Terhitung sudah 24 kali ia menekan bel apartement yang ada di hadapannya saat ini, tetapi tuan pemilik apartement belum juga berniat untuk membuka pintu apartement. Baekhyun mendengus kesal, sebenarnya si pemilik apartement berniat mencari pembantu atau tidak? Atau jangan-jangan Luhan membodohi dirinya?
Baru saja akan menghubungi dan mengomeli Luhan, pintu apartement di hadapannya terbuka. Menampakkan sosok pria dengan tubuh jangkung yang bagian bawah tubuhnya hanya tertutupi celana kain berwarna hitam. Mata Baekhyun melotot dengan hidung yang terasa panas saat melihat otot perut yang tercetak sempurna.
"Kau siapa?"
Hidungnya terasa semakin panas saat mendengar suara low bass milik pria jangkung dihadapannya. Namun tiba-tiba ingatannya berputar tentang bagaimana adiknya datang bersama temannya kerumah dengan kondisi sang adik yang terlihat menyedihkan. Hidung Baekhyun yang awalnya terasa panas mendadak tidak terasa panas lagi, tatapan matanya yang semula terlihat memuja pria di hadapannya berubah menjadi datar.
"Kau yang bernama Park Chan Yeol?"
Pria jangkung di hadapannya mengenyitkan dahi namun juga mengangguk saat di tanya oleh pria pendek di hadapannya. "Ya aku Park Chan Yeol, ada perlu apa?"
Baekhyun langsung menyerahkan tas berukuran sedang yang berisi pakaian-pakaian miliknya kepada pria jangkung yang ada dihadapannya. Dengan dahi yang berkerut dan raut wajah yang terlihat sangat kebingungan, pria jangkung di hadapan Baekhyun menerima tas tersebut.
"Ini apa?" pria jangkung dengan tubuh bagus itu bertanya.
Baekhyun bersidekap, kedua tangannya di lipatnya di dada dengan ekspresi wajah yang terlihat kesal. "Tubuh saja yang bagus, otakmu tidak ikut bagus ternyata."
"Hei, apa maksud.."
"Apa!?" potong Baekhyun. "Tak terima jika aku menghinamu!? Itu juga yang di rasakan adikku!" Keduanya saling menatap satu sama lain dengan tajam. "Sekarang bawa masuk tas ku di kamarku." Titah Baekhyun.
"Dan kenapa aku harus?"
"Karena Tuan Park Chan Yeol Yang Terhormat, mulai detik ini aku akan menjadi pembantumu. Apa kau paham?"
Pria di hadapannya menyeringai dan itu tampak sangat mengerikan di mata Baekhyun. Pria pendek itu mendadak merasakan hawa-hawa penuh kegelapan di sekitarnya.
"Kau.. pembantu baruku? Yang tengah malam menghubungiku?" Baekhyun menganggukkan kepalanya takut-takut. Seringai Chanyeol semakin lebar dan semakin membuat Baekhyun ketakutan, bahkan kedua kaki pria pendek itu sudah begetar karena takut melihat senyum mengerikan milik pria di hadapannya.
"Kau pembantuku dan kau menyuruhku dengan seenak jidadmu!?" bentak Chanyeol.
Baekhyun merasa tidak hanya nyalinya yang menyusut, ia juga merasa tubuhnya ikut menyusut ketika Chanyeol membentaknya dengan suaranya yang low bass itu. "Ma-maafkan aku Tuan."
"Ini." Chanyeol melempar kembali tas hitam itu pada pemiliknya yang langsung di tangkap oleh Baekhyun. "Pergilah, aku tidak menerima pembantu kurang ajar sepertimu."
