Special thanks to my daughter Kuramichan
Sebelum membaca ada baiknya kalian kencangkan sabuk pengaman karena saya akan membawa kalian terbang menggunakan Kataphrakt bernama— Penistaan 2.0 KzInB. Selamat menikmati
25 March 2002
Dentingan piano itu terdengar merdu, melodi indah karya Mozart ia mainkan dengan khusyu. Rambut merah muda pendeknya bergoyang lembut mengikuti irama dari anggukan kepalanya. Jemarinya dengan lihai menari di atas tuts piano.
Slaine memandang gadis di atas kursi roda itu, tangannya mengetuk meja mengikuti irama permainannya. Meskipun begitu pikirannya melayang jauh entah kemana.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Slaine?" Lemrina memandang sang tunangan, tempo permainannya melambat dengan halus.
"Tidak ada, Lemrina-san."
Jari Lemrina tanpa sengaja menekan tuts pianonya dengan kasar ketika mendengar kata san di belakang namanya. Ia tidak suka itu.
"Lemrina saja sudah cukup, Slaine. Ingatlah... kita sudah bertunangan." katanya manis.
Slaine menghela nafas, ia dekati Lemrina yang menghentikan permainan indah pianonya. Lalu Slaine ikut menarikan jemarinya, menghasilkan nada dari lagu little star.
"Aku tahu itu, tapi tidak ada salahnya kan jika aku tetap menghormatimu?"
"Kau selalu saja seperti itu, Slaine." Lemrina tertawa kecil. "Heran sekali, untuk apa kau menghormati orang cacat sepertiku?"
"Bukan hanya aku, tapi yang lainnya juga seperti itu."
"Sayang sekali kau salah..."
Jari Lemrina kembali menari, menyempurnakan irama yang dibuat Slaine. Kalimatnya masih menggantung, membuat rasa penasaran— sekaligus heran —Slaine memuncak.
"Apa yang salah dari kata-kataku?"
Lemrina tersenyum tipis. "Mereka bersikap seperti itu padaku karena aku adalah salah satu keturunan Vers selain kakak yang kelak akan menjadi penerus. Mereka juga bersikap seperti itu padaku hanya karena mereka membutuhkan otakku, seandainya tidak begitu pasti aku sudah dibuang oleh ayah."
"Bukankah itu artinya kau hebat, Lemrina-san?" kali ini tangan Slaine menyentuh jemari Lemrina, lalu perlahan menggenggamnya. "Kau adalah sosok wanita yang luar biasa, itu sebabnya semua orang menghormati dan mencintaimu. Begitupula denganku."
"Kau mencintai kakakku, Slaine." Lemrina memandang wajah Slaine dengan tatapannya yang teduh. "Dan aku mencintai seseorang dari keluarga musuh. Kita berdua tidak saling mencintai."
Genggaman Slaine semakin erat.
"Pertunangan ini hanyalah sekadar formalitas untuk menjaga hubungan antara Vers dan Saazbaum karena kakak sudah lebih dulu menikah dengan Klancain." tambah Lemrina.
"Mungkin dulu aku mencintai Asseylum-san, tapi saat ini aku memilikimu, Lemrina-san— maksudku... Lemrina."
"Dulu kau mencintai kakak dan sekarang pun kau masih mencintainya." tawa lembut terdengar, "Aku tahu tidak mudah untuk melupakan orang yang kau cintai. Aku juga seperti itu, tidak perlu memaksakan diri untuk mencintaiku. Aku malah merasa kau sedang mengasihaniku."
Slaine menghela nafas, Lemrina adalah gadis yang baik sebenarnya. Ia juga kuat, cacat di kakinya tidak pernah membuatnya merasa rendah, dan dia tidak mudah menyerah. Itu yang disukai Slaine darinya. Namun ia mengerti, Lemrina masih tidak bisa melupakan sosok pemuda dari keluarga Klein— Slaine sendiri masih tidak bisa melupakan Asseylum. Mereka berdua memang tidak saling mencintai.
"Slaine..." di sela hening yang melanda, suara Lemrina membelah udara. "Bolehkah aku meminta tolong kepadamu?"
"Tentu saja, Lemrina."
