Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto

Author : Hani Yuya

Judul : Yume no mirai

Rate : M for save

Pairing : Sasusaku, Gaasaku.

Gendere : Au,Ooc,Romance,Drama

Chap 7 - Arti Sebuah Ikatan

Note : Makasih buat para reader yang udah baca karya gajeku ini. Aku ga bisa sebut satu-satu maaf ya, aku minta maaf updatenya kebangetan lama. Gomen ne, tapi bakal kulanjutt sampe akhir, tadinya mau kubuat ini chap akhir, tapi idenya muncul lagi. Mungkin 1 sampai 2 chap lagi cerita ini bakal tamat. Utangku masih banyakkk, moodku sering berubah dan waktu suka ga ada buat nulis. Sekali lagi maksih buat silent reader dan reader yg udah komen, dan maaf jika ceritaku ga sesuai sama keinginan kalian. Ok kayaknya notenya kepanjangan. Langsung aja DLDR ^^

.

.

Tok Tok Tok

Pemuda berhelai Raven tak henti-hentinya mengetuk pintu secara kasar. Aura membunuh menguar dari tubuhnya. Amarahnya memuncak tak dapat lagi di bendung.

Krek

"Sasuke-kun?" sosok seorang gadis ber-manik lavender dengan rambut hitam panjangnya sebatas pinggang membuka pintu yang sejak tadi di ketuk Sasuke.

"Dimana HANABI!" ujarnya kasar penuh penekanan ketika menyebut nama adik gadis bermanik lavender itu.

Gadis cantik dengan helaian hitam panjang itu menaikkan alis heran. Ia bertanya-tanya dalam hati 'untuk apa Sasuke mencari adiknya? Ditambah lagi dengan wajahnya yang tak bersahabat' innernya bingung.

"DIMANA HANABI! jangan buat aku marah Hinata, suruh dia kemari menghadapiku!" ujarnya dengan nada tinggi. Membuat Hinata bergidik ngeri. Dia yakin pasti Hanabi telah melakukan hal buruk sehingga Sasuke semarah ini padanya.

Ia hanya tau adiknya itu sangat mengagumi Sasuke, tapi sayangnya gadis cantik kekasih Naruto itu tak tau tingkah laku adiknya yang buruk di universitas.

"Oi, teme kenapa kau berteriak! Suaramu terdengar sampai dalam, ttebayo." tiba-tiba Naruto sahabat baik Sasuke muncul dari dalam rumah itu, seperti nya dia sedang berkunjung ke rumah kekasihnya, "lalu kenapa kau berteriak memanggil Hanabi?" lanjutnya heran.

"Tch, ini semua tak ada hubungannya denganmu Dobe."

"Hei, aku berhak tau karena dia adik kekasihku, ttebayo."

"Tck, kau menyebalkan Dobe, tukang ikut campur!" Sasuke menyelonong masuk tanpa permisi.

"Oi Oi Teme berhenti! Apa yang akan kau lakukan ha!" Naruto dan Hinata menyusulnya dari belakang.

"KELUAR KAU HANABI! KAU HARUS BERTANGGUNG JAWAB ATAS SEMUA PERBUATANMU PADA SAKURA!" teriak Sasuke dengan suara lantang. Suaranya sampai terdengar di seluruh penjuru rumah.

Hanabi yang berada di dalam kamarnya di lantai 2 pun tersentak kaget ketika mendengar suara Sasuke yang terdengar cukup keras dengan nada marah. Ia mengunci kamarnya rapat-rapat, lalu mondar-mandir tak jelas di dalam. Tubuhnya bergetar, bulu kuduknya meremang. Habislah dia! ia tak menyangka kasus ini akan cepat diketahui oleh Sasuke.

Ditambah lagi ia datang marah-marah ke rumahnya, kalau begini kakaknya Hinata pun akan tau semua hal buruk yang telah ia lakukan selama ini di kampus.

"Teme, sebenarnya apa yang terjadi? apa yang Hanabi lakukan sehingga kau semarah ini? Dan siapa Sakura?" Naruto berusaha menenangkan Sasuke dan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.