Baekhyun membulatkan mata sipitnya, dengan cepat dia duduk bersimpuh di lantai, "Kumohon maafkan aku Tuan. Maafkan aku, terima aku jadi pembantumu." Melihat Chanyeol yang masih tetap berekspresi marah, otak Baekhyun berpikir keras. Menyusun kata-kata yang mampu meluluhkan hati Chanyeol dan akhirnya menerima dirinya sebagai pembantu. "Tuan." Baekhyun memanggil. "Aku punya tiga adik Tuan, yang pertama namanya Byun Kyung Soo, kedua Kim Jong In dan ketiga Xi Luhan."
Chanyeol yang semula tidak tertarik dengan apa yang di ucapkan Baekhyun menjadi tertarik. "Kenapa nama depan adik kedua dan ketigamu berbeda?"
"Orang tuaku bekerja memunguti sampah, adik keduaku di temukan di sekitaran tempat sampah ketika ayahku tengah mengumpulkan sampah. Lalu yang ketiga ternyata ibuku berselingkuh dengan pria dari China ketika sedang memunguti sampah." Dalam hati Baekhyun terus berdoa meminta pengampunan pada Tuhan karena telah berbohong dan menjelekkan keluarga, teman adiknya serta teman dirinya. "Karena itu Tuan, terima aku jadi pembantumu."
Chanyeol menghela nafasnya, walaupun cerita pria pendek di hadapannya sangat tidak meyakinkan. Ia harus menerima pria pendek ini menjadi pembantunya agar sang ibu tidak mengirim Nana ke apartementnya.
"Baiklah, kau boleh masuk."
Operetta
By Bunnie B
.
Warning: boyXboy, TYPO.
.
Byun Baek Hyun (21 y/o)
Park Chan Yeol (25 y/o)
Xi Luhan (21 y/o)
Kim Jong In (18 y/o)
Byun Kyung Soo (18 y/o)
.
.
.
Happy reading^^
Mata Baekhyun terlihat kagum saat melihat piala yang berbaris rapi di dalam lemari kaca yang ada di sudut ruangan. Bibirnya tipisnya terus mengucapkan kata "Woah." Saat membaca piagam-piagam yang terpajang di samping lemari kaca. Dirinya saat ini tengah mengelilingi rumah Tuannya, katanya ingin melihat-lihat dan mempelajari bentuk dari rumah Tuannya. Kebetulan juga Tuan rumahnya tengah sibuk berpakaian, jadi wajarkan jika dia berkelana sendirian?
"Apa ku cari sekarang saja ya kelemahan si tubuh bagus itu? Biar semuanya cepat selesai." Ia bergumam, tak sadar jika Tuannya sudah selesai berpakaian dan berjalan kearahnya.
"Apanya yang cepat selesai?"
Baekhyun gelagapan, ia lalu menunjukkan senyum paling bodoh yang ia miliki pada Chanyeol. "Tidak Tuan. Aku berencana membantumu untuk menulis novelmu yang terbaru agar novelmu cepat selesai."
Tak ingin ambil pusing, Chanyeol melangkahkan kakinya menuju sofa yang ada di tengah ruangan. Ia lalu menyuruh Baekhyun untuk duduk di seberangnya.
"Jadi, Byun Baek Hyun. Aku membutuhkanmu untuk membersihkan apartement ini berserta isinya, cuci piring, memasak, mencuci baju dan jangan membuat keributan jika aku sedang menulis. Apa kau mengerti?"
Baekhyun menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Mengerti Tuan!"
"Kau bisa mengemas rumah kan?"
"Jika hanya menyapu dan mengepel lantai ya."
Chanyeol mengangguk, "Mencuci piring?" pria jangkung itu kembli bertanya.
"Ya tentu."
Chanyeol kembali menganggukkan kepalanya, setidaknya tidak sia-sia dia menerima Baekhyun menjadi pembantunya. "Memasak?"
"Jika Tuan ingin cepat mati, suruhlah aku memasak."
Dahi Chanyeol kembali berkerut. "Apa maksudmu?"
"Seperti yang aku katakan sebelumnya. Jika Tuan ingin mati muda, maka surulah aku memasak."
