sangat keras. Dan membuat pelukan itu terlepas secara paksa.

Srett..

"Akkhh!"

Dan gerakan paksa itu berhasil membuat luka goresan semakin dalam. Namun, Jaejoong lebih memperdulikan anaknya. Anak dalam perutnya. Dalam kesempatan itu, dia menjauh dengan terseok dan kemudian berusaha berdiri untuk kembali berlari.

Wednesday

June 6th, 2012

07:00 AM

"Akhh.. Yunho jebal.. aku t-tidak tahu harus melakukaan apa.."

Dengan napas yang terengah dan tenaga yang sedikit, Jaejoong terus berlari walau ia sering melihat ke belakang. Memastikan bahwa ia berhasil membawa dirinya menjauh dari makhluk yang kini mengejarnya lagi. Darahnya dari lukanya mengalir, mengotori jalanan sepanjang larinya. Dan ketika ia menemukan sebuah rumah dengan pintu yang terbuka, ia masuk ke dalam sana.

Blam!

Dan berhasil menutup pintunya. Kepalanya segera melirik ke segala arah, mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menahan pintu. Dan melihat sebuah rak berukuran sedang, Jaejoong segera mendorongnya hingga memblokir jalan di pintu.

Bruk! Bruk! Bruk!

Ada banyak suara diluar sana, ditambah dengan pintu yang didobrak paksa—walau kenyataannya tidak bisa terbuka. Setidaknya diam disini bisa membuatnya bernapas sebentar, mengingat luka goresan di perutnya sudah semakin parah.

Bruk.

Jaejoong menjatuhkan tubuhnya di lantai, dengan napasnya yang masih terengah. Jarinya perlahan mengangkat baju yang dikenakannya, dan melihat empat goresan panjang di perutnya.

Wednesday

June 6th, 2012

08:00 AM

"Sshh.. s-sakit..."

Jaejoong menggigit bibir bawahnya seraya membersihkan beberapa butiran kerikil di dekat lukanya. Dia mengarahkan pandangannya ke sekeliling, berharap menemukan air. Namun tidak ada apapun sepertinya.

Maka dia hanya menyingkirkan kerikil itu dengan hati-hati, dengan rintihan kecil yang tidak luput dari mulutnya.

"Ukh... a-appoyo..." Jaejoong menengadahkan kepalanya, menatap langit-langit ruangan yang penuh dengan debu dan kotoran itu dengan penuh raut kesedihan. "Yunho-ya... aku tidak tahu dimana aku sekarang. Tapi... sepertinya Kai yang malang juga pernah merasakan ini, sepertiku... ukh.. dan ini menyeramkan sekali... C-Changmin... bantu Umma.."

Bruk! Bruk!

Seketika pandangan Jaejoong teralih ke arah pintu. Dia menggeleng pelan, berusaha meyakinkan dirinya agar tidak takut. Jarinya terulur dengan lembut, mengusap perutnya sendiri dengan perlahan.

"Aegya... maaf ya tadi terbentur. Umma akan melindungimu, kok. Umma janji itu tidak akan terulang lag-"

Bruk! Bruk!

Wednesday

June 6th, 2012

09:00 AM

"Sepertinya kita harus pergi, aegya."

Jaejoong mencoba berdiri dengan perlahan. Ada air mata yang mengalir dari sudut matanya. Namun ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis dan panik. Ia yakin ia bisa keluar dari tempat mengerikan ini dan kembali bersama Yunho, Taemin, Changmin dan Yoochun.

Ia harus bisa kembali dengan selamat, entah bagaimana caranya.

Bruk! Bruk!

Krkrkrkkkk...

"Nah, sekarang kita harus mencari jalan keluar dari tempat ini." Jaejoong mengarahkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Dan menemukan sebuah jendela yang berada bersebrangan dengan pintu. "Sepertinya harus lewat situ."

Dia berjalan dengan lemah dan perlahan, memegangi perutnya yang terasa sangat sakit. Ketika sampai, ia mencoba melirik keluar, namun sama sekali tak ia temukan makhluk menyeramkan itu. Maka, Jaejoong membuka jendela yang sudah rusak dan berkayu lapuk itu dengan perlahan, dan menengokkan kepalanya secara perlahan.

Wednesday

June 6th, 2012

10:00 AM

"Sepertinya aman, Aegya."

Jaejoong menaikkan salah satu kakinya secara perlahan. Meringis kecil ketika lukanya terasa sakit lagi. Kemudian ia menaikkan kaki yang satunya lagi dan kemudian turun secara perlahan.

Hup! Tap!

Sshh...