"Tanyakan saja sendiri padanya nanti Dobe, alasan kenapa dia berusaha melukai Sakura-calon istriku, bahkan hampir membunuhnya." jawab Sasuke sarkastik.

"Uso!" Hinata dan Naruto tersentak kaget ketika mendengar penuturan Sasuke, Hinata yang paling syok disini. Ia hampir terhuyung jatuh kalau Naruto tak cepat-cepat menangkapnya.

"Kau tidak apa-apa Hinata-chan?" ujar Naruto panik melihat wajah pucat kekasihnya.

"Hanabi tak mungkin melakukan ini Sasuke -kun, ia anak baik-baik." sangkal Hinata. Sedangkan Sasuke tersenyum mengejek.

"Tch, aku kasihan padamu Hinata, bahkan kau tak tau tingkah laku adikmu yang sudah lama mengusik kehidupanku. Selama ini aku diam karena aku tak peduli tentang sikapnya yang selalu menyingkirkan semua gadis yang mencoba mendekatiku. Tapi kali ini aku tak akan tinggal diam karena adikmu sudah berani menyentuh gadis yang selama ini aku tunggu kehadirannya. Dia calon istriku! aku tak akan pernah melepaskan orang yang telah berani melukainya."

Liquid bening jatuh menetes di pipi ranum gadis bermanik lavender itu, ia menggeleng-gelengkan kepalanya guna menyangkal semua kenyataan yang dikatakan Sasuke tentang adiknya. Ia menoleh menatap Naruto mencari tau kebenarannya dan berharap semua perkataan Sasuke salah. Pemuda blonde itu mendesah panjang, lalu membalas tatapan kekasihnya sendu.

"Maaf Hinata-chan, selama ini aku merahasiakan tentang Hanabi padamu. Aku dan Sasuke sudah sepakat tak memberitahumu, karena selama ini Sasuke tak merasa dirugikan atas sikap Hanabi. Tapi mungkin kali ini Hanabi telah membuat kesalahan yang fatal." jelas Naruto.

"A-apa? Ja-jadi selama ini hanya aku yang tak tau tentang sikap buruknya di kampus! kukira kabar yang beredar tentangnya di kampus hanya sekedar kabar burung yang tak benar. Ternyata...hiks, aku gagal mendidiknya sebagai seorang kakak." Hinata menangis terisak. Naruto yang tak tega melihat kekasihnya menangis memeluk tubuh Hinata erat tanpa bicara apapun.

Sasuke mendesah frustasi, yang ia inginkan hanya bertemu Hanabi dan membuat perhitungan dengannya bukan membuat kekasih sahabatnya menangis. Ia sedikit menyesali perbuatannya yang sudah berkata kasar pada gadis sulung klan Hyuuga itu.

"Dimana Hanabi? Aku hanya ingin bertemu dengannya." lanjutnya lagi.

Naruto dan Hinata saling melempar pandang. Hinata tak ingin terjadi hal buruk dengan adiknya kalau ia bertemu dengan Sasuke. Sedangkan Naruto tak ingin Sasuke mengamuk di rumah kekasihnya ini.

"Teme, tentang Hanabi sebaiknya kita serahkan semuanya pada Hinata. Biar dia yang bicara dengannya." ujar Naruto meredahkan amarah Sasuke.

"Kumohon Sasuke-kun, akan kupastikan dia menyesali perbuatannya dan meminta maaf pada kekasihmu." pinta Hinata dengan nada parau.

Sasuke tertawa sinis,"tch, maaf saja tak cukup Hinata, IA HAMPIR MEMBUNUH KEKASIHKU!" teriaknya lagi.

"Teme, tenanglah!sudah kubilang serahkan semua pada Hinata-chan. Kumohon~" mohon Naruto. Shappirenya menatap Onyx Sasuke tajam meminta pengertian darinya. Sebelah tangan Naruto mencengkram pundak Sasuke kencang.

Sasuke menatap balik Naruto lalu mendesah panjang, biar bagaimanapun ia tak ingin membuat Naruto susah atas masalahnya ini, "baiklah, biar kalian yang urus." Sasuke menepis kasar tangan Naruto dari pundaknya,"tapi sampaikan padanya, jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Mengerti."

