Three Days Forever

Boboiboy © Animonsta Studio

Warn : Typo, OOC, Fem!Ice

Happy Reading ^^

Sang surya belumlah menampakan diri sepenuhnya, masih malu-malu mengintip di ufuk timur. Kicauan burung telah menjadi alarm alami bagi setiap insan yang mendengarnya. Suara indahnya membangunkan seorang gadis yang tampak masih bertahan di balik selimut hangatnya. Iris aquamarine nampak dari netra yang perlahan terbuka. Mengeryap beberapa kali, mencoba mengumpulkan kesadaran. Bangun di hari cerah, bukan tubuh segar yang dirasakan, justru sakit kepala yang menyambut paginya. Sungguh bukan hal yang menyenangkan. Jika saja hari ini tertanggal warna merah, ia pasti kembali memasuki alam mimpinya. Sayangnya hanya angan semata. Waktupun juga tak bisa menunggu hingga kantuk atau rasa sakitnya menghilang. Dengan setengah hati ia bangkit dari tidurnya,

"Hmppp..." Tangannya menutup mulutnya sendiri ketika ia merasa ada yang mendesak keluar dari perutnya. Reflek, kakinya berlari cepat menuju kamar mandi.

Hoek... Hoek..Ohok.. Ice memuntahkan semua yang memaksa keluar dari perutnya. Sejak kemarin sore, ia tak mengkonsumsi apapun, hingga hanya cairan berwarna hijau yang terus ia muntahkan. Mual yang ia rasakan tak kunjung reda, bahkan sampai tubuhnya lemas. Ditambah kepalanya yang serasa dipukul balok tak kasat mata, membuat kakinya tak mampu menompang berat tubuhnya.

10 menit kemudian, barulah ia merasa agak baikan, walau dilihat dari sisi manapun ia nampak menyedihkan. Mata sayunya memandang kosong, dengan nafas yang tersenggal-senggal, nampak kepayahan. Tubuh lemas itu terduduk di marmer sambil bersandar pada tembok, mencoba mengumpulkan tenaganya yang terkuras.

"Sepertinya aku masuk angin." Gumamnya seorang diri.

.

.

Waktu menunjukan pukul 06.00, makanan telah tersaji rapi di atas meja, menanti si tuan melahapnya. Ayah keluar kamar sambil merapikan dasinya. Tak ada seorangpun di meja makan. Aneh, biasanya Ice sudah siap di sana, menanti sang ayah untuk sarapan bersama.

"Ice belum keluar?" tanya Ayah.

"Belum, apa perlu saya panggil?" usul seorang maid yang menyajikan secangkir kopi.

"Ya, tolong panggilkan. Nanti dia kesiangan."

"Baik." Jawabnya sambil membungkuk.

Baru saja ia hendak melangkah, namun Ice sudah tampak tengah menuruni tangga.

"Selamat pagi ayah." Sapa Ice.

"Oh, selamat pagi sayang." Sapa ayah sambil menyesap kopinya.

Ice duduk dekat ayahnya dan mengambil nasi goreng yang telah tersaji. Sekilas ayah memandang Ice, alisnya bertautan.

"Kau baik-baik saja sayang?" tanya ayah yang nampak khawatir. Pasalnya ia nampak lebih pucat.

"Kau sakit?" Tanyanya lagi, tangannya terangkat hendak mengecek suhu tubuh putri semata wayangnya. Namun ditepis lembut oleh Ice.

"Aku baik-baik saja ayah, hanya sedikit pusing. Nanti juga sembuh sendiri." Dusta Ice. Ia mengeluarkan kalimat yang sekiranya dapat membuat ayahnya tak khawatir.

Jujur saja, ia merasa tidak enak badan hari ini. Sakit kepalanya masih terasa walau tak sehebat tadi, rasa mualnya juga belum sembuh sepenuhnya. Ia memaksakan makan, walau perutnya sama sekali tidak nyaman. Namun ia mencoba melahap makanan yang tersaji di hadapannya, setidaknya ia tak membuat ayahnya lebih khawatir.

