"Dingin ya, Nao!"

"Un..."

"Dulu Ibuku bilang, kalau dingin cobalah meminta pada peri bunga agar kita menjadi hangat."

"Peri bunga? Bukan pada Tuhan?"

"Um... bisa juga sih, tapi Ibu bilang peri bunga itu baik dan tubuhnya hangat! Jadi mereka pasti mau membagi kehangatannya dengan kita berdua!"

"Nao mau mencoba."

"Ayo coba sama-sama, Nao! Mau minta pada peri bunga apa?"

"Mawar... mawar biru!"

"Eeh? Kenapa mawar biru?"

"Slaine kan suka mawar biru... Nao juga suka!"

"Haha begitu ya, mawar biru ya... Nao tahu tidak artinya apa?"

"Artinya? Keajaiban?"

"Iya! Jadi peri bunga dari mawar biru pasti akan baik sekali! Ayo kita coba berdoa!"

"Un!"


Tapi arti mawar biru tidak hanya itu


Sejak dulu, Nina selalu bisa memprediksikan sesuatu dengan tepat. Seolah matanya bisa melihat jauh ke masa depan.

Dulu, Nina pernah bilang hujan akan turun di kala hari memang sedang mendung. Orang-orang dewasa tertawa gemas melihat ekspresi wajahnya yang lugu memandang langit. Tapi Nina kembali mengatakannya dengan jelas.

Hujan yang turun bukan air tapi hujan peluru.

Lima menit kemudian gedung yang sedang disinggahi oleh Nina dan orang tuanya diserang salah satu famili mafia yang sederhana dan bukan tandingan Klein. Namun saat mereka tahu Nina dan orang tuanya hanya pergi bertiga— tanpa Trissera ataupun Herla —mereka pun menyerang.

Dulu, Nina pernah bilang pemerintahan akan hancur. Ibunya bertanya, kenapa Nina bisa berpikir seperti itu? Lalu Nina hanya menggelengkan kepala dan menjawab, Nina hanya kepikiran.

Esoknya, kehancuran itu bukanlah sebuah kata kiasan. Bukanlah sebuah candaan. Pemerintah hancur. Gedungnya yang megah hancur tak bersisa, dibakar, dirusak oleh rakyat miskin yang tak pernah dilirik atau didengarkan.

Dulu, Nina pernah bilang seorang anak laki-laki jenius yang akan menuntun Klein menjadi keluarga paling kuat sekali lagi akan datang.

Lalu Kaizuka Inaho datang menjadi anggota keluarga dan Klein menjadi kuat seperti dulu.

Sejujurnya Nina takut, ia takut semua yang ia lihat dalam pikirannya menjadi nyata. Ia benar soal Saazbaum akan menyerang puri mereka— tanpa terkena jebakan satu pun. Ia benar soal Slaine Troyard yang datang mencari Inaho. Ia benar soal anggotanya hanya akan mendapat luka ringan, paling parah mungkin patah tulang dan lubang peluru di bagian perut atau bahu, yang jelas tak satu pun dari mereka akan kehilangan nyawa. Tapi bukan itu yang Nina takutkan.

Nina takut bila Inaho akan pulang ke puri. Nina takut bila Inaho bertemu dengan Slaine Troyard. Yang ia lihat, ketika mereka berhadapan— lagi-lagi Inaho yang akan terjatuh.

Waktu itu Slaine juga mengalahkan Inaho, tapi pemuda tanpa ekspresi itu pun tidak sedang dalam keadaan yang baik. Dan kali ini, sekali pun Inaho dalam keadaan luar biasa baik seperti biasanya, Slaine tetap mengalahkan Inaho. Dengan satu tembakan— untuk melindungi Nina.

Hanya itu yang Nina takutkan. Ia hanya takut maksud dari jatuhnya Inaho adalah kematian. Nina tidak mau kehilangan orang yang ia cintai.

"Tuan Putri menunduk!"

