Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Author : Hani Yuya
Judul : Yume no mirai
Rate : M for lime.
Pairing : Sasusaku, Gaasaku.
Gendere : Au,Ooc,Romance,Drama
Chap 8 - Fakta
Note : Chap ini mengandung unsur dewasa, 18++...Jadi tidak untuk anak di bawah umur. DLDR
.
.
.
.
"Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi? Kemana tekadmu itu hah!kenapa kau segampang ini menyerah? geram Temari yang kesal melihat tingkah laku adiknya yang kacau ini.
Semilir angin berhembus menerpa wajah keduanya, rambut merah milik Gaara terbang tertiup angin. Tangannya terangkat menutupi wajahnya, lalu menjambak rambutnya frustasi,"tak gampang memutuskan ini semua nee-chan, sejak aku tau semua kebenaran dari kalung yang diberikan Tou-san padaku. Selama ini kalung itu dan janji Sakura-lah yang memberikanku harapan untuk memilikinya. Namun kini semua sirna, Sakura-chan lebih memilih Sasuke dibandingkan janjinya padaku, lalu sekarang kalung perak itu pun sudah membohongiku." lirihnya sendu.
"A-apa maksudmu?siapa yang membohongimu?"Temari semakin tak mengerti maksud perkataan Gaara.
Gaara beranjak diri lalu mendekati Temari, tatapannya tertuju pada kalung perak liontin berbentuk hati yang berada di genggaman Temari. Ia mengambilnya kemudian diangkatnya ke atas, cahaya matahari yang bersinar terang memantul menyinari bandul berbentuk hati itu.
Gaara tersenyum miris, "aku masih berharap bandul ini memiliki cairan 'love spell' di tengahnya, karena itu akan menandakan keaslian kalung ini." ucapnya sendu.
Temari masih mengernyit heran, "love spell? jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi?"
"Tsunade ba-san bilang padaku, bahwa klan Haruno tak memiliki perjanjian apapun pada klan Sabaku. Hanya ada 2 kalung yang asli di dunia ini, kalung yang dibuat khusus memakai cairan 'love spell' di tengah bandulnya. Love spell sendiri adalah cairan langka yang diyakini mempunyai kekuatan magic untuk menyatukan takdir seseorang. Seseorang yang ditakdirkan bersama akan saling terhubung lewat kalung tersebut. Kalung yang dibuat kakek buyut klan Haruno dan juga... Uchiha."
Temari terbelalak tak percaya, "mustahil! Apa maksudmu, kalung yang diberikan tou-san padamu itu adalah imitasi?!"
"Ya, itu fakta yang kudengar dari Tsunade ba-san kemarin." ucapnya sendu.
"Ceritakan padaku apa saja yang kau dengar dari Tsunade ba-san." pinta Temari penasaran.
.
.
.*Flashback on*
Sehari sebelum pesta pernikahan dilaksanakan, Tsunade yang melihat Gaara sedang berdiri di depan pintu kamar putrinya dengan raut wajah sedih menghampirinya. Mungkin inilah saatnya ia mengatakan hal yang selama ini dia rahasiakan.
"Gaara bisa bicara sebentar?" sebuah suara menyadarkan lamunan pemuda merah itu. Ia menoleh dan mendapati Tsunade berdiri disana.
"Hn, baiklah."
"Sebaiknya kita bicara di tempat lain."
Gaara mengangguk dan mengikuti Tsunade yang berjalan di depannya. Wajahnya masih terlihat sedih, Tsunade yang sesekali melirik Gaara dari sudut matanya hanya bisa mendesah panjang. Tsunade membawa Gaara ke luar teras rumahnya.
"Duduklah! Aku ingin menceritakan sesuatu padamu."
Gaara mendudukkan bokongnya di salah satu bangku dan memutar bangkunya menghadap Tsunade, begitu juga dengan Tsunade, ia melipat tangan kanannya di atas meja dan menopang dagunya dengan sebelah tangannya.
Ia menatap jade Gaara lekat, "sebenarnya aku tak keberatan jika Sakura-ku menikah denganmu Gaara,karena aku sudah mengenal baik dirimu sejak kau kecil dan terlebih lagi ibumu 'Karura' adalah teman sepermainanku sejak kecil. Sama seperti kau dan Sakura dulu. Kami bertiga tumbuh bersama." ucapnya.
