K 'n Q –Alpha- part 5
Disclaimer : EXO never be mine, terinspirasi sedikit banyak dengan ff serigala author MiraMira dan Pandora hearts dan sedikit mirip naruto. But the plot and story are originally mine!
Cast : Lumin and ten aliens.
Rate : T
Genre : supernatural, hurt/comfort, au!wolf
Author's note : Center!Xiumin, sedikit demi sedikit fakta (atau misteri baru?) terkuak. Update panjang.
Titik tiga : sub cerita baru.
Italic words : flashback
Spoiler: "Tao memang adik Gege yang paling baik. Akan tetapi, Gege sedang menginginkan sesuatu-" Kyungsoo menggantungkan kalimatnya sejenak, tersenyum senang ketika Tao terbangun dari tidurnya dan memberikan perhatiannya secara penuh kepada Kyungsoo. "Dan yang mampu mewujudkan keinginan Gege hanyalah Tao," lanjut Kyungsoo. Mata Tao berbinar-binar senang, ia ingin mewujudkan keinginan Gegenya.
3.133 words count
.
.
.
Syut!
Brugh!
"Bisakah kau mendaratkan kami dengan layak?" Erang Kris sarkastis, tetapi Kai tak menggubris. Dia membiarkan dua anggota pack-nya yang tak sadarkan diri –Sehun dan Lay menggencet tubuh Kris yang menelungkup mencium tanah lembap tertutup dedaunan yang berwarna oranye-kehijauan. Kedua lengannya sibuk menopang Sang putri es Omega.
"Setidaknya kau mendapat perjalanan gratis dan aku tidak meminta tip," balas Kai tak kalah sarkastis. Tapi tampang menyebalkannya langsung berubah ketika mata hijau zamrudnya bertemu pandang dengan putih kebiruan milik omega. Kris ingin muntah.
Tapi itu tak berlangsung lama, Sang Alpha –Luhan meminta Sang Omega dari gendongan Kai secara tiba-tiba. Iris merah darahnya menatap dingin anggota packnya yang ahli bersembunyi itu. Tak memperdulikan kerlingan kebingungan dari Sang Omega.
"Kau bantu Kris membawa Lay. Dia lebih ringan daripada Sehun," Kai patuh begitu saja dan langsung meminta Lay yang sebelumnya dipapah oleh Kris.
Sang Omega –Xiumin lagi-lagi tak berani menatap iris merah darah itu dan memilih untuk mengamati detail pakaian yang dikenakan Luhan. Hanya kaus hitam polos yang tampak kebesaran di tubuh Sang Alpha yang bidang namun kurus. Kemudian dilapisi oleh jas biru dongker dengan 3 kancing berwarna emas dipergelangannya layaknya gakuran.
Tampan.
Xiumin mengerjapkan matanya sekali. Tak percaya dengan ungkapan terakhir yang menggema diotaknya. Alpha dari pack Lu tampan? Darimana otaknya bisa menyimpulkan hal itu dan sukses membuat rasa panas menjalar di kedua belah pipinya?
"Rupanya kau masih suka melamun, Omega," Xiumin menggeleng sekali, tanda tak setuju dengan pernyataan sepihak dari Luhan ditengah-tengah kegiatannya menetralisir detak jantung yang berdentam-dentam. Logikanya mulai memproses apa yang terjadi lewat visual yang ia terima dari iris putih kebiruannya.
Sang Alpha sedang menggendongnya a la bayi dan kini mereka melewati hutan lebat itu dengan melompati dahan dari setiap pohon yang menjulang tinggi. Didepannya ada Kris yang menggendong Sehun dipunggungnya dengan susah payah. Terlebih dengan kaki serta tangan Sehun yang panjang tak membantu sama sekali.
