Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto

Author : hani yuya

Judul : Yume no mirai

Rate : M(for lemon implisit /eksplisit )

Pairing : Sasusaku, Gaasaku.

Gendere : Au,Ooc,Romance,Drama

Warning: Chap ini mengandung hard lemon... terdapat lemon implisit / eksplisit. For 21+ not for children. Jika masih ngeyel tetap baca jangan salahkan author. Ok...DLDR

.

.

.


Sasori dan Gaara berkilah marah melihat perlakuan Sasuke pada Sakura. Mereka mencoba menghampiri Sasuke. Gaara ingin sekali memukul wajah tampan Uchiha bungsu itu. Namun mereka berdua dihadang oleh Kakashi.

"Maaf, kalian berdua tak boleh menyusul tuan muda Sasuke. Kalau kalian bersikeras hadapi aku dulu" jelas Kakashi menghadang mereka berdua.

Membuat Gaara dan Sasori menggeram kesal "Brengsek" ucap mereka bersamaan. Baku hantam tak terelakan lagi. Mereka berdua melawan Kakashi pemegang ikat pinggang merah dalam judo dan sabuk hitam dalam taekwondo. Sedangkan Itachi memposisikan dirinya duduk di sofa tak jauh dari mereka yang sedang berkelahi.

"Tontonan yang menarik" gumamnya sambil meminum segelas wine.

.

.

-000-

"Turunkan aku Sasuke kun!" perintah sang gadis seraya meronta-ronta.

"TIDAK!"

Sasuke membawa Sakura masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.

Kreekk

Suara decitan terdengar ,ketika Uchiha bungsu ini melempar tubuh gadisnya pelan ke atas ranjang miliknya.

Sakura berusaha kabur , namun sayang Sasuke dengan cepat menindih tubuhnya.

"Ma... mau apa kau Sasuke kun?" Tanya Sakura terbata-bata.

Sasuke menyeringai, "Menjadikanmu MILIKKU" lanjutnya penuh penekanan di akhir ucapannya.

"Tu...tung...hmmmpp"

Sasuke membekap bibir Sakura dengan mulutnya sebelum sang gadis menyelesaikan kalimatnya. Kini ciumannya berubah menjadi lumatan, lidah sang Uchiha bungsu ini masuk menjelajahi isi mulut sang gadis, berusaha mencari lidah sang gadis mengajaknya ikut dalam permainan panasnya. Mengabsen seluruh gigi gadis bersurai pink dihisap dan digigit kecil bibir bawah sang gadis.

"Hmmmppp..."

Sakura terus meronta-ronta, agar pemuda raven diatasnya ini melepas kengkangannya. Sayangnya bukan dilepaskan, Uchiha bungsu ini malah semakin menekan tubuh sang gadis, sehingga bergerakpun kini sulit.

Tangan Sasuke mulai berani mengusap paha Sakura yang terekspos. Gadis pink ini menyesal karena memakai dress mini saat ini, karena dress yang dipakainya tersingkap ke atas sehingga celana dalamnya pun ikut terlihat. Sasuke dengan berani menyingkap dress Sakura makin keatas, sampai bagian perut dan dua buah tonjolan di dada yang masih terbungkus bra terexpos.

Matanya membulat, saat tangan kekar milik Uchiha bungsu ini meremas dadanya. Bahkan kini tangan sang pemuda berani membuka kait bra Sakura hingga terlihatlah dua buah dada menantang miliknya.

"HMMMPPP... "

Deg

Jantung Sakura semakin berdetak kencang, karena kini tangan kekar Sasuke mulai merambat menyusup ke dalam celana dalamnya dan mengelus daerah sensitifnya. Sasuke melepas ciuman panasnya. Sisa-sisa benang saliva jatuh menetes di selah bibir sang gadis, Sasuke menyeringai melihat Sakura tampak tak berdaya dibawah kendalinya. Tangannya masih mengelus clitoris kecil di dalam lorong kewanitaannya.

"Ukkhhh... aah... hen -ti -kan...ahhh, Sa -su -keh!" Perintah sang gadis di selah desahannya.

"Hn, kita baru mulai sayang" Seringainya.

"Apa... mak -sud... kyaaa, ahhh.. aaah"

Sasuke mulai memasukan satu jari telunjuk ke dalam lorong kewanitaan Sakura lalu menggerakkannya keluar masuk. Dengan gerakan lambat mengocoknya di dalam sana, membuat Sakura semakin terangsang dibuatnya, tanpa sadar desahannya semakin kencang.

Sasuke mulai melahap buah dada sang gadis rakus seperti bayi yang kehausan, digigit dan dihisapnya puting susu yang kini menegang. Lalu ia menambahkan satu jari lagi masuk ke lorong kewanitaan Sakura.

"Akkhhh...aahh...aahh...ahhh"

Sakura semakin terangsang, entah kenapa ia merasa menikmati permainan panas Sasuke, membuat pemuda raven ini menyeringai puas melihat reaksi Sakura. Sasuke mulai turun menjilati perut datar sang gadis, terus turun hingga ke keselangkangan milik gadis bersurai pink itu.

"Kau semakin basah sayang" Ujarnya sensual. Ia mencabut tangannya dari lorong kewanitaan sang gadis, lalu menurunkan celana dalam milik gadis musim semi itu,hingga terexposlah kewanitaan Sakura yang merah dan basah. Membuat Sasuke harus menahan nafasnya, tak bisa dipungkiri kejantanan miliknya kini sudah menegang dibawah sana.

"Uwaaa, Sasuke kau mau apa...kyaaaa...aahhh..."

Sakura kembali mendesah ketika merasakan lidah Sasuke mengobrak abrik lubang kewanitaannya, dihisap klitoris miliknya pelan.

"Ukkgghh...hen-ti-kan...Sa-su-ke-kun...ahhh, di-sa-aahh-na ko-tor..ahh" Sakura berusaha mendorong kepala Sasuke menjauhi lubang kewanitaannya. Tapi sayang ia tak cukup kuat, ia malah semakin terangsang dibuatnya. Harus Sakura akui kini ia mulai menikmati perlakuan Sasuke pada dirinya.

Sedangkan Sasuke tak peduli dengan ocehan gadisnya, ia semakin ganas mengobrak abrik lorong kewanitaan Sakura. Di masukkannya lidahnya keluar masuk lorongnya dengan tempo sedang, Membuat Sakura semakin mendesah, dan merasakan sesuatu dalam dirinya seakan ingin melesak keluar.

"Sa-su-ke...ahh-uuhh-ahhh...a-ku-a-da-ahh, yang i-ngi-n-ahhh...ke-lu-ar..ahh"

Sasuke menambah tempo maju-mundur lidahnya, terus mengocok lorong sang gadis. Sampai orgasme pertama sang gadis keluar, ia langsung menarik wajahnya menjauh.

"Akkkhhggggg" Jerit Sakura ketika orgasme pertamanya. Dadanya naik turun menetralisir mafasnya yang kini terengah-engah, bulir keringat membasahi wajahnya yang cantik Ini adalah orgasme pertama yang dialami seumur hidupnya.

"Hei, apakah ini orgasme pertamamu Sakura?" Tanya Sasuke memperlihatkan cairan putih kental yang cukup banyak keluar dari kewanitaan Sakura. Sakura mengangguk lalu memalingkan wajahnya kesamping karena malu, lihat wajahnya kini sudah semerah tomat kesukaan Sasuke.

"Aku baru pertama kali seperti ini baka, cepat lepaskan aku" Sakura kembali meronta melepaskan diri.

