K 'n Q – Alpha part 4

Disclaimer : EXO never be mine, terinspirasi sedikit banyak dengan ff serigala author MiraMira dan Pandora hearts. But the plot and story are originally mine!

Cast : Lumin and ten aliens.

Rate : T

Genre : supernatural, hurt/comfort, au!wolf

Author's note : Center!Xiumin, flashback bagaimana Xiumin diselamatkan oleh pack Lu, imprint, dan konfrontasi dimulai.

Titik tiga : sub cerita baru.

Italic words : flashback

Spoiler: Luhan mengingat pertemuannya dengan Omega 15 tahun lalu. Bagaimana iris merahnya terpaku melihat sosok manis yang termangu sendiri, bagaimana jemari panjangnya menemukan pelengkapnya, atau saat jantungnya berdegup keras saat melihat senyum terlukis sempurna di bibir Sang Omega.

"Kami akan mengambil imprint-mu, Alpha." Ucapnya berbisik.

2318 words count…

.

.

.

Sniff sniff...

Seekor serigala berbulu hitam mengurangi kecepatannya sejenak sebelum berbelok kekiri dan mempercepat larinya kembali. Empat ekor serigala yang sedari tadi membuntutinya saling melemparkan ekspresi tanda tanya. Jelas sekali jika mereka akan melewati batas wilayah keluarga Lu dalam jarak kurang dari setengah kilometer.

[Lu hyung, ada apa?] Pertanyaan dari serigala termuda muncul dalam pikiran serigala berbulu hitam yang menjadi Alpha dalam kawanannya. Sang Alpha merespon dengan menggoyangkan ekornya sekali.

[Entahlah, kalian bisa tinggalkan aku jika kalian tidak ingin] jawabnya bernada datar. Seolah-olah melewati batas wilayah bukanlah masalah yang besar.

[Tidak, aku hanya ingin tahu...] Ucapan serigala berbulu abu-abu terhenti ketika salah satu kawanannya, Si Serigala berbulu cokelat abu-abu melolong. Suaranya yang nyaring menggema di sela-sela ribuan pohon yang menjulang tinggi. Badannya yang kuat langsung menerjang salah satu musuh abadi yang tampaknya tertinggal jauh dari kelompok.

[Kuserahkan dia padamu] perintah Sang Alpha mendahului serigala berbulu cokelat abu-abu yang sibuk menghentikan pergerakan musuhnya. Ia balas melolong lagi.

[Sisakan satu untukku, Alpha!] Sang Alpha tersenyum kecil mendengar balasan anggotanya yang paling bersemangat ketika berburu. Kali ini iris merahnya mencoba menjelajahi hutan dihadapannya, mencari sisa musuhnya.

[Aku mencium bau Omega, Alpha] celetuk serigala berbulu abu-abu bermata emas ketika mereka semakin dekat dengan tujuan. Sang Alpha mengangguk kecil, mengiyakan apa yang akan ditanyakan oleh Beta-nya.

Serigala berbulu abu-abu bermata hijau kebiruan berlari menuju Sang Omega yang dikerumuni sekelompok vampir kelas tiga. Sedangkan sisanya langsung menerkam musuh mereka. Bergulat lalu berguling-guling diatas tanah yang berembun. Gesekan angin menjadi latar musik pertarungan malam mereka.

Tiga lawan Sembilan. Terlihat tidak seimbang dari segi jumlah, namun Sang Alpha tidak peduli akan hal itu. Ia yakin anggotanya mampu mengatasi makhluk kelas rendah macam mereka dalam hitungan menit. Terlebih salah satu anggotanya yang paling agresif, Serigala berbulu cokelat abu-abu datang membantu. Lolongannya mampu membuat Sang Alpha tersenyum tipis tiap kali ia berhasil melumpuhkan vampir dihadapannya.

"Apa mau kalian?!" Tanya seorang vampir yang berhasil bertahan dari serangan kawanan serigala Lu. Sang Beta menggeram, tahu bahwa vampir kelas dua tersebut terus menghindar dari serangannya. Menjadikan vampir lain sebagai tameng lemahnya, seperti ia menjadikan Si Omega malang itu sebagai sanderanya.

