A Betting Man
.
.
Sakura POV
Aku benar-benar berantakan. Rambutku mencuat kemana-mana, bajuku kusut, dan wajahku memerah sehabis menangis. Tapi, saat aku bergegas mengenakan celana jinsku, aku rasa penampilanku sekarang tidaklah penting.
Sasuke bilang aku terlihat cantik. Aku. Dan dia ingin mulai lagi dari awal, dan mengabaikan permasalahan komitmen juga kesalahan lampau.
Aku terlihat berantakan, tapi dia mau terlihat di depan umum bersamaku. Aku tidak terlalu yakin, tapi aku rasa sikapnya ini benar-benar mencerminkan perasaannya padaku. Ini membuatku tersenyum saat aku bertemu dengannya lagi di ruang tamuku, tepat di mana aku meninggalkannya.
Perjalanan menuruni tangga berlangsung dalam diam. Dia membukakan pintu mobilnya dan membantuku masuk ke dalam, lalu dia bergegas berjalan menuju sisi pengemudi untuk bergabung denganku.
Aku masih tidak bisa berhenti tersenyum.
Dan sepertinya, dia juga tidak bisa.
"Kita akan pergi ke mana?" akhirnya aku bertanya.
"Ke suatu tempat yang tenang," jawabnya. "Agar kita bisa bicara lagi." Dia melirikku. "Kau tidak keberatan?"
Aku menggeleng cepat. Aku benar-benar tidak peduli di mana kami akan makan, selama aku bersamanya.
"Apa kau suka tiram?" tanyanya.
"Ya."
"Kaki kepiting?"
"Ya."
Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mulai menelepon. Dia memesan makanan, dan ini membuatku bingung. Apa dia ingin makanan sudah siap terhidang saat kami sampai di sana? Apa kami akan makan di sana?
"Apa itu tadi?" tanyaku, suaraku terdengar tentatif. Aku gugup dan bersemangat, sarafku menegang, tanganku berkeringat dan pikiranku berpacu. Aku memikirkan berbagai macam skenario dalam kepalaku sebelum benar-benar mengatakannya.
"Kita akan membungkus makanannya. Aku sudah memikirkan tempat yang sempurna, di sana kita bisa makan... tidak apa-apa?" tanyanya lagi.
Dia sama gugupnya seperti aku, dan ini membuatku merasa nyaman. Aku tersenyum meyakinkannya.
"Tidak apa-apa, Sasuke. Aku hanya penasaran."
Sisa perjalanan berlangsung dalam keheningan. Musik lembut terdengar dari stereonya, tapi aku tidak bisa mencerna satu katapun dari lagu yang dimainkan, kami berdua terlalu asyik dengan pikiran masing-masing. Saat kami mencapai restoran, dia memintaku untuk menunggu di mobil, dia berlari untuk mengambil makanan.
Makanan sudah terletak aman di kursi belakang, dan kami terus mengemudi. Aku masih tidak tahu ke mana kami akan pergi, tapi aku merasa senang. Ini mendebarkan.
Kami mencapai pelabuhan. Sasuke mengemudi ke sekeliling tempat parkir sebelum menemukan tempat kosong dan mengambil makanan dari kursi belakang. Aku melangkah keluar dari mobil untuk mengikutinya, dan kami berjalan menyusuri pelabuhan.
Pelabuhan terlihat indah di malam hari. Sebagian besar kapal yang berlabuh sudah kosong dan redup, tapi kota Konoha yang menyala dengan cemerlang menjadi latar belakang pemandangan, cahaya lampunya yang megah memantul di air. Langit masih memancarkan semburat jingga matahari terbenam, semburat cahaya yang mungkin akan hilang dalam hitungan menit. Tapi saat ini, seluruh kota tampak bersinar.
Aku sudah curiga di mana kami akan makan sekarang, kecurigaanku menjadi kenyataan saat Sasuke tiba-tiba berhenti dan merentangkan lengannya untuk menghentikanku.
"Tidak apa-apa kalau kita makan di sini?" tanyanya.
Tidak ada meja. Tidak ada kursi, tidak ada pelayan; hanya tanah, dekat rel baja, air, dan kota. Tapi, di sini sepi—hampir tidak ada orang yang berjalan ke area ini pada malam hari—dan terlebih lagi, ini sempurna.
Aku mengangguk. Sasuke melepas jaketnya dan membentangkannya ke tanah untukku agar aku bisa duduk di atasnya, aku berusaha protes. Aku sudah memakai pakaian yang sempurna untuk duduk di tanah, tapi dia tidak mau mendengar ucapanku.
Aku melepas sepatuku dan meletakan kakiku di tepi jalan setapak yang terbuat dari beton. Sasuke melakukan hal yang sama, tapi sepatunya masih terpasang, dan rel baja tinggi di belakangku berada pada ketinggian yang sempurna untuk menopang sikuku.
Selagi aku mengagumi pemandangan, Sasuke mulai membongkar makan malam kami. Dia mengeluarkan sebotol anggur, wadah berisi tiram, kaki kepiting, dan wadah terakhir yang penuh dengan udang kupas. Masih ada wadah tertutup lain yang belum dia keluarkan, dan aku rasa itu makanan penutup kami.
Botol anggur sudah dibuka—atas permintaannya, aku rasa—dan dia menuangkannya ke dalam dua buah gelas plastik. Aku menaikan alisku saat dia menyerahkan segelas anggur padaku.
"Mereka tidak mau menjual gelas anggur padaku dan aku tidak sempat berpikir untuk membawa gelas sebelum kita berangkat," ucapnya dengan nada meminta maaf. Aku tersenyum.
"Jangan khawatir. Ini sempurna," ucapku cepat-cepat meyakinkan. Karena ini benar, siapa yang lebih memilih untuk minum anggur di gelas kaca yang mudah tumpah dan pecah? Aku lebih memilih untuk minum dari gelas plastik.
Kami mulai makan sambil mengobrol ringan. Sasuke membantuku mematahkan kaki kepiting, dan aku merasa senang, karena aku selalu kerepotan dibuatnya. Aku tidak pernah mengerti kenapa kami harus membayar tiga ratus ribu yen untuk seember kaki kepiting dan kemudian harus bekerja keras sampai meneteskan keringat untuk mendapatkan dagingnya.
Kami bicara mulai dari sekolah ke masalah pekerjaan sampai pada Sai dan Ino. Dia menunjukkan gigi palsunya padaku. Aku menunjukkan padanya bekas luka di kakiku karena terkena lelehan lem panas saat berumur sembilan tahun.
"Apa kau selalu bermimpi punya perusahaan sendiri?" aku akhirnya bertanya, penasaran.
"Tidak, aku dulu ingin menjadi pemain bisbol profesional," jawabnya.
"Gigi palsu membuatmu patah semangat, ya?" ucapku menggodanya, dan dia menyeringai menatapku.
"Asal kau tahu saja, Sakura Cantik, semua gadis di sekolahku langsung mendekatiku dan mencoba untuk mendapatkanku setelah kecelakaan itu terjadi. Punya gigi patah adalah hal terbaik dalam hidupku."
Dia bercanda, aku pikir begitu, tapi entah kenapa saat mendengarnya menyebut gadis-gadis lain, aku masih merasa tergganggu. Saat aku menundukkan kepalaku, melihat tanganku, dia langsung menyentuh daguku, memaksaku untuk menatapnya.
"Aku hanya bercanda, Sakura," ucapnya serius. "Aku kehilangan dua gigiku. Kau benar-benar berpikir ada seorang gadis yang mau mendekatiku?"
Aku mungkin masih mau mendekatinya, tapi aku tidak mengatakan ini padanya.
"Ya, aku rasa begitu." Oke, mungkin aku sedikit mengatakannya.
"Percayalah, Sakura. Mereka sama sekali tidak mau mendekatiku. Aku sering bolos sekolah dan mencoba untuk tidak membuka mulutmu saat di sekolah."
"Sayang sekali. Kalau saja aku bisa melihat fotonya."
"Jadi, bagaimana denganmu?" tanyanya. "Kau pasti juga punya cerita yang sama memalukannya sepertiku."
Aku berpikir sejenak.
"Aku menghadiri sebuah pesta kolam renang dan ternyata pakaian renangku tembus pandang," ucapku pelan, dan mulutnya menganga kaget.
