K 'n Q –alpha-

Disclaimer : EXO never be mine, terinspirasi sedikit banyak dengan ff serigala author MiraMira. But the plot and story are originally mine!

Cast : Lumin (belum terasa?), trio dancer, Kris, lain menyusul.

Rate : T

Genre : supernatural, hurt/comfort, au!wolf

Author's note : center!Xiumin, need more Lumin ffs, lebih rapi dan sedikit panjang, masih babak awal (membosankan), wajib dibaca! :D

Enjoy it. J

Kelopak mata Xiumin terbuka lebar setelah sekian lama ia berusaha untuk keluar dari rekaman masa lalunya yang terputar dalam mimpinya. Namun sinar Sang Surya menyilaukan pandangannya sesaat, memaksanya untuk berkedip berulang kali agar terbiasa dengan cahaya hangatnya. Xiumin mencoba bangkit dari kasur empuk entah milik siapa, ia merasa asing dengan ruangan yang ia tempati saat ini. Kepalanya terasa ditusuk-tusuk saat menampilkan kilas balik yang terjadi padanya tadi malam.

Hutan. Purnama. Sekelompok vampir. Darah. Lari. Kawanan serigala. Hitam.

Dengan tertatih-tatih ia berjalan menuju satu-satunya pintu diruangan tersebut setelah menyambar kain hitam yang menemaninya selama sepuluh tahun terakhir. Mendapati koridor sepi, ia berjalan menuju pintu lain. Pintu yang ia harap menjadi penghubung antara dunia luar, alam liar yang ia coba taklukan sendiri.

'lantai dua, huh?' batinnya ketika melewati jendela kaca besar yang menampilkan halaman luas dari ketinggian. Kedua bola mata cokelat gelapnya mengamati pantulan dirinya yang mengenaskan. Kain hitam favoritnya kini tampak compang-camping dengan noda tanah yang tidak sedikit, goresan demi goresan berbagai variasi menghias tubuh dan wajahnya menyebabkan kedua alisnya berkerut menahan sakit ketika gemerisik udara dingin menyapa kulitnya, tak lupa dengan keadaan luka panjang di paha kanannya setelah semalam sekelompok vampir kelas dua hampir membunuhnya.

Sret. Sret. Sret.

Xiumin terus berjalan walaupun itu berarti ia harus menyeret kaki kanannya yang takkan pulih selama sebulan kedepan. Seharusnya, kemampuan pemulihan dirinya sangat cepat mengingat bahwa dirinya adalah serigala, akan tetapi fakta bahwa dirinya hidup sendiri tanpa perlindungan sebuah kawanan serigala seperti karakteristik hewan karnivora tersebut membuatnya menjadi serigala lemah. Bibirnya mulai mengutuk ringan dirinya sendiri, ia yakin dirinya akan baik-baik saja jika ia rajin belajar sihir yang ada di buku milik Pendeta Leeteuk.

Bicara akan buku sihir…

Xiumin mulai panik, mau tak mau ia harus memutar balik menuju ruangannya dan mencari buku sihir peninggalan satu-satunya dari Pendeta Leeteuk. Ia tak bisa membiarkan salah satu hartanya yang paling berharga terlepas dari genggamannya begitu saja karena keadaannya yang menyedihkan. Tak peduli dengan darah segar kembali mengalir dari paha kanannya, ia terus memaksa kakinya untuk berjalan.

Bruk. Srak. Bret.

'Tak ada, tak ada, tak ada!' Xiumin semakin liar mencari buku sihir miliknya. Jemarinya mengeluarkan darah saat dia menyingkirkan barang demi barang yang terletak di meja nakas dengan sembarang. Tak terganggu sedikitpun dengan suara prang yang tercipta saat dirinya mendorong vas bunga tanpa sengaja. Bahkan seprai kasur yang sempat menjadi peristirahatannya terlihat seperti kapal pecah.

"Wow, kau langsung mengubah dekorasi kamarku setelah aku merelakan dirimu tidur semalaman? Kau memang jenius, kawan," komentar seseorang di ambang pintu dengan nada sarkastik yang kental. Tak perlu Xiumin berbalik badan untuk mengetahui siapa lawan bicaranya yang menyela kegiatannya mencari buku sihir miliknya, sebab karakteristik kulit cokelat dengan rambut hitam acak-acakan fakta bahwa dirinya sering berkeliaran di bawah terik matahari terlihat jelas dari pantulan jendela ruangan tersebut.

"Bukuku," pinta Xiumin singkat, sedikit mengintimidasi. Ia menginginkan bukunya kembali.