"Ya." jawab Hinata bernafas lega.

Tanpa basa-basi Sasuke melenggang pergi meninggalkan Hinata dan Naruto disana. Naruto memandang Sasuke nanar.

"Puk," Hinata menepuk pundak Naruto,"pergilah Naruto-kun, sepertinya dia membutuhkan seseorang untuk bersandar." ujarnya seraya tersenyum tipis.

"Bagaimana denganmu?" Naruto bimbang karena keduanya orang yang penting baginya.

"Aku bisa menanganinya sendiri, kau tak perlu cemas."

"Baiklah, jika terjadi sesuatu langsung hubungi aku." dengan langkah besar ia menyusul Sasuke. Berulang kali ia berteriak memanggil Sasuke yang beberapa langkah berada di depanmya namun tak di hiraukan olehnya.

Sasuke terus melangkah menuju mobilnya tanpa menoleh ke belakang. Kakashi dengan cekatan membukakan pintu mobil untuk Sasuke.

"Oi,teme tunggu aku ttebayo!"

Sret... Naruto masuk ke dalam mobil dan duduk disamping Sasuke tanpa permisi. Membuat sang empu menyuguhkan deathglare mematikan pada pemuda blonde itu.

"Ayolah teme, jangan menatapku seperti itu."

"Tck, mau apa lagi kau mengikuti Dobe!"

"Kau berhutang satu cerita padaku tentang gadis bernama Sakura-calon istrimu itu. Lagipula wajahmu seperti orang yang ingin menangis, jika kau mau dengan senang hati kupinjamkan tubuhku ini Sasuke. hehehe." ujarnya seraya memamerkan cengiran rubahnya dan melebarkan kedua tangannya.

Ctak, perempatan siku tercetak jelas di pelipis Sasuke.

"Menangis katamu?!" aura membunuh menguar dari tubuh Sasuke,"SIAPA YANG INGIN MENANGIS HA! AKU MALAH INGIN MEMBUNUH ORANG SAAT INI JUGA," ujarnya dengan nada tinggi penuh penekanan. Membuat Naruto bergidik ngeri dan menggeser duduknya menghimpit pintu mobil. "Tck, kalau bicara yang aneh-aneh lagi kubunuh kau Dobe! Cepat jalan Kakashi aku lelah dan ingin istirahat di rumah." perintahnya.

"Baik tuan muda."

Naruto diam tak bergeming, sesekali ia melirik sahabat ravennya yang sejak tadi tak berhenti mendesah dan memijit keningnya melalui sudut matanya. Kakashi pun diam-diam melirik Sasuke dari kaca spion di depannya. Mereka berdua tau, keadaan Sasuke sekarang benar-benar-benar sangat buruk. Naruto tak pernah melihat Sasuke semarah dan sekacau ini sebelumnya. Karena biasanya Sasuke jarang bicara dan cuek. Hanya gara-gara seorang gadis ia berubah 180 derajat, Naruto sungguh penasaran dibuatnya.

.

.

.

.

Di dalam ruangan bercat pink itu, gadis bersurai pink yang sedang bersedih itu duduk melamun menyender tembok dengan kedua kakinya di tekuk dan menenggelamkan wajahnya disana.

'Aku tau ini semua akan terjadi, semua yang kutakutkan selama ini akhirnya datang. Kau benar-benar meninggalkanku Sasuke-kun disaat kau tau sosok asliku yang penuh akan gumpalan lemak ini. Tapi aku tak bisa menyalahkanmu seutuhnya, ini juga salahku karena sudah terlanjur mencintaimu meski tau akan seperti ini jadinya. Aku bagaikan pungguk merindukan rembulan.'

Air matanya terus mengalir membasahi wajah porselinnya yang chubby itu. Tangannya menggenggam kalung perak liontin warisan keluarganya dengan erat. Berkat kalung itulah ia bertemu dengan Sasuke, pemuda yang sudah mengikat hatinya.

