Special thanks to my daughter Kuramichan
Sebelum membaca ada baiknya kalian kencangkan sabuk pengaman karena saya akan membawa kalian terbang menggunakan Kataphrakt bernama— Penistaan 2.0 KzInB. Selamat menikmati
6 Tahun Yang Lalu...
"Seorang anak tertembak!"
"Oh, astaga! Darahnya banyak sekali. Berapa peluru yang bersarang di tubuhnya?!"
Slaine menangis sambil tetap menggenggam tangan sahabat kecilnya. Tangan yang beberapa saat lalu masih memiliki tenaga untuk mendorong Slaine menjauh itu kini sudah terkulai lemas. Tatapannya kosong, bibirnya yang penuh darh terbuka sedikit.
"Kita akan pulang... hiks... kita akan pulang... bertahanlah..." ujar Slaine.
"Ayo pergi dari sini, nak!"
Tiba-tiba, tangan Slaine ditarik dengan keras. Seorang pria dengan rambut pirang memandangnya prihatin. Slaine memberontak, berusaha melepaskan genggaman pria itu dan lari dari tarikannya.
"Kita harus pergi!" sang pria membentak, namun Slaine menggeleng.
"Sahabatku tertinggal!" katanya.
Slaine kembali duduk, ia berusaha menggendong tubuh kecil yang telah terbujur kaku itu. Namun ia yang masih kecil hanya bisa membuatnya tertidur di atas pangkuannya.
"Tinggalkan dia!"
Slaine berjengit mendengarnya, ia balas memandang marah. "Kenapa aku harus meninggalkannya?!"
"Cepatlah, sebelum mereka kembali menyerang!"
"Aku tidak mau!"
Habis kesabaran, pria itu dengan paksa mengangkat tubuh Slaine. Diabaikannya tubuh kecil di pangkuan Slaine itu terjatuh dengan cukup keras ke tanah. Melihat hal itu Slaine menjerit, ia memukul-mukul dada pria yang menggendongnya. Menangis dengan kencang seraya memanggil-manggil nama sang sahabat.
Si pria tidak peduli, setidaknya ia sudah berhasil menyelamatkan Slaine sesuai perintah bossnya. Sedangkan Slaine yang mengamuk mulai menarik-narik kemeja yang dikenakannya— hingga membuat dua kancingnya lepas dan sesuatu terjatuh ke tanah.
"Sahabatku tertinggal! Sahabatku tertinggal!"
Sejujurnya ia tak tega melihat anak kecil dalam gendongannya ini menangis sejadi-jadinya. Tapi jika hanya dengan mengungkapkan sebuah fakta sebagai satu-satunya cara untuk membungkam Slaine maka ia akan tetap melamukannya.
"Sahabatku di sana! Dia kedinginan! Bawa dia juga! Bawa dia ju—"
"SAHABATMU SUDAH MATI!"
Tangan Slaine behenti memukul dan menarik. Langkah kaki si pria pun turut serta terhenti.
"Sahabatmu sudah mati..." ia mengulangi, "Dia sudah mati."
Slaine rasa— dunia runtuh saat itu juga.
Suara kicauan burung menyambutnya pertama kali begitu ia terbangun, matanya menyipit ketika sinar mentari yang masuk melalui jendela kamarnya menyilaukan mata.
"Selamat pagi, Slaine." Lemrina duduk tak jauh dari ranjang Slaine dengan kursi rodanya, membaca sebuah buku. "Sepertinya kau mimpi buruk."
"Mimpi... ya..."
Slaine menaruh tangannya di atas kedua kelopak matanya. Rasanya lelah sekali— padahal ia hanya bermimpi. Ah, sudah lama sekali Slaine tak pernah memimpikan kejadian itu lagi. Saat dimana sang sahabat mati di depan matanya sendiri, mati karena menyelamatkan dirinya yang lemah, mati atas kecerobohan yang Slaine buat. Saat dimana Cruhteo datang menariknya, menyelamatkan dirinya yang ia yakini tak lagi pantas untuk hidup.
