Author : Yuri Masochist or Han Youngra
Title : The Time: Déjà Vu | August 26th, 2012
Cast :
+ Main Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun)
+ Other Cast : Yunho, Taemin, Jungmo, Junsu, Tao, Lay, Kris, Eunhyuk, Ryeowook, Minho, OnKey, Baekhyun
+ Cameo : Soohyun, Henry, Shindong, KiVin (KiseopxKevin), HanChul, Siwon, Jonghyun, Leeteuk, Yesung, Eli, T.O.P, GD, Kangin, Sooman, Jay, Seungri, Daesung, Alexander, SooSun (SooyoungxSunny), YulSic (YurixJessica), YoonSeo (YoonaxSeohyun), Narsha, Thunder, Mir, Joon
+ Say 'Goodbye' to : Sungmin, Donghae, Kibum, Kai, Zhoumi, Jaejoong, Junho, Se7en and who's next?
[DBSK | Super Junior | SHINee | TRAX | EXO | Big Bang | U-Kiss | Se7en | MBLAQ]
[SNSD | B.E.G]
Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror
Rated : PG-15 | T semi M deh untuh semua chap~
Type : Yaoi
Length : Chapter
Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini | You can not stop the cycle
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!
Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!
A/n : 8H! AYO REVIEEEEEW
.
.
.
.
The Time: Déjà Vu | August 26th, 2012
.
Sunday
August 26th, 2012
07:09 AM
Changmin memperhatikan Yoochun yang mengenakan jas-nya. Lalu menghilang dari pandangannya dan kembali dengan tergesa. Kemudian ia tampak mencari sesuatu, dan menghilang lagi.
Tampaknya ia terburu-buru.
Changmin hanya diam di kursi meja makan dan menunggunya kembali.
Lalu, sekitar tiga menit kemudian Yoochun kembali padanya. "Aku harus pergi bekerja, Sayang. Ada panggilan darurat."
Changmin menangguk dan membiarkan Yoochun menghampirinya. Yoochun mengusap rambutnya dengan lembut, lalu mencium kepalanya.
"Jaga dirimu, Sayang. Kalau ada apa-apa, hubungi aku." Lalu Yoochun tersadar. "Dengan telepon rumah maksudku. Kalau sempat, kubelikan kau handphone baru."
Changmin mengangguk saja. Yoochun mencium keningnya dengan begitu lama, dan kemudian menatapnya lekat. Hendak ia mencium bibir Changmin, pemuda itu mendorongnya menjauh.
"Sudah sana berangkat. Kalau telat, kau yang repot."
Yoochun mengedikkan bahunya lalu mengusap rambut Changmin dengan penuh sayang.
"Hari selasa kau check-up ya, Honey."
Changmin mengangguk untuk yang kesekian kalinya. Dan setelah itu Yoochun benar-benar menghilang dari hadapannya.
.
.
The Time
Déjà Vu | August 26th, 2012
A Nonsense Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"
Time to Play
.
.
.
Sunday
August 26th, 2012
03:05 PM
Changmin berjalan menyusuri trotoar.
Ini baru duabelas hari setelah ia keluar dari rumah sakit. Dan ia rasa ia sudah cukup pulih untuk keluar rumah. Changmin ingin menikmati bulan pertama musim gugur, yang masih terlalu dini untuk melihat banyak daun yang berguguran. Biasanya daun lebih banyak dan cepat gugur bulan September, mendekati Oktober. Jadi dingin belum terlalu terasa. Hawanya masih lumayan hangat, karena belum jauh dari berakhirnya musim panas.
Otaknya menemukan sebuah pergulatan yang tidak menentu. Entah apa yang dipikirkannya, banyak sekali yang menyeruak. Ada banyak nama di pikirannya. Jaejoong, pemuda yang ia anggap seperti ibunya sendiri. Lalu sebuah nama... Cho Kyuhyun? Changmin tidak tahu siapa, bahkan Yoochun tidak mau menjawabnya berulang kali Changmin bertanya. Dan Taemin, anak kecil itu... Changmin berusaha mengingat memorinya dengan Taemin, tetapi ia kesulitan. Sangat kesulitan.
Kepalanya terasa berat. Apa karena ia terlalu memikirkan banyak hal? Terlalu memaksa otaknya?
Srrr
Changmin menghentikan langkahnya merasakan ada sesuatu yang mengalir dari dalam hidungnya. Ia menyentuhnya secara perlahan, dan kepalanya refleks tertunduk. Lalu ia menarik tangannya untuk melihat.
Mimisan.
Mengapa tiba-tiba? Apa dia belum benar-benar pulih? Tapi ia tidak pernah mimisan sebelumnya—sejak keluar dari rumah sakit.
"Awas!"
Bruk!
Ckiiit
BRAK!
Changmin merasakan ada seseorang yang mendorong tubuhnya, hingga ia terjatuh membanting trotoar dengan lumayan keras. Kemudian setelah itu yang Changmin dengan adalah suara benturan yang teramat keras, lalu teriakan orang-orang yang panik. Changmin memejamkan matanya erat. Melupakan rasa sakit di kepalanya.
Dejavu.
Dia pernah mengalami hal ini.
"Gwenchana?"
Changmin meremas kepalanya erat, lalu menggeram. Changmin merasakan tubuh seseorang yang berada di atasnya—yang mendorongnya—menyingkir darinya lalu menggoyangkan bahunya. Kemudian Changmin mendengar langkah orang-orang menuju ke arahnya.