Lalu Xiumin mengalihkan pandangannya ke arah lain, mengamati Kai yang berada dibelakangnya sembari menggendong Lay. Wajahnya telah termodifikasi akibat pertarungan mereka dengan sekelompok pria tak dikenal juga energi yang hampir terkuras habis membuatnya sedikit tertinggal membuat Xiumin khawatir. Mungkin ia bisa menawarkan bantuan kepada Kai.
"L-Lu-ssi, aku rasa kau bisa menurunkan a-aku sekarang," pinta Xiumin hati-hati. Sedikit mengutuk dalam hati mengapa ia terbata-bata tapi senyum canggungnya tak mampu meluluhkan ekspresi dingin Sang Alpha. Ia masih melompati dahan-dahan pohon, bahkan mempercepatnya sekaligus mempererat gendongannya.
"Tidak perlu, kita akan sampai," balas Luhan seperlunya membuat Xiumin bungkam. Instingnya mengatakan jika ia memaksa akan berakibat buruk. Dan hal itu adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan karena ia tidak ingin menjadi musibah.
Benar saja. Setelah lima menit perjalanan dalam diam itu, akhirnya sepatu kulit Luhan kembali menapaki tanah. Dan mata Xiumin tak berkedip sedikitpun melihat mansion yang sama luasnya dengan mansion Lu. Hanya saja, cat yang melapisi pagar tembok mansion itu berwarna biru muda dengan ornamen dua naga berwarna merah dan kuning yang berujung pada pintu gerban dengan tinggi kurang lebih tiga meter. Tak hanya itu, di tengah-tengah pintu gerbang tersebut terdapat kepala naga bersisik putih hampir bening yang sedang membuka mulutnya lebar-lebar.
Belum habis dengan keterkejutannya, ia dikagetkan dengan aksi Kris yang tiba-tiba memasukkan kepalanya kedalam mulut naga selama beberapa detik sebelum ia menariknya kembali namun tanpa kepala Kris yang menyertainya.
"Kris?!" Teriak Xiumin panik. Refleks tangannya langsung mendorong dada Luhan, meminta secara tidak langsung untuk melepaskannya. Sedangkan Luhan hanya memutar bola matanya bosan walaupun ia tetap melepaskan Sang Omega dari gendongannya. Xiumin berlari mendekati Kris.
"Kris?! Ke-kepalamu-!" Belum habis histeria Xiumin, Kris menjulurkan kepalanya kembali setelah beberapa detik merasa pengap didalam pakaian jas hitam yang terkancing rapi.
"Aku bercanda, Minseok-ge. Aku tadi membukakan pintu mansionku untuk kalian-" ujar Kris sebelum dipotong oleh suara yang mirip seperti mesin tuas sederhana sebelum akhirnya pintu gerbang raksasa itu terbuka. "Masuklah, Ge. Alpha,"
Rasanya baru pertama kali Xiumin memasuki mansion besar dikelilingi dengan taman raksasa juga. 'Ada naga dimana-mana' pikir Xiumin begitu melihat ornamen, patung naga yang tersebar di taman tersebut. Air mancur yang berada di depan pintu masuk mansion juga didominasi oleh patung naga besar. Bagaikan kabel yang baru saja ditancapkan ke stopkontak, benak Xiumin mulai menyimpulkan fakta mengerikan dari mansion mewah namun sepi tak berpenghuni itu.
"Lihat! Beraninya penghianat keturunan Wu itu melangkahkan kakinya di tempat suci ini bersama teman-teman brutalnya," Xiumin menoleh ke sumber suara begitu mendengar cercaan samar tersebut. Namun ia tak menemukan seseorangpun yang berada dalam radius mereka.
Seekor naga putih menunggu kedatangan mereka tepat didepan pintu mansion. Arwah naga putih lebih tepatnya jika yang terlihat adalah sosok transparan dari naga tersebut. Wajah tegang Kris berusaha untuk tetap tenang, mengumpulkan kepercayaan diri dihadapan naga putih tersebut.
