Author : Yuri Masochist or Han Youngra
Title : The Time: July 7th, 2012
Cast :
+ Main Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun), Se7en (masih bingung ni orang masuk maincast apa kagak)
+ Other Cast : Yunho, Taemin, Jungmo, Junsu, Junho (kembaran Junsu), KiVin (KiseopxKevin), HanChul, Eunhyuk, Shindong, Minho, OnKey, Baekhyun, Henry, Soohyun
+ Cameo : Ryeowook, Siwon, Jonghyun, Leeteuk, Yesung, Eli, T.O.P, GD, Kangin, Sooman, Jay, Seungri, Daesung, Alexander, SooSun (SooyoungxSunny), YulSic (YurixJessica), YoonSeo (YoonaxSeohyun), Narsha, Thunder, Mir, Joon
+ Say 'Goodbye' to : Sungmin, Donghae, Kibum, Kai, Zhoumi, Jaejoong and who's next?
[DBSK | Super Junior | SHINee | TRAX | Big Bang | U-Kiss | Se7en | MBLAQ]
[SNSD | B.E.G]
Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror
Rated : PG-15 | T semi M deh untuh semua chap~
Type : Yaoi
Length : Chapter
Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!
Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!
A/n : CHAPTER 7 ohohohooh tebak siapa yang matiiiiiii~
.
.
.
.
The Time: July 7th, 2012
.
Satu jam menjelang pukul 00:00
Yunho berjalan tergesa di koridor rumah sakit. Matanya terarah ke berbagai nama di pintu, hingga pada akhirnya dia menemukan satu dan membukanya secara cepat. Di dalamnya, Yoochun tengah berkutat dengan ponselnya. Dari raut wajahnya terlihat khaawatir.
"Dimana Changmin?" tanya Yunho.
Yoochun melirik ke arah pintu dan kembali pada handphone-nya.
Yunho menutup pintu dan mengusap wajahnya. "Sialan."
"Fuck!" Yoochun membanting handphone-nya ke meja. "Tidak aktif. Dimana dia terakhir kali?"
"Tadi pagi masih bertemu denganku disini. Aku terlalu sibuk dengan pengeboman pesawat tadi, dan lupa kalau sebentar lagi tanggal 7 Juli." Yunho menatap jam dinding. "Dan aku tidak menemukan Changmin dimanapun."
Yoochun melirik ke arah Yunho. "Dimana Taemin? Apa di rumah?"
"Tadi aku suruh Ryeowook menjemput kesini, dan mereka pulang. Tapi jam delapan tadi kusuruh kembali ke rumah sakit."
"Untuk?" Yoochun berdiri dari duduknya dan melepas jasnya.
"Berjaga-jaga. Kuharap orang-orang yang kusayangi tidak berpencar mendekati tanggal terkutuk itu."
"Sekarang dimana mereka?" Yoochun membenarkan jam tangannya dan meraih kunci mobilnya.
"Tidak tahu, mungkin di kamar rawat Junsu." Yunho mendelik ke arah Yoochun. "Mau kemana?"
"Mencari Changmin, tentu saja."
Yunho menahan tangan Yoochun. "Jangan!"
"Sialan!" Yoochun menarik tangannya dari Yunho secara kasar. "Aku perlu mencari kekasihku!" bentaknya. Dan setelah itu menarik napas panjang.
Yunho mendesah berat setelah itu. "Aku tahu kau sangat menghawatirkan Changmin. Tapi apa yang harus kita lakukan sekarang? Changmin pergi entah kemana sedangkan sekitar satu jam lagi akan ada yang mati. Bisakah kita pergunakan waktu untuk mencari cara untuk mencegah kematian?"
Yoochun menggeleng pelan. "Bagaimana kalau itu—"
"Changmin? Dia tidak mungkin mati."
Yoochun mendecih. "Dia punya kemungkinan untuk mati! Aku harus mencarinya!"
Yunho memutar kedua bolamatanya dan membuka pintu. "Bawa handphone-mu, kunci mobilmu dan semua. Sekarang ikut aku."
