Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Author : Hani Yuya
Judul : Yume no mirai
Rate : M for lime & lemon
Pairing : Sasusaku, Gaasaku.
Gendere : Au,Ooc,Romance,Drama
Nb :Cerita ini mengandung unsur lemon 21+, Not for children. DLDR
Chap 9 - Real Love .
.
.
Kyaa... Apa katanya tadi? Oh kami-sama kenapa dia malah mengatakan hal yang membuatku goyah. Bukan hanya kau yang menginginkanku Sasuke! Akibat ucapanmu itu libido dalam diriku sudah sampai batasnya, dan aku akui, aku juga menginginkanmu sepenuhnya..
Bluushhh... Sepertinya asap keluar dari kepalaku, baru membayangkannya saja sudah membuat tubuhku semakin panas. Tenang Sakura! Kau harus tenang! Jangan sampai kau terpancing dengan omongannya.
"Ukkhh, aku percaya padamu. Tapi~ kurasa ini belum saatnya kita melakukan 'itu' Sasuke-kun." ucapku setenang mungkin.
"Aku tak bisa menunggumu lebih lama lagi Sakura." ujarnya serius dengan raut wajah memelas.
Stopp! Ukkh, jangan berkata seperti itu, kata-katamu bisa meruntuhkan pertahananku Sasuke. Dan... tolong jangan memandangku dengan ekspresi seperti itu! Aku diam tak berkutik. Sasuke menatap setiap inci tubuhku, oh tidakk! Aku malu ia melihat tubuhku yang tidak sexi karena gumpalan lemak ini. Rasanya ingin sekali terjun ke dalam jurang yang paling terdalam. Mau di taruh dimana wajahku ini!
"Hahaha, tak perlu malu Sakura, aku bahkan sangat bergairah melihat perutmu yang penuh akan lemak ini." ia mencubit perutku dengan kedua tangannya, seraya terkekeh pelan.
"Benarkah?" aku tak dapat menyembunyikan perasaan senang di hatiku saat ini.
"Hn, jadi~ bisa kita lanjutkan?"
Bluusshh, "Kyaaa!" Sasuke menyeringai dan mendorongku jatuh ke atas tempat tidur kemudian menindihku.
Deg-deg-deg... Jantungku berdetak tak menentu. Ia menyingkap bra-ku ke atas membuat dadaku terekspos sempurna. Deg, ia langsung menjilat dan melumat benjolan hitam yang menegang di dadaku dengan mulutnya, seperti bayi yang kehausan.
Ukkhhh, tak bisa ku-pungkiri, perlakuannya membuatku bergairah. Nafasku seakan tercekat di tenggorokan ketika merasakan sebelah tangannya menurunkan celana dalamku, dan melemparkannya ke sembarang arah, aku tersentak kaget ketika merasakan jarinya masuk ke dalam lorong kewanitaanku.
"Tu-tunggu dulu Sasuke~ ahhh... hmmpp."
Aku langsung membekap mulutku dengan kedua tanganku ketika suara desahan lolos dari bibirku, ketika jarinya mulai mengocok lorong kewanitaanku.
Setelah puas dengan dadaku kini ia mulai turun ke daerah sensitifku, ia mulai menjilati lorong kewanitaanku dan menggigit kecil klitorisku pelan, membuatku tak dapat menahan desahan karena perlakuannya.
"Ahhh... Uhhh."
Sasuke terus memanjakan tubuhku, membuatku bergelinjang di atas kasur, detak jantungku semakin cepat berdetak ketika merasakan lidah tak bertulang miliknya yang kenyal masuk ke dalam lorong kewanitaanku. Atas ulahnya itu, aku tak dapat menahan sesuatu yang ingin melesak keluar dari daerah sensitifku, sontak aku beranjak duduk dan menjauhkan wajah Sasuke dari sana.
"Cepat menjauh dari sana Sasuke-kun! Ukkhh... Akkhhhhh." telat! aku terbelalak ketika cairan bening keluar dari daerah sensitifku dan mengenai wajah tampannya.
"Hn, kau klimaks secepat ini Sakura... Fufufu, Hentai!" ucapnya menggodaku seraya menjilati cairan bening yang menempel di samping bibirnya dengan lidahnya. Blusshhh! aku blushing berat ketika melihat wajahnya semakin menggoda.
Tidakkk! Aku menyerah!Aku tak bisa menolak pesonanya! Wajahnya terlihat begitu menggoda sehingga aku benar-benar tak berdaya di buatnya. Aku kembali membaringkan tubuhku. Kaa-san, Tou-san, Sasori-nii, aku minta maaf pada kalian semua. Karena tak bisa menjaga kesucianku sebelum menikah. Itu semua karena wajah Sasuke yang begitu menggairahkan. Aku menarik nafasku dalam-dalam sebelum membuat keputusan besar dalam hidupku.
"Lakukanlah Sasuke-kun, lakukan semaumu." Kyaaaa, aku mengucapkan hal yang memalukan! Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Akhirnya aku akan menyerahkan keperawanan-ku padanya sekarang. Sasuke kembali menindihku, kemudian dia menyingkirkan tanganku dari wajahku, cup... mengecup keningku.
