Ada ingatan yang hilang dan datang kembali. Tapi Inaho masih tidak mengerti, apa arti dari semua mimpinya tentang sang orpheus Saazbaum Famiglia


Special thanks to my daughter Kuramichan


Sebelum membaca ada baiknya kalian kencangkan sabuk pengaman karena saya akan membawa kalian terbang menggunakan Kataphrakt bernama— Penistaan 2.0 KzInB. Selamat menikmati


Namanya Kaizuka Inaho, dipanggil Nao oleh teman-temannya. Dia anak yang pendiam namun murah senyum. Matanya bulat besar, pipinya sering bersemu manis.

Inaho adalah seorang anak yang pintar— beberapa bilang ia adalah anak jenius. Sejak kecil sikapnya sudah seperti orang dewasa meski pola pikirnya masih layaknya anak-anak.

Kakaknya— Yuki —begitu menyayanginya. Terlebih semenjak kedua orang tuanya tewas dalam perang besar antara dua keluarga mafia. Terjebak di tengah hujan peluru dan ledakan bom. Mengorbankan nyawa demi Yuki dan Inaho yang masih bayi.

Inaho tidak mengenal orang tuanya, tak tahu seperti apa wajah mereka, tidak tahu bagaimana suara mereka terdengar. Inaho yang masih kecil, adalah satu-satunya anak yatim piatu di antara teman-temannya.

Pernah suatu hari Inaho bersembunyi di antara semak-semak, memeluk kedua kakinya, dan menangis. Hari Ibu adalah hari paling menyedihkan baginya. Ketika teman-teman ciliknya bermain dan pergi bersama Ibu mereka, Inaho hanya bisa diam— menatap dari kejauhan.

Di saat itulah seseorang datang, memandang Inaho dengan khawatir.

"Kamu tidak apa-apa?" katanya hangat.

Dia adalah seorang anak, yang lebih tua dua atau tiga tahun darinya. Tak punya orang tua, hidup di sebuah panti asuhan kecil yang bangunannya nyaris tak terawat. Bersama lima anak lainnya dan seorang wanita paruh baya.

Mereka sama.

Ia mengenalkan diri sebagai Slaine dan Inaho hanya menyebutkan nama kecilnya saja— sama seperti biasanya. Pada akhirnya mereka berteman baik.

Inaho tak pernah lepas dari Slaine, mereka selalu bersama, menempel layaknya roti dan selai. Hanya Slaine— yang bisa membuat Inaho tertawa terbahak.

Slaine sendiri tidak pernah melepaskan Inaho, ia menjaganya— seolah Inaho adalah adiknya sendiri. Kadang Slaine melakukan hal konyol dan bodoh hanya untuk membuat Inaho tertawa.

Mereka sering tidur bersama— menginap di rumah Inaho atau panti asuhan tempat Slaine tinggal.

Ada juga saat dimana Slaine akan mengajak Inaho untuk melakukan hal nakal. Namun itu semua berujung menjadi suatu pengalaman luar biasa dan menyenangkan bagi Inaho.

Slaine menyukai senyuman dan tawa Inaho.

Inaho menyukai sikap hangat dan pelindung Slaine.

Mereka tidak bersekolah, tidak tahu rasanya duduk di sebuah kelas. Mereka miskin. Tapi mereka tetap belajar, bagaimana caranya membaca, bagaimana caranya menghitung, dan sebagainya.

Di umur yang begitu muda, Slaine dan Inaho sudah berhasil memecahkan soal-soal anak SMA. Irna— tetangga Inaho yang merupakan mantan guru dan kini membuka toko kue —selalu memberi mereka kue gratis apabila mereka dapat menyelesaikan tugas darinya.

Hari-hari mereka begitu menyenangkan— mengesampingkan fakta adanya perang atau kudeta. Mengesampingkan fakta bahwa mereka miskin— dan pemerintah menutup mata dan telinga bagi rakyat seperti mereka.

Lalu malam itu terjadi.

Malam ketika Slaine dan Inaho pergi berdua, membeli bahan makanan yang dititip oleh Yuki.

Malam ketika hujan turun dengan derasnya dan pegangan tangan mereka terlepas.

Slaine tidak berhasil menjaga Inaho yang kebingungan. Slaine tidak bisa menyelamatkan Inaho.

Malam itu, Inaho mati. Terbunuh di hadapannya. Bersimbah darah.

Mati menyelamatkan Slaine dari tembakan peluru-peluru yang tersasar.


Slaine pikir ia sudah membunuh Inaho


Sejenak Slaine tertegun, ada sedikit air mata di ujung matanya. Nyaris jatuh sebelum Slaine berhasil mengusapnya.

Ia ingat semuanya. Kenangan-kenangan manis dan pahit yang ia lalui semasa kecil. Slaine ingat semuanya.

Bahkan nama sang sahabat yang selama ini ia kenal sebagai Kaizuka Nao.

"Tuan Slaine... anda dipanggil oleh Ayah."

Slaine menoleh, di ambang pintu berdiri seorang pelayan yang menunduk hormat.

"Terima kasih."

