Author : Yuri Masochist or Han Youngra

Title : The Time: Wrong Choice | July 6th, 2012

Cast :

+ Main Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun), Se7en (masih bingung ni orang masuk maincast apa kagak)

+ Other Cast : Yunho, Taemin, Jungmo, Junsu, Junho (kembaran Junsu), KiVin (KiseopxKevin), HanChul, Eunhyuk, Shindong, Minho, OnKey, Baekhyun, Henry, Soohyun

+ Cameo : Ryeowook, Siwon, Jonghyun, Leeteuk, Yesung, Eli, T.O.P, GD, Kangin, Sooman, Jay, Seungri, Daesung, Alexander, SooSun (SooyoungxSunny), YulSic (YurixJessica), YoonSeo (YoonaxSeohyun), Narsha, Thunder, Mir, Joon

+ Say 'Goodbye' to : Sungmin, Donghae, Kibum, Kai, Zhoumi, Jaejoong and who's next?

[DBSK | Super Junior | SHINee | TRAX | Big Bang | U-Kiss | Se7en | MBLAQ]

[SNSD | B.E.G]

Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror

Rated : PG-15 | T semi M deh untuh semua chap~

Type : Yaoi

Length : Chapter

Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!

Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!

A/n : 6F! Jangan kelewat baca ini~

.

.

.

.

The Time: Wrong Choice | July 6th, 2012

.

Friday

July 6th, 2012

09:01 AM

Kyuhyun duduk di atas ranjang dan menggenggam kalung salibnya.

Bukan. Dia sama sekali bukan kristen yang taat. Tetapi untuk kali ini dia mencoba untuk berdoa kepada-Nya.

Kyuhyun berpikir mungkin dirinya sudah sangat rendah di mata Tuhan. Ia meninggalkan Tuhan-nya. Hidup dengan kesenangan. Tidak mau mengakui orangtua yang juga tidak mengakuinya. Tetapi sekarang, ia menangis dan meminta pertolongan.

Tuhan memberikannya sesuatu yang membuatnya mengandung anak dari sebuah kesalahan. Kyuhyun sama sekali tidak menganggap ini sebagai berkah, tetapi musibah.

Buktinya, dia sangat menderita sekarang.

"Kalau seandainya besok waktuku, akan kuterima, Tuhan." Kyuhyun menunduk. "Aku benar-benar sudah tidak punya cara untuk membuat Changmin melihatku... hanya melihatku. Maaf Sungmin, kurasa aku menghianatimu dengan seperti ini... tapi perasaan ini tidak bisa kutahan."

Kyuhyun menggigit bibirnya sedikit keras dan diam selama beberapa saat.

Dia rela harus mati untuk Changmin dan mengorbankan cinta—tidak! Dia tidak boleh mati dan tidak boleh menyerah!

Kyuhyun mengusap matanya dan melempar kalung salib itu ke belakang, ke arah bagian ranjang yang kosong.

Kalau besok bukan aku yang mati, aku akan menemui Changmin dan meminta pertanggungjawaban.

Kyuhyun mengangguk mantap.

Aku tidak boleh kalah dari Yoochun.

.

.

The Time

Wrong Choice | July 6th, 2012

A Nonsense Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"

Time to Play

.

.

.

Friday

July 6th, 2012

11:04 AM

"Aku baik-baik saja." Junsu melotot ke arah Junho.

Junho menepuk kepala Baekhyun yang duduk di samping ranjang tempat Junsu duduk.

"Kau tidak boleh pulang." kata Junho lagi. "Setidaknya disini lebih aman."

"Aman dari apa?"

Junho mencium pipi Baekhyun. "Kau tidak perlu berurusan lagi dengan polisi."

"Itu kan hanya—"

"Ya, aku tahu. Tetapi menurutlah. Diam di rumah sakit. Lagipula aku sudah berkonsultasi dengan Soohyun untuk melakukan terapi dengan kakimu, agar kau bisa cepat berjalan."

"T-tapi..." Junsu melihat Junho berjalan ke arah pintu. "Mau kemana?"

Junho memilih untuk tidak menjawab dan segera melangkah keluar. Matanya mengarah ke koridor, dan kemudian berjalan ke arah lift untuk mencapai lantai dasar.

Disana dia berjalan dari lobi, menuju keluar, tepat menemukan orang yang tengah dia cari.

Shim Changmin.

Ia sedang mengobrol dengan Yunho, dan menggendong seorang anak kecil seumuran Baekhyun. Junho memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan berjalan mendekati mereka.

"Ah, Junho hyung..." Changmin melirikkan pandangannya ke samping ketika Junho sudah berdiri disampingnya.