"Intinya kau tidak bisa memasakkan?"
"Ya."
Chanyeol menghela nafasnya, belum apa-apa entah kenapa ia sudah merasa menyesal menerima Baekhyun menjadi pembantunya.
"Ya sudah, masuklah kekamarmu. Besok kau sudah mulai bekerja dan aku minta jangan berisik."
Baekhyun menganggukkan kepalanya. "Ya Tuan." Ia kembali melanjutkan, "Tapi apa boleh aku meminta waktu? Dari pukul 8 pagi sampai pukul 11 dari hari selasa hingga kamis? Aku bekerja di tempat lain juga omong-omong. Karena adikku kekurangan gizi jadi aku harus banyak bekerja mencari uang."
"Ya, ambil waktumu."
"Terima kasih Tuan."
Setelah Baekhyun pamit undur diri, Chanyeol langsung menyandarkan tubuhnya pada sandara sofa. Ia langsung teringat pada perkataan ibunya 3 hari yang lalu. Ibunya mengatakan akan mengirimkan Nana—tetangga sebelah rumah sang ibu yang naksir berat dengan dirinya—ke apartementnya untuk membersihkan apartement dirinya.
[Flashback]
Pria jangkung yang saat ini hanya mengenakan Bathrobe berwarna hitam menghela nafasanya kasar, telinga kanannya yang terlihat seperti telinga peri itu tersumpal ponsel berwarna putih. Raut wajahnya tampak berubah-ubah ketika mendengar suara dari seberang sana.
"Iya bu, iya. Chanyeol tau, tapi.."
"Pokoknya ibu akan menyuruh Nana datang ke apartementmu!"
Ekspresi si jangkung yang bernama Chanyeol itu kembali berubah yang sebelumnya berekspresi memelas, sekarang menjadi terkejut. "Nana bu?"
"Iya Nana, kenapa!?"
"Ibu tidak usah mengirim Nana. Jika ibu mengirimnya, ia bukannya membersihkan apartementku tapi mengajakku tidur di ranjang. Ibu tau sendiri bukan jika Nana suka padaku?" suaranya melembut, takut-takut ia akan melukai hati sang ibu jika ia menggunakan nada tinggi.
"Memang itu tujuan ibu."
Chanyeol mendengus, jika saja yang saat ini berbicara dengannya bukanlah wanita yang melahirkan dirinya. Chanyeol bersumpah akan langsung mematikan panggilan.
"Bu, ibu tau aku tidak akan pernah mengajak Nana keranjangku bukan?"
Sang ibu akhirnya menyerah, wanita yang telah melahirkan Chanyeol itu menghela nafasnya. "Jika kau tidak ingin Nana datang ke apartementmu maka carilah pembantu untuk mengurus apartementmu yang sudah seperti rumah tikus itu Chanyeol! Jika perlu cari kekasih sekalian!"
"Ya, akanku pertimbangkan."
Dan begitulah kenapa Chanyeol mencari seorang pembantu. Tujuannya agar ibunya tidak mengirimkan Nana ke apartementnya. Ia lebih rela jika orang yang tidak di kenalnya mengurus apartement miliknya dari pada orang yang sudah di kenalnya bertahun-tahun.
.
###
.
Ketika Baekhyun membuka matanya yang pertama kali di lihatnya adalah wajah mengerikan milik Tuan barunya, dengan cepat pria bertubuh pendek dengan rambut berantakan itu mendudukkan tubuhnya.
"Pukul berapa sekarang!?" si Tuan baru bertanya dengan nada mengerikan.
Dengan malas Baekhyun mengambil ponsel berwarna hitam yang tergeletak tak berdaya di atas meja nakas. "Pukul 9, lalu?"
Baekhyun yang menjawab dengan malas membuat Chanyeol, Tuan barunya, semakin kesal. "Hari apa ini Byun Baek Hyun?" Chanyeol kembali bertanya.
