Three Days Forever
Boboiboy © Animonsta Studio
Warn : Typo, OCC, Fem! Ice
Happy Reading
Suara langkah kaki terdengar tak berirama, mengisi atmosfir kosong di sekitarnya. Koridor yang mereka lalui cukup ramai karena ini memang waktu untuk para pengunjung rumah sakit diijinkan menjenguk.
"Ayolah cepat sedikit!" Keluh seorang bertopi merah terang tak sabar, ketika lift mulai bergerak.
Ting! Di lantai 3 mereka berhenti. Si hyperactive pasti sudah berlari jika saja orang beriris emas itu tidak menarik tudung hoodienya.
"Hei, kau pikir aku kambing. Menarik hoodie orang sesuka hati?" kesalnya.
"Kau pasti sudah seperti kucing mencari teri jika dilepas begitu saja." Balas orang di sampingnya enteng. "Ini tempat umum jadi jaga sikapmu." Tambahnya.
"Iya, iya."
Mereka berjalan beriringan, beberapa orang berpakaian putih mengisi koridor itu. Sepatu kets mereka berhenti di depan pintu bercat putih dengan nomor kamar 317.
Cklek…
"Ice!? Kau kenapa!?" Teriak Blaze.
Gadis yang berbalut pakaian biru muda khas rumah sakit hanber memandang heran sosok yang baru saja masuk itu. Teriakan orang itu mencuri perhatiannya.
Seperti bagian dari film, sebuah sepatu terbang slow motion tanpa target yang tak sempat menghindar.
DUAK..
"Blaze, kecilkan suaramu!" Jengkel Ying.
"Maaf." Jawab Blaze lirih yang telah tepar dengan bekas tapak sepatu yang memerah di wajahnya.
"Kau juga kecilkan suaramu, Ying!" Ujar Yaya.
"Ah, maaf. Reflek." Jawabnya santai.
Gempa berjalan mendekati meja untuk meletakan keranjang buah yang ia bawa. "Kami langsung ke sini ketika Yaya memberi tau kau pingsan setelah LCC selesai. Apalagi sampai rawat inap seperti ini, bikin khawatir saja." Kata Gempa.
"Bagaimana keadaanmu?" Blaze melontarkan pertanyaan klise.
"Kalian terlalu berlebihan, aku kan baik-baik saja. Dokter bilang 3 sampai 4 hari lagi aku di ijinkan pulang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Ujar Ice sambil tersenyum.
"Apa ayahmu sudah tau tentang ini?" Tanya Gempa lagi.
"Aku tidak ingin memberitahuannya tentang kejadian ini, saat ini ayah sedang sibuk sekali. Tapi aku yakin sekolah sudah mengabari ayah. Mungkin ia akan pulang nanti malam." Jawab Ice.
Mereka terdiam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, atau tak tau apa yang ingin diucapkan. Seperti Blaze yang hanya memandangi Ice dalam kesunyian ini, atau Ice yang membodohkan dirinya sendiri karena membiarkan semua ini terjadi. Jika saja, ia lebih kuat dan sedikit bertahan lebih lama lagi, mereka tak akan mengkhawatirkannya.
"Apa sebelumnya pernah pingsan seperti ini?" Tanya Blaze.
Ice terdiam sejenak, memandang kosong pada atmosfir di hadapannya. Ia menggeleng, "Tidak, ini baru pertama kali. Aku memang menderita anemia, jadi ini kesempatan bagus untuk mendapat perawatan. Jadi itu bukan masalah. Sepertinya aku terlalu kelelahan hingga drop seperti ini."
"Kau sering begadang?" Tanyanya lagi.
Kedua netra Ice menerawang langit-langit ruang itu, menghindari pandangan langsung. "Yah, karena aku sering tak masuk. Jadi aku harus mengejar materi yang tertinggal. Apalagi untuk LCC ini." Ujar Ice lirih.
Seisi ruangan itu tertegun, "Kau terlalu memaksakan diri Ice." Gumam Yaya.
Ia terlalu meremehkannya. Yaya adalah murid teladan di sekolahnnya, ia tak mungkin absen jika tidak benar-benar terdesak. Baginya, ketinggalan satu jam pelajaran saja seperti mengambil satu balok dari pyramid. Ice sering sekali tak masuk, pasti sulit untuk menyusul. Namun Ice baru saja membuktikan dirinya dengan kemenangan yang mereka peroleh.
