Author : Yuri Masochist or Han Youngra
Title : The Time: The Memory | August 9th, 2012
Cast :
+ Main Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun)
+ Other Cast : Yunho, Taemin, Jungmo, Junsu, Tao, Lay, Kris, Eunhyuk, Ryeowook, Minho, OnKey, Baekhyun,
+ Cameo : Soohyun, Henry, Shindong, KiVin (KiseopxKevin), HanChul, Siwon, Jonghyun, Leeteuk, Yesung, Eli, T.O.P, GD, Kangin, Sooman, Jay, Seungri, Daesung, Alexander, SooSun (SooyoungxSunny), YulSic (YurixJessica), YoonSeo (YoonaxSeohyun), Narsha, Thunder, Mir, Joon
+ Say 'Goodbye' to : Sungmin, Donghae, Kibum, Kai, Zhoumi, Jaejoong, Junho, Se7en and who's next?
[DBSK | Super Junior | SHINee | TRAX | EXO | Big Bang | U-Kiss | Se7en | MBLAQ]
[SNSD | B.E.G]
Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror
Rated : PG-15 | T semi M deh untuh semua chap~
Type : Yaoi
Length : Chapter
Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini | You can not stop the cycle
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!
Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!
A/n : 8A hollaaaaaaaaa
.
.
.
.
The Time: The Memory | August 9th, 2012
.
Thursday
August 9th, 2012
08:05 AM
Yunho bergegas menghampiri Eunhyuk yang sibuk dengan tumpukkan kertasnya. Dia menghampiri kubiks yang bersebelahan dengan milik Kris—chinese, pekerja lapangan baru—yang Yunho yakin dulunya kubiks itu tempat Donghae.
Eunhyuk sama sekali belum menyadari kehadiran Yunho, karena ia terlalu sibuk dalam membaca deretan kalimat dari laporan yang sedang ditekuninya—Yunho tidak tahu yakin tentang apa itu. Ia sangat tidak mau untuk mengganggunya, tetapi Yunho memerlukannya sekarang juga.
"Eunhyuk-ah..."
Eunhyuk mengangkat kepalanya dan mendapati Yunho—lengkap dengan seragamnya—berdiri di depan mejanya dan menatapnya dengan sebuah pertanyaan. Eunhyuk meletakkan kertas yang tengah dibacanya dan menatap Yunho, bertanya, untuk bersikap ramah.
"Hei, pagi sekali. Ada apa?"
"Ada kasus pembunuhan?"
Eunhyuk sedikit memiringkan kepalanya. "Pembunuhan?"
Yunho mengangguk mantap. Di dalam pikirannya, dia tidak tahu jawaban apa yang ingin dia dengar.
"Kurun berapa waktu?"
"Dua hari ini."
Eunhyuk mengangguk mengerti lalu melirik seluruh berkas yang berada di mejanya—bahkan yang menumpuk di rak belakang kursinya.
"Dua hari ini tidak ada. Tidak ada kasus pembunuhan. Memangnya ada apa?"
Yunho menjilat bibir bagian dalamnya sedikit. "Tentang kematian. Apapun. Kematian misterius, kau tahu sendiri yang sedang ditekuni Changmin."
"Ah," Eunhyuk mengangguk. "Dua hari ini tidak ada."
Yunho sedikit membulatkan matanya. "Kenapa bisa?" dia mendesah frustasi.
"Jikalau ada, mungkin yang meninggal bukan di seputar Seoul. Kenapa tidak kau cari berita diluar?"
Yunho menggeleng pelan. "Feelingku mengatakan—"
"Kenapa tidak kau coba dulu? Mungkin saja bisa. Kau bisa mencarinya lewat internet untuk berita kemarin bukan?"
Yunho diam sebentar, mencerna apa yang diucapkan oleh Eunhyuk. Ia tidak tahu apakah mungkin yang dikatakannya, Yunho berharap silkusnya terhenti. Tapi bagaimana jika memang ada tentang kematian aneh atau misterius, tapi ternyata dia bukan orang yang dikenal Changmin, atau siapapun. Itu akan membuat ia—mereka—semakin sulit untuk mencari siapa pemain utama. Dan itu membuat mereka akan merasa sangat terbebani menuju akhir tahun—akhir dari siklus tahun duaribu duabelas.