Tidak. Sama sekali tidak ada apapun. Padahal tadi ada suara gaduh dari luar. Namun sekarang, Jaejoong tidak melihat apapun. Hanya merasakan. Ada hembusan angin di sekelilingnya.

Wuusshh...

"T-tenang aegya, Umma tidak takut kok. U-Umma hanya waspada. Maafkan tubuh Umma yang bergetar, ne?"

Jaejoong berusaha mengusap perutnya yang penuh luka. Meringis pelan bersamaan dengan kakinya yang mulai melangkah, menjauh dari rumah tua itu.

Wednesday

June 6th, 2012

11:00 AM

Wusshh...

Dia sama sekali tidak melihat dimana makhluk aneh yang menyeramkan itu. Dan itu tidak membuatnya tenang, itu semakin membuatnya takut. Ia takut makhluk itu akan muncul lagi secara tiba-tiba, dari belakang tubuhnya. Dan berupaya untuk merebut anaknya.

Namun... ia benar-benar tidak melihat tanda-tanda akan makhluk itu.

Maka, Jaejoong melangkahkan kembali kakinya, maju ke depan, ke arah jalanan.

Wednesday

June 6th, 2012

12:00 PM

Kkkkrkrkrkrk...

Jaejoong segera mengarahkan pandangannya ke sekeliling, ketika mendengar sebuah suara yang begitu aneh dari sekitarnya. Suara yang sama dengan suara yang dikeluarkan oleh makhluk itu sebelumnya.

Deg... deg...

"Jujur... Umma takut, aegya..."

Deg... deg...

Krkrkrkkkk...

Wuussshhh...

Jaejoong dapat melihat sosok samar dari kejauhan. Bukan satu, melainkan banyak.

Wednesday

June 6th, 2012

01:00 PM

Dan..

BRUSSHH!

Seluruh bangunan di tempat itu tiba-tiba dilahap api besar, yang tiba-tiba muncul bersama angin yang cukup besar. Sangat besar, hingga seluruh pemandangan yang bisa ditangkap oleh pengelihatan Jaejoong hanyalah warna merah, membara, api yang sangat panas.

Wednesday

June 6th, 2012

02:00 PM

"Y-ya Tuhan... ada apa ini? Apa yang terjadi? A-apa yang terjadi?"

Api-api melahap seluruh benda yang dibalutnya. Menghasilkan suara dan bau terbakar. Di sekeliling Jaejoong. Di semua arah. Panas. Sangat panas.

Jaejoong memeluk perutnya dengan erat, walau sakit yang ia rasakan.

"Y-Yunho... a-aku benar-benar butuh kau..."

Wednesday

June 6th, 2012

03:00 PM

Dari kejauhan, banyak bayangan yang datang ke arahnya berdiri. Ukurannya pendek namun jumlahnya banyak. Dan beberapa detik kemudian, terlihatlah sosok mereka.

Makhluk-makhluk yang merangkak itu. Jumlahnya begitu banyak. Mengeluarkan suara yang menakutkan. Merangkak dari dalam api, dengan lidah yang menjulur, dan sosok yang mengerikan.

Krkrkrkkkkk...

"Y-Yunho... tolong aku.."

Wednesday

June 6th, 2012

04:00 PM

Krkrkrkkkkk...

Makhluk-makhluk itu merangkak ke arah Jaejoong dengan begitu cepat. Jaejoong menatap panik ke segala arah, dimana makhluk-makhluk dengan lidah terjulur itu mendekatinya. Dia tidak bisa lari. Banyak api disini. Panas. Dan jalannya terblokir.

Jaejoong memeluk perutnya dengan erat.

"Jangan anakku... jangan anakku.."

Dan makhluk-makhluk itu semakin mendekat.

Wednesday

June 6th, 2012

05:00 PM

Sret!

Jaejoong segera mengarahkan pandangannya ke arah perutnya ketika ia merasakan ada dorongan dari dalam sana. Rasanya seperti bayi yang menendang-nendang. Namun, tidak mungkin mengingat perut Jaejoong yang masih rat—

Deg!

Perutnya tiba-tiba membesar secara perlahan. Membesar dengan tiba-tiba. Makhluk-makhluk berlidah panjang itu hampir mendekati posisi Jaejoong dan perut Jaejoong membesar dengan tidak masuk akal.

"A-apa yang terjadi? Ada apa? Ukhh... a-apa ini?"

Dan perutnya semakin membesar, hingga bajunya semakin sobek. Seperti kandungan berumur sembilan bulan. Namun...

"Ukh... s-sakit.. akhh!"

