Three Days Forever

Boboiboy © Animonsta Studio

Warn : Typo, OCC, Fem! Ice

Happy Reading

Ketika tiba waktu di mana sang surya mulai menghangatkan atmosfir kota ini, si mega kelabu masih bergelung tebal menyelimuti pesonanya. Langit berbisik pada bumi bersama jatuhnya rinai yang menghubungkan mereka, menyampaikan rasa rindu yang terpaut jarak. Memainkan melodi alam yang mampu meresonansi ingatan masa lalu, selembut dentingan piano Beethoven Sonata N 8. Bulir embun di kaca transparan bertemu dengan tetesan lain, menulis aksara kentara.

Hitam, putih, kelabu, gradasi kota, seperti wajah muram para pejalan kaki yang ditemani payung mereka. Hari di mana mereka harus melepas piyama santai mereka untuk kembali dengan kesibukan metropolitan.

Satu bulan terhitung begitu cepat berlalu sejak lomba cerdas cermat itu. Hari pertama pekan ini sekaligus hari pertama ujian tengah semester. Sepertinya alam tak mendukung adanya hari ini, tak ada tanda-tanda hujan akan reda.

Hawa dingin mengisi atmosfir di sepajang koridor, memaksa sebagian siswa membalut seragam mereka dengan mantel yang setidaknya sedikit mampu melindungi mereka dari dinginnya pagi itu. Beberapa masih duduk bersama, sekedar belajar atau bahkan membicarakan hal yang tak akan keluar dalam ujian.

Seorang gadis dengan kacamata berkanta bulat dengan topi bulu yang menutupi sebagian rambut berkuncirnya berjalan beriringan bersama gadis berhoodie biru kelabu yang menyembunyikan surai panjang yang tergerai bebas. Tak biasanya mereka berjalan bersama tanpa si hijab pinky. Jika kalian tanya di mana Yaya, mungkin sekarang dia masih bergelung dalam selimut tebalnya.

"Aku tak percaya singa betina yang garang sepertinya, bisa sakit sampai absen di hari pertama ujian." Papar Ying diiringi tawa geli.

[Yaya scene] "Hatchih, sepertinya ada yang membicarakanku." Gumamnya dari balik selimut~feeling setajam singa.

Ice ikut tertawa kecil ketika bayangan temannya satu itu yang terkenal garang tapi baik hati, "Apa sebaiknya kita jenguk?" usul Ice.

"Tidak perlu, besok juga sudah sembuh. Singa kan strong, apalagi singa pinky itu." Jawab Ying.

Ice mengantongi tangannya ke dalam saku hoodienya ketika dirasa suhu tempat itu semakin rendah, "Kira-kira bagaimana ya reaksi Yaya jika dia tau ada yang memanggilnya singa pinky?" ujar Ice santai sambil menahan tawanya.

"JANGAN! Aku bisa jadi kentang goreng kalau dia tau. Kau tak tau seberapa seramnya kalau dia mengamuk." Kilah Ying cepat.

Ice berputar pandang, "Hmm, sepertinya minum cokelat panas dengan seperti cuaca hari ini enak ya?" Ujar Ice dengan maksud.

Ying sweatdrop berat, memandang malas pada gadis beriris aquamarine itu. Ia sudah tau maksud kalimat Ice, "Kau menjual persahabatanmu hanya untuk cokelat panas?"

Ice tertawa, "Tidak, aku memang ingin membeli cokelat panas pulang sekolah nanti. Kita mampir kedai dekat taman ya? Aku dengar coklat panas di sana enak banget."

Ying hanya mendengus, tapi sebuah senyuman kembali mengembang menghiasi paras khas keturunan Cina itu. "Terserah kau saja." Langkah mereka kembali beriringan menuju ruangan yang terletak di ujung koridor ini, tak jauh dari tempat mereka saat ini.

-L-

-K-

"Argh, sial. Seharusnya aku bawa payung hari ini, seragamku jadi basah dan… Brrrr, dingin sekali." Keluh seorang pemuda sambil mengacak-acak rambutnya yang basah karena nekat menerjang rintik hujan.

Jalannya sedikit tergesa karena belum mengetahui ruang ujiannya dan masih harus mencarinya, tanpa menyadari keberadaan orang lain di depannya. Ia terlalu sibuk menghangatkan diri dengan menggosok lengannya yang tak terlindungi dari paparan udara dingin, membuatnya menggigil. Dan Hoodie merah terangnya yang setengah basah

Brukkk…

"Hei!" Pekik orang di yang tak sengaja ia tabrak. "Lihat jalanmu, kau pikir ini jalan pribadi?" omelnya.

"So-sorry, a-ah. Ternyata kau bocah sipit, santai kale! Kau pikir ini juga jalanmu?" Semburnya pada orang di hadapannya.

Orang itu terdiam, sambil menggeram kesal. Sebuah perempatan imaginer muncul di kening kirinya, "Bo-bocah sipit? Kemari kau *Nǎo jīròu!"

