Warning! — Lho kok nggak ada disclaimernya? Kan sudah di chap satu untuk mewakili keseluruhan chap— biar nggak buang-buang waktu(?) /dibuang/
Tapi yang jelas chara a/z bukan punya saya okay? *wink*
Special thanks to my daughter Kuramichan
Sebelum membaca ada baiknya kalian kencangkan sabuk pengaman karena saya akan membawa kalian terbang menggunakan Kataphrakt bernama— Penistaan 2.0 KzInB. Selamat menikmati
26 September 1996
"Pertama, selamat bergabung dengan kami anak baru." Avherryl tersenyum memandang Inaho. "Nah, sekarang ayo kita mulai pelajarannya."
Inaho menoleh ke kanan dan ke kiri. Hanya ada dirinya saat ini yang duduk dalam sebuah ruangan super luas bersama seorang wanita yang ia kenal bernama Avherryl Saervelon. Seseorang yang akan menjadi gurunya selama seharian ini.
"Aku akan menjelaskan tentang rumah kita terlebih dahulu, oke, Kaizuka junior?" Avherryl mengedipkan matanya, sedangkan Inaho hanya mengangguk dan menyiapkan peralatan tulisnya.
Avherryl mulai menggambarkan sesuatu pada papan tulis hitam raksasa di hadapan Inaho. Tanpa perlu menunggu gambar— yang astaga... indah sekali itu —selesai, Inaho sudah tahu bahwa goresan kapur putih itu adalah illustrasi rumah mereka. Sebuah puri besar bagaikan di dunia dongeng, dengan empat menara yang mengelilinginya— dengan sedikit jarak sehingga koridor penghubungnya sangat terlihat jelas.
Bendera-bendera berlambang keluarga mereka digambarkan berkibar di tiap-tiap puncak menara. Tak lupa sebuah perisai raksasa— dengan lambang yang sama —juga menghiasi bagian depan puri utama. Inaho Kaizuka terpana oleh gambaran tangan gurunya yang begitu detil tersebut. Bahkan hingga pohon di sekelilingnya dan sungai besar yang berada di depannya pun tak luput digambar olehnya. Inaho bingung— hari ini dia mau belajar dan bukannya sedang menghadiri pameran seni kan?
"Kenapa Kaizuka junior? Terpana, hm?" dan sialnya Avherryl malah menggodanya. "Seperti yang kau lihat, puri kita dikelilingi oleh empat menara. Dan keempat menara itu dipimpin oleh satu herla— akan kujelaskan soal ini nanti —beserta anggotanya. Puri ini juga dibatasi dengan sebuah sungai besar yang dihuni oleh ribuan ikan piranha."
Inaho yang saat itu masih berusia 6 tahun hanya mengerjap membayangkan ribuan ikan piranha terlihat berkumpul saat ia berdiri di dekat sungai— hii... mengerikan. Avherryl menjelaskan secara rinci dan detil soal puri, peraturan tentang anggota dari herla lain tidak boleh memasuki menara lainnya secara sembarangan, sistem-sistem pertahanan yang dipasang, jebakan-jebakan yang ada sepanjang jalan menuju puri, dan lainnya. Inaho menyimak dengan serius, sesekali mencatat yang dirasanya penting.
Setelah puas membicarakan puri dan antek-anteknya, Avherryl beralih menjelaskan soal struktur organisasi dalam dunia mereka— dunia mafia. Ia segera bergeser dan membuat beberapa kotak yang tersusun ke bawah.
"Kotak pertama diisi oleh Don atau Donna Mafia— seseorang yang menjadi pimpinan utama alias boss besar dalam dunia mafia. Dia yang mengatur dan memutuskan segala sesuatunya. Perintahnya adalah hal yang mutlak— sama sekali tidak boleh dibantah." Inaho mengangguk mengerti. "Biasanya seorang boss masih sering bersembunyi dan tidak menampakkan dirinya begitu saja di hadapan anggotanya— kecuali anggota pilihan yang dia percaya sepertiku, misalnya."
"Tapi kenapa?"