"Baguslah, kau masih virgin... sekarang akan ku jadikan kau milikku seutuhnya"

"Apa maksudmu Sasuke?"

Sakura bergidik ngeri ketika melihat Sasuke menyeringai penuh arti, kemudian jarinya membuka celana panjangnya, kemudian membuka celana dalam miliknya sendiri.

Glek

Manik emeraldnya membulat sempurna, wajah putihnya kini sangat merah, ketika melihat kejantanan milik Sasuke yang sudah menegang dan cukup besar itu, matanya mengerjab. Baru kali ini ia melihat kejantanan milik Sasuke yang menegang. Ia jadi teringat pertama kali bertemu dengan Sasuke di kamar mandi milik klub basket putra.

'Kami-sama besarnya' Batinnya.

"Nah,kita mulai" Sasuke mulai memposisikan kejantanannya di depan lorong merah kewanitaan Sakura, membuat empunya tersentak kaget ketika merasakan kejantanan Sasuke menggesek-gesek permukaan kewanitaannya.

"Tu...tunggu dulu Sasuke-kun" Elaknya, ia berusaha mendorong tubuh Sasuke menjauh.

'Gawat, aku blum siap melakukan ini, bagaimana jika ia meninggalkanku saat tau tubuhku gemuk' Sakura membatin.

Sasuke semakin menekan tubuh Sakura. Membuat Sakura semakin keras berontak, dia semakin kuat mendorong tubuh Sasuke agar menjauh darinya.

"Lepaskan Sasuke..mmpphhh"

Sasuke sontak melumat bibir Sakura, mengunci kedua tangan Sakura di atas kepala sang gadis dengan sebelah tangannya. Sakura melotot tak percaya, tenaganya tak bisa mengalahkan tenaga super milik Sasuke.

Sasuke kembali memposisikan kejantanannya yang semakin besar dan berdiri tegak itu ke permukanan kewanitannya, digesek-gesak kejantanannya dengan klitoris milik gadis musim semi itu, membuat Sakura kembali mendesah diselah ciumannya, Perlahan ia memasukkan kejantanannya ke dalam lorong kewanitaan Sakura. Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya, liquid bening kini keluar dari sudut matanya.

'Kami-sama, apa yang harus kulakukan untuk menghentikannya' Pikirnya dalam hati sebelum kejantanan Sasuke masuk lebih dalam dan menembus selaput keperawanannya.

Crash

Sakura menggigit bibir bawah Uchiha bungsu ini kencang, hingga cairan merah pekat mengalir dari selah bibir Sasuke.

"Ck... Kau... " Sontak Sasuke melepas lumatan dan menghentikan aksinya.

"AKU INGIN MELAKUKANNYA JIKA KITA SUDAH MENIKAH SASUKE-KUN!" Teriak Sakura seraya menatap tajam Onyx Sasuke. Liquid bening semakin deras menetes dari sudut manik emeraldnya,"Baka... hiks -hiks" Sakura terisak menutup matanya dengan kedua tangannya.

Sasuke menghela nafas panjang, sepertinya ia sudah keterlaluan.

TUK

"Maaf" Sasuke memajukan wajahnya mendekat ke wajah Sakura, menempelkan jidatnya diatas jidat sang gadis.

Sakura melepaskan kedua tangannya dari wajahnya, menatap sendu Sasuke. Manik emeraldnya berkaca-kaca. Pandangannya kini teralihkan pada sudut bibir sang pemuda yang terdapat cairan merah pekat akibat ulahnya tadi. Tangannya terangkat dan menghapus pelan noda darah tersebut.

"Maaf, apakah sakit Sasuke-kun?"Ucapnya penuh penyesalan.

Sasuke menggeleng, dikecup jidat lebar gadisnya sekilas. Lalu mulai beranjak diri memakai kembali celana panjangnya.

"Cepat benahi pakaianmu... aku tak bisa menjamin bisa menahan nafsuku lagi jika terus melihatmu tanpa busana seperti itu" Ujarnya tanpa menengok ke arah Sakura seraya duduk ditepi kasur membelakangi Sakura.

Dengan cepat Sakura pun segera merapihkan pakaiannya seperti sedia kala, lalu memposisiskan dirinya duduk disamping pemuda raven itu.

Sasuke mulai membuka topik pembicaraan, "Aku akan bicara baik-baik pada kakakmu, meminta ijin darinya agar kau tinggal disini untuk sementara waktu" Manik Onyxnya menatap manik emerald Sakura intens, dilihat dari tatapan matanya seakan terpancarkan raut wajah serius tanpa ada keraguan sedikitpun disana.

Itu semua membuat Sakura kalang kabut, disatu sisi ia senang di lain sisi ia khawatir jika mereka tinggal bersama, kemungkinan besar Sasuke tau tentang keadaan tubuh aslinya yang gemuk jika kalungnya terlepas dari tubuhnya.

Ia belum siap untuk mengatakan hal sebenarnya pada Sasuke untuk saat ini. Ya... karena ia sudah terlanjur jatuh hati pada Uchiha bungsu ini, sehingga sulit untuk mengatakan hal yang sesungguhnya, karena ia takut pemuda raven ini akan kecewa dan tak lagi menyukainya jika dia tau tubuh aslinya yang gemuk. Pandangannya kini tertunduk, menggigit bibir bawahnya pelan, ia bingung harus mengatakan apa pada Sasuke.

'Apa yang harus kukatakan padanya? Haruskah kutolak permintaannya? Atau kuterima?' Sakura membatin, ia bingung harus memilih yang mana.

"Sakura... tatap mataku jika bicara!" Sasuke memegang dagu Sakura, membawanya keatas menatap matanya.

"Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan?" tanyanya curiga.

Matanya membulat, namun Sakura segera menetralisir keterkejutannya, menyembunyikan apa yang dikhawatirkannya.

"Ngg...anoo... aku bingung Sasuke-kun, kakakku tak akan setuju jika aku tinggal bersamamu" Sakura tersenyum kaku, ia mengalihkan topik, meskipun ini termasuk salah satu hal yang membuatnya khawatir.

"Tak masalah jika kakakmu aku bisa atasi" Sasuke menyipitkan matanya,"Tapi aku tak suka kau akrab dengan pemuda merah tadi! Jelaskan padaku ada hubungan apa dirinya denganmu dan kenapa ia mempunyai kalung yang sama seperti kita?" Tanyanya penuh selidik.

"Ahh, maksudmu Gaara-kun?"

Ctak

Perempatan siku tercetak jelas di dahinya, "GAARA-KUN katamu!" Ujar Sasuke marah penuh penekanan.

Membuat Sakura harus menelan ludahnya berkali-kali, 'Seraammmm' batinnya takut melihat tatapan Onyx Sasuke yang kini menatapnya tajam penuh selidik.

"Ceritakan padaku, sedekat apa kau dengan SETAN MERAH itu?" Saking kesalnya Sasuke memanggil Gaara dengan sebutan 'Setan Merah'.

Sakura hanya bisa mendesah pelan, ia menggenggam telapak tangan Sasuke erat."Akan kuceritakan hubunganku dengan Gaaraa-kun" ucapnya lembut seraya tersenyum tipis.

.

*Flassback On *

.
Di sebuah bukit di kota Suna, terdapat pemandangan yang indah disana. Betapa indahnya hamparan bunga dandelion yang terpampang jelas memanjakan yang berhembus kencang di daerah perbukitan itu menambah indahnya pemandangan sekitarnya, karena bunga dandelion berguguran dan terbang terbawa angin.

Hahaha

Terdengar gelak tawa dua orang bocah berumur 10 tahun yang berbeda genre disana. Mereka berlari ditengah -tengah hamparan rumput dandelion.