"Bia, bisakah kau membungkam mulut Hong dan Huang? Mereka berisik sekali," pinta Kris bernada datar. Dua ekor naga lain langsung menghampiri mereka, kemudian berpilin dan meluncur hampir menerkam Kris jika saja naga putih itu tidak menghalaunya dengan ekornya yang cantik.
"Dasar anak kurang ajar, kau berani menyuruh kami untuk diam padahal umur kami lebih tua daripada kau, pangeran penghianat," cibir naga kuning sembari menyemburkan api pada sebuah lubang dari tiga lubang yang dibuat formasi segitiga dalam pintu mansion. Lalu dua naga yang lain ikut menyemburkan api pada dua lubang yang tersisa. Sekali lagi, pintu mansion tersebut terbuka setelah terdengar suara tuas yang entah berada dimana.
"Terima kasih, Bia," ujar Kris sambil lalu, tak memperdulikan cibiran dari mulut naga kuning yang tak berhenti sama sekali. Bia mengangguk sekali sebelum melirik tajam saudaranya.
"Untuk kali ini aku membiarkanmu, pangeran penghianat. Selanjutnya, aku takkan segan-segan menyemburkan apiku pada tubuhmu hingga gosong," putus naga kuning sebelum berbalik arah dan bergerak menuju taman luas dan menghilang. Sedangkan naga merah hanya menatap Kris dingin kemudian melesat keluar mansion mengikuti saudaranya termuda.
"Selamat datang, Tuan muda Wu," salam Bia kaku sebelum ikut pergi menghilang. Kris menghela nafas panjang, ekspresi percaya dirinya menguap entah kemana. Yang tersisa hanya ekspresi tegang di wajahnya.
"Sepertinya Si Huang tua itu masih membencimu, Hyung," komentar Kai begitu ia berhasil membaringkan tubuh Lay di sofa panjang berwarna moka. Sedangkan Kris sibuk merapikan tangan serta kaki Sehun yang menjuntai mengikuti gravitasi setelah susah payah ia baringkan di sofa krem lembut.
"Sepertinya mereka tak akan sadar malam ini, luka mereka sangat dalam dan kulit mereka agak membiru. Aku takut mereka menggunakan racun pada senjata mereka," ujar Kris setelah mengecek keadaan dua anggota packnya seadanya.
Kris sendiri juga tak yakin di rumahnya masih menyimpan penawar racun karena ingatan terakhirnya mengatakan jika lemari yang berisi obat-obatan milik neneknya telah hancur. Ia juga tak yakin ia akan mampu mengumpulkan bahan penawar racun sebelum matahari terbenam dengan bantuan catatan neneknya yang masih tersimpan rapi di laci meja dekat perapian. Ia bukan tipe penjelajah hutan demi mengetahui nama-nama tanaman yang bermanfaat. Yang bisa ia andalkan sekarang hanyalah kemampuan mereka untuk memulihkan diri sendiri.
Xiumin menggigit bibirnya, berusaha menimbang langkah yang ia gunakan selanjutnya. Ia bisa saja mati jika melakukan hal itu, tapi ia tak bisa membiarkan dua temannya menderita berkepanjangan. Lagipula selama ia tidak kehilangan kesadaran, semuanya akan baik-baik saja.
"Uhm, Kris. Aku rasa kita bisa menyembuhkan Sehun dan Lay segera," ucap Xiumin memecah ketegangan diantara mereka. Luhan yang semula hanya terpaku menatap lantai marmer mendongakkan kepalanya sedikit, iris merah darahnya mendelik. Berbeda dengan sorot bahagia Kai dan kernyitan tak paham dari Kris.
"Maksudmu? Bagaimana caranya?" Xiumin meneguk air ludahnya sendiri, bingung bagaimana cara yang sederhana untuk memberi jawaban kepadanya. Namun akhirnya, Xiumin malah membuat benda tajam seperti pisau yang ia buat dari es. Ia mulai menekan-nekan tangannya, mencari nadinya.
