Author : Yuri Masochist or Han Youngra

Title : The Time: August 8th, 2012

Cast :

+ Main Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun)

+ Other Cast : Yunho, Taemin, Jungmo, Junsu, KiVin (KiseopxKevin), HanChul, Eunhyuk, Shindong, Minho, OnKey, Baekhyun, Henry, Soohyun

+ Cameo : Ryeowook, Siwon, Jonghyun, Leeteuk, Yesung, Eli, T.O.P, GD, Kangin, Sooman, Jay, Seungri, Daesung, Alexander, SooSun (SooyoungxSunny), YulSic (YurixJessica), YoonSeo (YoonaxSeohyun), Narsha, Thunder, Mir, Joon

+ Say 'Goodbye' to : Sungmin, Donghae, Kibum, Kai, Zhoumi, Jaejoong, Junho, Se7en and who's next?

[DBSK | Super Junior | SHINee | TRAX | Big Bang | U-Kiss | Se7en | MBLAQ]

[SNSD | B.E.G]

Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror

Rated : PG-15 | T semi M deh untuh semua chap~

Type : Yaoi

Length : Chapter

Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!

Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!

A/n : 8! MAAF BARU DATEEEEEEENGG! TEBAK SIAPA YANG MATI? AHAHAHAHA!

.

.

.

.

The Time: August 8th, 2012

.

Dua jam menjelang pukul 00:00

Kyuhyun memainkan jarinya di gelas susu yang sudah habis setengahnya. Seringkali matanya melirik ke arah jam dinding, yang menunjukkan pukul sebelas malam. Hanya dua jam lagi menuju tanggal Delapan Agustus.

Dan jantungnya berdebar tidak menentu.

Kyuhyun akui, sebelumnya dia menginginkan untuk menjadi korban dalam siklus kematian ini karena beberapa perihal. Pertama; dia sudah tidak memiliki siapapun, apalagi keluarga. Kedua; Changmin sudah mati, dia tidak ingin anaknya lahir tanpa ayah. Sekalinya Changmin masih hidup, belum tentu ia mau bertanggung jawab.

Ia pernah hampir menggugurkan anaknya, namun sekarang Kyuhyun sadar.

Hanya anak ini yang tersisa dari Changmin. Hanya anak ini yang ia miliki sekarang.

Maka, Kyuhyun bertekad untuk menjaganya dan membiarkannya untuk mencicipi indahnya dunia—well, setidaknya dunia akan indah untuk anaknya nanti jika Kyuhyun membimbingnya dengan benar.

Jadi ia benar-benar tidak akan siap jika ia menjadi korban selanjutnya.

Satu jam menjelang pukul 00:00

"Minho ingin bertemu Taemin, Key-umma!"

Key mendesah dan menatap Onew yang duduk di sampingnya. Onew menggeleng, membuat Minho merengut marah.

"Aku punya feeling yang buruk!"

"Oh, Minho..." Key berdiri dan menghampiri Minho yang tampaknya tidak suka. Lalu Key mengusap surai rambutnya dengan lembut. "Kau terlalu menonton banyak drama, Minho."

"Aniya! Dengarkan saja aku, sekali ini saja. Perasaan Minho jelek sekali. Minho ingin bertemu Taemin..."

"Itu hanya rindu." Onew buka suara. "Lagipula besok kan bisa bertemu. Kalian satu sekolah, bias berangkat bersama."

"Ini serius, Onew-appa! Key-umma!"

Key menggeleng lagi dan memeluk Minho. "Sudah malam. Ayo cuci kaki dan pergi ke tempat tidur."

Minho memberontak. Onew memijat pelipisnya.

"Kenapa kalian tidak mau mengerti Minho?!"

"Bukannya beg—"

"Minho ingin bertemu Taemin! Minho mohon!"

Key menatap Onew perlahan. Bukannya tidak mengizinkan, tetapi satu jam lagi sudah mencapai tengah malam. Menurut mereka tidak baik untuk mengganggu tentangganya hanya untuk bertemu.

Karena mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

"Onew-appa boleh mengurangi uang jajanku, atau apa saja, yang penting aku bertemu dengan Taemin!"

"Minho, pergi tidur sekarang."

Onew berdiri dan berjalan menuju tangga untuk mencapai lantai dua. Meninggalkan Key yang menatap kepergiannya, seraya menahan Minho yang memberontak.

"Aku takut Taemin akan mati seperti Kai!"

Dan langkah Onew terhenti.

.

.

The Time

August 8th, 2012

A Nonsense Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"

Time to Play

.

.

.