Yunho menatap Junho dan Changmin bergantian lalu mengangkat bahunya. "Aku harus pergi lebih dahulu."

Changmin mengangguk. "Biar aku urus Taemin."

"Ryeowook akan menjemput Taemin jam enam sore nanti."

"Baiklah," Changmin mengusap rambut Taemin.

Yunho tersenyum. Ia mengecup pipi anak angkatnya dan kemudian berbalik meninggalkan ketiganya disana. Taemin melambaikan tangannya ke arah Yunho dan setelah itu kembali memeluk leher Changmin.

"Changmin hyung, dia ciapa?" jari kecil itu menunjuk ke arah Junho.

Junho tersenyum tipis. "Junho imnida." Dan setelah itu mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Taemin. "Siapa namamu?"

"Taemin!" jawab Taemin mantap.

Changmin tersenyum.

Junho mengarahkan pandangannya sedikit ke arah Changmin. "Anak Yunho?" Changmin mengangguk sebagai jawaban. Junho menatap Taemin kembali dan mengulurkan tangannya. "Mau temani keponakan hyung?"

Taemin memiringkan kepalanya. "Ciapa?"

"Namanya Baekhyun. Sepertinya kalian seumuran," ucap Junho. "Kajja."

Changmin hanya tersenyum simpul.

.:o~o:.

Friday

July 6th, 2012

10:45 PM

Changmin mengarahkan pandangannya ke sekitar ketika melihat beberapa orang begitu sibuk dan tergesa berjalan di hadapannya, di kantor NCIS lantai tujuh ini. Dia memang terbiasa melihatnya, tetapi dia sedang mencari seseorang sekarang. Sebelumnya, dia telah meninggalkan rumah sakit. Taemin sudah di jemput oleh Ryeowook. Junho masih di rumah sakit dengan Baekhyun dan Junsu.

Ketika orang itu lewat di hadapannya, Changmin menarik pergelangan tangannya hingga ia terhenti dan melihat Changmin.

"Changmin?" Eunhyuk menggenggam berkas di tangannya agak kuat ketika ia rasakan hampir terjatuh.

"Hyung sibuk?"

Eunhyuk mengangguk cepat. "Pengeboman pesawat. Ini penting Changmin."

Changmin melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Eunhyuk. "Kalau begitu, bisa beritahu aku dimana Dongwook-hyung?"

Eunhyuk mengerutkan dahinya, bingung.

"Biar kucari sendiri. Hyung sibuk, kan?"

Eunhyuk mengangguk lagi dan kemudian kembali berjalan. "Kau aneh, Changmin. Ah, aku merindukanmu. Aku duluan ya?" dan setelah itu berlari ke arah orang-orang yang sibuk lainnya.

Changmin tersenyum tipis. "Aku mencintaimu, hyung!" sedikit berteriak, dan setelah itu beranjak ke ruangan ayahnya.

Changmin membuka pintunya dan melangkah masuk sesukanya. Ia dapat melihat ayahnya sibuk dengan telepon. Changmin menarik napas dan kemudian menghampirinya.

"Changmin," ucap ayahnya tanpa suara.

Changmin merendahkan tubuhnya dan mengecup pipi ayahnya, "maaf." katanya berbisik.

Ayahnya menatap Changmin dengan tidak mengerti. Dia ingin bertanya, namun telepon ini begitu penting.

Changmin hanya menggeleng, mengisyaratkan bahwa ia tidak apa-apa dan hanya ingin mengatakan hal itu. Changmin berbalik dan akhirnya keluar dari ayahnya, meninggalkannya sendiri dengan pertanyaan.

Ia meraih handphone dari saku celananya, mematikannya dan setelah itu menyimpannya kembali ke saku.

Baru satu langkah, ia segera terhenti. Terhenti ketika di hadapannya muncul seseorang yang tengah tersenyum kepadanya.

"Hei, kau disini?" tanya Dongwook.

Changmin sedikit terkesiap, namun tersenyum setelah itu.

"Hyung sibuk tidak?" tanya Changmin, sedikit manis.

Dongwook mengusap tengkuknya. "Sedikit. Tetapi aku bisa membatalkannya jika—"

Changmin mendekat dan mengecup pipinya. "Temani aku jalan-jalan. Urusan NCIS bisa kau berikan pada bawahanmu atau orang lain."

Dongwook terdiam beberapa saat dan setelah itu bibirnya menarik senyuman licik. "Ada apa denganmu?"

"Hanya bosan dengan Yoochun."

