Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Author : Hani Yuya
Judul : Yume no mirai
Rate : M(for save)
Pairing : Sasusaku, Gaasaku.
Gendere : Au,Ooc,Romance,Drama
.
.
.
Gaara sontak melepas jaket yang digunakannya untuk menutupi tubuh sang gadis. Dengan segera merogoh kantong celananya mengambil telepon genggamnya, lalu menelepon seseorang diseberang sana.
"Temari -nee, cepat belikan beberapa baju ukuran big size untuk wanita dan bawa beberapa orang pengawal ke kampusku, temui aku di toilet wanita di gedung sebelah barat... Ck, jangan banyak tanya, nanti kujelaskan. Cepatlah! aku tak ingin terjadi sesuatu padanya kelak." Klik, Gaara segera mematikan sambungannya setelah selesai meminta bantuan pada kakak perempuannya.
Gaara mempererat pelukannya, menggeram tertahan, "Tch, akan kubalas perbuatan mereka padamu nanti!" desisnya, dengan aura membunuh.
.
.
.
#Gaara POV ON #
Sejak tadi pagi Sakura belum membuka matanya. Luka lebam di wajah chubby nya dan luka memar di belakang kepala serta sekujur tubuhnya sudah lumayan membaik. Kini ia terbaring di kasur berukuran king size hanya dengan menggunakan baju tidur putih polos dan terbalut selimut tebal sebatas pinggang.
Seharian ini aku selalu menjaganya, hampir tak beranjak dari kamar tempatnya terbaring. Kini Sakura berada di salah satu villa milik keluargaku.
Aku sengaja membawanya ke sini karena tak ingin keberadaannya diketahui siapa-siapa, termasuk Sasori-nii dan pemuda dari klan Uchiha itu.
Aku tau mungkin saat ini mereka sedang mencari keberadaannya yang tiba-tiba menghilang. Aku seperti seorang penjahat yang menculik paksa sang gadis dan membekapnya di rumah. Aku ingin melindunginya dan menjauhkannya dari tangan Uchiha Sasuke.
Kuperhatikan wajah porselin nya yang kini sedang terlelap. Ia tak berubah, wajah chubby nya masih sama seperti dulu, entah kenapa aku lebih suka melihat tubuhnya yang penuh akan gumpalan lemak dan daging, dibandingkan tubuh sexy nya. Karena semua itu mengingatkanku kembali akan kenangan masa kecil yang kami lewati bersama senyuman lembutnya masih tertuju untukku, bukan untuk pemuda lain.
Tapi aku tetap penasaran apa yang terjadi pada dirimu Sakura? kenapa bisa tubuhmu berubah drastis hanya dalam waktu semalaman? Dan itu terjadi ketika kau tidak memakai kalungmu, bukan? Apakah kalung warisan turun temurun keluarga kita memiliki kekuatan?Ini aneh, dipikir dengan logika berapakalipun aku tak bisa menemukan jawabannya, ini semua membuat kepalaku ingin pecah rasanya.
Biarlah, untuk saat ini keadaanmu lebih penting dibandingkan apapun. Kusentuh pipinya dan perlahan kumajukan wajahku mendekati wajahnya, lalu kutempelkan keningku di jidat lebarnya.
"Bangunlah Sakura, aku akan selalu menunggumu." ucapku pelan. Cup... lalu mengecup jidat lebarnya.
Kuperhatikan wajahnya sekali lagi, kusentuh bibirnya yang merah seperti buah cherry itu. Ah~ rasanya ingin kukecup bibir ranum menggoda miliknya saat ini juga.
Sekali saja tak apa bukan? Meski aku mencuri start tanpa sepengetahuanmu saat ini. Karena kutau kau tak mungkin mengijinkanku menciummu saat sadar nanti, karena hatimu kini sudah berpaling sepenuhnya kepada pemuda lain. Ck, mengingat hal itu membuatku kesal, kenapa bukan aku Sakura? Kenapa bukan aku yang ada di hatimu. Padahal aku pasti akan menerimamu apa adanya.
Perlahan tapi pasti, aku mempersempit jarak diantara kami. Cup... aku mencium bibirnya. Manis, bibirmu seakan menjadi candu untukku Sakura. Kuberanikan diri berbuat lebih, kulumat bibir bawahnya rakus seperti melumat permen.
Terus dan terus membuat libido dalam diriku memuncak. Tanpa kusadari kini tanganku meremas buah dadanya yang lumayan besar itu. Ini gila! kuakui aku sudah mulai gila, sekali menyentuhnya seakan tak ingin berhenti. Aku bagai kerasukan setan saat ini, sampai akal sehatku pun tak berfungsi.