Gyuut,Sasuke mencubit pipi chubby-ku,"kau terlalu manis Sakura. Mendengar ucapanmu membuat selangkanganku semakin sesak, sehingga tak bisa menahan diriku untuk tidak menyentuhmu lebih lama lagi. Aku tak akan berhenti meski kau menangis sekali-pun."
Sasuke mulai melepas celana dalamnya. Deg, mataku terbelalak ketika melihat kejantanannya yang besar itu menegang, bahkan lebih besar, ini di luar ekspetasiku selama ini. Tubuhku menegang ketika Ia mengarahkan kejantanannya di depan lorong kewanitaanku dan menggesek-gesekkan kepala kejantanannya pada klitorisku.
"Ukkkhhh, ahhh... uhhh." Hosh, hosh, hosh nafasku terengah-engah menahan nafsu yang sudah semakin memuncak.
"Ku-mohon Sasuke-kun ce-pat ma-sukkan ke-jan-tananmu."
Sasuke nampak terkejut mendengar permintaanku, yah, aku pun juga terkejut bisa mengatakan hal memalukan itu padanya. Aku tak bisa berfikir jernih sekarang, akal sehatku entah pergi kemana. Aku sudah benar-benar di buat gila oleh pesonanya.
"Hn, dengan senang hati, ukkhhh...bertahanlah Sa-ku-ra." ujarnya tertahan.
"Ukkhhh!"
Aku menahan nafasku ketika Sasuke memasukkan kejantanannya sedikit demi sedikit, Sensasi nikmat yang baru pertama kali kurasakan ini namun secara bersamaan rasa sakit juga kurasakan saat kejantanannya semakin melesak masuk ke dalam. Lorong kewanitaanku berdenyut menghimpit kejantanannya. Ia memelukku, kemudian sekali hentakan ia menenggelamkan seluruh kejantanannya yang panjang dan besar itu menembus selaput keperawananku.
"Aakkkhhhhhhhhh!" aku menjerit kesakitan, jari-jariku mencengkram pundaknya erat. Aku tak menyangka ternyata melakukan sex untuk pertama kali begitu sakit. Liquid bening menetes dari sudut mataku.
Sasuke mengelus rambutku dan mengusap air mataku, kemudian mengecup jidatku, ia belum menggerakkan pinggulnya sama sekali sejak ia menenggelamkan seluruh kejantanannya di dalam lorong kewanitaanku.
"Bertahanlah Sakura, setelah ini tak akan terasa sakit. Kau akan merasa lebih baik." ucapnya menenangkanku, perlahan Sasuke mulai menggerakkan pinggulnya.
"Ukkhh!" aku menggigit bibir bawahku kencang dan masih mencengkeram pundaknya erat menahan rasa perih yang masih terasa di daerah sensitifku.
"Ahhhh... Ahhh... Uhhh." desahan demi desahan lolos dari bibirnya. Suaranya terdengar sexi di telingaku, semakin lama Sasuke semakin menambah tempo in-out nya. Keadaanku pun berangsur membaik, rasa perih yang kurasakan tadi entah mengapa menghilang dan kini tergantikan rasa nikmat yang belum pernah kurasakan seumur hidupku.
"Ahhhh... Ahhh... Uhhh." desahan demi desahan lolos dari bibirku.
"Sa-ku-rah, ahhhh... ahhh, lorong-mu se-makin ku-at men-je-pit ke-jan-tananku,ahh."
Blusshh, kami-sama mati pun aku rela sekarang. Sasuke terlihat semakin menggoda saat ini. Wajahnya yang penuh akan keringat dan suara desahannya membuat gairah dalam diriku semakin mencapai puncaknya.
"Sa-su-ke-kun... ahhh, ahhh... Aku men-cin-tai-mu, ukkhh." ucapku di selah desahan.
Dia tersenyum, mengecup bibirku sekilas, "hn, a-ku ju-ga sa-ngat men-cin-tai-mu Sa-ku-rah,ahhh...uhhh."
"Ahhh, ahhh, Sa-su-ke-kun, ahhh, ahhh, ce-pat, ukkhhh... ku-mohon!"
Sasuke semakin mengeratkan pelukannya, dan menambah tempo in-outnya. Semakin cepat pergerakannya membuatku merasa semakin nikmat.
"Ahhh... Ahhhh... Ahhh."
Suara desahannya semakin terdengar seksi di telingaku, aku tak bisa menahannya lebih lama lagi. Ada sesuatu yang ingin melesak keluar dari lorong kewanitaanku untuk ke dua kalinya, aku memeluk tubuh Sasuke semakin erat. Dan~
"Aarrgggggghhh!"
"Ahhhhkkkkkkk!"
Kami klimaks bersama, aku merasakan sperma Sasuke masuk memenuhi rahimku. Lorong kewanitaanku terasa panas. Ukkhhh~ apa ini? aku menautkan alis heran ketika kejantanan Sasuke masih memenuhi lorong kewanitaanku. Apakah? Mustahil dia masih belum puas? Glek! Aku menelan ludahku melihat Sasuke menyeringai menatapku. Ia beranjak duduk bersimpuh tanpa melepaskan kejantanannya dari dalam lorong kewanitaanku.
"Belum Sakura...aku masih belum puas." ujarnya sensual dan itu terlihat sexi dan menggoda.