"Kau tahu Kris? Mereka mengejarku dengan suatu alasan pasti, mereka menginginkan ini," jawab Xiumin dengan nada serius. Wajahnya langsung cerah begitu menemukan pembuluh nadi dan mulai menekankan pisau es kuat-kuat hingga warna crimson merah berbau anyir mulai menyeruak mendominasi pergelangan tangannya yang berwarna putih pucat.
Waktunya dimulai sekarang.
"Bisa kau bukakan mulut mereka? Aku tak boleh banyak bergerak," Kai bergerak patuh, membukakan mulut Sehun yang sebelumnya terkatup pucat. Xiumin cepat-cepat meneteskan darahnya sebanyak lima tetes. Begitupula pada Lay.
Kris refleks menutup hidungnya, begitupula Kai. Mereka sadar betul bahwa mereka adalah warewolf. Bukan vampir. Seharusnya mereka tak tergoda dengan bau darah yang menetes tanpa henti itu. Akan tetapi aroma yang memabukkan itu telah sampai pada paru-paru mereka dan menyesakkan mereka. Seolah-olah bau darah tersebut mampu membakar paru-parumu dan organ lainnya. Begitupula dengan indera mereka yang mendadak lumpuh, pandangan mereka kabur.
Mereka benar-benar menginginkannya.
Xiumin tersenyum lega melihat Sehun membuka kelopak matanya dan menampilkan iris hitam kecokelatan khas manusia. Luka yang sebelumnya menganga lebar, perlahan menutup seiring dengan cepatnya regenerasi selnya. Xiumin memusatkan pikirannya kearah pergelangan tangannya yang terus memancarkan darah segar. Berupaya menciptakan selubung es tipis di sekitarnya, berharap hal tersebut akan mampu membekukan lukanya.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Xiumin khawatir, Sehun tak langsung menjawab. Matanya sibuk mengamati sekeliling dan mendapati Hyungnya –Lay juga terbangun dari fase tak sadarnya. Keadaan Hyungnya tak jauh lebih baik darinya. Tapi ia bersyukur ia masih bisa membuka matanya.
"Jauh lebih baik, tapi racunnya masih bekerja," jawab Sehun lemah. Masih dalam pengaruh racun, matanya samar-samar melihat mata Kai dan Kris yang sedikit berbeda. Ada kilat bahaya yang tak bisa Sehun jabarkan. Dan semuanya mengarah pada Omega yang duduk berjongkok disamping sofa tempat ia terkulai tak bergerak.
Ia ingin bertanya, tapi lidahnya masih terasa kelu.
"Gigit ini," Sehun melirik kearah Xiumin yang menggelung lengan bajunya pelan-pelan. Ia bisa melihat banyak lingkaran yang dituliskan dengan garis putus-putus menghiasi lengan Xiumin.
"Hyung yakin?" Tanya Sehun memastikan. Xiumin mengangguk mantap.
"Dengan ini, energimu akan pulih,"
Sehun mengangkat kepalanya, berusaha menjangkau lengan yang disodorkan oleh Xiumin. Matanya masih berkilat ragu, namun Xiumin lagi-lagi mengangguk. Ia mulai menggigit lengan Xiumin.
Tanpa sadar, Sehun menggigit lengan dengan rakus. Pupil matanya melebar, iris hitam kecoklatannya mulai berganti warna hijau zamrud. Perlahan, logikanya tergeser oleh insting hewannya yang mendominasi.
[Minseok Hyung terasa enak.]
"Sehun? Bisa kau lepaskan gigitanmu? Aku rasa kau sudah cukup kuat,"
Sehun tak mendengarnya, ia malah mencengkeram lengan Xiumin. Mengunci gerakan Xiumin agar tak lepas.
"Sehun?" Sehun tak menggubris.
