Special thanks to my daughter Kuramichan
Sebelum membaca ada baiknya kalian kencangkan sabuk pengaman karena saya akan membawa kalian terbang menggunakan Kataphrakt bernama— Penistaan 2.0 KzInB. Selamat menikmati
26 March 2002
Buku-buku bertebaran, kertas-kertas dibiarkan berjatuhan di lantai dan terinjak. Kaizuka Yuki masih sibuk mencari, melempar buku atau kertas ke sembarang arah, lalu menjeritkan kata sial dengan kencang. Seandainya adiknya di sini sudah pasti Yuki akan dimarahi dan dinasihati panjang lebar— ah tapi Yuki rindu sekali ocehan soal kebersihan dari adiknya itu. Tapi jika dipikirkan lagi, Yuki membuang-buang bukunya dengan kalut juga berkat adiknya.
"Ketemu." Yuki menghela nafas lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa. Di tangannya terdapat dua buku, sebuah album foto kesayangannya dan sebuah buku bersampul kuning tua yang judulnya sudah tidak diketahui lagi— sobek hingga empat halaman.
Yuki buru-buru membuka album fotonya— yang kebanyakan diisi oleh foto masa kecilnya dan foto adiknya bersama seorang anak laki-laki lainnya. Sejenak Yuki terdiam, memandang foto anak laki-laki berambut pirang nyaris kelabu yang tersenyum lebar di samping adiknya sambil menunjukkan ikan mas besar hasil tangkapan keduanya.
Gadis sulung Kaizuka itu tersenyum sedih memandangnya, ia kembali membuka lembar lainnya. Terus ia buka hingga hanya tertinggal adiknya sajalah yang ada dalam foto-foto itu, tidak bersama anak laki-laki tadi.
Yuki tersadar, tujuannya bukanlah untuk bernostalgia. Tetapi untuk memastikan sesuatu.
Ia membuka buku bersampul kuning tuanya, mencari-cari informasi tentang musuh bebuyutan Klein Famiglia.
Tangannya berhenti membuka lembaran-lembaran kecoklatan itu saat ia tiba di halaman yang menunjukkan struktur organisasinya. Yuki sendiri merasa takjub para mafioso-mafiosi Klein dapat mencari tahu informasi tentang Saazbaum sedemikian dalamnya— bahkan hingga nama sang don dan keturunannya pun telah diketahui mereka.
"Orpheus... ya..." gumam Yuki saat melihat foto seorang pemuda yang berada tepat di bawah foto sang boss.
Slaine Troyard, 17 tahun, seorang pewaris sah Saazbaum Famiglia. Seorang pemuda dengan wajah yang tenang. Seorang pemuda tampan yang membuat siapa saja berpikir bahwa dia tidak berbahaya sama sekali. Seorang pemuda berambut pirang nyaris kelabu— pemuda yang sama dengan anak laki-laki dalam album foto Yuki.
Meskipun Yuki sudah lama mengetahui hal itu ia tetap berusaha menyangkal. Tetap tak ingin memercayainya. Tetap menganggapnya sebagai seorang adik kecil. Tapi rasa sakit hati yang ia simpan akibat kejadian enam tahun yang lalu membuat Yuki setengah membenci pemuda tersebut.
Yuki kembali memandang album fotonya lalu beralih memandang buku di pangkuannya itu. Ah dulu Slaine Troyard hanyalah seorang bocah polos yang selalu mengayomi adiknya, namun sekarang ia telah menjelma menjadi seorang pemuda tampan.
"Slaine... Troyard..." Yuki memandang foto Slaine sekarang dengan sendu. "Sayang sekali, kehadiranmu membahayakan nyawa Nao-kun sekarang."
Dan Yuki pergi membakar semua kenangan tentang seorang Slaine Troyard.
Slaine Saazbaum Troyard, 17 tahun, orpheus Saazbaum Famiglia
Ia diangkat menjadi putra don Saazbaum lima bulan setelah masa bergabungnya ke dalam keluarga
Pemuda berbakat yang pernah menghabisi lima belas mafioso kuat sendirian
Status : berbahaya
Dan dia adalah sahabat terbaik seorang Kaizuka Inaho
Inaho terbangun di kamarnya, tanpa rasa sakit, tanpa pusing yang menyiksa, dan tanpa mimpi buruk yang terkesan nyata baginya seperti yang lalu-lalu. Ia bangun dengan biasa. Ia bangun seperti saat nama Saazbaum Famiglia tidak menghantui kepalanya.
