Author : Yuri Masochist or Han Youngra
Title : The Time: Self-absorbed | August 19th, 2012
Cast :
+ Main Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun)
+ Other Cast : Yunho, Taemin, Jungmo, Junsu, Tao, Lay, Kris, Eunhyuk, Ryeowook, Minho, OnKey, Baekhyun
+ Cameo : Soohyun, Henry, Shindong, KiVin (KiseopxKevin), HanChul, Siwon, Jonghyun, Leeteuk, Yesung, Eli, T.O.P, GD, Kangin, Sooman, Jay, Seungri, Daesung, Alexander, SooSun (SooyoungxSunny), YulSic (YurixJessica), YoonSeo (YoonaxSeohyun), Narsha, Thunder, Mir, Joon
+ Say 'Goodbye' to : Sungmin, Donghae, Kibum, Kai, Zhoumi, Jaejoong, Junho, Se7en and who's next?
[DBSK | Super Junior | SHINee | TRAX | EXO | Big Bang | U-Kiss | Se7en | MBLAQ]
[SNSD | B.E.G]
Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror
Rated : PG-15 | T semi M deh untuh semua chap~
Type : Yaoi
Length : Chapter
Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini | You can not stop the cycle
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!
Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!
A/n : 8E, saya datang dengan empat chapieeeee yang lumayan pendek #ditimpuk
.
.
.
.
The Time: Self-absorbed | August 19th, 2012
.
Sunday
August 19th, 2012
06:07 AM
Yoochun merindukan suasana seperti ini.
Dimana Changmin menunggu ia di meja makan—karena ia yang membuat sarapan sekarang. Yoochun menyukai kegiatan biasa seperti ini. Tetapi tetap saja ada yang berbeda.
Keadaan mereka tidak seperti dulu.
Bahkan masalah beruntun yang dihadapinya membuat ia melupakan semua hal yang dilalui olehnya dan Changmin hanya pada saat sarapan.
Yoochun membawa dua piring nasi goreng—yang ia syukuri bahwa ia tidak melupakan cara membuatnya—ke meja makan. Changmin meliriknya sedikit, sampai ketika Yoochun duduk di hadapannya.
Tangan Changmin terulur pelan, lalu menyentuh pelipis Yoochun dengan lembut. "Masih sakit?"
Oh, tentu saja Changmin tidak melupakan apa yang terjadi semalam.
Yoochun menggeleng pelan—berbeda dari kenyataannya. Luka yang hanya diberi plester itu menghasilkan denyutan yang amat menyakitkan pada kepalanya. Begitupula dengan sobekan di bibir, dan memar samar di tubuhnya.
Yoochun tahu, sosok yang semalam menyerangnya, pernah melakukan hal yang sama bulan Maret lalu.
"Kepalaku sakit..."
Bisikan Changmin membuat wajah Yoochun berubah menjadi khawatir. Hendak Yoochun berdiri dari duduknya, Changmin menahannya untuk tetap.
"Maksudku... ada yang memaksaku untuk mengingat semuanya... banyak bayangan, tanda-tanda di pikiranku... tetapi sulit kubaca..."
Yoochun diam dan memperhatikannya.
"Aku mencoba untuk mengingat... tetapi aku kesulitan..."
Lawan bicaranya menggeleng pelan dan memberikan sendok ke arah Changmin.
"Perlahan."
.
.
The Time
Self-absorbed | August 19th, 2012
A Nonsense Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"
Time to Play
.
.
.
Sunday
August 19th, 2012
08:21 AM
Yunho terkesiap ketika handphone-nya berdering, mengganggu lamunannya yang tidak sengaja tercipta. Ia segera meraihnya dan melihat siapa yang menghubunginya. NCIS lagi.
Yunho mengangkatnya. "Yeoboseyo."
"Yeoboseyo, Yunho. Ini Kris."
"Ah, Kris ada apa?"
"Tentang orang yang bunuh diri tanggal Delapan itu, saya berhasil mendapatkan fotonya."
Posisi duduknya berubah ketika mendengar pernyataan itu.
"Benarkah? Ada padamu sekarang?"
"Iya. Saya ada di NCIS bila ingin melihatnya sekarang."
