Sudah sejak 1 jam yang lalu Baekhyun tertidur dengan posisi duduk dan kedua buku menjadi penutup agar wajahnya tidak terlihat oleh dosen. Luhan yang kebetulan duduk di samping laki-laki pendek itu sebenarnya sangat ingin membangunkannya, tapi melihat wajah Baekhyun yang sangat kelelahan laki-laki yang memiliki wajah lebih cantik dari Baekhyun itu mengurungkan niatnya dan tetap membiarkan Baekhyun tidur ketika dosen Kang sibuk menjelaskan tentang fonologi di depan.
"Tapi ini sudah 1 jam, aku tidak mungkin membiarkan dia tidur sepanjang mata kuliah si pak tua yang membosankan itu." Gumamnya.
Dengan terpaksa akhirnya Luhan harus membangunkan temannya itu. Awalnya dia membangunkan dengan cara yang umum, seperti menggoyang-goyangkan tubuh Baekhyun atau menutup saluran pernafasannya. Hanya saja Luhan baru sadar jika temannya ini makhluk luar biasa, tidak akan bisa dibangunkan dengan cara yang biasa.
Jadi yang dilakukan adalah mengambil pena dan menusukkan pena tersebut kedalam lubang hidung Baekhyun dengan kuat. Itu membuahkan hasil, terbukti dari Baekhyun yang langsung menegakkan tubuhnya dan menatap Luhan dengan kesal.
"Ada apa denganmu!?"
"Ada apa denganku? Sebenarnya ada apa denganmu!? Kau tertidur selama satu jam dalam mata kuliah si tua itu!"
Baekhyun menguap, ia kembali membaringkan kepalanya di atas meja. "Aku lelah Lu, menjadi pembantu Chanyeol benar-benar melelahkan. Apa lagi ibunya menginap di apartement dan itu sudah berlangsung selama 4 hari!"
"Tunggu.. APA!?"
Akibat teriakkan Luhan yang membahana itu seluruh manusia yang ada di kelas melihat kearah kedua pria itu dengan tatapan tajam. Terlebih dosen Kang.
"Apanya yang apa Tuan Xi Luhan?"
"Eh, a-aku.. maaf pak."
Tepat setelah dosen Kang kembali menjelaskan materi, Luhan langsung memutar tubuhnya menghadap kearah Baekhyun, mencegah Baekhyun untuk kembali tidur.
"Apa lagi?" tanya Baekhyun, malas.
"Apa yang kau katakan sebelumnya? Ibunya Chanyeol ada di sana dan dia menginap!?"
Baekhyun menganggukkan kepalanya, semenjak Chanyeol mengatakan jika dirinya adalah kekasih dari sang penulis itu. Nyonya Park alias ibu dari Park Chan Yeol memutuskan untuk menginap di apartement putranya.
"Itu semua gara-gara si bodoh itu. Jika saja dia tidak mengatakan hal yang aneh-aneh mungkin saja wanita tua itu tidak akan menginap dan menambah beban hidupku! Jika begini, rencana yang sudah kususun rapi-rapi jadi berantakan!" dengus Baekhyun kesal.
Luhan yang mendengarnya hanya bisa mengigit bibir bawahnya dengan kuat. Jika ibunya Chanyeol menginap di rumah putranya, bagaimana bisa rencana yang sudah disusun selama satu tahun ini berjalan dengan lancar? Apa ada perubahan rencana dari pusat? Tapi kenapa Luhan tidak diberi tahu?
"Kau serius dengan itu? Kenapa bisa?"
"Tentu saja bisa jika Chanyeol mengatakan aku kekasihnya!"
"Chanyeol apa!?"
"Chanyeol bilang pada ibunya jika aku adalah kekasihnya! Orang bodoh itu mengatakan aku kekasihnya!"
Luhan mendengus kesal, jika seperti itu wajar jika rencana berubah. Kenapa si bodoh Chanyeol itu harus berbuat hal bodoh? Luhan benar-benar merutuki Chanyeol.
"Kau tau apa yang lebih hebat dari itu Luhan?"