"Bertiga?" Gaara mengernyitkan alis heran. 'Ibuku,Tsunade ba-san? Siapa orang ke tiga? tak salah lagi orang ketiga pasti orang itu.' ucapnya menerka-nerka dalam hati. "Orang ketiga itu pasti salah satu orangtua Sasuke bukan?" lanjutnya.
"Yup, kau benar. Lebih tepatnya lagi dia ibu Sasuke, Mikoto." ujar Tsunade seraya tersenyum tipis. Lalu sedetik kemudian Tsunade berwajah serius, kedua tangannya di lipat di atas meja. Iris matanya menatap intens jade Gaara.
"Kami memang berteman akrab saat itu, tapi sayangnya yang memiliki ikatan perjanjian hanya dua orang diantara kami bertiga."
Gaara terbelalak, "apa maksudmu Tsunade ba-san?"
"Kakek buyutku 'Hagoromo' dan kakek buyut Mikoto yaitu "Hamura''. Mereka berdua orang yang suka berkelana keliling dunia bersama-sama. Suatu hari mereka menemukan sebuah goa di desa 'Ame' yang di yakini orang setempat sebagai Goa suci. Orang yang masuk ke dalam sana tak akan keluar hidup-hidup, kebanyakan dari mereka tak pernah kembali. Banyak orang yang datang kesana untuk mengambil cairan magic 'love spell' selain sihir untuk masalah percintaan, penduduk desa Ame meyakini bahwa cairan itu dapat menyembuhkan segala penyakit. Aku tak begitu tau sifat mereka berdua, tapi yang kutau mereka adalah orang yang tak takut mati, mereka berdua mencoba masuk ke dalam goa itu dan ajaibnya mereka keluar hidup-hidup berhasil mendapatkan cairan itu, lalu kemudian membuat kalung berbentuk hati dan memasukkan cairan itu di tengahnya."
Sesekali Tsunade tertawa renyah ketika menceritakan tentang kakek buyutnya. Dan Gaara hanya bisa menyimaknya. Hatinya mulai gelisah, karena kini ia jadi sedikit paham maksud Tsunade menceritakan ini padanya. Fakta bahwa klan Sabaku tak ikut andil di dalamnya.
"Kakek buyut kami akhirnya membuat suatu perjanjian. Ia ingin kelak anak dan cucunya akan tetap selalu terhubung dan berteman baik. Maka mereka memutuskan akan menikahkan keduanya jika anak dan cucu mereka nanti lahir, sayangnya anak mereka laki-laki. Ashura dan Indra. Mereka kakekku dan kakek Mikoto. Tapi mereka tak menyerah, mereka berharap cucu nya akan berjodoh. Tapi sayangnya lagi-lagi kakekku mempunyai anak laki-laki Hashirama yaitu ayahku, dan Madara ayah dari Mikoto."
"Dan di generasi kami terus terulang, meski bukan anak laki-laki tapi anak perempuan. Kami berdua berteman akrab dan akhirnya bertemu dengan ibumu."
"Aku dan Mikoto sepakat untuk mewariskannya pada anakku kelak. Tapi lagi-lagi kami melahirkan anak laki-laki. Ahahahahaha, kakekku mulai putus asa, sampai akhir hayatnya dia tetap memperingati kami amanah itu. Mikoto akhirnya pindah ke Konoha,, karena Fugaku suaminya memulai bisnis disana. Tapi kami tetap terhubung. Aku mendapat kabar ketika Mikoto mengandung anak ke duanya, dan beberapa Bulan kemudian aku pun mengandung anak keduaku juga. Aku merasa mungkin kali ini perjanjian di keluarga kami akhirnya terpenuhi ketika aku melahirkan anak perempuan, mereka ditakdirkan bersama saat kalung perak berbentuk hati warisan keluarga kami itu bersinar ketika kami pertemukan mereka berdua pertama kali saat mereka berusia5 bulan. Kau tau siapa yang kumaksud bukan?"
"..." Gaara tak mampu berucap. Dia tak sanggup menjawab pertanyaan Tsunade. Karena ia tau jawabannya.
"Sasuke dan Sakura... sejak awal mereka ditakdirkan bersama. Karura pun tau akan hal itu, tapi saat dia melihatmu begitu dekat dengan Sakura dan tau bahwa kau menyukainya, dia datang padaku."