Terlihat seorang anak perempuan bertubuh gemuk, pipi putihnya yang chubby dengan helaian merah muda sebatas pundak, tak lupa ia memakai bandana cantik sewarna dengan rambutnya.

"Ayo, cepat tangkap aku Gaara-kun!... haha"

Anak perempuan itu terus berlari menghindari kejaran anak laki-laki yang berlari mengejarnya dibelakang. Tubuh anak laki -laki itu tak beda jauh dengan anak perempuan didepannya, tubuhnya gemuk dan helaian merahnya yang panjang sebatas pinggang dengan poni tyle nya menutupi mata sebelah kiri.

"Tunggu aku Sakura-chan...hosh...hosh"

Anak laki-laki bernama Gaara itu mulai kehabisan oksigen, nafasnya tersendat-sendat, ia berhenti mengejar anak perempuan yang jauh meninggalkannya di depan.

Ia merunduk dengan tangan yang ia letakkan di kedua dengkulnya. Keringat berjatuhan dari pelipisnya sampai jatuh menetes ke permukaan tanah. Dadanya naik turun menetralisir nafasnya.

"Kau lelah Gaara-kun?"

Gaara tersentak kaget mendengar suara lembut nan teduh tepat di hadapannya. Ia segera berdiri tegap memastikan jika teman sepermaiannya yang sudah berlari jauh didepannya berbalik menghampirinya.

"Ah... Sakura-chan, ma-af a-ku tak bi-sa me-nge-jar-mu...hosh...hosh"Ujarnya terbata-bata.

Puk... puk...

Sakura menepuk pundak Gaara lembut, "Daijoubu, Gaara-kun... aku juga lelah, lebih baik kita istirahat dulu disini" Jawabnya seraya tersenyum manis.

Sakura langsung memposisikan dirinya duduk di atas tanah di tengah-tengah hamparan bunga dandelion. Ia mulai bersenandung menyanyikan sebuah lagu anime kesukaannya. Tak peduli sinar matahari terik menerpa tubuhnya yang penuh akan lemak dan daging itu.

Bibir Gaara tertarik keatas menyunggingkan sebuah senyuman. Ia menoleh ke kanan ke kiri, lalu mulai memetik buka dandelion satu persatu. Digabungkan dan dirangkai bunga dandelion dengan cantiknya hingga berbentuk bulat bak mahkota putri raja.

"Sakura-chan" Panggilnya seraya bersimpuh di depan sang gadis. Ia memakaikan mahkota bunga dandelion di helaian merah muda sang gadis, membuat Sakura mengerjapkan kedua matanya kagum akan keindahan mahkota itu.

"Gaara-kun ini untukku? Indahnya" Manik emerald sakura berbinar melihat keindahan mahkota yang diberikan Gaara.

"Hn, kau suka?"

"Ya, cantik...arigatou" Sakura mengangguk dengan wajahnya yang tersenyum sumringah.

Gaara memalingkan wajahnya yang kini merona merah karena melihat senyum Sakura yang menurutnya terlewat manis.'Cantik' batinnya.

"Andai saja yang memberikan mahkota bunga ini seorang pangeran tampan" Ujar Sakura seraya menangkupkan kedua tangannya, manik emeraldnya berubah sayu.

Gaara sontak menatap intens Sakura, "Memangnya sosok pangeran yang seperti apa yang kau inginkan Sakura-chan?" Tanya Gaara penasaran. Karena ia sudah jatuh hati pada gadis manis di hadapannya ini.

Sakura tersenyum,"Hehe, aku ingin pangeran berwajah tampan, bertubuh tegap, penuh pesona, berwibawa, dan yang lebih penting mau menerima aku apa adanya"

Siiiinggggg

Gaara tak berkutik, keringat dingin memenuhi wajahnya. Ia tertunduk lemas, merasa dirinya bukanlah pangeran yang diimpikan sang gadis kecil teman sepermainannya itu.

Sakura merasa heran melihat Gaara yang tiba-tiba menjadi lesu. Apakah ia berbicara kelewatan? Pikirnya.

"Ahh, Gaara -kun kenapa kau terlihat sedih apakah kata-kataku ada yang salah atau menyakitimu?" Tanyanya seraya memegang pundak Gaara.

Gaara menggeleng lemah,"Kau tidak salah Sakura-chan" Ujarnya lirih.

"Lalu kenapa kau terlihat sedih?"

Manik jade Gaara menatap tajam bola mata Sakura,"Aku juga ingin menjadi seorang pangeran dimatamu"

Bola mata Sakura membulat, namun tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak.

"Ha...Ha...Ha"

Gaara menaikkan sebelah alisnya heran melihat Sakura tertawa,"Apakah ada yang lucu Sakura-chan?"

"Kau lucu Gaara-kun, habis kau bilang ingin jadi seorang pangeran di mataku sich, padahal aku bukanlah seorang putriyang cantik ...hehe"

"Tapi bagiku kau sudah kuanggap seorang putri Sakura"

"Benarkah...apa aku cantik?"

"Hn" Gaara mengangguk, semburat merah tipis tercetak jelas di wajahnya, "Suatu saat nanti aku akan menjadi seorang pangeran yang tampan" Ujarnya serius.

"BENARKAH?" Sakura berteriak histeris.

"Hn"

"Uwaaa... arigatou" Sakura menghambur memeluk Gaara, "Jika kau berubah menjadi pangeran yang tampan temui aku, aahhh... aku yang akan menemuimu. Aku berjanji akan menikah denganmu kelak... hehe" Sakura melepas pelukannya lalu memamerkan cengirannya.

Gaara tersenyum lebar, matanya berbinar, " Benarkah? Maukah kau berjanji padaku Sakura -hime" Gaara mengacungkan jari kelingkingnya.

"Aku janji" Sakura menyambut jari kelingking Gaara, mereka saling menautkan jari kelingkingnya. Lalu tersenyum.

.

.

.

Namun keesokan harinya Gaara harus pergi meninggalkan Suna, sebelum pergi ia berkunjung menemui Sakura di rumahnya. Mendengar kabar kepergian sahabat pria satu-satunya itu membuat gadis kecil itu menangis sejadi-jadinya.

"Hiks... kenapa kau harus pergi Gaara-kun... bukankah kau berjanji akan berubah menjadi seorang pangeran untukku?" Ucap sang gadis kecil diselah isaknya.

"Maaf, nenek chiyo ingin mulai merintis perusahaan kami yang baru di Konoha, jadi kami semua harus pindah kesana"

"Hiks... "

"Aku akan kembali, jika sudah menjadi sosok seorang pangeran yang ideal untukmu Sakura-hime" Ujarnya seraya menggenggam tangan Sakura.

"Aku... aku juga akan berusaha menjadi seorang putri yang cantik, kalau kau tak datang juga, aku yang akan mengunjungimu Gaara -kun"

"Hn, akan kutunggu... dan kau juga harus menungguku Sakura -hime" Ujarnya lirih, seakan masih tak rela meninggalkan gadisnya.

"Ya, aku janji"

Sakura menautkan alisnya heran, entah mengapa Gaara masih terlihat sedih.

Cup

"Tak perlu cemas Gaara -kun, aku pasti akan menunggumu"

Sakura mencium pipi Gaara sekilas. Wajah Gaara kini merah padam seperti kepiting rebus. Ia sangat bahagia mendapatkan kecupan dari gadis yang disukainya, membuat ia percaya penuh akan perkataan sang gadis yang mau menunggunya kelak. Gaara mempererat genggamannya.