"Apa?"
"Dia menciumku dua kali ditambah kami tidur dengan berpelukan dan tanpa atasan. Hebat bukan? Rasanya aku bisa berubah menjadi gila kapan saja Lu."
Luhan sepertinya benar-benar menghubungi komandannya agar komandannya langsung menewaskan Chanyeol di tempat karena Chanyeol sudah berani-beraninya mencium temannya.
"Baekhyun, sebaiknya kau ubah rencanamu. Aku akan ikut membantumu." Ucap Luhan dengan seringai di wajah cantiknya.
Operreta
By Bunnie B
.
Warning: boyXboy, TYPO.
.
Byun Baek Hyun (21 y/o)
Park Chan Yeol (25 y/o)
Xi Luhan (21 y/o)
Kim Jong In (18 y/o)
Byun Kyung Soo (18 y/o)
.
.
.
Happy reading^^
Baekhyun memasuki apartement Tuan barunya dengan waspada, ia menghembuskan nafas lega saat merasa Nyonya Park alias ibu dari Tuannya itu tidak ada lagi di apartement Tuan barunya.
Baekhyun bukannya orang yang akan bertingkah berlebihan seperti ini. bahkan jika ia tidak menyukai orang tersebut Baekhyun tidak pernah bertingkah seolah-olah orang tersebut adalah virus yang harus di hindari. Baekhyun adalah tipikal orang yang akan menghadapi orang tersebut sekalipun orang itu adalah orang yang tidak ia sukai.
Tetapi pengecualian untuk Nyonya Park. Baekhyun menghindari wanita paruh baya yang sudah melahirkan Chanyeol itu karena dia tidak ingin hal-hal yang seharusnya tidak terjadi menjadi terjadi. Lagi pula di mata Nyonya Park, Baekhyun adalah pesalah. Apapun yang dilakukannya selalu salah di mata wanita paruh baya itu. Bahkan bagi Nyonya Park, ketika Baekhyun benafas itu adalah sebuah kesalahan.
Baekhyun ingat saat itu ia tengah mencuci piring dan tiba-tiba Nyonya Park datang menghampiri, mengatakan jika deru nafas Baekhyun mengganggu telinganya. Semenjak itu, di manapun, kapanpun, setiap Nyonya Park ada di dekatnya maka Baekhyun akan menahan nafasnya. Jika ia sudah tidak tahan menahan nafas, maka Baekhyun akan masuk ke kamar mandi dan bernafas seperti orang gila.
"Apa yang kau lakukan di sana?"
Baekhyun menoleh dengan wajah horror yang terlihat sangat aneh, membuat Nyonya Park memekik terkejut saat melihat wajah aneh yang diperlihatkan oleh Baekhyun.
"Maaf.. maafkan aku." Baekhyun membungkuk, merasa bersalah. Lalu ia teringat jika Nyonya Park tidak menyukai deru nafasnya, dengan cepat Baekhyun menahan nafas.
"Lain kali.. lain kali jika kau menunjukkan wajah aneh mu itu lagi aku bersumpah akan menyiram wajahmu dengan minyak panas agar semakin jelek!"
Baekhyun menganggukkan kepalanya, setelah ia pikir-pikir Nyonya Park lebih mirip psychopath di bandingkan dengan wanita baik hati yang penyang seperti kata Chanyeol.
"Sudah sana ganti bajumu dan bereskan ruangan ini, aku ingin pulang kerumah."
Lagi-lagi Baekhyun hanya menganggukkan kepalanya. Tepat ketika Nyonya Park sudah menghilang dari pandangannya, tubuh Baekhyun merosot hingga terduduk di lantai. Ia menghirup udara dengan rakus, seperti orang yang tidak makan selama tiga hari.
"Sial jika begini aku bisa mati kehabisan nafas!"
Baekhyun menidurkan dirinya di lantai, tak peduli dengan posisinya yang 3 langkah dari pintu. Ia tidak peduli. Yang di pedulikannya saat ini adalah membuat paru-parunya kembali diisi oleh oksigen.