"Dia berkata, 'Tsunade, aku ingin anak bungsuku bahagia. Dia sering menyendiri di rumah, aku bahkan tak pernah tau jika dia tak mempunyai teman di sekolahnya. Hanya Sakura satu-satunya yang dia miliki. Aku tak sanggup melihatnya bersedih jika tau gadis yang dianggap penting baginya sudah memiliki ikatan dengan orang lain. Karena itu aku akan pergi membawanya, tapi sebelum itu bolehkah aku membuat kalung yang sama seperti kalung warisan turun-temurun dari keluarga kalian itu? Aku hanya ingin melihatnya bahagia, meski harus membohonginya.'"
Gaara terbelalak tak percaya mendengar cerita Tsunade tentang kalung yang diwariskan ayahnya padanya itu. Kalung yang ia percayai sebagai ikatannya dengan Sakura.
"Tapi tak kusangka Karura dan ayahmu pergi meninggalkan kami karena kecelakaan maut saat perjalanan pulang dari kantor, selang beberapa hari saat Karura menyuruh ayahmu memberikan kalung itu padamu. Chiyo ba-san memenuhi janjinya pada Karura untuk menjauhkanmu dari Sakura, karena itu dia tetap membawamu ke Konoha."
"Apa! Jadi itu alasan sebenarnya Chiyo baa-san membawaku pergi? Aku... tak dapat mempercayanya." ucapnya sendu.
Tsunade beranjak dari duduknya, menghampiri Gaara kemudian memeluknya, "aku tak bermaksud membuatmu sedih Gaara, karena kau sudah kuanggap sebagai anakku sendiri. Kau dan Sasuke sama-sama penting bagiku, karena itu aku menceritakan kebenaran ini padamu, karena... kau tak akan bahagia jika membohongi perasaanmu sendiri, berpura-pura kuat menerima Sakura yang lebih mencintai Sasuke, aku tau betapa terlukanya hatimu atas sikap Sakura yang telah mengingkari janjinya padamu. Tapi aku tak bisa memaksanya untuk mencintaimu bukan? Karena perasaan tak bisa dipaksakan." cup, Tsunade mengecup kening Gaara lembut kemudian pergi meninggalkannya. Karena dia tau Gaara butuh waktu untuk menenangkan dirinya setelah mendengar betapa kejamnya takdir mempermainkan hatinya selama ini.
Hampir satu jam Gaara berdiam diri disana untuk menenangkan dirinya, kemudian dia pergi menemui Sakura dan mencari tau kebenaran yang di ceritakan Tsunade padanya. Gaara membandingkan kalung miliknya dengan kalung milik Sakura, ia langsung spcheless ketika mengetahui bahwa Tsunade tak membohonginya. Ia teringat kembali ketika Sakura bercerita pada dirinya yang tiba-tiba berada di tempat Sasuke, mungkin inilah sebabnya Sakura tak pernah datang padanya. Karena dia dan gadis itu tak memiliki ikatan takdir.
.
.
.
#Flasback off#
.
"Aku memikirkan semua ini seharian, sampai rasanya kepalaku hampir saja mau pecah, akhirnya setelah kupikirkan secara matang, aku memutuskan untuk membatalkan pernikahanku. Karena aku tau, ini semua hanya akan membuatku semakin terluka saat menyadari siapa yang selalu ada dihatinya. Bukan diriku tapi pria lain."
"Gaara... "
"Aku hanya ingin melihat senyumnya. Itu cukup untukku. Karena itu...aku tak butuh kalung ini lagi." wuuzz... Gaara melempar kalung perak berbentuk hati itu jauh ke depan. Kemudian mendongak keatas sambil memejamkan matanya, 'tou-san-kaa-san gomen, aku sempat menyalahkan kalian, kini aku sadar kalian melakukan ini semua karena terlalu menyayangiku. Arigatou, aku sempat merasa senang karena mempercayai perkataanmu tou-san.'
Puk, Temari menepuk pundak Gaara dan mengacak-acak kepalanya, "tck, tak kusangka kau sudah menjadi prdewasa Gaara. Itu baru adikku."
"Hn, mungkin sudah waktunya aku membuka lembar baru. Tou-san dan Ka-san pasti melihatnya dari atas sana."
