Author : Yuri Masochist or Han Youngra

Title : The Time: Bad Situation | August 7th, 2012

Cast :

+ Main Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun)

+ Other Cast : Yunho, Taemin, Jungmo, Junsu, KiVin (KiseopxKevin), HanChul, Eunhyuk, Shindong, Minho, OnKey, Baekhyun, Henry, Soohyun

+ Cameo : Ryeowook, Siwon, Jonghyun, Leeteuk, Yesung, Eli, T.O.P, GD, Kangin, Sooman, Jay, Seungri, Daesung, Alexander, SooSun (SooyoungxSunny), YulSic (YurixJessica), YoonSeo (YoonaxSeohyun), Narsha, Thunder, Mir, Joon

+ Say 'Goodbye' to : Sungmin, Donghae, Kibum, Kai, Zhoumi, Jaejoong, Junho, Se7en and who's next?

[DBSK | Super Junior | SHINee | TRAX | Big Bang | U-Kiss | Se7en | MBLAQ]

[SNSD | B.E.G]

Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror

Rated : PG-15 | T semi M deh untuh semua chap~

Type : Yaoi

Length : Chapter

Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!

Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!

A/n : 7J! MAAF BARU DATEEEEEEENGG

.

.

.

.

The Time: Bad Situation | August 7th, 2012

.

Tuesday

August 7th, 2012

12:01 PM

Taemin mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.

Ini adalah hari keduanya sekolah. Rasanya menyenangkan, sama seperti kemarin. Taemin mempunyai lebih banyak teman—selain Minho dan Baekhyun dan teman-temannya di panti. Dan ternyata, dia satu sekolah bahkan satu kelas dengan Baekhyun. Taemin tidak menyangka bahwa sekolahnya akan dimulai dengan sangat menyenangkan.

"Lama? Maaf ya~"

Taemin menolehkan pandangannya ke samping ketika mendengar suara seseorang yang ditunggunya sejak tadi. Minho tersenyum—orang itu. Dia mencium pipi Taemin lalu tertawa kecil.

"Ayo pulang~ Jinki-appa sudah menunggu di tempat parkir~"

Taemin mengangguk cepat sambil tersenyum. Minho membalas senyumnya dan menggenggam tangan kecil itu. Mereka mulai menyusuri koridor sekolah, menuju tempat parkir di lantai bawah.

"Um.." Minho mengulum bibirnya. "Taemin... sayang hyung, 'kan?"

Taemin melirik Minho. "Taemin cayang Minho hyung~ Taemin juga cayang Kai~ kita cahabat celamanya~"

Minho mengangguk pelan dan setelah itu menarik napas. "Selamanya, 'kan?"

Taemin mengangguk. "Celamanya."

Minho hanya tidak tahu, hatinya terasa tidak enak sejak beberapa hari yang lalu.

.

.

The Time

Bad Situation | August 7th, 2012

A Nonsense Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"

Time to Play

.

.

.

Tuesday

August 7th, 2012

01:44 PM

"Hyung," Changmin menggenggam tangan Yoochun yang hendak menyuapinya makan lagi. Changmin menatap Yoochun perlahan. "Aku ingin pulang. Aku ingin melihat Silky."

Yoochun tersenyum manis. Dia meletakkan sendok pada mangkuk bubur yang dipegangnya, lalu mengusap surai rambut Changmin perlahan. "Tiga sampai empat minggu lagi, ya."

Changmin menggeleng.

"Hei, ayolah." Yoochun menatapnya lembut. "Kau harus istirahat disini untuk beberapa waktu."

Changmin mengerucutkan bibirnya.

Yoochun meletakkan mangkuk itu di meja nakas secara perlahan. Kemudian dia mengusapi lagi rambut Changmin.

"Please, aku ingin pulang. Hyung kan dokter, pasti bisa merawatku di rumah."

Yoochun terkekeh kecil. "Tiga minggu lagi, okay?"

"Sekarang!"

Yoochun menggeleng dan terkekeh lagi. "Tiga minggu kurang satu hari."

Changmin memukul lengannya. "Ayolah~ besok?"

"Tiga minggu kurang dua hari."

"Lusa?"

Yoochun mengacak rambut Changmin. "Dua minggu lagi."

"Hyung, aku tidak bisa menunggu selama itu~," Changmin merengek manja. "Please~ tiga hari lagi?"

Yoochun tampak berpikir, dia mengetuk dagunya.

"Tiga hari lagi~ yayayaya?"

Yoochun menatapnya. "Satu minggu lagi. Tawaran terakhir. Kalau membantah, berubah menjadi tiga minggu lagi."

Changmin mendesah pelan lalu menunduk. "Okay, hyung menang. Satu minggu lagi."

Yoochun merekahkan senyumannya dan mengacak rambut Changmin lagi.