Aku semakin ganas melumat bibirnya, meski ia tak merespon, namun ini sudah cukup membuatku puas. Kulepas bibirku dari bibirnya, dan mulai turun menyelusuri leher jenjangnya. Kuresapi wangi cherry yang menguar dari tubuhnya.
Ini semua membuatku ingin melakukan lebih lagi padanya. Tanganku kini bergerilya membuka kancing kemeja tidurnya,namun belum sempat kubuka, pergerakanku terhenti ketika mendengar suara leguhan dari bibirnya.
"Ngggg..."
Dengan perlahan emeraldnya yang sejak tadi pagi tertutup mulai terbuka. Ia mengerjabkan matanya berulang kali menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam emeraldnya. Ia nampak terkejut ketika melihat wajahku, menggigit bibir bawahnya pelan lalu mengumamkan namaku dengan suara yang sedikit bergetar.
"Gaara"
Bibirku tertarik keatas menyunggingkan sebuah senyuman.
"Syukurlah kau sudah siuman, minumlah!"
Aku menyodorkan segelas air putih dan membantu memberinya minum.
Kurogoh kantung celanaku dan mengambil sesuatu disana. Sebuah kalung perak dengan bandul hati di tengahnya. Kupamerkan kalungnya tepat di depan ia nampak terkejut.
"Ba... bagaimana mungkin kalungku ada padamu?" tanyanya bingung.
Aku menyeringai, "aku mengambilnya dari tiga orang wanita yang mengganggumu."
Ia nampak tersenyum sumringah, dan berusaha menggapai kalung yang kupegang. Sreet, sebelum ia menggapainya, aku menarik kalungnya menjauh. Membuatnya menautkan alis.
"Aku tak akan memberikan kalung ini secara cuma-cuma Sakura -hime."
"Apa maksudmu?" Sakura menautkan alisnya bingung.
"Tentang perubahan tubuhmu yang secara drastis berubah, apa karena kalung ini?" tanyaku menatap manik emeraldnya intens.
Sakura menundukkan wajahnya, tangannya mencengkram erat baju tepat di depan dadanya. Dia diam seribu bahasa. Aku mendesah panjang. Ternyata benar akan dugaanku.
"Jadi benar, kalung warisan milikmu yang mengubah tubuhmu?" tanyaku memastikan. Ia mengangguk.
"Ya"
Cairan bening menetes dari sudut matanya, ia beralih menatap jade ku lekat,"kau pasti akan menjauhiku kan Gaara-kun, aku masih seperti dulu wanita bertubuh besar. Tak ada perubahan dalam diriku, padahal aku sudah berjanji akan menjadi seorang putri yang cantik jika dewasa nanti. Tapi... tapi... hiks, aku tak bisa menepati janjiku padamu, hiks." air matanya semakin lama semakin deras mengalir, ia tersenyum getir. Tersirat akan kesedihan dan juga kecewa diwajahnya.
Aku menggeleng dan menghapus jejak air mata di pipinya, "aku tak peduli bagaimanapun bentuk tubuhmu. Karena itu kau Sakura. Yang kusukai darimu adalah kebaikan hatimu, bukan fisikmu." jawabku mempertegas.
"HUUWAAA...hiks" dia menghambur menangis memelukku erat, aku mengelus punggungnya guna menenangkan dirinya.
"Aku takut Gaara-kun, hiks... aku takut Sasuke-kun akan membenciku"
Deg
Hei, apa kau tau Sakura? Hatiku berdenyut sakit, ketika kau sebut nama pemuda lain dari mulutmu. Bahkan sampai saat ini yang ada dipikiranmu hanya Sasuke! bukan diriku?
Aku menenggelamkan kepalaku di pundaknya, mencengkram punggungnya erat. "Lihat aku Sakura- hime...tak perlu lagi memikirkan dirinya!" lirihku.
Sakura menggeleng disela tangisnya,"tidak bisa, aku sudah terlanjur mencintainya"
Tch, aku mendecih dan menggeram tertahan, aku kesal ,marah dan kecewa. Kulepaskan pelukanku dan mencengkram pundaknya.
"Baiklah bagaimana jika kita bertaruh Sakura-hime? Aku akan menyerah jika Sasuke mencintaimu apa adanya , tapi... jika dia menolakmu kau harus menikah denganku! bagaimana?"
Kalimatku sukses membuatnya beralih memandang jade ku tajam, kulihat wajahnya menegang. Bulir keringat menetes dari pelipisnya, menggigit bibir bawahnya pelan.
