Three Days Forever

Boboiboy © Animonsta Studio

Warn : Typo, OOC, Fem!Ice

Happy Reading ^^

7 Juli tertanggal warna merah, atau lebih tepatnya hari Minggu. Waktunya bersantai, melepas penat setelah 6 hari bekerja. Apa yang biasa kalian lakukan pada saat hari libur? Olahraga sambil bertegur sapa dengan tetangga? Out bersama teman, atau hanya berdiam diri di rumah? Ah, mungkin menyesap secangkir kopi di pagi hari juga menyenangkan.

Seperti pria paruh baya yang duduk di teras rumahnya sambil membaca koran ditemani secangkir kopi yang masih panas, udara yang masih segar menambah kenikmatan Minggu pagi. Sepertinya sangat disayangkan jika tidak menikmati pagi yang indah ini, seperti Ice. Gadis bersurai panjang itu bahkan semakin menenggelamkan wajahnya di bantal ketika sinar sang surya menyinari tiap sudut ruang bercat biru itu. Biarlah, hari inikan setiap orang bebas menggunakan waktu sesuka hati sebelum bertemu kembali dengan hari Senin.

Seseorang berseragam satpam berjalan menghampiri tuan rumah yang bersantai teras.

"Maaf pak, mengganggu waktu anda. Barusan ada orang yang mengirim ini." Ujar satpam itu sambil menyodorkan amplop berwarna coklat.

"Dari siapa?"

"Saya kurang tau, tapi amplop ini ditujukan untuk nona Ice." Jelasnya.

"Untuk Ice? Ah, kalau begitu terima kasih." ujar Ayah.

"Baik, saya akan kembali bekerja." Ijin satpam itu dan kembali ke tempatnya.

Ayah mengangguk mengijinkan. Beliau membolak-balik amplop itu dan menjumpai lambang Rumah Sakit Central Pulau Rintis. Ia semakin penasaran pada amplop yang ditujukan pada Ice. Tanpa pikir panjang, ia membuka dan membaca isinya dengan teliti.

Di awal surat itu tertulis nama Etenia Ice dan data lainnya. Dahinya berkerut ketika membaca tabel yang kurang ia pahami. Hingga di bagian akhir halaman itu membuat matanya terbelalak, bahkan jari-jemarinya sampai gemetar memegang kertas itu karena keterkejutannya.

Dengan ini, dapat disimpulkan bahwa Saudari Etenia Ice, positif mengidap penyakit kanker otak

Saat itu juga ia merasa hidupnya hancur, air matanya yang tak pernah mengalir sejak kematian istrinya kini jadi tak terbendung lagi hingga mengucur deras dari pelupuk mata, mengalir bak anak sungai tak pernah kering.

Sudah cukup hidup diuji dengan penyakit yang merenggut nyawa pasangan hidupnya. Dan sekarang, Tuhan memberi cobaan yang lebih berat dengan menurunkan penyakit yang bahkan jauh lebih ganas yang mampu membunuhnya korbannya kapan saja, pada putrinya. Apa Tuhan adil? Bukankah sudah cukup rasa sakit yang Ice terima selama ini, semua ini benar-benar membuatnya sesak.

🍀LucKyra7🍀

Jam 09.37, Ice berjalan menuruni tangga setelah membersihkan diri, bisa terbayang gadis secantik dirinya dengan tampang bangun tidur dengan rambut acak-acakan? Ruang makan nampak sepi, langkahnya menuju dapur untuk mengambil minuman.

"Aneh, kenapa sepi sekali?" Gumam Ice keheranan.

Ia kemudian berjalan menuju ruang utama, biasanya jam segini ayah sedang menonton TV. Dari kejauhan ayah tengah duduk di sofa, namun TV dalam keadaan mati. Dihampirinya orang tua tinggalnya itu, ia nampak melamun dengan mata sembab yang mencuri perhatian Ice pertama kali.

"Ayah kenapa?" tanya Ice melihat ekspresi ayahnya yang kacau.

Ayah yang tersadar dari lamunannya kemudian beralih memandang Ice. Sekali lagi, pandangannya buram karena cairan kembali menumpuk di pelupuk mata. Ia menutup wajah, tak sanggup memandang putrinya.