"Aku menyukaimu Sakura -hime, tak peduli jika setelah kita tumbuh dewasa nanti kau masih belum berubah menjadi sosok seorang putri. Aku akan tetap menyukaimu. Karena itu tunggu aku, biar aku saja yang berubah menjadi pria idamanmu. Ya, menjadi sosok seorang pangeran di matamu, dan tugasmu hanya perlu terus berada disampingku kelak"

Setelah berucap Gaara menarik tubuh gadis kecil itu ke dalam pelukannya. Meski masih berusia 10tahun, Gaara tidak main-main dengan ucapannya. Karena hanya Sakura yang sejak dulu menerimanya apa adanya, selalu ada disampingnya ketika semua teman menjauhinya. Mengulurkan tangannya ketika ia terjatuh ke jurang kepedihan saat kehilangan kedua orangtuanya.

Selalu tersenyum di hadapannya meski ia sendiri sedang merasa sedih, itu semua cukup membuat Gaara terlepas dari jurang yang bernama kesedihan. Ia sangat bersyukur bertemu dengan Sakura, karena itu giliran ia yang membuat sang gadis bahagia. Ia sangat tau Sakura sangat mendambakan sosok seorang pangeran muncul dalam hidupnya. Karena itu Gaara memutuskan untuk menjadi seorang pangeran untuknya.

.

.

#Flashback off #

.
"Begitulah Sasuke-kun, padahal ia sudah menepati janjinya padaku. Tapi... aku malah tak berubah sedikitpun, aku belum bisa menjadi seorang putri" Sakura mendesah pelan.

"Kau sudah pantas disebut seorang putri Sakura" Sasuke memegang dagu sang gadis, mengangkat wajahnya sejajar dengan wajah miliknya, "Kau cantik" Ujar Sasuke.

Sakura tersenyum getir,'Kau salah Sasuke, kau hanya tak tau jika tubuhku masih sama seperti dulu, bahkan berat badanku yang melebihi obisitas normal, aku masih tak bisa membayangkan jika kau tau betapa buruknya diriku yang sesungguhnya tanpa memakai kalung ini 'batinnya seraya memegang kalung di dadanya.

"Kita temui kakakmu sekarang" Ajak Sasuke mulai beranjak diri.

"Ya"

.

.

"Sasori-nii"

Sasori segera menoleh kesumber suara yang memanggilnya. sebuah senyuman merekah diwajahnya ketika Sakura berlari kearahnya.

Sreet

Sakura memeluk kakak semata wayangnya erat.

"Kau tidak apa-apa kan? Apa yang dilakukan Uchiha brengsek itu padamu?" Sasori memutar-mutarkan badan adiknya, melihat wajahnya, tangan dan kaki, lalu manik hazelnya menatap Sakura tajam,"Kau... kau masih virgin kan?" Ujarnya di depan semuanya.

Siiiingggggg, BLussshhhh

Wajah Sakura sontak merah padam, ia teringat kembali kejadian barusan yang hampir membuatnya kehilangan keperawanannya, untung saja ia masih bisa mengendalikan dirinya.

Ctak

Perempatan siku tercetak di jidat Sasori, ia menatap tajam Sasuke yang berdiri dibelakang Sakura dengan tatapan mematikan miliknya.

"Kau apakan adikku hah? Dasar pemuda mesum!" Maki Sasori seraya mengarahkan jari telunjuknya ke depan wajah tampan Uchiha bungsu itu.

"Tch" Sasuke mendecih, lalu memutar bola matanya bosan. Ia mencoba menekan amarahnya terhadap calon kakak iparnya ini. Karena kalau tidak Sakura tak akan boleh tinggal bersama dengannya.

Sedangkan Gaara, terlihat expresi kecewa di wajahnya. Ia memegang kalungnya erat guna menekan rasa sakit yang menjalar di ,sedih dan kecewa kini bercampur-aduk di dadanya.

Manik jadenya menatap Sakura sendu, dan sedetik kemudian manik emerald Sakura tak sengaja bertatapan dengannya.

"Gaara-kun" Ujarnya pelan. Sakura membuang wajahnya ke samping, ia tak ingin melihat ekspresi sedih Gaara lebih lama lagi, karena ia sadar betul kalau dirinya sudah mengingkari janji yang ia buat dengan pemuda bertato ai itu.

Menghianati pemuda yang dengan tulus menaruh hati padanya. Tak bisa dipungkiri Sakura pun sangat menyesali perbuatannya, tapi hatinya kini sudah jatuh pada Uchiha bungsu ini. Sakura pun tak habis pikir kenapa dia gampang sekali jatuh hati pada Sasuke yang over protektif padanya, terlebih lagi ia pemuda mesum. Apa karena ketampanan yang dimiliki Uchiha bungsu ini? Sehingga ia jatuh hati padanya. Ya, mungkin, karena Sakura pecinta pria tampan.

"Sakura ayo pulang!" Sasori tiba-tiba menarik tangan Sakura.

"Tunggu... Sasori-nii!" Ujar Sasuke seraya menarik sebelah lengan Sakura, membuat sang empu yang mempunyai nama membalikkan badannya dan menatap Sasuke.

"Tck, sejak kapan aku jadi kakakmu?" Decaknya kesal, karena Sasuke memanggil namanya dengan suffix 'nii'.

"Hn, karena kau calon kakak iparku" Jawabnya.

Ctak

Perempatan siku tercetak jelas di dahinya, "Aku tak akan pernah merestuimu menikah dengan adikku" Tolaknya dengan tegas. Itu semua sukses membuat perempatan siku tercetak juga di dahi Sasuke.

"Kau... " Geram Sasuke kesal. Onyx dan Hazel saling memancarkan aura membunuh.

"Nii -chan... Sasuke -kun sudahlah jangan berkelahi lagi" Ujar Sakura berusaha meredamkan amarah mereka.

"Ehem... kalian semua melupakanku sepertinya?" Terdengar suara barythone milik Itachi membuat mereka semua sontak mengalihkan pandangan padanya,"Sakura-chan akan tinggal disini mulai sekarang, kumohon restu darimu Sasori, aku mewakili orangtua kami meminta Sakura untuk menjadi menantu dirumah ini" Ujar Itachi seraya membungkukkan badannya.

"Aku tidak setuju" Jawab Sasori melipat tangannya menyilang di dada.

"Kenapa?" Tanya Itachi heran.

Sasori menarik lengan Gaara, "Aku lebih setuju jika Gaara yang menikah dengan adikku"

Itachi mengernyit, ia melihat Sasuke dan Gaara secara bergantian, tampak , lalu menepuk pundak Sasuke, "Hei,otouto ... dia tak kalah tampan dibandingkan denganmu, sainganmu terlalu berat...fufufu" Itachi terkekeh pelan. Sasuke mendecih, ia tak suka dibandingkan dengan pemuda merah itu. Jelas-jelas dirinyalah yang paling tampan, yah... baginya pesona Uchiha tak akan kalah oleh siapapun.

Sasuke melingkarkan sebelah tangannya ke pinggang Sakura, lalu menarik tubuh sang gadis merapat padanya.

"Sakura, cepat beritau pada kakakmu itu, siapa yang kau pilih aku atau setan merah itu?" Tanya Sasuke seraya menatap tajam manik jade milik Gaara.

"Eh... itu..." Sakura gelagapan, ia tak ingin membuat Gaara sedih dengan jawabannya, karena mungkin ia akan memilih Sasuke yang akan menjadi pendampingnya. Betapa jahatnya ia pada pemuda bertato ai itu, dengan mudahnya berpaling pada pemuda lain yang baru saja ditemuinya. Kini emeraldnya bertatapan dengan manik jade milik Gaara. Keringat bercucuran dari pelipisnya, digigit bibir bawahnya pelan.