"Apa kau masih memilikinya?" tanyanya, bersemangat, dan aku menahan diri untuk memukul keningku dengan putus asa, walaupun sebagian dari diriku merasa sedikit terangsang karena reaksinya.
"Umurku masih dua belas tahun saat itu," ucapku dengan enggan mengakuinya. Dan ini sama sekali tidak seksi.
Seperti dugaanku, Sasuke meringis, kegembiraannya surut dengan cepat. "Oh."
"Maaf," aku meminta maaf dengan serius. Dan kemudian aku tergelak, karena ini lucu, aku baru saja meminta maaf untuk hal yang paling memalukan dalam hidupku. Sasuke terkekeh, jelas menangkap ironi ini.
Kami terdiam sesaat. Kemudian aku menambahkan, "Aku dulu mengompol sampai usiaku tujuh tahun. Aku tidak bisa menginap di rumah temanku."
Sasuke tersenyum. "Aku dulu takut vampir dan berpikir satu-satunya cara untuk mencegah mereka masuk ke kamarku di malam hari adalah dengan tidur sambil menyilangkan tangan di atas dadaku."
Aku tertawa terbahak-bahak. Setelah tawaku usai, aku melanjutkan, "Aku kabur dengan sahabatku saat berusia delapan tahun. Kami bertelanjang kaki dan berjalan sejauh satu kilometer sebelum kaki temanku terkena serpihan kayu dan bersikeras agar kami kembali ke rumah."
"Saat Rin berusia tiga tahun, aku menguncinya di lemari pakaian ibuku dan lupa dia masih berada di sana selama satu jam."
"Aku mematahkan raket tenis ayahku dan menyalahkan sepupuku yang lebih tua. Aku duduk di sana dan menonton ayahku memarahinya dan aku masih belum mengaku sampai sekarang."
"Aku dulu fans berat Celine Dion."
"Saat ibuku menghangat mobilnya di pagi hari, aku selalu menunggu asap knalpot dan menari di dekatnya seperti penari Solid Gold."
Pengakuanku ini membuat Sasuke tertawa terbahak-bahak, sampai-sampai wajahnya memerah dan dia hampir tidak bisa bernapas. Aku ikut tertawa bersamanya—tawanya menular—tapi, aku merasa seperti orang paling bodoh di planet ini.
"Aku akan membayar berapapun untuk melihat fotonya!" ucapnya sambil tersedak. "Berapa usiamu waktu itu?"
"Entahlah... mungkin sekitar tujuh tahun..." ujarku, berusaha menutupi kebenaran. Kemudian aku teringat dengan janji kami untuk saling jujur dan dengan cepat berkata, "Baiklah! Aku berumur sepuluh tahun waktu itu. Apa kau senang sekarang?"
Ini hanya membuatnya tertawa lebih keras.
Kami tinggal di sana dan mengobrol selama berjam-jam setelah itu. Sekarang sudah larut malam dan kami berdua harus bekerja besok pagi, tapi tak seorang pun dari kami ingin berpisah. Kami juga merasa lega—terlalu gembira—karena kehadiran masing-masing, sampai-sampai tidak lagi memedulikan hal lain.
Kami makan sepotong cheesecake untuk hidangan pencuci mulut. Sasuke menyuapiku, dan aku melihatnya menatap mulutku lama. Jadi, tidak mengherankan beberapa menit kemudian, dia berbisik bertanya padaku.
"Boleh aku menciummu, Sakura?"
Aku merindukan hari di mana kami merasa begitu nyaman, hari di mana dia tidak merasa perlu untuk bertanya, namun aku juga menikmati momen ini.
Nuansa bibirnya di bibirku kali ini bisa dibilang adalah ciuman terbaik yang pernah kulakukan. Aku memutar jari-jariku di rambutnya, kemudian menjalankannya di lehernya, ke rahangnya. Aku mendesah saat bibir kami terbuka dan lidahnya bergerak membelai lidahku.
Aku bersandar mendekatinya, sampai-sampai aku terlihat sepertinya sudah duduk di pangkuannya. Bukannya aku keberatan, tapi ini masih area publik dan aku masih ingin menjalankan hubungan ini dengan perlahan. Ya, aku rasa begitu.
Aku sudah sangat kelelahan saat kami akhirnya meninggalkan tempat ini, aku bahkan tertidur di mobilnya. Aku membiarkan lenganku beristirahat di konsol tengah, tangan Sasuke dengan lembut menggenggam tanganku, dan ibu jarinya dengan manis membelai jari-jariku.
Aku tidak ingat kapan berjalan naik tangga menuju apartemenku, tapi aku ingat saat berbaring di tempat tidur, aku menarik kemeja Sasuke, memaksanya untuk bergabung denganku. Tubuhnya melayang di atas tubuhku, sebelah kakinya masih berada di lantai dan sebelah lututnya berada di tempat tidur, dia mengecup bibirku beberapa kali sebelum berusaha melepaskan genggaman tanganku dari kemejanya dan melangkah pergi.
Aku membisikan selamat malam dalam kegelapan, terlalu mengantuk untuk memastikan dia sudah pergi atau belum, tapi aku yakin aku masih tersenyum saat tertidur.
Keesokan harinya, pekerjaan berlalu dengan cepat. Aku bahkan tidak merasa lelah karena kurang tidur, dan setiap waktu yang membosankan diisi dengan memikirkan Sasuke atau kata-katanya yang tertulis dari pesan singkatnya.
Dia berkendara menuju Konoha malam itu dan kami kembali pergi keluar, tapi kali ini aku menata rambutku dan memakai rok. Dan kami duduk di meja, di sekitar orang banyak. Ini lebih baik dari malam sebelumnya.
Tidak ada lagi kecanggungan. Tiba-tiba saja hanya ada aku dan dia—dua orang biasa yang sedang berkencan biasa tanpa ada perasaan bersalah yang membawa kami turun.
Aku ingin mengundangnya kembali ke apartemenku malam ini, tapi aku tidak berani melakukannya. Aku tidak akan mampu mengendalikan diriku kalau aku benar-benar mengundangnya.
Tapi, malam ini berakhir menjadi malam terpanjang di dalam hidupku. Aku berbaring gelisah di tempat tidurku dan bolak-balik ke dapur setidaknya empat kali sebelum akhirnya tertidur.
Sasuke tinggal di Konoha malam ini, dan keesokan harinya dia datang ke apartemenku untuk sarapan. Aku rasa pengendalian diriku di siang hari akan jauh lebih baik, tapi setelah melihatnya mengenakan kaos polo berwarna abu-abu yang membuat matanya terlihat semakin dalam, aku tiba-tiba merasa tidak begitu yakin lagi.
Aku memasak daging asap, telur, dan pancake. Aku bahkan menyajikan semangkuk buah potong. Aku tidak terbiasa membuat sarapan mewah seperti ini, tapi perasaanku sedang senang dan gugup, dan aku yakin Sasuke tidak pernah sarapan dengan donat ditaburi gula dan kopi pahit.
Kami tidak meninggalkan apartemenku setelah sarapan. Dia membantuku mencuci piring, dan kemudian kami menonton film sambil duduk di sofa. Atau lebih tepatnya, film menjadi latar belakang saat aku menjejalkan lidahku ke dalam tenggorokannya dan melepas baju kaosnya.
Dia sepertinya tidak keberatan. Terutama saat dia menyenggolku untuk mundur, dan aku berbaring, dan dia berbaring di atasku hanya mengenakan celana jins dengan kancing yang sudah terbuka.
Tanganku menjelajahi setiap inci tubuhnya—lengan, bahu, leher, dan punggungnya. Bibirnya meninggalkan jejak panas di kulitku, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengerang dan melengkungkan punggungku setiap kali merasakan sentuhannya.
Setiap sel tubuhku menginginkan pria ini. Aku merindukannya. Aku merasa jarak kami tidak pernah cukup dekat—aku mencakar dan menarik bagian belakang celana jinsnya, menariknya ke tubuhku. Ereksinya menekanku, di sana, membuat kami berdua mengerang bersama.
Tekadku dari dua malam sebelumnya telah terbang keluar jendela, bahkan tidak melirik ke belakang sedikitpun untuk memastikan aku baik-baik saja.
Tidak ada keraguan yang tersisa di dalam pikiranku. Aku akan berhubungan seks hari ini, dengan Sasuke, atau mati karena tersiksa menahan birahi.