Yoochun hanya mengikuti apa yang diucapkan Yunho. Ia mengikutinya setelah Yunho keluar dari ruangan. Yunho menutup pintu dan berjalan ke satu lantai di bawah lantai ini. Yoochun masih mengikutinya, sampai akhirnya mereka masuk ke dalam ruangan rawat Junsu.
Junho yang tengah duduk di sofa menatap keduanya.
"Ada apa?" tanyanya.
Taemin segera berhambur ke arah Yunho. Yunho segera mengangkatnya lalu menggendongnya.
"Kenapa disini?"
"Aku yang minta." kata Junsu. Mengusap kepala Baekhyun yang berdiri di sisi ranjang.
"Junsu ingin kita semua berkumpul. Ia khawatir terhadap Changmin dan hari esok." ucap Junho. Lalu menatap Yoochun dan Yunho. "Dimana dia?"
"Itu yang berusaha kita cari." jawab Yoochun.
Di ruangan itu, tujuh orang begitu gelisah—termasuk Ryeowook yang berada di sana menemani Taemin. Yoochun hendak melangkah keluar, namun Yunho menahannya.
"Apa lagi?"
"Diam disini." jawab Yunho.
Yoochun memutar kedua bolamatanya.
"Jangan pergi, Yoochun." ucap Junsu pelan, dan setelah itu mendapat lirikan tajam dari Junho. "M-maksudku aku ingin semuanya berkumpul seperti ini. Mungkin Taemin—oops..."
Yunho dan Yoochun segera mengarahkan pandangan mereka secara kaget ke arah Junsu. Mereka menatapnya dengan satu pertanyaan yang sama.
"Ada apa dengan Taemin?"
Junsu menggeleng pelan dan menutup mulutnya.
Yunho berjalan ke arah Junsu dan berniat untuk bertanya lagi. Namun Junho segera berdiri dan menahan langkah Yunho.
"Berhenti tekan dia."
Yunho menatap Junho sedikit geram. "Aku perlu tahu, apa yang akan terjadi pada anakku!"
"Bukan apa-apa. Tadi Taemin bercerita sedikit. Mungkin dia yang akan mati beberapa menit lagi."
Taemin meremas bahu Yunho. Anak kecil itu menyembunyikan wajahnya disana. Yoochun mendekat, sedikit berlari ketika melihat Yunho hampir melayangkan pukulan ke arah Junho.
"Tolong, jangan bertengkar." Yoochun membuang pandangannya ke bawah, geram. Menahan diri untuk tidak memukul Junho. Ia harus menjadi penengah disini.
Yunho mendesah berat. Dia berjalan menjauh, bersama Taemin yang masih berada di pangkuannya. Tangannya mengusapi punggung anaknya. Ryeowook berjalan mendekat, berniat untuk menggendong Taemin namun Yunho mengibaskan tangannya, ia hanya ingin mendekap anaknya.
"Taemin takut..."
Yunho mempererat gendongannya, merasakan tubuh Taemin bergetar.
"Ssh, semua akan baik-baik saja..." ucap Yunho perlahan.
Taemin meremas bahu Yunho semakin keras. "C-Changmin hyung..."
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Yoochun, mengarahkan pandangannya ke sekitar, melihat jam dinding yang hampir menunjukkan pukul duabelas tepat.
"Menunggu ada yang mati."
Lagi-lagi ucapan Junho membuat Yunho hampir tidak bisa menahan amarahnya. Yoochun mendorong bahu Yunho keras ketika namja itu berjalan tergesa ke arah Junho.
"Aku mohon, jangan membuat keributan." ucap Yoochun penuh penekanan.
"Jadi kita harus apa? Diam?" tanya Yunho geram.
Yoochun mendesah berat. "Ya, kita harus diam dan berdoa. Aku berharap Changmin-ku selamat. Sudah tidak ada waktu untuk pergi."
Junsu melirik ke arah Yoochun setelah kalimat itu terlontar. Ia mendesah pelan, menunduk dan kemudian menggigit bibir bawahnya.
Aku mati sekarang juga tidak apa. Ternyata aku masih mengharapkan dia untuk jadi... ayah dari Baekhyun.
.
.
The Time
July 7th, 2012
A Nonsense Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"
Time to Play
.