"Maksudmu bertemu dengan Sasuke dengan aku yang sekarang?" tanyanya, Aku menganggukkan kepalaku. Kulihat ia menggeleng, "tidak Gaara-kun, aku tak bisa bertemu dengannya tanpa kalungku!" tolaknya.
"Apakah kau akan terus membohonginya Sakura- hime? Percuma kalau kau terus menyembunyikan dirimu yang sebenarnya, kau tak akan pernah tau apakah dia sungguh-sungguh mencintaimu... atau dirimu yang palsu."
"Tapi, aku belum siap Gaara -kun"
"Jika kau menunggu siap, itu akan memakan waktu lama. Kuantar kau pulang besok kerumah. Aku yakin keluargamu sangat menghawatirkan dirimu,terutama kakakmu yang sister compleks itu."
Drrrtttttt
Handphone genggamku bergetar, kulihat nama 'Sasori -nii tertera disana. Bagus, baru saja aku akan menghubunginya nanti, ternyata dia yang mengubungiku duluan.
"Aku akan menyuruh maid membawakan makanan untukmu, ada sesuatu hal yang harus kuurus. Aku pamit dulu, nanti aku kembali lagi." aku mengecup jidat lebarnya sekilas. Lalu beranjak pergi meninggalkan dirinya yang menatapku dengan tatapan sayu.
Aku tau kau bingung Sakura, tapi aku akan membuatmu sadar, siapa diantara kami berdua yang tulus mencintaimu.
#Gara POV OFF #
.
.
.
Sesampainya dirumah, Sasori segera menjelajahi rumahnya. Mencari keberadaan adik semata wayangnya, wajahnya pucat pasih ketika tak mendapati adiknya dirumah. Matanya berambut merah,dengan wajah seperti bayi itu, sejak tadi tak bisa diam. Penampilannya yang cool yang mampu membius perhatian para wanita itu kini berubah 180 derajat dari biasanya.
Lihatlah, kedua matanya memerah, rambutnya yang tampak berantakan, bajunya yang kini lusuh. Seharian ini ia gelisah memikirkan keadaan adiknya yang lagi-lagi menghilang tanpa sepengetahuannya.
Ia menggeram kesal, memutar otaknya dengan keras. Sebuah nama terlintas di benaknya. Ya, 'Sabaku No Gaara'... hanya Gaara harapan terakhir Sasori.
"Sasori, bisa tidak kau diam sebentar!" geram Tsunade- ibunya, yang kini merasa terganggu kerena Sasori yang semenjak tadi terus mondar -mandir gelisah di depannya.
Sasori tak menghiraukan perintah Tsunade, ia sibuk menelpon Gaara sejak tadi, "SIAL... CEPAT ANGKAT MUKA PANDA" teriaknya kesal.
Pletak
Tsunade yang geram melihat tingkah laku anak sulungnya ini, menjitak kepala Sasori dengan kekuatan supernya. Sehingga sang empu meringis kesakitan.
"Ittaiii!" ringisnya.
"SEBAIKNYA KAU BERSIHKAN DIRIMU TERLEBIH DAHULU SASORI!" bentak Tsunade.
"Tapi kaa-san... aku~" belum sempat Sasori melanjutkan kalimatnya, nyalinya menciut ketika Tsunade menyuguhinya deathglare mematikan.
"Cepat mandi dan ganti pakaianmu yang bau busuk itu, jangan membuatku marah! Atau aku akan jual motor sport mu itu, Sa-so-ri" ancam Tsunade dengan nada tak terbantahkan.
Sasori bergidik ngeri, ia meletakkan telepon genggamnya di atas meja dan lari menuju kamar mandi.
Tsunade menghela nafas panjang, dan kembali memamerkan senyuman terbaiknya kepada dua orang pemuda yang yang sejak tadi duduk manis memperhatikan opera sabun yang dimainkan ibu anak barusan.
"Aku minta maaf atas keributan yang kubuat tadi" Tsunade berojigi meminta maaf.
"Tidak apa-apa, kami yang harus meminta maaf. Karena datang secara tiba-tiba tanpa memberitau anda sebelumnya." jawab seorang pemuda raven sebatas punggung itu dengan sopan.
Ya sekarang Itachi dan Sasuke berada di rumah Sakura. Duo Uchiha itu memaksa Sasori untuk ikut membawa mereka berdua kerumahnya. Sama-sama memastikan keberadaan Sakura di rumahnya.
.
.
.