Belum ada seperempat nasi di piringnya ia habiskan, rasanya seperti ada batu yang baru saja menghantam kepalanya.

Sial, kenapa harus di saat seperti ini!? Umpat Ice.

Ia hanya bisa menunduk sambil memejamkan mata.

Jangan sampai ayahnya tau.

"A-ayah, aku mau berangkat dulu."

"Loh, sarapannya belum dihabiskan? Tidak bareng sama ayah aja?" tanya ayah.

Ice menggeleng, ia menggigit bibir bawahnya menahan sakit yang kian menjadi. Oh, bagus sekarang disekitar tampak berputar. Apa Ice masih sanggup untuk ke sekolah, bahkan untuk melangkahkan kaki saja terasa sangat berat.

Baru beberapa langkah meninggalkan meja, kakinya gemetar, ia telah mencapai batas. Kepanikan menghiasi ruangan itu, ketika tubuh Ice tiba-tiba tumbang tergeletak di lantai.

"ICE!?"

"NONA ICE!?"

Ia melihat buminya yang nampak berdiri. Salah, tapi tubuhnya yang tergeletak di lantai. Ia masih mampu mendengar keramaiaan di sekitarnya, ia semakin merasakan kepalanya yang berdenyut-denyut dan matanya terasa berat. Pada akhirnya ia benar-benar kehilangan kesadaran.

🍀LucKyra🍀

"Selamat pagi Yaya." sapa Ying.

"Pagi Ying." balas Yaya. "Hari ini kita makan siang seperti kemarin lagi ya?" kata Yaya.

Ying mempertemukan ujung jari telunjuk dengan ibu jarinya, "Oke."

"Hari ini aku bawa biskuit dengan resep baru, nanti kalian coba ya?"

Ying membatu di tempat, "Dia berniat membunuh kami. Seratus kali dia membuat resep rasanya sama saja. Bagaimana caranya aku menjauhkan biskuit beracun itu?" jerit Ying dalam hati.

Sisa waktu menuju pelajaran pertama mereka habiskan dalam diam. Yaya sedang menikmati buku bacaannya, sedangkan Ying tengah membalik otaknya, berpikir keras cara menghindari 'benda' itu. Sepertinya stok idenya sedang habis, hingga ia menggigit kuku jarinya.

Bel masuk berbunyi nyaring, matematika membuka pembelajaran hari ini. Seorang guru bergaya layaknya super hero masuk ke kelas 3-1.

"Bangun!" titah Yaya.

"Selamat pagi, pak." salam seluruh murid serempak.

"Selamat pagi wahai murid kebenaran. Dari salam kalian sudah menunjukan semangat berkobar kalian. Bagus, bagus!" pujinya.

Ia memperhatikan setiap muridnya dengan bangga, namun di kelas itu ada satu bangku yang kosong. "Eh? Bukankan jumlah di kelas ini genap? Kenapa ada bangku kosong?" heran beliau.

"Eh? Ice tidak berangkat?" Yaya baru saja menyadari kehadiran temannya satu ini.

"Tidak biasanya Ice seperti ini." kata Ying.

"Kalian berdua tak tau kah keberadaan murid kebenaran ini?" tanya Papa Zola ditujukan pada duo Y. Yang ditanya hanya menggeleng, "Hm, baiklah kalau begitu. Kita mulai pelajaran ini."

SKIP TIME

Saat istirahat, Gempa, Gopal, Yaya dan Ying berkumpul di atap sekolah untuk makan bersama seperti hari sebelumnya.

Bertanya di mana Blaze? Dia sedang mengumpulkan tugas kelompok, mungkin akan menyusul beberapa saat lagi.

"Nah" Yaya menyodorkan kotak bekal yang berisi biskuit. "Kemarin aku membuat resep baru. Cobalah."