Kreekk

Seorang pemuda berwajah baby face membuka pelan daun pintu kamarnya. Perlahan ia berjalan menghampiri Sakura yang masih menangis di dekat jendela. Sasori mendesah panjang dan duduk disampingnya.

"Kau benar-benar serius akan keputusanmu Sakura? pernikahan bukanlah sebuah permainan, kau tak bisa berhenti di tengah jalan meski kau menyesal nantinya. Lagipula perasaan tak bisa dipaksakan, bukan?" Sasori membuka pembicaraan, ia mencoba membujuk Sakura untuk mempertimbangkan kembali keputusannya. Bukan berarti dia memihak Sasuke, ia pun marah kepada pemuda raven yang seenaknya meninggalkan adiknya ketika ia tau sosok aslinya ia tak ingin adiknya hidup dalam penyesalan jika menikah dengan Gaara meski ia tau pemuda merah itu sangat mencintai adiknya apa adanya.

"Tapi aku sudah memutuskannya nii-chan, andai aku tak betemu dengannya pasti sekarang aku sudah hidup bahagia dengan Gaara. Tapi sayangnya takdir berkata lain, aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya. Sulit sekali menghilangkan bayangannya dari benakku." ujarnya lirih.

"Tapi jika diteruskan akan banyak orang yang terluka Sakura. Kau harus pikirkan juga perasaan Gaara, ia akan menjadi orang yang paling terluka nantinya."

Sakura tak membalas kalimat terakhir yang diucapkan Sasori. Ia tau keputusannya adalah sebuah kesalahan, menikah dengan Gaara teman masa kecilnya itu sama saja menoreh luka pada pemuda merah itu. Karena sampai kapanpun hatinya tak bisa berpaling dari Sasuke.

'Aku tau itu Sasori-nii... aku yang paling tau soal itu, bagaimana perihnya ketika orang yang kita cintai tak membalas mencintai kita. Sebuah luka yang tak kasat mata dan tak bisa di obati dengan obat atau apapun itu. Luka itu akan terus membekas sampai kapanpun dan hanya waktu yang bisa mengobatinya.' batinnya.

Tanpa mereka sadari Gaara yang sejak tadi berdiri di balik daun pintu kamar Sakura mendengarkan pembicaraan mereka berdua sejak tadi. Awalnya ia ingin menghibur Sakura yang sedang bersedih, tapi ia tak menyangka malah mendengar hal yang sangat ingin dia hindari saat ini. Kenyataan bahwa Sakura tak akan pernah berpaling dari Sasuke.

Wajahnya tertunduk tangannya mengepal erat. Ingin sekali rasanya ia berteriak sekeras -kerasnya menumpahkan rasa sesak di dalam dadanya. Takdir memang kejam, padahal ia yang paling dekat dengan Sakura dulu. Dialah satu-satunya orang yang selalu ada di sampingnya, tapi kenapa gadis yang ia cintai melebihi hidupnya itu malah jatuh cinta pada pemuda yang baru ia temui dalam jangka waktu yang sangat pendek. Ini gila ~ Sakura cinta mati pada pemuda raven itu saat pandangan pertama.

Gaara tak habis pikir, padahal ia berusaha keras menjadi sosok yang diinginkan sang gadis. Ia mengorbankan waktunya hanya untuk mewujudkan impian sang gadis. Ia merasa dicampakkan, dibuang dan dilupakan begitu saja ketika sang gadis bertemu dengan Sasuke dan menganggap pemuda itu bak seorang pangeran lalu melupakan janjinya begitu saja. Padahal wajah tampan dan pesona yang dimilikinya juga tak kalah dari pemuda raven itu.

"Gaara bisa bicara sebentar?" sebuah suara menyadarkan lamunannya. Ia menoleh dan mendapati Tsunade berdiri disana.

"Hn, baiklah."

"Sebaiknya kita bicara di tempat lain."

Gaara mengangguk dan mengikuti Tsunade yang berjalan di depannya. Wajahnya masih terlihat sedih, Tsunade yang sesekali melirik Gaara dari sudut matanya hanya bisa mendesah panjang.

.

.

.