"Ya, kau benar." Temari melingkarkan tangannya memeluk lengan Gaara, dan sedikit meyender pada adiknya itu. Ia merasa lega bahwa adiknya sudah sedikit menjadi lebih dewasa.
.
.
.
Di lain sisi, di kediaman Sakura.
"Sakura, ada temanmu yang ingin bertemu?" Sakura mengernyit heran. Seorang gadis berambut hitam panjang dengan manik lavender dan seorang pemuda berambut kuning jabrik langsung membungkukkan badannya ketika di berada di depanku.
"Gomen, aku mewakili adikku untuk meminta maaf padamu, Sakura-chan." ujar gadis cantik itu penuh penyesalan.
"A-apa yang kalian lakukan jangan seperti ini, aku bahkan tak mengenal siapa kalian?" ujar Sakura yang merasa bingung.
Pemuda berambut kuning itu menggaruk kepalanya yang tak gatal, "ahahaha, kau benar kami belum memperkenalkan diri. Namaku Uzumaki Naruto sahabatnya Sasuke dan gadis ini Hyuuga Hinata kekasihku dan juga kakaknya Hanabi, gadis yang membuatmu terluka." lirihnya.
Manik emeraldnya membulat, "ba-bagaimana kalian bisa tau kalau gadis bernama 'Hanabi' yang mencelakaiku?" tanya Sakura penasaran. Karena selain Gaara tak ada yang tau tentang peristiwa itu.
Tiba-tiba seorang gadis cantik dengan manik lavender yang serupa dengan gadis bernama Hinata menerobos masuk dan mengarahkan jari telunjuknya ke arah Sakura. Dia bahkan bicara kasar padanya.
"Sasuke datang kerumahku kemarin, dia berteriak dan mengancamku! Ini semua salahmu yang seenaknya datang merampas Sasuke dariku, hiks." Namun ucapannya berhenti ketika menyadari Sakura bertubuh gemuklah yang ada di hadapannya, berbeda dengan Sakura yang belum lama ini dia bully. "Ehh~kau siapa? Dimana gadis berambut pink yang cantik itu?" alisnya mengkerut, matanya memandang Sakura dengan intens, "ka-kau tak mungkin orang yang sama dengan gadis yang kulihat bersama Sasuke, beberapa hari yang lalu kan? Jelas-jelas dia gadis yang sangat cantik bukan seperti dirimu yang penuh akan gumpalan le~ hmmmpp." Naruto langsung membekap mulut Hanabi dengan kedua tangannya.
"Ahahhaha...tolong jangan dimasukkan ke dalam hati tentang perkataannya barusan Sakura-chan, dia memang memiliki selera humor yang buruk." ujar Naruto mengalihkan topik.
Pernyataan Hanabi membuat Sakura specheless, bahkan gadis yang membulinya tak mengenalinya saat bertubuh gemuk. Sakura sampai kehilangan kata-kata, marahpun sekarang ia enggan, ia hanya bisa tertawa renyah.
"Jaga omonganmu nona! Dia adikku yang paling cantik! Bahkan lebih cantik dibandingkan dirimu!" Sasori berdiri di depan Sakura menjadi tamengnya, mengarahkan jari telunjuk ke depan wajah Hanabi membela Sakura. Membuat seperempat sudut muncul di wajahnya, ia seakan tak terima dengan ucapan Sasori yang mengatakan ia kalah cantik dibandingkan gadis bertubuh gemuk di depannya. Bagaimana mungkin tubuhnya yang sexy, wajahnya yang cantik kalah dengan gadis yang berwajah mirip Sakura dengan gumpalan lemak di tubuhnya! itu semua tak bisa diterimanya. Dan akhirnya Sasori dan Hanabi saling melempar omongan tanpa peduli dengan orang-orang yang berada di sana.
Sakura, Naruto dan Hinata hanya mendesah panjang melihat pertikaian mereka berdua yang tak mau kalah itu.
"Aku sudah mendengar semuanya dari Itachi." Sakura menoleh ketika pemuda bernama Naruto itu mulai membuka pembicaraan lagi.
"Kau mendengar apa dari Itachi-nii?"