Yunho mengangguk cepat walau gerakannya tidak bisa dilihat Kris. "Baiklah, baiklah." Yunho melirik jam dinding, lalu pada Taemin yang sedang bermain puzzle di karpet yang tidak jauh dari sofa yang di dudukinya. "Aku akan—"
"Nama korbannya Choi Kyuhyun."
Yunho hendak berdiri, namun kegiatannya terhenti. Dia memokuskan pendengarannya pada telepon.
"Apa—siapa?"
"Nama korbannya Choi Kyuhyun."
Ludah di dalam mulutnya ia telan dengan susah payah. "C-Choi? Bukan Cho?"
"Benar. Choi Kyuhyun. Umurnya sembilan belas tahun."
Yunho menghempaskan tubuhnya kembali pada sofa.
Benar-benar bukan yang ia cari. Benar-benar bukan apa yang Yoochun harapkan.
"Baiklah. Terima kasih untuk infonya. Aku akan ada disana dalam duapuluh menit."
Hanya untuk memastikan.
.:o~o:.
Sunday
August 19th, 2012
01:10 PM
Terlalu takut, bahkan hanya untuk membuka pintu. Itulah yang terjadi pada Yoochun saat ini. Kejadian kemarin tidak bisa membuatnya menjadi tak acuh pada hal sekecil apapun. Berbagai kemungkinan ketika ia membuka pintu dapat terjadi. Seperti kemarin. Kiriman tak terduga. Dan serangan dari makhluk tak tampak.
Tuhan, kapan hidupnya akan damai kembali?
Setidaknya tanpa adanya Kyuhyun, dan kekasihnya yang lupa ingatan dapat menjauhkan ia dari masalah sebenarnya. Siklus kematian tak menentu itu.
Yoochun meraih kenop pintu lalu menekannya ke bawah dan membuka pintunya. Satu detik setelah itu ia bersyukur kepada Tuhan, karena yang datang bukanlah hal buruk seperti apa yang ditakutkannya.
Kedua orangtuanya tersenyum melihatnya.
"Yoochun,"
Yoochun balas tersenyum ketika ibunya memeluknya. Lalu bergantian dengan ayahnya. Yoochun mempersilahkan keduanya untuk masuk lalu memintanya menunggu di ruang tengah. Sementara ia menjemput Changmin di kamar tidurnya.
"Changmin belum benar-benar pulih."
Kalimat itu mengawali percakapan mereka di ruang tengah. Ayahnya duduk di single sofa, sementara ibunya di sofa panjang bersama Changmin. Yoochun sendiri memilih untuk duduk di single sofa lainnya setelah meletakkan dua cangkir teh di meja.
Ibunya—Mrs. Park—merangkul Changmin dengan begitu lembut. Seringkali ditatapnya namja yang masih sakit itu.
"Ada apa dengan pelipismu? Dan memar-memar itu?" tanya Mr. Park. "Jangan katakan seorang dokter masih senang berkelahi."
Yoochun tergelak lalu tertawa samar. Lalu dia mencari sebuah alasan.
"Kemarin aku jatuh dari tangga."
Changmin tidak berniat untuk memberitahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Ayahmu sibuk, Changmin?"
Changmin menatap Mrs. Park perlahan. "Ayah selalu sibuk. Tapi kalau tahu kalian kemari, ayah pasti meluangkan waktu."
Mrs. Park tersenyum senang lalu mengusap bahu Changmin penuh kasih sayang. Mr. Park meraih cangkir teh-nya lalu menyesapnya sedikit.
"Kami tidak berniat mengganggunya. Lagipula kami disini untuk tiga hari, jadi bisa bertemu nanti."
Yoochun memperhatikan ketiganya. "Dimana kalian menginap? Aku bisa meng—"
"Ah, iya," Yoochun hanya perlu menelan kalimatnya ketika ibunya memotong ucapannya. "Kami punya hadiah untuk Changmin. Ya, sebagai rasa syukur juga untuk kesembuhannya. Dan untuk Yoochun juga."
Yoochun memandang bingung, Changmin juga demikian.
Ayahnya terkikik kecil lalu menatap keduanya bergantian.
"Mobilnya mungkin akan sampai satu jam lagi. Orang suruhan Ayah sudah mengurusnya."
"Mobil?"
Mrs. Park mengangguk pada anaknya. "Ya. Kalian sudah tidak punya mobil, bukan? Atau kalau kalian sudah beli-pun, anggaplah ini sebagai hadiah." lalu pada Changmin. "Nanti yang putih untuk Changmin, untuk Yoochun yang hitam. SIM kalian tidak dicabut, 'kan?"