Avherryl tersenyum. "Pertanyaan bagus, Kaizuka junior. Itu dilakukan untuk mengantisipasi segala sesuatu kemungkinan yang dapat membahayakan nyawanya."
"Mengantisipasi apa, Saervelon-san?"
"Pengkhianat atau mata-mata. Sekalipun keluarga, ia harus tetap waspada. Dan agar identitasnya— atau bahkan kelemahannya —tidak diketahui ia harus bersembunyi. Bila sang Raja kalah, menurutmu apa yang akan terjadi dengan pion lainnya dalam permainan catur?"
"Mereka juga akan kalah."
"Tepat. Itu sebabnya boss harus selalu waspada. Dunia mafia tidak seaman itu hingga kau bisa berpikir bahwa keluargamu tak kan mungkin berkhianat hanya karena hal sepele seperti uang atau kekuasaan." Avherryl memberi jeda. "Berlanjut pada kotak kedua di bawah boss besar yang juga memiliki kekuasaan terhadap seluruh anggota. Yaitu— orpheus. Orpheus biasanya diduduki oleh keturunan asli boss— atau keturunan pertamanya. Namun bila boss tidak memiliki seorang anak, maka ia harus mengangkat seseorang menjadi anaknya sebagai calon penerus."
"Apa orpheus juga bersembunyi?"
"Biasanya mereka merahasiakan identitas meski mereka selalu tampak berbaur di antara anggota lainnya. Namun ada juga yang secara terang-terangan menampakkan diri, contohnya orpheus kita sendiri, Tuan Putri Nina." Avherryl melirik pintu yang sedikit terbuka— dimana seorang gadis kecil tampak mengintip, namun Inaho tak menyadarinya. "Lalu di tingkat ketiga, keempat kotak ini diisi oleh—"
"Herla yang menjadi pemimpin dalam tiap menara?"
"Aha! Kau benar, Kaizuka junior!" Avherryl tertawa renyah. "Keempat kotak ini memang diisi oleh para herla. Mereka adalah seseorang yang memimpin mafioso-mafiosi lainnya, atau kalau di sekolah biasanya disebut sebagai ketua kelompok. Nah, para herla ini dipilih secara langsung oleh boss maupun orpheus dan ditempati oleh orang-orang jenius juga kuat, mereka merupakan salah satu orang-orang kepercayaan boss dan terkadang menerima langsung misi dari boss. Oh dan tiap herla juga memiliki seorang vice-herla."
"Saervelon-san sendiri berada di posisi apa?"
"Um... aku merupakan anggota khusus yang tidak didata dalam struktur ini atau bisa dibilang aku adalah seorang trissera."
"Trissera?"
"Ya, trissera adalah seseorang yang secara langsung melayani boss— atau bisa disebut tangan kanan juga sih. Sebagai trissera aku biasa menggantikan boss untuk menyampaikan berbagai macam perintah pada setiap anggota."
Avherryl mendekati sang Kaizuka junior lalu mengacak rambutnya. "Oke, pelajaran untuk saat ini telah selesai. Aku memiliki beberapa pekerjaan, setelah itu aku akan kembali mengajarimu sambil berkeliling puri. Mengerti, Kaizuka junior?"
"Mengerti."
23 March 2002
Slaine menendang-nendang batu kecil sepanjang jalan. Rambut pirang nyaris kelabunya tertutupi hoodie jaket hitam berlogo kelelawar yang cukup besar di bagian punggungnya. Ditambah hari ini artinya sudah tiga kali Slaine kabur dari puri. Masa bodohlah, dia ingin berjalan-jalan sedikit kan tidak ada salahnya.
Slaine berhenti, mengambil ancang-ancang lalu menendang batu kecil itu sekeras mungkin hingga melayang tinggi di hadapannya dan—
"Aduh."
—menghantam kening seseorang dengan keras.
Tunggu— tadi serius keras sekali kan Slaine menendang? Apalagi korbannya sampai terjatuh begitu. Tapi kenapa suaranya saat mengaduh datar sekali sih? Seolah ia tidak merasakan sakit sama sekali.
"Ah jeruknya."