#Flashback ON#
Pemuda raven yang duduk paling pojok di sudut kanan dekat jendela itu terlihat menguap bosan mendengar ocehan dosennya dengan model rambut ala dora yang sedang menjelaskan tentang semangat masa muda itu.
Dengan santainya Sasuke mengeluarkan handphone nya dan menelepon secara terang-terangan. Ia berusaha menghubungi Sakura. Namun nihil, panggilannya tak diangkat oleh gadis musim semi itu.
Berulang kali ia menelpon sang kekasih, hasilnya sama, tak ada jawaban. Ia sangat khawatir dan berencana menemui Sakura ke kelasnya, namun sayang Sasuke tak diijinkan Guy-sensei untuk meninggalkan kelasnya. Dan mengancam akan memberitau orang tuanya jika melawan perintahnya. Dengan berat hati Sasuke menuruti semua perintah dosennya.
KREET
Pintu kelas terbuka, mengalihkan semua atensi siswa di kelas. Sosok cantik dosen wanita yang bernama Anko-sensei ini langsung menghampiri Sasuke tanpa menegur dosen yang mengajar di kelas - Guy -sensei.
Langkah Anko -sensei nampak tergesa-gesa, ekspresi wajah panik dan pucat pasih. Tanpa basa-basi ia menarik tubuh sang Uchiha terakhir ini keluar kelas, akibatnya semua penghuni kelas ricuh, bertanya-tanya apa yang terjadi.
Sasuke terbelalak tak percaya ketika Anko-sensei mengatakan padanya bahwa Sakura tak kunjung datang setelah meminta ijin ke toilet. Lama menunggu, akhirnya Anko-sensei menyusul Sakura ke sana.
Anko sensei nampak terkejut ketika melihat sisa-sisa cairan merah pekat berada di dinding kamar mandi. Serta tas yang dipakai Sakura yang tertinggal di toilet.
Sasuke yang mendengar semua penjelasan Anko-sensei segera menelpon Kakashi dan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Seharian penuh ia tak dapat menemukan Sakura.
.
.
.
Brakkk
Bunyi nyaring pintu yg dibuka kasar membuat seluruh penghuni rumah keluarga besar Uchiha itu menoleh ke arah sumber suara. Sosok pemuda raven dengan aura membunuh menguar dari tubuhnya, tatapan matanya tajam seakan-akan siap menerjang siapa saja yang menghalangi langkahnya.
Tak ada satupun maid ataupun pengawal yang berani menyapa pemuda raven yang terlihat menakutkan itu. Mereka semua merapatkan diri di sisi pinggir dan memberi jalan untuk Sasuke. Dengan langkah besar Sasuke langsung berjalan menuju ruang kerja Itachi, yang kebetulan ada di rumah. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Sasuke langsung memasuki ruang kerja kakaknya itu.
"Aniki! Ada yang ingin kubicarakan padamu," dengan langkah tergesa Sasuke mendekati Itachi yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Tenanglah sedikit Sasuke!" ujar Itachi tanpa menoleh dari laptopnya.
Brak
Sasuke menggeprak meja kerja Itachi kencang, perempatan siku tercetak jelas di wajah pemuda raven sebatas punggung dikuncir satu itu karena ulah sang adik yang menganggu kesibukannya.
Itachi mendecih,"tch, tenanglah Sasuke, aku juga sedang mencari tau tentang keadaan Sakura saat ini. Aku pun tak akan berdiam diri melihat calon adik iparku tiba-tiba menghilang." decaknya kesal.
"Kau-kau tau darimana Sakura menghilang, Aniki?" tanya Sasuke tampak terkejut.
Itachi menyeringai,"kau tau siapa orangnya Sasuke"
"Tck, sudah kuduga pasti Kakashi yang memberitahumu kan?"
Itachi terkekeh pelan dan kembali fokus melihat laptopnya.
Brakk
Lagi-lagi ketenangan Itachi terganggu ketika pintu ruang kerjanya dibuka paksa oleh seorang pemuda berwajah baby face.
"SASUKE! Cepat kembalikan adikku!" teriak Sasori diambang pintu, lalu dengan langkah besar ia berjalan menghampiri Sasuke, mencengkram kerah seragamnya dan meninju wajah tampan bungsu Uchiha itu.
Buakk
"Tch" Sasuke tak melawan, ia hanya berdecih dengan wajah datarnya.
Tatapan mematikan dari manik Hazel Sasori seolah -olah mengintimidasi pemuda raven dihadapannya. Kembali, di cengkramnya kerah baju Sasuke dengan kedua tangannya. Sehingga tubuh pemuda raven itu sedikit terangkat.