Wednesday

August 8th, 2012

12:00 AM

Yunho mengecek keadaan Taemin di rumah sekitar sepuluh menit sekali melalui telepon. Dia mempercayakan Ryeowook untuk menjaga anaknya, walau ia tahu bahwa Ryeowook tidak bisa melawan kematian andaikata anak angkatnya itu yang menjadi korban selanjutnya.

Tetapi Yunho yakin bukan Taemin korbannya.

Ting!

Lift terbuka dan Yunho bergegas berlari di koridor itu menuju ruang rawat Changmin. Ia perlu menemui Yoochun segera. Tangannya menggenggam secarik kertas hasil coretannya sendiri.

Yunho berhasil mencapai pintu setelah beberapa detik keluar dari lift. Dia membuka pintu itu segera dan mendapati Yoochun tengah mengusapi kepala Changmin yang tidur di ranjangnya.

"Aku tidak mau mendengar apapun." kata Yoochun.

Yunho menutup pintu dan mendekatinya dengan cepat. Yunho segera memberikan kertas coretan itu pada Yoochun.

Setelah sebelumnya menerimanya dengan enggan, akhirnya Yoochun menempatkan pengelihatannya pada coretan itu.

"Korban pertama Sungmin, lalu Donghae. Kibum. Kai. Kemudian Zhoumi, Jaejoong, lalu Junho." kata Yunho, seraya memperhatikan pergerakan Yoochun dan sesekali melirikkan matanya pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dalam hati ia mengutuk, lalu kembali pada Yoochun. "Semuanya dikenal oleh Changmin. Jadi Changmin—"

Yoochun meremas kertas itu lalu melemparkannya ke sudut ruangan. Ia berdiri dan menatap Yunho dari dekat.

"Changmin pemain utama! Okay, itu pemikiranmu. Tapi semuanya tidak bisa menjawab bukan, siapa korban tanggal Delapan?"

Yunho terdiam dan balas menatap Yoochun. Dia hendak menjawab, tetapi tidak menemukan sebuah jawaban. Kemudian Yunho teringat untuk menghubungi Ryeowook. Ia meraih ponsel di dalam saku celananya dan segera menghubungi babysitter itu.

"Taemin baik-baik saja. Disini juga ada Minho, tadi diantar oleh Kibum-ssi."

Yunho dapat menarik napas lega setelah mendapat kabar itu. Dia memutuskan telepon secara sepihak, setelah sebelumnya meminta Ryeowook untuk menyampaikan pada anaknya bahwa ia senang karena Taemin baik-baik saja. Lalu Yunho menatap Yoochun kembali.

"Jadi, siapa korbannya?"

Yoochun melirik jam dinding. Duabelas lebih lima menit, dia belum mendapat kabar siapa yang mati.

.:o~o:.

Wednesday

August 8th, 2012

01:34 AM

"Kau serius?"

Yunho mengarahkan pandangannya ke arah Yoochun yang bertanya padanya. Yunho mengangguk, meletakkan kembali ponsel yang baru saja ia gunakan ke dalam saku celananya.

Ini sudah sekitar sembilanpuluh menit setelah tanggal terkutuk dan mereka tidak mendapatkan kabar apapun.

Yunho sudah menghubungi kantor NCIS—mungkin sudah yang kelima kalinya. Dan sama sekali tidak ada laporan kematian apapun, yang misterius maupun tidak. Tidak di lingkup kota Seoul. Tidak ada yang melaporkan tentang seseorang yang kehilangan nyawanya.

Sama sekali tidak ada apapun.

Apa yang terjadi?

Siapa korban selanjutnya? Siapa yang seharusnya mati pada hari ini?

"Aku tidak tahu harus senang atau tidak."

Ucapan Yunho membuyarkan lamunan Yoochun yang sejenak tercipta. Jika tidak ada yang mati hari ini, apa siklusnya terhenti? Tetapi bagaimana bisa?

"Apa ini ada sangkutpautnya dengan Changmin?"

Yoochun terkesiap dan melirik ke arah Changmin yang masih terlelap di ranjangnya. Dia menatap Yunho lagi, meminta penjelasan dalam tatapannya.

"Apa maksudmu?"

Yunho membasahi bibirnya sedikit, membuat kesimpulan. "Changmin—aku pikir dia pemain utama. Dan sekarang Changmin amnesia, melupakan segala hal, termasuk Death Cycle. Apa... itu bisa terjadi? Membuat siklusnya terhenti?"

Yoochun tahu dirinya ditakdirkan untuk menjadi seorang dokter, bukan seorang detektif atau polisi. Tetapi otaknya berusaha mencerna pemikiran itu.

"Aku berharap seperti itu... tetapi apa mungkin?"

Yunho menggeleng, sempat tidak yakin.