"Semuanya... tentangmu dan Sasuke. Dan juga rahasia tubuhmu yang bisa berubah menjadi ideal itu. Dan fakta bahwa Sasuke amat mencintaimu, dia bahkan terlihat sangat frustasi kemarin. Ssttt, rahasiakan ini dari Sasuke jika aku menceritakan tentang dirinya padamu, ok." ucap Naruto seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Kau salah... dia sudah tak peduli padaku. Dia membenciku!" elaknya.
Hinata menggenggam tangan Sakura, "tidak Sakura-chan. Sasuke tak pernah membencimu dia hanya kecewa karena kau tidak bilang padanya lebih awal tentang rahasiamu itu. Dia hanya merasa jealous ketika Gaara lebih dulu tau tentang kebenaran itu."
"Teme ah maksudku Sasuke, dia hanya terlalu malu mengatakan itu padamu Sakura-chan."
"Benarkah?"
Naruto dan Hinata mengangguk secara bersamaan, Hinata memberikan selembar kertas berisikan alamat Sasuke. Senyum sumringah tercetak di wajah cubby nya, ia mengambil kertas itu kemudian menghambur memeluk Hinata.
"Arigatou, aku akan pergi menemuinya sekarang."
Sakura melengos pergi mengambil kotak perhiasan yang ia simpan di laci rias dan memasukkannya ke dalam tas selempang kecil. Ia pergi tanpa pamit dengan Sasori dan melambaikan tangannya pada Hinata dan Naruto. Dia pun tak sempat berganti pakaian.
Gaunnya diangkat tinggi-tinggi dan berlari sekuat tenaga. Tsunade hanya tersenyum simpul ketika melihat Sakura tampak tergesa-gesa. Seakan tau apa yang sudah terjadi pada putrinya dan Gaara.
"Sakura hati-hati di jalan." teriaknya menyemangati.
"Arigatou,kaa-san." Sakura melambaikan tangannya tanpa menoleh, kini di benaknya dipenuhi oleh Sasuke. Ia ingin segera bertemu dengan pemuda raven itu saat ini juga. Ia ingin segera menceritakan semua yang ia alami pada Sasuke, tentu termasuk rahasia yang selama ini ia sembunyikan.
"Sasuke-kun, aku ingin bertemu."
.
.
..
#Sakura Pov on#
Hosh... Hosh... Hosh.
Keringat membasahi wajah chubbyku dan melunturkan riasanku, nafasku tersendat-sendat, baju pengantinku pun kotor dan terdapat robekan di sana-sini, itu karena baju pengantin yang kupakai membuatku sulit bergerak diantara keramaian, alhasil bajuku sering tersangkut dan terpaksa aku menariknya paksa. Tak sedikit orang memperhatikanku dan menatapku dengan pandangan aneh,namun itu tak kuhiraukan sama sekali. Karena saat ini dibenakku hanya ada dirinya, aku ingin cepat bertemu dengannya. Apapun halangan dan rintangannya pasti akan kulalui.
Setelah melakukan perjalanan selama 3 jam akhirnya aku sampai di tempat hunian Sasuke yang bak istana itu. Aku bersyukur bisa sampai di depan rumahnya dengan selamat. Kini aku berdiri di depan gerbang rumah Sasuke yang menjulang tinggi membelah langit. Aku berjalan mondar-mandir mencari celah untuk masuk ke dalam namun mustahil, pintu itu tertutup rapat di tambah lagi tak ada penjaga gerbang yang berjaga disana.
Tes... Tes... Byuuurrrr...
Aku berjengit kaget ketika tiba-tiba hujan jatuh mengguyur tubuhnya, membuatku menggeram frustasi.
"Kenapa hujan turun di saat seperti ini. Langit pun sepertinya tak memihakku hari ini." ujarku lirih.
Bruuk,tubuhku lemas, tenagaku seakan hilang seketika, aku jatuh terduduk meratapi nasibku, berbagai pikiran negatif terlintas di benakku. Mungkinkah Sasuke tak ingin menemuiku lagi? Ah~ tentu saja bukan, pemuda tampan sepertinya tak mungkin jatuh hati pada gadis gemuk sepertiku!
Ia bahkan tak menghentikan pernikahanku dengan Gaara. Tes, air mataku tak dapat dibendung lagi. Aku menangis di tengah derasnya hujan, seakan langit ikut merasakan kepedihanku. Aku menangis sejadi-jadinya di depan gerbang rumah Sasuke.