"Dimana kau sembunyikan Sakura brengsek!" caci nya.
Itachi mendesah panjang dan memijit keningnya yang sedikit pusing. Ia beranjak dari kursinya dan menepuk pundak Sasori.
"Tenanglah Sasori, bukan Sasuke pelakunya."
"Eh! Jadi siapa pelakunya?"
"Kami sedang menyelidikinya."
Hazel dan Onyx saling bertatapan, tatapan Sasuke seakan berkata 'untuk apa aku menculik tunanganku sendiri, bodoh', kepala Sasori berdenyut, lalu mendecih dan melepaskan cengkramannya.
"Ck, kalian harus bertanggung jawab, segera temukan adikku!" Sasori beranjak pergi,baru beberapa langkah ia berhenti, Ia kembali menoleh mengacungkan jarinya ke arah kedua Uchiha itu.
"Beritau aku jika kalian mendapatkan kabar tentang Sakura, aku harus memberitau ibuku tentang ini." lanjutnya.
"Aku ikut Sasori-nii." pinta Sasuke.
"Aku juga" ujar Itachi mengacungkan tangannya.
'Ck, dasar duo Uchiha menyebalkan' batinnya menggeram kesal.
"Baiklah, kalian boleh ikut," Sasori menatap Sasuke tajam dan mengacungkan jari telunjuknya lagi,"dan kau Sasuke, aku bukan kakakmu, berhenti memanggilku dengan suffix 'nii', tch, menyebalkan" gerutu Sasori seraya berjalan terlebih dahulu meninggalkan duo Uchiha dibelakangnya.
Itachi terkekeh geli, memegangi perutnya yang sakit karena tertawanya yang berlebihan. Ia merasa lucu mendengar adiknya dengan mudahnya memanggil suffix 'nii' pada seseorang. Ia tau pribadi Sasuke yang irit bicara itu.
Sasuke melotot pada kakaknya, "berhenti tertawa baka Aniki, tidak ada yang lucu."
"Hahaha, kau bahkan memanggilku 'Aniki' sedangkan orang lain kau sebut 'Nii'. Aku tau kau Sasuke, ini cukup menggelikan jika mendengarnya langsung dari mulutmu,haha"
"Tch, kau menyebalkan."
Blamm
Sasuke menutup pintu kasar dan meninggalkan Itachi yang masih tertawa di dalam. Tapi beberapa menit kemudian Itachi berjalan santai di belakangnya, dia berjalan sambil menelpon seseorang, tanpa Sasuke tau siapa itu. Karena kini pikirannya fokus memikirkan Sakura, sehingga ia tak peduli siapa yang sedang berbicara dengan kakaknya di telepon.
.
.
.
#Flashback Off#
.
.
Itachi melirik adik bungsunya yang kembali menelpon Kakashi. Ia melihat raut kesal di wajah Sasuke ketika mendengar jawaban Kakashi di seberang tau pasti Kakashi belum menemukan keberadaan Sakura sampai saat ini. Sasuke mendecih dan langsung mematikan sambungan telepon nya.
"Baru beberapa detik yang lalu kau menelponnya bukan? Kau bahkan sudah 20x lebih menelponnya hanya dalam jangka waktu 30 menit, tenangkan dirimu Sasuke" perintah Itachi dengan santainya.
"Tck, kau tak akan mengerti perasaanku Aniki! Aku benar-benar cemas dengan keadaannya." Sasuke beranjak dari tempat duduknya, "aku tak bisa berdiam diri lagi, akan kucari dia sendiri." ia mulai melangkah pergi.
"Oi, Sasuke... tunggu dulu!" Itachi segera menyusul Sasuke dan menarik tangannya.
'Ddrrrrrtt... Moshi -moshi... drrrttt'
Handphone Sasori berdering, tertera nama 'Gaara' disana, Tsunade langsung mengangkatnya.
"Ya, ada apa Gaara?"
Mendengar nama pemuda merah yang dibencinya itu, Sasuke langsung mengalihkan pandangannya ke arah Tsunade. Ia merasa kalau Gaara terlibat dalam kasus hilangnya Sakura-tunangannya.
"Jadi Sakura ada bersamamu?" Tsunade menghela nafas lega ketika mendengar kabar bahwa Sakura ada bersama Gaara. "Baiklah kutunggu be... hei anak muda!" belum sempat Tsunade meneruskan kalimatnya. Sasuke merampas handphone genggamnya.
"Brengsek! kau apakan Sakuraku HA! Cepat kembalikan dia sekarang juga SETAN MERAH!" bentaknya.