"A-ayah kenapa?" Ice semakin kebingungan ketika ayahnya tiba-tiba menangis.

Pandangannya segera tertuju pada amplop coklat di samping ayah. Ada lambang RS Central Pulau Rintis di sana. Ia baru teringat tentang check up dirinya yang hasilnya akan keluar hari ini. Diraihnya amplop itu dan mulai membaca isinya.

Deg...

Jantungnya serasa berdetak, tubuhnya langsung lemas membaca surat itu. Air matanya pun ikut meleleh membasahi pipi, ia menangis tanpa satupun isakan yang keluar dari bibirnya.

"Kanker otak?" gumamnya tak percaya.

Ayah bangkit, mendekap hangat putri. Mencoba menenangkan Ice, walau dari psikis dirinya juga tengah tergoncang.

"Ayah selalu ada untuk mu sayang, kamu ngga sendiri." bisik Ayah masih dalam tangisannya.

"Setelah ini kita pergi ke rumah sakit ya?" ujar ayah setelah melepas pelukannya.

Hari itu juga mereka pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan Ice lebih lanjut. Selama perjalanan mereka hanya terlalu dalam keheningan. Ayah tengah fokus mengemudi, sesekali melirik ke samping melihat keadaan putrinya. Iris mata Ice hanya memandang ke luar jendela, sesekali liquid bening membasahi pipinya. Dadanya merasa sesak dengan semua yang ia alami. Tak cukupkah Tuhan mengujinya, yang hampir membuatnya ingin meregang nyawa. Atau semua ini adalah hukuman karena atas tidakannya itu? Apapun itu, kali ini semua akan menjadi lebih berat dari yang ia terima sebelumnya.

Tak terasa, mobil yang mereka kendarai memasuki area parkir rumah sakit. Ice masih terhanyut dalam pikirannya, hanya nampak memandang pantulan dirinya di kaca.

"Ice?" panggil ayah ketika mesin mobil dimatikan.

Kesadaran Ice kembali ke permukaan, "Ah, ya ayah?"

"Kau baik-baik saja? Masih bisa jalan?" tanya ayah.

"Ya, aku baik-baik saja mungkin. Ayah tenang saja, aku bisa berjalan sendiri kok." Ujar Ice menenangkan hati ayah dengan senyum palsunya.

"Oke. Ayo!"

Mereka berjalan beriringan memasuki area rumah sakit. Jujur saja, Ice merasa sangat takut. Entah apa yang membuat dirinya ketakutan, bukan jarum suntik, bukan juga darah. Namun rasa tak nyaman di hatinya sama sekali membuatnya tak nyaman.

Langkah pertama memasuki lobby, bau obat-obatan sudah mengisi rongga dadanya, membuat perutnya mulai merasa tak nyaman. Ayah berjalan menuju meja resepsionis, memasuki lebih jauh dalan gedung itu, Ice merasa mual sekarang.

30 detik

1 menit

3 menit

"Mpphh.."

Cukup, ia sudah tak tahan. Ia mengedarkan pandang, mencari toilet terdekat dari posisinya. Bingo! Di dekat ruang tunggu ada toilet. Tanpa pikir panjang, ia berlari sebelum isi perutnya benar-benar keluar.

"ICE!?" panggilan ayah terabaikan begitu saja.

Blam... Ice membanting pintu, hingga beberapa orang di sekitarnya tersentak karena terkejut.

Hoek... Hoeeek... Ohok... Hoeeeeekkk...

Ice memuntahkan semua isi perutnya yang sejak tadi tertahan. Sampai ia lelah muntahpun, rasa mualnya belum kunjung reda.

Tok.. Tok.. Tok..

"Ice?"

Itu suara ayah, ia pasti khawatir.

Dengan segenap sisa tenaga yang ia miliki, ia berjalan keluar.

Cklek..

Pintu terbuka, menampakan sosok Ice dengan wajah pucat dan tubuhnya yang lemas.

"Kau baik-baik saja?" tanya ayah.

Dari sorot matanya saja sudah menunjukan betapa khawatir nya. Melihat Ice yang tiba-tiba berlari menuju toilet tanpa ijin menimbulkan berbagai pertanyaan di benaknya.

