Three Days Forever
Boboiboy ยฉ Animonsta Studio
Warn : Typo, OOC, Fem!Ice
Happy Reading ^^
Bumi masih setia berputar pada poros mengelilingi matahari, sang suryapun juga masih bermurah hati membagi kehangatan nya. Seorang gadis muncul dari balik kain tebal yang menyembunyikan sebagian tubuhnya.
Pandangan yang tak terfokus terlihat jelas dari kedua manik matanya, "Bukan mimpi ya?" gumamnya seorang diri.
Ruangan bercat biru itu masih nampak remang, cahaya matahari menyelusup melalui celah jendela. Namun tak membuat gadis itu segera beranjak dari selimutnya. Justru kembali menenggelamkan diri di balik kain hangat itu. Ia tak peduli dengan jarum jam yang terus berdetak menunjukan pukul 06.17. Ia pasti akan terlambat jika tak segera bangun, namun apa pedulinya. Apa yang ia pikirkan?
Matanya sudah bosan meneteskan liquid yang pasti terasa menyesakkan, saat ini menangis pun juga tak akan merubah keadaan.
Tok.. Tok.. Tok..
"..."
Cklek...
"Ice?" Dari balik daun pintu, muncul seorang pria yang telah rapi dengan kembati
Langkahnya berjalan lebih jauh memasuki kamar itu, menuju gorden yang masih tertutup rapat.
"Bangun. Kau bisa terlambat masuk sekolah." ujarnya.
Tidak biasanya ayah membangunkan Ice seperti ini. Biasanya pembantunyalah yang mengetuk pintunya jika di rasa sudah terlalu siang.
Ice bangkit, padahal baru saja ia ingin kembali tidur.
"Tidak biasanya kau bangun sesiang ini." ujar ayah.
Ice hanya diam sambil mengusap wajahnya malas.
"Apa aku harus membahasanya sekarang?" pikir ayah.
Ia mengambil kursi yang tak jauh dari ranjang Ice. "Ah, Ice.."
"Ayah, aku sudah memikirkannya." kalimat ayah terpotong oleh suara Ice yang terdengar parau. "Tentang pengobatanku, aku sudah memikirkannya." Ia kembali menggantungkan kalimatnya.
Ia menarik nafas panjang sambil memejamkan mata sesaat. Dan kembali terbuka, iris aquamarine itu memandang lekat ayah yang tengah menanti jawaban darinya.
"Aku tak mau akan mengambil pengobatan apapun."
Deg.. Kali ini ayah benar-benar bahwa dunianya telah hancur. Tubuhnya lemas, matanya mulai memanas, namun ia tau ia tak boleh menangis di hadapan Ice.
"Ta-tapi kenapa? Penyakitmu itu bukan seperti flu yang datang dan pergi sesuka hati. Ini lebih serius, daripada yang dialami ibumu. Kau ingin meninggalkan ayah?" suaranya mulai terdengar berat.
Ice menggeleng, "Aku tidak akan meninggalkan siapapun, justru tak ingin menghapus kenangan dengan siapapun, atau menjauh dari mereka."
"Jika aku mengambil kemoterapi, rambutku akan rontok. Ini adalah kenangan bersama ibu, bukankan dengan rambut panjang ini aku nampak seperti ibu?" ujar Ice sambil tersenyum tipis.
Hening..
"Dan jika aku dioperasi, ada kemungkinan aku sembuh. Namun di sisi lain aku bisa saja mati di meja operasi. Perbandingannya 50 : 50, itu jawaban yang pasti." lanjut Ice, kini dengan nada yang lebih ringan, namun berat di gendang telinga ayah.
"Lebih buruk lagi jika kemo itu gagal dan merusak sel-sel sehat dalam tubuhku. Akan terjadi autoimun dan hanya memperparah keadaanku."
Ayah hanya terdiam, ia tak ingin membiarkan Ice hanya seperti ini. Ia ingin menolak, namun sayangnya semua yang dikatakan Ice itu benar. Hal yang ditakutkannya sama seperti apa yang ditakutkan Ice. Bagaimana jika operasi itu gagal dan ia akan kehilangan Ice untuk selamanya? Bagaimanapun ia ingin terus melihat putri tunggalnya itu tumbuh, bahkan kalau diijinkan sang pencipta sampai di tempat pelaminan. Namun siapa yang tau takdir manusia? Manusia hanya bisa merencanakan, dan Tuhan yang menentukan.
"Ayah, aku masih lelah. Aku ingin istirahat, jadi hari ini aku tidak sekolah ya?" pinta Ice.