"Bukumu?" Lawan bicaranya mengernyitkan dahinya sejenak lalu melemparkan tawa sarkastis. "Jika buku tua tak berguna yang kau maksud…" belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, kerah kemejanya langsung ditarik kuat oleh Xiumin. Sangat kuat hingga ia merasa tak ada oksigen yang masuk dalam paru-parunya, terputus jalannya di tenggorokan.

"Bukuku," ulang Xiumin bernada dingin, tanpa sadar iris cokelat gelapnya berubah putih dengan aksen biru ditengahnya sedang menatap tajam pria tampan nan asing tersebut. Merasa disudutkan, pria tampan itu membalas tatapan tajam Xiumin dengan iris hijau zamrud.

"Le-pas-kan a-ku, An-jing Manis," dalam keadaan tak menguntungkanpun, pria tampan tersebut masih sempat menggoda lawan bicaranya. Dalam hatinya ia bersorak karena menemui serigala liar macam pria dihadapannya saat ini. Sedangkan Xiumin berfikir tak ada gunanya ia membunuh serigala level dua dihadapannya dengan tangannya sendiri. Perlahan cengkeraman kuat itu mengendur, membiarkan pria tampan tersebut mengambil oksigen sebanyak-banyaknya.

"Bukuku," ulang Xiumin tanpa bosan membuat lawan bicaranya mendengus kesal.

"Kau sangat sombong, Anjing Manis. Cobalah buat kalimat permohonan padaku, mungkin aku bisa mengatakan dimana bukumu berada," balas pria tersebut sembari menangkupkan tanganya di rahang Xiumin. "Atau jika kau bersikeras untuk irit bicara, aku akan mengatakannya setelah kau mencium bibirku, Manis." Lanjutnya memberikan seringaian menggoda kepada Xiumin. Belum sempat Xiumin membalas, seseorang datang dan memberikan tinju ringan di perut pria tampan tersebut.

"Kai Hyung, bisakah kau tidak menggoda dia?" ujar seseorang bernada datar. Iris serigala Xiumin meneliti setiap inchi karakteristik pendatang baru tersebut. Tinggi, berkulit putih namun tak sepucat dirinya, tampan namun tak berekspresi, iris hijau zamrud sedikit bercampur dengan warna biru langit, jangan lupa dengan rambut mejikuhibiniu layaknya pelangi namun acak-acakan. Membuat Xiumin ragu sejenak apakah serigala pelangi itu memang serigala level dua.

Pria tampan penggoda tersebut-Kai- menghela nafas panjang, sedikit tak senang acaranya diganggu oleh maknae dalam kawanan serigala mereka. "Harusnya kau datang setelah ia memberikan ciumannya padaku, Sehun-ah. Tidakkah kau menyadari bibirnya yang berwarna pink menggoda itu? Aku harus mencicipinya."

Plak.

"Akan kuantar kau menuju meja makan, Lay-ge meminjam bukumu sebentar," ajak Sehun tak memperdulikan Kai merintih kesakitan karena tamparan keras dari Xiumin, meninggalkan jejak telapak tangan berwarna kemerahan di pipi kanan Kai. Sedangkan Xiumin mengangguk kecil dan mengikuti langkah Sehun didepannya. Iris serigalanya kembali cokelat gelap.

Akhirnya Xiumin sampai meja makan dengan bantuan Sehun mengingat betapa lambatnya ia berjalan karena ulah vampir kelas dua tempo hari. Ia dapat melihat jelas punggung Lay membaca buku sihirnya dengan serius hingga tak merasakan kehadiran mereka. Ia langsung menutup buku tersebut setelah Sehun sedikit berteriak memanggil namanya.

"Ah, maafkan aku…"

"Minseok," potong Xiumin cepat, mengetahui lawan bicaranya kebingungan melanjutkan ucapannya. Pria asing itu tersenyum, terlihat manis dengan lesung pipi yang terbentuk di kedua belah pipinya.

"Ah, ya. Maafkan aku Minseok-ssi karena meminjam bukumu tanpa seizinmu. Kudengar kau merusak kamar Kai untuk mencarinya, kuyakin buku sihir ini sangat berharga bagimu. Sekali lagi, aku minta maaf," ujar Lay panjang lebar dibalas dengan anggukan Xiumin. Ia langsung menerima buku sihirnya dan mulai beranjak pergi. "Minseok-ssi!" Xiumin berhenti sejenak lalu menoleh ke arah Lay yang menatapnya gugup.