"Tolong balaskan juga dendamku pada Klein." tangan gadis merah muda itu balas menggenggam erat tangan Slaine. "Balaskan dendamku pada Nina— yang membiarkan Kisaki-kun mati begitu saja."
Kepalanya tertunduk, Slaine bisa melihat tetesan air mata yang membasahi rok kelabunya. Ah— Slaine tidak suka melihatnya menangis.
"Baiklah."
26 March 2002
Slaine mengurung dirinya di kamar setelah melakukan rapat di aula utama, beberapa anggotanya bertanya-tanya kenapa ia memberi perintah untuk mundur sedangkan penyerangan tadi sudah sangat menguntungkan bagi Saazbaum Famiglia. Beruntung Lemrina mau membantunya menjawab semua pertanyaan itu.
"Rencana ini dilaksanakan untuk menggertak mereka, membuktikan bahwa Saazbaum itu kuat dan sepatutnya ditakuti. Setelah penyerangan tiba-tiba yang tak terdeteksi oleh mereka, aku yakin Klein akan tunduk pada Saazbaum."
Itu memang alasan yang cukup masuk akal. Slaine benar-benar mengucapkan terima kasih pada Lemrina yang mau repot-repot datang memberi bantuan padanya.
Dan sekarang Slaine akan membalaskan kebaikan hati itu. Meski tidak berhasil menghabisi sang pemuda oranye— dan malah membuat dirinya bertemu Yuki tanpa disangka-sangka —setidaknya ia berhasil mendapatkan beberapa dokumen dan rekaman cctv yang berkaitan dengan seorang pemuda yang dicintai Lemrina, Matsuribi Kisaki.
Ia membaca dengan serius semua informasi tentangnya. Setidaknya dengan informasi ini ia bisa memojokkan Nina atau membebaninya dengan rasa bersalah dan penyesalan yang luar biasa besar.
Awalnya Slaine tidak terlalu mengerti kenapa Lemrina menaruh dendam pada Nina akibat kematian Masuribi. Namun setelah ia melihat rekaman cctv kelima— dimana puri Klein tampak diserang oleh famili mafia lain —akhirnya ia mengerti.
Matsuribi Kisaki berlari ke arah Nina yang dikepung tiga orang musuh dan menjadikan tubuhnya sebagai tameng peluru. Tapi saat itu, Nina tidak mengatakan apapun— dilihat dari bibirnya yang tetap terkatup —lalu lari begitu saja sebelum tubuh Matsuribi terjatuh. Mungkin Lemrina mengetahui hal ini.
Slaine mengepalkan tangannya, Klein sudah benar-benar keterlaluan pikirnya. Siapa pun akan marah saat tahu pengorbanan orang yang paling mereka cintai ternyata disia-siakan. Perasaan benci di dalam hati Slaine terhadap keluarga Klein memuncak— benar-benar tidak termaafkan.
"Vers yang melakukannya!"
Lalu kepalan tangannya mengendur ketika mengingat jeritan Yuki yang penuh amarah.
"Apa otakmu sudah dicuci oleh mereka... Yuki-nee?"
"Nao! Yuki-nee! Umpanku ditarik!"
"Waa— besar sekali, Slaine."
"Benar kan? Kubilang juga dewi fortuna selalu ada untuk anak-anak baik seperti kita, Nao!"
"Kalian berdua memang hebat, ayo abadikan momen ini!"
"Oke!"
"Yuki-nee, bangun... Yuki-nee."
Yuki tersentak saat tubuhnya digoyangkan dengan cukup kencang. Dilihatnya Inaho tengah memandang sang kakak dengan pandangan polosnya, membuat Yuki teringat akan mimpinya tadi.
"Oh, Nao-kun... ada apa?" tanya Yuki seraya mengusap matanya yang mengantuk.
"Sudah waktunya makan malam." ujar Inaho, "Ayo kita pergi sebelum Calm menghabiskan jatah kita berdua."
Yuki tersenyum lalu mengangguk. Ia segera berdiri dari kursinya, merapikan pakaiannya, dan mengekori Inaho keluar dari tenda darurat.
Pemandangan dari menara ketiga yang hancur di bagian atasnya menyambut Kaizuka bersaudara itu begitu keluar. Entah kapan anggota yang tinggal di menara ketiga dapat kembali tidur nyenyak di atas kasur di kamar masing-masing, bukannya berhimpitan dengan kantung tidur dalam sebuah tenda yang cukup besar.