Nina buru-buru menunduk sesuai dengan seruan seorang pria di belakangnya. Ia menggelengkan kepala, bukan saatnya mengkhawatirkan itu! Nina sudah menyerahkan tugas pada Marito untuk membereskan Slaine Troyard, jadi setidaknya Nina tidak perlu khawatir lagi. Sekarang ia hanya perlu fokus pada musuh yang berdiri di hadapannya.

Peluru demi peluru dimuntahkan oleh moncong senapan Nina. Sesekali ia menunduk, menghindari peluru-peluru yang ditembak secara acak dari bawah.

Aku harus pindah posisi adalah satu hal yang dipikirkan Nina. Gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari tempat paling aman dimana scoopenya tidak akan memantulkan cahaya bulan.

Nina melemparkan tiga buah bom asap, sengaja menghalangi pandangan para mafioso yang berada di bawah sana. Ia lalu berguling ke kanan sejauh mungkin, bersembunyi di balik dinding. Sesekali melirik keluar jendela di dekatnya.

Tidak ada yang sadar kemana Nina pergi, ini adalah kesempatan bagus baginya. Nina buru-buru melompat bangun, berlari menuruni tangga. Aula di puri utama benar-benar sepi, tidak ada yang berjaga ataupun menyusup sama sekali. Nina menjadi sedikit heran, kemana perginya semua orang? Apa mereka hanya menjaga empat menara dan tidak dengan puri utama?

"Ternyata Orpheusnya benar-benar ada di sini..."


Slaine mengendarai mobilnya secara ugal-ugalan, menerobos semak, mengabaikan baretan yang tercipta akibat ranting-ranting pohon yang terlalu rendah. Toh ayahnya juga tidak akan mempermasalahkan hal ini, paling-paling besok Slaine akan diberikan yang baru.

Harklight bilang, orpheus Klein saat ini sedang berada di lantai dua puri utama. Tiga orang mafioso sedang berusaha menjatuhkannya.

"Pastikan puri utama mereka kosong." perintah Slaine, dibalas oleh Harklight dengan tawa kecil khasnya.

Slaine berencana menghadapi Nina sendirian. Berdasarkan firasatnya, bila dia menemui Nina secara langsung maka Slaine bisa mengetahui sesuatu.

Sesuatu tentang Yuki dan Inaho.

"Nina Klein berhasil lari dan sepertinya menuju ke aula."

Slaine memarkir mobilnya secara asal dua puluh lima meter di depan puri utama.

"Jangan biarkan siapapun masuk ke sana." Slaine berlari memasuki pintu puri, menyiapkan amunisinya.

"Roger that."

Slaine bersembunyi di balik salah satu pilar aula, menunggu kedatangan sang putri. Langkah kaki terburu mulai terdengar mendekat, nafas yang berat menyertai.

"...kosong?" adalah kata yang pertama kali terdengar.

"Ternyata Orpheusnya benar-benar ada di sini..."


Selama perjalanan Inaho terus menendang kerikil-kerikil di bawah kakinya. Pandangannya terfokus pada selembar foto di tangannya. Foto yang kemarin ia dapatkan dari Nina.

Pertanyaan demi pertanyaan kembali muncul dalam kepala Inaho. Kenapa ia dan Slaine Troyard bisa berfoto bersama? Kenapa ia dan Slaine Troyard terlihat begitu akrab? Kenapa Yuki ingin membakar foto-foto ini?

Sebenarnya apa yang disembunyikan dari Inaho?

Apa semua ini ada hubungannya dengan apa yang dibicarakan Yuki dan Slaine Troyard kala itu?

Inaho berhenti melangkah, terdiam. Apa sebaiknya ia kembali dan menceritakan semuanya pada Jayn? Tadi itu Inaho hanya menyampaikan sesuatu yang tidak begitu jelas, jadi mungkin itu sebabnya Jayn tidak mengerti.

