Author : Yuri Masochist or Han Youngra

Title : The Time: A New Guy | July 15th, 2012

Cast :

+ Main Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun)

+ Other Cast : Yunho, Taemin, Jungmo, Junsu, KiVin (KiseopxKevin), HanChul, Eunhyuk, Shindong, Minho, OnKey, Baekhyun, Henry, Soohyun

+ Cameo : Ryeowook, Siwon, Jonghyun, Leeteuk, Yesung, Eli, T.O.P, GD, Kangin, Sooman, Jay, Seungri, Daesung, Alexander, SooSun (SooyoungxSunny), YulSic (YurixJessica), YoonSeo (YoonaxSeohyun), Narsha, Thunder, Mir, Joon

+ Say 'Goodbye' to : Sungmin, Donghae, Kibum, Kai, Zhoumi, Jaejoong, Junho, Se7en and who's next?

[DBSK | Super Junior | SHINee | TRAX | Big Bang | U-Kiss | Se7en | MBLAQ]

[SNSD | B.E.G]

Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror

Rated : PG-15 | T semi M deh untuh semua chap~

Type : Yaoi

Length : Chapter

Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!

Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!

A/n : 7D! MAAF, AKU BARU BISA UPDATE u,u

.

.

.

.

The Time: A New Guy | July 15th, 2012

.

Sunday

July 15th, 2012

10:33 AM

Tao memasuki lobi rumah sakit sembari mendorong Junsu pada kursi rodanya. Baekhyun dititipkan di tempat penitipan anak di dekat rumah sakit—sengaja dibuat khusus untuk para orang tua yang harus menitipkan anaknya agar tidak ikut ke dalam rumah sakit. Kedua matanya mengarah pada sekitar, lalu berjalan ke arah lift dan menuju lantai empat untuk bertemu dengan Soohyun, menemui janjinya.

Tao tahu, ayah dari Baekhyun bekerja di rumah sakit ini. Tao berharap, ia menemukannya.

Lift berdenting dan berhenti di lantai yang di tuju. Tao mendorong kursi roda itu keluar dan menyusuri koridor untuk mencari ruangannya. Baru pertama kali ia mengantar Junsu ke rumah sakit ini, jadi ia tidak tahu persis di mana letaknya.

Setelah mencari beberapa waktu, Tao akhirnya menemukan sebuah ruangan untuk terapi berjalan. Ia segera mengetuk pintunya. Soohyun membuka pintu dan mempersilahkan masuk.

"Janji temunya bukankah dua hari yang lalu? Kenapa di ganti menjadi hari ini?" Soohyun mengambil alih kursi roda Junsu.

Junsu menggeleng pelan dan Tao memilih untuk menjawab.

"Tanggal tigabelas,"

"Ah iya!" Soohyun menepuk dahinya dan menatap Tao. "Aku melupakan hari itu. Oh ya, apakah kau Tao?"

Tao mengangguk perlahan dan menunduk rendah. "Huang Zitao imnida. Pelayan pribadi Tuan Kim Junsu. Senang bisa bertemu dengan Anda, Dokter Soohyun."

Soohyun mengibaskan tangannya. "Tidak perlu terlalu formal." Lalu tersenyum.

Tao menunduk lagi tanpa membalas senyumannya. Bukan maksud untuk tidak ramah, Tao memang seperti itu.

Soohyun mengalihkan perhatiannya, lalu menatap Junsu. "Okay. Junsu, kita mulai terapi sekarang?"

Junsu mengangguk.

Tao masih memperhatikan Soohyun yang mendorong kursi roda Junsu ke arah kiri. Matanya melirik sedikit jam tangannya, lalu kembali menatap Soohyun.

"Dokter Soohyun, bisa saya tahu dimana Dokter Yoochun berada?"

Junsu segera mengalihkan perhatiannya terhadap Tao, bersamaan dengan Tao yang menatapnya. Junsu menggeleng perlahan, mengatakan bahwa ia tidak ingin Tao melakukan itu, walau Junsu mengatakannya dua hari yang lalu.

.

.

The Time

A New Guy | July 15th, 2012

A Nonsense Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"

Time to Play

.

.

.

Sunday

July 15th, 2012

11:11 AM

Yoochun membuka pintu ketika ada yang mengetuk ruang rawat Changmin. Dia melihat Jonghyun, datang dengan sebucket mawar kuning di tangannya. Yoochun tersenyum pelan lalu mempersilahkannya masuk.

"Maaf baru bisa datang hari ini, padahal aku sudah tahu kabarnya sejak sehari setelah kecelakaan."

Yoochun menggeleng dan menutup pintu. "Tidak apa."

Jonghyun berjalan ke arah ranjang, dimana Changmin berbaring disana. Ia meletakkan mawar kuning itu di meja samping ranjang, lalu menatap Changmin. "Maaf kalau mungkin bunga yang aku berikan salah, tetapi setahuku mawar kuning itu untuk kesembuhan. Jadi kuharap kau cepat sadar, Changmin-ah."

Yoochun tersenyum tipis dan menghampiri berjalan ke arah jendela. "Terima kasih, Jonghyun. Maaf karena aku menitipkan Silky terus padamu."

Jonghyun mengibaskan tangannya. "Ya ampun, tidak apa-apa. Untuk apa aku membuka pet shop kalau tidak untuk mengurus binatang?" lalu ia menatap Yoochun yang berdiri, bersandar pada dinding samping jendela.