"Bagus," senyum Dongwook semakin lebar. Dongwook menarik salah seorang staf yang sedang berjalan dengan tergesa dan bicara padanya. Staf itu mengangguk dan segera melenggang pergi lagi. Dongwook melirik Changmin dan tersenyum, "So?"

"Kau bawa mobil? Ayo jalan-jalan. Tapi biarkan aku yang menyetir, aku akan membaawamu ke suatu tempat yang indah."

.:o~o:.

Friday

July 6th, 2012

11:41 PM

Changmin melajukan mobilnya ke arah pinggiran kota Seoul. Dongwook duduk di kursi samping kemudi dan menatap ke depan, sesekali ke arah Changmin.

"Jadi kau denganku sekarang?"

Changmin mengangguk dan tersenyum. "Hyung tinggal tentukan hari apa dan tujuannya, aku ikut pergi dengan hyung."

"Benarkah?" Dongwook mengangkat satu alisnya.

Changmin melirik ke samping sedikit, "Bukankah sudah kujelaskan tadi."

Dongwook mengangguk dan melipat tangannya di belakang kepala. "Aneh saja rasanya."

Changmin menghentikan laju kendaraannya ketika lampu merah menyala, tepat di hadapannya. Ia menepuk stir mobil lalu menatap Dongwook di sampingnya.

"Harus kubuktikan dengan apa? Kita pergi malam ini juga aku mau." Changmin tersenyum manis.

Dongwook mengangkat salah satu alisnya menantang.

Changmin yang mengerti hal itu mendekatkan dirinya. Dia menutup mata, dan mencium bibir dihadapannya. Sedikit melumat, lalu menjauh kembali.

"I love you." ucap Changmin berbisik.

Dongwook menyeringai senang.

Changmin melirik ke depan, tepat ketika lampu berubah perlahan dari warna oranye menjadi hijau.

"Bisa putar tujuan? Kita cari hotel sekarang." Dongwook menatap Changmin dari kepalanya hingga ujung kakinya.

"Arasseo," Changmin mengangguk. "Tapi ikut dulu denganku ke tempat yang ingin aku tunjukkan."

Changmin mempercepat laju kendaraannya melihat jalanan kosong. Ia sudah memasuki daerah pinggiran kota Seoul. Jalanannya kosong, seperti jalanan menuju puncak.

Dongwook melirikkan pandangannya ke arah kaca di sampingnya, tersenyum puas. Ia rasa kemenangan ada di pihaknya. Ia telah menang. Ia telah merebut Changmin dari Yoochun tanpa bersusah payah. Lihat saja. Ia rasa tidak melakukan apapun di dekat-dekat ini, tapi Changmin datang kepadanya dengan begitu saja.

Awal yang bagus sekali untuk hidupnya.

Dongwook kembali dari lamunannya ketika merasa Changmin menaikkan laju kecepatannya dengan sangat kencang.

"Hei, kenapa?" tanya Dongwook.

Changmin menggeleng. "Ingin segera ke tempat tujuanku, hyung. Aku tidak sabar untuk menunjukkannya padamu."

Tujuh Juli, aku datang, batinnya pelan.

"Tapi tidak secepat ini." kata Dongwook.

Changmin mengacuhkan ucapannya. Kakinya menginjak pedal gas semakin kuat, mempercepat lajunya. Ia melirik Dongwook dari sudut matanya.

"Jangan mengenakan ini," tangan Changmin terulur, melepaskan seatbelt Dongwook.

Dongwook menatap Changmin heran. Changmin masih menatap ke depan, dengan laju kendaraannya yang sangat kencang. Ia melirik ke arah tubuhnya, sudah mengenakan seatbelt.

Jalanan benar-benar kosong. Hanya ada pembatas jalan yang membatasi jalanan dengan jurang di samping. Changmin menggigit bibir bawahnya, menekan tombol untuk membuka kunci di pintu Dongwook. Menurunkan kaca jendela Dongwook hingga maksimal dan membuat pemuda di sampingnya membelalakan mata.

"A-apa yang kau lakukan?"

Changmin melirik jam di tangannya.

11:59 PM

Beberapa detik lagi.

Changmin tersenyum puas.

"Selamat datang, tujuh Juli."

Dongwook membulatkan matanya semakin besar, hendak mengenakan kembali seatbelt, namun...

"Shim Changmin!"

Setelah mendengar namanya di teriakkan, Changmin segera membelokkan laju mobilnya ke samping tanpa menurunkan kecepatannya. Membuat mobil yang di kendarainya menabrak pembatas jalan, terlempar ke bawah dan terbalik beberapa kali menghantam batu di jurang itu.

00:00 AM

7 Juli 2012