Sang Alpha bergerak maju dan menarik lengan Xiumin dari gigitan Sehun. Empat lubang terbentuk akibat gigitan taring Sehun kembali mengalirkan darah segar yang membuat kawanan pack lain menahan nafasnya.
"Kalian tahan Sehun, aku akan membawanya ke kamar," Kris mengangguk patuh lalu menunjukkan arah kamar kosong kepada Sang Alpha. Sedangkan Kai langsung bergerak maju dan mencekal lengan Sehun. Kakinya menjegal kaki Sehun tapi dirinya yang terluka jelas tak bisa menandingi ledakan kekuatan Sehun.
"Kris-Hyung! Bantu aku!" Teriak Kai kewalahan. Kris berlari secepatnya lalu mencengkeram bahu Sehun. Iris kuningnya mulai mencoba menghipnotis Sehun.
"L-lepaskan aku K-Kai -!" Erang Sehun sebelum warna irisnya kembali hitam kecokelatanm. Tubuhnya yang menggeliat kesetanan mulai tenang. Sehun kembali tak sadarkan diri.
"Ugh, kenapa tubuh Sehun berat sekali sih?" Dumal Kai seraya mengembalikan Sehun di sofa. Tubuhnya langsung melorot ke lantai setelah berhasil membaringkan Sehun. Lay yang sedari tadi mengamati kejadian ini hanya menghela nafas panjang.
Kali ini dia takut.
"Apa kalian tidak merasakannya?" Tanya Lay ditengah keheningan mereka bertiga. Kai mengangguk kecil sembari menutup matanya.
"Aku tidak yakin pasti, akan tetapi insting serigalaku menyukai bau darahnya. Apakah itu normal bagi kaum serigala, Hyung?"
"Aku tak tahu, Kai. Ini pertama kalinya aku hampir gila karena bau darah." Kris mengangkat bahu tak mengerti. Ia mengambil duduk di sofa tunggal. Sedangkan Lay menutup wajahnya. Perasaan menyesal campur takut menggerogoti dia.
"Dan aku pernah gila saat menjilat jejak darahnya."
…
Tep.
"Jadi kau gagal?" Tanya pria mungil yang duduk manis di kursi satu-satunya dalam ruanga meter persegi tersebut. Tangannya mengelus anjing jenis samoyed berbulu putih salju tebal yang berada di gendongannya, sedangkan matanya yang besar menatap rendah pria berjubah yang barusaja berlutut memberi hormat padanya. Gigi Chen bergemeletuk tertahan ketika melihat pandangan pria mungil itu.
"Terimakasih atas sambutannya, Soo. Tapi aku membutuhan Echo untuk menyembuhkan Baekhyun," balas Chen langsung pada intinya. Ia tidak mau berlama-lama satu ruangan dengan Kyungsoo, karena ia tidak yakin dapat menahan gelegak kemarahannya. Chen sangat paham jika hanya Kyungsoo yang mampu menjinakkan Tao dan memanggil Echo semaunya. Dan Chen yakin sekali Kyungsoo mau melakukannya terlebih rencana cadangan mereka membutuhkan Echo sebagai pemain utamanya.
Kyungsoo mengernyitkan dahi, matanya memandang jijik pria peternak kalajengking yang menurutnya tak berguna sama sekali. Jemarinya masih setia membelai bulu lembut anjing peliharaannya. Anjing yang penurut dan manis, tidak seperti pria dihadapannya.
"Apa gantinya jika aku memanggilkan Echo untukmu? Kalian saja tak bisa menghadapi kakakku sendirian. Aku tak yakin-"
"Kami akan membawakannya untukmu. Yang perlu kau lakukan untukku saat ini hanyalah panggil Echo dan beritahu aku dimana mereka pergi," potong Chen emosi. Ia paling benci diremehkan, terlebih oleh serigala buangan seperti pria mungil didepannya.