"Aku tahu bahwa permintaanku ini sedikit lancang, akan tetapi aku tidak bisa membiarkanmu sendirian diluar tanpa pengawasan pack-ku. Bukankah kau omega, Minseok-ssi?" Xiumin terdiam sejenak, sedikit bimbang apakah ia harus menjawab jujur atau tidak. Namun akhirnya ia mengangguk kecil dan senyuman kembali merekah di bibir Lay.

"Kalau begitu, bolehkah aku memintamu untuk tinggal disini? Aku bisa menyembuhkanmu lebih cepat dari biasanya, setelah itu kau bebas untuk meninggalkan pack kami," pinta Lay sedikit banyak berharap agar Xiumin tinggal dalam perlindungan pack-nya. Lay yakin bahwa pria yang mereka tolong semalam adalah pria baik-baik, terlebih dengan pipi tembam menggemaskan membuatnya ingin menyimpannya ke dalam kantong bajunya. Ia akan membujuk Sang Alpha sekuat tenaga asalkan Xiumin bisa tinggal disini.

Xiumin kembali berfikir, menimbang baik dan buruknya jika ia keluar dari mansion besar ini. Sangat mungkin bagi dirinya diburu oleh kelompok vampir atau kawanan serigala lainnya dan Xiumin terlalu lelah untuk menghadapi itu semua. Oleh karena itu, ia akhirnya memutuskan untuk duduk di sebelah kursi Lay.

"Terima kasih," untuk pertama kalinya setelah kematian ayah angkatnya, Xiumin tersenyum kecil kepada Lay. dan sore tersebut tak mampu mengalahkan hangatnya senyuman lebar Lay.

Malam harinya, tepat dua jam setelah matahari terbenam di ufuk barat tampak dua bayangan hitam melesat cepat diantara rimbunnya hutan yang mengelilingi mansion tempat Xiumin tinggal saat ini. Namun bayangan tersebut berakhir ketika memasuki mansion, menyisakan dua serigala besar di ruang makan.

Xiumin yang sibuk membantu Lay menyiapkan gelas piala dan peralatan makan lainnya tampak terkejut saat sepasang matanya bertemu pandang dengan iris serigala hitam. Menghipnotis sekaligus mengintimidasinya, seolah-olah apa yang serigala itu katakan harus Xiumin patuhi.

"Ah, selamat malam, Lu-hyung Kris-hyung," ujar Lay yang tampak hati-hati membawa beberapa botol minuman anggur.

Kedua serigala besar itu bertranformasi kembali menjadi manusia. Dan Xiumin menyadari bahwa iris merah dengan kabut hitam milik serigala hitam tersebut masih menatapnya penuh intimidasi. Berbeda dengan serigala abu-abu beriris emas, sangat cocok dengan rambut blonde kotornya.

"Ah, bagaimana keadaanmu? Panggil aku Kris," tanya pria beriris emas, sangat tampan dengan senyum kecil yang menghias di bibirnya.

Xiumin mengangguk singkat, "Minseok." Kris mengangguk mengerti lalu duduk di kursi kedua utama. Sedangkan pria satunya yang Xiumin yakini bernama Luhan duduk di kursi paling ujung. Dugaannya benar, ialah Sang Alpha dalam kawanan serigala disini.

"Sehun! Kai! Ayo kita makan malam bersama!" Teriak Lay sembari mengisi gelas-gelas piala dengan minuman anggur yang ia ambil dari gudang penyimpanan. Xiumin beringsut duduk di kursi ujung satunya tanpa melihat kedepan, takut iris merah Sang Alpha kembali mengintimidasinya. Ia kembali mengutuk ringan dalam hati, seharusnya ia tak menyetujui permintaan Lay.

Tak ada yang angkat bicara ketika acara makan malam berlangsung. Terlebih dengan sikap dingin Luhan yang tak bersahabat membuat suasana di ruang makan semakin mencekam. Hal itu pula yang menyebabkan tangan Xiumin bergetar saat mengangkat gelas pialanya.

Trang!

Semua mengalihkan pandangannya ke arah Xiumin. Namun Sang Objek tak terlihat oleh mereka, hanya gelas piala yang tergeletak di meja makan dengan anggur membasahi lantai. Lay berinisiatif untuk mendekati kursi Xiumin dan mendapatinya tergeletak di lantai sembari meremas dada kirinya kesakitan.

-TBC/Continue?-

a.n. : sedikit puas dengan chapter kedua daripada chapter pembukaan. Dan terima kasih pada anon gun yang bersedia merelakan beberapa rupiah untuk meriview fict comeback saya. Mungkin fict ini akan update lambat mengingat author sudah berjanji dengan alternya untuk menulis beberapa oneshot Lumin! :D

review please~ *sehun's gwiyomi*