Author : Yuri Masochist or Han Youngra
Title : The Time: Coma | July 13th, 2012
Cast :
+ Main Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun)
+ Other Cast : Yunho, Taemin, Jungmo, Junsu, KiVin (KiseopxKevin), HanChul, Eunhyuk, Shindong, Minho, OnKey, Baekhyun, Henry, Soohyun
+ Cameo : Ryeowook, Siwon, Jonghyun, Leeteuk, Yesung, Eli, T.O.P, GD, Kangin, Sooman, Jay, Seungri, Daesung, Alexander, SooSun (SooyoungxSunny), YulSic (YurixJessica), YoonSeo (YoonaxSeohyun), Narsha, Thunder, Mir, Joon
+ Say 'Goodbye' to : Sungmin, Donghae, Kibum, Kai, Zhoumi, Jaejoong, Junho, Se7en and who's next?
[DBSK | Super Junior | SHINee | TRAX | Big Bang | U-Kiss | Se7en | MBLAQ]
[SNSD | B.E.G]
Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror
Rated : PG-15 | T semi M deh untuh semua chap~
Type : Yaoi
Length : Chapter
Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!
Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!
A/n : 7C! MAAF, AKU BARU BISA UPDATE u,u
.
.
.
.
The Time: Coma | July 13th, 2012
.
Friday
July 13th, 2012
06:22 AM
Sudah enam hari sejak Changmin koma, belum terlihat tanda-tanda ia akan bangun. Sering banyak yang datang, memberikan rasa simpati mereka terhadap Changmin, mengingat ia baru saja mengalami hal serupa beberapa bulan yang lalu.
Koma. Lalu koma lagi sekarang.
Yoochun terlihat begitu frustasi. Tapi tidak terlalu. Setidaknya, walaupun keadaan Changmin berada di ambang kehidupan dan kematian, setidaknya Yoochun masih melihat dadanya kembang kempis. Changmin masih bernapas. Dan Yoochun cukup lega untuk mengetahuinya.
Yoochun mengurut pelipisnya, memandang layar laptop di hadapannya. Kepalanya sedikit pening, harus memahami ribuan kalimat di hadapannya.
Hendak ia berdiri, suara pintu yang terbuka menghentikan kegiatannya. Ia melihat Jungmo masuk ke dalam kamar rawat Changmin—dimana Yoochun berada—dan menggeleng melihat Yoochun.
"Hei, sudah enam hari tidurmu tidak baik," Jungmo menutup pintu. "Istirahatlah. Aku jaga Changmin."
Yoochun menggeleng dan melepas kacamata yang membingkai matanya. "Aku perlu melanjutkan ini."
"Tentang Kematian Berurut?" Jungmo mendesah dan menghampiri Yoochun. "Sudahlah. Kesehatanmu lebih penting."
"Nyawa orang-orang lebih penting."
"Setidaknya tanggal selanjutnya masih lama." Jungmo menekankan kalimatnya. "Sekarang istirahat. Lupakan tentang omong-kosong-tentang-dewa-kematian-dan-rencananya. Aku ingin kau tidur sekarang. Biar aku yang jaga Changmin."
Yoochun menutup laptopnya sedikit kasar.
"Ayolah Yoochun," Jungmo berdecak. Matanya melirik ke arah Changmin sedikit. "Percuma jika saat Changmin bangun, kau malah di rawat di kamar lain karena kelelahan."
"Tidak akan." Jawab Yoochun. Berdiri dari duduknya di sofa, meninggalkan laptopnya. Ia berjalan melewati Jungmo ke arah Changmin yang terbaring.
Jungmo mendesah berat dan memperhatikan sekelilingnya.
"Yoochun, berhentilah."
Yoochun menunduk dan mengusapi rambut Changmin. Jarinya menyibak poni yang hampir menyentuh kelopak matanya. Yoochun tersenyum pelan.
"Hanya mempersiapkan diri, jika pada kenyataannya, akulah yang diincar oleh Dewa Kematian."
.
.
The Time
... | July 13th, 2012
A Nonsense Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"
Time to Play
.
.
.
Friday
July 13th, 2012
11:01 AM
Jemari kecil milik Taemin menggenggam jemari ayahnya. Ketika dia takut atau hampir tersandung, genggamannya terhadap jari ayahnya menjadi erat. Mata bulatnya melihat ke arah sekitar, mencari sesuatu.
Yunho meliriknya dan tersenyum simpul. Tangannya yang lain memegang sebucket bunga mawar merah.
Ketika melihat tujuannya, senyum Yunho berubah menjadi miris. Tanpa mempercepat langkah mereka, keduanya mengarahkan kaki mereka kesana dan setelah sampai, Yunho segera berjongkok sementara Taemin tetap berdiri.
Yunho meletakkan bucket bunga itu dengan hati-hati di permukaan tanah, dimana istrinya di makamkan.
Taemin melirik Yunho, matanya berkaca-kaca.
"Hei, bagaimana kabarmu?" Yunho menyentuh batu nisan dan tersenyum tipis. "Maaf tidak datang kemarin-kemarin. Aku datang kesini untuk memberi kabar baik dan buruk. Mau dengar yang mana dulu?"
Taemin menatap nisan bertuliskan nama Kim Jaejoong itu.
Yunho menarik napas dalam dan terkekeh pelan. "Okay, aku berikan kabar baik dulu. Kabar baiknya adalah... korban tanggal tujuh bukan seseorang yang kau kenal atau yang kau sayang."