Tapi, saat aku mengangkat pinggulku dari sofa, sudah tidak sabar untuk melepas celana pendekku, Sasuke tiba-tiba saja membeku.
"Apa kau yakin kita sudah siap untuk ini, Sakura?"
Aku membeku, celana pendekku sudah turun setengah jalan, sampai di bawah pahaku. Denyut ereksi Sasuke menekanku, keras penisnya bahkan tidak dapat dipendam dengan material yang menghalangi tubuh kami. Kami berdua terengah-engah, dadanya dengan ringan menekan dadaku.
Aku tidak yakin bagaimana harus menjawab pertanyaan itu. Aku tidak ingin berpikir tentang apa kami sudah siap atau belum, aku hanya ingin berfokus pada perasaanku saat ini.
Dan aku terangsang. Sangat terangsang. Terangsang selama sebulan diakumulasikan dengan kenyataan aku tidak pernah merasakan kejantanan seorangpun di dalam vaginaku membuatku semakin kesulitan menahan birahi.
Tidak, aku tidak ingin membicarakan ini sekarang.
"Apa yang kau bicarakan?" tanyaku bingung. Aku tidak bisa benar-benar berfokus pada percakapan yang koheren saat ini.
"Entahlah, aku hanya... Aku tidak ingin mengacaukan ini. Dan kau bilang kau ingin mengambil langkah perlahan, kan? Aku ingin kau tahu, ini bukan hanya sekadar seks bagiku, Sakura. Maksudku, aku menginginkanmu—Oh, Tuhan, aku sangat menginginkanmu—tapi, aku tidak ingin kau berpikir aku hanya menginginkan ini. Apa ucapanku terdengar masuk akal?"
Ya, ucapannya benar-benar masuk akal, apalagi mengingat masa lalu kami beberapa minggu lalu.
"Ya, masuk akal," ucapku setuju. "Tapi, aku percaya padamu sekarang. Kau ingat?"
Perasaan lega membanjiri wajahnya dan dia mengulum bibirku.
Tapi, dia benar. Kami mungkin bergerak terlalu cepat. Dan aku bukan tipe gadis yang duduk-duduk sambil berfantasi tentang omong kosong ini sepanjang hari, tapi aku juga tidak pernah membayangkan kami bercumbu untuk pertama kalinya di sofa seperti anak sekolahan.
Saat akhirnya dia menarik diri, dia menjelajahi leherku dengan bibirnya, dan aku malu-malu menambahkan, "Dan kita tidak harus berhubungan seks, kau tahu. Kita bisa melakukan... hal-hal yang lain." Untuk memastikan dia memahami proposisi ini hanya bersifat sementara, aku cepat-cepat menambahkan, "Untuk saat ini."
Aku merasakan senyumnya di leherku. "Bersabar sedikit, ya?"
"Tutup mulutmu."
"Aku seharusnya bersantai dan membiarkanmu menyentuhku sesuka hatimu saat aku punya kesempatan."
"Berhenti bicara," ucapku memarahinya. "Mulutmu seharusnya melakukan hal-hal lain sekarang."
Tangannya dengan mudah melesat masuk ke dalam celana dalamku dan dua jarinya menyelinap di antara bibir vaginaku, dia mulai menggerak-gerakannya, dan semua pembicaraan kami langsung berhenti. Aku mengerang keras dan melengkungkan punggungku saat menyambut sentuhannya, dan aku menarik-narik rambutnya agar bisa menahan diri.
Mulutnya terbukti punya banyak kelebihan. Dan kali ini, dia mengizinkanku untuk membalas "jasa"-nya.
Kemudian, setelah mengulangi pertunjukan semula, kami memutuskan untuk menuju ke tempat tidurku agar posisi kami lebih nyaman. Dia membawaku ke kamar, tapi berhenti setelah mengambil dua langkah ke dalam.
Kakiku terkunci di pinggangnya, bibirku mengecup leher dan rahangnya, tapi aku segera menarik diri untuk melihat apa yang tiba-tiba menarik perhatiannya.
Dia menatap karpet The Big Lebowski-ku sambil tersenyum lebar.
Wajahku langsung memanas. Aku membentangkan karpet itu di lantai kamar tidurku, dengan asumsi karpet itu lebih cocok disandingkan dengan selimut biruku daripada material gelap sofaku. Dan itu memang benar. Tapi, ukuran karpetnya terlalu lebar, salah satu ujungnya melengkung di dinding.
Aku bertanya-tanya apa Sasuke mengira aku seperti orang gila karena benar-benar menggunakannya. Aku penasaran apa dia mengira aku akan melakukan hal normal yang dilakukan gadis-gadis lainnya, diam-diam menyingkirkan barang-barang jelek.
"Jadi, kau suka dengan karpetnya," ujarnya, dan aku bisa mendeteksi sedikit kesombongan di dalam suaranya, seolah-olah dia satu-satunya orang yang pernah membelikanku replika karpet menakjubkan dari film The Big Lebowski.
Oke, memang dia satu-satunya orang yang pernah membelikanku karpet seperti ini.
Aku mencoba untuk bermain dengan humornya. "Kau tidak tahu betapa aku sangat menyukainya," aku bernapas di telinganya. "Mungkin kalau kau berbaring di atasnya, aku akan benar-benar akan menyentuhmu sesukaku."
Aku bercanda, sedikit, tapi Sasuke terlihat serius mempertimbangkan ide ini. Dan ini membuatku tertawa.
"Apa?" tanyanya, bingung.
"Tidak ada apa-apa," jawabku. "Turunkan aku." Aku sudah tidak sabar, siap untuk mengulum bibirnya lagi. Dia membaringkanku di atas tempat tidur dan dia berbaring di atasku pada saat yang bersamaan, tangan kirinya tidak pernah meninggalkan pinggulku, tangan kanannya sudah tersembunyi di bawah baju kaosku.
Aku berhasil, dengan cukup sukses, untuk tidak berhubungan seks dengan Sasuke, dan aku menganggap ini adalah suatu prestasi yang mengagumkan. Ini benar-benar menguji pengendalian diriku, yang sebenarnya sangat kurang. Tapi, dengan pengendalian diriku yang sedikit digabungkan dengan pengendalian diri Sasuke, kami berhasil menghindari seks.
Walaupun aku ingin dia menginap di apartemenku, tapi aku tidak memaksanya untuk ikut berbaring bersamaku saat dia menyelimutiku di tempat tidur dan memberitahuku dia akan pulang. Sebelumnya aku tertidur di sofa, kurangnya tidur selama dua malam akhirnya membuatku kecapean.
Dia bilang dia akan menemuiku lagi besok, dan ini membuatku merasa lega.
Hari berikutnya kami bertemu untuk minum kopi dan sarapan, dan menonton pemutaran film pertama di bioskop. Saat filmnya berakhir, kami berjalan di sepanjang pelabuhan, sambil mengobrol dan menikmati sinar matahari pagi.
Saat aku melihat tempat penyewaan skuter, aku tiba-tiba merasa malu. Dia mengikuti arah tatapanku dan mulai tertawa.
"Mau menyewa skuter lagi?" candanya. Atau setidaknya aku harap dia hanya bercanda.
"Kau bercanda?" Aku mengangkat lenganku yang masih digips. "Tangan ini harus sembuh sebelum dipatahkan lagi, oke?"
"Kalau kau seorang pengemudi yang baik, kau tidak akan perlu khawatir untuk mencium trotoar lagi."
Aku terkesiap dan mendorongnya menjauh. "Tutup mulutmu, Sascakes! Ereksimu menusuk bokongku dari belakang dan itu menggangguku. Kenapa kau ini?"
"Kenapa?" tanyanya polos. "Aku duduk di belakang seorang gadis cantik yang menekan tubuhku. Itu reaksi normal."
"Ya, normal bagi seorang kakek mesum," ucapku main-main.
"Kalau perempuan bisa ereksi, kau akan terus ereksi di setiap kencan kita," tantangnya.
Bayangan ini memenuhi kepalaku. Tapi, ini sedikit lucu. Dan mungkin juga benar, shannaro.
"Kau terlalu sombong," ucapku mengejeknya.
Dalam sebuah gerakan cepat, kakiku sudah terangkat dari tanah dan dia mendudukkanku di atas pembatas jalan, sekarang mataku sejajar dengan Sasuke. Logam pembatas jalan sedikit menusuk pantatku, tapi begitu Sasuke melangkah di antara kakiku, aku tidak lagi peduli.