Itu bukan alasan, memang kenyataan. Ia merasa sangat lelah, walau hanya bicara seperti ini.
"Kalau begitu istirahat saja, ayah akan meminta ijin pada sekolahmu." Ayah bangkit dan mencium pucuk kepala Ice, kemudian beranjak meninggalkan ruangan itu.
"Ayah, aku boleh minta satu hal?" ujar Ice, ketika ayah menggapai gagang pintu. "Jangan beritahu hal ini pada siapapun ya, baik teman atau guru di sekolahku. Aku tak ingin dikasihani, ketika aku berada di antara mereka."
"Y-ya, tentu saja." jawabnya tanpa menoleh. Suaranya mulai bergetar, liquid di pelupuk matanyapun sudah siap meluncur.
GREP...
Ice memeluk ayah dari belakang, ia tau apa yang dirasakan ayahnya. Sedih, kecewa, bingung, semua itu bercampur menjadi satu.
"Aku akan baik-baik saja. Aku tau semua ini memang berat, tapi aku tak ingin melihat ayah menangis. Pasti ada cara lain yang lebih baik, aku akan bertahan. Ayah taukan aku ini istimewa?" ujar Ice.
Ayah berbalik, "Ya, ayah tau kau ini istimewa."
๐LucKyra7๐
Waktu demi waktu berlalu begitu cepat, hingga menyisakan beberapa hari pada kalender di bulan Agustus.
Suasana koridor sekolah tampak lebih ramai, karena kedatangan murid dari sekolah lain yang akan mengikuti ujian tertulis LCC.
Mereka berjalan beriringan melewati beberapa ruangan menuju halaman sekolah.
"Huft, rasanya cepat sekali. Tau-tau udah ujian tertulis." ujar gadis berkuncir dua.
"Kau benar, rasanya jadi berdebar-debar. Aku dengar SMA Vanlith mengikut sertakan murid pindahan dari luar negeri." ujar gadis berkerudung merah jambu.
"Orang yang menjadi juara olimpiade kemarin juga ikut." lanjut Ying.
"Rasanya kita kurang persiapan." ujar Yaya, ragu.
"Kita pasti lulus jika tes mandiri seperti ini." ujar Ying.
"Tapi jika salah satu dari kita gagal, kita tak bisa maju ke tahap selanjutnya. Maaf Ice, bukannya aku meremehkanmu. Tapi kau sering absen ketika bimbingan dan ketinggalan banyak materi. Aku khawatir kau kesulitan untuk yang satu ini." ujar Yaya dengan hati-hati agar tidak terjadi kesalah pahaman.
Ice hanya mengangguk sesaat, ia memang ketinggalan banyak materi untuk LCC, karena penyakit menyebalkan yang sering membuatnya absen. Hal ini membuatnya belajar mati-matian untuk mengejar materi. Tak jarang darah segar mengalir dari kedua lubang hidungnya ketika ia berpikir terlalu berat, atau tiba-tiba tak sadarkan diri ketika ia kelelahan. Hanya satu hal yang ia syukuri, itu semua tak pernah terjadi ketika ia berada di depan umum. Padahal dokter Kaizo sering menegurnya untuk tidak terlalu banyak beraktivitas, dan akan berakhir dengan bed rest yang membuatnya harus absen beberapa hari.
Ketika ditanya tentang absensinya, ia harus memutar otak untuk melontarkan jawaban yang logis agar tidak menimbulkan kecurigaan, mengingat hampir setiap minggu ia tak masuk tanpa keterangan.
"Tenang saja, aku sudah mempelajarinya. Aku akan berusaha sekeras mungkin agar kita tak gagal di tahap ini." ujar Ice.
Tentu saja ia tak ingin membuat kesalahan yang sama seperti tahun lalu. Kali ini ia bersungguh-sungguh. Ia tak akan membiarkan kerja keras mereka berdua pupus di tengah jalan.
"Kita tidak satu ruangan." gumam Ying ketika melihat pembagian ruangan untuk ujian tertulisnya.
"Bukan cuma kita, semuanya dipecah. Jadi satu ruangan tak ada yang satu tim." ujar Yaya.
"Bukan masalah kan kita tidak satu ruangan. Bukankah kalian ingin mengalahkanku? Ini tahun terakhir looo. Anggap saja kita ini lawan. Nilaiku pasti yang tertinggi lagi." ujar Ice memprofokatori kedua temannya.
