Lemrina Vers Envers, seorang gadis berambut merah muda yang lembut. Ia adalah sosok yang cerdas, sayangnya ia terlahir cacat. Kedua kakinya tak berfungsi sama sekali.

Lemrina tidak seperti kakaknya— Asseylum Vers Allusia —yang sempurna. Lemrina tidak memiliki suara seindah Asseylum saat bernyanyi, tidak memiliki senyuman paling menawan seperti Asseylum, tidak pula berwajah secantik Asseylum.

Hanya otaknya saja yang bisa Lemrina banggakan, hanya otaknya saja yang membuatnya tidak dibuang. Semua itulah yang Lemrina pikirkan.

Pernah suatu hari— Lemrina merasa lelah dengan semuanya. Ia lelah menjadi boneka Vers dan terus-terusan memikirkan serentetan rencana untuk perang. Gadis berusia 7 tahun itu sudah lelah.

Suatu hari— Lemrina kabur dari puri Vers. Menjelajahi sebuah desa, lalu merenung di tepi danau. Lemrina hanya memandang dalam diam pantulan bulan purnama di danau.

"Bunga..." Lemrina bergumam, menatap rumpun bunga putih yang ada di seberang danau. "Indah sekali..."

Senyuman tipis terlukis di wajah Lemrina, ia menopang dagunya. Lemrina ingin mengambil setangkai bunga itu, menyelipkannya di telinga, lalu menari di bawah sinar bulan.

Sayangnya itu semua tidak mungkin.

Untuk menyebrangi danau, Lemrina harus melompati batu-batu besar. Dan untuk melakukannya ia harus bisa menggunakan kakinya— tapi kursi roda ini tak bisa melepasnya.

Selagi Lemrina kembali melamun, ia merasakan gerakan halus di sekitar telinganya dan sesuatu terselip di sana.

Lemrina nyaris melompat dari kursi rodanya, mendapati sosok pemuda dengan senyum ramah dan mata yang sedikit sipit.

"Siapa...?"

"Kulihat sejak tadi kau sepertinya menginginkan bunga itu." ujar sang pemuda, suaranya jernih seolah menyihir Lemrina. "Aku memetiknya untukmu."

Lemrina sadar— ada bunga putih yang terselip di telinganya. Bunga putih yang berada di seberang danau. Lemrina tersipu malu, wajahnya benar-benar merah dan membuatnya terlihat manis.

"T-terima kasih... um... itu... sia—"

"Kisaki." kalimat Lemrina disela. "Matsuribi Kisaki."

"T-terima kasih, Kisaki-kun."

Kisaki— pemuda yang berhasil membuat hati Lemrina berdebar-debar untuk pertama kalinya —menepuk pucuk kepala Lemrina dengan lembut.

"Sama-sama." katanya masih disertai senyuman. "Dan kenapa seorang gadis kecil sepertimu bermain malam-malam begini?"

"Aku bosan di rumah."

Kisaki tertawa mendengar jawaban Lemrina, membuat pipi gadis itu semakin bersemu.

"Jangan pulang malam-malam, ya... hm... Putri Merah Muda."

"N-namaku Lemrina!" nada suaranya sedikit meninggi tanpa sadar saat mengatakannya. "Lemrina Ve— Lemrina Envers."

"Nama yang cantik, Lemrina." lagi, Kisaki menepuk pucuk kepala Lemrina. "Jangan pulang terlalu malam atau mau kuantar?"

"Tidak perlu, aku akan pulang."

"Yakin?"

"Iya."

"Setidaknya biarkan aku mengantarmu hingga ke depan ru—"

"Jangan!" Lemrina menjerit. "Jangan! Tidak usah! Pokoknya jangan!"

"Kenapa?"

"S-soalnya, r-rumahku b-b-besar! Besar sekali! Eh— bukan, itu... itu karena s-sebenarnya aku itu seorang..."

"Tidak usah dilanjutkan Lemrina." Kisaki duduk di sebelah Lemrina, memeluk kedua kakinya, tetap tersenyum. "Aku mengerti, dari namamu aku sudah tahu."

"Eh? B-bagaimana bisa?"