"Oh, benarkah?" tanyanya nakal, suaranya terdengar jauh lebih menggoda dari yang seharusnya. Wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajahku.
"Ya, benar," aku bernapas di bibirnya. "Sekarang, tutup mulutmu."
Dia sengaja menekan ereksinya di selangkanganku saat dia mengulum bibirku.
Aku ingat tentang kolam air panas di rumah Sasuke dan bersikeras agar kami pergi ke rumahnya untuk berendam di sana. Tidak mengherankan lagi, tidak butuh banyak bujukan sebelum Sasuke mengantarku ke apartemen untuk mengambil pakaian renang. Kemudian dia berkomentar, "Kau tahu, kau sebenarnya tidak diharuskan untuk memakai pakaian renang."
Aku memutar mata, namun pada kenyataannya, berendam telanjang di kolam air panas dengan Sasuke terdengar sangat menggoda. Aku menutup rapat pahaku dan tetap diam.
Di rumahnya, kami tidak langsung menuju kolam air panas. Dia menuangkan segelas anggur dan aku melihat-lihat ke sekeliling ruangan. Ini bukan pertama kalinya aku datang di sini, tapi aku tidak memerhatikan betul tempat ini sebelumnya. Rumah ini lebih kecil daripada rumahnya di Suna, dan masih tetap menawarkan lebih banyak ruang daripada yang dibutuhkan satu orang penghuninya.
Rumah ini bahkan tidak terlalu tertata, tapi masih cukup berselera dalam kesederhanaannya. Dinding dicat dengan warna tenang dan dihiasi oleh lukisan biasa, yang didominasi warna hitam dan putih. Meja dapur terbuat dari granit gelap dan bersih dan kulkasnya kosong, hanya ada beberapa makanan tahan lama di sana. Di ruang tengahnya, sofa terlihat nyaman dan menggoda; tidak ada jejak bokong permanen seperti sofa tua di apartemenku.
"Kau bisa naik ke lantai atas untuk mengganti pakaianmu kapanpun kau mau," ucapnya sambil berjalan keluar dari dapur. Dia membawa gelas anggurnya dan menyeruputnya pelan saat berjalan mendekatiku. Aku berlama-lama berdiri di sekitar TV-nya, susunan CD-nya serumit susunan CD-nya di Suna, walaupun koleksinya tidak sebanyak di sana.
"Kenapa kau punya dua rumah?" tanyaku. Mungkin aku sudah pernah bertanya sebelumnya, tapi aku tidak ingat jawabannya.
"Rumah memberiku kenyamanan," jawabannya terdengar sederhana. "Ini jauh lebih mudah daripada harus tinggal di hotel saat aku datang ke Konoha."
"Kenapa tidak apartemen saja?" tanyaku lagi. "Bukankah itu lebih murah?"
Dia berjalan mendekatiku, tidak berhenti sampai kami hanya berjarak beberapa inci. "Jauh lebih bijaksana untuk memiliki properti kalau kau mampu membelinya, Sakura. Tidak ada keuntungan dengan memiliki apartemen."
"Aku punya apartemen," jawabku bingung. Tentu saja, dia tahu ini—kami menghabiskan waktu di sana kemarin. Tapi, aku merasa perlu untuk membela diri. "Tapi, apartemen lebih mudah untuk didapat di sekitar sini. Aku tidak akan pernah bisa membeli tempat seperti. Apalagi dua."
"Kau akan kaget. Tergantung dengan pada apa yang akan kau beli, kalau kau menghitungnya lebih teliti dalam jangka waktu yang lama, membeli rumah akan jauh lebih hemat daripada menyewa."
Tiba-tiba aku sadar kami sedang berdiri di tengah-tengah ruang tengahnya membicarakan persoalan real estate di saat aku seharusnya basah kuyup dan telanjang dan bercumbu dengannya. Apa yang kupikirkan?
Aku meletakan gelas anggurku dan mengambil pakaian renangku, lalu cepat-cepat berjalan menuju tangga. "Baiklah, aku akan mengganti pakaianku," ucapku. Aku menghilang masuk ke kamar mandi dan beberapa menit kemudian aku mendengar langkah kakinya menyusuri lorong, dia juga sedang mengganti pakaiannya.
Aku sangat berusaha keras untuk tidak membayangkan Sasuke yang telanjang, tapi belum apa-apa aku sudah merasa kepanasan membayangkan Sasuke yang akan basah-basahan, dan akhirnya aku menyerah. Aku mengganti pakaianku, mengikat longgar rambutku, dan kemudian membalut tubuhku dengan salah satu handuk tebal, mewah miliknya sebelum berlari menuruni tangga.
Aku keluar lewat pintu belakang sambil sedikit berharap dia sudah menunggu di sana, tapi satu-satunya gerakan yang ada hanyalah gelembung air di kolam air panas.
Aku memutuskan untuk masuk ke kolam, dengan cara ini aku bisa berbaring sambil merentangkan lenganku dengan santai di pinggir kolam dan menggodanya untuk bergabung denganku. Atau semacam itulah. Tapi, begitu aku melepas handukku, dan memasukan sebelah kakiku dengan canggung ke dalam kolam, pintu belakang mengayun terbuka dan dia melangkah ke teras.
Aku melompat kaget, kakiku yang sudah berada di dalam air tergelincir. Aku jatuh ke dalam kolam renang, wajahku tenggelam karena aku sekuat tenaga mengangkat lenganku yang masih digips tinggi-tinggi ke udara, gipsku harus tetap kering agar aku terhindar dari rumah sakit. Bokongku mencuat ke udara saat aku berusaha mendapatkan kembali pijakanku.
Aku bahkan belum keluar dari kekacauan ini dan aku sudah merasa sangat dipermalukan.
Tangan Sasuke hampir seketika meraih pinggangku, menarikku untuk berdiri tegak dan keluar dari keadaan mengerikan ini. Aku terengah-engah, berterima kasih pada Tuhan karena masih membiarkan gipsku tetap kering, dan Sasuke tidak henti-hentinya bertanya apa aku baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja, aku baik-baik saja," ucapku meyakinkannya. Meskipun selangkanganku mendarat di pinggir kolam dengan cukup keras, dan membuatku percaya aku punya ereksi, seperti kata Sasuke sebelumnya, karena aku merasa sakit di sana. Tapi, akan cukup aneh untuk membahas kesalahan bodoh ini lagi dan memilih untuk tetap diam.
Begitu dia yakin aku baik-baik saja, dia mulai tertawa. "Oh, Tuhan, kau benar-benar tidak sabaran!"
Memalukan sekali.
"Bukan seperti itu," ucapku membela diri, aku bisa merasakan wajahku sudah mulai memerah. "Kau mengangetkanku."
"Kau masuk ke kolam terlalu cepat. Kau bahkan tidak menungguku..."
"Itu kecepatan normalku," ucapku berbohong. "Kau belum pernah melihatku masuk ke dalam kolam air panas sebelumnya."
"Mungkin sebaiknya aku memasang tanda-tanda peringatan," candanya. Dia berjalan di sekelilingku, meluncur ke dalam kolam renang terlebih dahulu, kemudian menarikku turun agar aku bisa berdiri di antara kakinya. Posisi ini membuatku nyaman, tapi gips sialan ini seperti menghalangi jalan dan aku tidak tahu harus menempatkan lenganku di mana. Untuk memperbaiki situasi, Sasuke mengalungkan lenganku di sekitar kepalanya, dan aku mengistirahatkan gipsku di belakang bahunya.
Aku mungkin terlihat seperti orang bodoh dalam posisi ini.
"Gips sialan," gumamku. "Aku akan sangat senang waktu gips ini dilepas."
"Aku mulai bertanya-tanya kapan kau pernah tidak digips," ucapnya serius, dan aku mengejeknya.
"Ya, kalau kau sudah lupa, aku tidak digips saat bertemu denganmu."
"Kau benar."
Kami duduk diam selama beberapa menit dan akhirnya aku mulai bersantai. Tubuh Sasuke terasa keras di punggungku, tangannya yang kokoh membelai lembut sisi dan pinggulku. Tangannya kemudian berpindah ke pahaku, merasakan setiap kulit yang tidak dilapisi bikini, dan kakiku terbuka secara otomatis.
Sasuke mengecup telingaku, kemudian leherku, lalu bahuku.