Sialnya, otaknya memaksanya untuk mengingat sesuatu.
"Hei, kau tidak apa-apa?"
Ada suara, berbeda dari suara sebelumnya. Lalu pertanyaan yang sama dari berbagai suara. Tetapi Changmin belum berani untuk membuka matanya. Dia masih meremas rambutnya kuat, berusaha menemukan kepingan-kepingan memori di kepalanya.
Lalu suara-suara itu terdengar lebih banyak, dan Changmin merasakan tubuhnya terangkat. Dia dibawa ke sebuah bangku—Changmin merasakannya ketika punggungnya menyentuh permukaan bangku yang terbuat dari kayu. Banyak yang menanyakan keadaannya, ada juga suara yang menyuruh orang-orang untuk membawanya ke rumah sakit. Ada juga sapuan lembut di daerah hidungnya—ada yang menyeka darahnya.
Tetapi kepala ini terlalu berat.
Lalu Changmin memberanikan diri untuk membua matanya, walau ia kesulitan. Dan mendapati ia berbaring di bangku taman, kepalanya berada di paha seseorang. Di sekelilingnya ada banyak orang, tetapi satu di hadapannya membuat ia menatapnya.
Changmin tidak mengenalnya, tetapi ia rasa orang itu sering berada di rumah sakit dan Changmin sering sekali melihatnya tanpa sengaja.
"Ayo kita bawa ke rumah sakit!"
Changmin mengaarahkan pandangannya ke samping secara perlahan, lalu menggeleng. Tangannya meremas kembali kepalanya yang berdenyut.
"Anak muda, kau baik-baik saja?" suara seorang perempuan tua kini terdengar oleh Changmin. Tetapi matanya menutup kembali. "Kalau pemuda ini tidak menolongmu, kami tidak tahu apa yang akan terjadi."
Tapi Changmin tahu siapa pemuda yang wanita tua itu maksud. Karena Changmin berusaha membuka mata lagi, dan melihat jari wanita tua itu menunjuk ke arah orang yang berdiri di hadapannya.
Orang yang sering ia lihat di rumah sakit.
"Hidungnya berdarah."
"Apa kau terluka di bagian lain?"
"Apa kau terluka di bagian lain?"
Ada yang ia ingat. Changmin pernah melewati kejadian seperti ini. Persis seperti ini.
"Orang itu pingsan."
"Mereka akan membawanya ke rumah sakit."
Changmin masih memejamkan matanya. Berusaha untuk mencari serpihan memori itu.
"Kau tidak apa-apa? Kepalamu terbentur keras tadi. Maafkan aku. Aku sangat panik."
"Aku tidak apa-apa. Aku justru sangat berterima kasih padamu. Terima kasih."
"Sama-sama."
Suara panik dari orang-orang mengganggu pikirannya. Dia tidak bisa mencari—meraih—memori itu. Rasa sakit yang begitu menyiksa di kepalanya juga menghambatnya.
"Siapa namamu, Nak?"
"Siapa namamu?"
"Ayo bawa dia ke rumah sakit. Adakah yang mengenalnya? Siapa namamu?"
"Oh, namaku Kim Junho. Namamu?"
Deg!
Changmin membuka matanya dengan cepat.
Dia ingat! Ada satu kepingan yang dia ingat! Seseorang bernama Kim Junho menyelamatkannya dari sebuah mobil yang hampir menabraknya! Dan kejadiannya persis di tempat ini!
Mata Changmin membulat sempurna ke arah depan, dan pandangannya jatuh pada orang yang berdiri di hadapannya.
Lalu ia menjerit keras.
Dan jatuh pingsan.
.:o~o:.
Sunday
August 26th, 2012
05:25 PM
Setelah sadar, Changmin sudah mendapati Yoochun berada di sampingnya.
Bau rumah sakit kembali menguar di indra penciumannya. Tetapi ia terlalu lemah untuk meronta dan memaksa untuk pulang. Karena Yoochun hanya menatapnya khawatir.
"Kenapa keluar rumah sendiri?"
Changmin menggeleng pelan.
"Bagaimana kalau—bagaimana kalau orang-orang itu tidak ada? Apa jadinya—" Yoochun menghentikan kalimatnya dan menahan gejolak di dadanya. Lalu ia memeluk Changmin dengan erat. "Aku sangat khawatir. Aku takut kehilanganmu."
Tangan Changmin menyentuh lengan Yoochun dan mengusapnya lembut.
"Maafkan aku. Tadi aku hanya bosan... dan keluar."
Yoochun menggeleng, masih memeluk Changmin. Lalu menggeleng lagi berulang kali.
Pelukan itu bahkan tidak terlepas walau Changmin meminta.
"Aku tidak mau di rumah sakit."
"Kau harus disini, Sayang."
Changmin menggeleng pelan. "Banyak memori yang harus aku cari diluar sana."
.:o~o:.
HOLLAAAAA
SAYA DATANG LAGIIII DENGAN 4 CHAPIEEE
MAAF UNTUK SEKARANG MUNGKIN BANYAK YANG PENDEK, KARENA BEBERAPA SCENE TIDAK BISA DISIMPAN DI CHAPIE-CHAPIE SEKARNG
u,u
Budidayakan memberi review ya
Saya juga membutuhkan timbal balik dari kalian
YOSH!
THANKS A LOT GUUUYSS!
Semoga kalian ga bosen sama ff saya yang satu ini yaaaaaaa
Lama-lama bakal ada titik terangnya koooo :)
So, mind to RnR?