Sang Beta bertransformasi ke bentuk manusianya. Mau tak mau vampir kelas dua itu merasa terintimidasi karena aura kuat yang dipancarkan Sang Beta kepadanya. Iris merah kotornya menatap menantang kearah iris emas milik Sang Beta walaupun ia terus berjalan mundur. Mencoba mencari celah untuk keluar dari kawanan serigala dihadapannya sembari membawa mangsanya yang super lezat. Sesekali ia harus menahan nafasnya agar tidak terangsang dengan harum darah Si Omega, namun pori-pori tubuhnya menolak perintah otaknya. Tubuhnya keringat dingin, tak sabar untuk menghisap habis minuman crimson milik Si Omega, mangsanya.

"Berikan Omega itu pada kami dan kau takkan terbunuh," bujuk Si Beta persuasif, namun vampir kelas dua itu menggelengkan wajahnya mantap. Dia lebih baik mati daripada harus menyerahkan mangsanya yang telah ia incar selama seminggu belakangan ini.

Meskipun kakinya tak mampu menopang berat tubuhnya dengan benar, iris merah kotornya masih berani menatap remeh kawanan dihadapannya. Ia mencoba untuk mundur beberapa langkah dengan natural, berdecih tak puas ketika Si Omega berusaha lepas dari dekapannya.

"Kau kira aku vampir bodoh yang mau melepaskan mangsa sempurnaku ini? Asal kalian tahu, darahnya dapat membuatku menjadi vampir terhebat," tolaknya kasar. Bola matanya memeriksa dengan teliti daerah yang ia lewati, berharap terdapat dahan rendah yang mampu ia pijaki untuk melarikan diri. Ia tak mungkin selamat jika melawan kawanan dihadapannya.

Bugh.

Sang Beta maupun anggota lainnya terbelalak melihat sifat kalem Sang Alpha terhapus seketika. Baru pertama kalinya Sang Alpha turun tangan menghabisi vampir kelas dua. Tak tanggung-tanggung, Sang Alpha menerjang vampir tersebut dalam bentuk manusianya. Menghempaskan Omega malang itu ke arah anggotanya yang lain. Mencabik-cabik musuhnya dalam hitungan detik. Menciptakan lukisan abstrak berwarna crimson di wajah juga kemeja hitam yang ia kenakan.

"Cukup, Alpha," potong Sang Beta mencoba menghentikan keganasan Sang Alpha. Ia mengerti bahwa pimpinan pack-nya sangat membenci kaum penghisap darah tersebut dan selalu memburunya hingga mereka mati. Tapi ia tak mengerti dengan sikap luar kendali pimpinannya sesaat sebelum vampir tersebut menancapkan kuku panjangnya di leher Sang Omega.

Butuh waktu lama bagi Sang Beta untuk memaksa Sang Alpha terhipnotis oleh mata emasnya, mengembalikan warna hitam pekat pada iris Sang Alpha. Taring tajam yang semula memperkuat aura Sang Alpha berangsur-angsur memendek. Menyisakan suara gemeletuk gigi tanda Sang Alpha juga berusaha keras untuk kembali terkendali.

"Bagaimana keadaannya?" Tanya Sang Alpha ketika berdiri di belakang Lay dengan nada seperti biasa, kalem dan tak berekspresi. Lay - si serigala berbulu abu-abu dengan mata hijau kebiruan - menampilkan ekspresi pucat.

"Buruk, Lu-ge. Terlalu banyak luka dalam, baik baru dan lama. Omega ini bisa mati jika tak ada yang mengobati secepatnya," lapor Lay panjang lebar. Selanjutnya, ia mengucapkan mantra yang menyebabkan kedua telapak tangannya mengeluarkan cahaya hijau. Tangannya bergerak ke tempat luka-luka dalam yang menghiasi tubuh Sang Omega, berharap kemampuan khusus yang jarang ia latih dapat membantu menghentikan darah yang terus mengalir.

"Walaupun aku bukan vampir, tapi bau darahnya benar-benar..."