"Heh? Liat saja, kali ini aku yang akan mendapat nilai tertinggi." balas Ying.
"Baguslah, kita lihat nanti." ujar Ice yang kemudian melenggang pergi menuju ruangannya.
"Memang harus seperti ini. Mereka mungkin sudah belajar lebih banyak daripada aku. Tapi aku juga tidak boleh kalah, ini event terakhirku."
Semua bangku telah terisi, para pengawas ujian mulai memasuki ruangan dengan map soal di tangannya. Peraturan ujian telah dibacakan, disusul lembar soal yang telah dibagikan.
Kringgggg...
Bel berbunyi sebagai tanda ujian dimulai.
Mereka semua berada di panggung yang sama, pertarungan yang sama dan musuh yang sama. Menunjukan seberapa tajam otak mereka untuk mengalahkan musuhnya. Permainan sangat dibutuhkan di sini.
Ying Scene
"2 jam untuk mengerjakan 60 soal. Satu soal maksimal 2 menit."
Manik matanya beralih memandang jam di tangannya.
Waktu baru berjalan 20 menit, namun ia sudah menyelesaikan setengah dari semua soal yang ada. Hanya menyisakan soal yang masih ia ragukan jawabannya.
Ia menggigit pensilnya, "Kok jawabannya tidak ada? Salah di mana?"
Ying kembali membuat coretan di kertasnya yang hampir penuh.
Ying memang berbakat soal kecepatan, namun sering kehilangan coretan untuk mengerjakan step berikutnya atau memeriksa kesalahan karena tulisannya yang acak-acakan.
Yaya Scene
"Ugh, mataku perih."
Pandangan Yaya terus tertuju pada kertas buram di hadapannya. Setiap baris tertulis dengan rapi.
Waktu terus berjalan, ia baru mengerjakan 23 soal di menit ke 50. Pemikirannya yang selalu step by step akan memakan banyak waktu, kebalikan dengan Ying.
Ice Scene
Ia meletakan pensil, tangannya yang mulai kebas karena sejak tadi terus menulis.
Ia melirik ke sekeliling dirinya, semua nampak tengah sibuk dengan lembar soal mereka masing-masing.
Pemandangan tak mengenakan tertangkap kedua netranya. Seorang lelaki yang duduk di sampingnya, mengambil sebuah kertas dari saku celana.
"Hei, kau. Apa kau puas mendapat nilai tinggi hanya dengan mencontek?" ujar Ice setengah berbisik.
Pemuda itu menatapnya sinis, "Tch, diam kau. Kerjakan saja soalmu, jangan urusi urusanku."
"Kau mau aku laporkan pada pengawas?" ujar Ice santai.
"Kau berani melaporkanku, habis kau." ancamnya.
"Bukankah aku harus menegur orang yang salah. Kalau kau cukup pintar untuk mengikuti LCC ini, kenapa kau mencontek?"
"Diam kau, atau akan ku sobek lembar jawabmu." ujarnya sambil merebut lembar jawab Ice.
"Hei! Kembalikan!" seru Ice.
"Hei, kalian berdua! Ada apa ribut-ribut?" tanya pengawas berwajah garang.
"Dia ketahuan mencontek dan mengambil lembar jawabku." ujar Ice.
Pengawas itu melotot pada pemuda itu dan menarik lembar jawabannya. "Keluar! Kau didiskualifikasi dan otomatis kelompokmu gagal!" serunya.
"T-tapi pak,"
"KELUAR!
Pemuda itu menatap tajam pada Ice diiringi umpatan lirih yang tak pantas diucap.
Cklek..
Brak...
"Yang lainnya lanjutkan!" titahnya.
"Satu tim tersingkirkan." gumam Ice.
"Tim kita berada di peringkat 2, otomatis kita masuk babak final." ujar Yaya setelah melihat hasil pengumuman.
"Aku kalah dengan Ice lagi." ujar Ying lesu.
"Kan sudah ku bilang, nilaiku yang pasti tinggi." ujar Ice.
"Oke oke. Ujiannya sudah selesai, sekarang kita mau apa? Mau pulang ini belum terlalu sore." tanya Ying.
"Pulang saja lah, aku lelah. Kita juga harus belajar untuk final besok." ujar Ice.
"Hei, tunggu dulu. Ayo kita makan, aku tau caffe yang menjual pancake enak di sekitar sini." ajak Ying.
"Dan karena nilai Ice paling tinggi, jadi Ice yang traktir, ya?" usul Yaya.
"Ayolah teman-teman, kita masih harus belajar untuk besok." ujar Ice lesu.