Tangan kiriku masuk ke dalam air dan meraih tangannya, meletakannya di perutku. Dari sana, aku perlahan-lahan menurunkannya, semakin jauh ke bawah, sampai ke atas celana bikiniku. Dengan sedikit bujukan, tangannya tergelincir masuk ke dalam kain, di antara lipatan vaginaku yang sudah sensitif.
Aku mengerang keras. Ini terdengar memalukan, tapi sepertinya dia tidak peduli, dia menikmati ini sama sepertiku. Gerakannya perlahan dan disengaja, mulai dari atas ke bawah, dia tidak pernah memasukkan jarinya ke dalam vaginaku, tapi sensasi yang ditimbulkan membuatku ingin mencakar sisi kolam, putus asa mencari pegangan.
Walaupun aku sangat menikmati ini, tapi ini tidak cukup bagiku. Aku menginginkannya, aku ingin tubuh kami saling bersentuhan antar kulit ke kulit. Aku ingin melihatnya dan menyentuhnya dan merasakannya.
Tapi, aku tidak bisa menghentikan ini. Rasanya begitu menakjubkan, dia menyentuhku dan membuatku semakin dekat dan lebih dekat mencapai klimaks, aku terengah-engah menyebut namanya dan menegang di bawah sentuhan jari-jarinya. Dia memelukku erat-erat saat aku mencapai klimaks, menciumi leherku dengan mesra.
Tubuhku benar-benar lemah bersandar di tubuhnya, untunglah aku tidak perlu bergerak, aku butuh waktu untuk pulih. Napasku masih terengah-engah, dan setelah orgasme, aku merasa air di kolam terasa begitu panas.
Aku memutar tubuhku, menopang lututku di kedua sisi pinggangnya, dan mengangkat sebagian tubuhku sendiri keluar dari air. Angin yang berhembus terasa menyejukan. Dia menatapku, matanya terlihat semakin dalam, dan aku perlahan-lahan menggodanya dengan bersandar ke depan dan mencium bibirnya. Tidak ada bagian lain dari tubuh kami yang bersentuhan.
Dia meraih pinggangku, menarikku ke tubuhnya dan ke tonjolan di selangkangannya yang sudah mengeras dari tadi. Aku menjerit saat aku kembali terendam air panas dan aku bisa merasakan senyum di bibirnya saat dia menciumku.
Dia kembali serius, memelukku erat ke pangkuannya. "Aku sangat menginginkanmu," bisiknya, napasnya memburu di bibirku. Aku menggesek ereksinya dan menikmati sensasi ini.
"Bawa aku," bisikku, mendesaknya. Aku menginginkannya—tidak ada keraguan dalam pikiranku. Sekalipun dia menarik penisnya keluar sekarang, dalam air mendidih ini, aku mungkin akan melompat memuaskan birahiku seperti kelinci.
Dia mengerang di dalam mulutku, aku tidak yakin ini respon yang baik atau buruk.
"Jangan menggodaku," erangnya, dan aku ingin menjerit.
Menggodamu? Aku memohon padamu!
"Sasuke, aku mohon."
Aku merogoh celana renangnya. Menggenggam penisnya, dan aku mulai memompanya perlahan. Matanya sedikit terpejam dan kemudian dia mencondongkan tubuhnya ke depan, menyerang leherku dengan bibirnya. Dia menggigit dan mengisap dan menciuminya, gerakannya bersemangat dan terasa putus asa.
"Jangan terlalu banyak berpikir, Sasuke," ucapku memohon. "Aku tidak ingin kau terlalu menganalisis semuanya. Aku hanya menginginkanmu."
"Sial," keluhnya, tapi dia tidak marah. Mungkin frustrasi seksual, karena aku juga merasakannya.
Dia cepat berdiri, tangannya memeluk pinggangku dan membawaku bersamanya. Aku memeluk erat tubuhnya, membungkus kakiku di sekeliling pinggangnya agar aku tidak tergelincir ke bawah, dan akhirnya kami keluar dari kolam air panas.
Tangannya menyentuh seluruh tubuhku, mulai dari wajahku, dadaku, perutku dan sisiku. Dia melumat bibirku dengan ganas, kami berdua tersandung sampai akhirnya punggungku menempel di dinding. Tanganku meluncur dengan mudah di kulitnya yang basah, mulutku tidak pernah berpisah dari mulutnya saat kami terus berciuman terburu-buru.
Dia menyelipkan tangannya di bawah atasan bikiniku, dan dengan mudah membukanya dan membuat payudaraku terekspos. Dia menunduk dengan cepat, mengecup, menggigitnya dengan pelan dan menghisapnya, dan aku menekan tubuhku ke dinding di belakangku, sambil melengkungkan pungungku ke arah sentuhnya dan mengerang.
Setelah beberapa saat kemudian, aku meraih celana renangnya dan mulai menarik turun, ingin melepaskannya. Tapi, kemudian tangannya tiba-tiba memegang tanganku, menghentikanku.
"Sakura," napasnya terengah-engah, "Aku tidak ingin kau berpikir kita terlalu tergesa-gesa..."
Kenapa dia masih bicara? Aku meraih bagian belakang kepalanya dan melumat bibirnya dengan keras, membungkam argumen yang tersisa.
Kali ini, dia menarik tali dari celana renangnya untukku, melonggarkan karet pinggangnya, dan seluruh tubuhku langsung mengantisipasi apa yang akan terjadi berikutnya saat melihat celananya meluncur melewati pinggulnya.
o0o
Sasuke POV
Gadis cantik ini, yang jari-jarinya sedang memegang erat rambutku—menarik-nariknya dengan putus asa, seperti tidak bisa menemukan tempat untuk memuaskannya—hampir tidak bisa kutangani. Aku tidak pernah merasakan nafsu seperti ini, ini seperti merasakan kerinduan dan keinginan untuk mengklaim seseorang menjadi milikku. Dan walaupun aku ingin menjalani hubungan ini perlahan, untuk memenuhi keinginannya sebelum ini, tapi aku tidak bisa mengendalikan diriku.
Aku mendorongnya ke dinding, mencium setiap inci kulit lembutnya yang bisa kutemukan. Begitu celana renangku terlepas, tangannya yang hangat langsung memegang penisku.
Aku mendesis di bahunya.
"Oh, Sakura," napasku terengah-engah. Ini membuatnya semakin terdorong, membuat cengkeramannya semakin ketat, dan dia memompa penisku naik-turun.
Aku rasa kejantananku tidak pernah sekeras ini sebelumnya.
Sejenak kami tetap seperti ini, aku menciumi kulitnya selagi dia terus memompa penisku. Aku sangat ingin berada di dalam tubuhnya, sampai-sampai aku membayangkan memutar tubuhnya dan bercinta di sini, di teras. Atau melepas semua bikininya dan menggendongnya sampai ke pinggulku, dan mengklaim tubuhnya ke dinding.
Tapi, aku ingin melakukan ini dengan benar. Aku kemudian membuka pintu belakang dan meraih tangannya.
"Ayo masuk, Sayang," bisikku di bibirnya, mendesaknya secara bersamaan, tapi kami tidak pernah melepaskan diri saat dia berjalan mundur melewati pintu dan menarikku bersamanya. Aku memasang celana renangku kembali agar bisa berjalan, tapi payudara Sakura tetap terbuka dan ini membuatku tidak bisa berkonsentrasi.
Kami sudah sampai di dapur, perasaan ini sama mendesaknya seperti saat berada di teras tadi, dan aku tidak tahu bagaimana caranya kami bisa membuat perjalanan menuju kamar tidur kalau terus seperti ini. Saat dia mencoba untuk menyelip tangannya kembali ke dalam celana renangku, aku menghentikannya.
"Tangga, Sayang, tangga," aku mendesaknya. Kalau tidak, aku akan mengklaimnya di sini, di meja dapur.
Dia mengangguk dan bergegas ke tangga, menarikku bersama, tapi saat kami baru sampai di pertengahan tangga, terdengar suara ketukan panik di pintu depan.
Kami berdua membeku. Jantungku berpacu liar dan mata Sakura melebar.
"Siapa itu?" tanyanya khawatir. Tamu tidak diundang ini mengetuk seperti polisi, dan pikiran pertamaku adalah ada orang yang mengintip pertunjukanku dan Sakura barusan dan memutuskan untuk melapor pada polisi. Tapi, apa benar polisi bisa secepat itu sampai ke sini?