Ying menarik nafas panjang dan berkata, "Terima kasih Ice atas kerja kerasmu selama ini."
"Ini semua kan kerja keras kita semua. Aku hanya melengkapi puzzle di tim kita saja."
"Yosh, waktunya pulang. Kita tidak boleh lama-lama di sini."
"Heh!? Aku baru saja datang, sudah mau pulang?" Tanya Blaze.
"Biarlah dia istirahat Blaze, aku yakin ada orang sepertimu di sini justru memperburuk keadaannya." Ujar Gempa.
"Heh!? Apa kau bilang!?" ujar Blaze berapi-api.
"Kalu begitu kami pamit Ice, GWS ya." Ujar Yaya mengabaikan emosi Blaze.
"Kami akan datang lagi besok." Tambah Ying.
"Cepat sembuh ya." Kata Gempa di ambang pintu.
Ice hanya tertawa di sela pamitan mereka melihat tingkah Blaze yang selalu membuatnya tertawa, "Terima kasih. Dah."
Mereka bertiga telah keluar, meninggalkan Blaze dan Ice di ruangan itu. Masih memperhatikan Ice dalam diam.
"Selamat ya."
Ice mengeryap, sepertinya otaknya membutuhkan waktu lama untuk mengolah kata-kata Blaze. Bibirnya melengkung, "Aku sudah menang. Sekarang giliranmu."
"Ya tentu saja, pastikan kau melihatku bertanding. Lihatlah permainanku yang mempesona."
"Kau semangat sekali ya?"
"Tentu saja. Turnamen besar sebentar lagi akan dimulai, dan aku akan menjadi bintang lapangan. Selain itu, setelah usahamu untuk LCC itu, mana mungkin aku tidak semangat."
"Baguslah, jaga semangatmu sampai final nanti."
Blaze mengacungkan ibu jarinya, "Kalau begitu aku pulang dulu, cepat sembuh ya. Bye."
Ice hanya tersenyum, bukan senyum senyum bahagia. Tapi senyum pahit yang ia suguhkan. Bukan masalah karena Blaze tak menyadarinya, mungkin.
Mereka telah pergi, ruangan kembali menjadi sepi. Memandang langit yang dipenuhi awan kelabu. Ia bangkit menghampiri jendela yang memisahkkannya dengan dunia luar.
"Begitu… Jadi aku pingsan lagi." Gumam Ice seorang diri. Memandang bayangan dirinya di kaca transparan. "Berapa lama lagi ya, aku bias bertahan?"
Orang-orang di bawah sana nampak mulai membuka payung mereka, berlindung dari basahnya rinai. Pemandangan indah di bumi mungkin menyenangkan Dewa Hujan, ketika penduduk bumi berjalan dengan payung warna-warni mereka. Namun siapa yang ingin memandang langit gelap yang tak menyenangkan hati?
~LucKyra~
"Yah, hujan." Desah si gadis berkuncir dua, ketika mereka sampai di lantai dasar bangunan itu.
"Aku bawa payung, tapi hanya satu. Kalian berdua bagaimana?" Tanya Yaya.
"Aku juga bawa kok." Ujar Ying.
"Kau mau pinjam satu Gempa?" tawar Yaya sambil menyodorkan payung berwarna merah jambu. "Biar aku pulang bersama Ying."
Pink? Yang ada aku dianggep banci dan ditertawakan sepanjang perjalanan. Sakit, sakit deh daripada harga diriku yang tak tertolong.
"Ah, tidak perlu. Aku masih menunggu Blaze." Ujar Gempa menolak lembut.
"Nanti kau bisa sakit, pakai saja tidak apa-apa."
"Tidak, sungguh. Aku akan baik-baik saja."
Tiba-tiba Blaze muncul dan menghampiri Gempa. "Kalian masih di sini? Maaf, aku lama." Ujar Blaze. Kepalanya mendongak, memandang langit yang tak member tanda-tanda hujan akan segera reda.
"Wah, sepertinya hujannya akan lama." Gumam Blaze.
"Karena itu, lebih baik kalian bawa saja payungku. Biar aku pulang bersama Ying." Ujar Yaya lagi.
Aku dan Blaze satu payung warna merah jambu. Nanti dikira pasangan LGBT!? Pikir Gempa terlalu liar.