Kyungsoo berpura-pura berfikir. Belaiannya semakin intens seperti pandangannya kepada pria peternak kalajengking tersebut. Ia bisa menangkap kilat sungguh-sungguh dari iris biru kelam Chen. Ia lantas menghela nafas dan mengangguk setuju.
"Baiklah, tapi jika kau gagal lagi aku tak segan-segan meminta Suho untuk membunuhmu," ujar Kyungsoo mengancam. Chen memutar bola matanya tak peduli. Dia sudah kebal diancam oleh hal yang sama selama 10 tahun hidupnya terpenjara dalam mansion pangeran vampir ini. Yang ia pikirkan sekarang adalah kelancaran rencana cadangannya.
"Lebih cepat kau panggil Echo maka tingkat keberhasilan rencanaku akan semakin tinggi. Kau tahu kan jika Suho tidaklah sesabar kelihatannya?" Kyungsoo mendengus. Chen benar, Suho bukanlah orang yang penyabar. Terlebih jika ia sedang menginginkan sesuatu.
"Tao, masuklah! Aku tahu kau menguping pembicaraan kami sedari tadi," panggil Kyungsoo bernada bosan. Pintu kamarnya terbuka perlahan, menimbulkan suara gesekan yang sedikit memekakkan telinga. Dibalik pintu terdapat Tao yang menundukkan kepalanya, takut Kyungsoo marah. "Ayo, anak besar. Hyung tak akan memarahimu," lanjut Kyungsoo bernada lembut membuat Tao kembali senang. Dia berlari layaknya anak kecil dan menerjang tubuh mungil Kyungsoo, sehingga tanpa sengaja menggencet Samoyed kesayangan Gegenya. Samoyed manis itu meraung kesakitan.
"Ups, maafkan Taotao, anjing manis. Taotao akan mencarikanmu daging rusa yang enak untuk makan malammu nanti," ujar Tao sembari mengelus bulu Samoyed itu. Lolongan hewan kecil itu berhenti digantikan dengan gonggongan sekali. Menampilkan deretan gigi tajam bergerigi yang tak biasa kepada Tao. Pria bermata heterogen itu tersenyum senang. "Anjing manis,"
Tao lantas duduk di lantai dengan kepala berada dalam pangkuan Kyungsoo setelah berhasil mengusir Samoyed kecil dari singgasananya. Matanya terpejam menikmati belaian lembut Gegenya yang paling ia sukai. Dengkur halus mulai didengungkan oleh Tao, tanda ia kelelahan karena sejak pertarungan kecil tadi Tao belum istirahat sama sekali. Terlebih Kyungsoo sudah jarang membelai rambutnya semenjak Suho membawakan Samoyed kecil itu kepada Gegenya.
Ia iri pada Samoyed kecil itu.
"Tao," panggil Kyungsoo lembut, Tao membalas 'hm' singkat lalu membuka matanya sejenak untuk melirik pedas pelaku yang menutup pintu kamar Gegenya kasar -Chen. Kyungsoo tertawa kecil.
"Menurutmu, Chen-ge orang yang seperti apa?" Tanya Kyungsoo memulai percakapan ringannya. Iris cokelatnya menatap lekat-lekat lekuk tegas wajah pria beriris heterogen tersebut. Senyum terpoles di bibirnya begitu mengingat terakhir kalinya Tao bermanja-manja dengannya.
Sekitar lima tahun yang lalu. Setahun setelah hidup mereka diselamatkan oleh Suho Hyung. Melewati lima tahun terlunta-lunta tanpa ada perlindungan kawanan serigala yang kuat. Menghabiskan hari dengan perut lapar dan ketakutan akan pemangsa diluar sana.
Tapi sekarang tidak lagi. Ada Suho Hyung yang siap melindunginya. Itulah yang ia percayai hingga sekarang. Dan seterusnya.
Tao membuka kelopak matanya, melirik sekilas iris Gegenya lalu kembali terpejam.