Ah tidak— masih ada rasa sakit yang menyambutnya. Rasa sakit yang muncul dari bahu kanannya.
Inaho menghela nafas, setidaknya ia bisa tidur nyenyak selama dua hari ini tanpa mimpi-mimpi aneh itu pikirnya. Lalu ia beranjak turun dari ranjangnya, berniat pergi ke ruangan sang kakak.
"Ah— Inaho!" Dia menoleh, mendapati Nina— sang orpheus —melambai padanya. "Mau kemana?"
"Yuki-nee." jawabnya singkat.
"Oh... bisa ikut denganku dulu? Aku menemukan sesuatu yang penting, Inaho."
Inaho terdiam sejenak sebelum mengangguk menyanggupi.
"Ini." Nina berujar seraya menyerahkan selembar foto yang sedikit hangus di bagian ujungnya. Ia tersenyum pada Inaho. "Itu kau kan?"
Sang bungsu Kaizuka memandang foto itu. Foto yang menampakkan dirinya ketika berumur sekitar tujuh tahun tengah tersenyum malu-malu seraya dirangkul akrab oleh seorang anak lelaki yang mengangkat tinggi-tinggi ikan mas besar hasil tangkapan mereka.
"Bat...?"
"Aku menemukannya saat Yuki-san akan membakar foto-foto itu. Awalnya aku tidak mengerti kenapa dia membakar foto-foto masa kecilmu." terang Nina, "Lalu aku melihat sehelai foto yang terbang dan terpisah. Ketika kulihat... aku rasa aku mengerti kenapa Yuki-san membakar semuanya."
Inaho diam tak menjawab— seketika kepalanya kembali terasa pusing.
"Inaho, kalau memang dugaanku anak lelaki yang berdiri di sebelahmu itu adalah Slai— orpheus dari keluarga Saazbaum. Maka yang kuinginkan hanyalah kerja samamu."
Apa maksud semua ini?
"Aku ingin kau kembali mendekatinya, tunjukkan saja foto ini— toh kalian sepertinya memang teman masa kecil kan? Pokoknya setelah dia lengah dan berpikir bahwa Klein bukanlah ancaman— berhubung kau adalah anggota keluarga ini —kita akan segera melancarkan serangan pada Saazbaum secara diam-diam selagi Slaine Troyard sudah berhasil kita lumpuhkan."
Kenapa Yuki tidak bilang padanya? Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang Yuki sembunyikan darinya?
"Tapi sebelumnya, karena kalian teman sejak kecil kau pasti tahu kan kele— Inaho? Kau mendengarkanku tidak? Inaho?"
Suara Nina terdengar berdengung di telinganya, tidak jelas apa yang Nina katakan— seolah ada air di dalam telinganya.
"Kalau pusing pukul saja kepalamu seperti ini, Nao."
Inaho tersadar, buru-buru ia pukul sendiri kepalanya hingga mengejutkan Nina.
"Kau baik-baik saja, Inaho?" tanya Nina khawatir.
"Ya— maaf aku tidak mendengarkan."
Nina menghela nafas. Akhir-akhir ini Inaho memang seringkali melamun— memikirkan entah apa namun terlihat seperti masalah yang besar, itu sebabnya Nina berusaha memaklumi meski rasanya kesal juga kata-katanya tidak didengarkan sama sekali.
"Ya sudah, sepertinya kamu masih merasa lelah akibat serangan Saazbaum kemarin." kata Nina, "Kau mau menemui Yuki-san kan? Sekarang kau boleh pergi, Inaho."
"Aku benar-benar minta maaf."
Nina tertawa kecil melihat Inaho yang membungkuk. "Sudah kubilang tidak apa-apa."
Nina menepuk bahu Inaho, isyarat agar pemuda Kaizuka itu segera berdiri. Ia tersenyum lembut padanya dengan pipi yang sedikit bersemu tatkala Inaho membalasnya dengan senyuman tipis.
Nina baru saja akan membuka mulutnya lagi ketika suara ledakan menginterupsi disusul suara teriakan ribut orang-orang.
"Apa yang terjadi?!" jerit Nina sambil memandang ke arah puri. Menara ketiga tampak sedikit hancur dengan asap yang masih mengepul.
"Nina, lari dan bersembunyilah!"