"Ya, hanya hmppp." Ice buru-buru menutup mulutnya dan kembali memasuki toilet.

Barulah 10 menit kemudian Ice keluar dengan tubuh gemetar dan mata sayu. Mungkin tenaganya hanya tersisa 5%.

"Kau baik-baik saja? Masih mau muntah lagi?" tanya Ayah.

Ice menggeleng lemah, "Tidak, hanya saja bau ini membuatku mual." jawabnya lirih.

Tentu saja rumah sakit meninggalkan sisi gelap dalam kehidupan Ice, mengingat mendiang ibunya juga dirawat di sini. Sudah pasti memori itu terekam jelas diingatannya.

Ayah memutuskan ke taman, memberi waktu Ice menghirup udara segar untuk memulihkan kondisinya. Ayah menghampiri Ice yang duduk di bangku taman, di bawah pohon yang rindang, dengan sebotol air mineral dan roti di tangannya.

"Makan dulu, kau harus mengisi perutmu yang kosong." ujar ayah.

"Tapi lidahku terasa pahit, perutku juga masih terasa mual." tolak Ice.

"Jangan biarkan perutmu kosong, setidaknya makan walau sedikit. Nanti juga baikan."

Ia menerimanya, perlahan kondisi Ice membaik. Setidaknya tidak terlalu nampak pucat dan sedikit berenergi.

"Sudah baikan?" tanya ayah.

"Eum." Ice mengangguk.

"Kalau begitu kita periksa sekarang ya?" tanya ayah setengah memohon.

Ice terdiam, kepalanya tertunduk memandang rerumputan hijau. Ia masih takut.

"Tenang saja, ayah akan selalu bersamamu." ujar ayah hangat sambil menepuk pelan pucuk kepala Ice.

Ice melirik, nampak raut wajah ayah penuh kesungguhan yang mempu menggetarkan hatinya. Jika ayah saja seserius ini, ia juga harus berani.

Ice menghirup nafas panjang, "Oke."

Ayah langsung sumringah mendengar jawaban Ice. Mereka kembali memasuki gedung serba putih itu. Tak ada lagi rasa mual, mungkin tubuhnya mulai terbiasa dengan 'aroma' khas ini. Kali ini ayah merangkul Ice, tak akan membiarkannya berjuang sendiri. Ia adalah kepala keluarga, sosok yang harus tegar dalam berbagai keadaan.

Sampailah mereka pada tempat yang di tuju, ruang dokter Mariko yang dulu pernah merawat ibu Ice. Orangnya sangat ramah dan juga baik. Setidaknya dengan tau karakteristik dokternya sudah cukup membuat Ice sedikit tenang.

Tok.. Tok.. Tok..

"Masuk." Seseorang di dalam sana menjawab ketukan pintu, mengijinkan mereka masuk.

Pintu terbuka, seseorang berjas putih duduk sambil membaca kertas di tangannya. Suster Wika juga ada di sana, mungkin sedang memberi laporan.

Tapi tunggu, itu bukan dokter Mariko yang Ice kenal. Seorang lelaki bersurai pacak, iris merah keunguan dan pandangan gelap.

Ice menunduk dalam, entah kenapa ia sekarang merasa jauh lebih takut. Bukan karena penyakit yang ia derita, namun justru dokternya yang bikin ngeri.

Serius ini dokternya? Kalau orang ini mah lebih cocok jadi pembunuh bayaran (?). Serem banget, bahkan lebih serem dari guru paling miller di sekolahku. Keren sih keren, tapi pandangan itu terlihat lebih menusuk daripada di tikung temen (?). Lihat matanya, kaya natap falak di depan mata (?). Teriak Ice dalam hati.

"Saya tidak salah masuk ruangan kan? Ini ruangan dokter Mariko?" tanya ayah kebingungan.

"Ah, iya. Ini dulu memang ruangan dokter Mariko, namun beliau dipindahkan ke luar kota 2 bulan lalu. Dan sekarang di isi oleh dokter Kaizo." Jelas dokter Wika.

"Jadi namamu Ice? Perkenalkan aku dokter Kaizo." Sapa Dr. Kaizo.

Ice hanya mengangguk, dan masih menundukan kepala.

