K 'n Q –Alpha- part 5
Disclaimer : EXO never be mine, terinspirasi sedikit banyak dengan ff serigala author MiraMira dan Pandora hearts. But the plot and story are originally mine!
Cast : Lumin and ten aliens.
Rate : T
Genre : supernatural, hurt/comfort, au!wolf
Author's note : Center!Xiumin, pertarungan antara kelompok Chen dengan Pack Lu, kurang sreg.. ugh. Kurang panjang..
Titik tiga : sub cerita baru.
Italic words : flashback
Spoiler: "Xiumin ge!" Xiumin berani bersumpah detak jantungnya sempat berhenti ketika mendengar nama aslinya disebut-sebut oleh pria bertudung tersebut. Lebih-lebih dengan nada riang yang familiar di telinganya. Namun, ia masih tak bisa menemukan puzzle memori yang cocok dengan rasa familiar di hatinya.
.
.
.
Semua itu terasa cepat.
Tak seperti biasanya, ia masih terjaga walaupun kelopak matanya menutup rapat-rapat. Tak ada usaha yang keras darinya untuk kembali tenggelam ke alam bawah sadarnya. Entah mengapa, untuk malam ini ia tidak ingin mencicipi mimpi buruknya.
Setelah memastikan Sang Alpha telah pergi dari ruangan tersebut, Ia membuka kembali kelopak matanya lalu bangkit menuju pinggir kasur. Iris hitam itu menatap kosong tembok didepannya. Keningnya berdenyut-denyut tak karuan, kecepatan berpikirnya ternyata tak mampu mengimbangi kejadian-kejadian luar biasa dua hari belakangan ini.
Sadar akan kegiatan sia-sianya, ia menghela nafas dalam-dalam sebelum benar-benar beranjak dari kamar Kai dan mencari seteguk air putih. Tapi baru beberapa langkah yang ia dapat sebelum tangannya meraih kenop, pintu kamar tersebut menjeblak terbuka. Menampilkan wajah Kai yang berantakan serta bulir-bulir keringat sebesar biji jagung menghiasi kulit tannya yang terekspos.
"Hyung-!" Belum sempat Kai menyelesaikan kalimatnya, iris hijau zamrudnya melebar awas. Sedetik kemudian asap hitam menguar dari tubuhnya lalu menipis tak berbekas seiring dengan menghilangnya Kai tanpa jejak.
Baru saja Xiumin akan menjulurkan kepalanya keluar kamar untuk mencari kemana Kai pergi, sepasang lengan melingkar erat di pinggang kecilnya lalu menarik tubuhnya kuat hingga ia oleng, kehilangan keseimbangan. Untung saja pria dibelakangnya dapat menahan berat tubuhnya. Yang ia tak mengerti, mengapa Kai dan ia harus bersembunyi dibalik pintu?
"Hei bocah! Cepat keluar, aku tidak suka bermain kucing tikus seperti ini," seru seseorang yang berdiri tepat di ambang pintu. Refleks, baik Xiumin dan Kai langsung menahan nafasnya selama mungkin. Seakan takut suara hembusan nafas mereka mampu didengar oleh orang asing yang berteriak dengan nada bosan tersebut.
"Cih, tak kukira anak buah Lu sangat hebat dalam urusan bersembunyi," ujar pria itu dengan nada kecewa lalu berjalan menjauh dari ruangan mereka. Dengan cepat Kai mengendurkan pelukannya sembari menghela nafas lega. Begitu pula dengan Xiumin.
"Jadi, bisa kau jelaskan-" lagi-lagi rasa penasarannya terpotong oleh sesosok bayangan yang menyembul dari balik pintu ruangan mereka bersembunyi. Tarikan lebar di bibir orang asing tersebut mampu memberikan rasa kejut yang menyebar cepat di seluruh saraf mereka.
"Hai~" sapa pria dengan eyeliner tebal yang menghiasi matanya. Kai kembali fokus dengan cepat, kesepuluh jemari tangannya bertautan erat di pinggang Xiumin lalu asap hitam mengungkungi tubuh mereka. Pria asing yang sebelumnya tersenyum lebar langsung menunjukkan ekspresi kesal. Ia tidak suka diajak main-main oleh targetnya.
"Sial, jangan pikir kalian bisa kabur dariku!" Cahaya emas menyilaukan langsung menyelimuti dirinya, pupilnya melebar. Berusaha melacak kemana target sialannya akan muncul.
Kai kembali muncul disudut ruangan tersebut tanpa mengeluarkan suara serta berusaha mengurangi asap yang mengepul diseluruh tubuhnya. Ia melepaskan kaitan tangannya dan meminta Omega yang ia lindungi untuk bersembunyi di bawah kasur.