"Kyaaaa! Apa yang kau lakukan Sasuke-kun?" Sasuke melebarkan selangkanganku dan menaikkan kedua kakiku ke atas. Tangan kanannya mengelus lipatan perutku yang penuh akan lemak ini, kemudian menggerakkan pinggulnya perlahan.
"Uhh, kau nikmat Sakurah, aku bahkan tak ingin mengakhirinya." ujarnya di selah kegiatannya.
"Ukkkhhh, hentai~ahhh... Ngg... Sa-su-ke-kun ba-ka, ahhh... Ahhhh." aku kembali mendesah ketika Sasuke mulai menambah tempo in-outnya. Ukkhhh... Kejantanan Sasuke semakin bertambah besar di dalam. Bagaimana mungkin kejantanannya bisa bertambah besar setelah melakukan klimaks barusan? Oh kami-sama, kejantanannya semakin mempersempit lorong kewanitaanku, dan itu membuatku semakin merasakan nikmat yang tiada tara.
Sasuke memajukan wajahnya mendekati wajahku, cup... di kecup jidat lebarku, pipi chubby-ku kemudian mulai melumat bibirku dengan rakusnya. Lidahnya masuk menerobos mulutku dan mengajak lidahku berdansa, mengabsen setiap gigi putihku kemudian menggigit bibir bawahku penuh nafsu.
Setelah puas dengan bibirku, bibirnya mulai turun menjelajahi leherku, ia menjilat leherku bak menjilat es krim, kemudian menggigitnya kecil-kecil, sehingga meninggalkan beberapa raum merah di sana.
"Ukkhhh... Ahhh..." tangan kirinya mulai bergerilya meremas buah dadaku dengan gemasnya. Sasuke menatapku lekat, kemudian tersenyum. Tiba-tiba ia mengubah posisinya, ia menarik tanganku, kemudian memposisikan tubuhku yang penuh akan lemak ini berada di atasnya.
"A-pa yang kau lakukan Sasuke... Ukkhhh."
"Gerak-kan pinggulmu Sakura!"
"Apa maksudmu?" Sasuke menyeringai, ia berhenti menggerakkan pinggulnya. Kejantanan Sasuke masih berada di dalam lorong kewanitaanku, aku tak mengerti kenapa ia mengubah posisi kami jadi seperti ini? Aku sekarang duduk di pangkuannya, kakiku berada di atas pahanya.
"Aku ingin sekarang kau yang melakukannya!"
Emeraldku membulat ketika mendengar ucapannya, blusshhh... wajahku semakin merah seperti kepiting rebus. Yang benar saja, ia menyuruhku untuk melakukan-nya sendiri!
Brrukkk..."uwaaa... Apa yang kau lakukan!" aku tersentak kaget ketika Sasuke membaringkan tubuhnya, untung saja aku dapat menopang tubuhku untuk tidak menindih tubuhnya dengan kedua tanganku.
"Lakukan sesukamu Sakura!" ujarnya dengan nada menggoda.
Oh kami-sama ia benar-benar terlihat menggoda! hampir saja darah segar keluar dari hidungku. Kini posisi kami terbalik, aku sekarang berada di atas tubuhnya. Kuperhatikan dada bidangnya, kemudian turun kebawah melihat perutnya yang sixpak, glek...membuatku harus menelan ludah berkali-kali.
"Sakura, cepat gerakkan pinggulmu! Aku sudah tak bisa menahannya lagi!" pintanya dengan nada memohon.
Kyaaa... sudah cukup! Aku tak bisa menahan diriku untuk tidak menyentuhnya lebih dari ini. Ini semua gara-gara kau Sasuke-kun, kau membangunkan sisi buasku.
"Aarrgghh... Sa-ku-rah... Ahhhh... terus lebih cepat... hmmmpp."
Aku mulai menggerakkan pinggulku naik-turun, kemudian melumat bibirnya dengan rakus, kali ini aku yang memimpin permainan panas kami. Tangan kananku meremas dua benda bulat yang tertempel di tengah selangkangannya. Membuatnya menjelinjang di atas kasur. Aku melepaskan lumatanku, menyisakan benang saliva yang masih bertautan di bibir kami. Aku mengarahkan bibirku ke leher jenjangnya, dan membuat beberapa kissmark di sana, sama seperti perlakuannya tadi terhadap diriku.
"Sa-ku-rah... Ukkhhh... Arrrrghhh... Ahhh."
Emeraldku membulat ketika merasakan kejantanannya semakin bertambah besar di dalam. Bagaimana mungkin ini terjadi! Sampai kapan kejantanannya akan terus membesar? "Ukkhhh... Sa-su-ke-kun, ke-jan-ta-nan-mu bertambah besar lagi! Akkhh.. Ahhh." aku tak bisa menahan desahanku. Aku semakin menambah tempo naik-turun pinggulku semakin cepat. Aku sudah tidak tahan lagi~ sesuatu ingin melesak keluar di dalam.
"Arrgghhhhhh."
"Akkhhh... Ngg."
Kami klimaks untuk yang ke dua kalinya. Panas~ sperma yang ia keluarkan sepertinya lebih banyak daripada sebelumnya, sampai-sampai meluber keluar dari sela lorong kewanitaanku. Hosh... Hosh... deru nafas kami berdua seakan bersahutan.