Semua yang ada di sana hanya memandang ngeri biskuit itu. "Ambillah, aku sudah lelah membuatnya." ujar Yaya dalam mode puppy.

"Auranya kuat sekali." jerit para saksi

Brakkk... Blaze membuka pintu terlalu keras, setidaknya mampu memecah ketegangan saat itu. "Yo semuanya." Blaze muncul dengan cengiran khasnya.

"Eh loh? Sepertinya ada yang belum datang. Di mana Ice?" Blaze merasa ganjil dengan jumlah mereka, segera menyadari tiadanya gadis biru itu di antara mereka.

"Oh, iya. Kemana Ice?" tanya Gempa.

"Hari ini dia tidak masuk. Ngga tau kenapa, surat ijinnya juga ngga ada." jawab Ying mulai melahap tempuranya, diam-diam mengabaikan biskuit Yaya.

"Mungkin Ice sakit," ujar Yaya nampak khawatir. "Kemarin kami belajar di rumahku, dan dia nampak kurang sehat." tambahnya.

Yaya! Semua mata memandang gadis itu.

"Jangan-jangan Ice makan 'itu'?"

"Ice pasti sakit setelah memakan'nya' ."

"Ke-kenapa kalian melihatku seperti itu?" heran Yaya.

"Kau kemarin memberi biskuit pada Ice kan?" tanya Blaze.

"I-iya, memang kenapa?"

"Biskuit itulah penyebabnya!" seru Gopal.

"Hah!? Kenapa jadi biskuitku? Memang Ice sakit karena itu?"

"Tentu saja." ujar mereka kompak.

"Belum tentu juga Ice sakit karena biskuitku kan?" bela Yaya.

"Dey Yaya, kucing saja langsung pingsan makan biskuit kau." ujar Gopal tanpa pikir panjang.

Yaya terdiam sejenak, aura hitam mulai menyeruak dari tubuhnya. "Apa kau bilang Gopal!?"

"KYAAA! SELAMATKAN AKU BLAZE." Jerit Gopal sambil bersembunyi di balik Blaze.

"Sudahlah, dari pada ribut mending tanya langsung ke orangnya." Blaze menengahi masalah ini. Jarinya mengutak-atik layar flatnya.

Blaze menekan tombol speaker agar semua bisa mendengar obrolannya.

"Halo?" ujar seseorang di seberang sana.

"Kok suaranya berat kaya gini? Kaya suara bapak-bapak." bisik Gopal.

"Sstt, ini ayah Ice." bisik Gempa.

"Blaze ya?"

"I-iya om." jawab Blaze yang sudah familiar dengan suara ini.

"Kamu telfon pasti mau nanyain kabar Ice ya?"

"Hehehe, tau aja om. Oh ya, Ice kenapa hari ini tidak berangkat?"

"Dia ngga papa, hanya tadi pagi dia bilang agak pusing. Dan setelah di periksa, dokter bilang hanya kelelahan. Jadi hari ini Ice harus istirahat."

"Oh, jadi bukan karena keracunan makanan kan om?" tanya Blaze, sambil melirik Yaya.

"Hahaha. Engga, hanya kelelahan biasa. Besok dia pasti sudah masuk."

"Begitu ya om? Kalau begitu semoga Ice cepat sembuh."

"Ya, terima kasih sudah mengkhawatirkannya."

"Ah, wajarlah, saya kan temannya. Terima kasih om."

"Seharusnya saya yang berterima kasih."

Panggilan diputus. Setidaknya sekarang mereka tau keadaan Ice, dia baik-baik saja. Mungkin.

.

.

Ayah mengangkat panggilan yang masuk di ponsel Ice.

"Dari Blaze, dia pasti khawatir." tebak ayah dengan seringaian, ada maksud terselubung. Hari ini beliau ijin tidak bekerja, untuk menjaga putrinya.

Kejadian pagi itu membuatnya khawatir dengan kesehatan Ice. Ia memang menderita anemia, hingga wajahnya selalu nampak pucat.