"Sebaiknya aku kembali." Inaho berbalik, berniat kembali ke rumah Jayn.

"Lho? Sepertinya aku pernah melihatmu..."

Lagi— Inaho berhenti, memandang seorang gadis berambut pirang yang memblokir jalurnya.

"Siapa?" Inaho bertanya datar, kepalanya sedikit dimiringkan— tanda bahwa ia benar-benar tidak mengenali sang gadis pirang.

"Kamu... Klein kan?" gadis itu justru balas bertanya, tatapannya kosong secara tiba-tiba saat Inaho sedikit mengangguk. "Bukannya... Klein sedang diserang sekarang?"

Tanpa pikir panjang Inaho berlari secepat mungkin untuk pulang.

"Terima kasih atas bantuannya, kak Asseylum. Akting singkatmu lumayan juga."

"Sama-sama dan terima kasih kembali, Lemrina."


Tolong jangan ke sini!


Nina siap untuk menarik pelatuk senapannya bila Slaine mendekat. Dan Slaine siap untuk menyerbu Nina.

"Aku hanya ingin bertanya, Nina." suara Slaine terdengar mengintimidasi. "Kalau kau mengatakan yang sejujurnya akan kulepaskan kau saat ini, tapi kalau kau terus-terusan melawan kau akan mati."

"Kau pikir aku takut?!"

Dor!

"Aku tidak main-main, Nina."

Nina meneguk ludah, terkejut saat Slaine mendadak melepaskan peluru dengan gerakan super cepat dan nyaris melubangi kepala Nina.

"Aku hanya ingin bertanya..." nada suara Slaine kembali tenang, namun tetap saja membuat Nina merinding. "Sebenarnya siapa Kaizuka Inaho itu?"

Bingo, Nina sudah menduga Slaine akan bertanya tentang Inaho.

"Aku tidak tahu ada hubungan apa kau dengannya, tapi— apa maksudmu dengan siapa Kaizuka Inaho? Jelas dia herla kami."

"Herla?" tiba-tiba Slaine tertawa kecil. "Jadi dia seorang herla, huh?"

"Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan padanya?" Nina sedikit mengambil langkah mundur kala Slaine kembali memandangnya dengan tatapan kosong.

"Aku hanya ingin memastikan sesuatu, Nina." Slaine menghela nafas lelah. "Apa dia datang ke sini bersama Kaizuka Yuki?"

"Sudah jelas mereka bersau—"

"Apa yang terjadi sebelum mereka bergabung dalam Klein?"

"Apa tujuanmu sebenar—"

"Apa ada yang mati-matian berusaha Kaizuka Yuki sembunyikan dari Kaizuka Inaho?"

"Slaine apa maumu?!"

"Apa— apa Yuki pernah mengatakan kalau sebenarnya... Inaho sudah pernah mati atau sebenarnya— Inaho memang sudah mati dan muncul Inaho yang lain?"

"...apa?"


Inaho berlari terburu, terkadang kakinya tersandung langkahnya sendiri, terkadang ia jatuh dengan menyakitkan. Namun Inaho tidak peduli. Saat ini ia harus segera tiba di rumah. Saat ini dia harus segera melindungi keluarganya.

Nao!

"Ah—"

Inaho terpeleset kala melewati bukit. Ia kembali terjatuh, berguling, terperosok jauh ke bawah.

"Ukh— sial." Inaho mencengkram lengannya yang sedikit robek oleh batu tajam ketika ia jatuh tadi.

Kamu lemah, Kaizuka Junior.

"Aku tidak lemah."

Inaho kembali bangkit, mengabaikan darah yang mengalir di lengannya. Pemuda mungil itu berusaha memanjat bukit. Sedikit menyesal karena menolak tawaran Avherryl untuk belajar mengendarai mobil.

Semoga aku belum terlambat.


Kumohon jangan ke sini!


Berdoalah agar pikiranmu tidak dimakan oleh rasa dendam... Slaine.