Pluk, aku mencabut kejantannya dari lorong kewanitaanku, kemudian merebahkan diriku di sampingnya. Aku masih tak menyangka akan melakukan ini dengan pria setampan dia, sampai saat ini aku pun masih tak percaya, apakah ini mimpi? Aku mencubit pipiku sendiri membuktikan kalau ini bukanlah mimpi. Auch, sakit!
Grepp, Sasuke menggenggam tanganku sontak aku menoleh menatapnya. Ia memiringkan badannya menghadapku lalu tersenyum. Kami-sama Manisnya~
"Arigatou telah memilihku Sakura."
Ukkhh, curang! Seharusnya aku yang harus mengatakan itu padamu bodoh!. Aku menganggukkan kepalaku kemudian memeluknya. Dia pun berbalik memelukku, aku merasakan sensasi aneh ketika tubuh kami saling bersentuhan. Ini tetap saja memalukan, padahal tadi kami sudah berhubungan sex sebanyak dua kali. Blusshhhh... terlebih lagi tadi aku sangat bersemangat ketika memimpin permainan. Kyaaa... ini sungguh memalukan, aku terlihat begitu agresif menyentuhnya. Dan baru pertama kali melihat ekspresi wajahnya seperti itu, dia bahkan terlihat manis ketika ku sentuh tadi.
"Sakura,kau begitu agresif tadi, apakah aku begitu menggoda, he... ahahahahha." ia tertawa terbahak-bahak.
"Ukkhhh... Kau yang membuatku terpaksa melakukannya Sasuke-kun. Menyebalkan!" aku menggembungkan pipiku kesal. Ia masih saja menggodaku.
Ah~ tubuhku terasa hangat di dalam pelukannya, ini membuatku nyaman. Setelah melakukan sex dengannya membuat tubuhku lelah, aku melirik ke arahnya. Sepertinya dia pun kelelahan, Sasuke sudah terlelap tidur, aku menautkan alis heran, baru saja ia tertawa geli tadi tapi sekarang ia sudah terlelap tidur dengan ekspresi wajah yang terlihat seperti seorang bayi tanpa dosa. Melihat wajahnya yang begitu manis, membuat jantungku kembali berdetak kencang.
Aku masih belum percaya Sasuke memperlihatkan wajah manisnya ketika berhubungan sex tadi, suara desahan yang begitu menggoda keluar dari mulutnya. Oh kami-sama, aku sangat berterimakasih padamu karena kau telah mempertemukan aku dengannya. Arigatou. Tak berapa lama kemudian aku pun ikut terlelap di dalam pelukannya.
.
.
.
* Sakura pov off*
.
Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah jendela menyinari wajah sang gadis musim semi yang kini sudah menjadi seorang wanita seutuhnya. Ia mengerjakan matanya berulang kali, iris matanya yang masih terbuka setengah itu menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 7.
"Hoooaammm." sepertinya roh dalam tubuhnya belum sepenuhnya terkumpul. Ia menguap dan beranjak duduk. Meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku.
Deg, matanya membulat ketika melihat Sasuke tidur di sampingnya tanpa sehelai benang yang menempel di badannya. Blusshhh... peristiwa kemarin sore menari-nari di benaknya. Sakura menepuk jidatnya frustasi, ia hampir lupa jika mereka baru saja melakukan sex kemarin dan kemudian tertidur. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya mengenyahkan pikiran kotor yang terlintas di benaknya ketika emeraldnya melirik kejantanan Sasuke yang sedang tertidur itu.
"Ukkhhhh... bahaya, ini tak baik untuk jantungku!"
Perlahan Sakura turun dari tempat tidur, kemudian menarik selimut dan menyelimuti tubuh Sasuke sampai sebatas dada.
"Fiuhh, ini lebih baik." desahnya lega.
Ia kemudian membuka lemari pakaian milik Sasuke, mencari pakaian yang pas untuk ia pakai. Sakura mendesah frustasi karena tak mendapatkan kaos atau piyama yang muat di tubuhnya.
"Haaa~ menyebalkan kenapa pakaiannya kecil semua sih!" desahnya frustasi. Hei, bukankah tubuhmu yang terlalu gemuk Sakura!
Tiba-tiba Sakura teringat akan kalung miliknya. Ia sontak mencari tas kecil yang ia bawa kemarin. Senyum sumringah tercetak di wajahnya ketika menemukan kalung miliknya, Cling~ tubuhnya berubah menjadi kurus ketika memakai kalung warisan keluarga nya itu. Ia bernafas lega karena sihir keajaiban kalungnya masih berfungsi. Tak mau membuang waktu ia memilih satu stel piyama lengan panjang hitam garis-garis yang sedikit tebal milik Sasuke untuk menutupi tubuhnya yang tidak memakai daleman itu.
"Tunggu dulu, kau tak bisa masuk ke dalam sekarang. Bagaimana kalau kita tunggu mereka di ruang makan saja."
"Jangan menghalangiku Itachi, aku ingin melihat mereka sekarang."
Deg... Sakura terlonjak kaget ketika mendengar suara ribut di luar kamar Sasuke. Suara baritone seorang pria yang sangat familiar di telinganya, tapi ada suara seorang wanita yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Ia menautkan alis heran, siapa wanita itu? Ah~ tapi yang lebih penting ia harus melakukan sesuatu saat ini.