Hari begitu cepat berlalu, baru kemarin Sakura memutuskan untuk menikah dengan Gaara dan hari ini dia sudah mengenakan pakaian pengantin. Dia terlihat cantik dengan pakaian pengantinnya, tubuhnya yang gemuk akan buntalan daging dan lemak itu terlihat sedikit menyusut karena ia memakai dress panjang dengan perpaduan warna hitam dan merah.

Sasori yang memilihkan warna pada dress yang di pakai Sakura. Biasanya seorang pengantin wanita memakai dress berwarna putih polos namun Sakura berbeda, Sasori tau warna putih tak cocok digunakan adiknya dengan lipatan lemak di bagian perutnya karena Sakura akan terlihat lebih besar jika memakai dress itu.

Karena itu Sasori memilih warna dasar hitam dengan perpaduan warna merah agar Sakura terlihat sedikit ramping. Ditambah hiasan bando berbentuk bunga mawar yang menghiasi rambutnya serta sedikit polesan make up di wajahnya, kini Sakura terlihat amat cantik meski tubuhnya tak berbentuk layaknya gitar Spanyol namun paras wajahnya yang cantik sekarang mampu membius siapa saja yang melihatnya.

Upacara pernikahan diadakan di kediaman keluarga Sakura, banyak tamu undangan yang datang menghadiri pesta pernikahan ini. Sakura masih belum keluar dari kamarnya sejak tadi ia duduk tak bergeming sedikitpun di depan kaca meja rias. Emeraldnya memandang sendu kotak perhiasan yang didalamnya terdapat kalung perak liontin berbentuk hati warisan keluarganya itu.

Ia memutuskan tidak akan pernah memakai kalung itu lagi dan menghapus perasaannya terhadap Sasuke dan memulai hidup baru dengan Gaara. Dia harus melakukannya meski sulit, karna jika tidak akan banyak hati yang terluka.

"Sayonara Sasuke-kun." ujarnya lirih, lalu menutup kotak perhiasan itu dan menaruhnya di laci meja rias.

'Kau harus kuat Sakura, kau harus bisa melupakannya. Gaara juga pemuda yang tampan, bukankah kau pecinta pemuda tampan heh? Bahkan dia pantas disandarkan dengan seorang pangeran.' Sakura sedang berperang melawan batinnya. Ia berdiri dan memutar tubuhnya di depan kaca rias, melihat pantulan tubuhnya yang penuh akan lemak itu membuatnya semakin sadar bila dia bukanlah siapa-siapa. Dia bukan seorang putri raja yang cantik penuh akan pesona yang pantas diperebutkan oleh dua orang pangeran.

"Jangan pernah bermimpi Sakura, sadarlah kau hanya seorang gadis biasa bernama Haruno Sakura seorang gadis bertubuh gemuk yang memimpikan seorang pangeran berkuda putih datang menghampirimu. Sekarang seorang pangeran datang dan kau malah menyia-nyiakan kesempatan emas ini heh? Padahal pangeran dengan rambut merahnya itu mencintai mu sejak dulu dia satu-satunya pria yang tak peduli tentang sosokmu ini. Seharusnya kau mencintainya, bukan malah jatuh hati pada pangeran raven yang pergi begitu saja meninggalkanmu ketika mengetahui sosokmu yang jauh berbeda dengan sosok pujaannya, dia hanya ingin bersanding dengan sang putri bukan denganmu." ujarnya kepada diri sendiri lalu tersenyum getir.

Kreek

"Sakura... apa Gaara sudah menghubungimu?" Sakura menoleh dan mendapati Sasori berdiri di ambang pintu.

"Tidak, ia tak menghubungiku sejak tadi." ujarnya seraya menggelengkan kepalanya.

Sasori mendecih, hazelnya menatap jam yang menempel di dinding menunjukkan pukul 9 pagi, "ada apa dengannya? kenapa sampai sekarang dia belum datang? tch, menyebalkan! jika datang nanti aku akan memukul wajah tampannya." geram Sasori, lalu melirik Sakura, "bagaimana keadaanmu?" lanjutnya sedikit khawatir.