"Apa yang kau lakukan di sana?"
Sontak Baekhyun yang terkejut segera mendudukkan tubuhnya. Ketika mata sipitnya menangkap Chanyeol yang masuk—Baekhyun mengira Nyonya Park yang akan masuk—Baekhyun menghembuskan nafas, ia sangat lega saat mengetahui itu bukan Nyonya Park melainkan Chanyeol.
"Aku bisa gila jika ibumu yang datang, bung!"
Chanyeol mengernyit kebingungan. "Bukannya kau memang sudah gila sebelum ibuku datang?"
Baekhyun mendelik kesal, "Sialan!" umpatnya pelan. Jika tidak ingin apa posisinya di tempat ini dan jika ia tidak ingat dengan aksi balas dendamnya mungkin Baekhyun sudah menendang laki-laki di hadapannya.
"Kau sudah membereskan rumah? Jangan lupakan tugasmu! Jangan keasikan dengan peranmu sebagai kekasihku! Ibuku sudah tidak ada jadi kembali ke habitatmu."
Baekhyun mendengus kesal. "Keasikan apanya!? Ada atau tidak ibumu, aku tetap menjadi babu di tempat ini!"
Kedua sudut bibir Chanyeol tertarik keatas, membentuk senyuman lebar yang terkesan kekanak-kanakan. Baekhyun yang melihat sempat tertegun sesaat, hanya sesaat, karena perkataan yang keluar dari mulut Chanyeol menyadarkan dirinya jika laki-laki di hadapannya adalah reinkarnasi dari Firaun.
"Sungguh? Itu bagus, status babu itu memang sangat cocok untukmu. Setelah membersihkan rumah, cuci pakaianku lalu kirim barangku ke kantor pos."
###
Matahari tepat berada di atas kepala ketika Baekhyun melangkah keluar dari gedung apartment Chanyeol. Tubuhnya yang pendek itu sepenuhnya tertutup dengan kain berwarna abu-abu untuk bagian atas dan biru gelap untuk bagian bawah, tetapi tetap saja kulitnya terasa seperti akan hangus.
"Sibodoh itu! Menyuruhku untuk mengirim ini saat matahari berada di atas kepala! Apa dia gila!?" bibir tipisnya terus mengeluarkan kata-kata umpatan untuk orang yang menyuruhnya. "Sial! Jika seperti ini dalam hitungan detik aku akan hangus!"
Baekhyun memperlebar langkah kakinya, sesekali ia akan mengumpat kecil saat orang yang berlalu lalang tak sengaja menabrak tubuhnya.
"Argghh!"
Baekhyun menghentikan langkah kakinya, ia menengok ke sumber suara. Matanya seketika melebar ketika melihat seorang pria tinggi, kulit pucat, jatuh dengan wajah lebih dulu mencium jalan. Karena Baekhyun itu jiwa sosialnya tinggi, maka dengan secepat kilat ia menghampiri si pria.
"Kau baik-baik saja Tuan?" Baekhyun bertanya setelah membantu pria itu berdiri.
"Aku oke," pria itu tersenyum. "Terima kasih." Pria itu tersenyum dengan tampannya, membuat Baekhyun yang awalnya terasa kepanasan, mendadak merasa kedinginan.
"Sa-sama-sama.."
"Sebagai ucapan terima kasihku, maukah kau ikut makan siang dengan ku?"
Baekhyun mengangguk dengan semangat. Siapa yang akan melewatkan makan siang gratis bersama pria tampan? Baekhyun yakin jika ada prang yang menolak makan gratis dengan pria tampan maka orang itu sangatlah bodoh. Sangking semangatnya, ia bahkan melupakan tujuan utamanya.
"Namaku Sehun omong-omong, siapa namamu?"
"Baekhyun, Byun Baek Hyun."
