K 'n Q –alpha- part 7

Disclaimer : EXO never be mine, terinspirasi sedikit banyak dengan ff serigala author MiraMira dan Pandora hearts dan sedikit mirip naruto. But the plot and story are originally mine!

Cast : Lumin and ten aliens.

Rate : T

Genre : supernatural, hurt/comfort, au!wolf

Author's note : Center!Xiumin, sedikit demi sedikit fakta (atau misteri baru?) terkuak. Short update (writer block annoys me so much).

Titik tiga : sub cerita baru.

Italic words : flashback

Spoiler: "Kau lucu, berlari seperti setan hanya untuk orang asing seperti diriku. Aku menyukaimu." "Baumu juga istimewa, bau peach hutan. Liar. Siapa namamu?" "Zitao, itu adalah nama barumu. Kau bisa memanggilku Minseok." "Terima kasih, Zitao."

1864 words count

Purnama di pertengahan musim gugur. Terlihat jelas keanggunan Sang Ratu Malam yang dingin dari bumi. Pantulan cahayanya yang begitu terang mampu menembus pekatnya kegelapan hutan. Seolah tak takut dengan apa yang didepannya, ia menerangi segala hal yang ia lewati. Termasuk gubuk reyot yang terletak tepat di pinggir hutan. Hanya saja, cahaya angkuh itu tak mampu memecah sunyi yang tercipta dalam ruangan kecil yang dibangun dengan bambu-bambu hijau.

Tek.

Srrrr.

Tek.

Bunyi potongan bambu yang mengalirkan air ke sungai kecil yang membelah hutan lebat tersebut memecah sunyi gubuk tersebut. Menimbulkan riak yang merusak pantulan carut marut teras gubuk tersebut. Tak lupa, pintu depan gubuk tersebut terbuka lebar. Seolah-olah mengajak seseorang untuk singgah sejenak melepas penatnya.

Atau menyaksikan sebuah tragedi kecil yang terjadi saat gerhana bulan berlangsung beberapa saat yang lalu.

Seorang pria.. tidak, seorang bocah laki-laki berumur sekitar tujuh tahun tampak meringkuk dalam-dalam di pojok gubuk tua yang tak berbentuk itu. Tubuh kurusnya menggigil hebat, sampai-sampai terdengar suara gemeletuk giginya. Kausnya yang semula berwarna putih kekuningan kini telah bermotif crimson berbau karat pekat.

Ruang tengah gubuk tua itu terlihat tak lebih buruk dari bocah laki-laki tersebut. Berbagai barang bekas berserakan di lantai tersebut serta dua insan manusia berbeda jenis terbujur kaku. Tubuh mereka yang terbalut pakaian mahal terkoyak oleh cakar yang memanjang seperti cakar beruang, crimson pekat bercampur likuid hijau kental menyeruak membasahi kain yang terkoyak serta bekas sayatan dalam di perut mereka.

Cahaya remang yang terpancar dari bolam ber-watt rendah terpantul oleh pisau perak yang digenggam erat oleh pasangan manusia tersebut seolah-olah memberitahukan bahwa telah terjadi perlawanan hebat namun sia-sia. Terbukti dari bola mata mereka yang membesar dua kali dari normal, seakan-akan tak percaya dengan kejadian yang terjadi sebelum mereka mati. Empat buah titik aliran darah tepat di nadi leher mereka menjadi satu-satunya petunjuk atas kejadian yang mereka alami baru saja. Terlebih dengan seorang bocah laki-laki kurang gizi yang berhasil selamat dari kejadian misterius itu semakin menambah aura gelap ruangan mengerikan tersebut.

Dasar monster!

Refleks, bocah tersebut menutup telinganya. Berusaha membungkam segala suara yang menyelinap masuk ke gendang telinganya. Namun usahanya sia-sia, tudingan-tudingan sarat kebencian itu telah berubah menjadi kaset rusak di otaknya. Terulang dan menggerogoti ketenangannya tanpa ada tombol pause ataupun stop.

Sebaiknya kau mati anak sial.

Jangan mendekat! Kau akan membunuhku kan?!

Dasar pembunuh!

DASAR PEMBUNUH.