Jaejoong merasakan ada sesuatu yang memaksa keluar dari dalam perutnya. Meronta dan rasanya bergejolak. Jaejoong meremas perut besarnya dan memejamkan mata.

"S-sungguh... ini sakit... akhh..."

Krkrkrkkkkk

Makhluk-makhluk itu sudah berada sekitar tiga meter dari posisi Jaejoong berdiri. Tetapi Jaejoong tidak bisa melakukan apapun, rasa sakit di perutnya sangat menyiksa.

"Akkhh!"

Wednesday

June 6th, 2012

06:00 PM

Perlahan, luka cakaran di perut Jaejoong melebar secara tiba-tiba. Terbuka dengan cara yang tidak wajar. Jaejoong menatap perutnya panik, dengan wajah yang tersiksa, kesakitan.

Ada seusatu yang meronta ingin keluar.

"A-ahh... akh.. t-tolong... aakhhh sakit... akhh!"

Wednesday

June 6th, 2012

07:00 PM

Dan perlahan, perut itu sobek dengan cara yang tidak wajar. Jaejoong menatap panik ke arah perutnya. Jatuh berlutut secara perlahan, dengan mulut yang terbuka, tidak percaya dan takut.

"Akh... a-apa..."

Perlahan.. ada sebuah tangan kecil yang keluar dari dalam perut itu.

Wednesday

June 6th, 2012

08:00 PM

Tangan yang penuh darah itu perlahan keluar, ikut merobek perut itu, membuat jalannya lebih leluasa. Jaejoong masih membelalak tidak percaya, takut dan panik. rasanya menyakitkan. Dan menyeramkan. Apalagi ketika makhluk-makhluk yang berhasil mendekat itu menjilati perutnya.

"A-akhh.. Tuhan... Tuhan akkh!"

Dan kali ini satu tangannya yang lain muncul, bersamaan dengan kepalanya.

Wednesday

June 6th, 2012

08:00 PM

"Aakkhhh!"

Jaejoong berteriak keras ketika sesuatu dari dalam perutnya keluar dengan paksa. Sesosok bayi, merangkak keluar dengan darah yang melumuri tubuh kecilnya.

Jaejoong masih membelalak, berteriak dan merintih. Makhluk-makhluk itu menjilati seluruh tubuh Jaejoong.

"A-aakkhh! Akkhh!"

Wednesday

June 6th, 2012

09:00 PM

Bayi itu merangkak keluar. Keluar dari perut Jaejoong yang sobek. Jaejoong meringis, merintih dan berteriak.

Bayi kecil itu merangkak, mendekati perut Jaejoong lagi lalu menengadah.

"Hai, Umma."

Mata Jaejoong membulat. Mulutnya terbuka, merintih kesakitan melihat darahnya keluar begitu banyak.

"Akkh! Akh... a-apa... akkhh!"

Sosok bayi berlumuran darah itu menyeringai. Menyelipkan kedua tangan mungilnya ke dalam peurt Jaejoong kembali dan menarik ususnya.

Krnyykk!

"ARKHH!"

Jaejoong berteriak keras, tepat ketika lidah-lidah dari para makhluk mengerikan itu menjilati seluruh darahnya. Sosok bayi itu menyeringai, menarik usus Jaejoong keluar dan menggigit usunya.

"Aakhhh!"

Wednesday

June 6th, 2012

10:00 PM

Banyak makhluk-makhluk berlidah panjang itu yang memeluk Jaejoong. Menyentuhnya dengan kuku panjang dan lidah mereka. Sedangkan bayi kecil itu tetap mengunyah usus Jaejoong, layaknya makanan seperti umumnya.

"Y-Yunho! Akkh!"

Wednesday

June 6th, 2012

11:00 PM

Dan dengan sekali tarikan dengan gigi runcingnya, bayi mengerikan itu berhasil membawa Jaejoong pada ujung hidupnya.

"Ngryym... ngrymm..."

"Akh.. hh.. akkh..."

Krak!

"A-akh.. Y-Yunho... T-Taemin hh... C-Changmin saranghae... hhh.. I-I'm sorry..."

Thursday

June 7th, 2012

12:00 AM

"Selamat tinggal Kim Jaejoong. Berbahagialah karena kau adalah salah satu pemain dalam permainan ini."

Bayi itu menyeringai, memperhatikan tarikan napas terakhir yang dapat Jaejoong rasakan. Sedangkan makhluk-makhluk itu masih tetap menjilatinya.

"Selamat tinggal. Selamat bersenang-senang di Neraka."

Dan Enam Juni-mu sudah berakhir.

.:o~o:.