Ayah menggenggam tangannya, tanpa mengalihkan pandangan dari paras pucat Ice yang lebih dari 3 jam matanya tak terbuka. Apa pingsan akan selama ini? Dokter bilang ia hanya kelelahan, memang kegiatan apa yang dilakukan putrinya setelah libur panjang semester?

Apa Ice akan baik-baik saja?

🍀LucKyra🍀

Hari berikutnya Ice sekolah seperti biasa. Pagi ini ayah mengantar Ice sampai sekolahan, sekalian berangkat ke kantor katanya.

"Yo, Ice!" Seseorang memanggilnya dari belakang. Saat ia menoleh, sosok Blaze sudah berada di sampingnya. "Selamat pagi." sapa Blaze dengan senyum lebar terpasang di parasnya.

"Pagi." Balas Ice.

"Sudah sehat?" Tanya Blaze.

"Kau tau?" Heran Ice, rasanya ia belum memberitahu siapapun tentang absennya kemarin.

"Tentu saja. Aku kan sahabatmu." jawab Blaze dengan cengirannya.

Ice mengulas senyum, dia memang sahabatnya, Boboiboy Blaze. Periang, murah senyum, ramah, lucu dan kekanak-kanakan. Begitu terang di mata Ice, hingga mampu menerangi hatinya yang gelap. Dia juga hangat, hingga mampu melelehkan bongkahan es yang memenjara dirinya, tanpa melukai Ice di dalamnya.

"Tapi," Blaze menghentikan langkahnya, diikuti Ice yang memandang Blaze heran. Tangannya terangkat dan mendarat di dahi Ice, "Kau yakin baik-baik saja? Tubuhmu masih sedikit panas, wajahmu juga nampak pucat." ujar Blaze sambil memperhatikan wajah Ice.

Blush..

Ice yakin wajah pucatnya sekarang menjadi memerah. "He-hentikan. Kenapa orang-orang suka sekali menyentuh keningku?" ujar Ice sambil menepis tangan Blaze.

"Benarkah? Mungkin karena dahimu lebar, bahkan pesawat pun bisa mendarat di sana." Ujar Blaze sambil tertawa.

😒 "Sudah puas mengejekku?"

"Hahaha, hanya bercanda. Lagi pula, kau itu lebih cantik kalau membuka penutup kepalamu dan membiarkan rambutmu tergerai. Seperti ini," Blaze membuka penutup kepala dan menarik rambut panjang Ice dari hoodie biru itu. "Nah, kau jadi nampak lebih cantik."

"Be-benarkah?"

"Hahaha, hanya bercanda." ujar Blaze tanpa dosa.

Bercanda!? Lagi!? 💢 Perempatan imajiner muncul di pelipis Ice.

"Seperti apapun penampilanmu, kau itu tetap cantik." Puji Blaze sambil mengacak-acak rambut Ice.

Blush..

Untuk kedua kalinya pipi Ice merona, padahal beberapa saat lalu emosinya tengah memuncak. Tak terasa mereka telah sampai di depan kelas Ice.

"Kau sudah sampai, kalau begitu sampai jumpa nanti." ujar Blaze sambil melambaikan tangan.

Ice hanya bisa memandang punggung sosok itu yang mulai menjauh, namun tiba-tiba ia berbalik dan menatap Ice.

"Oh ya, nanti pulang bareng ya?" ajak Blaze. Belum sempat ia menjawab, sosok itu berbalik, semakin jauh hingga hilang di persimpangan koridor.

Ice hanya mendengus, "Huh, dasar aneh." Kemudian seulas senyum terpatri manis di parasnya.

Di kelas sudah agak ramai, pagi di kelas ia di sambut baik oleh duo Y.

"Ah Ice? Selamat pagi?" sapa Yaya.

"Ya, pagi." balas Ice sambil menyungingkan senyuman.

"Kemarin kenapa kau tidak masuk?" tanya Ying, sekedar memastikan saja.