"Ck, tak perlu berteriak padaku Uchiha, besok adalah penentuan! Kupastikan aku yang akan menikah dengan Sakura. Ja, PANTAT AYAM." klik...
Gaara dengan santai memutuskan sambungannya. Seperempat siku tercetak di wajah tampan Uchiha bungsu itu. Wajahnya memerah menahan amarah.
Praankk
Sasuke membanting handphone milik Sasori yang berada dintangannya kencang membentur lantai sehingga hancur berkeping-keping, "Ck, Awas kau SABAKU NO GAARA!" geramnya dengan tangan yang mengepal.
Itachi mendesah panjang melihat tingkah laku adiknya. Memijat keningnya pelan, 'kau membuatku malu baka otouto' desahnya dalam hati.
Tsunade menatap datar Sasuke, melipat tangannya di depan dada, menatap intens pemuda raven di depannya ini. Tak lama kemudian ia tersenyum tipis. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
"HEI! KENAPA HANDPHONE KU HANCUR BERANTAKAN BEGINI?" teriak Sasori yang tiba-tiba datang. Ekspresinya pucat pasih melihat handphone kesayangannya kini hancur. Ia melirik Sasuke yang berdiri disampingnya.
"Aku yang melakukannya." aku Sasuke dengan wajah datar tanpa rasa bersalah.
"Brengsek kau Uchiha!" Sasori menarik kerah baju Sasuke dan menatapnya marah. Namun tak ada perlawanan yang berarti dari Uchiha bungsu itu.
"Sasori hentikan!" perintah Tsunade dengan tatapan mematikan. Sasori menciut dan berdecak kesal seraya melepaskan cengkramannya.
"Dan kau Sasuke sebaiknya tenangkan dirimu. Besok Gaara akan mengantar Sakura pulang kesini, sebaiknya hari ini kalian menginap. Besok kita dengar penjelasan Gaara dan Sakura." ucap Tsunade tegas lalu melirik Itachi, "kau ikut denganku Itachi... ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu!"
"Ya, sepertinya kami akan menginap malam ini. Karena aku juga ingin menanyakan sesuatu padamu." jawabnya dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya.
"Sasori, ajak Sasuke istirahat di kamarmu."
"Apa! Kamarku... tapi kaa-san~" baru saja Sasori mau menolaknya, bulu kuduk Sasori meremang ketika lagi-lagi disuguhi tatapan mematikan Tsunade. Ia hanya bisa pasrah dan menuruti perintah ibunya. Karena dia tau, jika ibunya mengamuk, bisa-bisa rumah tempat tinggalnya pun bisa runtuh dalam sekejab.
.
.
.
Angin berhembus kencang malam ini, menerpa kulit halus sang pemuda Raven yang sedang berdiri di beranda kamar. Mengamati bintang yang berkelap-kelip di langit malam.
"Sakura." lirihnya pelan.
Karena semenjak tadi pagi benaknya penuh dengan gadis sewarna musim semi itu. Pikirannya kalut saat mendengar gadisnya menghilang, terlebih lagi sekarang Sakura tinggal bersama Gaara, teman masa kecilnya yang juga mencintai Sakura sejak dulu.
Ia merasa keadaannya kini terancam, entah mengapa perasaan buruk terlintas di benaknya. Meski gadis musim semi itu mengakui bahwa dia juga mencintai dirinya. Tapi ia tetap merasa was-was, karena pemuda merah teman masa kecilnya itu juga mempunyai kalung yang sama dengan miliknya dan Sakura.
Sasuke kembali mendesah panjang, menjambak rambutnya frustasi. Hatinya benar-benar gelisah, ia gelisah karena Sakura sedang bersama Gaara sekarang. Kenapa Gaara bisa bersama Sakura? dipikir berapa kalipun otak pintar Sasuke tak bisa menemukan jawabannya. Biar waktu yang menjawab, mungkin malam ini ia tak akan bisa tidur.
"Kau seperti orang bodoh Sasuke."
Sebuah suara menginterupsi kegiatannya, ia menoleh dan mendapati Sasori mendekatinya, membawa 2 kaleng minuman bersoda dan memberikannya satu pada Sasuke.
"Ambillah."
Sasuke menaikkan alis, "ada angin apa,tiba-tiba kau bersikap baik padaku?"
"Tck, anggap saja sebagai rasa terimakasihku, karena kau sudah mencemaskan adikku."
"Hn."
Sasuke mengambil minuman kaleng itu tanpa mengucapkan terimakasih, itu semua membuat Sasori berdecak kesal.