"Ba-bagaimana ini! apa aku harus bersembunyi? Atau aku bangunkan Sasuke-kun? Akkkhhh... kepalaku ingin pecah rasanya, tch, lebih baik aku sembunyi saja." Sakura bergegas memungut gaun dan pakaian dalamnya yang berserakan di lantai.
Ceklek... Deg, emeraldnya membulat, jantungnya seakan ingin melompat keluar ketika pintu kamarnya terbuka, ia tak sempat bersemburiang keringat dingin mengucur dari pelipisnya ketika Itachi dan seorang wanita setengah baya berdiri di hadapannya. Wanita itu membawa nampan yang berisikan beberapa sandwich dan segelas susu.
"Ohayou Sakura-chan." sapa wanita itu riang dengan senyum sumringah yang tercetak di wajah cantiknya.
"O-ohayou." jawab Sakura ragu-ragu, ia langsung menatap Itachi yang berdiri di samping wanita itu, meminta penjelasan darinya. Itachi yang sadar akan arti tatapan Sakura mendesah panjang dan berusaha menjelaskannya.
Puk, Itachi menepuk pundak wanita itu, "wanita cantik ini adalah... ibuku Sakura, Uchiha Mikoto." ujar Itachi.
"I-I-I-BU!" teriaknya saking terkejutnya. Mimpi apa dia semalam, sehingga ibu dari pemuda yang ia cintai- calon ibu mertuanya memergoki dirinya bermalam di rumahnya, terlebih lagi tidur di kamar yang sama dengan Putra bungsunya. Ia menepuk jidatnya yang sedikit pusing itu, mau di taruh dimana wajahnya! Karena saking malunya.
"Panggil saja aku 'Okaa-chan' Sakura-chan, karena sebentar lagi kau akan jadi anakku juga."
Sakura diam tak bergeming, wajahnya sangat merah, ia tak tau harus mengucapkan apa pada calon ibu mertuanya karena bertemu di saat yang tak tepat dan memalukan ini. Matanya berkaca-kaca meminta bantuan Itachi.
"Sebaiknya kita keluar kaa-san," bujuk Itachi, Sepertinya mereka berdua mempunyai kontak batin yang kuat, Itachi langsung tau arti tatapan Sakura yang tertuju padanya.
"Dimana Sasuke? Aku ingin menyapanya dulu." tolak wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya itu.
Deg, Sakura kalap dan salah tingkah, wajahnya semakin memerah bak tomat kesukaan Sasuke,"ano~Sasuke-kun... dia... dia~" ucapkan tersendat-sendat.
'Gawaattt! Apa yang harus kukatakan pada Ibunya kalau Sasuke-kun masih terlelap tidur karena kelelahan melakukan sex denganku kemarin! Tidak mungkin kan aku mengatakan itu padanya!oh kami-sama aku harus membuat alasan apa, hiks.' batinnya menjerit frustasi.
"Sakura, kenapa kau tidak membangunkanku!"
Deg! Sakura menoleh dengan gerakan slow motion ke arah Sumber suara, mulutnya menganga lebar, matanya melotot hampir copot keluar ketika melihat Sasuke yang datang menghampirinya tanpa busana, ia berjalan seraya menguap dan mengucak-ngucak matanya. Sepertinya pemuda raven itu tidak menyadari keberadaan Itachi dan ibunya disana.
"KYAAAA! SASUKE-KUN APA YANG KAU LAKUKAN! CEPAT PAKAI BAJUMU! teriak Sakura panik menghalangi tubuh Sasuke dengan tubuhnya.
"Hn, kenapa kau panik sekali Saku~"
"Ohayou Sasuke."
Onyx Sasuke membulat ketika mendengar Mikoto menyapanya, "KA-KAA-SAN!" teriaknya kaget, "Tch." ia mendecih, dengan langkah panjang ia bergegas menuju kamar mandi meninggalkan Mikoto, Itachi dan Sakura tanpa bicara apapun dengan wajah yang sangat merah seperti kepiting rebus. Itachi yang melihat ekspesi terkejut dan wajah merah sang adik tak bisa menahan tawanya.
"AHAHAHHAHA."
"Itachi berhentilah menertawakan adikmu!" desah Mikoto.
'Habislah sudah! Ukkhhh... Ini sungguh memalukan!?' jerit Sakura dalam hati.
"Sakura," ujar Mikoto menyadarkan lamunannya, kemudian menyerahkan nampan yang dia bawa pada Sakura. "Makanlah bersama Sasuke, lalu bersihkan badanmu. Kami tunggu di ruang tamu. Ada yang ingin aku dan Fugaku bicarakan pada kalian berdua, kami pun sudah memanggil orangtuamu untuk datang kemari. Jaa, Itachi ayo kita keluar, biarkan mereka bersiap-siap."
"Hn, Aku akan menyuruh maid membawakan baju ganti untukmu." ujar Itachi, cup lalu mengecup kening Sakura sekilas, "jaa, kami tunggu." lanjutnya seraya mengedipkan sebelah matanya.