"AKU BUKAN PEMBUNUH!" teriak bocah itu kesetanan. Ia mulai bangkit dan menghantam kepalanya ke tembok berulang kali. Rupanya akal sehatnya telah putus dan yang ia inginkan sekarang hanyalah melakukan berbagai cara agar bisa mengenyahkan suara-suara biadab yang menghakiminya selama beberapa tahun ini.

"Tapi kau membunuh mereka malam ini," sebuah suara mirip anak kecil menghentikan kegilaannya sejenak. Matanya yang memerah menyisir setiap inchi ruangan reyot tersebut dan menemukan seorang bocah yang terlihat jauh lebih muda darinya duduk di kursi. Ia mengamati lekat-lekat jubah putih yang kebesaran di tubuh bocah tersebut, namun kewaspadaannya meningkat tatkala melihat warna bola mata yang tak biasa dari bocah tersebut. Hitam pekat dengan lingkar emas yang mewarnai irisnya.

"Kau mau apa?!" tanyanya penuh curiga. Rasa pening yang ia rasakan akibat benturan berulang kali di kepalanya mulai tumpul. Sedangkan bocah berjubah itu tak menjawabnya, hanya memainkan kakinya yang bahkan tak sampai menyentuh tanah kedepan dan kebelakang. Khas anak kecil yang baik. Tapi ia tahu, bocah berjubah itu bukanlah bocah biasa.

"Pertanyaan yang bagus! Aku juga barusaja memutuskannya setelah melihat bagaimana kau membunuh mereka dengan keji," darahnya menggelegak begitu mendengar pernyataan terlarang yang keluar dari mulut bocah berjubah itu. Seolah-olah hal itu adalah hal biasa dan pantas untuk diperbincangkan oleh bocah berumur lima tahun.

"Jangan main-main, bocah!" geramnya marah. Insting liarnya berusaha menerkam bocah berjubah tersebut. Akan tetapi, bocah berjubah itu dapat menghindarinya dengan sentuhan di pipinya. Membuatnya terpaku sampai-sampai untuk mengeluarkan geraman penuh ancaman-pun tak bisa.

"Tentu aku tidak main-main. Karena kau adalah wadah sempurna untuk kekuatan abadi yang kumiliki ini. Kau kuat, besar, dan insting liarmu sangat luar biasa," bocah berjubah tersebut mendekatnya bibirnya di telinga bocah kurus tersebut. "Aku membutuhkanmu," lanjutnya diakhiri dengan jilatan di belakang telinga bocah kurus tersebut.

Bocah kurus itu membelalak. Setengah tak mengerti dan sisanya ketakutan yang besar akan makhluk didepannya kini. Ia seharusnya tak boleh gentar akan apapun, tapi bocah berjubah itu berbeda. insting buasnya yang terkenal angkuh itu bahkan tunduk terhadap aura spesial yang menguar kuat dari tubuh bocah berjubah tersebut.

"Bagaimana jika aku tak mau?" entah darimana ia bisa mengeluarkan pertanyaan penuh kesombongan itu kepada bocah jubah tersebut. Membuat bibir merah yang merekah layaknya mawar itu membentuk seringaian aneh.

"Tentu saja kau akan kubunuh, lagipula yang kubutuhkan hanyalah tubuhmu," jawab bocah berjubah itu enteng membuatnya kembali menimbang semuanya dalam pikirannya.

Aku ingin hidup. Hidup normal bersama ayah dan ibuku.

Pikiran polos yang telah ia kubur dalam-dalam kembali muncul ke permukaan layaknya papan kayu yang mengapung di danau. Cepat-cepat ia mencari hal lain agar ia bisa bertahan hidup, namun pikiran polos itu menghantuinya. Dan bocah berjubah tersebut tersenyum lebar, seolah mengerti apa yang mengganggunya saat ini.

"Aku bisa mengabulkan permintaanmu jika kau mau menjadi wadahku," tawarnya dengan nada seduktif. Membuat bocah kurus itu mau tak mau mulai termakan oleh janji manis bocah berjubah itu. tanpa sadar ia mengangguk kecil.

"Baguslah, bagaimana kalau kita memulai ritual kecil kita sekarang?" lanjut bocah berjubah itu dengan nada riang. Sedangkan bocah kurus itu mengernyit bingung, tak mengerti akan hal fiktif tersebut.

