Author : Yuri Masochist or Han Youngra

Title : The Time: Piece of the Pain | August 20th, 2012

Cast :

+ Main Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun)

+ Other Cast : Yunho, Taemin, Jungmo, Junsu, Tao, Lay, Kris, Eunhyuk, Ryeowook, Minho, OnKey, Baekhyun

+ Cameo : Soohyun, Henry, Shindong, KiVin (KiseopxKevin), HanChul, Siwon, Jonghyun, Leeteuk, Yesung, Eli, T.O.P, GD, Kangin, Sooman, Jay, Seungri, Daesung, Alexander, SooSun (SooyoungxSunny), YulSic (YurixJessica), YoonSeo (YoonaxSeohyun), Narsha, Thunder, Mir, Joon

+ Say 'Goodbye' to : Sungmin, Donghae, Kibum, Kai, Zhoumi, Jaejoong, Junho, Se7en and who's next?

[DBSK | Super Junior | SHINee | TRAX | EXO | Big Bang | U-Kiss | Se7en | MBLAQ]

[SNSD | B.E.G]

Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror

Rated : PG-15 | T semi M deh untuh semua chap~

Type : Yaoi

Length : Chapter

Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini | You can not stop the cycle

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!

Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!

A/n : 8F LANJUUUT

.

.

.

.

The Time: Piece of the Pain | August 20th, 2012

.

Monday

August 20th, 2012

07:07 AM

Ayah Yoochun memilih untuk kembali ke hotel kemarin, membiarkan istrinya untuk menginap di rumah milik Yoochun dan Changmin. Istrinya sangat merindukan Changmin. Terakhir melihatnya sedang terbaring koma. Jadi, selagi ada kesempatan, ia menggunakannya.

Setelah sarapan, Yoochun pamit pergi ke rumah sakit untuk bekerja. Dan menitipnya kekasihnya kepada sang ibu. Yoochun hanya berpesan agar ibunya tidak melakukan hal yang tidak Yoochun inginkan.

Changmin bergegas menuju taman belakang, dan kemudian berdiri di depan makam anak anjingnya. Mrs. Park mengikutinya, setelah menyelesaikan pekerjaan mencuci piring. Lalu ia berdiri di samping Changmin.

"Apa ini?"

Changmin terdiam menatap gundukkan tanah dan setangkai bunga layu di atasnya. "Anak anjingku. Silky."

Mrs. Park merangkul Changmin dan mengusap lengannya.

"Dua hari yang lalu kami menemukannya mati. Padahal aku belum bertemu lagi dengannya sejak sadar dari koma."

"Kenapa bisa?"

"Seseorang membunuhnya."

Jawaban itu membuat Mrs. Park menatapnya sedikit kaget. "Changmin tahu siapa?"

Yang ditanya menggeleng pelan.

Lalu keduanya terdiam dalam suasana hening yang tercipta. Kedua pasang mata itu menatap makam kecil milik anak anjing yang telah mati. Hanya diam, tanpa sepatah katapun.

"Kepalaku sakit, Umma."

Panggilan dari Changmin untuk calon mertuanya. Sudah lama sekali Mrs. Park merindukan panggilan itu.

Lalu Mrs. Park menatapnya dan mengusapi lagi lengannya. "Kalau begitu masuk ke dalam, ya."

Changmin menggeleng lalu menatap Mrs. Park perlahan. "Ada sesuatu dari tanggal-tanggal itu yang tidak bisa aku ingat."

.

.

The Time

Piece of the Pain | August 20th, 2012

A Nonsense Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"

Time to Play

.

.

.

Monday

August 20th, 2012

10:21 AM

Taksi berhenti di depan sebuah rumah yang pernah dikunjunginya.

Setelah membayar, Yixing turun dari taksi tersebut dengan sekeranjang buah di tangannya. Kemudian dia melangkah menuju pintu dan mengetuknya—tidak memilih untuk menekan bel.

Beberapa saat kemudian pintu terbuka, dan sang pemilik rumah tampak terkejut atas kehadirannya.

"Selamat pagi~ err, menuju siang, Kyuhyun."

Kyuhyun terkekeh kecil—tidak bisa dipungkiri—dan mempersilahkan Yixing masuk. Lalu ia menuntunnya ke ruang tamu dan duduk bersama disana.

"Kubawakan buah. Kau ini sedang hamil, tapi tubuhmu cukup kecil."

Kyuhyun mengangguk pelan. Apa begini rasanya punya teman bicara?

"Habisnya malas makan apapun."

"Eih~ memangnya kau tidak pernah mengidam?"

Kyuhyun mengangkat bahunya. "Kalau ingin apapun, aku langsung mencarinya keluar."

Yixing meletakkan keranjang buah itu di meja. "Berapa bulan?" lalu menatap Kyuhyun lagi.

"Um, sudah... menjelang lima."

"Wah," Yixing tersenyum lalu meminta izin untuk menyentuh perutnya. Kyuhyun mengangguk memperbolehkan. "sudah lumayan besar ya."

Kyuhyun menatap perutnya dan tersenyum miris.

"Boleh aku tahu, um... dimana ayahnya?"

Kyuhyun sudah tahu kalimat itu akan terlontar.

"Dia meninggal. Kecelakaan mobil."

Yixing menatapnya perlahan. "A-ah, maafkan aku."

"Tidak apa."

"Jadi," Yixing berusaha untuk mencairkan suasana yang agak sedikit berubah ini. "mulai sekarang, boleh aku jadi... temanmu?"