"E— Inaho! Inaho kau masih belum pulih!"
"Cepat!"
Nina meneguk ludah, lalu mengangguk dan berlari ke arah hutan. Dimana sebuah benteng bawah tanah tersembunyi di dalamnya.
Dan ayahnya juga ada di sana— selalu
Inaho bersyukur ia dan Nina berada sedikit jauh di luar puri dan bukannya mengobrol di menara ketiga. Seandainya mereka masih di sana ada kemungkinan yang menyerang adalah Saazbaum dan jika ia benar maka— mungkin Nina akan tertangkap dengan cepat.
"Yuki-nee!" Inaho menendang pintu ruangan kakaknya, ia terbatuk ketika kepulan asap menyambutnya.
Yuki tidak ada di ruangannya, artinya dia telah pergi keluar. Inaho menghembuskan nafas lega, setidaknya kakaknya tidak tertimpa reruntuhan di ruangan ini.
"Ternyata kau di sini— Orenji."
Inaho yakin sosok pemuda yang biasa memanggilnya orenji ini tengah menodongnya dengan pistol. Sangat yakin— mendengar bunyi pelan pelatuknya yang ditarik.
"Bat." Inaho memandang datar setelah berbalik, kini jalan keluarnya telah ditutup. "Tak kusangka seorang orpheus mau repot-repot mencariku yang hanyalah seorang herla rendahan."
"Lucu sekali, Orenji." Slaine menatap sengit, "Darimana kau tahu aku adalah seorang orpheus, huh? Apa Nina yang mengatakannya padamu?"
"Mungkin."
Tangan Slaine bergetar, meski beberapa hari yang lalu Slaine sempat menanamkan dua peluru di bahu Inaho tetap saja ia merasa takut— seolah yang berada di hadapannya adalah sahabat kecilnya yang telah lama mati dan Slaine tidak suka itu.
Slaine benci akan kemiripan Inaho dan sahabatnya. Slaine benci akan sikap Inaho yang tetap tenang tanpa mencabut pistolnya saat tahu ada seorang musuh yang mengancamnya saat ini. Slaine benci akan cara Inaho yang membuatnya tampak lemah. Slaine benci— saat Inaho membunuh ketiga temannya yang berharga.
"Apa yang membuatmu menyerang kami?" Inaho bertanya.
"Untuk membalaskan dendamku dan keluargaku." juga dendam pribadi Lemrina pada Nina, tambahnya dalam hati.
Inaho tetap memandang Slaine, ia tetap tidak terlihat gentar sedikit pun meski sebenarnya ia sedikit was-was. Sungguh, Inaho sedang tidak membawa pistolnya sama sekali selain pisau lipat kecil.
"Kau menaruh dendam padaku, Bat?" perlahan-lahan Inaho mengambil langkah mundur, mendekati jendela yang terbuka.
"Bodoh sekali kau berpikir aku tidak memendam perasaan benci sama sekali padamu." Slaine tersenyum sinis.
"Ah, benar juga." kini Inaho telah sampai di ambang jendela, "Tapi kurasa kita lanjutkan nanti saja."
Dan ia melompat begitu saja, tanpa peduli kini dirinya berada di lantai tiga. Slaine mengejar, Inaho pasti tak akan bisa bergerak bebas di udara seperti itu, maka Slaine melepaskan tembakannya.
Sayangnya ia meleset, justru pelurunya mengenai selembar foto yang masih Inaho pegang. Melubanginya— tepat pada wajah Inaho kecil.
"Cih." Slaine menendang vas bunga yang ada di dekat kakinya saat melihat Inaho sudah terlebih dulu masuk ke sebuah ruangan di lantai satu yang jendelanya terbuka lebar. "Aku tak akan melepaskanmu, Orenji."
Inaho duduk dengan nafas terengah di lantai kamar yang dimasukinya. Mendadak ia mencengkeram bahunya yang kembali terasa sakit, memang gila sekali rencana melarikan dirinya. Melompat dari lantai tiga dan dengan cepat meraih kusen jendela paling tinggi di lantai satu? Seandainya dia tidak berhasil melakukannya mungkin hasilnya akan lebih parah lagi dibanding rasa sakit yang diterima bahunya.
Setelah menenangkan dirinya sejenak, ia segera berdiri menjelajahi kamar yang entah milik siapa ini untuk setidaknya menemukan satu atau dua buah pistol.