###
Chanyeol gelisah, berulang kali ia membenarkan posisi duduknya agar mendapat posisi yang nyaman namun tetap saja berujung ia akan bergerak gelisah di atas tempat duduknya. Matanya berulang kali melirik jam yang ada di ujung kanan laptopnya. Pria tinggi itu mendesah kesal, pasalnya pembantunya yang bodoh itu belum pulang sejak keluar dari rumah 3 jam yang lalu. Seingatnya, ia tidak memerintahkan hal aneh-aneh pada Baekhyun. Ia ingat jika ia hanya menyuruh Baekhyun untuk pergi ke kantor pos, mengirim barangnya. Tapi kenapa sampai saat ini laki-laki pendek itu belum juga kembali?
"Aish! Menyusahkan saja!" kesalnya.
Ia berjalan keluar dari kamar, berniat untuk pergi mencari pembantunya. Namun baru saja ia melangkah keluar dari kamar, pintu apartementnya terbuka dan muncul lah sosok yang sedari tadi membuatnya cemas.
"Dari mana saja kau!?" yang ditanya hanya menundukkan kepala, takut untuk menatap mata si penanya. "Aku bertanya padamu Baekhyun."
"A-aku, melakukan apa yang kau perintahkan tadi. Kau menyuruhku untuk mengirim barang kan?"
"Ya aku, tetapi aku hanya menyuruhmu untuk mengirimi barang bukan untuk singgah ke tempat lain setelah mengirim barang!" bentak Chanyeol.
Baekhyun terlonjak kaget mendengarnya, ia bahkan sampai harus melangkah mundur sangkit terkejutnya mendengar bentakkan Chanyeol. Bukannya merasa bersalah seperti yang seharusnya, Baekhyun malah merasa dongkol pada atasannya itu. Ia merasa jika Chanyeol tidak menghargai usahanya yang sudah berjuang di bawah sinar terik matahari yang menyengat, malah tidak diberikan ongkos untuk naik taxi!
"Ada apa dengan ekspresmu itu?" Chanyeol bertanya, tak senang melihat ekspresi yang Baekhyun perlihatkan untuknya. "Kau tak suka jika kumarahi!? Maka dari itu jangan buat kesalahan!"
Setelah Chanyeol masuk kedalam kamarnya Baekhyun menatap pintu kamar itu sengit, ia sungguh-sungguh kesal. Berutung adiknya yang bodoh itu tidak menjadi kekasih Chanyeol, jika benar mereka menjalin hubungan, Baekhyun yakin tak sampai satu minggu mereka sudah mengakhiri hubungan mereka.
"Dasar tiang listrik sialan! Ia pikir tidak lelah apa!? Lihat kulitku! Menghitam!"
Otaknya mulai berpikir, mencari cara agar dapat membalaskan dendamnya serta adiknya. Lalu tiba-tiba kalimat Luhan tadi pagi melintas di kepalanya, Baekhyun menyeringai, di dalam hatinya ia tertawa jahat seperti di film.
"Lihat saja kau Park! akan ku buat kau merasakan bagaimana itu neraka!"
"HAHAHAHAH!"
"HAHAHAH!"
"HAHAH!"
"HAHA!"
"HA!"
Baekhyun mulai gila -_-
###
Chanyeol menatap makan di hadapannya dengan pandangan menyelidik, ia curiga, entah kenapa perasaannya mengatakan jika makanan di hadapannya adalah jelmaan setan. Terlebih yang membeli makanan itu adalah jelmaan setan—menurut Chanyeol—alias Byun Baek Hyun.
"Kau yakin makanan ini selamat?" Chanyeol bertanya. Baekhyun menganggukkan kepalanya semangat, senyum lebar masih setia terpampang pada wajahnya. Tadi sekitar pukul 6, Chanyeol menyuruhnya untuk membeli makan malam dan Baekhyun pun bergegas pergi untuk membelinya, hal itu membuat Chanyeol keheranan karena biasanya seorang Byun—setan—Baekhyun akan sangat susah disuruh. Butuh proses yang panjang untuk menyuruh Byun—setan—Baekhyun, bahkan hanya sekedar memindahkan kotak tisu yang ada di kursi ke meja.