Blam... Itachi dan Mikoto meninggalkan Sakura yang masih tak bergeming dari tempatnya. Deg, deg, deg jantungnya berdetak tak menentu. Orang tuanya akan datang kemari? Ada apa? Apa yang ingin dibicarakan oleh Mikoto sampai melibatkan orangtuanya! Jangan-jangan ia akan menceritakan pada Tsunade bahwa mereka telah menghabiskan waktu bersama sebelum menikah? Jangan sampai kakaknya tau soal ini! Habislah dia jika Sasori tau kalau dirinya telah memberikan kesuciannya pada Sasuke sebelum mereka menikah. Ia bisa mengamuk dan membuat perhitungan pada Uchiha bungsu itu.
"Kyaaaaa... Tidakkkk, kumohon bilang ini hanya mimpi! Sungguh memalukan, hiks..." jerit Sakura frustasi.
.
.
.
Di Sebuah ruangan bergaya Eropa klasik dengan cat tembok perpaduan warna putih, krem dan coklat di dalam satu ruangan memberikan kesan elegan dan mewah.
Langit-langitnya memiliki ketinggan ideal 3.5 meter, sehingga dapat mengekspresikan kemegahan. Furnitur pun dipercantik dengan teknik ukir, pahat dan penyepuhan yang membuatnya semakin terlihat mewah. Warna-warna seperti kuning keemasan, dan krem banyak diterapkan pada ruang ini, furnitur maupun elemen pelengkapnya.
Siiiiingggggggg
Dua keluarga berkumpul dan duduk di sofa panjang dengan posisi saling berhadap-hadapan satu sama lain. Ruangan bergaya eropa dimana Sakura bicara pada Itachi pertama kalinya. Kini bukan hanya Sakura, tapi seluruh keluarganya dan Sasuke berkumpul di sini. Pakaian yang mereka kenakan pun terlihat berkelas.
Sakura memakai dress pink panjang sebatas mata kaki yang mengekspose lekuk tubuhnya yang Indah. Sedangkan Sasuke memakai jas dengan model single breasted warna dasar hitam dan warna metalic pada bagian kerah, memiliki model single vent pada bagian belakang. Divariasi dengan dua buah kantong dengan model flip, dan menggunakan kemeja putih untuk dalamannya, tak lupa dasi berwarna hitam polos untuk melengkapi setelan jasnya.
Fugaku dan Itachi pun terlihat menawan dengan setan jasnya yang tak berbeda jauh dengan setelan jas yang di pakai Sasuke. Keluarga Haruno pun tak kalah menampilkan penampilan terbaiknya dengan setelan jas berwarna abu-abu untuk Dan, setelan berwarna coklat untuk Sasori. Tsunade dan Mikoto pun terlihat cantik dengan dress putih tanpa lengan yang mereka gunakan. Perbedaan dress yang mereka pakai hanya terletak di panjang dan pendek dress yang mereka pakai, Mikoto memakai dress panjang sebatas mata kaki, sedangkan Tsunade menggunakan dress pendek sebatas paha.
Keluarga Haruno baru saja sampai beberapa menit yang lalu, sejak tadi Hazel Sasori mengerling tajam menatap Onyx Sasuke yang seakan mendominasi adiknya itu. Sasuke duduk bersebelahan dengan Sakura dengan sebelah tangannya yang memeluk pinggang sang wanita, ia sama sekali tak merasa malu memamerkan kemesraan di depan keluaga besar Uchiha dan Haruno.
'Kurang ajar, Uchiha mesum itu sejak tadi melingkarkan tangannya di pinggang adikku! Tch, dasar tak tau malu, ia melakukan semua ini di hadapan kedua mataku!' kilahnya marah, Sasori menggeram tertahan dengan tangan yang mengepal erat, 'tch, Dewi fortuna berada di pihakmu sekarang, aku tak bisa menghajarmu jika di depan kedua orangtuaku seperti ini.' geramnya frustasi.
Sakura yang melihat tatapan tak bersahabat kakaknya ketika menatap Sasuke hanya bisa mendesah frustasi, ia memijit keningnya pelan, 'dasar sister complex,' batinnya.
"Ehem... baiklah, aku akan to the point, untuk apa kita mengadakan rapat keluarga hari ini. Kalian tau kan jika ayahku, Madara Uchiha dan Hashirama ji-chan- ayah Tsunade bahkan sejak kakek buyut kami berdua sudah mengikat janji satu sama lain untuk menjodohkan keturunannya kelak. Keluarga Uchiha sudah menunggu lama untuk ini, kami senang akhirnya Sasuke dan Sakura terikat benang merah sejak mereka di lahirkan, dan memenuhi janji yang sudah lama terikat di antara keluarga Uchiha dan Haruno. Meski aku dengar dari Itachi ada beberapa kendala kemarin, aku dan Fugaku langsung membatalkan semua schedule dan langsung kembali ke sini di tengah meeting. Tadinya aku bermaksud membantu menyeselaikan masalah ini. Tapi syukurlah semuanya sudah di selesaikan." ujar Mikoto panjang lebar.
"Ya, kau benar Mikoto. Kau tak perlu khawatir, aku sudah menyelesaikan semua masalah di sini." timpal Tsunade.
"Jaa, kalau begitu aku ingin Sasuke dan Sakura segera menikah. Tapi dengan satu syarat, Kakashi tolong ambilkan kotak yang ku letakkan di kamar." ujarnya kepada Kakashi yang sejak tadi berdiri di sampingnya.
"Baik nyonya, segera saya ambilkan." ujar Kakashi seraya menundukkan badannya kemudian melengos pergi.