Taemin memilih untuk jongkok, mengikuti ayahnya, dan memeluk kedua lutunya. Dia menggigit bibir bawahnya agar tidak menangis.
"Kabar buruknya..." Yunho menunduk. Jemarinya mengusapi batu nisan. "Changmin... koma lagi sekarang."
Lalu keadaan di sekitarnya menjadi hening. Taemin mengusapkan jari kecilnya ke arah matanya yang mengeluarkan sedikit air mata. Yunho menarik napas panjang.
Sedih. Kecewa. Rindu. Dan takut.
"Seseorang bilang kalau Taemin-lah..." Yunho melirik Taemin yang mulai menangis, lalu kembali menatap makam Jaejoong. "Aku tidak sanggup untuk kehilangan lagi. Kumohon, dapatkah kau melakukan sesuatu untuk menyelamatkan anak kita?"
.:o~o:.
Friday
July 13th, 2012
02:22 PM
Klang!
Kyuhyun menendang sebuah kaleng kosong yang menghalangi langkahnya. Dia menatap langit, terdiam selama beberapa detik lalu terkekeh pelan.
Tangan kanannya meremas beberapa lembar kertas yang sudah ia lipat. Sedari tadi ia hanya membacanya berulang kali. Seperti tidak percaya dan tidak mau menerima.
Dia hamil, okay, ini anak Changmin. Orang yang ia cintai sekarang. Ia senang. Tetapi takut. Takut karena dia adalah laki-laki dan bisa hamil, apa itu akan mengancam jiwanya jika pada saatnya anak itu lahir?
Ia takut ia akan mati.
Tetapi...
Kyuhyun memijat pelipisnya dengan tangan kiri.
Apa yang ia dapatkan sekarang?
Dicampakkan oleh Changmin—mungkin kata itu berlebihan, tapi itulah yang Kyuhyun rasakan. Tapi bukan itu yang membuatnya sangat frustasi sejauh ini.
Dia, enam hari yang lalu mendapat kabar bahwa Changmin meninggal—dari apa yang ia lihat di televisi.
Changmin adalah korban tanggal 7 Juli.
Dan semuanya tamat.
Kyuhyun tidak dapat menaruh harapan dimanapun.
Jadi apa yang harus ia lakukan? Tetap mempertahankan anak ini walau hal itu tidak bisa ia jadikan senjata untuk mendapatkan Changmin kembali?
Kyuhyun membuka kertas yang sudah ia remas lagi perlahan.
Ternyata... ia benar-benar dinyatakan hamil... dan anaknya mungkin akan terlahir tanpa ayah.
.:o~o:.
Friday
July 13th, 2012
03:13 PM
Baekhyun masuk ke dapur sambil menangis. Suaranya membuat seseorang yang tengah membuat puding menoleh dan segera membulatkan matanya. Ia menghampiri Baekhyun lalu menggendongnya secara perlahan.
"Baekhyunie, ada apa?"
Baekhyun masih menangis dan memeluk leher namja pirang itu erat. Namja itu mengusapi punggungnya secara lembut, berusaha untuk menenangkannya.
"Umma... hiks... m-menjerit... aku takut... hiks..."
"Menjerit?" namja itu sedikit panik. "Kenapa dia bisa—ah," lalu ia menepuk dahinya keras. "Ya ampun, apa sekarang tanggal tigabelas? Aku sudah menandainya sebelumnya!"
"Hiks... T-Tao-ge... tolong umma... hiks.."
Namja bernama Tao itu mengangguk pelan dan meninggalkan pekerjaan dapurnya. Ia bergegas menuju sebuah kamar yang jauh dari dapur dengan Baekhyun yang masih berada di pangkuannya.
Tidak seharusnya dia melupakan hari ini. Hari yang selalu menjadi ketakutan untuk namja malang itu.
Jumat, tanggal tiga belas.
Mungkin Junho akan marah jika ia mengetahui ini.
Tao segera membuka pintunya dan mendapati bahwa Junsu tengah berteriak-teriak, menjerit dan melemparkan barang apapun yang berada di dekatnya. Beberapa benda memenuhi lantai, mengenai sebuah kalendar meja yang terjatuh karena lemparan itu.
Tao menarik napas dan menurunkan Baekhyun, menyuruhnya untuk menjauh.
Tao segera menghampiri ranjang—dimana Junsu berada—dan berusaha untuk membuatnya berhenti. Di atas ranjang itu ia melihat ada satu foto yang sudah kusut—seperti telah di remas. Ia mengalihkan perhatiannya terhadap Baekhyun yang masih menangis sambil berdiri di samping pintu.
Ternyata... bukan hanya tanggal dan hari sekarang yang membuatnya seperti ini, ternyata dia masih mengingat ayah dari Baekhyun. Junsu sering seperti ini saat Junho masih hidup, tetapi ketika Junho pergi keluar kota. Junho tidak pernah tahu bahwa Junsu sering mengamuk seperti ini—ia hanya tahu akan mengamuknya Junsu pada Jumat tanggal tigabelas.
Tao tahu pasti. Ayah dari Baekhyun menghianati Junsu dan membuat namja itu sering mengamuk karena frustasi.
"Tuan Junsu... saya mau menawarkan hal ini sekali lagi, apa Anda mau saya melakukan sesuatu pada ayah Baekhyun? Pilihannya masih tetap sama, membuatnya kembali pada Anda, atau membunuhnya?"
Junsu meremas seprai dan berhenti menjerit, lalu menatap Tao.
.:o~o:.
NEXT PLEASE ^^
SORRY, CAN'T SAY A WORDS