"Ck, setidaknya kau mengucapkan terima kasih Sasuke! Dan juga maaf untuk handphone ku yang sudah kau hancurkan tadi." ujarnya dengan nada kesal. Pandangannya kini lurus kedepan, ia malas menatap wajah calon adik iparnya yang sangat datar tanpa rasa bersalah itu.
"Hn... terimakasih dan maaf, akan kuganti nanti"
Bruusshh
"Uhuk!" Sasori menyemburkan minumannya dan hampir tersedak mendengar Sasuke dengan mudahnya mengucapkan kata 'terimakasih dan maaf'.
'Mungkin otaknya sedang bermasalah' ucap Sasori dalam hati.
"Anggap saja aku sedang berbaik hati, kumaafkan kau kali ini. Sasori menepuk pundak Sasuke sekilas lalu melenggang pergi meninggalkan Sasuke sendiri disana.
Malam semakin larut, Sasuke beranjak dari beranda dan masuk ke dalam sama sekali tak mengantuk, ia tak sabar ingin segera bertemu dengan Sakura.
Sasuke memposisikan dirinya duduk menyender pada ranjang di belakang punggungnya. Mengotak-atik ponselnya, dan terus memandangi foto gadis cantik bak musim semi di layar handphonenya.
"Sakura, kenapa? Kenapa kau bisa bersamanya?" lirihnya.
.
.
.
.
Sinar matahari pagi menyeruak masuk dari celah jendela kamar, lalu menyinari seisi ruangan. Sasori langsung menutupi tubuhnya dengan selimut, dan melanjutkan tidurnya.
Sedangkan Sasuke ia segera mencuci muka dan langsung menuju ruang tamu. Disana juga sudah ada Itachi, Tsunade dan Dan. Mereka semua menunggu kedatangan Sakura dan Gaara.
Krekkk
Pintu tebuka, seluruh atensi orang di ruangan itu sontak menoleh ke arah sumber suara. Sasuke mengernyit, ketika kini dihadapannya berdiri sosok seorang gadis bertubuh gemuk.
Gadis itu pun tidak berani menatap wajah Sasuke, pandangannya ia alihkan kesamping dan meremas bajunya kencang. Sasuke mencoba mendekati sang gadis. Ia merasa heran, kenapa gadis di depannya sangat mirip dengan Sakura? dan ia merasa sangat familiar dengannya.
Warna rambut bak musim semi sebatas pundak, manik emeraldnya yang indah. Semua itu benar-benar mirip seperti gadisnya, namun hanya bentuk tubuh yang membedakan mereka berdua.
Gadis yang kini berdiri dihadapannya adalah seorang wanita bertubuh gemuk, sedangkan Sakura-nya memiliki bentuk tubuh yang ideal dan sexy.
Andai kau tau Sasuke, gadis di hadapanmu ini adalah orang yang sama, gadis yang kau cintai sejak pandangan pertama, seorang gadis yang sudah ditakdirkan menjadi jodohmu jauh sebelum kau dilahirkan, ya! Haruno Sakura.
Gadis cantik bak keturunan Putri Raja itu yang kemarin kau temui, kini berdiri dihadapanmu, dengan keadaan fisik yang berbeda. Dia mengujimu, apakah kau masih mau menerimanya jika gadis yang kau puja cantik itu kini berubah 180 derajat, menjadi gadis bertubuh gemuk dengan daging yang bertumpuk dibagian perut dan wajahnya.
Sasuke memperhatikan gadis dihadapannya penuh selidik. Tatapannya terpaku pada perban di kepala gadis musim semi itu.
Sakura yang sejak tadi menundukkan wajahnya kini memberanikan dirinya menatap Onyx Sasuke. Emerald dan Onyx bertemu.
'Kami-sama, apakah aku harus mengatakan hal yang sebenarnya?' ucap Sakura dalam hati. Ia bimbang, haruskah ia bicara jujur pada Sasuke, tapi ia juga tak ingin jika Sasuke tau tentang dirinya yang sebenarnya maka Sasuke akan pergi meninggalkannya.
Tangan Sakura mengepal, meyakinkan dirinya sekali lagi, 'tapi... aku tak bisa membohonginya lebih dari ini, biarlah takdir yang menentukan. Jika ia mencintaiku, dia akan menerimaku apa adanya bukan? Meski tipis harapanku. Aku harus berkata jujur, walau jujur itu menyakitkan.' perdebatan batin terjadi di dalam diri Sakura.
"Sa-su-ke-kun... aku."
"..."
"Aku..."