"Bagaima-" pertanyaannya terpotong oleh bungkaman bocah berjubah di bibirnya yang pucat. Tak lama kemudian lidahnya mulai mengecap rasa karat tak menyenangkan yang disalurkan melalui bibir sintal milik bocah tersebut. Cukup lama ia menerima cairan crimson tersebut hingga ia ingin muntah, untunglah kegiatan tersebut berakhir.

Bocah berjubah itu untuk pertama kalinya melemparkan senyuman manis kearah bocah kurus tersebut. Walaupun jejak darah masih mewarnai bibirnya, hatinya terasa damai melihat senyuman malaikat bocah tersebut. terlebih warna bola mata yang mengerikan itu telah berubah menjadi cokelat biasa layaknya seorang manusia.

Tubuh mungil itu ambruk di dekapan bocah kurus tersebut.

"Kau harus mencari jiwa untuk tubuhku sebelum matahari terbit," bocah kurus itu mengangguk paham, ia langsung menggendong bocah berjubah itu di punggungnya dan berlari keluar dari gubuk tua tersebut. Meninggalkan dua manusia yang pernah ia sebut sebagai ayah dan ibu.

Bocah kurus itu terus berlari masuk kedalam hutan. Tak peduli tanaman liar menyobek epidermis kakinya, yang penting ia harus berlari dan mencari seseorang yang bisa membantunya. Cahaya bulan menjadi satu-satunya petunjuk kakinya untuk melangkah masuk semakin dalam tanpa mengetahui bahaya yang mengintainya. Diantara kegelisahannya, bocah berjubah itu tertawa kecil.

"Kau lucu," bocah kurus itu menghentikan larinya. Kepalanya menoleh kekanan sedikit, matanya melirik ekspresi lelah yang tergambar jelas di wajah bocah berjubah tersebut.

"Kau berlari seperti setan hanya untuk orang asing seperti diriku. Aku menyukaimu," jelasnya sedikit susah payah. "Baumu juga istimewa, bau peach hutan. Liar," tambahnya sembari menyesap bau tubuh bocah kurus tersebut.

"Siapa namamu?" wajah bocah kurus itu mengeras.

"Ah, kau tak punya nama rupanya," putus bocah berjubah itu mengerti sebelum senyum terkembang lagi diwajahnya. "Zitao, itu adalah nama barumu."

"Zi-tao," ulang bocah kurus itu tak percaya.

"Dan kau bisa memanggilku Minseok."

"Min-Seok." Minseok mengeratkan pelukannya di leher Zitao. Senyum lemah terkembang di bibirnya.

"Terima kasih, Zitao," tiga kata itu adalah dialog terakhir antara dia dan Minseok sebelum seekor serigala besar menerjangnya dan menyebabkan bocah berjubah itu terlempar dari gendongannya. Jubah putih yang tersulam benang emas itu menyapu tanah basah sejauh lima meter dan berhenti ketika punggung si empu jubah menghantam pohon ek tua. Darah keluar dari mulut Minseok sebelum ia tak sadarkan diri, menguarkan bau lezat yang membuat kawanan serigala itu menghentikan kegiatannya sejenak dari menghakimi Zitao. Mereka mulai mengerubuti tubuh bocah berjubah itu sebelum seekor serigala yang diyakini ketua pack mendekatinya dan menjilati darahnya.

Kekacauan terjadi.

Mereka seolah melupakan tujuan sebenarnya dari pembuatan pack. Kawanan. Mereka saling mencakar, menggigit untuk mendapatkan sejilat atau dua jilatan darah beraroma memabukkan itu. Pada saat itulah, Zitao mencoba bangkit dari posisinya yang tengkurap dan babak belur. Mencoba peruntungannya untuk mengendap-endap lalu membawa pergi Minseok pergi dari kekacauan aneh ini. Tapi rencana itu tak berhasil ketika sesosok berjubah hitam dengan topi tinggi membinasakan sekelompok kawanan serigala tak berguna tersebut dan menggendong tubuh tak berdaya Minseok.

"JANGAN SENTUH -!"

"Sentuh siapa?" Zitao membeku. Surai hitamnya dijambak kebelakang oleh seseorang yang tak ia kenal hingga ia merasa beberapa rambutnya akan rontok. Yang ia ingat hanyalah pupil yang memipih layaknya serigala sebelum kegelapan mengambil alih kesadarannya.