Yuki mendengus ketika mengingat percakapannya dengan Slaine. Untung saja Yuki tahu ada Inaho di dekat mereka dan dia dengan sigap memotong semua kalimat Slaine tiap kali pemuda itu akan menyebut nama kecil adiknya. Setidaknya, ia ingin Inaho tetap tidak mengetahui apapun dan tidak mengingat apapun soal Slaine.
Karena Yuki tahu, semakin ia berusaha mengingat, semakin ia berusaha mencari tahu, semakin ia memikirkannya. Semua itu— hanya akan menyakiti dirinya sendiri.
Yuki tidak mau melihat Inaho yang terus menderita. Melihat Inaho yang terus menjerit dalam tidurnya, mengulurkan tangan seolah berusaha menggapai sesuatu atau menutup kedua telinganya. Dan terbangun dengan rasa sakit di kepala atau perasaan sesak di hatinya. Yuki tidak mau melihat Inaho menjadi seperti itu lagi.
"Ini, Yuki-nee." sembari tersenyum, ia meletakkan nampan berisi makanan itu di hadapan Yuki.
Yuki membalasnya dengan ucapan terima kasih lalu mengacak rambut adik kesayangannya itu sambil tertawa kecil. Mereka keluarga kecil yang bahagia, begitulah pikir Yuki. Dan Yuki bersumpah akan mejaga hubungan ini. Dulu ia sudah berjanji pada orang tuanya untuk menjaga Inaho, maka Yuki tak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitinya. Terserah siapa saja, bossnya, teman masa kecilnya, ratu, siapa pun. Tak akan Yuki biarkan mereka merenggut kebahagiaan Inaho.
"Yuki-nee, boleh aku bertanya?" suara Inaho terdengar santai, tidak kaku atau pun terkesan berhati-hati, dan Yuki mempersilahlan adiknya melanjutkan. "Menurutmu... Klein adalah orang-orang baik atau tidak?"
Yuki tertawa renyah mendengar pertanyaan adiknya, "Kau ingin tahu jawabanku?"
"Tentu."
"Kau pikir mafia adalah orang-orang baik?" Inaho tak menjawab. "Dimana-mana pekerjaan mafia lebih didominasi dengan kata perang dan pembunuhan."
"Baiklah, jadi menurutmu Klein sama jahatnya dengan—"
"Aku tidak mengatakannya." Yuki menepuk bahu Inaho. "Siapa yang akan menyebut keluarga yang menampungnya sebagai keluarga yang jahat?"
"Jadi...?"
"Menurutku Klein itu orang-orang baik." ia menaruh pisau dan garpunya dengan anggun, lalu menopang dagunya sambil memandang adiknya. "Kalau mereka bukan orang baik mana mungkin mereka akan menyelamatkan nyawamu."
"Benar juga."
"Tapi tetap saja, kau harus berhati-hati. Meski satu keluarga, belum tentu mereka semua akan baik padamu." Inaho mengangguk, "Setidaknya kau harus tetap menyimpan pistol di pinggangmu."
"Baiklah..."
Inaho tersenyum, begitu pula dengan Yuki. Ia bersyukur Inaho tidak menyadari maksud dari kata-katanya yang mengungkapkan bahwa Klein menyelamatkan nyawanya.
"Omong-omong kenapa kau bertanya?"
Inaho menggeser tempat duduknya— sedikit menjauh dari Yuki. Ia menarik keluar selembar kertas foto yang telah berlubang, lalu ibu jarinya menggosok kertas foto itu dengan gelisah.
"Ada apa, Nao-kun?"
Perasaan Yuki berubah menjadi tidak enak ketika melihat kertas foto yang dipegang Inaho.
"Aku hanya iseng." katanya dengan sedikit gugup.
"Maksudmu, kau berbasa-basi?" Yuki sedikit menaikkan nada suaranya, memandang sang adik dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Yang ingin kutanyakan sebenarnya adalah..." Inaho menyodorkan foto di tangannya. "...apa maksud dari foto ini?"
Sayangnya— kecerobohan Yuki membuat penderitaan Inaho bertambah menjadi semakin panjang.
Bolehkah Yuki berharap— mereka berdua tidak pernah saling mengenal?