Sakura dengan cepat berjalan mengitariku dan mengambil pakaian renangnya dari lantai sebelum memasangnya kembali.
"Tunggu saja di lantai atas," ucapku padanya, aku bersumpah akan menyingkirkan penyusup ini secepat mungkin. Dia mengangguk, dan menghilang menaiki tangga.
Penyusup ini kembali mengetuk saat tanganku sudah memutar kenop pintu. Dan aku kaget, penyusup ini tidak lain dan tidak bukan adalah seorang janda tua tetanggaku, Nenek Chiyo.
Aku penasaran apa dia melihat pertunjukan gratis kami tadi, tapi aku merasa lega saat mendengar ucapannya.
"Sasuke! Syukurlah. Maukah kau datang ke tempatku? Rumahku kebanjiran!"
Aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan, tapi penisku sudah melunak dan dia bersikeras agar aku ikut bersamanya. Aku berteriak pada Sakura aku akan segera kembali dan mengikuti Nenek Chiyo keluar pintu. Dia berjalan dengan tergesa-gesa, melewati tanaman perdu pembatas halamanku dengan halaman miliknya, dan terus bicara tentang anaknya yang tinggal lima belas menit dari sini, dan rumahnya mungkin akan tenggelam saat anaknya sampai di sini.
Dan dia benar; rumahnya kebanjiran. Ada yang rusak pada mesin cuci dan air terus mengalir dari bawahnya seperti bendungan pecah. Karpetnya memercikan air di bawah kakiku yang telanjang dan dapurnya sudah seperti sungai.
Aku menarik mesin cuci dari dinding dan mencabutnya, tapi sudah jelas bukan itu permasalahannya. Aku pergi mematikan pusat airnya sebelum air akhirnya berhenti.
Airnya mengucur sangat keras, sampai-sampai keheningan yang datang setelahnya terasa memekakkan telinga.
Nenek Chiyo berjalan sambil mengomel. Air terus memercik di bawah kakinya dan kaki celananya sudah basah sampai ke lutut. Sepertinya aku berpakaian yang tepat untuk pekerjaan ini, tapi tetap saja aku hanya mengenakan celana renang.
"Aku bersyukur kau ada di rumah malam ini, Sasuke," ucapnya. "Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan. Tidak mungkin aku bisa memindahkan mesin cuci itu sendiri!"
"Tidak masalah, Nenek Chiyo," ucapku dengan sabar, tapi jujur saja, satu-satunya yang ada di pikiranku sekarang adalah kembali ke Sakura. Aku membayangkannya sedang berbaring di tempat tidurku, rambutnya terurai membingkai wajah cantiknya, dan aku ingin menggelamkan diriku di dalam dirinya dan tidak pernah kembali.
Tapi, aku tidak bisa pergi. Nenek Chiyo sedang mengambil handuk, membungkuk dengan lutut reumatiknya untuk membersihkan kekacauan ini, dan aku tidak bisa menjadi tetangga yang menyebalkan dan meninggalkannya begitu saja dalam situasi ini.
Jadi, aku membantunya. Kami menggunakan setiap handuk di rumahnya dan ini masih tidak cukup. Aku kembali ke rumahku untuk mengambil handuk, dan Sakura sudah menunggu di depan pintu saat aku masuk. Dia sudah mengenakan pakaiannya.
"Apa yang terjadi?" tanyanya cemas, dan aku menceritakan kejadian di rumah Nenek Chiyo dengan singkat. Aku mengenakan baju kaosku, kemudian mengumpulkan lebih dari setengah lusin handuk, dan bersiap untuk kembali ke rumah Nenek Chiyo, tapi Sakura bersikeras untuk ikut bersamaku.
"Kau tidak harus ikut, Sakura," ucapku, berusaha agar dia tidak merasa bersalah karena menunggu di sini. "Aku tidak akan pergi terlalu lama."
"Tidak apa-apa," ucapnya sambil mengambil beberapa helai handuk dari tanganku. "Aku ingin ikut bersamamu. Aku juga bisa membantu." Dia mengikutiku melintasi halaman, tanpa alas kaki.
Walaupun kekacauan sedang terjadi, tapi mata Nenek Chiyo langsung menyala saat melihat Sakura. "Dan siapa gadis cantik ini, Sasuke? Aku belum pernah melihatnya."
Sakura terlihat tidak nyaman, tapi dia tersenyum pada Nenek Chiyo.
"Ini Sakura," aku memperkenalkan mereka. "Sakura, ini Nenek Chiyo."
Aku tidak memperkenalkan Sakura menggunakan label apa-apa, karena aku tidak tahu apa hubungan kami sebenarnya. Kami belum membicarakan hal ini. Teman sepertinya tidak tepat, mengingat aku berencana untuk memasukan penisku ke dalam vaginanya. Tapi, dia juga bukan pacarku—setidaknya, dia tidak bilang dia pacarku. Belum lagi, memikirkan ini semua membuatku berkeringat.
Sial. Kenapa aku merasa seperti ini? Kenapa aku tiba-tiba bungkam dan ragu? Aku ingin menjadi yang terbaik bagi Sakura dan aku ingin menjadi orang yang pantas untuknya, tapi sepertinya ini mustahil karena ada perasaan sesak di dadaku yang tidak membiarkanku bernapas dengan tenang, apalagi berfokus untuk bagaimana caranya mendapatkan seluruh kepercayaannya.
Nenek Chiyo mengambil sebagian handuk dari tangan Sakura dan tersenyum ramah. "Senang bertemu denganmu, Sayang. Aku tidak pernah melihat Sasuke dengan seorang gadis sebelumnya. Aku mulai khawatir dia merasa kesepian."
Nenek Chiyo lebih parah dari Bibi Keiko. Tapi, aku tidak memutar mataku, karena aku takut dia akan melihatnya dan menjewer kupingku.
Sakura melihat ke arahku. Dia berlutut di dapur, membersihkan lantai yang kebanjiran, dan dia tersenyum ragu saat tatapan kami bertemu.
Dan hanya itu yang kubutuhkan. Senyumnya—sederhana saja, sedikit senyumannya—membuatku berhenti bernapas, dan aku tahu semua usaha dan perjuanganku tidak akan berakhir sia-sia.
Anak Nenek Chiyo datang beberapa menit kemudian dan mengambil alih pekerjaan kami. Lantai dapur sudah hampir kering, tapi air masih merembes dari karpet kotornya. Nenek Chiyo menempatkan handuk basahku di kantong plastik dan meminta maaf lagi dan lagi karena tidak bisa mencucinya sendiri.
Sakura dan aku berjalan berdekatan, tangan kami saling bersinggungan. Aku sudah bisa merasakan penisku mulai mengeras lagi, tapi pada saat ini aku yakin momen sebelumnya telah menghilang dan mulai lagi dari awal sepertinya akan sedikit canggung. Dan mungkin memang hubungan kami berjalan terlalu cepat. Mungkin interupsi dari Nenek Chiyo barusan adalah hal yang bagus untuk kami.
Aku meninggalkan kantong plastik berisi handuk di teras depan. Aku akan berurusan dengan handuk kotor ini nanti. Untuk saat ini, Sakura sedang berada di sini dan kami akhirnya sendiri dan aku akan melakukan apa pun yang dia inginkan, aku miliknya.
Setelah masuk, dia berdiri di ruang tengah dan dengan gugup menggosok lengannya. Dia tersenyum malu-malu.
"Aku tidak menyangka kejadian barusan akan terjadi," ucapnya. Aku tahu apa maksudnya.
Aku menggaruk bagian belakang kepalaku. "Aku minta maaf, Nenek Chiyo hidup sendirian. Suaminya meninggal dua tahun yang lalu..."
"Tidak apa-apa, Sasuke."
Aku mencoba untuk tidak memikirkan apa yang akan kami lakukan saat ini seandainya Nenek Chiyo tidak datang mengetuk pintu. Aku mencobanya, tapi aku gagal, dan tonjolan di celana pendekku membuktikannya. Sakura menarik napas dalam-dalam.