Tuh kan datar banget. Ini serius manusia kan yang jadi korbannya? Ah sudahlah, tidak penting. Slaine harus buru-buru meminta maaf— apalagi jeruk-jeruknya jatuh berceceran akibat ulahnya.
"Aku benar-benar minta maaf." ujar Slaine seraya menyerahkan lima jeruk yang ia pungut.
Pemuda yang telah menjadi korbannya berdiri, menerima jeruk-jeruknya. Slaine terdiam— sedikit memandang aneh pemuda tersebut yang berpakaian layaknya seorang pencuri. Maksudnya— halo, siapa sih orang yang mau mengenakan jaket oranye norak, masker, dan topi hitam di hari secerah ini? Kan orang jadi curiga!
"Ah, aku benar-benar min—"
"Lain kali berhati-hatilah, Bat."
Slaine mematung. Tunggu, tadi apa katanya? Dia memanggilnya apa? Bat? Lho, kenapa?
"A-apa maksudmu dengan bat?" tanya Slaine sambil berusaha tersenyum— menahan kesal. "Aku punya nama tahu!"
"Jaket." sang pemuda misterius— yang bahkan matanya tidak terlihat oleh Slaine karena tertutup moncong topi —menunjuk jaket yang dikenakan Slaine. "Lambang di punggungnya besar sekali. Dan itu— di dadamu tertulis bat. Jadi kupanggil seperti itu."
Oke, Slaine kesal. Setidaknya si datar ini kan bisa menanyakan namanya— atau malah menasihatinya tanpa perlu membuat panggilan aneh. "Oke, oke, tapi kau juga tidak perlu memanggilku seperti itu lah... err... Orenji."
Si pemuda misterius akhirnya mengangkat wajahnya, memandang lurus ke arah mata Slaine. Sedangkan Slaine sendiri tersenyum puas— siapa suruh mengenakan pakaian serba oranye seperti itu sambil menggendong sekantung besar jeruk? Hah— rasakan itu.
Namun saat Slaine balas memandang matanya, ia mematung. Mata bulatnya yang berwarna merah anggur memang tampak biasa dengan sorot yang biasa pula. Namun entah mengapa— Slaine merasakan sakit pada hatinya dan perasaan bersalah yang sudah lama hilang seolah kembali. Tapi kenapa? Kenapa mata pemuda oranye ini membuatnya teringat oleh sosok sahabatnya— yang telah mati bertahun-tahun lalu.
"Ada yang salah, Bat?"
Slaine mengerjap, buru-buru ia alihkan pandangannya pada toko-toko di belakang sang pemuda oranye.
"Tidak. Tidak." Slaine mengepalkan tangannya lalu menghela nafas. "Sudahlah— aku harus pergi."
Dan Slaine berharap— sangat berharap —sebaiknya mereka tak pernah bertemu lagi. Kalau perlu selamanya.
"Hah? Mimpi? Mimpi apa?"
Inaho meletakkan belanjaannya di atas meja. Ia memandang kawannya— yang bukan merupakan seorang mafioso sama sekali. Ah kadang Inaho iri dengan kehidupannya.
"Jadi seperti apa mimpimu, Nana-kun?" Jayn ikut memandang Inaho— sambil sesekali mencomot begitu saja jeruk-jeruk bawaannya. Inaho ingin sekali memprotes panggilan feminin itu namun ia hanya bisa pasrah mengingat sikap Jayn yang mudah sekali merajuk layaknya anak kecil. Dan itu merepotkan— lagipula Inaho butuh bantuannya saat ini.
"Seperti aku yang berumur enam tahun terbaring di tanah dengan genangan darah yang entah darimana— sepertinya dari tubuhku sendiri." tutur Inaho— masih dengan datarnya meski sebenarnya ia merasa resah akibat mimpi tersebut. "Dan— aku juga melihat lambang Saazbaum Famiglia padahal aku tidak pernah tahu tentang famili tersebut. Terlebih aku baru mengetahui lambangnya saat pertemuan berlangsung."