"Tidak perlu, rumahku dekat dari sini jika lewat sini. Jadi aku akan hujan-hujan saja." Ujar Blaze sambil berlari menerjang hujan tanpa mempedulikan panggilan rekannya.
"Blaze? Yah, aku ditinggal." Gumam Gempa.
"Jadi pinjem?"
.
.
.
Blaze berlari menerjang rinai hujan yang terasa perih ketika menyentuh kulitnya.
Apa tadi? Tadi itu bukan senyuman yang biasa ia tunjukan.
Terasa sangat dingin di kulit lengan Blaze yang tak tertutup, bahkan terasa sangat menusuk sampai ke tulang.
Ada yang ingin ia sampaikan, tapi tak bisa. Senyuman itu sendiri yang bicara padaku. Wajahmu menunjukan rasa sakit yang amat sangat dalam.
"Brrrrr." Tubuhnya gemetar menahan suhu rendah. Sesekali ia menggosok kedua telapak tangannya meminta sedikit kehangatan.
Tapi ia menyembunyikannya. Seperti awan gelap ini menutupi keindahan kota dari atas, kota yang menjadi gelap dan suram.
"Aku pulang." Ujar Blaze sambil melepas sepatunya. Tetes air membasahi lantai, meninggalkan jejak yang ketara menuju kamarnya di lantai 2. Tanpa menunggu, ia langsung berjalan menuju kamar mandi.
Zraashhh… Air hangat mengguyur tubuhnya.
Jika saja matahari bersinar lebih hangat, keindahan kotanya akan terlihat dan menjadi sejuk.
~LucKyra~
"Ku pikir kau tak langsung berangkat sekolah?"
"Di rumah juga tak hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Lebih baik sekolah dan bertemu kalian."
Ice berjalan beriringan bersama Ying ketika mereka bertemu di gerbang tadi.
"Eh? Mereka latihan sepagi ini?" ujar Ice ketika mereka melewati lapangan sepak bola dan mendapati tempat itu penuh dengan murid yang bermain sepak bola.
"Ya. Rasanya saying jika harus meninggalkan pelajaran untuk latihan, jadi mereka mengambil jam pagi dan pulang sekolah."
"Begitu ya." Respon Ice.
Iris aquamarinenya tak melepas pandangan dari tempat itu.
Sepertinya sangat menyenangkan.
Nampak Gempa yang tengah memegang bola untuk memulai lemparan ke dalam, sesekali mengarahkan teman-temannya.
"Amar! Oper ke Blaze!" Serunya ketika bola melambung ke arah Amar.
Dengan cepat bola berpindah di kaki Blaze yang berjarak hanya beberapa meter dari gawang.
"Bersiaplah Gopal!" seru Blaze.
Ia mengarahkan bola itu ke arah gawang, Gopal telah bersiap di tempat memperhatikan arah bola akan ditendang. Sayangnya bola melambung terlalu tinggi hingga melewati atas gawang.
"HEI! AWAS!" Seru seseorang ketika menyadari objek diarah bola.
!?
DUAK!
Jeritan mempesona terdengar dari para saksi gadis yang menyaksikan drama slow motion itu. Sebagian menghampiri si korban yang telah tergeletak di tanah, termasuk Ying dan Ice.
"Kau tidak apa-apa?"
"Hei, bangun!"
Wajahnya nampak merah karena bekas ciuman bola yang menabraknya.
"Ugh, donat lobak merah." Racaunya setengah sadar.
"Kau tidak apa-apa, Fang?" Tanya Ying.
Ia memegangi kepalanya yang terasa berdenyut dan mencoba menfokuskan pandangannya yang buram, sambil sesekali mengucek matanya.
"Ini kacamatamu." Ujar Ice sambil menyodorkan kacamata Fang.
"Terima kasih."
"Maaf, aku tidak sengaja tadi. Aku menendang terlalu ke-, KAU!" Seru Blaze ketika tau siapa korbannya.
"KAU!" Fang pun tak kalah terkejut ketika sosok yang muncul dihadapannya untuk minta maaf. "Kenapa aku aku selalu sial ketika aku bertemu denganmu!?"
"Seharusnya tadi aku tendang bola itu sekuat mungkin." Cibir Blaze.
Fang segera bangkit, mengabaikan kepalanya yang terasa berat. Iris nya mencari-cari benda bulat yang tadi terbang ke arahnya.
"Rasakan ini!" Seru Fang sambil melempar bola tepat di wajah Blaze dengan 'sedikit' kuat.