Satu detik berlangsung dengan canggung. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan atau katakan atau apa kami seharusnya melanjutkan aktivitas sebelumnya atau menonton film atau pergi keluar untuk makan es krim atau melakukan hal konyol lainnya. Namun, di detik berikutnya, aku sudah menyentuh seluruh tubuhnya. Aku mendorongnya ke dinding, sebelah tanganku berada di lehernya dan sebelah lagi berada di pinggulnya saat aku mencium, mengulum kulitnya dan menariknya semakin dekat ke pelukanku. Dia melepas bajuku dan melemparkannya ke lantai.
Aku kemudian melepas bajunya. Dia masih mengenakan bikini di bawah pakaiannya dan dengan satu tarikan, bagian atas bikininya mengendur dan lepas dengan mudah.
Dia dengan cepat membuka kancing celananya, tapi aku sudah tidak sabar ingin merasakannya. Aku menggeser tanganku ke pahanya dan pinggulnya. Tanganku berlama-lama di bawah material celananya, dan bagian bawah bikininya menciptakan penghalang di antara kulitku dan kulitnya.
Aku menariknya keduanya turun.
Dia sudah berdiri telanjang sebelum aku. Dan dengan satu tarikan cepat dari tali celana pendekku, kami berdua sudah saling bersentuhan, kulit terhadap kulit, pria terhadap wanita, ketulusan melawan kebenaran. Aku menjalarkan tanganku di punggungnya, ke pinggangnya, dan dalam satu gerakan cepat aku mengangkat tubuhnya.
Dia terengah-engah saat kakinya mengunci pinggangku. Aku mendorongnya ke dinding, menciumnya dengan ganas, dan aku bisa merasakan panas dan lembab di antara kedua kakinya saat bergerak melawan penisku.
Aku biasanya orang yang sabaran, tapi tidak sekarang. Aku merasa seperti sudah menginginkan ini—menginginkannya—selama bertahun-tahun, dan satu gangguan kecil tidak akan cukup untuk mengusir keinginan ini. Kebutuhan ini.
Bibirku pindah ke rahangnya, ke lehernya, ke bahunya. Napasnya semakin terengah-engah menerpa kulitku, dan aku tahu dia juga menginginkanku sebanyak aku menginginkannya, dan pemikiranku ini dikonfirmasi saat dia meraih penisku. Dia sedikit bergeser, mencari ruang agar bisa memasukan penisku ke dalam liang vaginanya.
"Kita sebaiknya pergi ke kamar," ucapku terengah-engah, tapi kata-kata yang kuucapkan sepertinya tidak berguna.
Dia menggeleng dan kata-katanya sendiri terdengar seperti desahan. "Tidak, Sasuke. Aku belum pernah melakukan ini, tapi aku sudah lelah menunggu."
"Tapi... kita perlu... kondom ..." Aku mencium dan menggigit bahunya dia antara kata-kataku.
"Apa kau percaya padaku?"
"Oh, Tuhan, tentu saja."
Dia terus meraba-raba, sampai akhirnya aku berkata, "Sakura, biar aku saja." Dia melepaskan pegangannya dari penisku dan aku menggerakannya pelan-pelan ke liang vaginanya. Aku terus menatap wajah Sakura, mencari-cari tanda dia merasakan kesakitan. Matanya sedikit terpejam dan dia menggigit bibir bawahnya. Aku berhenti bergerak, kejantananku belum sepenuhnya masuk.
"Teruskan, Sasuke," bisiknya.
Aku terus bergerak perlahan dan berbisik, "Aku minta maaf, Sakura." Aku minta maaf, karena menurut kabar yang kudengar, bagi wanita pengalaman pertama terasa menyakitkan. Tapi, bisa saja tidak terlalu sakit karena banyaknya "pelumas", aku sedikit penasaran apa Sakura sudah cukup basah atau belum. Tapi, saat merasakan kehangatan himpitan vaginanya membuatku kesulitan berpikir.
"Ayolah, Sasuke," ucapnya lagi. Dan dengan satu hentakan, seluruh kejantananku masuk. Aku tidak bisa menghentikan eranganku dan meletakan kepalaku di lehernya. Aku diam sejenak.
"Kau kesakitan, Sayang?" tanyaku. Dia menggeleng.
"Sedikit, tapi sebaiknya kau jangan bergerak dulu." Aku menuruti ucapannya, vaginanya berdenyut-denyut di sekeliling penisku, aku merasa kewalahan untuk tetap diam. Tapi, aku akan melakukan apa saja untuknya. Aku mengatup gigiku erat-erat. Beberapa saat kemudian, dia akhirnya mulai menggerakan pinggulnya. Aku sudah tidak tahan lagi, aku bergerak perlahan.
Dan kami berdua mengerang.
Aku semakin mendorongnya ke dinding. Dia terasa hangat dan sempit dan erangan penuh kenikmatannya memenuhi telingaku. Dengan jari-jarinya yang memilin rambutku, dia menuntun wajahku ke wajahnya dan menciumku dengan keras.
Aku menahan keinginan untuk mendorong penisku kuat-kuat, takut dia akan merasa kesakitan lagi. Tumitnya terasa menggali punggungku dan kukunya mencakar kulitku.
Tapi, aku tidak bisa melihatnya dengan posisi seperti ini.
Aku memeluk pinggulnya erat-erat saat aku berpindah dari dinding, mencari tempat di mana aku bisa membaringkannya dan melihat tubuh kami bersatu—mencari tempat di mana aku bisa menjalarkan tanganku di seluruh kulitnya, dan memuja setiap lekuk tubuhnya. Walaupun aku ingin membawanya ke kamar tidur, aku tidak begitu yakin bisa membawanya dengan posisi seperti ini—tubuh kami masih menempel, kejantananku terasa hangat berada di dalam tubuhnya—dan menaiki tangga, dan lagi pula tidak seorangpun dari kami bersedia untuk berpisah.
Meja dapur adalah tempat terdekat. Aku mendudukkannya di pinggir meja dan dia langsung melepas bahuku. Sebelah tangannya menopang tubuhnya. Aku kembali menciumnya, ciuman ini tidak sehiruk-pikuk sebelumnya. Ciuman ini terasa manis, sedikit lebih tenang. Aku mendorong penisku keluar-masuk dan hampir seketika dia mengerang di bibirku, tangannya memeluk leherku.
"Kau menakjubkan," bisiknya padaku.
Aku membalasnya dengan gerakan lambat.
"Oh, Tuhan, Sasuke," erangnya, melemparkan kepalanya ke belakang, dan ini membuatku merasa semakin panas karena melihatnya dengan posisi seperti ini, aku mendesah, dan mencium tenggorokannya.
Aku menggeser pinggulnya, menariknya semakin dekat ke pinggir meja. Dia terengah-engah dan hampir mencapai orgasme, begitu pula aku. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan, dan aku berusaha memikirkan Sai dan gergaji listrik Killer Bee dan apapun yang bisa menunda orgasmeku, tapi semua ini sia-sia. Dia terasa begitu menakjubkan, dan aku sudah menginginkan ini begitu lama.
Aku menyentuh klitorisnya, membuat tubuhnya menegang dan aku memohon agar dia cepat merasakan orgasme. Akhirnya dia memejamkan matanya erat-erat, tubuhnya melengkung ke arahku, dadanya menyentuhku saat dia mendesahkan namaku dan mencapai klimaks. Aku terus memeluknya, mencegahnya agar tidak jatuh, dan setelah beberapa saat kemudian, aku menyusul klimaksnya. Dia kemudian menyentuh pipiku, dan mengecup bibirku saat kami beristirahat di ujung meja.
Keringat yang bercucuran melapisi tubuh kami berdua. Tubuh Sakura sudah seperti agar-agar dalam pelukanku, dan pada saat aku melepaskan pelukanku, dia kemudian merentangkan tangannya dan pelan-pelan berbaring di atas meja. Napasnya masih terdengar memburu, aku mulai merasa khawatir.
"Kau tidak apa-apa?" tanyaku.
Dia tersenyum sambil memejamkan matanya. "Mengagumkan," ucapnya.
"Kau tidak kesakitan, kan?"
"Jangan terlalu memikirkannya, Sasuke. Nanti rambutmu ubanan," jawabnya. Dia terlihat seperti baru saja mengalami seks terbaik dalam hidupnya, dan meskipun aku berusaha keras untuk tidak menyeringai, tapi melihatnya seperti ini membuatku tidak bisa menahan seringaianku.
Saat aku menariknya, dia berkata, "Uh oh! Ada hal lain lagi yang membengkak sekarang."