"Diamlah, Kai. Kau pulang duluan dengan Sehun, kami akan menyusulmu," dengan cepat Sang Beta memotong ucapan anggotanya, Kai yang menyandarkan tubuhnya di pohon sequoia tak jauh dari tumpukan vampir yang ia kumpulkan tanpa susah payah. Kai mendengus, tanpa mengucapkan apa-apa ia langsung berlari menembus hutan dalam bentuk serigalanya kembali. Sehun - Si serigala termuda- buru-buru mengikuti hyungnya yang tua beberapa bulan. Sosok serigalanya menghilang ditelan rimbunnya hutan kabut malam itu.

Sepuluh menit kedepan merupakan atmosfer sepi yang mencekam. Dengan iris onyx yang terus mengawasi gerak-gerik anggotanya yang bertugas sebagai penyembuh layaknya polisi menginterogasi tersangkanya. Tak menyadari bahwa Lay mulai kewalahan menyembuhkan luka-luka yang sulit untuk kembali sedia kala.

"Cukup, Lay. Kau sudah pada batas kekuatanmu. Kita kembali ke mansion," putus Sang Beta menyelamatkan Lay dari kelelahan luar biasa. Cahaya hijau itu mulai meredup lalu menghilang tanpa bekas. Perlahan ia mengangkat tubuh ringan Sang Omega yang tak sadarkan diri. Namun Sang Alpha cepat-cepat mencegahnya, ia memaksa meminta Lay untuk menyerahkan Sang Omega malang tersebut ke dalam rengkuhannya. Kemudian Sang Alpha bergegas kembali ke wilayah Lu dan ke mansion sebelum Pack atau kelompok vampir lain menghampiri mereka.

Slurp.

Tanpa sadar Lay menjilat darah yang mengotori tangannya sekali layaknya insting seekor serigala. Untuk sejenak, iris hijau kebiruan miliknya berubah menjadi merah. Instingnya sebagai seekor serigala langsung menjilat bersih sisa darah yang melekat di seluruh permukaan tubuhnya, ia bahkan tak segan-segan untuk merunduk ke tanah dan mulai menjilat cairan crimson yang mewarnai guguran daun.

'Aku mau lebih…'

"Lay!" seru Kris begitu menyadari bahwa anggota packnya –Lay tertinggal jauh di belakang. Subjek yang dipanggil namanya-pun langsung tersadar dari insting aneh dirinya sebagai serigala. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali, tak menyangka bahwa dirinya bisa melakukan hal serendah itu setelah hampir dua dekade lamanya ia menjadi manusia serigala.

Lay berlari mengejar Sang Alpha dan Sang Beta lalu melompat masuk dalam rimbunnya hutan dalam bentuk serigala. Ia melolong sekali. Membalas seruan Sang Beta.

.

.

.

"Beta, kau mau kemana?" pertanyaan meluncur dari bibir serigala termuda yang sedang bersantai-santai di kebun mansion Lu. Sang Beta –Kris melemparkan senyum tipis lalu melemparkan kacamata hitam kepada lawan bicaranya.

"Terlalu lama berjemur tidak baik untuk kulit dan matamu, Sehun-ah. Aku mau mencari Alpha, sudah sejam sejak urusannya selesai dan ia belum pulang," jelas Kris panjang lebar sebelum akhirnya menghilang di balik pagar tembok yang menjulang tinggi. Membentengi mansion Lu dari makhluk lain yang mengincar mereka di balik rimbunnya pohon.

Kris berjalan santai menuju gelapnya hutan, sesekali berlari kecil lalu melompat melewati beberapa batu besar berlumut yang menghalangi jalannya. Kemudian ia berhenti ketika ia berada satu kilo dari mansion Lu. Ia memejamkan matanya, mencoba menajamkan indera pembaunya dan mencari bau khas Sang Alpha. Ia yakin Sang Alpha tak jauh dari mansionnya, mungkin saja ia asyik melamun di danau tengah hutan milik keluarga Lu.

[Kau menggangguku, ada apa?] Kris tersenyum singkat mendengar suara jengkel pimpinan packnya yang bergema di dalam tempurung kepalanya.