Slaine sudah beberapa minggu tidak bertemu dengan sang ayah— ayah angkatnya. Mungkin ini juga kesempatan yang bagus untuk membicarakan penyerangan terhadap keluarga Klein.

"Aku sudah tahu rencanamu, Slaine."

Baru saja Slaine masuk, Saazbaum— sang ayah, sang pendiri keluarga Saazbaum —tersenyum ramah padanya. Di sisinya Lemrina memainkan ujung-ujung rambut merah mudanya.

"Ayah sudah tahu?" Slaine kembali bertanya untuk memastikan.

"Tentu saja, soal penyerangan itu aku sudah tahu." Saazbaum tertawa renyah sebelum melanjutkan. "Lemrina yang memberi tahuku."

Slaine menghela nafas. "Lalu bagaimana menurutmu, Ayah?"

"Lakukan saja sesukamu."

Anggukan Slaine berikan, diliriknya Lemrina yang tersenyum seraya melambaikan tangan. Melihat hal itu senyuman ikut terukir di wajah Slaine.

"Tapi, Slaine..." ekspresi sang ayah yang lembut berubah menjadi lebih serius. "Aku tidak menerima kegagalan, setidaknya buat salah satu orang penting mereka sekarat."

Slaine tertawa. "Ayah selalu saja begitu."

"Dan satu lagi..." kali ini suara Lemrina yang terdengar. "Sebaiknya kau waspada terhadap Kaizuka Inaho. Salah satu herla mereka."

"...apa?"

"Otaknya bisa dibilang sangat jenius sehingga kemungkinan dia sudah memperkirakan segalanya." tambahnya lagi. "Dan akurasi tembakannya benar-benar sempurna."

"...Inaho?"

Tidak mungkinkan mereka adalah orang yang sama?


Lagipula— Kaizuka Inaho yang itu sudah mati


"Inaho... ayo pergi, Yuki-san bisa menemukan kita lho." Nina menepuk bahu Inaho beberapa kali.

Inaho tetap terdiam, memandang langit dengan posisi yang sama. Keherenan Nina dibuatnya, mau berapa kali pun Nina menepuk bahunya Inaho tetap bergeming.

"I... na... ho...! Ayo kita per—"

"Oh! Di sini rupanya kau Inaho!"

"Aduh, sial..."

Dari belakang mereka Calm melambaikan tangan, berlari mendekat sementara Inaho tetap diam.

"Inaho kau dicari-cari Yuki— Inaho?" Calm ikut mengerutkan kening kala tak ada suara yang menjawabnya. "Dia kenapa?"

"Sejak tadi ia seperti ini!"

Calm ikut mengguncang tubuh Inaho, berusaha menyadarkan sang sahabat.

"...Vers."

"Apa?"

Calm dan Nina terdiam, saling pandang. Kenapa Inaho menyebut nama Vers? Kenapa Inaho terus-menerus diam memandang ke arah yang sama? Sebenarnya apa yang terjadi pada Inaho akhir-akhir ini?

"Inaho? Kau kenapa?" Calm bertanya sekali lagi, memastikan. Di sebelahnya Nina mulai menggenggam tangan Inaho dengan sangat khawatir.

"...Vers...pembunuh."

"Ina— INAHO?! KAU KENAPA?!" Nina menjerit panik ketika Inaho kehilangan keseimbangannya, ambruk begitu saja dengan nafas terengah dan peluh bercucuran. "Calm bagaimana ini?!"

"Aduh, anak ini sebenarnya kenapa!?" rambut pirang itu ia acak dengan gusar. "Nina bantu aku!"

Keduanya dengan segera mengangkat tubuh Inaho. Membuat pemuda itu bersandar pada punggung Calm.

"Ayo pergi!"

Calm berlari— dengan Inaho di atas punggungnya. Di belakang, Nina mengekor.

Sebenarnya apa yang terjadi, Inaho?


"Aw—" tangan yang tanpa sengaja tergores pisau itu ia kibaskan, buru-buru ia mendekati wastafel. "Astaga sial sekali."

Setelah yakin darahnya berhenti ia kembali mendekati bahan-bahan makanan yang ditinggalkan tadi.

Sial... firasatku tidak enak...

Jayn— memandang keluar jendela, mengernyit dengan kilat mata resah.

Kuharap tidak terjadi sesuatu yang buruk padamu, Nana.


"Slaine... aku sudah menyiapkan semua yang kau perintahkan."

"Terima kasih Harklight."

"..."

"Ada apa, Harklight?"

"Kau yakin akan memulai penyerangannya nanti malam?"

"Sudah terlambat untuk mundur dan aku juga tidak akan pernah menarik keputusanku."

"Slaine..."

"Lagipula ada yang harus kupastikan."


Semuanya tak akan berakhir seperti yang mereka harapkan


Mawar biru, ular yang anggun, kuda yang perkasa.

Sebenarnya siapa yang bersalah?

Siapa yang seharusnya bertanggung jawab?

Siapa yang harus mereka salahkan?

Besok, apakah sang ular yang akan terinjak-injak?

Atau sang kuda yang jatuh akibat bisa mematikan?

Atau mungkin— tidak keduanya hingga kelopak mawar biru itu habis...?


Slaine hanya ingin kembali ke masa lalu