Aku bingung pada awalnya, tapi kemudian aku mengerti. Dia bicara tentang kepalaku.
"Aku tidak mengatakan apa-apa," protesku sambil tertawa.
Dia duduk dan menempatkan tangannya di bahuku, menarikku kembali ke pelukannya. Kami berciuman, ciuman yang lambat dan lembut.
"Kau tidak perlu mengatakan apa-apa," bisiknya. "Aku bisa melihatnya di matamu."
"Aku akan menutup mataku saat kita melakukannya lagi nanti."
"Jangan berani-berani melakukan itu."
Kami kembali berciuman. Aku tidak pernah merasa puas.
Saat aku membantunya turun dari meja dan dia mengernyit, gelombang rasa bersalah kembali menghantamku. Aku seharusnya bersikeras agar kami pergi ke kamar. Aku seharusnya bersikeras agar kami mengambil langkah perlahan, menikmati waktu.
Dia tidak layak mendapatkan perlakukan hiruk-pikuk dan tergesa-gesa seperti tadi. Dia tidak pantas menerima dinding yang keras dan meja yang dingin. Dia pantas menerima hal yang manis dan lambat dan romantis. Apalagi ini pengalaman pertamanya. Dia pantas untuk kupuja.
Aku menarik rambutku dengan frustasi. "Aku minta maaf," ucapku tiba-tiba, dan Sakura langsung berputar melihatku. Dia sedang mencari pakaiannya yang terletak beberapa meter dari tempat kami bercinta barusan.
Ada kepanikan di matanya. "Untuk apa?"
"Kita seharusnya tidak melakukannya seperti itu," jelasku. "Kita seharusnya... Aku seharusnya membawamu ke tempat tidur."
Dia terlihat rileks, dan aku bingung dengan reaksi ini. Apa dia pikir aku menyesal karena ini?
"Yeah, kau seorang pria," candanya, membungkuk untuk meraih pakaiannya. "Kita semua tahu, pria itu lemah."
Dia ingin mengganti topik pembicaraan. Aku bisa melihatnya.
Aku mengikutinya dan mengambil celana pendekku dan memasangnya. "Aku tidak menyesali apa yang baru saja kita lakukan, Sakura," aku meyakinkannya. "Atau bagaimana kita melakukannya. Aku hanya tidak ingin kau menyesal. Ini seharusnya istimewa."
Dia berbalik menatapku, dan kali ini dia terlihat tersinggung. "Ini istimewa. Setidaknya, untukku," protesnya, dan sekarang aku merasa seperti orang bodoh.
"Oh, sial, Sakura. Bukan itu maksudku," aku buru-buru minta maaf. Aku menariknya ke dalam pelukanku, dan untungnya dia tidak menghindar. Dia meleleh ke dalam pelukanku. "Ini istimewa. Aku bahkan ingin melakukannya seperti itu lagi dan lagi. Tapi, aku tidak ingin suatu saat nanti kau kembali memikirkan ini dan berharap seharusnya ada bunga dan pemandangan matahari terbenam dan lilin dan—"
"Sasuke?"
"Ya?"
Dia melihat ke arahku. Dia tersenyum. "Kau terlalu banyak berbicara. Kita baru saja selesai bercinta dan aku lelah. Sekarang, aku mohon, berhentilah khawatir seperti perempuan dan tutup mulutmu."
Aku menghela napas, tapi aku lega. Dia benar—aku terlalu banyak khawatir. Dia tidak marah, jadi kenapa aku harus marah pada diriku? Ini seks terbaik yang pernah kulakukan.
"Tidak ada hal yang tradisional di antara kita," lanjutnya. "Hal-hal romantis itu bagus, tapi orang-orang biasanya menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mengkhawatirkan apa romantisme mereka sudah cukup atau belum. Dan aku benar-benar akan mati kalau harus menunggu lagi. Nenek Chiyo orangnya baik hati, tapi dia sudah kucap sebagai penghalang mulai sekarang."
Aku menyeringai. Aku akan melakukan apa saja untuk gadis ini.
Kami memutuskan untuk menonton film di lantai atas. Aku tidak punya banyak pilihan di sini, tapi dia mengambil sebuah film dan membawanya ke kamarku. Dia berhenti berjalan saat melihat kepala ranjang baruku dan menyeringai.
"Kau punya kepala ranjang yang cukup mengesankan," komentarnya. "Dan aku lihat tidak ada sedikitpun celah. Tidak ada borgol yang bisa dipasangkan di sini."
Dia benar, tapi bukan itu alasan kenapa aku membelinya. Tapi, mungkin saja alam bawah sadarku memikirkan itu.
"Yep. Tidak ada celah. Sama sepertiku," candaku sambil menyeringai. Dan apa lagi yang harus kukatakan? Malam kami begitu indah, dan aku tidak ingin membicarakan topik yang bisa merusaknya.
Dia sepertinya berpikiran sama denganku. Dia merangkak ke tempat tidur tanpa berkomentar apa-apa. Dia membuka selimut agar aku bisa bergabung dengannya, tapi aku bilang padanya aku mau mengganti pakaianku. Aku hampir membawa pakaianku ke kamar mandi, tapi kemudian aku membuka pakaianku di depannya.
Sakura memerhatikanku lekat-lekat, seolah-olah dia mendapat pertunjukan gratis.
"Ooh, dan aku meninggalkan semua pakaianku di lantai bawah," candanya. Tapi, aku bisa melihat panas di matanya, dan sebagian diriku ragu kami akan benar-benar menonton film. Dan sebagian dari diriku yang lain senang karena ini.
Tapi, ternyata kami menonton film. Setidaknya, selama lima belas menit. Lalu dia berguling dan bergelung di sampingku, mengusap dadaku. Aku hanya mengenakan boxer dan ini sangat menggangguku, tapi aku tidak menghentikannya. Aku tidak akan berani menghentikannya.
Sentuhannya membuat kejantananku mengeras. Tapi, untungnya—atau tidak untung sama sekali—selimut menyembunyikan ereksiku.
Sakura berpura-pura menonton film, aku tahu itu. Bagaimana dia bisa melakukannya? Menonton film ada di urutan paling bawah di dalam pikiranku sekarang.
Aku akhirnya membalikan tubuhku, kami sekarang saling berhadap-hadapan. Aku membelai rambutnya. Mata kami saling terkunci saat kami berciuman dengan lembut, namun kemudian intensitas sedikit bertambah, dan kemudian aku menggeser tanganku ke bokongnya dan menariknya ke pelukanku.
Sejenak, kami tetap seperti ini, hanya berciuman dan saling menikmati. Kemudian aku kembali berbalik dan berbaring di atasnya, aku menumpukan berat badanku di siku di sampingnya, dan celananya turun dengan mudah segera setelah kancingnya terbuka. Dia mendorong turun boxer -ku sejauh yang dia bisa, dan segera setelah penisku keluar, aku kembali bercinta dengannya.
Gerakan kami tidak tergesa-gesa sekarang. Tidak ada rasa panik ataupun putus asa. Gerakanku lambat dan penuh perhitungan, pinggulnya terangkat bertemu dengan pinggulku, dan kejantananku tetap di dalam tubuhnya saat dia membuka bajunya dan melemparkannya ke samping.
Saat dia memintaku memompa lebih kuat, aku menguatkan gerakanku. Saat dia mencakar punggungku, aku bergerak lebih cepat. Saat dia melebarkan kakinya, aku semakin memperdalam gerakanku. Aku menopang sebelah kakinya dengan lenganku, menenggelamkan diriku di tubuhnya sejauh yang kubisa, dan saat dia melengkungkan punggungnya dan menjeritkan namaku, aku mengikutinya.
Dia jatuh tertidur meringkuk di sampingku, dan aku tidak bertanya apa dia ingin menginap malam ini di sini atau tidak. Ini seperti hadiah. Dan aku tidak yakin aku akan membiarkannya pergi.
Aku mungkin menatapnya tidur selama berjam-jam. Film sudah kembali diputar secara otomatis, tapi tetap saja aku tidak bisa tidur. Aku tidak marah. Aku terus berpikir ini adalah bagian yang hilang dalam hidupku—ini bagian yang kubutuhkan dalam hidupku. Dan aku tidak sadar aku bicara keras-keras sampai dia semakin merapat ke sisiku dan tersenyum di dadaku sambil bergumam, "Aku juga."
o0o
to be continued
o0o