"Kalau begitu," Yoochun melirik lagi ke belakang. "Kita harus membuat Changmin tetap lupa ingatan, sampai tahun ini berakhir?"

Yunho memberikan setengah beban tubuhnya pada dinding di belakang. "Itu hanya perkiraan saja. Aku belum yakin itu benar."

"Apa salahnya mencoba?" tanya Yoochun.

Yunho menggeleng lagi. "Tetapi buruk juga jika kita tidak berusaha membuat Changmin ingat akan masa lalu yang ia lupakan. Kita harus membuatnya sembuh."

"Mungkin perlu menunggu empat bulan lagi."

Yunho mendesah tidak setuju.

"Aku yang bodoh, atau kau yang tidak konsisten?" tanya Yoochun.

Yunho mengangkat kepalanya dan menatap langit-langit ruangan. Dia... tidak tahu.

.:o~o:.

Wednesday

August 8th, 2012

06:04 AM

Yoochun berlari menuju minimarket di dekat rumah sakit dan segera masuk ke dalam. Tidak ada yang ia butuhkan selain surat kabar hari ini. Meraihnya dengan cepat, Yoochun mengusahakan untuk membayarnya dengan cepat juga. Setelah itu ia melesat keluar seraya melebarkan lembaran-lembaran kertas itu.

Surat kabar hari ini.

Yoochun membacanya dengan seksama.

Sama sekali... tidak ada berita tentang kematian.

Yoochun bergerak gelisah dan kembali ke rumah sakit. Bersamaan ketika ia berpapasan dengan Jungmo yang berjalan menuju kantin. Yoochun segera ikut bersamanya dan kini mereka duduk di salah satu bangku disana.

Yoochun menyodorkan surat kabar itu kepada Jungmo. "Tidak ada yang mati."

Jungmo menggerenyitkan dahinya bingung dan menatap Yoochun sebelum meraih surat kabar itu dan meneliti tiap halamannya. Membaca setiap judulnya.

Sama sekali... tidak ada berita berdarah.

"Apa maksudnya ini?"

"Aku tidak tahu." Yoochun menyembunyikan wajahnya diantara lengan yang ia tumpukan di meja. "Aku malah khawatir sesuatu terjadi."

"Tapi bagaimana jika kenyataannya ini semua sudah berakhir?"

Terdapat jeda sebentar. "Semudah ini?"

Jungmo meletakkan kembali surat kabar setelah melipatnya. "Kurasa."

"Oh, ayolah." Yoochun mengangkat wajahnya dan menatap Jungmo. "Bagaimana kalau semua ini hanya jebakan?"

"Pernah terjadi sebelumnya?" Jungmo menatap Yoochun.

"Hm?"

"Pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya? Ada yang mati setelah jam dua belas malam? Apakah pernah ada?"

Yoochun berusaha mengingat-ingat apa yang pernah Changmin katakan dulu. "Tidak."

"Jadi kurasa siklus berhenti."

Yoochun memandang Jungmo dengan tatapan apa-kau-benar-benar-bisa-meyakinkanku-dalam-hal-itu, dan jawaban yang diterimanya adalah desahan pasrah.

"Kalau berhenti, aku bersyukur. Kalau tidak, aku juga bersyukur karena yang mati tidak kita kenal."

"Hei, bahkan beritanya—"

"Mungkin saja yang mati itu tidak punya kerabat. Dan ia sedang sendiri. Jadi mayatnya belum ditemukan polisi. Kita tunggu saja beberapa hari lagi."

Yoochun mengusap wajahnya. "Tidak bisa begitu."

"Jadi harus bagaimana?" Sekarang Jungmo sedikit menaikkan nadanya. "Aku sendiri jadi bingung padamu."

"Sialan," Yoochun berdiri dan beranjak meninggalkan Jungmo. "Kalau ada yang mati, kabari aku."

.:o~o:.

BINGUNG?

Iya? Tidak?

OHOHOHO SAYA SIAP DITIMPUK KOO

HALOOOO KETEMU LAGI DENGAN SAYA YURI MASOCHIST DI EPEP INIIII

Boleh minta reviewnya?

Sementara aku posting dua chapie dulu ya, maap maap udah bikin nunggu lama u,u

Habisnya saya lagi semangaaaaaaat! Soalnya tadi pagi saya mimpi yadongan sama Kai X3 ya ampuuuun kerasa nyata bangeeeeeeet *dicekek* #gapenting

Saya mau lihat responnya di kotak review yaaaaaa, nanti saya publish lagi lanjutannya

Ayo tebak-tebakaaaaaaannn, jangan cuma nulis kata 'lanjut' ya ehehehe

So, mind to RnR guys?

MISS YA SO MUUUUUCH

Love, Yuri Masochist