"Kita belajar di sana, bisa kan?" Ying menengahi masalah ini.
Aduh, padahal Ice sudah merasa sangat lelah. Ia ingin segera mandi dan tidur siang. Lagi pula dia juga butuh istirahat mengingat kondisinya saat ini.
"Yo, Ice, Yaya, Ying." sapa seseorang dari kejauhan.
"Oh hai, Blaze. Baru pulang sekolah?" tanya Yaya.
"Ya, bagaimana ujiannya?" tanyanya.
"Sip dong." ujar Ying sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Oh ya kau mau ikut makan bersama kami? Ice yang traktir. Dia dapat rangking tertinggi tadi." ujar Ying sambil nyengir.
"Benarkah, berarti sekarang makan-makan dong." ujar Blaze.
"Aku tidak bilang oke looo, -" ujar Ice.
"HEI KAU CEWEK BERJAKET BIRU!" Bentak seseorang.
Perhatian mereka tertuju pada orang aneh itu yang diikuti seseorang di belakangnya. Ice tidak mengenal orang itu, tapi orang yang tadi ketahuan mencontek di ruangannya ada bersamanya.
"Oh, kau. Kita bertemu lagi, aku tau namamu sekarang, Adudu dari SMA Atata tiga." ujar Ice.
"Kemari kau, akan kubuat perhitungan denganmu" ujarnya lagi.
"Gara-gara kau, kami didiskualifikasi." tambah orang di sampingnya-Probe-
"Ice, siapa mereka?" tanya Yaya.
"Orang tidak penting, ayo kita pergi." ujar Ice sambil berjalan melewati orang-orang itu.
Set...
Brak...
"!?"
Orang itu menarik jaket Ice, dan menabrakan punggung Ice pada dinding.
"Hei! Hentikan! Dia itu perempuan" seru Blaze.
!?
Buagh!
Sebuah tendangan keras mendarat di perutnya. "Jangan ikut campur urusan kami." ujar Probe sinis.
"Blaze!?"
"Dengar, aku tak peduli kau itu siapa. Tapi kau baru saja membuat masalah dengan ku." ujar Adudu yang tengah menarik kerah Ice.
Ice tidak memberontak, karena tiba-tiba saja rasa pening mulai menjalari kepalanya. Ditambah rasa sakit dipunggungnya membuat sebagian tubuhnya mati rasa.
"Kau tidak taukan siapa aku?"
"Kau kan hanya berandalan yang nyasar ikut LCC." ujar Ice sinis.
Pemuda dihadapannya mulai mengangkat tangannya, "Kau masuk babak finalkan? Sayang sekali, hari ini kau akan masuk rumah sakit."
Ice memejamkan mata, menunggu detik berikutnya ketika kepalan tangan itu menghantam tubuhnya. Detik demi detik terus berlalu, namun ia tak merasakan apapun. Justru cengkeraman di kerahnya terlepas begitu saja.
Ia membuka mata, orang tadi sudah terkapar di bawah, tak sadarkan diri.
"H-Halilintar?"
"Fyuh, tepat waktu." gumam Taufan yang menyusul dari belakang.
"Bos! Apa yang kau lakukan pada bosku, HAH!?" Ujar orang yang tadi menendang Blaze, siap menyerang Halilintar.
Halilintar hanya melirik, kepalan tangan itu ditangkapnya dan diputarnya.
"Argh!" pekiknya.
"Dengar, jika kau bermasalah dengan dengan murid SMA kami lagi. Ku pastikan tulangmu akan rontok." ancam Halilintar yang kemudian melepas cengkramannya. "Sekarang, pergi!"
Bukannya pergi setelah diberi kesempatan, ia justru kembali menyerangnya dengan tendangan samping. Kesalahan fatal, Halilintar dengan cepat merunduk dan melayangkan tinju ke wajah Probe dan langsung ambruk. Halilintar mengangkat kaki kanannya tinggi dan mendarat tepat di samping kepala Probe.
Retak, jalannya retak.
Taufan menghampirinya, "Sebaiknya kau pergi sekarang. Asal kau tau, dia itu sabuk hitam."
"M-maaf." Ia langsung bangkit dan memanggul Adudu yang masih terkapar di jalan setelah Halilintar memukul tengkuknya.
Mereka berdua pergi sambil memanggul bos mereka yang tak sadarkan diri.
Yaya dan Ying segera menghampiri tubuh Ice yang terduduk di tanah, mengatur nafas karena cengkeraman di kerahnya lepas.
