Special thanks to my daughter Kuramichan


Sebelum membaca ada baiknya kalian kencangkan sabuk pengaman karena saya akan membawa kalian terbang menggunakan Kataphrakt bernama— Penistaan 2.0 KzInB. Selamat menikmati


24 March 2002

Slaine mengetuk meja dengan resah, matanya memandang rumpun bunga iris biru yang tertanam di belakang purinya. Ia melamun, teringat kembali pertemuannya dengan seorang pemuda aneh misterius kemarin. Pemuda yang membuatnya uring-uringan sejak semalam.

"Sial— matanya mirip sekali. Argh!" Slaine mengacak rambutnya frustasi.

"Rupanya sang pangeran sedang dalam keadaan tidak baik, hm?"

"Harklight..." Slaine memandang kawannya— Harklight —dengan pandangan sendu. "Kamu mau apa ke sini?"

Harklight tersenyum tipis— lalu duduk di hadapan Slaine. Pemuda itu hanya diam memandang hamparan bunga iris— bunga yang menjadi lambang keluarga mereka, Saazbaum Famiglia. Sedangkan Slaine kembali melamun— tidak ambil pusing dengan kehadiran Harklight.

"Ayah khawatir padamu." suara Harklight terdengar— membuat lamunan Slaine kembali buyar. "Sejak kamu pulang kemarin kamu kelihatan murung— apa kau punya masalah dengan seseorang dari kota? Perlu aku bereskan orang yang membuat masalah denganmu itu?"

"Tidak ada," Slaine menghela nafas berat. "Hanya saja— aku teringat sahabat lamaku."

"Sahabatmu... yang mati... enam tahun lalu?"

Harklight buru-buru menutup mulutnya— merasa telah salah bicara. Pandangan mata Slaine menjadi kosong untuk sesaat, sebelum akhirnya ia tertawa miris. "Yang mana lagi?"

Keduanya terdiam. Harklight tak ingin mengganggu Slaine— melihat sorot matanya yang tampak lelah —namun ia juga khawatir dan berharap Slaine mau berbagi masalahnya.

Menurut Harklight— seharusnya Slaine tidak terlalu menutup diri. Slaine adalah salah satu anggota keluarga Saazbaum Famiglia bukan? Dan Saazbaum Famiglia seharusnya menjadi tempat bagi orang-orang tanpa marga yang sempat kehilangan arah— seperti dirinya —untuk saling berbagi— sebagai satu keluarga. Itu sebabnya di Saazbaum— semua orang memanggil sang don dengan sebutan ayah. Bukan boss maupun tuan besar. Hal itulah yang membuat hubungan atasan dengan tiap anggotanya menjadi sangat dekat.

Lantas, mengapa Slaine masih saja menutup diri dan tak ingin orang-orang tahu beban yang sedang dipikulnya? Mengapa Slaine lebih senang mengasingkan diri?

"Kau bisa bercerita, Slaine." akhirnya Harklight memutuskan untuk bicara. "Jangan menjadi orang asing di sini."

Mendengar hal itu, Slaine tertawa. "Maaf, maaf... hanya saja... ada yang membuatku resah."

"Kenapa?"

"Aku lebih suka mawar biru dibandingkan iris biru." Harklight menaikkan sebelah alisnya bingung, berusaha menangkap maksud dari ucapan Slaine. "Tapi aku juga membenci mawar biru— semua kenanganku ada di sana."

"Oy— aku tidak mengerti maksudmu, Slaine."

"Aku pernah bercerita soal sahabatku yang mati enam tahun lalu kan? Mawar biru itu menyimpan banyak kenangan tentangnya."

"Relasinya dengan perasaan resahmu apa?"

"Tidak ada." Slaine tertawa kecil, disusul dengan pukulan ringan Harklight di lengannya. "Aku hanya iseng bercerita."

"Heh— kalau itu bisa membuatmu merasa lebih baik, okelah." Harklight mendengus. "Tapi serius, kau itu menyebalkan Tuan."

"Kuanggap itu pujian." balas Slaine, ia kedipkan sebelah mata— membuat Harklight merinding melihatnya. "Tapi soal perasaan resahku, aku bertemu seseorang kemarin."

"Kupikir sudah selesai masa gundah gulananya." Harklight mencibir. "Siapa orang itu?"

"Aku juga tidak mengenalnya, tapi... matanya mengingatkanku padanya." Slaine menghela nafas, tangannya memainkan sebuah bunga iris yang tadinya berada di dalam vas kecil di atas meja. "Dan aku berharap kami tak kan pernah bertemu lagi."


"NAO-KUN! FOKUS!"

Inaho sedikit tersentak oleh teriakan kakaknya, lalu ia rasakan sebuah benda panjang yang terbuat dari kayu menghantam bahu kanannya dengan cukup keras.

"Ukh."