Sakura tersenyum, "tak perlu khawatir, aku sudah jauh lebih baik nii-chan."

Sasori melangkah mendekati Sakura, mengangkat sebelah tangannya lalu menyentil jidat lebar sang adik pelan, "itu baru adikku... hehehe." senyum sumringah tercetak di wajah baby facenya.

Sakura merintih kesakitan, ia mengembungkan pipinya kesal seraya memegang jidatnya. Kemudian ia pun tersenyum, sebuah senyum palsu, 'aku tak ingin kau terus menghwatirkanku nii-chan, biarlah cukup aku yang merasakan kepedihan, sebisa mungkin aku akan tetap tersenyum di depanmu.' batinnya.

Kriiiinggg... kringggg

Handphone genggam Sakura berdering, tertera nama Gaara di panggilan masuk. Sontak Sakura segera mengangkatnya.

"Gaara-kun dimana kau, kami menunggu~..." Sakura tiba-tiba terdiam, manik emeraldnya melebar dan menggigit bibir bawahnya pelan, "a-apa terjadi sesuatu padamu? Kenapa tiba-tiba kau membatalkan pernikahan kita Gaara-kun?" lirihnya.

"A-apa batal! Tck, apa-apaan pemuda muka panda itu!" Sasori menggeram kesal.

Emerald Sakura kembali meredup, baru saja ia bertekad akan tetap tersenyum di depan Sasori. Namun sepertinya ia tak akan sanggup. Ia menatap sendu Hazel Sasori, menundukkan kepalanya, mencengkram dressnya erat, "baiklah aku mengerti." Klik... sambungan terputus.

"Apa yang terjadi?jelaskan padaku Sakura!" Sasori menggoyang-goyangkan pundak Sakura meminta penjelasan padanya. Namun apa daya Sakura pun tak tau apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Gaara tiba-tiba membatalkan pernikahannya tepat di hari 'H'. Bukankah dia yang paling menginginkan pernikahan ini? Kalau bisa Sakura juga ingin tau alasan Gaara melakukan ini semua.

"Aku tak tau nii-chan... aku tak tau." ujarnya lemah dengan mata yang berkaca-kaca.

Sreet, Sasori menarik tubuh sang adik ke dalam pelukannya mengelus punggungnya lembut, "jangan sok kuat di depanku. Menangislah~ aku yakin Gaara punya alasan untuk ini. Aku akan menghubunginya dan meminta penjelasan padanya nanti." ujar Sasori setenang mungkin.

Kyuut, Sakura meremas kemeja Sasori erat, tumpah sudah air matanya,"Hwaaaaa...Padahal aku sudah berniat melupakan Sasuke-kun mengubur semua kenanganku tentang dirinya dan memutuskan hanya nama Gaara yang akan kuukir dihatiku mulai ... hiks kenapa dia juga malah meninggalkanku? membuat perasaanku pada Sasuke muncul kembali. Apa yang harus kulakukan Sasori -nii?" jeritnya frustasi.

Sakura menangis tersedu-sedu, kemalangan datang bertubi-tubi padanya akhir-akhir ini. Setelah Sasuke kini Gaara teman pria satu-satunya yang ia miliki pun pergi salahnya? Kenapa dia selalu sial dalam hal percintaan? Namun di lain sisi ia merasa lega, karena tidak jadi membohongi perasaannya sendiri dan melukai Gaara. Karena di dalam lubuk hatinya yang paling terdalam hanya nama Sasuke yang terukir di hatinya.

.

.

.

.

Prannnkkk

Pemuda merah dengan tato 'AI' diwajahnya melempar handphone genggamnya kesembarang arah, alhasil handphone itu pecah dan berserakan di lantai.

"Siallll! Tck, sudah berakhir." ia berdecak kesal dan duduk bersimpuh di lantai, cairan bening menetes dari manik jade nya. Matanya menatap sendu kalung perak yang sudah putus karena ulahnya sendiri itu tergeletak di lantai.

"Sial!sial!sial! gomen-ne Sakura-hime." ujarnya bibir bawahnya kencang, tangannya berulang kali menghantamkan tinjunya di lantai yang dingin.