[Aku hanya khawatir padamu, Alpha. Ada yang ingin kubicarakan padamu, penting kurasa] balas Kris serius. Ia membuka kelopak matanya, menampilkan iris emas yang memikat bagi siapapun yang menatapnya. Kaki panjangnya kembali membuat langkah demi langkah yang berjarak cukup lebar menuju Alphanya berada. Diantara kesibukannya memilih jalan tercepat dan aman, ia mendengar suara dengusan dari Sang Alpha.

[Kurasa kau tahu dimana aku berada, Beta] benar saja, Kris menemukan Sang Alpha –Luhan sedang menikmati pemandangan riak tenang yang diciptakan oleh danau kecil wilayah keluarga Lu. Kris duduk di batu yang tak berlumut, dekat dengan Sang Alpha yang sibuk memasukkan tangannya ke dalam danau. Mengocok-ocok riak tenang di pinggiran danau dengan tatapan tak ekspresinya.

"Apa yang kau tahu tentang imprint, Beta?" Kris mengernyitkan dahinya, tak menyangka bahwa dirinya akan mendengar pertanyaan macam seperti itu dari mulut Luhan. Begitu tiba-tiba, membuatnya ragu untuk menjawabnya. "Jawab saja," tandas Luhan meyakinkan Kris bahwa ia sungguh-sungguh menanyakan hal itu.

"Sebuah ikatan takdir… kurasa, aku juga tidak tahu karena aku belum mengalaminya sendiri," jawab Kris tidak yakin. Dan ia kesal tak bisa melihat ekspresi yang ditampilkan Luhan ketika mendengar jawabannya.

"Takdir… jika seseorang mengingatkanmu dengan masa lalumu apakah itu disebut sebuah ikatan, Beta?"

"Mungkin saja."

"Lalu apa yang membuatmu yakin jika seseorang yang kau temui itu adalah imprint-mu?"

"Uh, aku benar-benar tak mengerti maksudmu, Alpha. Dan pertanyaan ini sangat sulit, aku juga tidak yakin jika ini benar…" tampak jelas Kris tak nyaman dengan segala pertanyaan yang dilontarkan Luhan dari caranya menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.

"Kau Beta-ku, Kris…" sela Luhan dengan nada intimidasi seperti biasanya membuat Kris tak punya pilihan lain.

"Perasaan ingin melindunginya dari apapun kurasa? Keinginan untuk terus didekatnya dan merasakan sakit yang sama ketika imprint-mu terluka? Mungkin saja, imprint-mu tahu apa yang kau fikirkan walaupun kau sudah menutupnya begitu rapat. Hal itu juga berlaku pada dirimu, Alpha," senyap, hanya suara harmoni dari hewan-hewan kecil yang menggetarkan gendang suaranya. Alih-alih ingin bermain dengan air seperti Alpha-nya, Kris malah menatap refleksi dirinya melalui pantulan permukan riak danau yang tenang.

"Apa semua pertanyaanmu ini berhubungan dengan Sang Omega yang kita selamatkan tadi malam, Alpha? Jika iya, ceritakan semua padaku. Aku juga berhak tahu, Alpha," lanjut Kris penuh selidik. Luhan menghela nafasnya lalu mengangguk kecil.

"Kau ingat tentang ceritaku semasa kecil? Potongan ingatanku mengatakan bahwa Omega itu tak lain bocah serigala keturunan murni dari keluarga Jung," jelas Luhan singkat mampu membuat Kris mengangguk paham.

"Tapi bagaimana bisa ia sendirian, Alpha? Seharusnya ia dalam pack keluarganya," Tanya Kris sedikit tidak paham dengan kebenaran dari Sang Omega. Luhan membalas menggeleng sekali.

"Entah, mungkin saja ia tertinggal dari packnya,"

"Tapi lukanya terlalu banyak untuk ukuran anggota pack!"

"Mungkin saja ia dibuang oleh ayahnya." Kris membisu. Satu-satunya kemungkinan yang sangat relevan dengan keadaan Sang Omega malang itu hanyalah jawaban terakhir Luhan.