Inaho mencengkram bahunya, pukulan shinai Calm keras sekali hingga membuat bahunya terasa hancur— meskipun bahunya dilindungungi oleh perlengkapan kendo. Yuki buru-buru menghampiri Inaho, memeriksa bahunya.

"Jangan pernah kehilangan fokus, Nao-kun! Bagaimana kalau ini perang sungguhan?!" tegur Yuki sedangkan Inaho masih duduk mencengkram bahunya dengan sedikit meringis.

"Maaf, Inaho." Calm menepuk bahu lainnya yang tidak terluka. "Aku terlalu bersemangat tadi— sepertinya ayunan shinaiku terlalu keras."

Inaho menggelengkan kepalanya pelan— sebagai ganti kata tidak apa. Lalu ia berdiri, melepas perlengkapan kendonya dan memeriksa bahunya sekali lagi. Kulitnya tampak sangat memerah, pukulan Calm memang luar biasa, seandainya tadi itu adalah pedang sungguhan mungkin tangan Inaho sudah putus akibat ayunan pedangnya.

"Kau masih mau melanjutkan?" Inko— yang entah sejak kapan sudah berdiri bersama mereka —memandang Inaho khawatir. "Sebaiknya bahumu dikompres, Inaho."

"Kurasa begitu." Inaho memandang sang kakak— seolah meminta izin —dan Yuki hanya mengangguk. Dengan segera Inaho menyerahkan seluruh perlengkapannya— termasuk pedang bambu yang tadi ia jatuhkan —dan pergi dari dojo sambil tetap mencengkram bahu kanannya.

"Dia itu... lagi galau atau bagaimana?" Calm menaikkan sebelah alisnya— agak bingung dengan sikap Inaho yang seringkali melamun akhir-akhir ini.

"Aku akan bicara padanya nanti, kalian berdua kembalilah berlatih!"

"Baik, Yuki-san."

Setelahnya, Yuki kembali terdiam memandang pintu. Sekilas ia masih bisa melihat Inaho yang menepuk-nepuk bahu kanannya sambil berjalan sebelum pintu lebar itu tertutup sepenuhnya.

"Apa ingatan itu akhirnya kembali?" bisiknya lirih.


Di tengah hujan yang lebat, Inaho merasakan tangannya ditarik oleh seseorang dan mereka berlari bersama. Kabur dari sesuatu yang tidak diketahui Inaho.

Inaho hanya terus berlari, selagi pakaiannya basah diguyur hujan dan tak ada yang bisa ia lihat selain gelap. Bahkan orang di depannya pun tak bisa Inaho kenali.

"Nao! Lebih cepat!"

Itu adalah suara seorang anak lelaki, padahal Inaho yakin hanya kakaknyalah— Yuki —yang memanggilnya seperti itu. Lalu siapa anak laki-laki yang menggenggam erat tangannya ini?

"Nao! Lebih cepat lagi! Ayo, Nao!"

Inaho tidak mengerti sama sekali, untuk apa mereka berdua berlari? Lagipula mereka lari dari apa?

"Kamu—"

Inaho belum sempat menyelesaikan kata-katanya ketika suara tembakan terdengar dan pegangan tangan mereka terlepas.

"NAO!"

Suara tembakan itu makin lama terdengar semakin banyak. Inaho berdiri diam di tengah kegelapan— kebingungan.

"NAO!"

Inaho refleks menutup kedua telinganya, lalu berjongkok. Tiba-tiba ia merasa takut— tapi karena apa Inaho sendiri tidak tahu. Inaho hanya merasa ini semua terlalu mengerikan.

"Nao! Awas—!" lalu sebuah tubuh jatuh di hadapannya, tubuh seorang anak laki-laki. Jatuh memunggunginya— siapa dia Inaho tidak tahu. "Bodoh, sudah kubilang... awas."

Inaho terbelalak ketika hujan peluru kembali datang— membuat tubuh anak laki-laki itu terlonjak.

"Nao!"

Inaho menutup telinganya— tangannya gemetar. Suara anak laki-laki itu masih terdengar meneriakinya— seolah menyalahkan Inaho yang diam tanpa ada niatan untuk berlindung dari hujan peluru itu.

"Nao!"

Lalu Inaho merasakan moncong pistol menempel di keningnya. Anak tadi— berdiri dengan banyak lubang di tubuhnya —menodong Inaho sambil tersenyum sinis.

"Semua salahmu."

"Nao-kun, bangunlah! Hey— bangunlah, Nao-kun!"

Inaho membuka matanya, nafasnya sedikit memburu dan tubuhnya basah oleh keringat. Di hadapannya ada Yuki— yang memandangnya khawatir.

"Yuki-nee?" Inaho memandang sekelilingnya— ah, dia lupa kalau saat ini dia sedang tidur di klinik.

"Kau baik-baik saja?" Yuki menangkup pipi Inaho— membuatnya menatap matanya. "Kau ketakutan sekali tadi."