Sakura dan Sasuke menautkan alis heran, kemudian saling menatap satu sama lain. Mereka penasaran apa yang di rencanankan Mikoto pada mereka berdua.
Tap... Tap... Tap
Tak lama kemudian, Kakashi kembali membawa sebuah kotak berukuran besar, lalu ia letakkan di atas meja. Mikoto beranjak diri, kemudian membuka kotak berukuran besar itu dan mengeluarkan isinya. Sebuah gaun berwarna putih panjang melebihi batas kaki, dengan renda yang cantik.
Mikoto melangkah mendekati Sakura dengan gaun yang berada di tanganya, kemudian menyuruh Sakura berdiri di hadapannya.
"Kemarilah Sakura." perintahnya.
Sakura sontak beranjak dari duduknya dan berdiri di depan Mikoto, gaun yang di pegang Mikoto di ulurkan di depan tubuh Sakura, ibu dari kedua Uchiha itu tersenyum ketika Gaun yang ia bawa sangat pas bila bersanding di tubuh Sakura yang saat ini bertubuh ideal karena sihir kalung yang ia pakai.
"Aku ingin kau memakainya saat menikah nanti, tentu saja... tanpa sihir dari kalung warisan keluarga Haruno." ucap Mikoto dengan santainya. Ucapan Mikoto sukses membuat seluruh orang terkejut, dan terbelalak tak percaya. Kecuali Fugaku, Dan, dan Tsunade.
"Dan aku ingin kalian menikah secepatnya, tiga bulan lagi... Ah mungkin dua bulan." lanjutnya.
"DU-DUA BULAN!" teriak Sakura dan Sasuke berbarengan. Glek... Emerald Sakura membulat, ia tak salah dengar kan? dua Bulan? yang benar saja! bagaimana mungkin berat badannya akan turun drastis hanya dalam waktu dua Bulan!
"Tch, jangan bercanda Kaa-san, Sakura tak mungkin menurunkan berat badan secepat itu!" Sasuke beranjak diri dan menghampiri Sakura, "lagipula tak harus memakai gaun itu pun tak masalah bukan? Aku tetap suka meski tubuhnya penuh akan lemak." ujarnya membela Sakura.
"Aku tidak setuju dengan pendapatmu anak muda," ujar Tsunade yang tiba-tiba berdiri di belakang Sasuke, "impian seorang wanita saat menikah adalah memiliki tubuh yang ideal agar terlihat cantik di pelaminan, itu kan yang kau maksud Mikoto." lanjutnya seraya menatap intens Mikoto.
Mikoto tersenyum, "sejak dulu kau memang selalu mengerti apa yang aku inginkan Tsunade." ujarnya seraya mengedipkan sebelah mata.
"Tch," Sasuke mendecih, "baiklah jika itu yang kalian inginkan. Lebih gampang jika Sakura tetap memakai kalungnya kan?"ujar Sasuke.
"Tidak!Aku ingin Sakura memiliki tubuh ideal tanpa sihir dari kalungnya." kekeh Mikoto.
Sasuke mendesah frustasi, "tapi, mustahil menurunkan berat badan secara drastis dalam waktu dua Bulan Kaa-san."
Mikoto menyeringai, "tidak ada yang tak mungkin jika kita mau berusaha Sasuke, aku sudah mempersiapkan segalanya, dan meminta bantuan seseorang yang sangat berpengalaman tentang ini. Kurasa jika orang itu yang membimbing Sakura, dalam waktu dua Bulan kita bisa memetik hasilnya."
Sasuke mengerutkan alis heran, "siapa orang itu?" tanyanya penasaran.
"Dia ada di sini. Kakashi bawa pemuda itu kemari." perintah Mikoto.
"Baik nyonya." Kreekkk... "silahkan masuk" ujarnya kepada seseorang di luar ruangan. Semua mata tertuju kepada seorang pemuda yang baru saja masuk itu.
Sasuke terbelalak tak percaya ketika melihat siapa yang datang. Rambut merahnya yang semerah darah, serta tato 'Ai' di wajah tampannya.
"Tch, Gaara?!" decih Sasuke, seraya menatap sebal pemuda merah itu.
.
.
.
#Sakura Pov On#
"Tch, Gaara?!"
Sasuke-kun mendecih ketika pria yang di maksud itu adalah Gaara. Aku pun tak kalah terkejutnya. Bagaimana mungkin Gaara bisa datang ke sini? Oh, kami-sama aku belum siap untuk bertemu dengannya.
"Sakura." aku tersadar dari lamunanku ketika ia menyebut namaku lembut, lalu tersenyum. Aku tau ia menutupi luka yang kubuat dengan senyum di wajahnya. Jadenya menatap emeraldku lekat.
"Gaara," panggil Mikoto ba-san, ia sontak memutuskan kontak mata kami. Grebb... sebuah tangan yang cukup besar menggenggam tanganku. Aku menoleh, Glek... Sasuke memicingkan matanya menatap iris mataku dengan perempatan siku yang memenuhi wajahnya. Ia memajukan wajahnya dan mendekatkan bibirnya di telingaku.
'Sekali lagi aku melihatmu main mata dengan setan merah itu, aku tak akan membiarkanmu tidur nanti malam.' bisiknya pelan mrngancamku.