DUAK…
Sekarang Fang puas dengan membalas dendam dan sukses membuat Blaze mencium tanah.
"Ugh, kau cari masalah denganku!?" Tanya Blaze dengan nada tinggi.
"Kau yang cari masalah denganku dulu!" sahut Fang tak mau kalah.
Beruntung murid di sana segera memisahkan mereka, hingga tidak membuat kerusuhan lebih. Ying pamit sambil merangkul Fang ke UKS, meninggalkan sebagian murid yang masih tinggal di sana.
Ice hanya melirik Blaze setelah memandang kepergian Ying dan Fang.
"Apa?" Tanya Blaze.
"Bodoh." Ujar Ice tidak jelas, dan langsung meninggalkan Blaze yang masih melongo di tempat. Memandang punggung Ice yang perlahan menjauhinya.
"Hahaha, dasar baka Blaze." Gumam Ice seorang diri, diselingi tawa gurih.
~LucKyra~
Bel pulang sekolah telah berbunyi beberapa menit yang lalu, meninggalkan Ice seorang diri dalam kelas. Jari-jemarinya masih sibuk menulis di atas kertas putih, catatan mata pelajaran hari ini. Sepasang handfree bertengger di kedua indra pendengarannya.
Memang raganya di sini, tangannya juga masih menulis, tapi pikirnya yang terbawa angin.
"DOOORRR!"
Ice terlonjak ketika Blaze yang tiba-tiba datang sambil menepuk pundaknya agak keras.
"Blaze? Jangan mengagetkanku seperti itu, lihat bukuku jadi tercoret." Ujar Ice sambil menunjukan buku catatannya, tanpa melepas handsfreenya.
Blaze tergelak melihat ekpresi kesal Ice, "Hahaha, maaf. Habisnya dari tadi ditunggu tak datang-datang. Aku Tanya Yaya, dia bilang kau masih di kelas." Jelas Blaze.
Ia meraih salah satu handsfree yang terpasang di telinga kanannya, dan memasangnya di daun telinga bagian kirinya.
"Duduk sendirian di kelas setelah pulang sekolah, kau mendengarkan apa sih?" Tanya Blaze.
Kono ryoute kara koboresou na hodo
Kimi no moratta ai wa doko ni suteyou
Kagiri no aru shoumouhin nante boku wa
Iranai yo
"Hoaaa, kau suka Megpoid Gumi?" Seru Blaze heboh setelah mendengarkan musik itu.
"Aku hanya suka permainan gitar dari lagu ini. Kenapa kau menungguku? Aku masih ingin di sini." Ujar Ice sambil terus menulis catatan di papan tulis.
"Tentu saja untuk mengajakmu pulang bareng."
Cahaya matahari jingga menerobos kaca bening, menyinari tiap sudut ruangan. Sekolah nampak lebih sepi dari sebelumnya. Mereka terlarut dalam musik yang terus memainkan lagu yang sama.
"Hei, Ice." Panggil Blaze.
"Hm?" Gumam Ice seraya mengalihkan pandangannya dari buku.
Blush…
Wajah Ice memerah ketika ia memandang Blaze yang duduk di depannya yang juga tengah memandangnya dengan wajah bosan.
Dekat sekali. Wajahku panas, kelihatan sekali ya?
"A-apa?" Tanya Ice.
"Sudah selesai belum?"
"Kau bisa pulang duluan, tak perlu menungguku." Jawab Ice ringan.
Blaze menyentuh tombol pause di permukaan MP4.
"Hei, aku di sini untuk menunggumu. Sia-sia dong penantianku selama ini."
"Kau menanti belum sampai 10 menit." Cibir Ice, dan kembali memutar MP4nya.
Susumu kimi to tomatta boku no
Chijimaranai suki o nani de umeyou
Mada sunao ni kotoba ni dekinai boku wa
Tensei no yowamushi wa
"Bagiku 10 menit dengan atmosfir seperti ini, sudah seperti menunggu 8 jam."
Ice menghela nafas dan mulai mengemasi barangnya. Tak lupa mematikan MP4nya dan memasukannya ke dalam tas.
.
.
"Eh? Ada apa ramai-ramai di gedung olahraga?" Tanya Blaze ketika mendengar suara sorak sorai dari gedung itu. "Ayo kita lihat dulu, sepertinya seru."