.
.
Saturday
July 7th, 2012
12:00 AM
Yoochun menatap jam dinding dengan begitu khawatir. Menunggu detik-detik menuju kematian. Entah siapa yang harus pergi, ia berharap bukan salah satu yang berada disini. Tetapi satu masalahnya, Changmin tidak sedang bersama mereka sekarang.
Ia menatap layar handphone-nya. Sama sekali belum bisa menghubungi Changmin.
Yunho hanya diam di sudut, masih menggendong Taemin yang ketakutan.
"Appa... Taemin takut..." Taemin berbisik di bahu Yunho.
Yunho memeluknya erat. Takut kejadian bulan lalu menimpa kembali keluarganya. Takut yang terambil adalah salah satu dari yang ia sayang.
Tetapi sepertinya, Dewa Kematian sudah menentukan siapa.
"Appa mencintaimu, Taemin."
Junsu memeluk Baekhyun yang duduk di sampingnya. Junho memperhatikan gerakan semua orang sedangkan Ryeowook hanya diam tidak mengerti.
Dan tanpa sadar, satu orang dari mereka telah menutup mata terlebih dahulu.
Hanya... satu detik.
Dan ketika terbuka...
...semuanya berubah.
Kim Junho terduduk di hamparan tanah gersang tanpa melihat satupun tanda kehidupan. Tak ada satupun pohon yang lebat, hanya ada pohon-pohon mati, ranting-ranting kering. Tak ada air. Tak ada warna lain selain coklat yang mendominasi segalanya. Tak ada cahaya matahari sama sekali. Namun langitnya tidak segelap malam. Hanya gelap, mendung, penuh dengan awan hitam. Sungguh, semuanya terlihat sangat mengerikan.
Dan... kenapa dia berada disini?
Dimana yang lain? Dimana semuanya?
Junho masih menatap sekitar dengan mata yang membulat. Ia berdiri perlahan dan menatap ke depan.
Apa ini... yang menimpa Junsu waktu itu? Yang ia ceritakan... tetapi tidak pernah sampai selesai?
Apa ini... tempat permainan dari Dewa Kematian yang hampir merenggut nyawa saudara kembarnya?
"J-Junsu..."
Dia memanggil nama saudara kembarnya dengan perlahan. Tetapi tidak ada jawaban. Hanya angin yang membuatnya bergidik karena dingin. Yang membuatnya takut disini.
Apa dia bisa selamat seperti Junsu?
Apa yang Junsu lakukan waktu itu?
Sial! Junsu tidak pernah memberitahunya!
"Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Saturday
July 7th, 2012
01:00 AM
Junho memulai langkahnya dengan perlahan di tempat yang begitu asing untuknya. Pandangannya tidak bisa diam. Ia waspada. Ia mengamati seluruhnya, walau yang ia lihat hanyalah pohon-pohon mati itu dan juga hamparan tanah yang gersang.
Junho menaikkan wajahnya, menatap langit-langit. Mungkin ada sedikit pencerahan, tetapi yang ia temukan adalah... nihil.
"Okay! Aku tidak punya waktu untuk permainanmu! Sekarang tunjukkan dirimu dan kita bertarung sekarang!"
Saturday
July 7th, 2012
02:00 AM
Junho menendang satu ranting yang berada di dekat kakinya.
Ia menggeram. Kesal. Sangat marah mendapati keadaannya sekarang. Ia benar-benar tidak tahu berada dimana dan tidak tahu dengan apa yang harus ia lakukan sekarang.
Apa yang Junsu lakukan waktu itu?
Junho berhenti berjalan dan terdiam. Mungkin ia bisa merasakan apa yang saudara kembarnya rasakan saat itu. Mungkin ia dapat mengambil jalan yang sama dengannya.
Feeling dua manusia kembar. Perasaan mereka pasti akan serupa.
Semoga saja.
Saturday
July 7th, 2012
03:00 AM
"Uhuk!"
Junho menekan dadanya ketika merasakan sakit disana. Ia sedikit menunduk, terbatuk lagi beberapa kali dan mulai memukuli dadanya.
Ada apa ini?
Apa ia lakukan hal yang salah?