"Baiklah, Eunhyuk. Terima kasih."
Yunho beranjak pergi, bergegas untuk mencari apa yang dikhawatirkannya.
.
.
The Time
The Memory | August 9th, 2012
A Nonsense Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"
Time to Play
.
.
.
Thursday
August 9th, 2012
09:32 AM
"Changmin, kau masih tetap mau seperti ini?"
Changmin masih memalingkan wajahnya sejak tadi. Begitu enggan untuk menatap namja yang masih berstatus sebagai kekasihnya. Oh ayolah, Changmin begitu tidak menyukai kebohongan atau kenyataan yang disembunyikan dari dirinya. Itu alasan mengapa ia begitu sangat marah terhadap Yoochun sejak dua hari yang lalu.
"Aku tidak bisa member—"
"Bodoh," gumamnya. Changmin menatap Yoochun perlahan. Manik matanya bergerak memperhatikan wajah namja itu. "kau ingin membuat ingatanku kembali seperti semula, bukan? Kau ingin aku sembuh, bukan? Kenapa masih ada hal yang kau tutupi?"
"Aku bukan—"
"Aku muak, hyung. Aku muak!" Changmin membasahi bibirnya yang kering. "Memangnya aku tega melihat Taemin yang hampir menangis setiap dia mengobrol denganku? Aku yakin Taemin masih belum percaya bahwa aku mengingatnya! Dan pada kenyataannya aku memang tidak bisa mengingatnya!"
"Tapi Changmin—"
"Berhenti menutupi segala hal yang perlu aku tahu, hyung! Berbohong tidak akan menyembunyikan semua hal dengan nyata..."
Aku tahu. Setidaknya itu menghentikanmu sementara waktu.
Yoochun menggeleng pelan. "Terkadang ada sesuatu yang tidak perlu kau tahu dari masa lalumu."
"Pemikiran macam apa itu?!" Changmin tidak bisa meredam emosinya yang meluap. "Apa keuntunganmu menyembunyikan masa laluku? Apa timbal balik yang—"
"Kau akan menyesal jika mengingatnya..."
"Tidak, hyung..." Changmin menggeleng cepat. "Tidak. Cepat beritahu aku."
Yoochun tidak menjawab.
"Kumohon, hyung. Hyung tidak bisa melakukan ini padaku. Hyung harus berhenti. Hyung harus membuatku kembali hidup."
Yoochun hanya menatapnya lekat, dan menangkap tatapan memohon itu.
"Tolong aku, hyung. Aku tersiksa—tersiksa dengan segala masa lalu yang sama sekali tidak aku ketahui. Yang aku rasa begitu berhubungan dengan semuanya. Yang—"
"Salah satu ingatanmu yang hilang adalah, kau mencintai seseorang selain aku."
Hell, memang bukan Death Cycle masalah utamaku. Tetapi... Kyuhyun.
Changmin mengatupkan bibirnya rapat.
.:o~o:.
Thursday
August 9th, 2012
12:41 PM
Yunho yang tengah mencari banyak berita yang terjadi pada tanggal kematian dari seluruh penjuru dunia, tersentak kaget ketika mendapatkan sebuah telepon dari orang asing yang mengatakan bahwa anaknya berada di rumah sakit sekarang. Yunho tidak tahu apa yang terjadi, karena setelah diberitahu dimana rumah sakit itu, ia segera bergegas pergi kesana.
Dan beruntung, rumah sakit itu adalah rumah sakit yang sering dikunjunginya.
Tempat Changmin dirawat.
Dengan mengendarai mobilnya sekitar sepuluh menit, Yunho sudah sampai dan bergegas mencari UGD. Dan ia dapat bernapas lega ketika melihat Taemin baik-baik saja, berada dalam pangkuan seseorang yang mungkin adalah penelponnya.
"Ada apa ini?"