"Chen-ge selalu sok tahu walaupun dia benar, dia juga suka mengkhawatirkan kami. Dan Chen-ge selalu melindungi kami ketika kami berburu," jawab Tao jujur. Tertawa geli karena Samoyed putih itu merebahkan tubuhnya di pangkuan Tao lalu menjilat-jilat kaki-kaki kecilnya.
"Tao suka dengan Chen-ge?"
"Menurut Kyungsoo-ge?" Dahi Kyungsoo berkerut, tak mengerti dengan jawaban Tao yang malah menanyainya balik.
"Kenapa Tao menanyakan pendapat Gege?"
"Tidak apa-apa, Tao hanya penasaran," Kyungsoo tampak berfikir sejenak sebelum ekspresi sedih tergurat di wajahnya.
"Gege tak menyukainya karena Chen adalah pria jahat. Dia selalu merebut kesenangan Gege,"
"Jika Gege membencinya maka Tao juga membenci Chen-ge," putus Tao cepat. Kyungsoo membelalakkan matanya sejenak sebelum tersenyum kembali. Jemarinya mengelus intens surai hitam pendek milik Tao. Didi-nya tersayang.
"Tao memang adik Gege yang paling baik. Akan tetapi, Gege sedang menginginkan sesuatu-" Kyungsoo menggantungkan kalimatnya sejenak, tersenyum senang ketika Tao terbangun dari tidurnya dan memberikan perhatiannya secara penuh kepada Kyungsoo. "Dan yang mampu mewujudkan keinginan Gege hanyalah Tao," lanjut Kyungsoo. Mata Tao berbinar-binar senang, ia ingin mewujudkan keinginan Gegenya.
"Benarkah?" Tanya Tao memastikan. Kyungsoo mengangguk singkat sebelum sinar matanya kembali meredup.
"Benar, karena Gege ingin Tao membangunkan Echo. Bukankah ia tidur terlalu lama?" Tao berubah kesal. Lagi-lagi dirinya harus bersaing dengan Echo. Padahal yang memiliki hak atas segalanya adalah dirinya, bukan Echo sialan itu.
"Kenapa harus Echo? Kenapa bukan Tao?" Protes Tao tidak terima, Kyungsoo menggeleng sekali.
"Karena hanya Echo yang Minseok-ge kenal. Lagipula kita harus membalas kebaikan Suho-ge selama ini, dan Gege tidak ingin Suho-ge marah dan benci pada Gege. Tao mengerti, kan?" Tao mendengus kecil. Ia tidak suka Gegenya terlalu mencintai Suho. Yang ia inginkan adalah kembali seperti dulu, bermain bersama dengan Kyungsoo-ge dan Minseok-ge.
"Tao mengerti," jawab Tao lemah. Belaian lembut kembali ia terima ketika kepalanya mendarat di pangkuan Kyungsoo. Setidaknya ia bermanja-manja dahulu dengan Gegenya tersayang.
Chen membuka pintu kamar Kyungsoo lagi dan mendapati Tao yang terlelap dipangkuan pria mungil tersebut. Chen langsung menghampiri mereka dan mengambil Tao ke dalam gendongan bahunya. Matanya menatap tajam Kyungsoo.
"Apa kau berhasil memanggil Echo?"
"Sebentar lagi, tunggu hingga dia terbangun," Chen mengangguk mengerti lalu pamit untuk keluar.
"Oh ya, mereka bersembunyi di rumah pemburu Wu," lanjut Kyungsoo begitu Chen hampir hilang dari pandangannya. Samoyed kecilnya kembali ke dalam pangkuannya. Mata bulatnya menatap lekat-lekat pemiliknya.
"Kau memang manis, Joon!" Ujarnya sembari mencium wajah anjing kecilnya dalam tangkupan tangannya.
...