"Ugh," rintihan kecil terdengar dari bibirnya.
"Ice kau tidak apa-apa?" tanya mereka bersamaan.
Ice mengangguk, "Hanya sedikit punggungku terasa saki
"Kalau begitu kami antar pulang saja," usul Ying.
Yaya menghentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat. Ying membantu Ice berjalan.
"Oh ya Halilintar, terima kasih. Akan ku balas kebaikanmu lain waktu." ujar Ice sebelum masuk ke dalam taksi.
Mereka pergi meninggalkan Blaze, Taufan dan Halilintar yang masih berdiri di tempat.
"Kenapa hanya Halilintar!?" jerit Taufan.
"Kau iri? Memang kau melakukan apa? Dari tadi kau kan hanya menonton saja." jawab Halilintar.
"Yah, lain kali saja aku akan memintanya mentraktir. Kau tidak apa-apa Blaze?"
"Ya, sedikit. Terima kasih sudah menolongnya." ujar Blaze.
๐LucKyra13๐
Akhirnya langkah mereka sampai di final, satu langkah lagi menuju kemenangan. Menunjukan siapa yang tercerdas, bukan sekedar tentang ketepatan, namun juga kecepatan dan kecakapan.
Hoeeek... Hoeekkk... Ah, ARGH-! Ice memekik tertahan ketika rasa sakit yang menjalari kepalanya semakin terasa menyiksa setiap detiknya. Terlalu banyak kalimat yang tertulis dipikirannya, yang bukan lain lagi materi yang ia pelajari semalam. Betapa bodohnya ia berpikir bahwa dirinya itu sehat hingga belajar sampai jam 2 malam demi suksesnya hari ini, mengabaikan rasa nyeri di punggungnya. Seharusnya ia istirahat saja, jika ia tau akan jadi seperti ini.
Tangannya meraih tas yang tak jauh darinya, mencari obat penghilang rasa sakit. Karena ia tak mau mengambil jalan kemo, dokter Kaizo hanya bisa meresepkan obat penghilang rasa sakit. Bukan untuk menyembuhkan, hanya untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan dari tekanan sel kanker di otaknya.
Tubuhnya terduduk di marmer, menetralkan nafas yang tersenggal sambil menunggu obatnya bereaksi.
Drrtt... Drttt...
Ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk tertanda di layar.
From : Blaze
Bagaimana keadaanmu hari ini? Apa punggungmu masih sakit? Hari ini finalkan? Semangat ya.
To : Blaze
Ya, aku baik-baik saja. Hanya sedikit gugup, rasanya aku kurang belajar.
From : Blaze
Biasakanlah untuk berpikir bahwa sukses hanya tinggal selangkah lagi dan pasti akan diraih, percayalah masa depan yang cerah akan ada di depanmu.
To : Blaze
Tumben bijak. Kesambet apa?
From : Blaze
Copas kata-katanya Andrew Carnegie. Ya sudahlah, intinya tetap fokus ya.
To : Blaze
Oke, makasih dukungannya.
From : Blaze
๐๐๐ Kalau menang, jangan lupa traktirannya ya.
Seulas senyum terpatri di wajahnya. Senang rasanya mendapat dukungan, membuatnya lebih semangat untuk hari ini.
Suara ketukan pintu membuyarkan pikirannya, "Ice kau di dalam? Cepatlah, sebentar lagi babak final akan di mulai." ujar seseorang di luar sana.
"Ya, aku keluar." jawab Ice.
"Aduh," rintih Ice sambil menyentuh punggungnya.
"Maaf lama."
"Babak melempar SMA Vanlith memimpin dengan score 140, disusul Tim SMA Pulau Rintis dengan score 130. Dan diurutan ke 3, SMA Ultear dengan score 125."
"Babak berikutnya adalah babak penentuan. Di babak ini, ada 10 soal dengan score bertingkat. Setiap pertanyaan nilai akan ditambah 10, namun jika salah akan dikurangi setengah dari poin itu. Peraturannya masih sama dengan babak sebelumnya."
"Baiklah, kita mulai. Pertanyaan pertama, golongan ini merupakan golongan dengan unsur yang tingkat kestabilannya tinggi dan sulit bereaksi dengan unsur lain. Golongan ini adalah..."
Teeett..
"Silahkan kelompok 1, SMA Vanlith."
"Golongan gas mulia." jawab juru bicara dari tim itu.
"Bagaimana juri?"
"Benar, SMA Vanlith mendapat 10 poin."