Junho terbatuk lagi hingga merasakan sakit yang luar biasa pada telinga kirinya. Semuanya berdengung, seperti menusuk gendang telinganya. Sakitnya terlalu membuatnya tidak tahan. Matanya terpejam rapat. Ia terduduk perlahan, masih berupaya untuk membuat dadanya dan telinganya seperti semua.
Sialan, Dewa Kematian itu berusaha menyiksaku.
Saturday
July 7th, 2012
04:00 AM
Junho menggeram. Sakit yang di dapatnya begitu membuatnya sakit hingga ia tidak tahan. Tubuhnya terjatuh ke tanah.
Ia merasakan ada sesuatu yang menyeruak, berusaha keluar dari dalam kerongkongannya. Masih dengan terbatuk, jari Junho masuk ke dalam mulutnya. Berusaha membantunya untuk mengeluarkan sesuatu yang membuatnya tersedak. Sakit. Junho menarik sesuatu dari dalam mulutnya keluar.
"A-akh..."
Gumpalan rambut kasar. Bersatu dengan darah. Menusuk tenggorokkannya.
Junho membelalak kaget.
Bersamaan dengan sesuatu yang keluar dari telinganya yang berdengung. Seekor kelabang.
Junho menjerit, berusaha menenangkan dirinya.
Saturday
July 7th, 2012
05:00 AM
"Sialan!"
Junho menggeram dan menginjak kelabang yang berjalan di sekitar kakinya. Dia masih terbatuk kecil, mengeluarkan sedikit darah dari dalam mulutnya. Matanya mengarah pada gumpalan rambut yang berada sekitar tigapuluh senti dari jarak pandang matanya.
"Aish! Pengecut! Tunjukkan saja dirimu sekarang!"
Junho memekik keras. Dia memukul tanah dan mengerang.
"Sekarang apa? Hal seperti itu tidak akan membuatku takut!"
Saturday
July 7th, 2012
06:00 AM
Junho berdiri lagi dan memilih untuk kembali berjalan.
Terlalu hening. Di sekelilingnya terlalu hening. Dia masih menepuki dadanya yang masih sedikit terasa sakit dan telinganya. Sampai akhirnya langkahnya kembali terhenti ketika ia merasa menginjak sesuatu.
Tanpa basa-basi Junho segera mengarahkan pandangannya ke bawah.
Rambut. Rambut yang terurai panjang. Ia menginjaknya.
Junho menelan ludahnya kasar dan memperluas jarak pandang matanya.
Di hadapannya, seseorang dengan posisi merangkak menatapnya dengan tajam dari sela-sela rambut yang hampir menutupi seluruh wajahnya. Matanya merah, berdarah, terlihat jelas oleh Junho bahwa mata itu menatapnya tajam. Kulitnya keriput, berwarna kehitaman, terlihat luka bakar di beberapa bagian. Kukunya panjang sekitar lima senti, menancap di tanah seperti harimau yang siap menerkam.
Junho menarik kakinya.
"S-siapa kau?"
Saturday
July 7th, 2012
07:00 AM
Makhluk aneh berambut panjang itu masih menatapnya tajam. Perlahan kukunya menggaruk tanah sedikit, seperti bersiap untuk menerkam.
Tanpa berpikir apapun, Junho memilih untuk berlari.
Okay, pengecut memang, tapi makhluk itu sangat jelek.
Junho berlari dan makhluk itu mengejarnya dengan posisinya yang merangkak. Junho bersyukur dia atlit lari di sekolahnya dulu, tetapi tetap saja, makhluk itu merangkak dengan sangat cepat.
Sial, sial, sial.
Makhluk itu menjerit—mungkin berteriak—namun hal itu membuat Junho menutup telinganya. Terlalu memekakan telinga. Sakit.
Dan hal itu membuat Junho lengah, makhluk itu berhasil melompat ke arah tubuh Junho dan menerkamnya hingga terjatuh.
"Argh!"
Saturday
July 7th, 2012
08:00 AM
Sebelum Junho hendak berteriak, makhluk itu segera mencakari punggung Junho seperti kucing. Berkali-kali, berulang-ulang. Terlebih di tempat cakaran yang sama.