...

"MINSEOK!" teriak Zitao dari mimpi yang menghantuinya tiap kelopak matanya menutup. Bulir-bulir keringat jelas menghiasi dahinya dan membasahi pakaiannya. Namun mimpi buruk itu tak mampu mengurangi kewaspadaannya terhadap pria asing berjubah hitam yang berdiri di sampingnya.

"Bagaimana keadaanmu, hmm?" tanya pria asing itu padanya. Zitao tak menjawab maupun melakukan gestur untuk membuat pria asing itu puas. Iris merahnya masih memancarkan kewaspadaan yang mematikan membuat pria asing itu sedikit gentar sekaligus jengkel. Sepatu boot yang terbuat dari kulit itu mengetuk-ketuk lantai tanpa sadar.

"Dengar, kau boleh tidak percaya padaku tapi aku tahu dimana Minseok-mu –"

"Dimana?!" potong Zitao cepat membuat pria asing itu tambah jengkel dengan sikap tak sopannya. Tapi ia tak peduli hal itu. Ia hanya menginginkan Minseok disampingnya.

"Apa kau mengerti kata sabar? Aku akan mengatakannya jika kau mau melakukan kesepakatan padaku," tubuh pria asing itu langsung terlempar ke tembok setelah pukulan keras dari Zitao mengenai ulu hatinya. Darah terpercik dari mulutnya dan Zitao tak sampai disitu. Ia mencengkeram tali yang melilit di leher pria asing itu dan mengangkatnya hingga kaki pendeknya tak mampu lagi menyentuh tanah.

"Katakan, atau kau akan kuremukkan." Kalimat yang dilontarkan oleh Zitao terdengar final di telinga pria asing tersebut. Membuatnya tak punya pilihan lain selain memohon belas kasih Zitao.

"Le-lepaskan aku dan ku be-ritahu di-mana –" Pria asing itu terbatuk-batuk, berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin setelah cengkeraman kuat itu terlepas dari lehernya.

"Dimana?" tanya Zitao tak sabar. Pria asing itu tertawa.

"Dia di mansion pemburu Wu. Kau tahu –" lagi-lagi ucapan pria asing itu terpotong oleh Zitao yang menghilang begitu saja dari pandangannya. Pria asing itu menyeringai puas.

"Kau memang jenius, Chen. Semua orang tahu itu," ujarnya pada dirinya sendiri.

...

Sang Alpha dan Beta saling beradu pandang diantara kegelapan hutan yang disajikan di belakang mansion pemburu Wu. Belum ada sepatah katapun yang terlontar diantara mereka sejak kedatangan mereka di tempat sepi sekitar sejam yang lalu. Hanya tatapan tajam penuh selidik yang dibalas dengan pandangan datar.

"Omega itu tidak bi-" tenggorokan Kris seolah-olah terbakar karena cekikan kuat Sang Alpha menghentikan pasokan oksigen ke paru-parunya. Pendar merah dari dua bola mata Sang Alpha memancarkan kesengitan luar biasa.

"Aku adalah Alpha disini," geram Luhan tertahan. Jarinya masih menekan kuat saluran pernapasan dan nadi leher Kris.

[Beta berhak menyeleksi siapa saja yang berada di kawanannya!] Kris tak berputus asa untuk meneriakkan posisinya melalui telepati.

[Tapi aku yang memutuskan siapa yang boleh bertahan di kawanannya, jika kau lupa.]

"HYUNG!" dengan kekuatannya, ia berhasil mengenyahkan tangan Sang Alpha dari lehernya, meninggalkan bekas kemerahan yang kentara.

"DIAM KAU KRIS!"

"Aku mengkhawatirkan mereka! Itu saja! Mereka berubah menjadi gila setelah mencicipi darah omega itu! Apa kau tidak mengerti itu Luhan Hyung?!" nafas Kris tersengal-sengal, dadanya naik turun karena amarah yang memuncak sampai ubun-ubunnya telah ia lemparkan ke Luhan.

"Tidak, kau tidak bisa mengusirnya selama ada aku. Takkan ada yang terjadi selama aku disini,"

"Apa jaminannya?" tantang Kris masih emosi. Iris merah Sang Alpha kembali menghitam dan menatap Sang Beta dalam-dalam.

"Aku. Aku jaminannya,"

..