Waktu terus berjalan, bunyi bel terus bersahutan. Detak jantung terpacu, pikir saling beradu kecepatan.
Entah sejak kapan, tubuh Ice merasa panas dingin karena kompetisi ini. Suara kesal terlontar ketika jawaban mereka salah dan poin dikurangi.
Hal tak kasat mata seperti menabrak kepalanya dengan sangat keras. Seketika konsentasinya buyar dan nafasnya mulai tak beraturan. Terlalu nervous mungkin karena jarak poin mereka semakin jauh dari Vanlith.
Bulir keringat dingin menetes dari keningnya, padahal atmosfir saat itu terasa panas. Beberapa kali kakinya terasa lemas, hingga ia harus berpegang erat pada podium untuk menjaga keseimbangan.
2 pertanyaan terakhir menanti. Score mereka masih dibawah SMA Vanlith dengan selisih 10 poin. 2 pertanyaan terakhir akan menjadi babak penentunya.
"Pertanyaan ke-9, poin 90. Pada pembakaran bensin dalam mesin sering muncul gas buang melalui knalpot yang berwarna coklat. Gas buang tersebut adalah..."
Teettt...
Yaya memencet bel, "Gas karbon monoksida."
"Bagaimana juri?"
"Sayang sekali, poin dikurangi 45."
Teettt..
"Ya, SMA Vanlith?"
"Nitrogen dioxide."
"Juri?"
"Poin ditambah 90, SMA Vanlith memimpin jauh. SMA Pulau Rintis -45. Soal terakhir, dengan poin 100. Dalam larutan jenuh nikel karbonat, NiCO3 , mengandung 0,090 g dalam 2,0 L larutan. Berapakah nilai Ksp untuk NiCO3?"
5 detik
15 detik
Ksp NiCO3 = (0,00038 M)2
20 detik
Teeettt..
"SMA Vanlith?" -lagi?-
"1,44 ร 10-8 "
Ice tersenyum tipis, "Ketemu." gumamnya.
Teet..
"Ya, SMA Pulau Rintis?"
"1,44 ร 10-7 " Jawab Ice lirih.
"Benar! SMA Vanlith, poin dikurangi 50. SMA Pulau Rintis menambah poin 100. Jumlah akhirnya adalah... SMA Pulai Rintis dengan poin 275, SMA Vanlith dengan poin 270, dan SMA Ultear dengan poin 255."
"Hanya selisih 5 poin." teriak salah satu dari murid Vanlith.
"Kita menang! Ice kau memang hebat!" seru Ying kegirangan.
"Semua tim harap untuk maju ke depan, untuk mendapat penghargaan dari wali kota."
"Ayo Ice!" Yaya menggenggam tangan Ice, dingin.
"Ice tanganmu dingin sekali," Yaya beralih memandang Ice. "Astaga, kau pucat sekali. Kau baik-baik saja?"
Ice terdiam, hanya deruan nafas berat yang terdengar. Rasanya ia terlalu banyak berpikir hari ini, hingga otaknya merasa tertekan.
"Kita menang, kan?" gumam Ice. Bibirnya bergetar. Rasanya kakinya sudah tak mempu menahan bobot tubuhnya, sejurus kemudian tubuh itu.
"Ice!?"
"Sial. Apa aku selemah ini? Lemah sekali aku dikalahkan oleh penyakit menyebalkan ini. Kenapa kau tidak hinggapi saja otak para koruptor dan cuci otak mereka?" umpat Ice yang masih setengah sadar.
"Ice!?"
Ia masih bisa mendengar dan melihat keributan dengan setengah kesadarannya.
"Akhirnya selesai juga LCC ini, event terakhirku."
"Ice!?"
Dark..
TBC...
Huaaa,, gomenasai gomensai... Updatenya telat banget.. Huhuhu, maaf.. Lucky udah ngga bisa ngomong apa" lagi.. ๏ผผ(;ยดโก)/
Ice : Nah tu bisa ngomong...
Me : Nulislah, bukan ngomong...
Huuaaa,, maaf banget.. Minggu ini dibuat capek bgt sama latian basket kill.. Di tambah tugas yg numpuk di meja โฅ๏นjadi maaf atas keterlambatan updatenya. ๐๐
Oh ya,, Lucky sekalian minta doanya buat turnamen semoga menang ya,๐ *Hasil TM nya udah bikin drop duluan โฅ๏น*
Makasih ya yang udah stand by sama fic ini. Sekali lagi mohon maaf...
See you next week...
Regard
LucKyra