"Silahkan duduk." ujarnya mempersilahkan kedua orang itu duduk.

"Aku sudah mendengar tentangmu dari suster Wika. Apa kalian sudah bertemu dengan dokter Maeda bagian radiologi?" tanyanya.

"Belum." Jawab ayah singkat.

"Sebaiknya kalian ke sana terlebih dahulu untuk melakukan CT scan. Saya belum bisa langkah apa yang harus diambil apabila belum mengetahui stadiumnya. Suster Wika, bisa tolong antarkan mereka?"

"Baik dokter. Mari ikuti saya."

Mereka mengikuti suster itu yang keluar terlebih dahulu, menunjukan jalan. Sesekali ayah dan suster itu mengobrol selama perjalanan, berbeda dengan Ice yang sedari tadi hanya diam.

"Apa dia dokter yang profesional?" tanya ayah yang terlihat ragu dengan kemampuan dokter muda tadi.

"Anda pasti meragukannya karena usianya. Dia lulus dari universitas Oxford, spesialis kanker pada usia 18 tahun. Walau baru 2 tahun ia menjadi dokter, tapi keahliannya sudah seperti dokter berpengalaman. Aku yakin dia bisa menyembuhkan Ice." jelasnya panjang lebar.

"Hmm, cukup menjanjikan." Gumam ayah.

"Ini ruangannya." ujar suster Wika ketika mereka sampai.

Setelah mengetuk pintu dan mendapat ijin masuk mereka duduk di kursi yang telah tersedia.

Suster Wika nampak sedikit berbincang dengan dokter Maeda. Ia sudah menganggap Ice seperti adiknya sendiri, jadi dengan senang hati ia membantunya selama pemeriksaan di rumah sakit itu.

Usai berbincang, dokter Maeda berhadapan dengan mereka berdua. Setelah memperkenalkan diri, ia bicara langsung to the point karena sebelumnya ia sudah memperoleh penjelasan dari suster Wika.

Beliau mulai menjelaskan prosedur kerjanya dan bertanya beberapa hal pada Ice seperti kondisi kesehatan pada saat ini, konsumsi obat tertentu, dan alergi.

Setelah dirasa cukup, segala sesuatunya mulai dipersiapkan. Ice pun diminta mengganti pakaiannya dengan pakaian yang disediakan.

Untuk pertama kalinya, ia melihat alat medis sebesar itu. Jari-jemarinya mencengkram kemeja sang ayah, seperti anak kecil yang menunggu giliran cabut gigi. Perasaan Ice tersalurkan. Ayah menepuk lembut pucuk kepala Ice dan berkata, "Tenang saja, ayah akan selalu bersamamu." senyumnya menghangatkan hati Ice.

"Sudah siap?" tanya dokter Maeda.

Ice mengangguk mantap, ayahnya tersenyum.

"Kau takut?" tanya salah satu radiografer, ketika Ice berbaring setelah disuntik cairan kontras sebelumnya.

Tenang saja, ayah akan selalu bersamamu. Kalimat itu seperti sihir yang terus terngiang.

"Tidak." Jawab Ice.

"Bagus." petugas itu tersenyum.

Proses CT scan mulai berlangsung, dan sekitar 10 menit semua itu berakhir. Hanya tinggal menunggu hasil dan keputusan dokter Kaizo.

Berjalan kesana kemari, cukup membuat kaki Ice terasa sangat pegal. Apalagi dengan jarak yang tak bisa dikatakan dekat, beruntung itu rumah sakit besar dengan alat yang lengkap. Bisa terbayang lelahnya dioper sana sini.

Ia tau ayahnya juga lelah, namun ia menyembunyikannya. Dengan harapan ia bisa segera diperiksa lebih lanjut.

Drrrtt... Drrrtt...

Ponsel Ice bergetar, sebuah panggilan masuk.

"Blaze!?" gumam Ice menatap naga yang tertera di layar ponselnya.

"Umm, ayah. Aku mau ke kamar mandi dulu ya." ijin Ice.

"Kenapa? Mau muntal lagi."

"Tidak, hanya sebentar kok." ujar Ice yang kemudian berlalu.

Di kamar mandi...

"Halo? Blaze? Ada apa?" tanya Ice.

"Ice, kau sedang di mana?"