Kyuhyun menatapnya dengan cepat, memastikan pendengarannya tidak bermasalah.

"A-apa?"

"Jadi... teman? Aku cukup kesepian di Seoul, kekasihku terlalu sibuk. Dan aku akan sangat senang untuk menemanimu."

Manik mata Kyuhyun menatap Yixing lekat, mencoba mencari ketulusan. Oh, bahkan untuk menjadi teman saja Kyuhyun benar-benar mengharapkan orang yang setia. Hidupnya sudah terlalu kesepian sekarang.

"Kau yakin ingin jadi temanku? Aku... termasuk anti sosial."

"Ya ampun," Yixing meraih tangan Kyuhyun dan menggenggamnya. "Aku akan sangat senang menjadi temanmu. Dan berhubung kau juga butuh seorang teman untuk mengurus dirimu, aku sangat tidak keberatan."

Kyuhyun terdiam selama beberapa saat. Mulutnya yang membulat tidak percaya, berubah menjadi segaris lengkungan senyuman yang begitu tulus.

"Terima kasih, Yixing."

Aku tidak akan menolak bantuan untukku kali ini.

.:o~o:.

Monday

August 20th, 2012

02:33 PM

Yunho memerlukan Yoochun sekarang juga, dan beruntung setelah satu jam menunggu, akhirnya ia dapat menemuinya.

"Maaf tadi ada operasi. Jungmo bilang kau mencariku."

Dan saat ini keduanya berdiri di sebuah koridor rumah sakit yang Yunho sendiri lupa lantai berapa.

"Iya. Aku ada sesuatu." ucap Yunho tergesa. Ia segera meraih sesuatu dalam sakunya dan menyodorkannya ke arah Yoochun. Yoochun menerimanya bingung. "Itu adalah mayat yang bunuh diri. Namanya Choi Kyuhyun. Umur sembilan belas tahun. Dan tidak ada tanda itu di tengkuk lehernya."

Yoochun menatap Yunho lalu pada fotonya. Sesaat kemudian ia menyandarkan tubuhnya pada dinding dan membiarkannya berbagi berat dari tubuhnya.

"Tidak mungkin..."

Yunho mengusap wajahnya. "Sekarang sudah tanggal duapuluh dan belum diketahui kebenarannya. Apakah benar ada yang mati, tetapi korbannya belum ditemukan. Atau siklus ini terhenti."

Yoochun memejamkan mata, masih diam dalam posisinya.

"Dan tanggal Sembilan September terlalu menakutiku."

Pikiran Yoochun tersesat di berbagai kemungkinan.

"Cara lainnya kita harus menemukan Kyuhyun."

Deg!

"Untuk?" Yoochun membuka matanya dan membenarkan posisi berdirinya. Lalu menatap laki-laki berumur satu tahun lebih tua darinya dengan tajam.

"Membuat Changmin ingat, tentu saja. Kita tidak bisa diam dan menung—"

Yoochun meremas foto di tangannya lalu menekannya pada dada Yunho. "Sudah cukup Jung Yunho. Aku muak kau melibatkan Changmin." Lalu berniat untuk meninggalkannya.

Yunho membiarkan foto itu terjatuh menyentuh permukaan dingin dari lantai koridor itu. Kepalanya menggeleng pelan. "Kuharap kau berhenti dengan ego-mu yang tinggi, Yoochun. Kau seperti mengikat Changmin dalam sangkar, dan tidak membiarkannya melihat apa kenyataan yang sebenarnya terjadi."

Yoochun hanya berjalan meninggalkan Yunho.

.:o~o:.

Monday

August 20th, 2012

07:11 PM

Yoochun pulang ke rumah dengan perasaan yang tidak menentu.

Setelah memarkirkan mobilnya—bukan mobil baru pemberian orangtuanya—Yoochun segera masuk ke rumah dan mendapati bahwa ibunya sudah tidak disini. Ia sudah kembali ke hotel. Itu artinya Changmin sendiri.

Dengan tergesa ia menaiki lantai dua, dan menemukan Changmin di kamar mereka. Pandangannya kosong, menatap layar lapop miliknya sendiri dan Yoochun agak khawatir melihatnya.

Yoochun berjalan ke arah belakang kursi yang diduduki pemuda itu. Lalu menyentuh bahunya dengan lembut, dan membuatnya terusik.

Yoochun berusaha membaca deretan kalimat dalam layar tanpa kacamatanya. Itu... apa yang Changmin ketik beberapa bulan yang lalu mengenai Death Cycle.

"Aku menemukan ini,"

Yoochun menelan ludahnya.

"Dan mengingat sesuatu tentang Jaejoong-hyung. Bulan J-Juni... atau entahlah."

Yoochun meremas bahu Changmin.

"Lalu ada sebaris nama di kepalaku... tapi aku kesulitan..."

Jangan. Kumohon jangan katakan kalau itu adalah Kyuhyun.

Changmin berbalik perlahan dan menatap Yoochun yang terpaksa menarik tangan dari bahunya.

"Hei, katakan, aku memiliki kenalan—mungkin—aku tidak tahu siapa. Tetapi potongan nama ini ada di otakku."

Yoochun menatapnya. Matanya memerah, tak kuasa menahan segala ketakutan yang membuncah dalam dirinya.

"Apa ada seseorang yang aku kenal... namanya Cho Kyuhyun?"

Yoochun memeluknya erat—bahkan sangat erat—hingga Changmin kesulitan untuk bernapas.

Apa yang harus ia lakukan sekarang...

.:o~o:.

LANJUT BEIIIIB