Baekhyun kembali melihat ponselnya, ia mengernyitkan dahinya lalu kembali menatap Chanyeol. "Di ponselku mengatakan jika hari ini hari jumat, lalu?"
Chanyeol mengusap wajahnya kasar. "Oh ya Tuhan!" dengan kasar pria bertubuh jangkung ini menarik tangan Baekhyun dan menyeretnya ke luar kamar. Menyeret disini adalah benar-benar menyeret. Chanyeol tidak peduli jika wajah Baekhyun menjadi datar akibat bergesekkan dengan lantai, Chanyeol juga tidak peduli jika kulit tubuh Baekhyun luka akibat bergesekkan dengan lantai. Chanyeol kesal, sangat kesal saat ini.
Ketika ia bangun tidur, Chanyeol masih mendapati keadaan apartementnya terlihat berantakan. Belum lagi sang ibunda yang menghubunginya dan mengatakan akan datang pada pukul 10 sementara pembantunya itu masih enak-enakan tidur, majikan mana yang tidak kesal?
"Yak! Yak!" Baekhyun masih terus meronta agar tangannya lepas dari genggaman Chanyeol. "Ini sakit! Berhenti menyeretku!"
Dengan kasar Chanyeol melepaskan genggamannya pada tangan Baekhyun, pria jangkung itu berkacak pinggang. "Kau ingin protes? Seharusnya aku yang melakukannya! Aku sudah berbaik hati menerimamu menjadi pembantuku dan kau bersikap seolah-olah kau adalah Tuan rumah!? Sekarang bereskan tempat ini karena ibuku akan datang pukul 10!"
Mata Baekhyun membulat dengan tidak elit, pukul 10 katanya? Itu artinya ia harus bisa membereskan rumah yang sangat berantakan ini dalam waktu satu jam?
"Kau gila!?" seru Baekhyun. "Kau menyuruhku membereskan tempat yang layak di sebut rumah tikus ini dalam waktu satu jam!?"
Chanyeol memutar bola matanya malas. "Itu ulahmu sendiri Baekhyun." Setelahnya pria jangkung itu masuk kedalam kamarnya, meninggalkan Baekhyun sendirian di ruang tengah.
"Aku bisa gila."
Baekhyun mulai memunguti bungkus-bungkus makanan yang berserakan di lantai. "Ya Tuhan, dia penulis atau apa? Kenapa kotor sekali." Baekhyun meletakkan bantal-bantal sofa yang berserakkan di tempatnya. "Ugghh~ Jorok sekali!" pekiknya saat melihat banyak bekas cup ramen di tempat cuci piring.
"Dasar penulis jorooook!"
.
###
.
Rasa dahaga mendadak menyerang Chanyeol, ia merenggangkan tubuhnya, menatap laptop di hadapannya dengan malas dan akhirnya ia bangkit dari duduknya.
"Sudah 1 jam aku duduk di sini dan tidak menghasilkan satu huruf pun!?"
Pria jangkung itu mengusap wajahnya kasar. Menjadi penulis itu tidak semudah yang di bayangkan orang-orang, hanya duduk sambil memangku laptop lalu ide mengalir begitu saja.
Tidak!
Penulis harus berjalan kesana-kemari agar ia mendapatkan sebuah ide dan bahkan jika ide sudah mereka dapatkan mereka harus mulai menyusun unsur pembangunan dari karya yang mereka buat, mereka harus menentukan fakta cerita, tema cerita dan sarana cerita. Belum lagi Chanyeol adalah penulis yang kebanyakan dari buku yang di buatnya bukanlah buku yang bertujuan untuk komersil saja, Chanyeol adalah penulis yang kebanyakan dari karyanya menuju fiksi serius.
Belum lagi Chanyeol juga merupakan penulis pabrik yang apa-apa harus di tentukan oleh deadline, sial memang tapi itulah kehidupan. Tidak ada yang lurus di setiap jalan kehidupan.