"A-argh!"
Saturday
July 7th, 2012
09:00 AM
Junho membalikkan tubuhnya dengan kasar dan dengan tenaga yang ia miliki. Bajunya sobek di beberapa bagian. Bersatu dengan darah, potongan kain menempel pada luka. Junho melihat sekitar untuk membunuh makhluk itu, namun tak ada yang bisa digunakan. Akhirnya ia memilih untuk meraih rambut dari makhluk itu dan menariknya kasar.
Srett..
"Kkiaakkk!"
Makhluk itu menjerit keras, sangat memekikan telinga, bersamaan ketika Junho menarik rambut kasar itu hingga terkelupas dari kulit kepala keriputnya.
"Mati kau!"
Saturday
July 7th, 2012
10:00 AM
Junho merasa bahwa ia telah berhasil membunuh makhluk itu. Tidak demikian, tangan berkuku tajam milik makhluk itu marik kaki Junho dan menusukkan kukunya disana.
Junho menjerit keras, bersamaan ketika datang lagi dua makhluk serupa dari arah kanan dan kirinya.
"Oh shit..."
Saturday
July 7th, 2012
11:00 AM
Kedua makhluk itu merangkak cepat ke arah Junho. Junho berusaha menginjak makhluk yang masih menusukkan kukunya pada kakinya dengan kaki lainnya. Menginjak kepalanya yang hampir tidak memiliki rambut dan membuatnya hancur. Menginjaknya berkali-kali, menyatu dengan darah milik mahluk itu. Membuatnya hancur seperti bubur.
Makhluk itu menjerit kesakitan, Junho berhasil melepas kakinya.
Ia berusaha untuk tidak menghiraukan rasa jijik dan mualnya.
Junho memilih untuk berlari, sebelum dua makhluk lainnya berhasil menangkapnya.
Saturday
July 7th, 2012
12:00 PM
"Agh!"
Junho menjerit, merasakan lagi sakit di dadanya. Tangannya menepuki dada dengan keras, berusaha melawan sakitnya. Langkah kakinya tetap cepat. Tidak peduli akan rasa sakit di kakinya. Tetapi berusaha untuk membuat dadanya baik-baik saja.
Apa Junsu merasakan ini waktu itu?
"Ukh..."
Junho melirik ke belakang, melihat dua makhluk itu berebut untuk menjadi yang di depan. Berebut untuk menerkam dirinya. Dan dari kejauhan ia lihat, makhluk yang sudah ia injak-injak tadi kembali bangkit, merayap dengan beberapa bagian kepala yang masih menyatu dengan lehernya. Menjuntai dengan darah dan sisa rambut.
Dia masih hidup!
Junho meremas dadanya dan meringis.
Sial, sial, sial! Sakit sekal!
"Uhuk.. uhuk..."
Junho merintih lagi dan memasukkan jarinya ke dalam mulutnya. Merasakan ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. Ia menariknya keluar.
Saturday
July 7th, 2012
01:00 PM
Helaian rambut kusut keluar dari dalam mulutnya.
Mata Junho membulat. Masih berusaha menarik rambut itu keluar, terlalu panjang. Kakinya berdenyut sakit, namun ia masih berlari kencang. Dia terbatuk, berkali-kali, terlalu sering, seiringan dengan rambut itu.
Dan sesuatu lebih membuatnya kaget.
Diantara helaian-helaian rambut itu, terdapat beberapa kelabang dan belatung yang menggeliat karena terbelit, menyatu dengan darah. Junho terbatuk. Masih menarik rambut yang belum terlihan ujungnya.
"Uhuk! Uhuk..."
Saturday
July 7th, 2012
02:00 PM
Bruk!
Salah satu makhluk berhasil mencapai Junho dan menerkamnya dari belakang, sama seperti sebelumnya. Junho terjatuh, membentur tanah dengan sangat keras. Membuat jarinya menusuk sendiri ke dalam tenggorokkannya.
Srk!
Sakit...
