Special thanks to my daughter Kuramichan
Sebelum membaca ada baiknya kalian kencangkan sabuk pengaman karena saya akan membawa kalian terbang menggunakan Kataphrakt bernama— Penistaan 2.0 KzInB. Selamat menikmati
Inaho membuka matanya, namun yang ia dapati adalah sebuah tempat yang asing baginya. Sebuah padang bunga matahari.
"Ukh..."
Inaho jatuh terduduk ketika rasa sakit kembali menyerang bahu kanannya, ada darah merembes keluar dari sana. Inaho membuka jaketnya, lalu membuka kancing kemejanya untuk memeriksa bahunya.
Ada dua lubang peluru di bahunya, darah segar masih keluar dari sana. Inaho heran, seharusnya ia merasa pusing karena ia kehilangan banyak darah. Namun nyatanya, ia merasa biasa saja, hanya merasakan sakit yang sedikit menyengat.
Suara derap langkah kaki terdengar, diikuti tawa riang khas anak-anak. Bunga-bunga matahari bergerak-gerak tak tentu arah. Beberapa terjatuh, terinjak. Dan Inaho melihatnya, sosok dirinya saat berumur kurang lebih lima atau enam tahun. Berlari penuh semangat ke arahnya, diikuti sosok lain yang mengejarnya.
"Nao! Nao tunggu!"
Inaho nyaris bisa melihatnya, Inaho nyaris melihat wajah anak di belakang sosok dirinya sebelum dia terjatuh dan menunduk.
"Oy— kau tidak apa-apa?" Inaho melangkah mendekati anak yang terjatuh itu, mengabaikan rasa sakit di tangannya, mengabaikan fakta bahwa darahnya masih terus mengalir. "Seharusnya kau hati—"
"Nana!"
Langkah Inaho terhenti, suara Jayn terdengar bergetar memanggil namanya. Tapi dimana?
"Jayn?"
"Nana— bertahanlah!"
Bertahan? Dari apa?
"Nana!"
"Ukh!" Inaho merintih, kembali ia cengkram bahunya yang mendadak terasa begitu sakit. Suara Jayn masih terdengar, berdengung di telinganya.
Inaho kehilangan keseimbangannya, ia jatuh terduduk. Pandangan matanya membuyar, bocah yang terjatuh tadi telah berdiri di hadapannya, memandang bingung. Namun Inaho tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas sementara rasa sakit di bahunya semakin menjadi-jadi.
Suara Jayn semakin lama semakin hilang, tenggelam oleh bunyi dengung yang aneh dan mengganggu. Inaho menjatuhkan tubuhnya, tak peduli bahwa tubuhnya merusak bunga-bunga matahari kecil yang seharusnya bisa tumbuh dengan indah kelak. Ia tak lagi peduli.
"Nao?"
Nafasnya yang terengah-engah sedikit demi sedikit mulai tenang ketika suara lembut khas anak kecil itu terdengar di telinganya. Inaho yakin anak tadilah yang memanggilnya.
"Nao?"
Dan Inaho dapat melihat dengan jelas wajahnya sebelum matanya tertutup.
24 March 2002
"Bat...?"
Bisikan yang lemah itu mengalihkan perhatian Jayn, pemuda mungil yang berada di dalam dekapannya membuka matanya sedikit. Nafasnya masih putus-putus dan darah masih mengalir dari bahunya meskipun Jayn sudah berusaha menghentikan pendarahan itu dengan membalutnya menggunakan serbet yang ia temukan di atas meja.
"Nana— syukurlah, tunggulah sebentar lagi. Aku sudah memanggil bala bantuan." katanya sambil mengeratkan pelukannya, lupa akan nama yang disebut oleh Inaho.
Jayn mengintip keluar gang dengan hati-hati, takut bila salah satu anggota Saazbaum yang lainnya datang dan menemukan keduanya.
Dari gang sempit yang gelap ini Jayn masih bisa melihat Arare yang sudah kacau balau. Ia bisa melihat orang-orang yang ketakutan dan bersembunyi— sama seperti mereka.