"Memang kenapa?"

"Tidak, aku hanya maj minta bantuanmu, ada beberapa soal yang tidak bisa kukerjakan. Kalau kau di rumah, aku akan ke rumahmu sekarang." Ujar Blaze di seberang sana.

"Maaf, aku sedang tidak di rumah. Hmm, kalau kau mau nanti sore saja."

"Hmm, oke nanti sore aku ke sana. Btw, kau sedang dimana?"

"Aku sedang jalan-jalan dengan ayahku. Sudah dulu ya, bye." Ice segera memutus panggilan.

"Huft, jangan sampai Blaze tau tentang ini." ujar Ice memandang keramik lantai.

Tes..

"Eh!?"

Setetes cairan berwarna merah mengotori keramik kamar mandi.

"Darah!?"

Ia berbalik dan berkaca. Ia baru sadar, darah mengalir deras dari kedua lubang hidungnya. Matanya melebar, ia terburu-buru membersihkan darah itu sebelum ayah mengetahuinya.

Sangat ingin rasanya ia menangis, karena sudah 10 menit ini mimisannya belum berhenti juga. Bahkan sampai sapu tangan birunya dipenuhi noda merah.

Ice baru saja keluar dari toilet, beruntung darah itu segera berhenti beberapa menit kemudian. Sehingga ayahnya juga tak perlu menunggu lebih lama, anehnya ia tak menjumpai ayahnya di manapun.

"Mungkin sudah sampai di ruangan dokter Kaizo." tebak Ice.

.

.

Tok.. Tok.. Tok..

"Masuk."

Cklek..

Ice kembali memasuki ruangan itu, nampak dokter Kaizo tengah mempelajari hasil scan.

"Loh? Ayah belum sampai di sini?" herannya.

Lalu ayah kemana?

"Ah, Ice kebetulan sekali. Ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan padamu. Duduklah."

Ice mendudukan diri, kembali dengan kepala menunduk.

"Tenang saja, aku tidak menggigit kok. Jadi relax saja." Ujarnya sambil tersenyum.

Ice mengangkat wajah, memandang dokter dihadapannya mengulas senyum.

Nah, kalo senyum gini kan enak dipandang. Tidah wajah serius yang ia pasang ketika aku memasuki ruang ini tadi.

"J-jadi apa yang anda tanyakan?"

"Apa sebelum ini kamu pernah pingsan, mimisan dan sakit kepala di pagi hari?" tanyanya.

"Ya, memang. Aku mulai merasakannya sejak liburan sekolah kemarin."

"Hm, pertumbuhannya cepat sekali." Gumamnya lirih sambil sekali lagi memeriksa hasil scan.

"Memangnya kenapa? Apa bisa dikatakan parah?" tanya Ice.

Sekilas Kaizo memandang Ice, kemudian menghirup nafas panjang. "Kanker di otakmu sudah memasuki stadium 3. Aku tak tau kenapa kanker itu cepat sekali berkembang."

"A-apa stadium 3? Tetapi sejak kapan di kepalaku ada kanker?"

"Untuk stadium 1 memang tak ada tanda-tandanya. Stadium 2 pun belum terlalu mencolok, namun tandanya mulai terlihat pada stadium 3."

Ice membisu, rasanya hatinya telah terkoyak. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Apa ia harus melakukan hal yang sama seperti ibunya? Apa yang harus ia lakukan?

Tok.. Tok.. Tok..

"Permisi, dok - Ice?" Ayah bersama suster Wika yang membuka pintu tanpa mendapat ijin penghuninya, terkejut ketika Ice sudah berada di ruangan itu.

"Ice!?"

"..."

"Apa yang terjadi di sini?" tanya ayah.

"Kanker otak stadium 3." tegas Kaizo.

Tanpa diperjelaspun, ayah sudah paham. "Hah!? Stadium 3!?"

Jika Ice sudah terlebih dahulu sampai di sini, artinya ia mengetahui jauh lebih banyak darinya.

"Tunggu! Apa kau yakin kau seorang dokter profesional? Seharusnya kau bicara terlebih dahulu padaku sebelum memberitahu putriku! Kau pasti juga lebih tau tentang mental pasienmu kan? Apa pantas orang sepertimu disebut dokter?" Tiba-tiba saja emosi ayah meledak.