'Gaara-kun maafkan aku, aku telah jatuh cinta pada pemuda lain' lirihnya.

"Aku... aku telah jatuh cinta pada Sasuke -kun. Maafkan aku Gaara-kun ,sepertinya tak bisa menepati janji kita" Sakura membungkukkan badannya dalam-dalam. Ia siap untuk dibenci oleh sahabatnya merah nya itu.

Bagai tertusuk beribu tombak tepat di jantungnya, sakit... amat sakit. Nafasnya tercekat ditenggorokan, tangannya mengepal erat. Tak disangka gadis yang dicintainya selama ini lebih memilih pemuda lain sampai-sampai mengingkari janji yang sudah mereka sepakati 11 tahun yang lalu.

Gaara memejamkan matanya, menetralisir perasaannya yang tak menentu saat ini.

'Tenang... kau harus bisa mengendalikan dirimu Gaara' Batinnya.

Ia lalu membuka matanya perlahan. Ah, sialnya ia melihat seringai kemenangan Uchiha bungsu itu, seakan mengejek dirinya. Tapi perjuangan dirinya untuk mendapatkan sang putri tak akan berakhir sampai disini. Ia berjalan menghampiri Sakura.

"Aku tak akan menyerah begitu saja Sakura -hime, kupastikan kau akan mengubah keputusanmu dan memilihku pada akhirnya"

"Kenapa?padahal aku sudah menyakiti hatimu Gaara-kun"

"Karena aku tulus mencintaimu apa adanya"

Cup

Gaara mencium pipi Sakura sekilas,.membuat Onyx Sasuke melotot tak percaya.

"Kau... berani sekali mencium Sakuraku di depan mataku, heh! Setan merah" Makinya, Sasuke hampir memukul Gaara, namun berhasil di tahan Sakura.

Sedangkan Gaara ia tak mempedulikan caci maki Sasuke padanya, dan lagsung beranjak pergi meninggalkan semuanya. Dan sosoknya hilang di balik pintu utama.

"Tch, awas kau setan merah, jika kita bertemu lagi, akan kubuat perhitungan denganmu!" Oceh Sasuke yang masih tak terima gadisnya dicium oleh pemuda lain, ia mengambil sapu tangan di kantung celananya dan mengelap pipi Sakura yang tadi sempat dicium Gaara.

Itachi sejak tadi tak berhenti terkekeh geli melihat opera sabun yang disajikan di hadapannya. Apalagi, adik bungsunyalah yang ikut andil sebagai peran utama.

Kakashi pun ikut memamerkan senyumannya melihat tuan muda yang dikenal datar itu mengeluarkan berbagai ekspresi hari ini.

"Tak kusangka adik bodohku ini memilih pemuda mesum...haaaa" Ujar Sasori, menghela nafas frustasi.

"Jadi? kau menyetujui hubungan kami bukan?" Tanya Sasuke.

"Ya, baiklah... dengan satu syarat"

"Apa"

"Aku mengijinkan Sakura tinggal disini jika aku pun ikut tinggal disini juga"

"Heeee... nii -chan, apa yang kau... "

"Baik, tak masalah, kau boleh tinggal disini sesukamu Sasori, kau juga akan menjadi bagian dari keluarga kami... bukan begitu Sasuke" Ujar Itachi memotong perkataan Sakura.

"Tch, terserah" Sasuke mendecih, ia merapal sumpah serapah untuk kakaknya yang seenaknya memutuskan, lihat Sasori memamerkan seringaiannya. Sudah dipastikan ia pasti tidak akan bisa dekat-dekat dengan Sakura jika pemuda baby face itu tinggal bersama dengannya juga.

"Baiklah... Kakashi antar Sasori dan Sakura-chan ke kamarnya, mulai besok kau akan kuliah di tempat Sasuke, Sakura-chan... sekarang kalian berdua beristirahatlah"

"Un, terimakasih Itachi -nii" Sakura memeluk Itachi sekilas.

"Aku akan mengantar kalian, silahkan lewat sini" Kakashi menginterupsi.

"Sasuke... kita juga harus bicara!" Itachi mencengkram pundak Sasuke dengan tatapan mematikan miliknya. Mau tak mau Sasuke menuruti kakaknya, biar bagaimana pun Ia takut jika Itachi sudah mengeluarkan tatapan mematikan miliknya.

"Hn"

'Sepertinya aku tidak akan tidur sampai pagi mendengar ocehannya, Tck' batin Sasuke memprediksi.

.

.

.

.

"Kamar nona Sakura di sebelah sini, tepat di depan kamar tuan muda Sasuke. Lalu kamar tuan muda Sasori berada disamping kamar nona Sakura, silahkan beristirahat. Aku pamit" Kakashi membungkukkan badan sebelum pergi meninggalkan mereka berdua

"Ahh, arigatou kakashi-san" Ujar Sakura seraya membungkukkan badan."Baiklah nii-chan aku istirahat dulu, jaa "

"Tunggu..."

Sasori memegang tangan Sakura sebelum sang empu masuk ke dalam kamarnya.

"Kita harus bicara Sakura, HARUS!" Ujarnya penuh penekanan diakhir kalimat.

Glek...

Membuat Sakura harus menelan ludah berulang kali.

'Gawattt... pasti aku akan diceramahi sampai pagi' Innernya menjerit.

"Ayo, hari ini kau tidur denganku, karena kau harus menceritakan semua yang terjadi sedetail mungkin,jangan sampai ada yang terlewat sedikitpun!" Perintah Sasori mutlak, seraya menyeret Sakura kedalam kamarnya.

"Huwaaa...pelan sedikit nii -chan, aku bisa jatuh" Teriaknya.

Sepertinya ini akan menjadi malam terpanjang bagi Sakura dan Sasuke.

.

.

.

Pagi hari di ruang makan keluarga Uchiha, Itachi, Sasuke, Sakura dan juga Sasori sedang menikmati sarapan pagi mereka. Ditemani Kakashi yang berdiri disamping Itachi.

"Hoaamm" Sasuke menguap lebar, matanya sipit. Ia merasakan kantuk yang amat sangat saat ini. Karena ulah kakaknya yang menceramahinya semalaman suntuk, membuat dirinya tak sempat tidur semalam.

"Sasuke, tutup mulutmu jika menguap. Sopanlah seedikit, kita sedang sarapan disini" Oceh Itachi pada adik bungsunya ituh.

"Tck, ini semua salahmu! Baka Aniki" Decak Sasuke kesal.

"Hoaaamm..."

Semuanya sontak mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Terlihat Sakura yang kini membekap mulutnya rapat-rapat, ia tak sengaja menguap.

"Maaf... aku tak sengaja, ha-ha" Sakura menggaruk kepala bagian belakangnya yang tak gatal seraya tertawa kaku.

'Bodohnya diriku' ia merutuki sifatnya yang tak manis itu.

"Kau mengantuk Sakura-chan?" Tanya Itachi.

Sakura menggeleng, "Tidak Itachi-nii, aku baik-baik saja, ha-ha" Sungguh bertolak belakang dengan keadaannya kini. Jelas-jelas manik emeraldnya sangat merah dan kelopak matanya sayu. Sekali melihatnya pasti tau betul jika ia pasti sangat mengantuk.

"Kakashi, antar Sasuke dan Sakura ke kampus... jangan biarkan Sasuke membawa mobilnya hari ini!" Perintah Itachi.