Mobil-mobil hitam berdatangan, berhenti tepat di depan cafe Arare. Lalu Jayn melihat tiga orang yang telah Inaho habisi tadi diangkut ke dalam mobil, diikuti oleh seorang pemuda berambut pirang nyaris kelabu yang berjalan menunduk dengan darah yang melumuri kedua tangan juga pakaiannya. Pemuda yang menanamkan dua buah peluru pada bahu Inaho— yang Jayn yakini awalnya pemuda itu ingin menembak jantung Inaho namun meleset entah sengaja atau tidak. Pemuda yang terus menjeritkan kata pembunuh sambil terus menembak tak tentu arah, sehingga Jayn menggunakan kesempatan itu untuk kabur sambil menggendong Inaho yang pingsan.
Sementara Jayn mengawasi musuhnya dengan cemas, Inaho memandang wajah Jayn. Tatapannya kosong, nafasnya begitu pelan. Bahunya mungkin sakit, tapi bukan hal itu yang kini tengah ia pikirkan.
Mimpi tadi.
Anak dalam mimpinya tadi.
Untuk kedua kalinya ia melihat pemuda yang ia panggil bat itu dalam wujud anak kecil. Bedanya, sebelumnya ia muncul untuk membunuh Inaho dan tadi ia muncul— bermain bersama dirinya. Bahagia, tanpa beban, begitu akrab seolah ia dan Inaho memang sudah menjalin hubungan persahabatan sejak dini.
Tapi, apa benar itulah yang terjadi? Apa dia dan anak itu benar-benar saling mengenal sebelumnya? Kenapa Inaho tidak bisa mengingat hal itu? Apa tadi itu hanyalah bunga tidur semata? Siapapun... tolong... tolong jawab pertanyaannya.
Tolong aku.
Mungkin, Slaine adalah orang paling bodoh sedunia. Mungkin, Slaine adalah orang paling lemah sedunia. Mungkin, Slaine adalah orang yang paling tidak berguna.
Teman-temannya... mati. Mereka mati karena ia pergi, mementingkan diri sendiri. Mereka mati karena salahnya.
"Slaine." tepukan ringan di bahu menyadarkan Slaine. Harklight memandangnya, tersenyum lembut. "Ayah memanggilmu."
Slaine tidak membalas, ia hanya berdiri dan berlalu begitu saja. Harklight memandang Slaine dengan sayu, memaklumi sikap sahabat yang lebih muda darinya itu. Slaine jelas adalah orang yang paling terpukul akan kematian dua orang anggota keluarga Saazbaum. Dan Harklight tidak suka melihatnya terpuruk, menyalahkan diri sendiri. Harklight benar-benar tidak suka.
"Slaine tidak seharusnya menderita bukan begitu, Harklight?"
"Kau benar..." Harklight berbalik. "...Lemrina-sama."
"Sial!" Yuki membanting kertas-kertas di tangannya hingga berhamburan, sengaja ia dorong tumpukan buku di atas mejanya.
Yuki tak peduli bila ruangannya menjadi berantakan saat ini, saat ini yang ia pikirkan hanyalah adiknya— Inaho.
"Yuki? Apa yang kamu lakukan?!"
Marito berlari, menahan tangan Yuki sebelum vas bunga di atas meja kecilnya hancur berkeping-keping. Marito mengerti keadaan Yuki tentu saja, tak ada satu pun kakak yang tidak panik mendengar adik kesayangannya ditembak dua kali dan dilarikan ke rumah sakit. Tapi reaksi Yuki terlalu berlebihan menurutnya. Jelas ada hal lain yang membuat Yuki bisa sekalap ini.
"Kenapa..." suara Yuki terdengar dengan nafas terengah-engah setelah lima menit ia terdiam. "Kenapa kau harus datang..."
"Ap—"
"... Slaine Troyard."
"Saazbaum?"
"Ingin pergi?" Inaho berhenti mengikat sepatunya, ia menoleh ke belakang mendapati sang kakak yang tersenyum padanya. "Iya."
"Bertemu siapa?"
Inaho berdiri, menepuk celana pendeknya sebelum berbalik dengan senyuman ceria. "Slaine Troyard!"