Hatiku hancur, duniaku seakan runtuh. Sasuke menghiraukanku sedangkan Gaara membatalkan pernikahannya denganku. Apa salahku? Apakah aku tak pantas hidup bahagia dengan pria yang kucintai. Ah~ mungkin angan-anganku terlalu tinggi untuk berada di samping sang pangeran. Aku hanyalah upik abu yang buruk rupa, tentu saja tak pantas bersanding dengan mereka yang mempunyai pesona layaknya bangsawan.
Aku mendongakkan kepalaku melihat awan hitam dan gelapnya langit saat ini. "Kami-sama haruskah aku benar-benar menyerah kali ini? Mungkin aku sudah tak punya harapan lagi." gumamku pelan entah pada siapa.
Aku perlahan beranjak dari dudukku. Sekali lagi aku menatap menerawang jauh ke dalam rumah Sasuke, berharap dirinya berada di sana dan lari menghampiriku.
5menit... 10menit... bahkan sampai 30menit... Ia tak kunjung datang. Aku tertawa renyah, air mataku pun masih Setia mengalir. Aku menekan baju tepat di dadaku... selesai sudah. Aku meyakinkan diriku untuk menyerah.
"Sayonara... Sasuke-kun."
Aku berbalik dan berlari dengan kecepatan penuh dengan pandangan yang tertunduk, tak peduli bajuku semakin kotor dan licinnya jalan yang ku lalui. Aku tak terlalu memperhatikannya.
"Kyaa! Bruukkk!" aku tak sengaja menginjak pakaian pengantinku sehingga hampir saja terjatuh, namun sebuah tangan kekar menarikku dan jatuh dalam pelukannya.
"Tch, bodoh! Perhatikan jalanmu!"
Deg, aku kenal suara ini, bahkan sangat familiar di telingaku. Aku sontak mendongak dan melihat wajahnya.
"Sa-sasuke-kun! Aitakatta! (aku ingin bertemu)" aku langsung memeluknya.
"Hn." dia diam dan tak mengucapkan apapun padaku, apakah dia masih marah padaku?tapi aku bersyukur dia tak menolak ketika aku memeluknya.
"Sa... sakura," aku mendongak melihat wajahnya, "kau membuatku sesak!"
"Eh! Hwaaaa, gomennn!"
Blusshh... Wajahku merah padam seperti kepiting rebus, sontak aku melepas pelukanku dan salah tingkah di hadapannya. Ini memalukan! Aku lupa kalau tubuhku kini sudah kembali gemuk, aku hampir saja meremukkan tulangnya tadi.
Sreett... "Eh?!" Sasuke menggenggam pergelangan tanganku kemudian menarikku untuk mengikuti langkahnya. Dia diam tak berkata apapun padaku, kami terus berjalan mendekati gerbang rumahnya. Dia mengambil sesuatu di balik jaketnya, sebuah benda persegi empat seperti remot, kemudian di arahkannya benda itu arah ke pintu gerbang dan menekan tombol merah.
Piip... Kemudian gerbang rumahnya terbuka otomatis. Aku terperangah tak percaya, 'Keren!' teriakku dalam hati. Sasuke terus membawaku masuk sampai ke dalam rumahnya. Aku menautkan alis heran ketika menyadari keadaan rumahnya yang besar bak istana ini sepi, bahkan tak satu orang maid atau pelayan yang berjaga seperti biasanya. Aku mencari sosok Kakashi satu-satunya orang yang ku kenal disini. Namun nihil, dia pun tak ada.
Sasuke kemudian membawaku ke dalam kamarnya, tempat di mana dia membawaku ke rumah ini untuk pertama kalinya. Mau apa dia membawaku ke kamarnya? Akkhhh! Aku mulai membayangkan pikiran kotor di kepalaku. Ini berbeda dengan sebelumnya, kini kami hanya berdua di rumah sebesar ini, terlebih lagi kini aku berada di kamarnya. Kami-sama jantungku berdetak tak menentu! Ingin rasanya melompat keluar dari dadaku.