"Baik, tuan muda" Angguk Kakashi.

"Aku ikut" Pemuda baby face itu angkat bicara.

"Tidak Sasori, kau tinggal disini bersamaku" Jawab Itachi, "Kita perlu membicarakan sesuatu bukan?"

"Tck, baiklah"

"Sakura-chan mulai hari ini kau akan kuliah di kampus yang sama dengan Sasuke" Pandangannya teralihkan pada Sasuke" Dan kau Sasuke, kuharap bisa menjaga Sakura dari fansgirl mu. Mengerti!"

"Tak akan kubiarkan mereka menyentuhnya sedikitpun Aniki" Jawabnya yakin.

.

.

.

Disepanjang perjalanan Sakura dan Sasuke tidur dengan lelapnya, tubuh mereka saling bersender satu sama lain, ah... lihat telapak tangan merekapun saling bertautan. Membuat Kakashi tersenyum tipis melihat keadaan mereka yang terlihat manis itu.

Dia tak menyangka Uchiha bungsu yang terkenal anti pada wanita ini bisa sangat over protektif pada seorang wanita. Semoga gadis bersurai pink itu bisa membuat tuan mudanya bahagia.

Beberapa menit kemudian tibalah mereka di Universitas Konoha.

"Tuan muda Sasuke, nona Sakura... kita sudah sampai" Ujar Kakashi seraya membukakan pintu untuk mereka.

"Hn" Sasuke mengerjabkan matanya menetralisir cahaya yang masuk ke kelopak matanya.

Keadaan Sakurapun tak beda jauh dengan Sasuke, Sakura mengucak-ngucak matanya, lalu sesekali menguap.

"Kuantar kau ke ruang dosen, Aniki berpesan padaku kalau kita harus bertemu dengan Anko-sensei, ia yang akan menjadi dosen pembimbingmu kelak" Ujar Sasuke ,seraya membantu sakura keluar dari mobilnya.

"Apa perlu kutemani tuan muda?" Tanya Kakashi.

"Tidak perlu, sebaiknya kau pulang Kakashi"

"Baiklah, hati-hati tuan muda Sasuke, nona Sakura. Saya pamit" Ujar Kakashi sopan seraya membungkukkan badannya.

"Ahh, arigatou Kakashi-san" Jawab Sakura.

Mereka berdua lalu berjalan berdampingan, Sasuke masih setia menggenggam tangan sang gadis.

Suasana kampus menjadi gaduh, lihat! semua siswa tercengang melihat Uchiha bungsu ini menggandeng tangan seorang gadis cantik bak bunga musim semi ini.

Mereka semua saling melempar pandang dan berbisik. Itu semua membuat Sakura risih, sebegitu terkenalnya kah kekasihnya ini, ah bukan... calon suaminya ini.

Tak heran memang jika Sasuke terkenal di lingkungan kampusnya, jelas sekali bukan?pemuda tampan, berwibawa, cool, penuh akan pesona ini pasti memikat perhatian seluruh gadis di kampusnya.

Manik emeraldnya kini beradu pandang dengan manik lavender milik gadis cantik berhelai hitam pendek sebahu yang berjalan berlawanan di sebelah kanannya.

Duak

Gadis bersurai hitam pendek itu sengaja membenturkan pundaknya lumayan keras mengenai pundak Sakura saat mereka berpapasan tadi, membuat tubuh Sakura sedikit terhuyung kebelakang akibat ulah gadis tadi. Dengan sigap Sasuke menopang tubuh Sakura.

"Kau tidak apa-apa?" Ujar Sasuke.

"Ya" Jawabnya, manik emeraldnya membulat ketika ia tak sengaja melihat tatapan membunuh yang ditunjukkan gadis berhelai pendek sebahu itu padanya. Lalu gadis itu menggerakkan bibirnya slowmotion dan dapat ditangkap oleh Sakura.

'Akan kubuat kau menyesal karena mendekati Sasukeku!'

Sakura bergidik ngeri ketika mengetahui semua makna yang ingin diucapkan oleh gadis yang tak dikenalnya itu.

'Apakah dia fansgirlnya? Menyeramkan... bagaimana ini, sepertinya aku akan dimusuhi oleh seluruh wanita di kampus ini karena berdekatan dengan Sasuke-kun si pangeran kampus' Jerit Sakura dalam hati.

.

.

.

Akhirnya Sakura dan Sasuke sampai di ruang dosen.

"Hmm... Haruno Sakura, siswi pindahan dari Suna... jurusan Sastra jepang semester 4"

Tampak seorang wanita cantik berhelai hitam pendek sebatas leher sedang membaca berlembar-lembar biodata mengenai gadis bersurai pink yang diajukan oleh Uchiha Itachi.

"Baiklah, kau ikut aku, dan kau Sasuke kembali ke kelasmu, jam pelajaran pertamamu hari ini Orochimaru-sensei bukan? jika terlambat kau akan dihukum berlari 10 kali keliling lapangan" Ujar Anko memperingati.

"Hn" Ucapnya datar, lalu menatap sang gadis, ia merogoh tas selempangnya dan mengambil sesuatu disana

"Jika terjadi sesuatu gunakan ini untuk menghubungiku, aku sudah save nomerku disana" Ujarnya seraya memberikan telepon genggam kepada Sakura.

"Ya... arigatou Sasuke-kun" Sakura tersenyum tipis.

"Hn, aku akan menghubungimu saat jam istirahat nanti"

"Ya"

Setelah berucap Sasuke mengecup jidat lebar Sakura sekilas, membuat wajahnya merah seperti tomat kesukaan Sasuke.

Sakura pun merasa malu, karena kini ia menjadi pusat perhatian para dosen atas ulah Sasuke.

"UCHIHA CEPAT KEMBALI KE KELASMU" Bentak Anko-sensei dengan nada tinggi.

"Hn"

Namun Sasuke tetap dengan ekspresinya yang datar lalu mulai melangkah keluar ruangan dan meninggalkan Sakura disana.

"Anoo, Anko- sensei... bolehkah aku pergi ke toilet sebentar?" Ujar Sakura ditengah perjalanan menuju kelasnya.

"Ya, tentu... setelah itu kau jalan lurus saja dari sini, lalu kau belok kanan, kemudian jalan sebentar. Cari ruangan 304, kelas sastra jepang disana, mengerti?" Jelas Anko sensei.

"Hai, aku mengerti sensei"

"Kutunggu kau disana"

Anko berjalan meninggalkan Sakura seorang diri. Sakura segera masuk ke dalam toilet khusus wanita.

Deg

Betapa sialnya ia sekarang, kini ia berhadapan langsung dengan gadis berhelai hitam pendek sebatas pundak dengan manik lavendernya yang indah.

#Sakura POV ON #

.

.

Lihat betapa tak beruntungnya diriku saat ini, Gadis itu tak seorang diri, ia ditemani dua orang gadis lainnya. Gadis berhelai kuning blonde panjang sebatas pinggang dan seorang gadis berhelai cokelat sebatas pundak.

"Ne, hanabi-chan... lihat! Tak kusangka dia masuk sendiri ke dalam kandang singa, fufufu! Ucap gadis berhelai cokelat sebatas pundak itu.

"Gadis bodoh" Timpal gadis berhelai kuning blonde.

Gadis yang dipanggil Hanabi itu menyeringai, melangkah mendekatiku yang masih diambang pintu. Aku melangkah mundur yang bernama Hanabi itu melangkah mendekatiku.

Brakk

Aku terhentak kaget ketika tubuhku terdorong ke depan dan daun pintu yang berada dibelakangku ditutup paksa oleh dua gadis lainnya tanpaku sadari.