"Kau," Chanyeol menjeda kalimatnya. "Sungguh, sungguh yakin akan hal itu? kau yakin makanan ini benar-benar selamat?"
Baekhyun memutar bola matanya malas, ia melipat tangannya di depan dada dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi di belakangnya. "Apa menurutmu aku berbohong? Apa menurutmu wajah seperti malaikat ini bisa berbohong?" ia menunjuk-nunjuk wajahnya.
Kali ini giliran Chanyeol yang memutar bola matanya malas. Dengan ragu ia menyuap satu sendok nasi goreng yang warnanya merah terang itu kedalam mulutnya. Matanya terpejam ketika mengunyah, lalu ketika merasa nasi itu aman, ia kembali menyuap makanan itu kedalam mulutnya hingga pada suapan ketiga ia merasa jika bibir dan perutnya terasa begitu panas. Keringat mulai membanjiri kening dan tubuhnya. Entah kenapa nasi goreng yang ia makan semakin lama terasa semakin pedas. Seingatnya ia mengatakan pada Baekhyun bahwa ia tidak ingin nasi goreng yang pedas.
"Kenapa Tuan?" Baekhyun bertanya dengan wajah polosnya.
"Ke-kenapa ini pedas?" ia bertanya sambil sesekali menghapus peluh yang membanjir di sekitar kepalanya.
"Sungguh? Padahal aku memesan nasi goreng yang tidak pedas, apa paman yang menjualnya salah membuat ya/"
Detik itu juga Chanyeol bangkit dari duduknya dan melesat pergi ke kamar mandi. Dari dalam kamar mandi dapat terdengar teriakkan membahana dari sang majikan dan itu membuat Baekhyun yang masih setia duduk di kursi meja makan tertawa senang. Bahkan ia sampai memukul-mukul meja karena merasa lucu.
"Ini belum seberapa Park Chan Yeol, lihat saja nanti!" ucap Baekhyun sambil mengeluarkan botol kecil yang berisikan lada hitam dari saku celananya.
TBC
.
.
.
.
[A/N]
Hellow^^ jangan lupa review ya^^
Thanks for,
, 9292, LUDLUD, randommedy, jempolnya PCY, Chanyeoltidakmesum, jiellian21, Park RinHyun-Uchiha, ssuhoshnet, Hyera832, Chel VL, yousee, Istri Park Ganteng Chanyeol, Loyh, Babyxie, Baekhyun Cantik, khusnulkhatimah92, CB046194, Guest (makasih ya sarannya^^), sehunboo17, parkbaexh614, myzmsandraa99, cchii, RedCherry yeoliie, parkbyunxo, junghesuna.
.
.
.
Omake
"Chanyeol itu tidak kuat pedas, jika ia menyuruhmu membeli nasi goreng untuk makan malam taburi saja lada banyak-banyak di makanannya!"
"Dari mana kau tau nanti Chanyeol akan menyuruhku membeli nasi goreng?" Baekhyun bertanya, menatap curiga pada temannya yang juga memiliki wajah cantik.
Ditatap seperti itu, mau tak mau membuat Luhan gugup. Laki-laki berdarah asli China itu membuang wajahnya kesembarang arah, tak ingin membalas tatapan mengerikan yang dilayangkan Baekhyun untuknya. "A-aku tau! A-aku pernah membaca fakta tentang Chanyeol di salah satu blog yang ada di internet!"
Baekhyun masih menatap temannya curiga, sejujurnya dari awal ia sudah menaruh curiga pada Luhan karena tiba-tiba saja ia bisa tau apapun tentang Chanyeol. "Sungguh, sebenarnya dia itu artis atau penulis kenapa fakta tentangnya bermunculan di internet?"
Luhan yang masih gelapan menaikkan kedua bahunya acuh, "Mu-mungkin karena penulis sekarang tampan seperti idol jadi fakta kehidupan mereka dimuat di internet."
"Aneh, tapi akan ku coba."
Luhan menghembuskan nafasnya lega tepat setelah Baekhyun pergi meninggalkan kelas. "Hampir saja," gumamnya.