Inaho memandang Jayn, berharap Jayn bisa membantu. Sekadar informasi, Jayn Dargfire adalah seorang pria berumur dua puluh satu tahun yang dapat menafsirkan sebuah mimpi— meski tidak semuanya akurat. Dia adalah seorang pria biasa yang hidup di kota kecil Vandaerie dan bekerja sebagai seorang koki.
Inaho mengenal Jayn pada saat ia berjalan terseok di sekitar kota Vandaerie setelah melaksanakan misi dan terpisah jauh dari Calm saat kabur. Inaho yakin ia akan mati kala itu— namun beruntungnya Jayn lewat sambil menenteng sekantung besar jeruk, menemukannya, lalu menolongnya. Sejak saat itu Inaho kerap kali mengunjunginya dua kali seminggu— sambil membawa sekantung jeruk sebagai oleh-oleh sesuai permintaan Jayn.
Jayn memandangi jeruk di tangannya, raut wajahnya berubah— dari yang biasanya cuek menyebalkan menjadi sedikit suram. "Pertemuan itu... membahas serangan balik?"
Inaho mengangguk, ia tak perlu bertanya dengan terkejut mengapa Jayn bisa mengetahuinya mengingat kemampuan Jayn yang unik dan serba tahu itu. Jayn menghela nafas, ia letakkan kembali kedua jeruk yang tadinya hendak dimakan lalu memandang Inaho dengan serius.
"Nana." Jayn memanggil. "Kuharap kau bisa menghindari perang dan tak pernah berurusan dengan Saazbaum Famiglia."
Inaho mengangkat sebelah alisnya, "Kenapa?"
Lagi— Jayn menghela nafas. "Yang kau lihat itu kematianmu. Memang tidak seratus persen akan terjadi seperti dalam mimpimu tapi yang jelas— bila kau terlibat dalam perang itu maka... kau benar-benar akan mati, Nana."
"Bagaimana kalau mimpiku itu bukanlah bayangan kematianku?"
"Bisa jadi." balasnya seraya bertopang dagu. "Dari penglihatanku, selain bayangan kematian itu juga merupakan sebuah kenangan yang terhapus. Tapi bisa juga mimpi itu merupakan gabungan keduanya. Kau memiliki kenangan yang hilang— sekaligus mati saat perang berlangsung."
"Begitu." Inaho menunduk, entah mengapa lantai kayu di bawah kakinya tampak lebih menarik untuk dipandang saat ini. "Jadi—"
"Aku melarangmu untuk berpartisipasi. Misi lain? Terserah, ikut saja. Tapi Saazbaum? Meski aku kurang mengenal mereka aku tetap melarangmu."
Hening, Inaho terdiam— merenungkan ucapan Jayn. Apa dirinya benar-benar akan mati? Atau dia memang melupakan sesuatu? Atau keduanya? Oh, Inaho harap pilihan kedualah yang paling tepat.
"Aku tidak mau kau mati, Nana. Jadi kumohon— kali ini saja —kau mau membantah perintah donmu. Aku siap bertanggung jawab bila ia marah."
"Terima kasih atas nasihat dan perhatianmu, Jayn." Inaho berdiri dari kursinya, tersenyum tipis dan sedikit terharu mendengar Jayn yang begitu mengkhawatirkannya. "Aku akan pergi— sudah saatnya pulang. Terima kasih sekali lagi."
Lalu ia berbalik, membuka pintu kayu sederhana rumah Jayn. Melangkah keluar.
"Kau menjadi korban tendangan batu seseorang kan, Nana?"
Dan langkah Inaho terhenti.
"Hindari juga orang itu."
Kakinya kembali melangkah, tanpa berbicara sepatah kata pun Inaho menutup pintu dan pergi meninggalkan kota Vandaerie.
A/N Oho~ halow~ kota Vandaerie ada dimana kakak? Haha, itu kota nggak ada dimana-mana kok wwwww
Saya memang bikin sendiri setting tempatnya. Jadi ya... mungkin nggak akan ada yang namanya negera Jepang, Belanda, Amerika, dan sebagainya oho~
Terima kasih sudah membaca~ *wink*