"Lemrina Envers— bukan, maksudku Lemrina Vers Envers. Otak Vers Famiglia yang paling jenius, gadis di atas kursi roda yang membunuh Donna Zaevi Famiglia dan Don Augustine Famiglia." Matsuribi Kisaki tersenyum, membuat perasaan Lemrina campur aduk. Apakah pemuda itu tidak pernah lepas dari sebuah senyuman hangat di wajahnya?

"Kenapa... kau bisa tahu?" Lemrina bertanya dengan kepala tertunduk. Takut bila Kisaki tak lagi menerimanya atau justru ia takut— karena Kisaki akan menjadi musuhnya kelak?

"Karena aku berasal dari Klein."

Lemrina tersentak, ia memundurkan kursi rodanya untuk menjauh dari Kisaki. Namun sebuah batu membuat kursi rodanya oleng dan akhirnya terjatuh. Ia sudah menduga bahwa Kisaki akan menjadi musuhnya. Karena tak mungkin orang awam bisa mengenali nama seorang Lemrina Vers Envers.

"Wa— wah— tidak usah takut begitu, Lemrina-san." buru-buru Kisaki mendekat, namun justru membuat Lemrina semakin waspada dan siap menarik pistolnya. "Aduh... tenang saja. Aku tidak akan membunuhmu kok... kalau aku berniat seperti itu sejak tadi kau pasti sudah mati, nona."

"L-lalu apa yang akan kau lakukan, huh?"

"Begini ya..." Kisaki berjongkok di hadapan Lemrina, membenarkan letak bunga yang tadi ia petik di selipan telinga gadis merah muda itu. "Klein sekalipun, Vers sekalipun. Di sini sekarang aku maupun kau bukanlah anggota dari keduanya. Bukankah kau memerkenalkan diri sebagai Lemrina? Bukan Putri Vers? Dan aku memerkenalkan diri sebagai Kisaki, bukannya Herla terhormat dari Klein, benar?"

Lemrina mengangguk pelan, mengundang kembali senyum lembut di wajah sang pemuda. Pelan-pelan Kisaki membantu Lemrina untuk kembali duduk di atas kursi rodanya. Benar juga, seharusnya Lemrina tidak perlu khawatir soal hubungan Vers dan Klein.

Kisaki orang yang baik, dia berbeda dengan yang lainnya. Ketika orang-orang bersimpuh dan menunduk di hadapan Lemrina, Kisaki justru mendongak dan bersikap seolah Lemrina adalah rakyat biasa. Ketika orang lain memanggilnya tuan putri, Kisaki justru memanggilnya Lem atau Rin. Ketika orang lain berhati-hati dalam bersikap pada Lemrina, Kisaki justru kerap kali bersikap seenaknya saja.

Lemrina menyukai Kisaki, ia sudah jatuh cinta pada pemuda yang lebih tua lima tahun darinya itu sejak pertama kali bertemu. Kisaki pun begitu, ia menyukai Lemrina. Bukan sebagai putri Vers tapi sebagai gadis lugu di atas kursi roda.

Bertahun-tahun mereka menjalin hubungan, bertemu diam-diam. Hingga akhirnya Lemrina telah tumbuh menjadi gadis berumur lima belas tahun dan Kisaki sudah menjadi seorang pria berumur dua puluh tahun.

Mereka masih sama, masih diam-diam pergi untuk bertemu.


Sayangnya dimana ada pertemuan di situ ada perpisahan.


"Nao-kun!?" Yuki menjerit kaget kala melihat adiknya yang muncul di kejauhan dengan tubuh penuh luka. "Kenapa dia ke sini?!"

"Ada apa, Yuki-san?!" Calm— yang masih sibuk membidik karena Yuki kehilangan fokusnya —bertanya panik mendengar suara melengking si sulung Kaizuka.

"Nao-kun! Nao-kun pulang!"

"Apa—"


Lemrina nyaris tidak bisa bernafas, suaranya tercekat, jantungnya berpacu dengan cepat. Terkejut begitu melihat pemandangan di balik pintu yang ia buka.

Ketika tembakan-tembakan itu dilepaskan, ketika sosok pria merentangkan tangannya melindungi seorang gadis di belakangnya, ketika tubuh pria itu ambruk, ketika gadis yang dilindunginya pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun atau membalas perbuatan para pembunuh.