Ice mencengkram erat kemeja ayahnya seraya berkata, "Sudahlah, ayah. Aku tidak apa-apa."

"Anda lihat, bahkan putri anda jauh lebih tegar dibanding anda, orang tuanya sendiri."

Ayah menatap sendu putrinya, tanpa ia interogasi ia sudah tau isi hatinya. Hancur. Sakit. Dan rasa buruk lainnya.

"Maaf." gumam ayah.

"Sudah biasa." ujar Kaizo. "Tapi putri anda termasuk orang yang sangat tegar, kebanyakan orang yang pernah saya temui biasanya akan memberi respon berlebihan."

Ayah diam saja, kemudian duduk di samping Ice. "Lalu apa yang sebaiknya dilakukan?"

"Saya menyarankan untuk kemoterapi atau operasi. Atau digabungkan keduanya." saran dokter Kaizo.

"Apa jika dikemo rambutku akan rontok?" tanya Ice.

"Tanpa dikemo pun rambutmu tetap akan rontok."

Ice tercekat, seketika tangannya menyentuh rambut panjangnya. Menyayangkan jika rambut yang telah lama ia rawat akan berguguran helai demi helai.

"Bisakah kami meminta waktu untuk membicarakan hal ini?" tanya ayah.

"Silahkan, tapi lebih cepat lebih baik. Untuk sementara ini, saya akan memberi obat untuk mengurangi rasa sakitnya."

"Baik. Terima kasih, kami permisi."

Cklek..

Hening...

"Aku salah ya?" tanya Kaizo pada Wika.

"Seharusnya kau tidak seperti tadi. Tadi itu terlalu cepat untuk menyampaikan." kata Wika.

"Hah, ternyata cara bicaraku kurang lembut ya?"

"Ya, begitulah. Tapi aku tau itu sama sekali bukan gayamu."

Selama perjalanan pulang, tak ada suara dari keduanya. Sebenarnya ayah ingin segera membahas tentang pengobatannya. Namun atmosfir ini rasanya tak nyaman, sangat menggangu.

Lebih baik di rumah saja. Pikir ayah

Sesampainya di rumah, Ice langsung menuju kamarnya di lantai 2. Ayah yang melihat tingkah lalunya hanya menghela nafas. Tentu saja berat bagi Ice.

Akhirnya ayah membiarkan Ice istirahat, ia pasti lelah. Sama seperti dirinya. Ayah ikut berjalan ke kamarnya, hendak menenangkan pikiran

Blam...

Langkahnya tertuju pada kasur, rasanya lelah sekali. Cahaya jingga menerangi seantero kamarnya, indah. Sayangnya tidak seindah hari ini, kenyataan pahit yang ia terima hari ini.

Tubuhnya terhempas di kasur empuk itu, "Oh ya, aku lupa sesuatu." Ice meraih ponselnya.

To : Blaze

Maaf Blaze, sepertinya hari ini aku tidak bisa mengajarimu. Lain kali saja ya.

Send.

Setelah terkirim, ia mematikan ponselnya. Saat ini ia benar-benar tidak ingin diganggu oleh siapapun. Memejamkan mata, berharap ketika ia terbangun nanti, semua ini hanya mimpi buruk semata.

TBC...

Gomennasai, telat lagi. Aku selalu usahain buat update kilat, sayangnya tidak pernah bisa😭. Seharusnya update kemarin, tapi ngetiknya belum selesai gara" kamisnya basket sampe sore, malemnya tidur awal.

Maaf ya, review belum bisa aku bales satu persatu. Dirumah koneksinya lemotnya minta ampun.

Curhat dikit ya, walau penname ku lucky, tapi kenapa soal nasib yang ditentukan selalu kurang beruntung ya? Udah dapet kelas di atas, eh dapet temen sekelas model beginian, mana mayoritas guru pengajarnya killer lagi (╥_╥) menghabiskan sisa SMA kok seperti ini (╥_╥)

Makasih ya yang udah ngreview. Yang belum ngreview, boleh ngomong apa aja kok, tenang aja aku pemikirannya terbuka kok. ()

Cukup segitu aja, bye bye arrigatou ^^