"Ketakutan?" Inaho terdiam, lalu melepaskan kedua tangan Yuki. "Aku baik-baik saja— hanya mimpi buruk."

"Lalu bagaimana keadaan bahumu?"

"Tidak apa-apa, hanya masih sedikit sakit."

"Kau mau kemana, Nao-kun?" Yuki menahan tangan Inaho— yang sudah akan turun dari ranjang.

"Ada seseorang yang harus kutemui."


Coklat panas disajikan, dalam mug berlogo bunga tulip dengan tulisan miring 'Arare' di depannya. Menyusul sepotong kue blue velvet yang ditata cantik di atas piring kecil bersama tiga butir buah blueberry.

Inaho mengerjap memandang sajian di hadapannya, ia mendongak— memandang sang maid —dan membuka mulutnya berniat protes bahwa ia tidak— atau mungkin belum —memesan apapun.

"Aku yang traktir— toh aku juga yang buat."

Dan mulut Inaho terkatup kembali. Akhirnya ia hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih dengan pelan.

Jayn segera duduk di hadapan Inaho, tangannya sibuk mengupas buah jeruk bawaan Inaho— seperti biasa. Sedangkan matanya masih memandang pemuda mungil itu dengan heran. Ini adalah kali ketiga Inaho datang ke kota menemuinya— padahal biasanya ia hanya datang dua kali seminggu —terlebih ia datang tanpa pemberitahuan. Tahu-tahu saja Inaho muncul di dapur cafe tempatnya bekerja. Jelas sekali ada hal yang begitu mengganggunya akhir-akhir ini.

"Arare ternyata tempat yang sangat bagus."

Jayn tersedak potongan jeruk yang dimakannya, buru-buru ia minum tehnya dan memandang Inaho terkejut.

"Tumben kau memuji sesuatu secara terang-terangn, Nana!" katanya. "Kepalamu habis terbentur ya?"

Inaho memutar bola matanya sekilas, lalu menyibukkan diri dengan kue buatan Jayn. Enak juga pikirnya, Inaho baru tahu ternyata sang maniak jeruk itu bisa juga membuat kue-kue manis.

"Jadi— kenapa lagi, Nana?" tanya Jayn setelah yakin bahwa tadi itu hanya basa-basi Inaho yang agaknya malas menceritakan masalahnya langsung. "Apa ini soal mimpi lagi?"

"Kali ini aku dibunuh seseorang—"

"Kemarin kau juga dibunuh tahu— tapi secara tidak sengaja sih."

"Dan kali ini yang membunuhku menyimpan dendam padaku, Jayn."

Jayn diam— nafsu makannya kembali hilang sama seperti kemarin. Ia taruh kembali jeruknya dan memilih untuk menyimak cerita Inaho sambil bertopang dagu. "Bagaimana ceritanya?"

Inaho menarik nafas, mulai bercerita. Mungkin hanya kepada Jayn— dan Yukilah —Inaho mau bercerita panjang lebar mengingat biasanya dia hanya banyak bicara saat harus menjelaskan sesuatu yang berkaitan dengan pelajaran atau misi.

"Kau ingat wajah anak yang menembakmu?" tanya Jayn setelah Inaho mengakhiri ceritanya soal mimpi anehnya.

Inaho terdiam— mengingat —lalu mengangguk. "Mirip seseorang—"

"Yang menendang batu ke arahmu kemarin?" Inaho membalas dengan anggukan untuk yang kesekian kalinya. "Kemarin kau terbunuh oleh seseorang yang tak dikenal dan kau melihat lambang Saazbaum Famiglia. Hari ini kau mati dibunuh oleh seorang anak yang mirip dengan pemuda yang menendang batu ke arahmu..."

"Kau tahu artinya, Jayn?" Inaho meminum coklat panasnya sedikit— masih memandang Jayn dengan wajah datarnya seperti biasa. "Apa kedua mimpiku berhubungan?"

"Jelas saja, Nana!" seru Jayn yang secara refleks menggebrak meja— membuat banyak perhatian tertuju pada mereka. Jayn membungkuk berkali-kali, meminta maaf karena sudah membuat keributan. "Jelas saja berhubungan! Haaaaaaah— semoga saja yang aku lihat itu salah. Semoga saja yang menendang batu itu bukan dia."

"Apa maksudmu, Jayn?" Inaho meletakkan mugnya. "Tolong beritahu aku."

Jayn yang tengah mengacak rambutnya seera berhenti. Ia pandangi Inaho dengan tajam lalu tiba-tiba saja ia mendekat, memperpendek jarak antara wajah keduanya.

"Nana, akan kukatakan asal kau berjanji untuk menjauhi semua yang berhubungan dengan Saazbaum dan si penendang batu ini mengerti?"

"Baiklah, tapi—"

"Apa ada yang salah dengan keluarga Saazbaum?"


A/N Eak, syapa tuch yang dateng /gawsa alay qamoe sar/