"Kau bilang kau mau pulang bersamaku!?"
"Iya, tapi ayo ke sana dulu." Ujar Blaze sambil menarik tangan Ice.
"Hei!"
Tangannya hangat. Kenapa kau selalu sehangat ini Blaze?
"Ada apa sih ramai-ramai seperti ini?" heran Blaze.
Ying tibatiba muncul dari belakang mereka dengan sebotol air mineral di tangan.
"Hei, kalian belum pulang? Apa yang kalian lakukan di sini?"
"Ini ada apa sih kok rame kayak gini?" Tanya Ice.
"Oh, sparing. Tim basket kita melawan tim basket SMA Vanlith. Ayo ke trimbun, ini quarter terakhir."
"Sepertinya seru." Gumam Ice.
Ice mengekor Ying dari belakang di susul Blaze.
"Heh!? Landak anggur!?" seru Blaze ketika melihat Fang yang maju mendrible bola.
"Kenapa?"
"Dia ikut tim basket?"
"Kau tidak tau? Dia itu kapten tim basket sekolah kita."
"Nyesel aku ke sini. Ice ayo pulang."
"Hei, kau pikir aku kucing bisa diajak kesana kemari sesuka hati? Stay di sini dulu, lagian ini quarter terakhir. Ngga lama kok, ya?" pinta Ice.
Blaze hanya bisa memutar bola mata dan duduk sambil mendengarkan sorak sorai norak.
Nampak Fang yang kembali menguasai bola setelah di rebut lawan. Sampai di daerah lawan, bawah ring dijaga ketat hamper tak ada celah.
Kalau tidak bisa lay up atau under ring, jadi
Di garis three point, ia bersiap untuk menembak namun salah seorang pemain lawan menutup jalur tembakannya. Namun tak membuat Fang kehilangan akal, ia menembak dengan sedikit mencondongkan tubuhnya kebelakang.
Fade away?
Point terakhir untuk SMA Pulau Rintis membuat seluruh penonton berteriak girang, mengakhiri sparing hari ini dengan kemenangan di tangan mereka.
"KYAAAA! FANG!"
"Fang! I Love U!"
"Apaan sih? Biasa aja." Ujar Blaze kesal.
"Hahaha, kenapa? Kau kalah popular?" ejek Ice.
"Tidak, lagi pula aku lebih keren daripada landak ungu itu."
"Hmm, ya wajar sih kalau banyak yang ngefans sama Fang. Secara dia itu cerdas, keren, kaya, cool, kapten tim basket lagi. Kalau dibandingin Blaze, seperti langit dan bumi." Ujar Ice sambil memasang muka kucing.
"Sudah puas memujinya? Kalau begitu kenapa kau tidak sekalian pacaran dengannya?"
Ice menahan tawa, masih belum puas menggoda sahabatnya satu ini. "Hmm, cemburu?"
"Buat apa aku cemburu dengan orang seperti dia?"
Akhirnya tawa lepas dari bibir Ice, "Aku kan hanya bercanda. Tak perlu memasang expresi gitu juga. Lagian siapa juga yang suka dengannya?"
"Sudahlah, aku mau pulang." Ujar Blaze yang langsung meninggalkan Ice begitu saja.
"Cie yang ngambek," ujar Ice yang masih terus menggoda Blaze.
Ia segera menyusul Blaze yang sudah duluan.
Walau matahari masih bersinar terang, tapi entah kenapa awan kelabu menutupi kota itu. Namun bukan masalah. Ketika sang rinai membahasi bumi, lebih Nampak seperti kemilau berlian di udara ketika cahaya matahari mengenainya.
"Matahari masih bersinar tapi kok hujan?" gumam Ice yang berdiri di samping Blaze.
"…"
Ice melirik Blaze yang sepertinya masih marah, "Masih marah?"
"…"
"Aku kan hanya bercanda."
"…"
Kecambah rasa bersalah mulai subur tumbuh di hatinya. Seharusnya ia tak bicara seperti tadi, mengingat sifat Blaze yang masih kekanak-kanakan. Seperti mengambil permen dari anak kecil, ia akan marah.
Saat ini mereka hanya bisa merasakan atmosfir yang terasa menyesakkan dada. Hanya suara hujan yang menabrak genting yang menjadi teman mereka. Sudah 30 menit mereka menunggu hujan reda, namun hanya cahaya matahari yang semakin remang yang menjawab mereka.