"Lepas!" Minseok memberontak dalam gendongan Luhan, tapi Sang Alpha acuh tak acuh. Ia malah membanting tubuh lemah Sang Omega keatas tempat tidur yang diseprai biru dan bergambar naga. Khas mansion Wu.
Minseok beringsut mundur dengan cepat ketika Luhan memojokkannya hingga terdengar suara 'buk' yang keras akibat benturan punggungnya dengan dinding putih pucat. Memudahkan Luhan untuk mengunci gerakan Xiumin.
"Ap- akh!" Xiumin mengerang kesakitan ketika tangannya yang terluka dicengkeram erat oleh Luhan. Sang Alpha menghisap kuat-kuat darah yang mengalir membuat Xiumin semakin gelisah.
"Jangan -!" kepanikannya berhenti ketika Sang Alpha meludah ke lantai, mengeluarkan darah yang ia hisap. Lantas ia menyobek seprai biru tersebut dan melilitkannya pada luka Xiumin. Luhan lantas memeluk tubuh Xiumin yang gemetar hebat.
"Kau aman, Omega. Kau aman bersamaku," ujar Luhan sembari membelai surai halus kecokelatan milik Xiumin. Sang Omega kembali memberontak, mencoba mendorong dada bidang Luhan sekuatnya namun tak membuahkan hasil. Dekapan itu mengerat.
"Tak ada tempat yang aman bagiku, kau harusnya membiarkanku pergi," balas Xiumin lemah. Air asin mulai meluncur pelan di kedua belah pipinya. Luhan menggeleng singkat.
"Tidak, kau harus tetap disini," putus Luhan final. Keheningan menguasai mereka dan atmosfer yang semula mencekik mereka berangsur menghilang. Digantikan dengkuran halus dari Sang Omega. Luhan tersenyum tipis.
Perlahan Luhan membaringkan tubuh Xiumin. Iris merah darahnya menikmati ekspresi damai yang tersirat di wajah Sang Omega. Layaknya besi yang ditarik magnet, sedikit demi sedikit Sang Alpha mengeliminasi jarak antara mereka.
Tapi kontak itu tak pernah terjadi.
Sang Alpha beranjak pergi dari ruangan tersebut dan disambut oleh Betanya.
"Ada apa?"
.
.
.
p.s : Hahai! Saya balik lagi setelah bertapa berhari-hari. Emang udah niat sih buat ngelanjutin oneshoot gagal ini (gagal karena malah jadi chaptered) setelah depresi dengan serigala-serigala aneh yang merangkap sebagai peternak kalajengking – naga -_-"
puas enggak updatannya? Harus puas, soalnya aku udah ngos-ngosan munculin banyak manusia alien yang sok-sokan jadi serigala. ;A;
p.s.s: sebenernya alasan writerblock ku karena too much Lumin feels. Jadinya apa-apa 'eh, itu kalo Lumin bagus deh, ini Xiumin ini Luhan' terus ide-ide baru muncul. Bahkan Midori no hibi kubayangin Lumin sebagai pemain utamanya. (oke aku gila)
ppa-ppa *a la high pitchnya Xiumin*
p.s.s.s.:
NathalieVernanda : udah update panjang dan ada fakta baru.
: Tao plus Chanyeol! ^^
Isnaeni love sungmin: nih chapter nextnya! XD
arlecchino.31: well aku emang bang toyib yang tertunda (?)
twentae: kak, ini hasil bertapaku kak! Ehm, yang split personality itu Tao.. huhu maap ga jelas part kemarin
enchris.727 : update keong~!
Xuxiu09: setelah dipikir-pikir emang mirip, tapi beda kok (insya allah)
: makasih, masih deg-degan baca the lost symbol tengah malem di kamar lantai atas sendiri.. ;A;
Chonurullau40 a.k.a Miss Zhang: ini moment Luminnya kepotong gara-gara pengen update mumpung di tempat wifi gratis . XD