Tok.. Tok..
Tepat ketika Chanyeol membalikkan badannya pintu kamarnya terbuka, muncullah sosok pria dengan tubuh pendek dan celemek menutupi bagian tubuhnya.
"Ada apa Byun Baek Hyun?"
Yang di tanya tidak menjawab, matanya malah asik menjelahi kamar Chanyeol yang ternyata sangat bersih di bandingkan ruang lainnya. "Apa kau serius?"
"Apa?"
Baekhyun menggelengkan kepalanya berjalan menghampiri Chanyeol yang maish berdiri di dekat tirai jendela. "Wow bung, ruangan ini bersih di bandingkan ruangan lain. Apa kau penyihir atau sejenisnya? Kau menyulap kamar ini?"
Chanyeol memutar bola matanya malas. "Aku penulis dan bukan penyihir jika kau tidak lupa dan kamar ini adalah ruang kerjaku sehingga aku harus tetap membuatnya bersih. Karena itu aku tidak mengatakan padamu untuk membersihkan kamarku." Chanyeol menghampiri Baekhyun lalu mendorong tubuh pria pendek itu keluar kamarnya. "Maka dari itu jauh-jauhlah dari kamarku!"
"Tapi bung.."
Tepat ketika itu pintu apartement Chanyeol terbuka dan menampakkan seorang wanita paruh baya yang tengah mengernyitkan dahinya melihat putranya mendorong seorang pria yang menggunakan celemek. "Chanyeol?"
"Ibu.."
"Ibu?" Baekhyun bertanya, "Oh, selamat pagi Nyonya."
"Siapa dia Chanyeol?" mata sang ibu menajam dan nada suaranya terdengar sangat tidak suka. "dia pembantu barumu?"
Chanyeol bersumpah dia akan menjawab iya jika saja Nana, orang yang paling tidak ingin di lihatnya didunia ini, tidak muncul dari balik tubuh sang ibu. "Dia kekasihku bu."
"Apa!?"
"Hey.. hey.. bung pasti ada.." belum sempat Baekhyun menyelesaikan kalimatnya, bibir Chanyeol sudah menghentikan mulutnya. Sontak ketiga manusia yang ada di sana membulatkan matanya, tubuh ketiganya kaku dan tak dapat di gerakkan.
"Ya Tuhan sayang, aku berterima kasih padamu karena sudah datang ke apartementku dan membersihkannya. Aku mencintaimu." Chanyeol kembali mencium bibir Baekhyun.
"Jadi dia kekasihmu?" suara Nyonya Park menyadarkan Baekhyun dan juga Nana.
"Ya."
"ti-ti.. Nyo-nyo.. bu-bukan.. ak-ak.. antunya."
Nyonya Park menatap Baekhyun dengan sinis bahkan menurut Baekhyun lebih mengerikan tatapan yang di layangkan Nyonya Park untuknya di bandingkan senyum mengerikan milik Chanyeol semalam.
"Bu jangan menatap kekasihku seperti itu!"
Nyonya Park mengalihkan pandangannya pada putranya, wanita paruh baya itu tersenyum manis, ia berjalan menghampiri Baekhyun. "Kau kekasih putraku bukan?" wanita itu bertanya. "Ayo kita bicarakan sampai kapan kau siap menjadi kekasih putraku."
TBC
.
.
.
.
[A/N]
Eaaaak rezeki nomplok buat Baekhyun. Awalnya jadi pembantu malah naik pangkat jadi kekasih orang.
.
thanks for review
Jiellian21, anoaslay, Hyera832, Baekhyun Cantik, ChaNHye, abcbcbcd, parkbaex614, noisymonkey, yousee, Sehunboo17, Chel VL, annaChanbaek07, beatxxl, RedCherry Yeollie, PitterB/Hyeol, cici fu, myzmsandraa99.
.
Habis baca jangan lupa review ya^^