Lemrina hanya bisa terdiam, dengan mulut yang terbuka, dengan mata yang terbelalak, dan air mata yang perlahan mulai mengaburkan pandangannya.

"Kisa... ki... kun...?"

Sekilas, Lemrina masih melihat senyuman hangatnya.


Terkadang Lemrina masih menyesali penyerangan yang dilakukan Vers malam itu. Seandainya Vers tidak jadi melakukan penyerangan... mungkin... Matsuribi Kisaki masih hidup sekarang.

Tidak, bukan itu. Kisaki masih bersamanya waktu itu, mengajaknya lari— meskipun Lemrina merasa itu tidak perlu —hingga mereka mendengar keributan di sebuah ruangan.

Seorang gadis mungil yang dikepung oleh tiga orang pria dewasa. Tuan Putri Klein.

Seandainya... seandainya saat itu Lemrina menahannya. Seandainya saat itu Kisaki tidak berlari untuk melindungi sang putri— yang pergi meninggalkannya begitu saja seolah kematian Kisaki bukanlah apa-apa.

Seharusnya Kisaki masih hidup.

"Slaine..." Lemrina berbisik rendah memandang keluar jendela. "...bunuh dia."

Meski ia tahu Slaine tidak bisa mendengar suaranya.


Yuki panik sekali melihat kepulangan adiknya. Ia takut apa yang dikatakan Nina akan menjadi kenyataan. Bagaimana kalau Inaho tak akan bangun lagi seperti yang lalu-lalu. Bagaimana bila Inaho mati terbunuh— seperti enam tahun lalu...?

"Kenapa kau kembali?!"

Inaho mengaduh kesakitan kala Yuki memukul bahunya. Kakaknya itu sedikit menangis dan Inaho tidak tahu kenapa.

"Kenapa malah kembali?!" Yuki memeluk sang adik.

"Memangnya kenapa?"

Tidak mungkin kan kalau Yuki mengatakan bahwa Inaho akan mati? Tidak mungkin kan kalau Yuki mengatakan bahwa ia takut Inaho akan menjadi seperti enam tahun lalu?

"Kalian!" suara Calm menyadarkan lamunan Yuki, membuatnya melepaskan pelukan dari Inaho. "Sebelum kalian melakukan hal itu sebaiknya lihat situasi! Masih untung aku meminta bantuan Inko untuk mengalihkan perhatian!"

Lalu suara letusan terdengar dari senapan yang dibawa Calm, disusul oleh suara benda berat yang jatuh dengan keras di belakang mereka.

"Kau kenapa sampai terluka begitu, Inaho?!" Calm bertanya sambil dirinya sendiri sibuk menangani beberapa utusan Saazbaum. "Apa kau diserang selama menuju ke sini?"

"Bukan—" sejujurnya Inaho malu mengakuinya. "Aku jatuh dari bukit karena terburu-buru begitu mendengar kita diserang."

Calm tertawa kencang mendengarnya, ia hampiri Inaho setelah yakin di sekitar mereka kini aman.

"Kau? Terpeleset? Aduh Inaho, kau tahu bagaimana caranya menghibur rupanya!"

Ini sebabnya Inaho malu sekali.

"Sudahlah!" Yuki menarik telinga Calm, kesal karena adiknya yang terluka malah ditertawakan. "Sekarang kau mau kemana, Nao-kun? Aku tidak akan membiarkanmu pergi seenaknya saja."

"Dimana Nina?"


Nina benar-benar tidak mengerti. Apa maksud Slaine? Apa maksudnya muncul Inaho yang lain? Apa Inaho memang sudah pernah mati?

"Aku... tidak mengerti..."

Slaine menggigit bibirnya. Sial, kenapa dia bisa sestress ini setelah enam tahun berlalu?! Kenapa dia harus bertemu dengan Yuki lagi?!

"Kalau begitu... kapan mereka berdua bergabung dengan kalian?"

"Itu bukan urusanmu kan, Sla—"

"Kumohon beritahu aku!"

Sebenarnya Slaine kenapa?


Kenapa semuanya terasa begitu membingungkan?