Junho masih terbatuk, menatap tanah, matanya memerah. Dia menarik jarinya dari dalam mulut. Kukunya benoda darah, ada beberapa helai rambut yang menyangkut. Sedangkan rambut beserta beberapa kelabang dan belatung itu masih menggantung dari tenggorokkannya. Belum keluar sepenuhnya.
Tuhan... dimana Engkau?
Apa yang sebenarnya terjadi disini?
Saturday
July 7th, 2012
03:00 PM
Junho terbatuk, merintih dalam sakit. Hampir tidak bisa bernapas, mulutnya tersendat. Makhluk yang menerkamnya meletakkan jarinya di kepala Junho. Lidahnya terulur, panjang sekali dan kemudian menjilati tengkuk leher Junho, menyisakan banyak saliva berwarna kuning.
Satu makhluk serupa sampai disana dan merangkak ke depan Junho. Satu makhluk lagi yang kepalanya sudah hancur juga sampai, merangkak mengelilingi Junho dan dua makhluk lainnya.
Mata Junho benar-benar memerah. Ia hampir tidak bisa bernapas. Jarinya berusaha menggapai rambut yang menjuntai dekat ujung bibirnya, berusaha menariknya lagi. Sangat sakit. Rambut dari dalam tenggorokkannya bergesekkan dengan luka yang disebabkan oleh jarinya.
Junho merintih dengan lemah.
"Uhuk..."
Makhluk satunya yang berada di depan Junho itu mendekat. Ikut menjilati Junho—namun pada telinganya—dan ikut menyisakan saliva kental berwarna kuning.
Saturday
July 7th, 2012
04:00 PM
Krak!
"Ghh!"
Junho menjerit kesakitan ketika makhluk itu menggigit telinganya, tidak semuanya putus namun setengah bagian dari daun telinganya tergigit dan sobek. Makhluk itu menarik gigitan secara kasar dan mengunyahnya. Membiarkan saliva membasahi sekitar mulutnya yang rusak.
Junho tidak sadar ada setetes air mata jatuh dari dalam matanya.
Sakit sekali dan ia kesulitan untuk bernapas.
Saturday
July 7th, 2012
05:00 PM
Kelabang dan belatung itu menggeliat di sekitar rambut yang menjuntai dari mulut Junho, dan juga di sekitarnya. Berbalut darah dan helaian rambut.
Junho berusaha mengabaikan rasa sakit di telinganya. Mengabaikan pula jilatan menjijikan di sekitar tengkuk lehernya. Jarinya berusaha menarik rambut itu hingga habis. Tetapi sakit. Rambut kasar itu bergesekkan dengan luka dalam mulutnya. Junho merasakan belatung menggeliat di dalam sana, dan kelabang di langit-langit mulutnya yang juga terluka.
"Kkh... uhuk..."
Saturday
July 7th, 2012
06:00 PM
Junho merintih lagi.
Makhluk dengan kepala rusak itu bergerak dekat kakinya. Dia mengarahkan kuku panjangnya kesana, menari-narikan jarinya lalu menusuk lagi ke arah lukanya.
"Ghh!"
Junho bertekad untuk meraih satu cara yang mungkin sangat sakit namun mungkin bisa menyelamatkan nyawanya. Makhluk di atas tubuhnya masih menjilati lehernya dan kemudian menggigitnya.
Krk!
"Aghh!"
Bersamaan dengan itu, Junho menarik kasar rambut dari dalam mulunya hingga keluar semua. Rambut kasar yang membelit banyak belatung dan kelabang. Junho tahu lidah dan rongga-rongga mulutnya, bahkan tenggorokkannya robek. Rambut kasar dan tarikkan dari Junho terlalu kasar dan mengakibatkan luka yang besar.
Junho merintih, berusaha mengabaikan rasa sakit dan mendorong semua makhluk yang berada di sekitar tubuhnya.
Saturday
July 7th, 2012
07:00 PM
Dia berusaha bangkit. Telinga kanannya berdarah, hilang setengah bagian. Kakinya penuh cakaran, sama seperti punggungnya. Dan sekitar lehernya penuh dengan cairan kental kuning itu. Sekitar mulutnya masih tersisa rambut, ada beberapa belatung yang menempel.