Tiba-tiba Ice merasa pening menjalari kepalanya. Ia lupa belum meminum obatnya siang ini. Saat itu yang ia harapkan hanya semoga Blaze tak menyadari kondisinya.
"Ukh…" Rintihan kecil lolos dari bibirnya.
Merasa mendengar sesuatu yang samar, Blaze langsung menoleh pada sahabat yang sedang ia cuekin. Namun seperti balon yang lepas begitu saja, ketika melihat mimic Ice yang seperti menahan rasa sakit.
"Ice? Kau kenapa?" Tanya Blaze.
"Ng.." Ice menggeleng pelan sembari memejamkan mata, menahan sakit.
"Eh, Ice hidungmu berdarah!" Seru Blaze.
Ice terbelalak ketika ia baru menyadari darah segar yang mengalir dari lubang hidungnya.
Blaze menyeka darah itu menggunakan jarinya, namun segera di tepis lembut oleh Ice
"Tidak apa-apa, biar aku saja." Ujar Ice yang segera mengambil tissue yang selalu stand by di saku seragamnya.
Blaze mengajak Ice untuk duduk di bangku terdekat agar ia bisa beristirahat sejenak.
"Kau yakin? wajahmu pucat sekali lo." Ujar Blaze mulai panik.
"Iya, aku tidak apa-apa. Hanya kondisiku saja yang kurang fit." Elak Ice.
Hati Blaze luluh, justru ia yang merasa bersalah sekarang. "Kalau kesehatannya belum sehat betul seharunya kau tidak memaksakan diri untuk sekolah." Ujar Blaze.
Ice hanya diam saja, masih berusaha menghentikan darah yang masih mengalir.
Hidupmu itu seperti bintang. Yang bersinar terang di langit malam. Tapi kau terlalu jauh untuk ku bisa menggapaimu. Aku juga tak memiliki cahaya, untuk bisa bersinar bersamamu.
TBC
Hwaaaaa… MAAF MAAF MAAF.. Baru sadar kalo udah 2 minggu ngga update T.T aduh, jadi berasa bersalah banget T.T
Maaf banget atas keterlambatan updatenya.. Tapi Lucky juga punya alasan, tidak meninggalkan ff hanya karena bosan atau apa.
Abis turnamen itu aku sakit. #Haduh, efek kalah T.T sampe ngga bisa bangun. Yang bener aja sehari maen 2x, lawan berat semua :'( Tepar deh.. Sampai ff ini update pun belum sembuh ni flu T.T
Abis itu sibuk buat HBDnya sekolah, dan puncaknya hari Kamis ini, jadi maaf kalau terlambat sampai 2 minggu.
Bales review dulu yak?
Vanilla Blue12 : Yay! Kan tak ada usaha yang sia-sia ^^ .. Sama saya juga banyak tugas, makanya baru sempat update #Digampar. Makasih ya doanya, sayangnya ngga sampai final udah keok duluan :'D
Ini udah lanjut, makasih ya udah nyempetin review ^^
h. unknown : Iya Ice pingsang T,T #Authornya dibekuin.
Ice : Aku juga belum mau mati T.T tapi authornya berkata lain.
Oh ya, makasih ya udah nyempetin review dan makasih juga doanya. Sayangnya belum sampai final udah keok duluan :'D
Regietta580 : Ice : Kalau ngga maksain diri ngga akan menang, toh ini juga event terakhir sebelum lulus SMA. Orang bilang masa SMA itu ada kenangan terindah, jadi harus dijalani dengan semangat pacu kuda (?)
Oke, makasih udah nyempetin review di tiap chapter ^^
Semangat juga buat Reggietta, soal ceritanya tenang aja. Pasti lanjut kok, Cuma nyari waktunya curian aja yang susah :D
Crystal Pinkie P : Lah, kenapa ketawa?
Hwaaa, gomennasai… Kali bisa mah tiap 3 hari sekali update. Tapi apa daya, tugas sekolah datang silih berganti, sampai mikir kalo kita kaya robot T.T. Makasih udah nyempeti review.
Iliara : Siap, selalu semangat 45. Sayangnya sering kecuci sama tugas yang bikin semangat luntur.. Tapi tenang aja, always keep spirit kok.. ^^ Makasih dukungannya.
Oke, segitu aja ya.. Sampai ketemu lain waktu..
Bye Bye…