Kami berhenti melangkah tepat di depan kasur king-size nya, kemudian dia langsung membuka lemari dan mengambil handuk kecil di dalam sana. Lalu mengeringkan rambutku yang basah karena hujan tadi. Aku cukup terkejut dengan sikapnya yang cekatan mengeringkan rambut dan wajahku yang basah.
Tiba-tiba Onyxnya menatap Emeraldku intens, tatapannya seakan mengintimidasi diriku. Ia menatap tajam tubuhku dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Buka bajumu!"
"EH?!"
Aku tersentak kaget, ketika ia tiba-tiba menyuruhku untuk membuka gaun pengantinku! Apa yang akan dia lakukan padaku! Jantungku hampir berhenti berdetak.
"A-apa maksudmu? Tidak! Aku tidak mau!" ujarku menolak permintaannya.
"Tck, kalau kau tak mau biar aku yang lakukan."
"Hwaaaaa! Hentikan Sasuke!"
Dengan gesitnya ia menurunkan retseleting gaun pengantinku yang terletak di balik punggungku. Tanganku refleks menahan gaunku ketika ia ingin mencopotnya.
"Apa yang kau lakukan Sasuke! Hentai!" teriakku menahan malu. Aku tak akan membiarkannya melihat tubuh polosku yang penuh akan lemak ini.
"Singkirkan tanganmu Sakura!"
"Tidaak!"
"Tck, kau bisa masuk angin jika terus memakai pakaian yang basah."
"Eh?"
Aku berbalik seraya mengerjapkaan mataku berulang kali.
"Hn, apa yang ada di benakmu Sakura? Kau pikir aku akan melakukan sesuatu pada tubuhmu, he? Dasar hentai."
Blusshhhh, rasanya asap keluar dari kepalaku karena saking malunya.
"Ahahhaha, kau sama sekali tak berubah Sakura, reaksimu sama seperti pertama kali kau kubawa kemari." Sasuke tertawa terbahak-bahak, kemudian tangannya terulur mengelus wajah chubby ku, tatapannya berubah menjadi lembut,
"Aku mencintaimu Sakura."
Deg,aku bahagia ternyata cintaku tak bertepuk sebelah tangan, tapi masih ada hal yang mengganjal pikiranku.
"Aku bukanlah gadis yang cantik, tubuhku pun tak sexy, bahkan aku bukan termasuk golongan orang kaya sepertimu. Apakah aku yang sederhana dan jelek ini pantas berada di sampingmu?" aku memejamkan mataku mengeluarkan setiap kata yang menganjal di benakku selama ini di hadapannya, "aku bukanlah seorang Putri! Aku hanyalah upik abu yang tak pantas bersanding dengan seorang pangeran, aku~ hmmp" aku terbelalak tak percaya ketika Sasuke tiba-tiba mencium bibirku sebelum menyelesaikan ucapanku.
"Dengar aku tak peduli dengan semua ucapanmu itu Sakura, aku mencintaimu apa adanya! Kau tau, jantungku hampir berhenti berdetak ketika nii-chan bilang padaku kau akan menikah dengan Gaara tadi pagi! Aku tak bisa mengontrol emosiku dan pergi kerumahmu. Emosiku semakin memuncak saat terjebak macet tadi, aku meninggalkan mobilku dan berlari kerumahmu, tak peduli hujan mengguyur tubuhku. Namun ketika sampai disana aku melihat Naruto dan diberitahu kau datang menemuiku. Aku senang kau membatalkan pernikahanmu dan datang padaku." Sasuke memajukan wajahnya dan menempelkan jidatnya menyentuh keningku, Onyxnya menatapku semakin lembut tak ada keraguan di sana, "aku tak pernah sedekat ini dengan seorang wanita sebelumnya, kau adalah satu-satunya wanita yang kuanggap spesial selain ibuku. Tak peduli seberapa banyaknya wanita cantik dengan lekuk tubuhnya yang sexy berkeliaran di luar sana. Aku tak peduli bagaimana bentuk tubuhmu!Yang kuinginkan hanya dirimu! Hanya kau yang kunanti hadir dalam hidupku sejak dulu Sakura, karena itu aku tak akan melepaskanmu untuk kedua kalinya."
"Sa-su-ke-kun." hatiku berdesir ketika mendengar pernyataannya. Aku tak menyangka dia begitu mencintaiku, meski aku bukanlah seorang Putri yang cantik, ia bahkan mau menerimaku apa adanya. Aku beruntung dicintai olehnya.