'Sejak kapan mereka berada di belakangku' Batinku bertanya-tanya.

"Kyaaa"

Aku refleks berteriak ketika tangan kananku ditarik paksa oleh gadis berhelai hitam hingga tubuhku terbentur tembok.

Sreettt

"Itttaaii" Tiba-tiba ia menjambak rambutku kasar.

Aku benar-benar sial saat ini, di dalam toilet hanya ada kami ber4 , 3 lawan 1. Dan dapat dipastikan aku tak mungkin menang melawan 3 orang sekaligus.

"Berani sekali kau berdekatan dengan Sasuke-kun"

Gadis yang bernama Hanabi itu mulai membuka pembicaraan.

"Hei, kau tau tidak... Sasuke-senpai itu milik Hanabi-chan, dasar gadis penganggu!" Timpal seorang gadis berhelai cokelat.

"Kau benar matsuri, sebaiknya kau jauhi Sasuke-senpai, jika tidak kami tak segan-segan mengusik hidupmu" Gadis berhelai kuning blonde itu ikut angkat bicara.

"Kurasa sudah jelas bukan? Apa yang dikatakan Ino dan Matsuri?"

Aku terhenyak mendengar ocehan mereka tentang Sasuke-kun. Ahhh... apakah mereka fansgirl nya?

"Hei... apakah kalian fansgirlnya?" Tanyaku blak-blakan.

"Jelas bukan, aku kekasihnya!" Ujar Hanabi.

Dan sukses membuat manik emeraldku membulat. Aku tak salah dengar kan? Aku menaikkan sebelah alisku.

"Tidak mungkin! Sasuke-kun bilang dia menyukaiku"

Ya, jelas bukan, bahkan ia bilang akan menikahiku di depan kakaknya Uchiha Itachi. Karena kami sudah terikat benang jodoh sejak dulu. Lihat gadis bersurai hitam itu semakin jengkel mendengar semua ucapanku.

"Kau benar-benar membuatku muak!"

Ia menjambak rambutku semakin kencang. Sakit! Lihat saja aku juga bisa melawan. Kubalas menjambak rambut hitamnya yang pendek.

"Kau pikir hanya kau yang bisa melakukan ini hah! Aku juga bisa" Balasku

"Brengsek... Ino, Matsuri cepat bantu aku! Jangan diam saja bodoh!" Gadis itu meminta bantuan temannya.

Alhasil gadis yang bernama Ino dan Matsuri menarik kedua tanganku dan memeganginya kencang, membuatku kini sulit bergerak. Aku meronta, tapi sayang tenagaku tak sanggup untuk melawan 2 orang sekaligus. Huu... jika dengan tubuh asliku aku sanggup melawan mereka semua sendirian. Tapi sayangnya kini tubuhku kecil dan tenaga superku hilang entah kemana.

"Lepaskan!" Teriakku.

Plak

Hanabi menampar pipiku lumayan kencang, mungkin sekarang tercetak raum kemerahan disana. Ditambah lagi ia kembali menjambak rambutku.

"Kau berani melawanku, Brengsek! Aku akan membuatmu menyesal karena berani melawanku" Ancamnya.

Kami-sama, kenapa dihari pertamaku menginjakkan kaki di kampus Sasuke-kun harus mengalami hal seperti ini. Ini sungguh menyebalkan, ingin rasanya berteriak memanggil namanya agar membantuku lepas dari mereka.

Kau harus tegar Sakura, jangan mau kalah dari mereka!

"Kau kira aku takut, heh!"

Aku melawan ucapannya, lihat kerutan diwajahnya menambah. Ingin rasanya aku tertawa terbahak-bahak. Rasakan!

Duak

"Itaaiii" Jeritku.

Wanita itu sudah gila, ia membenturkan kepalaku keras menghantam tembok. Atas akibatnya itu kepalaku kini terasa pusing dan berdenyut, sakit.

"Astaga! Hanabi-chan, kau terlalu kasar, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?" Ujar Matsuri yang sedikit tak suka dengan tindakan temannya padaku.

"Aku tak peduli! Bahkan aku ingin membunuhnya sekarang!"

Ah, sepertinya ia benar-benar membenciku, aku yakin pasti ia benar-benar jatuh cinta pada Sasuke. Lihat tatapan matanya menatapku tajam seakan ia tak segan-segan akan membunuhku saat ini juga.

NYUT...NYUT

Sial!... kepalaku semakin berdenyut sakit, perih rasanya.

"DARAH!" Manik shappire wanita bernama Ino itu membulat ketika melihatku, ia sontak melepaskan tangannya dari lenganku.

Darah katanya! aku sontak langsung memegang kepalaku. Betapa terkejutnya aku, pantas saja kepalaku berdenyut sakit. Darah yang mengalir di kepalaku jatuh menetes di atas lantai.

"Hanabi, sebaiknya kita pergi!" Ajak Ino seraya menarik lengannya.

"TIDAK! Aku belum puas"

Ah, pandanganku mulai memburam, sontak aku memegangi kepalaku dengan sebelah tanganku.

Sreett

"Ikut aku"

Hanabi menyeretku ke salah satu toilet.

Bruukkk

Lalu mendorongku, hingga tubuhku jatuh di depan kloset. Lagi-lagi kepalaku ikut terbentur.

"Awwww" Ringisku kesakitan.

Byuuuurrrr

Dingin! Gadis bersurai hitam sebatas punggung itu menyiram tubuhku dengan air. Kulihat ekspresinya kini, ia menyeringai. Lalu memposisikan dirinya berjongkok menyamai posisiku. Ia memegang daguku, dan mengangkatnya keatas, menyamai pandangannya. Manik lavendernya menatapku tajam.

"Bagaimana rasanya disiram air dingin, heh... Haruno Sakura!"

Mataku membulat, ia tau namaku! Setauku aku tak pernah mengenal dia sebelumnya. Ah, gawat, penglihatanku makin memburam.

"Apa ini? Kau punya kalung yang sama dengan Sasuke-kun?" Hanabi memegang kalung yang melingkar di leherku.

EH! GAWAT! Sontak aku langsung menghentakan tangannya dari kalungku dan menggenggamnya erat. Bisa kacau kalau ia merampas kalungku saat ini, jati diriku yang sesungguhnya bisa terbongkar dihadapannya.

"Jangan pernah menyentuhnya!" Ancamku dengan nada lemah menahan sakit.

Ia menggeram kesal, "Darimana kau mendapatkan kalung itu hah! Berikan padaku!"

"TIDAK"

Bagaimana ini? tenaganya kuat, dengan sekuat tenaga ia berusaha melepas genggaman tanganku dari kalungku. Kalau begini terus bisa-bisa kalungku berhasil ia rampas.

Lama kami bergulat, aku terus mempertahankan kalungku. Meski kuku-kuku jarinya yang panjang menusuk pergelangan tanganku, hingga terdapat banyak goresan disana.

Hosh... hosh

Kami berdua mulai lelah.

"Ck, keras kepala... Ino, Matsuri bantu aku mendapatkan kalung itu, cepat jangan diam saja bodoh!"

"Tapi, Hanabi-chan... gadis itu sudah terlihat pucat aku takut nanti-"

"CEPAT BANTU AKU"

"HAI"

Tidak! Kuharap ada seseorang yang membantuku sekarang, tenagaku tak kuat untuk melawan lebih dari ini. Curang! mereka bertiga kembali mengeroyokku.

Sreeettt

Akhirnya mereka berhasil merampas kalungku. Dengan tenaga yang tersisa aku mendorong tubuh mereka semua menjauh dariku.