"Sudahlah, biar aku yang mencari tahunya sendiri," tutup Luhan mulai beranjak dari tempatnya semula. Namun baru beberapa langkah ia dapat, ia berhenti berjalan lalu meringis tanpa suara dengan tangan kanan mencengkeram bahu kirinya kuat-kuat. Kris yang semula tenggelam dalam kemungkinan-kemungkinan terkesiap melihat gerak-gerik aneh dari Luhan.

"Apa tanda itu menyiksamu lagi, Alpha?" Tanya Kris bernada khawatir, namun Luhan hanya menggeleng.

"Tidak apa." Setelah itu, Luhan meninggalkan danau diikuti Kris yang berlari di belakangnya.

.

.

.

Xiumin hanya tertegun mendengar ucapan yang sangat panjang dari Sang Alpha. Ia tak tahu respon apa yang harus ia berikan pada pewaris keluarga Lu, salah satu pack terhormat di wilayah Asia. Terlebih dengan fakta bahwa Alpha dihadapannya adalah satu-satunya keturunan yang tersisa di keluarga Lu sejak 15 tahun yang lalu membuatnya ragu-ragu untuk membalas Sang Alpha. Bisa saja kan, jika ia menyinggung Sang Alpha maka ia akan digigit lehernya hingga mati.

"Tidurlah," Xiumin mengerjapkan matanya sekali. Ia tidak salah dengar bukan? "Lukamu belum sembuh benar," lanjut Sang Alpha menghapus segala keraguannya. Perlahan, ia mengangguk kecil dan mulai merebahkan diri. Kembali terlelap dalam buaian mimpi tanpa akhir.

Luhan menatap Sang Omega yang ia yakini sama dengan bocah serigala keturunan murni Jung. Tak habis pikir dengan apa yang terjadi setelah pertemuan singkatnya dengan bocah serigala tersebut hingga ia menemukan Omega dalam keadaan mengenaskan. Mungkin saja ada rahasia besar yang disimpan rapat-rapat oleh keluarga Jung.

Luhan beranjak pergi dari kamar, ia memilih untuk mencari udara segar di luar mansion sembari menikmati harum wangi bunga-bunga yang sengaja ditanam Lay beberapa bulan lalu. Merebahkan diri di rumput hijau bukanlah ide yang buruk, pikir Luhan sebelum memejamkan matanya.

Otaknya kembali memutar potongan pita ingatan akan pertemuan pertamanya dengan Omega 15 tahun yang lalu. Bagaimana kedua bola matanya tak mampu berkedip ketika seorang bocah manis terlihat duduk termangu dari jendela berjeruji kamarnya. Bagaimana jemari panjangnya menemukan pasangannya dalam genggaman Omega kecil. Atau betapa bahagianya ia ketika mengajak Omega kecil dan Betanya berlarian mengitari kebun milik keluarga Jung. Semuanya terasa seperti kemarin.

[Melamun, eoh?] Luhan tersentak, kelopak matanya terbuka dan iris merahnya bergerak kekanan-kiri dengan tatapan awas. Tak lama kemudian ia menemukan seekor serigala berbulu hitam dengan iris biru keluar dari semak belukar. Setelah berada di jarak yang cukup dekat dengan Luhan, serigala tersebut bertransformasi menjadi seseorang yang Luhan kenal sebagai masa lalunya.

Pria itu tertawa kecil melihat Luhan menggeretakkan giginya. Sengatan listrik melingkupi tubuh pria tersebut ketika berbagai benda melayang kearahnya.

"Tetap agresif, eoh? Harusnya bukan seperti ini kau menyambut Beta-mu setelah 15 tahun tak bertemu, Alpha," lanjut Pria itu sembari mengelus punggung seekor kalajengking hitam berukuran sedang di pundaknya. Luhan mendecih.

"Chen," balas Luhan dingin, iris merahnya menatap tajam pria bertudung merah bergaris emas. Ketika pria tersebut melangkah maju, sebuah sekop melayang kearahnya. Chen menghindar dengan cekatan. Tangannya menepis sekop yang semula akan menghantam kepalanya.