Slaine terkekeh pelan, baru ia sadari sekarang Saazbaum sudah terlalu baik padanya. Mereka dengan tangan terbuka menerima dirinya, bocah berumur sebelas tahun yang lemah dan tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan sang don mengangkatnya menjadi seorang anak. Luar biasa.
Kenapa Slaine begitu bodoh selama ini, huh?
"Apa mimpimu seburuk itu, Slaine?"
Entah sejak kapan Lemrina sudah berada tepat di sampingnya, bertopang dagu memandang wajah Slaine.
"Tidak juga." Slaine segera bangun dari posisinya. "Justru berkat mimpi itu aku jadi sadar kalau selama ini Saazbaum Famiglia sudah terlalu baik padaku."
"Oh..." senyum lembut mengembang. "Jadi kau akan mengabdikan dirimu sepenuhnya, huh? Tidak seperti dulu ketika kau masih saja membantah ayahmu soal misi?"
"Aku orpheus, Lemrina." kata Slaine. "Sudah sepatutnya aku mengabdikan diri."
"Ahaha, akhirnya kau berkata seperti itu setelah sekian lama kau berusaha menyangkal posisimu ya." lalu tatapan tajam dilayangkan Lemrina. "Apa ini karena kau ingin benar-benar menghancurkan Klein?"
"Kurasa begitu."
Diam-diam Lemrina tersenyum penuh kemenangan.
Inaho memiringkan kepalanya dengan bingung, berpikir— apa salahnya? Lagipula, dia hanya menginginkan penjelasan sang kakak soal foto yang sempat ia tunjukkan, bukan menanyakan alasan mengapa mereka bisa menjadi anggota keluarga Klein. Kenapa juga Yuki harus menarik tangannya— dengan uh... kasar sekali —lalu menguncinya di kamar. Inaho tidak mengerti sama sekali.
Inaho menghela nafas, ia hampiri jendela kamarnya yang terbuka lebar. Di bawah sana tenda-tenda masih berdiri, Inaho yakin tak ada orang yang tinggal di menara selain dirinya— dan Inaho tidak senekat itu dengan memilih melompat keluar dari jendela kamarnya. Dia ada di lantai empat, tak ada jendela lain yang terbuka seperti saat ia berhadapan dengan Slaine.
Kalau jatuh ya dia pasti akan jatuh lalu mati, keajaiban seperti saat itu tidak akan terulang untuk yang kedua kalinya kawan. Begitulah yang Inaho pikirkan.
Tak lama terdengar bunyi anak kunci yang diputar lalu pintunya mengayun terbuka.
"Nina?"
"Aha! Benar-benar di sini kau." Nina tertawa kecil memandang Inaho. "Apa kabar nona Rapunzel?"
Inaho sedikit mendengus mendengar panggilan yang diberikan Nina— meski ia pikir keadaannya memang sama persis dengan tokoh putri berambut panjang itu. "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Aku mencarimu tadi di tenda, tapi hanya ada Yuki-san." katanya sambil duduk di kursi yang ada. "Lalu kunci kamarmu digantung di tiang penyangga tendanya, jadi kupikir kau ada di sini."
"Kau mengambilnya begitu saja?"
"Iyap."
"Lalu, apa tujuanmu mencariku?" Inaho duduk kembali di atas ranjangnya, lalu memandang ke atas langit-langit yang sedikit hancur.
"Um... yeah... entahlah?" Nina mulai menggoyangkan kakinya. "Aku juga lupa."
Seandainya Inaho bukan orang yang tidak bisa bereskpresi mungkin saat ini dia sudah tertawa sambil melemparkan bantal ke arah Nina dan bukannya hanya menampilkan senyuman tipis juga dengusan kecil.
"Jadi sekarang apa?" tanya Inaho. "Diam tanpa membicarakan apa pun?"
Nina tertawa kecil— sedikit malu. "Mau pergi keluar?"
"Yuki-nee akan mengamuk nanti—"
"Bilang saja ayahku ingin bertemu denganmu."