'Sial kenapa begitu sulit,mengucapkannya' keringat bercucuran dari pelipis Sakura, berulang kali ia menelan ludahnya. Ucapannya seakan menyangkut ditenggorokan sehingga sulit sekali diucapkan.
"SAKURA!" teriak Sasori.
Sasori yang baru saja bangun dari tidurnya langsung berteriak ketika melihat Sakura yang berdiri di depan pintu masuk, adik kesayangannya sudah kembali kerumah. Ia segera berlari mendekat, lalu menghammbur memeluknya erat, wajah sumringah tercetak jelas diwajahnya.
"Hn, Sakura!" ujarnya penuh penekanan. Onyx Sasuke membulat ketika Sasori memanggil gadis dihadapannya ini dengan nama yang sama, dengan gadis musim semi tunangannya.
Kini pandangan Sasuke teralihkan pada sosok pemuda merah yang berdiri tepat di belakang Sakura. Gaara menyeringai, menarik lengan Sakura lalu memakaikan kalung milik gadis musim semi itu dilehernya. Sontak Sakura terkejut dengan perbuatan Gaara yang tiba-tiba itu, ia belum menyiapkan hatinya, meski sebelumnya ia menyakinkan dirinya,tetap saja ia belum siap.
"Tu-tunggu Gaara-kun!"
POOFFFF
Telat! kini dihadapan Sasuke dan semuanya Sakura berubah menjadi gadis cantik yang penuh akan pesona. Tubuhnya berubah ramping dan sexy. Baju yang dikenakannya pun longgar dan kebesaran.
POOOFFF
Gaara kembali mencopot kalung yang dipakai Sakura.
"USO!" Sasuke terbelalak tak percaya melihat pemandangan dihadapannya ini
"Ini tubuh aslinya, Sakura akan berubah menjadi sosok wanita yang ideal jika memakai kalung warisan turun-temurun dari keluarganya." jelas Gaara.
"Sasuke-kun." ucap Sakura lirih dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tch," Sasuke mendecih, "kau menipuku Sakura!" ujarnya dengan nada dingin.
Aura marah menguar dari tubuh Sasuke, ia menatap Gaara dengan deathglare mematikan. Sasuke melengos pergi tanpa pamit meninggalkan semuanya. Sakura tak tinggal diam, ia berusaha mengejar Sasuke, berdiri dihadapannya guna mencegah kepergian bungsu Uchiha itu.
"Sasuke-kun... aku bisa menjelaskan semuanya...hiks ...kumohon! Dengarkan aku dulu." isak Sakura, liquid bening menetes dari sudut matanya. Kedua tangannya ia buka lebar-lebar.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan bukan! Kau tak pernah bicara apapun padaku tentang ini sebelumnya... tapi kau menceritakan semua hal tentangmu padanya." ucap Sasuke sendu.
"Eh?"
"Kau menyebalkan Sakura... kau membuatku kecewa."
Sasuke melengos pergi meninggalkan Sakura yang masih berdiri mematung disana. Air matanya terus mengalir menganak sungai.
"Sakura- hime kau tak apa-apa?"
Gaara menghampiri Sakura, hatinya sakit mellihat Sakura menangisi kepergian Sasuke. Tangannya terulur menghapus airmata yang masih setia mengalir di pipi ranum gadis musim semi itu.
"Gaara-kun, perkataanmu apakah masih berlaku... hiks?"
"Maksudmu?"
"Kau benar Gaara-kun... ternyata Sasuke tak mencintaiku, sepertinya ia membenciku karena telah membohonginya. Aku bersedia menikah denganmu... aku ingin kita menikah secepatnya. Kumohon...hiks."
"Kau... kau serius Sakura-hime?" ujar Gaara memastikan.
"Ya." jawabnya lirih dengan senyum yang dipaksakan. Dibalik senyumannya tersirat akan luka.
Sreet, Gaara menarik tubuh Sakura ke dalam pelukannya."baiklah... besok kita menikah."
Gaara tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Walau ia tau Sakura menerima lamarannya karena kini suasana hatinya sedang kacau. Ia akan memanfaatkan semua kemungkinan yang ada.
Sedangkan Sakura menangis histeris dipelukan Gaara. Sejak awal ia tau bahwa cintanya akan bertepuk sebelah tangan.
'Kalau tau begini sakitnya jatuh cinta lebih baik dicintai daripada mencintai... Sasuke-kun sayonara... sudah kuputuskan mulai sekarang aku akan belajar melupakanmu.'
.
.
.
TBC
Maaf makin gaje, makasih buat yg masih baca fanfic ini. #pede bener. Arigatou.