"Slaine Troyard..."
Tangannya berhenti pada knop pintu ketika terdengar suara kakaknya di luar memanggil sebuah nama.
"Yuki-nee...?"
Inaho tersentak mendengar suara Slaine yang memanggil kakaknya dengan nada rendah yang sendu.
"Apa yang kau lakukan di sini, Yuki-nee?" pertanyaan itu terdengar sedih— sekaligus terkejut.
Dan dibalas dengan sinis oleh Yuki. "Kau sendiri, apa yang mau kau lakukan pada keluargaku?"
"Klein berbahaya, Yuki-nee. Klein yang telah membunuh Na—"
"Kau salah!" Yuki menjerit marah. "Bukan keluarga ini yang membunuhnya! Kau salah!"
"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!"
"Kau menyimpulkannya sendiri, Slaine-kun!"
Inaho terdiam, tidak mengerti sama sekali dengan arah percakapan keduanya. Tapi ia berharap dengan ini setidaknya bisa menyadarkan Slaine bahwa keluarga Klein tidaklah jahat.
"Kalau bukan Klein lalu siapa hah?! Siapa?! Aku berada di sana saat itu! Aku yang berada di sisinya saat Klein menembakinya! Sudah jelas Klein yang membunuh Na—"
"Vers yang melakukannya!"
Hening, Inaho tebak pasti Slaine tengah menampakkan wajah terkejut saat ini. Inaho tidak terlalu mengenal keluarga Vers, tapi yang ia tahu dari Calm dan Inko mereka adalah famili terkuat ketiga setelah Klein dan Saazbaum. Dan kalau tidak salah Vers merupakan sekutu Saazbaum.
"Aku tidak suka candaanmu, Yuki-nee."
"Kapan aku bercanda soal dia?"
Helaan nafas yang berat terdengar.
"Sebelumnya, Yuki-nee... ada yang ingin kutanyakan." suara Slaine kembali melemah, "Aku melihat seorang pemuda— dari keluarga ini —yang... kau tahu? Dia... mirip sekali dengannya."
Kali ini Inaho yakin dirinyalah yang dibicarakan.
"Aku hanya ingin tahu, siapa anak itu?"
"Kenapa kau mau tahu?"
"Dia membunuh ketiga sahabatku— dan lagi... entahlah, tiap melihatnya aku merasa rindu."
Hah?
Inaho mengeratkan genggamannya terhadap knop pintu, ia rasa ia harus menghadapi Slaine secara langsung dan menanyakan maksudnya. Inaho tidak ingin hanya berakhir dengan penasaran. Dan Inaho juga ingin menanyakan hubungan kakaknya dengan Slaine— mungkin semua itu akan menjawab mimpi-mimpi aneh yang dialaminya.
Baru saja Inaho berniat membuka pintu, ia kembali terdiam untuk kesekian kalinya tatkala suara letusan tembakan menginterupsi. Tembakan peringatan.
"Sebaiknya kau pergi sekarang, Slaine Troyard." Yuki mendesis dingin. "Bawa semua anak buahmu itu dan jangan pernah temui lagi pemuda yang kau bicarakan tadi."
"Kenapa?"
"Tidak boleh— semakin sering kau muncul di hadapannya semakin sering kau menyakitinya. Menyakiti perasaannya."
"Kenapa? Aku tidak mengerti."
"Kalau kubilang tidak boleh ya tidak boleh!" jeritan Yuki diikuti dengan suara tembakan kedua. "Cepat pergi, Slaine-kun."
"Yuki-nee..."
"Pergi."
"Yuki-nee tolong jelas—"
"KUBILANG PERGI!"
Lalu Inaho mendengar suara langkah kaki yang menjauh diikuti kata-kata mundur yang begitu tegas. Entah kenapa— Inaho merasa takut menemui kakaknya saat ini.
"Aku tahu kau menguping pembicaraan kami sejak tadi, Nao-kun."
Ah, ternyata dia ketahuan.
"Yuki-nee, sebenarnya siapa yang sejak tadi kalian bicarakan?" Inaho bertanya hati-hati.
"Kau tidak perlu tahu untuk saat ini, Nao-kun." balas Yuki dengan senyuman lembut yang tampak lelah, lalu ia pergi meninggalkan Inaho dengan rasa penasarannya.
"Klein Famiglia adalah pendosa."