Glek... bulu kudukku meremang. Wajahku memerah seperti tomat kesukaannya,ukkkhh... bagaimana bisa dia mengatakan itu di depan banyak orang! dasar hentai!
"Gaara kau setuju dengan tawaranku?" tiba-tiba Mikoto ba-san mulai bicara dengan Gaara. Aku melihat Gaara mengangguk menjawab pertanyaan Mikoto ba-san.
"Tapi aku punya satu syarat." ujarnya.
"Katakanlah."
"Selama proses penurunan berat badan, aku ingin Sakura tinggal di rumahku. Sehingga akan mudah untuk mengecek keadaannya setiap saat. Dan tak ada yang boleh menjenguknya sebelum batas waktu yang di janjikan. Meskipun itu TUNANGANNYA sekalipun." ucapnya dengan nada penuh penekanan saat menyebutkan kata 'tunangan', aku tau orang yang dimaksud Gaara adalah Sasuke.
"Gggrrrrr... kurang ajar kau Gaara,"geram Sasuke, ia mengarahkan jari telunjuknya di depan wajah Gaara, "maksudmu Sakura akan tinggal di rumahmu selama dua Bulan, he! Tch, pintar sekali kau mencari kesempatan dalam kesempitan!aku tidak akan se~"
"AKU TIDAK AKAN SETUJU!"
"Eh?"
Ucapan Sasuke terputus ketika kami mendengar Sasori-nii berteriak. Sontak kami semua menoleh kearahnya. Greeb... Sasori-nii beranjak dari duduknya kemudian dengan langkah besar menghampiriku lalu sontak memelukku erat.
"Aku tidak akan menyerahkan adikku kepada siapapun! Termasuk kau Sasu~ "
PLETAK...
"Auchhh... Sakit! Kaa-san kenapa kau mukulku?" Tiba-tiba Kaa-san menjitak kepala Sasori-nii lumayan kencang kemudian menyuguhkan deathglare mematikan padanya. Sontak Sasori- nii diam tak berkutik.
"Aku mewakili Sakura sebagai ibunya, akan menyetujui permintaan-mu Gaara. Mulai besok Sakura akan tinggal bersamamu."
Mataku terbelalak tak percaya mendengar ucapan Kaa-san yang memutuskan semua ini seenaknya, tanpa bertanya persetujuan dariku. Ukkh, bagaimana mungkin aku bisa tinggal satu rumah dengan Gaara di saat hubungan kami seperti ini. Menatapnya saja aku tak sanggup. Rasa bersalah terus menghantuiku.
"Tu-tunggu dulu Kaa-san, apa yang kau katakan!"
"Kaa-san kenapa kau malah setuju?"
Aku dan Sasori-nii protes dengan pernyataan -nya, Glek... Ia menatap kami dengan tatapan membunuh, aura hitam menguar dari tubuhnya.
"KALIAN BICARA SESUATU SAKURA-SASORI!" nyali kami menciut ketika mendengar suara lantang penuh penekanan darinya. Kalau sudah begini kami tak bisa menentangnya, Tou-san pun tak akan bisa.
Dengan berat hati aku menyetujui keputusannya, aku melirik Sasuke yang juga sedang mendesah frustasi dari sudut mataku. Maafkan aku Sasuke-kun, hanya dua Bulan. Aku janji tidak akan berbuat macam-macam. Ujarku dalam hati.
Puk... Gaara menepuk pundakku, "aku akan mengubahmu menjadi seorang Putri, Sakura. Percayalah padaku, aku tidak akan berbuat hal yang tidak kau inginkan lagi. Aku janji." ujarnya tulus.
Gyut, hatiku bagai tercubit, kau seharusnya membenciku bodoh. Kenapa kau begitu baik padaku Gaara, aku berharap suatu saat nanti kau menemukan orang yang benar-benar mencintaimu.
"Gaara, arigatou, dan tolong maafkan aku."
Gaara tersenyum, memegang telapak tanganku kemudian mencium punggung tanganku lembut, "tanpa kau meminta maaf-pun aku sudah memaafkanmu, Sakura-hime. Karena kau adalah Cinta pertamaku - satu-satunya wanita yang tak akan pernah bisa kulupakan."
Sreeeet, tiba-tiba Sasuke menarik tubuhku ke dalam pelukannya "tch, jangan dekat-dekat dengan Sakura-ku! Dasar setan merah." Onyx Sasuke memicing tajam. Jade dan Onyx saling melempar tatapan membunuh.
Sepertinya aku akan melalui hari-hari ku dengan berat selama dua Bulan. Mereka berdua memang tak pernah bisa akur. Di satu sisi aku tak tau harus bersikap seperti apa di depan Gaara, karena aku sudah menyakiti hatinya berulang kali, di lain sisi Sasuke pasti akan mencari cara untuk bertemu denganku nanti. Entah apa yang dipikirkan Mikoto ba-san memilih Gaara untuk menjadi mentorku dalam hal menurunkan berat badan. Mungkin karena Gaara lebih berpengalaman untuk hal ini, tapi tetap saja posisiku menjadi rumit sekarang. Haa~ aku berharap dua bulan nanti berlalu dengan cepat.
.
.
#Sakura Pov Off#
.
.
TBC... Next chap terakhir. See you next chapter. Thanx for R&R my stories. 😉😉