"Maaf, kemarin aku kurang enak badan. Istirahat nanti aku akan menemui Bu Timmy, memberi tau keterangan absenku kemarin." kata Ice.

"Oh ya, nanti makan siang bersama ya?" kata Yaya.

"Tapi hari ini aku tidak bawa bekal."

"Aku juga, nanti ke kantin saja ya?" usul Ying.

Ice hanya menganggukan kepala, tanda setuju

SKIP TIME

"Ice, kau beli apa?" tanya Ying sambil mendudukan diri setelah lama mengantri.

"Roti melon dan donat lobak merah." ujar Ice sambil meminum jus buahnya.

"Hari ini aku hanya dapat sandwich isi telur." Ying hanya mendengus kesal.

"Kalau kau mau, kau bisa ambil donatku." tawar Ice.

"Ah, tidak, terima kasih." tolak Ying.

"Cepat habiskan makanan kalian, sebentar lagi bel berbunyi." ujar Yaya.

"Hah, terlalu lama mengantri. Kalau begitu aku makan saja di kelas." gumam Ying.

Mereka mulai beranjak dari kantin, namun Ice ijin ke toilet terlebih dahulu dan meminta mereka meninggalkannya.

"Baiklah kalau begitu kami duluan ya," ujar Yaya.

Kantin masih nampak ramai, dalam keramaian ini seseorang menarik perhatiannya karena kehebohan yang ia buat hanya karena donat lobak merah.

"Aduh, padahala aku belum sarapan." gumam pemuda itu lemas.

"Nah." Ice menyodorkan donat yang ia beli tadi.

"DONAT LOBAK MERAH!" Serunya. Namun ketika ia melihat siapa yang memberinya, ia hanya berdehem.

"Ngga usah sok jaim lah Fang, ambil saja daripada kau pingsan di kelas." kata Ice.

Namun Fang belum memberi respon, membuat Ice hilang kesabaran. Dia langsung menarik tangan Fang dan meletakkan roti itu di telapak tangannya dan meninggalkan Fang yang melongo begitu saja.

Gemercik air menabrak wastafel, Ice tengah mencuci tangannya setelah buang air kecil. Ia memutar kran untuk mematikannya. Namun ia terkejut ketika menjumpai setetes cairan merah kental di wastafel.

"Darah!?"

Di tempat ini tak ada siapapun selain dirinya. Ia mengangkat wajah, berkaca pad cermin di hadapannya. Ia tak kalah terkejut ketika memandang pantulan dirinya, hidungnya berdarah.

Ia mencoba menghapus darah itu dengan tangannya hingga warna merah menghiasi tangannya. Ia segera mencuci tangannya, dan mengulangi kegiatan sebelumnya. Panik mulai menguasai dirinya karena darahnya tak kunjung berhenti.

5 menit kemudian, mimisannya telah berhenti. Namun tubuhnya masih gemetar karena ketakutan yang luar biasa, membuat wajahnya nampak lebih pucat. Sehingga ia butuh satu beberapa menit untuk menenangkan diri.

.

.

Bel pulang sekolah berbunyi. Ice telah selesai mengemasi barangnya, namun ia masih duduk manis di bangkunya.

"Kau mau pulang bersama kami?" tawar Yaya.

"Tidak terima kasih, kalian duluan saja."

"Oke, sampai jumpa besok." ujar Ying.

Ice tetap tinggal di kelas bukan tanpa alasan. Ia tengah menunggu Blaze menjemputnya, seperti yang dikatakan Blaze pagi tadi. Mereka akan pulang bersama.

Namun sudah 15 menit ia menunggu, Blaze juga tak kunjung muncul. Ia mulai lelah menunggu, tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan pesan masuk.

From : Blaze

Maaf, hari ini aku ada latihan sepak bola sampai sore. Sebaiknya kau pulang dulu saja, maaf aku telat mengabarimu. Latihan ini juga mendadak. Jadi lain kali saja ya? Sekali lagi aku minta maaf.