Setelah memberikan senyuman menenangkan kepada Sang Omega, Kai kembali menghilang ditelan asap. Ia berencana untuk muncul tepat dibelakang pria bercahaya tersebut dan sebisa mungkin mengunci gerakan musuhnya. Jika ia beruntung, ia bisa mencabik-cabik musuhnya dengan cakar panjangnya. Yeah, dengan memikirkan akhir rencananya saja mampu membuat Kai menyeringai senang. Bisa saja, hati Sang Omega yang ia incar sejak ia menemukannya akan jatuh hati dengan melihat aksi heroiknya, bukan? Yeah, itu pasti rencana bagus.
Sayangnya, rencana hanyalah rencana. Aksi kejutan yang disusun Kai secara terburu-buru, serampangan, dan penuh harapan kosong itu mudah dihancurkan oleh musuhnya. Dengan kecepatan yang luar biasa, pria bercahaya itu berjongkok dan menyapu sepasang kaki jenjang Kai. Membuat si empu kaki kehilangan keseimbangannya dan serta merta jatuh ke dalam pelukan lantai berdebu nan dingin.
Pria bercahaya itu menyeringai lebar, jemarinya yang lentik langsung menekan jalur masuk udara di leher Kai kuat-kuat lalu mengangkatnya tubuhnya. Sampai-sampai, Kai terangkat dari lantai dan kakinya melayang beberapa senti diatas pijakan yang seharusnya. Oksigen semakin menipis dan kulit tan eksotis milik Kai mulai membiru.
"Anak nakal harus diberi pelajaran," ujar pria bercahaya tersebut dengan nada kesal ala anak kecil namun mengintimidasi. Harapan Kai untuk bisa melepaskan diri langsung hilang tak membekas setelah pupil matanya menyaksikan pria dihadapannya membuat 2 klon. Tak tanggung-tanggung, 2 klon tersebut langsung menghadiahi dua tinju yang mengenai perut dan pipi Kai telak. Efeknya, Kai terhempas dari cekikan pria bercahaya tersebut dan mengenai tepat kaca jendela.
Prang!
Mendengar semua kegaduhan yang terjadi di sekitarnya membuat Xiumin tak tahan lagi. Ia mulai memberanikan dirinya untuk keluar dari persembunyiannya dan berdiri tak jauh dari musuh yang sedang lengah. Perlahan rasa dingin yang menggigit kulit menguar dari tubuh Xiumin seiring dengan irisnya yang berubah menjadi putih kebiruan. Sepasang tangannya terkepal kuat-kuat, tanda ia mengumpulkan kekuatan es untuk menjadi dua buah tombak kecil. Setelah dirasa cukup, kedua tangannya ditarik belakang. Bersiap-siap untuk melemparkannya kepada pria bercahaya tersebut.
Syut!
Pria bercahaya itu mengerang. Darah mulai mengalir di kedua lengannya dan menetes ke lantai akibat tusukan sepasang tombak kecil. Tombak kecil yang semula menusuk lengannya berubah menjadi partikel es kecil dan menyebar keseluruh tangannya dalam hitungan beberapa mili sekon. Pria bercahaya itu kembali mengerang ketika rasa dingin tak bersahabat menggigit kulit, daging, dan tulangnya. Membuatnya menjadi benar-benar tak berdaya.
Berhasil membuat kesempatan, Xiumin keluar dari ruangan tersebut dan berlari mencari yang lain. Bisa saja kan, yang lain juga kewalahan menghadapi musuh sekuat pria bercahaya tersebut. Untuk berjaga-jaga, Xiumin telah membuat sepasang pedang es yang ia kepal kuat-kuat.
Setelah melewati beberapa pintu di sepanjang koridor lantai dua, kaki kecilnya berhenti berlari. Ia merasa ganjil dengan ruangan di ujung koridor. Sesuatu yang tak beres, bahkan angin tak mau memecah kesunyian yang tercipta di ruangan tersebut. Xiumin menghela nafas dalam-dalam, tangannya mulai memutar kenop pintu...
Brak!
Tubuh kecilnya terpental dan membentur tembok koridor sesaat setelah ia dua tubuh terhempas dan mengenainya. Iris putih kebiruan milik Xiumin menatap tak percaya dengan keadaan anak buah Lu, Lay dan Sehun babak belur. Penuh goresan dalam.