Yoochun mengangguk, masih tersenyum tipis. Dia melipat kedua tangannya di dada.

Cklek!

Pintu terbuka, keduanya refleks mengalihkan perhatian mereka ke arah pintu. Eunhyuk menatap keduanya lalu menggaruk tengkuknya.

"M-maaf. Kukira tidak ada orang yang sedang menjaga Changmin, jadi aku langsung masuk. Maaf tidak mengetuk terlebih dahulu."

Yoochun menggeleng dan terkekeh kecil. "Tidak apa-apa."

Eunhyuk memperlihatkan senyumnya yang lebar. Dia melangkah masuk dan menutup pintunya.

"Maaf tidak bawa apapun."

Yoochun menggeleng, menandakan bahwa tidak apa-apa.

Mata Eunhyuk mengarah pada Jonghyun kemudian. "Um, hei, Eunhyuk imnida."

Jonghyun menatap Eunhyuk dan mengangguk. "Kim Jonghyun imnida. Teman Changmin."

"Aku juga temannya~." Eunhyuk berseru riang, lalu senyumnya menjadi sedih. Kedua bola matanya mengarah pada Changmin yang terbaring di ranjang dengan mata tertutup. "Ya, aku temannya, yang sangat berharap dia segera bangun."

Yoochun menengadahkan kepalanya dan menatap langit-langit ruangan. Jangan, jangan membuatnya ingin menangis memikirkan keadaan sebenarnya sekarang.

Lihat, banyak yang merindukanmu. Kapan kau kembali, Changmin-ah?

.:o~o:.

Sunday

July 15th, 2012

01:12 PM

"Kumohon Yoochun, kumohon."

Yoochun menggeleng dan memijat pelipisnya. Yunho—yang duduk di hadapannya—hanya menatap Yoochun lalu mengusap wajahnya kasar.

Yoochun tidak bisa melakukan apapun, apalagi untuk mengabulkan permintaan Yoochun.

"Aku hanya ingin kau mengatakan bahwa bukan Taemin pemain utamanya."

"Please, stop!" Yoochun sedikit geram, hampir tangannya memukul meja di kantin rumah sakit itu. "Aku bukan si Dewa Kematian, kenapa memohon padaku? Bukan aku yang menentukan orangnya!"

Yunho mengusap wajahnya kembali, namun gerakannya tidak kasar. Dia menarik napas berat dan menatap kopi yang di pesannya. "Aku hanya ingin mendengar kalimat itu, walau belum terbukti kepastiannya. Setidaknya itu menenangkanku, Yoochun."

Yoochun mendesah dan menatap ke arah lain. Dia tidak berniat untuk bicara.

"Junsu bilang.." Yoochun segera mengalihkan pandangannya ke arah Yunho ketika namja itu kembali bicara dan menyebutkan nama itu. "...pemain utama bukanlah dia yang berperan aktif dalam kematian berurut ini. Entah mengapa, kalimat itu selalu terngiang dalam pikiranku. Apalagi ketika Junsu bilang bahwa firasatnya mengarah pada Taemin, dan ia bilang bahwa pemain utama mungkin harus dibunuh, itu hampir membuatku gila, Park Yoochun."

"Aku juga tidak berperan aktif disini." Yoochun menatap Yunho serius. "Bagaimana kalau misalnya akulah pemain utamanya? Atau mungkin kau? Apa kita harus mati?"

Yunho mendesah, "kalau itu bisa menyelamatkan lima nyawa selanjutnya, aku bersedia. Tapi tidak untuk Taemin."

"Masalah yang kita hadapi sekarang adalah, kita tidak tahu siapa pemain utama disini." Yoochun menekankan seluruh kalimatnya lalu menggertakkan gigi.

"Jadi apa jalan keluarnya?"

"Jangan pernah tanya padaku. Kalau aku tahu, sudah kulakukan sejak awal." Yoochun berdiri dari duduknya. "Kumohon, berhenti untuk sebentar Jung Yunho. Aku benar-benar butuh waktu sendiri untuk memikirkan hal ini." Lalu berjalan keluar kantin.

Yunho menarik napas dan menatap kembali gelas kopinya. Ia mengerti keadaan Yoochun sekarang. Gelisah dan tertekan. Sama seperti dirinya, mengenai anaknya sendiri.

Yoochun berjalan, memasuki lobi dan menuju ke arah lift. Dia menekan tombol enam setelah masuk ke dalam sana. Lift tertutup, membawanya ke arah lantai yang di tuju, namun lift berhenti ketika melewati lantai empat.

Pintu lift terbuka secara perlahan. Yoochun hanya menatapnya acuh, namun matanya sedikit membulat ketika menemukan siapa yang berdiri di balik pintu lift.

Junsu bersama namja lain yang baru pertama kali ia lihat.

Junsu membulatkan matanya, berbeda dengan namja yang berada di belakang kursi rodanya. Matanya menatap dengan tatapan datar, tetapi mengarah pada satu titik.

Name tag di jas bagian dada kiri Yoochun.

Namja itu—Tao—mendorong kursi roda Junsu memasuki lift, seolah tidak tahu bahwa Junsu pernah mengalami trauma untuk melihat sosok Yoochun. Ia menekan lantai dasar, dan seketika pintu lift menutup.

Tidak ada percakapan disana. Hanya hening.

Dari salah satu pemikiran, ia sedang memikirkan bagaimana caranya untuk membuat Tuan-nya senang.

.:o~o:.