Changmin lupa akan hal itu.
"SIM Changmin hampir dicabut. Tapi ayah Changmin membantunya." Yoochun menatap ayahnya dengan tatapan mengapa-kau-belikan-kami-mobil?. "Kalau kecelakaan lagi, sudah pasti kami berdua tidak bisa mengemudi lagi seumur hidup. Dan aku sudah punya mobil lagi, Ayah."
"Kalau begitu jangan mencelakakan diri lagi." Ayahnya menatap tajam ke arah Yoochun. "Seharusnya kau menjaga calon istrimu dengan baik."
Yoochun menunduk diam.
Mrs. Shim melepas rangkulannya menjadi usapan lembut di kepala Changmin.
"Changmin, apa yang kau ingat?"
Oh, tentu saja mereka tahu tentang amnesia ringan yang dialami Changmin. Walau Yoochun tidak memberitahu mereka, ayah Changmin memiliki komunikasi yang baik dengan orangtua Yoochun.
Changmin menatapnya lagi dengan perlahan.
"Sebutkan saja kejadian-kejadian atau bayangan dalam pikiranmu." lanjutnya. "Kau akan sembuh dan mengingat hal yang kau lupakan."
Kumohon jangan.
Yoochun berdiri dan mengalihkan perhatian.
"Ada kamar tamu di dekat ruangan ini. Lebih baik kalian beristirahat karena Changmin juga memerlukan hal itu."
Kedua orangtuanya saling menatap bergantian.
.:o~o:.
Sunday
August 19th, 2012
05:02 PM
Layar laptop menampilkan dekstop dengan background fotonya bersama Yoochun dan Silky.
Changmin memperhatikan layar laptop tersebut dengan seksama. Rasanya ia merindukan hal seperti ini; membuka laptopnya dan melakukan suatu hal.
Foto Silky yang dipeluknya membuat ia rindu, walau kenangan yang ia lalui dengan anjing kecil itu tidak sepenuhnya diingat.
Ada sebuah kegiatan yang dulu ia lakukan, persis seperti ini. Duduk di meja kerjanya, bersama laptop di hadapannya dan berkutat pada suatu hal.
Changmin tidak lupa ia kerja di NCIS, sebagai seorang detektif. Tapi ada sesuatu yang benar-benar dilupakannya.
Dan ia tidak tahu apa itu.
Di depan pintu kamar, saat Yoochun hendak memasuki ruangan itu, ibunya menahannya dan membuat ia berbalik. Menatapnya yang juga melihatnya penuh tanda tanya.
"Kau menyembunyikan sesuatu pada Changmin?"
Yoochun menelan ludahnya.
"Kau lupa kalau ibumu ini seorang dokter?"
Yoochun mendorong ibunya menjauh bersamanya dari muka pintu. "Bu, ada hal yang tidak bisa Changmin ingat."
"Bukan tidak bisa, tetapi—"
"Aku yang menahannya agar tidak ingat." Yoochun meraih tangan ibunya lalu menggenggamnya. "Kumohon, Bu. Aku tidak ingin Changmin sembuh."
Ibunya menggerenyitkan dahinya.
"Kalau Changmin ingat semua hal, hubunganku dengan Changmin dalam bahaya."
Tentu saja bukan Death Cycle yang Yoochun maksud.
"Changmin mencintai orang lain, Bu. Orang itu akan merebut Changmin dariku."
Walaupun Kyuhyun mati, aku takut ada bagian dari hati Changmin yang tertinggal disana.
Ibunya menarik napas sebentar lalu memperhatikan air muka anaknya dengan seksama. Sesaat kemudian, ia memeluk tubuh Yoochun erat.
"Kalau dia bukan jodohmu, lepaskanlah. Jangan menahan hati orang lain. Buat dia mengingat semuanya. Kalau memang dia jodohmu, dia akan ada padamu. Jika bukan... relakanlah Yoochun."
Untuk kali ini, Yoochun tidak akan menuruti ucapan ibunya.
.:o~o:.
Next cuap-cuapnya yaaaaaaaa
Saya posting empat chapie, di chap terakhir yang di posting yaaa
Diharapkan kalian me review u,u