Taemin melihat Yunho dan segera bergerak meminta dilepaskan, lalu Yunho menggendongnya.
Pemuda itu menatap Yunho perlahan. "Tadi anak Anda yang satu lagi menjadi korban tabrak lari."
Yunho yakin yang pemuda itu maksud adalah Minho—karena Taemin selalu pulang dengan Minho. Jadi pemuda itu pasti menganggap Minho anaknya. Yunho tidak perlu bertanya mengapa pemuda itu bisa menghubunginya, toh dia tidak bodoh. Pasti Taemin yang memberitahunya.
"O-Onew appa bilang telat menjemput.. hiks... j-jadi kami beljalan... hiks..."
Yunho melirik Taemin dalam pangkuannya, lalu mengusapi kepalanya dengan begitu lembut. Mencium rambutnya berulang kali. Lalu menatap pemuda itu.
"Kau melihat jenis mobilnya? Plat nomornya?"
Pemuda itu mendesah pelan. "Aku tidak melihat plat nomornya, tetapi mobilnya sedan hitam."
Yunho berusaha untuk menghentikan tangis Taemin. "Ssh, Taemin tidak apa-apa kan?" Taemin menggeleng dan masih menangis. "Minho akan baik-baik saja, Sayang. Ssh..."
"Hiks... Taemin takut M-Minho hyung pergi bersama Kai... hiks.."
"Tidak akan, Sayang. Tidak—"
"Yunho-hyung!"
Yunho mengarahkan pandangannya dimana Key dan Onew bergegas menghampirinya dengan wajah panik.
"B-bagaimana keadaan Minho?"
Yunho menggeleng pelan. "Aku tidak tahu."
"Ya Tuhan.." Key segera memeluk Onew dan menangis di dalam pelukannya.
Pemuda itu tidak mau ambil pusing tentang hubungan orang-orang itu. Dia hanya menunduk pelan, berniat untuk pamit.
"Saya izin pamit dulu. Semoga anak Anda selamat."
Onew dan Yunho mengarahkan pandangannya kepada pemuda itu dan mengangguk. Dan sebelum lelaki itu benar-benar melangkah pergi, Onew menahan langkahnya.
"Tunggu... siapa namamu?"
Pemuda itu hanya tersenyum.
.:o~o:.
Thursday
August 9th, 2012
03:49 PM
Changmin sempat menahan seorang suster yang datang untuk mengecek kondisinya, dan meminta sebuah buku catatan dan alat tulis, yang suster itu langsung cari lalu diberikan setelah sekitar limabelas menit menghilang dari pandangannya. Beruntung menjadi pasien VVIP. Ah, tidak. Beruntung juga mempunyai kekasih seorang dokter yang begitu dibanggakan oleh dokter senior, jadi ia begitu dihormati oleh bawahan-bawahannya.
Changmin mulai menuliskan sesuatu pada lembaran-lembaran kertas itu. Sesuatu yang mengganggu pikirannya. Sesuatu yang tidak bisa ia ingat apa, tetapi memenuhi seluruh otaknya.
Aku tidak mengetahui apapun.
Tapi aku tahu ada sesuatu yang harus aku ingat, aku ketahui.
Rasanya mengganjal.
Aku mulai menulis semua hari ini.
Rasa aneh itu... dejavu mungkin... aku pernah dirawat disini sebelumnya.
Aku ti
Changmin tidak sempat melanjutkan tulisannya ketika pintu terbuka dan ia mendapati Yoochun masuk ke dalam. Changmin segera menyelipkan buku dan pulpen itu di bawah bantalnya, lalu menatap namja itu.
"Aku ada satu pertanyaan untukmu."
Yoochun menatapnya, masih berada tidak jauh dari pintu.
"Jaejoong-hyung meninggal... dan aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."
Yoochun tidak mampu mengucapkan apapun.
Satu memori... yang Changmin ingat dalam waktu dekat.
.:o~o:.
Lanjut yaaaaaa, saya posting empat chapie, entar di chap terakhir yang di posting cuap-cuapnyaaa :D