Ice menghela nafas panjang, ia bangkit dari bangkunya. Meninggalkan kelas yang telah sepi. Hari ini ia tak dijemput karena sebelumnya ia mengirim pesan pada sopirnya untuk tidak menjemputnya. Sekarang ia terpaksa harus jalan kaki.

Sepanjang perjalanan, ia hanya memikirkan kejadian di toilet tadi. Ia mimisan, dan darah yang keluar tadi banyak sekali. Jujur saja ia takut dengan kondisi ini. Akhir-akhirnya ini dia sering pusing, kemarin dia pingsan, sekarang mimisan.

"Tidak, aku baik-baik saja. Hanya kelelahan saja." Gumam Ice mencoba menyakinkan dirinya.

Secara tak sengaja, langkahnya berhenti di bangunan besar bercat putih. Ice memandang bangunan itu, ia jadi teringat terakhir kali ke sini.

"Apa aku harus check up?" gumamnya penuh keraguan.

Ia menggeleng cepat, "Inikan hanya check up biasa." ujar Ice mulai memasuki kawasan rumah sakit itu.

Bau khas antibiotik langsung menyeruak di indra penciumannya ketika ia memasuki lobby. Bau yang ia membuatnya selalu teringat dengan almarhuman ibunya, sekali lagi ingatan itu menggores hatinya.

"Ice ya? Apa kabar?" Sapa seorang suster yang nampak sangat familiar baginya.

"Ah, suster Wika. Lama tak jumpa." kata Ice pada suster yang dulu merawat ibunya. Jadi jangan heran jika Ice sangat dekat dengannya.

"Ya, apa yang membuatmu kemari?" tanyanya.

"Hanya check up saja. Bisa membantuku?" tanya Ice.

"Tentu saja."

Kemudian Ice diarahkan menuju ruang MCU, segala sesuatu telah diatur oleh suster Wika. Ia hanya tinggal mengii form riwayat dan menjalankan serangkaian pemeriksaan.

Aku akan baik-baik saja.

Kalimat itu terus terngiang dipikirannya saat ia memasuki ruang rontgen. Entah kenapa ia berdebar-debar saat pemeriksaan. Namun ia tekan rasa itu dengan kalimat yang terus ia ulang.

Rontgen, pemeriksaan darah dan urine, bertemu dokter di poli umum dan kembali ke MCU, semuanya telah dilaluinya. Bukanya hatinya lega, justru ia semakin gugup mengenai hasilnya.

"Kapan hasilnya keluar?" tanya Ice.

"4 hari lagi, akan dikirim ke rumahmu."

"Baiklah. Sepertinya sudah sore, aku mau pulang dulu. Terima kasih bantuannya." kata Ice.

"Sama-sama, hati-hati di jalan." ujar Suster Wika sambil tersenyum.

Ice berjalan keluar, dan benar saja. Langit telah menjadi jingga, tak terasa ternyata check up tadi memakan banyak waktu juga.

"Aku akan baik-baik saja, kan?" gumam Ice sambil memandang langit luas.

TBC

Bagaimana? Kurang greget? Alurnya kecepatan? Keliatan acak-acakan? Silahkan berikan saran dan kritik.

Kalau soal update, Lucky selalu usahain kilat. #Sayangnya belum bisa ╥berhubung otak saya yang sering mentok. Bikin selalu mikirin kelanjutannya, bahkan sampe kebawa mimpi _

Kalau kalian nemuin scene yg berasa ngeganjal, berarti itu otak mentok saya.

Katanya mulai minggu depan update tiap hari jumat, kalo ngga sabtu.. Gomen kalau terlalu lama, soalnya udah kelas 3 ╥, huhuhu,, shock berat saya tau kelas baru.

Jaa,, lucky rasa cukup segitu saja.. Sampai jumpa minggu depan 😊

Regard

🍀LucKyra🍀