Belum habis keterkejutannya, seorang pria bertudung merah bergaris emas yang sama persis dengan tudung pria bercahaya sebelumnya keluar dari ruangan tempat Lay dan Sehun terhempas secara tak manusiawi. Walaupun tidak bisa melihat dengan jelas, Xiumin dapat melihat warna iris pria bertudung tersebut berwarna kuning dan merah mencolok. Begitu pula senyum lebar yang terlukis di bibirnya. Terasa familiar namun otaknnya tak mampu mengingat dengan jelas.
"Xiumin ge!" Xiumin berani bersumpah detak jantungnya sempat berhenti ketika mendengar nama aslinya disebut-sebut oleh pria bertudung tersebut. Lebih-lebih dengan nada riang yang familiar di telinganya. Namun, ia masih tak bisa menemukan puzzle memori yang cocok dengan rasa familiar di hatinya.
Xiumin kembali sadar dari lamunannya sesaat setelah jemari kurus itu akan menyentuh pipinya. Cepat-cepat ia meraih pedang esnya dan menusuknya tepat di telapak tangan pria bertudung tersebut. Dan seperti tombak kecil yang ia pakai untuk melumpuhkan pria bercahaya sebelumnya, pedang es tersebut membekukan tangan kiri pria bertudung tersebut. Tak ingin kehilangan kesempatan, Xiumin meraih pedang es satunya dan menancapkannya tepat di paha musuhnya. Dan bisa ditebak, musuhnya mengerang kesakitan.
Xiumin berusaha mengangkat kedua tubuh yang tak berdaya dalam gendongannya. Walaupun berakhir dengan menyeret, namun ia tak menyerah untuk keluar dari mansion tersebut. Untunglah, ia menemukan Kris yang sedang berlari di ujung tangga. Dua tubuh tersebut langsung digendong Kris menuju pintu utama mansion Lu dan bergabung dengan Luhan yang berada di kebun.
Mereka saling merapatkan tubuh mereka, berusaha melindungi punggung satu sama lain. Walaupun Kai babak belur setelah terjatuh dari lantai dua, ia masih bisa berdiri tegak dan menggendong Sehun di punggungnya. Kai menatap awas Chen dengan mata emasnya. Begitu pula sebaliknya. Mata biru Chen menatap lekat-lekat Sang Beta. Ia terkekeh kecil.
"Tak buruk juga kau memilih penggantiku, Alpha," komentar Chen ringan, garis zig-zag berwarna kilatan biru khas listrik mulai menyelubungi sekop besi yang sebelumnya tergeletak tak berdaya di tanah. Seketika sekop tersebut dilemparkan menuju Sang Beta. Dengan cepat Sang Alpha menggerakkan pot plastik yang berisi tanaman bunga alamanda ke arah sekop tersebut. Sang Beta menatap terima kasih kepada Sang Alpha.
"Maafkan aku, Chen ge!" Teriak pria bertudung merah bergaris emas dengan nada kekanak-kanakannya dari pintu utama mansion Lu. Semua mata menatapnya, bukan. Hanya Sang Beta dan Kai yang benar-benar menatap pria jangkung tersebut. Sang Alpha sibuk beradu mata dengan Chen yang sedari tadi tersenyum lebar. Sedangkan Xiumin menutup kelopak matanya erat-erat. Ia semakin membenci suara familiar sekaligus asing tersebut.
Pria jangkung itu lantas merapat kepada Chen, diikuti seorang pria jangkung lain yang menggendong pria kecil di punggungnya. Chen tertawa melihat ketiga rekannya sedikit babak belur akibat rencana mereka yang sudah dipastikan gagal.
"Kau senang?" Tanya pria jangkung yang menggendong salah satu rekannya. Chen menggeleng kecil.
"Tidak, hanya saja sedikit tak percaya dengan keadaan mengenaskan kalian," pria jangkung tersebut mendengus kesal mendengar jawaban sarkastik Chen. Lebih-lebih ketika ia menyadari bahwa target mereka dan pack Lu telah menghilang dari pandangannya.
"Ge! Mereka pergi!" Teriak anggota termuda di kelompok mereka dengan nada sebal, kaki jenjangnya terasa panas karena hanya diam saja dan tak mencari pack Lu lalu mengambil gegenya yang berharga.
"Tak perlu dikejar, kita kembali ke mansion dulu. Lagipula, saat ini kita membutuhkan Echo untuk menyembuhkan Baekhyun," ujar Chen kalem membuat rasa sebalnya akan anjing scorpion itu semakin menjadi-jadi. Ia paling benci jika mereka harus memanggil Echo dan memaksanya untuk 'tertidur'.
"Baiklah."
.