"Lupakan dengan sambutan hangat yang kuharapkan, aku datang karena tuanku memerintahku untuk membawa seseorang yang ada di mansionmu," ujar Chen disertai senyuman lebarnya. Luhan mengerutkan dahinya sejenak, berusaha menerka-nerka orang yang dimaksud Chen. Pupilnya melebar ketika menyadari Chen telah disampingnya, mulutnya membuka tepat di telinga Luhan.

"Kami datang akan mengambil Omega- ah salah, kami datang untuk mengambil imprintmu, My Almighty Alpha."

[Kris-!]

Belum sempat Luhan memperingatkan Kris akan musuh yang datang, terdengar suara kaca pecah juga suara lain yang merusak ketenangan malam. Seketika Chen dan Luhan mendongak ke atas, mendapati Kai yang terjatuh dari lantai dimana Minseok tertidur.

.

.

Tbc –

An: ugh, setelah dua minggu melewati masa sulit –writer block yang menjengkelkan akhirnya aku bisa melanjutkan seri fanfic ini. Lebih panjang memang, tapi aku tidak begitu puas karena seharusnya aku menjelaskan flashback pertemuan Luhan dengan Minseok dan konfrontasi kelompok Chen lebih detail lagi. Tapi aku takut jika aku menulis terlalu banyak, pembaca akan bosan. Jadi aku skip saja bagian itu dan memberikan poin pentingnya saja (walaupun setelah kubaca lagi, tulisanku tak berisi poin penting sama sekali. Lol)

Aku harap aku memotong cerita dengan tepat dan membuat kalian lebih penasaran lagi dengan kelanjutannya. Aku juga senang dengan respon kalian pada cerpen dan chapter sebelumnya.

Cheers.

Ps: aku berharap ff seri milik MiraMira dan cranescort lanjut. Aku pasti akan memberikan komentar terhadap tulisan mereka. Aku penggemar mereka. Begitu pula twentae-ssi o

Aidapinky21 : sebenarnya ff ini kurencanakan oneshot, entah bagaimana bisa berakhir berpart-part seperti ini. Mungkin saja, ini sampai muncul konflik. Tentu saja ada, tapi mungkin tak terlihat dengan jelas.

Imeelia : maaf, aku tidak begitu teliti dalam urusan edit. Gomen _-_)

Isnaeni love sungmin : cukup panjang kah? Apa part ini cukup jelas? Jika belum akan kujelaskan nanti.

AngAng13 : gomen! Harusnya aku memperjelas momen masa kecil mereka x.x

Jung Yooyeon : harus dipahami pelan-pelan . otakku terbiasa berlari dan membiarkan jemariku berjalan terseok-seok.

Jung Ha Ki : masih belum terasa momennya, aku tidak bisa -/\-

Gun : Aku juga sudah membacanya! XD himawari-san sekarang focus menulis fem!min, membuatku semakin lope-lope saja. Tentu saja aku tidak akan membuat karakter Lu yang menye-menye menjorok ke feminim, begitu pula yang lain. Kekeke, jangan dibaca. Too fluff, too much grammar errors. Dan agak gak logis. /

Twentae : plot Pandora Hearts memang keren! d(o)b muter-muter tapi bisa buat aku waooowww. Chapter ini interaksi mereka hanya sedikit dan kemungkinan bahwa xiumin akan terpisah dari luhan sangat besar di chapter selanjutnya. Gomen,

Lilis kepo : umurku baru 17 di awal musim semi, apa ini cukup panjang? Yup, mereka anggota exo lainnya... well, aku juga ingin menaikkan rate-nya tapi aku cukup tahu diri bahwa aku tidak bisa menulis hal seperti itu. Menyerempet mungkin..

Bonaa : arigato gozaimasu! Tapi sepertinya tak banyak momen yang bisa digali dari wolf!au ini … *desperate*

: yup, jangan lupakan KyungSoo. Dia berperan banyak untuk merebut xiumin dari genggaman Luvert.

Xiuhan Chenmin Hardshipper : reader-ssi sudah!