Klik

Kukunci rapat -rapat pintu toilet dengan segera dari dalam.

Poooffftt... Brreeettt

Tubuhku berubah menjadi gemuk kembali, seluruh pakaian yang kugunakan robek hingga tak berbentuk. Tamat sudah riwayatku, tubuhku lemas, aku jatuh terduduk dan bersandar pada daun pintu dibelakangku.

Bagaimana ini? Siapa yang bisa kupintai tolong saat ini? Sasuke? Tidak mungkin kan.

Hiks...

Akhirnya air mataku lolos dari manik emeraldku. Pikiranku kacau saat ini.

'Kami-sama, tolong aku, tak mungkin aku pulang dengan tubuh polos, kumohon kirim seseorang untuk membantuku'

Aku hanya bisa berdoa dalam hati. Semoga seseorang datang menolongku.

#Sakura POV OFF #

.

.

"Hanabi, sebaiknya kita pergi dari sini, cepat... kita tak tau apa yang terjadi padanya di dalam sana bukan?" Ajak gadis blonde, wajahnya terlihat pucat.

"Baiklah, kurasa cukup untuk hari ini, ayo kita pergi" Timpalnya, menyetujui usulan salah satu temannya.

Mereka bertiga lalu pergi meninggalkan Sakura di dalam toilet sendirian.

.

Tap... tap... tap...

Seorang pemuda bersurai merah dengan manik jade nya sedang berjalan menyusuri lorong kampusnya. Ia ingin menemui seorang gadis bersurai merah muda yang baru pindah kuliah disini.

Manik jadenya tak sengaja melihat sebuah kalung yang dipegang oleh salah satu dari ketiga gadis yang berjalan berlawanan arah dengannya. Jaraknya hanya beberapa langkah didepannya.

Ia berhenti melangkah sejenak, menajamkan penglihatannya. Apakah ia tak salah lihat? kalung yang dipegang gadis bersurai hitam sebatas pundak itu sama dengan kalung miliknya.

"Ck, kenapa gadis pink itu bisa mempunyai kalung yang mirip dengan Sasuke-kun, ini membuatku muak" Ujar Hanabi seraya mengangkat tinggi kalungnya sambil berjalan.

Manik jade Gaara membulat, ketika ia tak sengaja mendengar ocehan gadis bermanik lavender itu ketika berpapasan dengannya tadi.

'Jadi kalung itu milik Sakura, darimana mereka mendapatkannya? tak mungkin Sakura dengan senang hati memberikannya pada mereka?' Batinnya, "Tck, pasti mereka merampas paksa darinya"

Gaara membalikkan tubuhnya mengejar sang gadis yang belum jauh berada didepannya.

Sreettt

Ditarik lengan sang gadis kasar, hingga terhuyung kedepan dan hampir terjatuh.

"Berikan kalung itu padaku!" Titahnya tanpa basa basi. Manik jadenya menatap tajam mata sang gadis.

"Apa maksudmu?" Hanabi tampak bingung.

"Tch" Gaara mendecih, lalu merampas kalung yang berada ditangan gadis besurai hitam itu.

"Hei, kembalikan! Itu milikku" Pintanya.

"Bukan!... aku tau pemilik aslinya"

Ucapan Gaara sukses membuat mereka bertiga tersentak kaget.

"Katakan, dimana dia? Dimana pemilik kalung ini, Haruno Sakura"

"Kau mengenalnya?" Hanabi tak sengaja merespon pertanyaan Gaara, dengan segera ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia merutuki dirinya sendiri yang reflex merespon tadi.

"CEPAT KATAKAN!" Ujar Gaara dengan nada yang meninggi, ditarik lengan sang gadis lalu mencengkramnya erat. Sehingga sang gadis meringis kesakitan.

"Tidak akan kuberi ~"

"Di toilet wanita, tak jauh dari sini"

Belum selesai Hanabi berucap, Matsuri ikut angkat bicara.

Gaara segera berlari menuju toilet wanita, tanpa berucap apapun pada ketiga gadis yang kini terdiam menatap kepergian Gaara.

"Bodoh, kenapa kau beritau Matsuri, matilah kita" Ujar Hanabi frustasi menjambak rambutnya.

"Kalau didiamkan dia bisa mati Hanabi-chan, aku tak mau masuk penjara gara2 ulahmu, rencana awal kita hanya mengerjainya bukan menyiksanya. Tck, aku tak mau tau lagi, jangan bawa namaku jika dia menuntutmu" Oceh Matsuri panjang lebar, lalu melangkah pergi meninggalkan kedua temannya, ia tak setuju dengan tindakan temannya yang menurutnya sudah diluar batas.

"Apa yang dikatakan matsuri benar Hanabi, seharusnya kau jangan berlebihan menyiksanya, aku tak bisa membayangkan jika kakakmu tau tentang kejadian ini. Kau tau kan kekasih kakakmu Naruto-senpai dekat dengan Sasuke-senpai. Dengan mulut embernya dia bisa langsung memberitau Sasuke-senpai kejadian ini, dengar aku juga tak mau ikut campur. Ini murni salahmu, sebaiknya kau minta maaf pada gadis itu" Ino mencoba menasehati Hanabi, "jaa, aku duluan ... pikirkanlah Hanabi" Ino pun mulai melangkah pergi meninggalkan Hanabi.

"BRENGSEK! kalian berdua,tch... aku tak akan pernah minta maaf padanya" Teriaknya, sepertinya ia tak ingin meminta maaf pada gadis musim semi itu. Karena ia tak rela membiarkan Sasuke jatuh pada wanita lain.

.

.

.

-000-

.

Brakk

Gaara membuka paksa pintu toilet wanita, ia terkejut ketika melihat setetes darah yang berjatuhan dilantai, manik jade nya terpendar, mencari gadis merah mudanya. Hanya ada satu pintu toilet yang tertutup, segera ia menghampirinya lalu mengetuknya dengan tak sabar.

TOK-TOK-TOK

"Sakura-hime apa kau tak apa-apa? Cepat buka pintunya!"

Gaara mengetuk pintu kasar dengan tempo yang cepat.

"Gaa-ra-kun? A-pa-kah i-tu ka-u?" Ujar Sakura terbata-bata, kondisinya kini sangat lemah, berucap pun ia tak sanggup.

"SAKURA! kau baik-baik saja kan?"

Gaara sangat khawatir dengan kondisi sang gadis dibalik pintu saat ini.

Siiiiingggg

"Tch" Gaara mendecih, karena tak mendapat respon dari Sakura.

Bruk-Bruk

Beberapa kali ia benturkan tubuhnya membuka paksa daun pintu toilet, Sakura yang berada di dalam hanya bisa pasrah, karena tubuhnya tak bisa lagi digerakkan. pandangannya semakin mengabur.

'Ahh, sepertinya Gaara-kun akan mengetahui rahasiaku, aku tak bisa bersembunyi saat ini... ukkkhhh sial'

Sakura hanya bisa mendesah pasrah, kepalanya semakin sakit. Ia tak sanggup berfikir lagi sekarang.

Braakkkk

Pintu berhasil terbuka, dan sukses membuat Gaara terbelalak tak percaya dengan pemandangan yang tersuguhkan dihadapannya.

"SAKURA?!"

.

.

.

Tbc

Akhirnya selesai juga... next nya pasti lama.. hahaha...Makasih buat silent reader & reader yg udah R&R... maaf ga bsa kusebut satu persatu... aku update lwat hp. ~T_T~...sankyuuu minna. ^_^