Kemudian pintu terbuka. Yunho masuk ke dalam ruangan rawat Changmin dengan sedikit tergesa, lalu menatap keduanya.

"Hei, Yoochun, bisa kita bicara sebentar?"

Yoochun melirik Yunho dan kemudian pada Changmin. Menatapnya, meminta izin. Changmin mengangguk. Yoochun kemudian berdiri dan menghampiri Yunho.

"Ada apa?"

"Tidak disini."

Keduanya pun keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Changmin.

"Ada apa?" Yoochun memperhatikan Yunho yang mengambil tempat duduk di jajaran kursi terdekat, lalu mengikutinya.

"Besok," dia mendesah, lalu duduk perlahan. "Besok tanggal Delapan Agustus."

"Ah," Yoochun duduk di sampingnya. "Sial. Aku sampai melupakan hari itu. Jadi bagaimana?"

"Apanya yang bagaimana? Dulu kau melarangku untuk bertanya seperti ini."

Yoochun membasahi bibirnya yang agak kering. "Junsu."

Yunho mendecih lalu menatapnya. "Ia tidak bisa diharapkan. Alasannya bodoh. Dia menyuruh kita untuk membunuh pemain utama? Hell, bahkan kita tidak tahu itu siapa."

"Jadi kali ini pasrah lagi?"

Yunho masih menatapnya.

Yoochun mengusap wajahnya kasar kemudian menyembunyikannya di balik telapak tangannya. "Aku ingin ini semua segera berakhir! Sialan!"

"Changmin tidak akan mati, tenang saja."

Yoochun tetap diam dalam posisinya.

"Tebakanku adalah aku... atau kau."

Yoochun menarik tangannya perlahan lalu menatap Yunho. "Kenapa kita?"

"Orang terdekat."

Yoochun mulai geram. Namun ia masih menatap Yunho.

"Dan mungkin kita orang terdekat, yang akan mati besok."

"Terdekat dari siapa?!" Yoochun mendorong Yunho terhadap kursi. "Dari dulu kita tidak tahu, terdekat dari siapa?!"

"Changmin! Apa kau bodoh sampai tidak menyadari hal itu, huh?!"

"Kau bicara seenak—"

Yunho mendorong tubuh Yoochun menjauh. "Changmin pemain utama dan salah satu dari kita akan mati besok!"

Ketika Yoochun menyiapkan tangannya untuk memukul Yunho, sebuah suara menginterupsi pergerakannya.

"Hyung... apa maksudnya?"

Yoochun merasakan jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik. Yunho menyingkirkan Yoochun dari hadapannya, lalu melihat Changmin yang sudah berdiri di ambang pintu.

.:o~o:.

Tuesday

August 7th, 2012

04:21 PM

"Tidak! Aku tidak akan mau memasukkan obat sialan itu sebelum hyung menjawab pertanyaanku!"

Yoochun mendesah pelan dan menatap beberapa kapsul obat dan segelas air di tangannya.

Well, ini sudah hampir dua jam lebih Yoochun memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Changmin tentang apa yang ia dengar dari percakapannya dengan Yunho.

Dan sudah selama itu juga Changmin menolak untuk meminum obat.

"Kau tidak akan mengerti, Min." Yoochun mendesah lagi.

Changmin memutar kedua bolamatanya marah. "Apanya yang tidak akan aku mengerti? Coba jelaskan, apa maksud dari kalimat bahwa aku adalah pemain utama? Pemain utama dari apa, huh?!"

Yoochun diam. Senyap memenangkan perdebatan kecil itu. Yoochun melirik ke arah meja nakas, lalu meletakkan kapsul-kapsul obat itu kembali pada wadahnya. Changmin memperhatikannya. Yoochun berdiri dan mencium kening Changmin dengan begitu lembut, walau terdapat penolakkan dari namja itu.

Changmin menggeram kesal ketika melihat Yoochun memilih untuk meninggalkannya bersama keheningan di dalam ruangan itu.

.:o~o:.

Tuesday

August 7th, 2012

06:26 PM

"Brengsek!"

Baekhyun mengigit bibir bawahnya dan memeluk boneka beruangnya dengan sangat erat. Dia tidak bisa melihat orang berkelahi, atau marah-marah. Tetapi dia tidak bisa kabur, dimana saat ini, ibu-nya—yang biasanya terlihat lembut, ramah, dan penyayang—sedang membentak Tao berulang kali di ruang tengah ini. Baekhyun berusaha tidak mendengar—toh Junsu tidak akan tahu karena Baekhyun pura-pura tidur, walau sebenarnya tadi ia memang tertidur lalu terbangun karena suara bentakan itu.

"Beritahu aku apa yang kau lakukan pada Changmin tempo lalu!"

Tao berdiri di hadapan Junsu—yang duduk di kursi roda—tanpa sedikitpun merasa takut. Dia tersenyum tipis dan menggeleng—untuk yang kesekian kalinya.