"Hoo, jangan pulang terlalu malam kay?"
"Ou! Aku berangkat!"
"Hati-hati~!"
Matanya mengerjap ketika cahaya lampu membutakannya, pemandangan yang ditemuinya pertama kali adalah langit-langit berwarna coklat tua. Mengkilap dengan ukiran yang indah.
"Dimana...?" Kaizuka Inaho mencoba untuk mendudukan dirinya, namun tangan kanannya tidak begitu kuat menopang berat tubuhnya dan membuatnya kembali jatuh tidur.
Tangannya masih terasa sakit, sakit sekali. Mulanya Inaho bertanya-tanya apa yang membuat tangannya terasa begitu sakit hingga ia ingat saat-saat dimana seorang pemuda berambut pirang nyaris kelabu itu melepaskan dua tembakan pada dirinya yang sudah dalam keadaan nyaris tak sadarkan diri. Seketika mata Inaho meredup.
Apa maksud semua ini? Kenapa Inaho sering memimpikannya? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa hubungan antara dirinya dan anak itu? Kenapa... kenapa wajah pemuda itu selalu tampak begitu sakit ketika melihatnya?
"Nao-kun!"
Inaho hanya menolehkan kepalanya, namun pandangannya tidak terlalu terfokus.
"Nao-kun, syukurlah... syukurlah..."
Itu Yuki bersama Jayn dan Avherryl. Awalnya Inaho akan kembali memandang langit-langit lalu menutup matanya yang lelah sebelum ia sadar, kenapa sang trissera ada di sini?
"Avherryl... san...?" adalah kata yang keluar dari mulutnya, dia ingin bertanya mengapa kau di sini? namun suaranya tidak keluar sama sekali. Mungkin Inaho masih terlalu lelah akibat kejadian beberapa jam lalu.
"Kau pasti bingung kan, Kaizuka Junior?" Avherryl bersedekap, tersenyum tipis. "Dargfire yang menghubungiku saat kau pingsan. Jadi aku yang menyelamatkan nyawamu."
"Dan ini rumahku, Nana." tambah Jayn. "Rumah lamaku."
Inaho hanya membalasnya dengan gumaman tak jelas, ia kembali memandang langit-langit. Diam tanpa suara, dengan pandangan yang sayu dan kosong. Ia mengingat, kapan ia dan Slaine Troyard pernah bertemu di masa lampau. Masa-masa ketika Inaho masihlah seorang anak berumur enam atau lima tahun.
Tapi apa benar anak dalam mimpinya beberapa saat lalu adalah dirinya sendiri? Apa Inaho memang pernah seceria itu? Apa Inaho memang pernah tersenyum... selebar itu? Kapan terakhir kali Inaho tertawa, Inaho bahkan lupa akan hal itu. Yuki bilang sejak kecil wajah Inaho sudah datar, Yuki bilang sejak kecil Inaho sudah menjadi anak yang pendiam, Yuki bilang— Inaho adalah anak yang tertutup dan sulit bersosialisasi.
Jadi selama ini siapa yang Inaho impikan? Siapa anak yang mirip dengannya itu? Siapa anak yang selalu berlari dan tertawa itu? Siapa anak yang tanpa ragu berteriak-teriak dengan seceria itu? Sebenarnya apa maksud semua mimpi Inaho?
Yuki— yang awalnya tersenyum lebar dengan lega —mulai memudarkan senyumannya, berubah menjadi ekspresi sedih dan kecewa yang tak bisa dijelaskan secara pasti. Ia tahu, adiknya pasti memikirkan sosok pemuda di masa lalu. Sosok seorang Slaine Troyard.
Jayn menyadari ekspresi Yuki, dalam hati ia mengumpat. Setidaknya sebelum Klein membahas soal Saazbaum semua masih baik-baik saja. Semua masih normal. Dan Inaho tidak sering terluka atau pingsan akibat sakit di kepalanya. Sakit yang muncul— akibat mimpi-mimpi memusingkan itu.
Di antara keempatnya, mungkin hanya Avherryl yang tersenyum. Tersenyum tipis sekali.
Inaho tidak boleh menemui anak itu lagi