Junho menjerit kesakitan. Berusaha bangkit dan berusaha untuk kembali berlari.
"Tunjukkan padaku, Dewa Kematian! Tunjukkan padaku apa yang kau inginkan!"
Ia berteriak, tidak peduli dengan tenggorokkanyya yang begitu perih.
Saturday
July 7th, 2012
08:00 PM
Ketiga makhluk itu tidak mau menyerah. Mereka kembali merangkak, berusaha untuk mendapatkan Junho terlebih dahulu.
Junho mulai merasakan pusing dan mual. Ia mungkin sudah mulai lemah. Darahnya sudah banyak yang keluar dan sudah banyak pula anggota tubuhnya yang terluka.
Junho sekarang tahu, Junsu pernah merasakan hal ini. Hal sesakit ini.
Junho menggelengkan kepalanya, merasakkan sakit lagi di dadanya.
Jangan lagi... kumohon...
Saturday
July 7th, 2012
09:00 PM
Bruk!
Junho terjatuh, tanpa makhluk itu yang lakukan. Ia kesakitan. Pada dada, dan beberapa anggota tubuhnya.
Sakit sekali... apakah aku akan mati?
Makhluk itu sampai di dekat Junho. Mereka mendekati Junho yang lemah kembali. Dua dari mereka menjulurkan lidahnya dan menjilati Junho, menyisakan cairan menjijikannya.
Saturday
July 7th, 2012
10:00 PM
Junho menepuki lagi dadanya, berharap bukan rambut, kelabang maupun belatung yang keluar dari mulutnya. Matanya sudah sangat memerah, menahan sakit dan perih.
Makhluk yang berkepala hancur mendekati kaki Junho yang terluka dan mencakar lagi.
"Aghh!"
Seakan puas dengan jeritan itu, makhluk itu mengulanginya. Menggoreskan kuku-kuku tajamnya terhadap kaki Junho. Mencakarnya hingga merobeknya.
Junho menggeleng pasrah, menerima rasa sakit dan takdirnya.
Ia akan mati... beberapa saat lagi.
Satu makhluk lainnya menggigit bagian telinga Junho yang masih tersisa setengahnya. Junho menjerit dengan lemah. Ia meremas dadanya hingga terbatuk-batuk kembali.
Saturday
July 7th, 2012
11:00 PM
Junho yang lemah berusaha menggapai lagi sesuatu yang menyeruak ingin keluar dari tenggorokannya. Dengan lemah ia berusaha menariknya, dan yang ia dapatkan adalah beberapa kelabang yang menggeliat.
Sakit... sakit...
Satu mahluk berambut panjang lain mengarahkan kukunya ke kepala Junho. Menariknya keras dan membenturkannya terhadap tanah gersang itu.
Bugh!
Kelabang lainnya berada di mulutnya, tidak keluar. Berputar di sekitar sana, mungkin menggigiti atau mungkin menancap di lukanya.
"J-Junsu... m-mianhae... B-Baekhyun... nhh..."
Dia begitu lemah, hingga tidak kuat untuk membuka matanya. Terkadang tangannya menggenggam, namun itu hanya ketika ia merasakan sakit yang tidak tertahan. Gerakannya tetap lemah.
Aku sudah tidak tahan... mungkin memang harus mati.
Makhluk itu membenturkan kembali kepalanya.
Maaf semuanya...
Makhluk yang menggenggam kepalanya menancapkan kukunya yang tajam dengan sangat keras. Belum membuat Junho mati, hingga satu koyakan tajam menembus tulang tengkoraknya. Bersamaan dengan berhamburan keluarnya kelabang dan belatung lagi dari dalam mulutya.
"Kh.."
Sunday
July 8th, 2012
00:00 AM
"Selamat tinggal Kim Junho. Berbahagialah karena kau adalah salah satu pemain dalam permainan ini."
Dua makhluk yang masih memiliki wajah itu menyeringai, memperhatikan tarikan napas terakhir yang dapat Junho rasakan. Sedangkan satu makhluk lainnya masih tetap mencakari kakinya.
"Selamat tinggal. Selamat bersenang-senang di Neraka."
Dan Tujuh Juli-mu sudah berakhir.