"Aku tidak menyuruhmu untuk membunuhnya!"

"Saya sama sekali tidak membunuhnya, Tuan."

Junsu menggeram. "Dengan perlahan. Apa maksudmu?"

"Saya hanya melakukan hal yang pantas, Tuan."

"Katakan apa rencanamu?!"

Tao menggeleng lagi.

Junsu menarik lengan Tao—hingga menunduk ke arahnya, lalu menarik kerah bajunya dan menatap dari dekat. "Aku tidak mau aku yang disalahkan karena hal ini!"

Tao menarik tubuhnya secara perlahan, tetapi Junsu semakin mencengkramnya kuat.

"Tidak akan ada yang disalahkan, Tuan."

"Aku bisa memecatmu, Tao!"

Tao menarik senyumannya menjadi sedikit lebih lebar. "Saya yakin Anda tidak akan melakukannya, Tuan."

Sial. Dia benar.

Tidak ada orang selain Tao yang akan patuh terhadap dirinya.

Walaupun ada, hatinya tidak akan tulus untuk mengikuti segala ucapannya. Berbeda dengan namja berkebangsaan China ini.

Junsu membuang napasnya dengan percuma. "Aku minta kau menjelaskan apa rencanamu. Apa yang telah kau lakukan kepada Changmin?"

"Membuatnya mati secara perlahan, Tuan-ku."

.:o~o:.

Tuesday

August 7th, 2012

08:22 PM

"Lucu sekali kau, Park Yoochun."

Yoochun hanya memutar kedua bolamatanya ketika Jungmo mendecih tidak suka di hadapannya. Yoochun masih tetap berusaha menghindar untuk menjawab pertanyaan Changmin, dengan cara tidak kembali ke ruang rawat itu. Tetapi Jungmo mulai geram mengetahuinya.

"Delapan Agustus sudah di depan mata! Sekitar tiga sampai empat jam lagi! Dan kau masih terus menutupi semuanya pada Changmin?"

"Memangnya kita bisa apa?" tanya Yoochun.

"Changmin bisa melakukan sesuatu."

"Sesuatu?" Yoochun tertawa meremehkan. "Sekalinya aku menjelaskannya hingga ia mengingat semua hal, apa itu akan membantu?"

Jungmo sedikit terkesiap. "Dia... dia mungkin punya sebuah ide."

"Waktu kita sudah sedikit. Kita hanya perlu menunggu siapa korban selanjutnya, melihat siapa yang mati, dan hidup damai dalam tiga puluh hari kemudian panik lagi untuk Sembilan September."

Jungmo terdiam.

Yoochun melangkah semakin mendekat. "Coba kau lihat sekitar, Jungmo-ah. Coba kau lihat." Jungmo diam saja ketika Yoochun mengusap wajahnya sendiri. "Kita—maksudku kita semua—sudah ditakdirkan berada dalam situasi ini. Sudah tidak ada yang bisa diharapkan, kecuali kau mengurung dirimu dan meminta maaf pada Tuhan lalu melakukan sesuatu sebagai penebusan dosa, jika andaikata kau-lah korban selanjutnya. Tapi apa yang kita dapat? Jalan buntu setiap harinya! Setiap tanggal terkutuk itu, selalu ada yang mati! Changmin sudah mencari banyak cara untuk menghentikannya, sampai mencoba untuk mencari korban selanjutnya dan membunuhnya dengan tangannya sendiri. Tapi apa?! Dongwook mati, tapi ternyata Junho-lah korbannya! Ia yang seharusnya mati. Bisa apa kita disini, Jungmo? Bisa apa?!"

Jungmo menggeleng pelan. Matanya tidak berani menatap Yoochun, berusaha mencari objek lain untuk menjatuhkan pandangannya. Tetapi koridor rumah sakit yang sepi itu sama sekali tidak bisa membantunya.

"Kalaupun kita mau bergerak, seharusnya bukan sekarang. Tetapi tanggal-tanggal sebelum tanggal ini. Kita tidak bisa mencari jawaban dari teka-teki kematian ini hanya dalam kurun waktu empat jam kurang."

"Kau egois, Yoochun..."

Kedua bolamata Yoochun sedikit melebar ketika mendengar kalimat itu. Jungmo menatapnya perlahan.

"Kau egois. Kau tidak mau memberitahu tentang Death Cycle kepada Changmin agar ia tidak teringat pada Kyuhyun. Kau egois, kau membiarkan beberapa orang lagi mati."

Yoochun begitu ingin melayangkan kepalan tangannya yang mengeras pada namja yang kini berbalik berjalan meninggalkannya. Tetapi ia menahan keinginannya, karena apa yang diucapkan Jungmo adalah benar.

.:o~o:.

Saya posting dua chapie hari iniiii

baca dulu next-nya, ntar saya cuap-cuap disana kkk

MISS YA GUYS