Sebenarnya, rangkaian bunga amaranth dan carnation pink adalah sesuatu yang janggal bila ditaruh di atas makam. Tidak pantas, mungkin itu yang orang-orang pikirkan kala melihat Slaine menaruh rangkaian kecil kedua bunga tersebut di atas tiga makam sahabatnya.
Tapi baginya, kedua bunga itu melambangkan perasaannya. Seperti arti dari amaranth dan carnation pink, ketiganya tidak akan pernah tergantikan dan tidak akan pernah terlupakan.
"Mereka bertiga pasti senang mendapatkannya." Lemrina— yang sejak tadi menemaninya —ikut menaruh rangkaian bunga lily putih. "Apa rencanamu selanjutnya, Slaine?"
Slaine masih diam, masih mendoakan ketiga sahabatnya. Lemrina hanya memandang, lalu ikut berdoa.
"Aku rasa aku akan merencanakan penyerangan pertama." Slaine menghela nafas. "Pada pemuda yang telah membunuh ketiga anggota keluargaku yang berharga."
"Hm... begitu rupanya..."
Slaine berdiri, meraih kursi roda Lemrina dan tersenyum. "Ayo pergi."
Sebenarnya, Lemrina masih penasaran. Seperti apa sosok sahabat kecil Slaine yang telah meninggalkan dunia enam tahun yang lalu. Karena setiap kali Slaine membicarakan sosoknya, wajahnya akan melembut— lebih lembut daripada saat berbicara dengan Lemrina seperti biasa —namun matanya akan tampak sayu dan seolah tenggelam dalam penyesalan luar biasa.
"Slaine..." Lemrina memanggil, dibalas dengan gumaman ya dari Slaine. "Siapa nama sahabatmu?"
"Uhm... Abberlain, Finnie, dan Gabriel."
"Bukan bukan." Lemrina tertawa kecil. "Maksudku, sahabatmu... enam tahun yang lalu."
"Ah— dia..." suara Slaine mulai terdengar sedikit berat, "Nao— seingatku begitu. Nao... Kaizuka Nao?"
Lemrina tertawa mendengar jawaban— yang terdengar seperti pertanyaan —dari Slaine. "Kau begitu menyayanginya dan telah bersama dengannya selama bertahun-tahun, tapi kau lupa namanya? Aduh... Slaine..."
"Bukan begitu." Lemrina yakin Slaine sedang menekuk bibirnya saat ini. "Dia itu... tidak pernah menyebut nama aslinya. Bahkan aku tahu marganya karena aku mengenal kakaknya. Dan lagi semua orang juga memanggilnya Nao."
"Eeeh... begitu ya. Memangnya di sekolah tidak disebut?"
"Kami tidak bersekolah." Slaine menghela nafas. "Kami itu miskin, hidup di pinggiran kota dan hanya bermodalkan sumbangan dari orang lain untuk makan."
Lemrina mengangguk-anggukan kepalanya. "Maaf sudah menanyakan hal itu."
"Tidak apa-apa, toh bukan sesuatu yang harus dirahasiakan juga." ujar Slaine sambil tersenyum hangat padanya.
Tapi seharusnya Slaine merahasiakannya dari Lemrina.
Lemrina Vers Envers, percaya bahwa dia adalah sosok gadis yang baik adalah kesalahan. Sedikit saja dia tahu rahasia kelam dari targetnya— maka semuanya akan ia manfaatkan.
Kali ini, Slaine Troyardlah yang akan menjadi pionnya untuk membalas dendam.
"Inaho?"
Inaho tak menjawab, tetap diam memandang langit. Nina menghampiri, bingung ketika Inaho tiba-tiba saja terdiam.
"Ada apa?" tanya Nina lagi.
Inaho menggeleng, melangkah kembali menuju tempat dimana ayah Nina berada. "Hanya merasa ada yang membicarakanku."
"Huh...?"
Sebenarnya— siapa Nao yang dimaksud?
A/N maaf chapter kali ini memang pendek sekali hshshs
For Mefalda-san : Thank you, I'm glad to hear that. But... I'm so sorry, I can't do an english version because I'm very bad at grammar. Once again— thank you very much for your appreciation... I hope you're still read and follow my story even I'm not do an english version _;