Tok-Tok-Tok

Suara ketukan pintu yang terdengar cukup keras itu tak dihiraukan olehnya.

"Gaara apa yang kau lakukan di dalam!cepat buka pintunya! Kenapa kau tiba-tiba memutuskan tak pergi ke rumah Sakura, bukankah ini hari penting untukmu?" teriak Temari dari balik pintu.

Kreeek

Tak berapa lama kemudian Gaara membuka pintunya, matanya sendu seakan tak ada lagi cahaya kehidupan terpancar disana, baju yang ia gunakan pun berantakan. Tanpa bicara ia melengos pergi dengan langkah gontai meninggalkan Temari yang sedang terpaku melihat isi kamar adiknya itu.

Matanya membulat, mulutnya menganga tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kamar Gaara kini berantakan seperti kapal pecah. Seprai kamar yang sudah tak berbentuk, bantal yang terkoyak dengan isinya yang berceceran di lantai, handphone yang hancur, lalu kalung yang selalu ia pakai dan jaga seperti harta karun kini tergeletak dilantai begitu saja. Temari memungut kalung perak liontin berbentuk hati itu.

'Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?' inner temari bingung.

Sontak ia berbalik mengejar adiknya yang entah pergi kemana. Rasa panik menjalar ke seluruh tubuhnya. Dengan langkah besar ia berlari bak kesetanan.

"Gaara dimana kau?" teriaknya berulang kali, Temari menyelusuri setiap kamar, dapur dan ruang tamu di huniannya yang bak istana itu, namun nihil sosok Gaara bagai ditelan bumi, Temari tak menemukan sosok adiknya dimanapun.

Ia menggeram tertahan, tiba-tiba terlintas satu tempat yang sering di datangi adiknya setiap kali ada masalah. Temari bergegas pergi ke sana, kaki jenjangnya bergerak lincah menuruni satu persatu anak tangga menuju taman yang terletak di halaman rumahnya. Taman yang dihiasi berbagai bunga-bunga yang indah, pohon yang rindang dan sebuah kolam ikan kecil, sangat cocok untuk mencari udara segar disana.

"GAARA! hosh hosh hosh." teriaknya dengan nafas yang terengah-engah, jantungnya berdetak sangat cepat, ia meraup udara dengan rakusnya, keringat pun sampai membasahi wajah porselinnya.

Matanya terpendar mencari sosok adiknya, ia bernafas lega karena Gaara ada disana. Gaara berada di bawah pohon yang rindang dan duduk menyenderkan tubuhnya di sana dengan wajah yang tertunduk. Angin yang berhembus kencang menyibakkan rambut merahnya.

Mata Temari terbelalak tak percaya karena melihat adiknya mengeluarkan air mata, ia menangis? Kenapa? Ada apa dengannya? Gaara bukanlah sosok pria yang gampang mengeluarkan air mata. Perdebatan batin terjadi di dalam diri Temari.

"Semua sudah berakhir." ujar Gaara dengan suara barithone yang terdengar lemah entah berbicara pada siapa, pandangan matanya kosong.

"Gaara."

Gaara menoleh menatap Temari lekat dengan senyum getir, matanya terpancar akan kesedihan yang dalam dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya,"aku sudah tak pantas berada disampingnya nee-chan. Aku menyerah."

Temari benar-benar terkejut mendengar apa yang diucapkan Gaara. Dia sungguh tak habis pikir, kepalanya hampir mau pecah memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Gaara-adiknya yang notabene sudah mencintai gadis musim semi teman masa kecilnya sejak dulu itu, sampai-sampai ia berusaha mati-matian menjadi sosok ideal sang gadis. Sejak kemarin ia masih mempertahankan sang gadis untuk selalu berada di sampingnya meski hati sang gadis sudah berpaling ke pemuda lain. Gaara tak pernah menyerah! Tapi kenapa sekarang dia menyerah tepat di saat hari pernikahannya dengan sang gadis. Ini aneh! benar-benar aneh. Hanya Gaara-lah yang tau jawabannya.

.

.

TBC