Sasuke memegang daguku dan mengecup bibirku kembali. Semakin lama ciumannya menjadi lumatan, dia melumat bibirku rakus seperti melumat permen. Ia memasukkan lidahnya ke dalam mulutku, mengabsen setiap barisan gigiku dan mengajak dansa lidahku.
Deg... bulu kudukku meremang ketika tangan Sasuke mulai menurunkan gaunku, kini hanya tersisa bra dan celana dalam yang menempel di tubuhku. Tangannya semakin berani bergerilya menyentuh tubuh bagian atasku, mengusap perutku yang penuh akan lemak itu kemudian naik ke atas menyentuh dadaku yang masih terbalut bra.
Nafasku seakan tercekat di tenggorokan ketika tangannya mulai masuk menyelinap ke dalam bra ku, kemudian meremas dan mencubit puting susuku. Kami-sama, bagaimana ini! Sasuke mulai kehilangan akal sehatnya! Ukkhhh, namun aku tak dapat menolaknya. Tubuhku merespon setiap ia menyentuh bagian sensitifku, seakan-akan libido dalam tubuhku memuncak.
Tidak! Aku sudah memutuskan akan melakukan sex setelah menikah. Grep, aku menghentikan pergerakan tangan Sasuke dan melepas lumatannya.
"Tu-tunggu Sasuke-kun,aku ingin melakukannya setelah meni~ eh?!" emeraldku membulat ketika melihat rona merah di wajah Sasuke. Oh kami-sama, manisnya~
"Berhenti menatapku seperti itu Sakura!" ujarnya dengan raut wajah yang tersipu malu.
"Kau manis Sasuke-kun." ujarku tanpa tau efek dari ucapanku bisa membuat libido Sasuke semakin memuncak.
"Kau! Tck, kau harus menanggung semua ucapanmu itu Sakura. Kau membuat diriku semakin bergairah, sampai-sampai selangkanganku semakin sesak." seringainya.
Blussshhh... Oh kami-sama, ini tak baik untuk jantungku. Aku melirik bagian bawah Sasuke dengan sudut mataku. Mataku terbelalak tak percaya, jantungku hampir melompat keluar ketika melihat celana jinsnya terlihat semakin ketat di bagian selangkangan.
Aku hampir pingsan ketika tiba-tiba Sasuke mulai melepaskan satu persatu pakaiannya. Terekspos dada bidang dan perutnya yang sixpack, satu kata untuknya 'Sexi'. Aku sampai tak berkedip memandangnya.
"A-pa yang kau lakukan Sasuke-kun!" ujarku panik ketika kesadaranku kembali.
"Hn, menurutmu?" seringainya menggoda.
Kami-sama, tubuhku semakin terasa panas ketika ia hanya meninggalkan celana dalamnya menempel di tubuhnya. Terlihat jelas kejantanannya yang sudah menegang memenuhi celana dalamnya. Aku melotot tak percaya, sontak menutupi dada dan bagian sensitifku dengan kedua tanganku meski itu tak cukup untuk menutupi seluruh bagian tubuhku yang terekspos di depannya. Aku melangkah mundur seiring ia mendekatiku.
"Berhenti Sasuke-kun! Jangan mendekat!" Oh, kami-sama ini benar-benar gawat.
"Kenapa? Bukankah dulu kau pernah melihat tubuh polosku?"
"Ukkhh, dulu dan sekarang berbeda!"
"Hn, kau mencintaiku kan Sakura!"
"Sudah jelas kan aku mencintaimu bodoh,"
Greb, Sasuke meraih tanganku,"aku berjanji akan menikahimu, bahkan jika perlu aku akan mengikatmu di bangku pelaminan, jadi percayalah padaku." ujarnya dengan penuh keyakinan.
Stoppp! Ucapanmu bisa membuat pendirianku selama ini runtuh Sasuke-kun. Gawat! Aku benar-benar dilema. Kami-sama tolong aku! Apa yang harus kulakukan!
.
.
.
.
TBC
Gomen tadinya aku mau buat full lemon tapi yahhh ternyata kepanjangan. Jd ku skip sampe sini. Next full lemon. Ehehehe. See you laters... Sankyuu buat para reader yang udah mau baca karya gajeku. ^^