(*Otak berotot)

"Su-sudahlah Ying, Blaze kan hanya bercanda. Ya kan Blaze?" Ice mencoba menangkan emosi Ying memuncak.

Walau yakin ia tak sepenuhnya berhasil. Kalau dipikir-pikir mereka itu sama-sama masih terlihat seperti anak kecil. Ying memang setahun lebih muda darinya, dan Blaze sudah notabene bersifat seperti itu.

"Ngomong-ngomong kenapa tubuhmu basah kuyup seperti itu? Di mana payungmu?" Tanya Ice.

"Karena awalnya gerimis jadi aku tidak membawanya." Jawab Blaze.

"Kau ini idiotnya? Tak membawa payung atau jaket, apa otak berototmu itu sudah membuatmu jadi superman?" sindir Ying sambil melipat tangan di depan dada.

"Aku akan berpura-pura tidak mendengarmu sipit." ujar Blaze kalem.

Perempatan imaginer muncul di tangan Ying yang mengepal erat, ingin sekali ia menonjok wajah orang itu jika saja ini bukan kawasan sekolah.

"Di mana topimu?" Ice baru tersadar jika topi hitam dengan pola api tak terpakai di kepala pemuda beriris jingga terang itu.

"Oh, aku menyimpannya di tas, sayang kalau basah karena hujan." tukas Blaze.

Ice terdiam sejenak, memperhatikan Blaze yang setengah basa kuyup. Tangannya merogoh saku seragamnya,"Nah, pakai ini untuk mengeringkan rambutmu. Setidaknya jangan sampai kau sakit, ini masih hari pertama ujian." Ice menyodorkan sapu berwarna biru ocean.

Blaze menatap kain berenda putih itu dengan lambang snowflake di tengahnya. "Terima kasih." Blaze menerima tawaran itu, memang benar setidaknya ia tak boleh sakit selama ujian ini.

[Ujian akan dilaksanakan 10 menit lagi, harap para murid segera memasuki ruang ujian masing-masing]

Bunyi dari pengeras suara menyita perhatian mereka.

"Ujian akan segera dimulai, kami duluan ya. Good luck." Ujar Ice sambil meninggalkan Blaze yang masih terdiam.

"Tunggu!" seru Blaze, membuat mereka berdua berhenti dan berbalik menatap heran pada pemuda berhoodie merah terang.

"Kalian tau ruangan ujian no 23?" Tanya Blaze.

"Oh, ruangan itu ada di lantai 3, di ujung koridor bagian kiri. Ruang kelas 2-3." Jawab Ice.

"Thank's."

Tunggu, lantai 3 ujung koridor? Berolahraga pagi hari yang dingin, Blaze segera berlari kearah tangga yang menghubungkan koridor ini dengan lantai 3 sambil berharap tak terlambat masuk kelas.

~LucKyra~

Ujian telah berjalan 45 menit dari waktu awal. Para peserta ujian mulai nampak gelisah ketika menjumpai soal yang dianggap rumit. Detik demi detik berlalu, seiring coretan hitam di permukaan lembar jawaban yang sedikit demi sedikit terisi. Dari soal ke soal dengan tipe kesulitan yang semakin tinggi, menguji pemahaman 3 bulan terakhir ini.

Ice masih berkutat dengan lembaran di hadapannya, sambil sesekali memijat pelipisnya yang mulai terasa berdenyut. Pening perlahan mulai menjalari kepala Ice, namun ia mengabaikannya karena dianggapnya tak terlalu mengganggu. Bagaimanapun juga ia harus tetap dalam konsentrasi tinggi untuk mengerjakan soal matematika itu.

Hingga pada soal ke 27, diletakannya pensil di atas lembar soal. Kedua tangannya digunakan untuk memijat pelipis yang terasa semakin menyiksa tiap detiknya, matanya terpejam erat menikmati setiap denyutan di kepalanya. Ia melirik kearah jam di tangannya. Menyadari waktu terus berjalan dan tak akan berhenti hanya untuk menunggunya, tangannya kembali meraih pensil 2B. Ia terus mengerjakan walau pandangannya mulai mengabur, lembar soalpun nampak menjadi buram.

Eh? Kenapa tulisannya jadi buram? Apa mataku mulai minus? Pikirnya sambil mengucek matanya, namun tak membuahkan hasil.

Matanya menyipit berusaha memfokuskan pandang untuk memperjelas kalimat di sana, sangat terasa sekali ketika otaknya tertekan, tanpa ia sadari setetes liquid merah kental mengotori lembar soalnya.

Netranya terbelalak, tangannya segera bergerak meraih beberapa helai tisu untuk menghentikannya, menghapus noda merah itu sebelum ada orang yang menyadarinya.

Pandangannya semakin kabur, bahkan jam di dindingpun tak nampak. Ia mengucek matanya yang mulai berair karena perih.

Bel berbunyi, tanda waktu ujian telah berakhir.

Beberapa siswa tampak gelagapan dan panik ketika pengawas meminta lembar jawab mereka, termasuk Ice.

'Sial aku tak punya waktu untuk menghitung 3 soal terakhir. Terpaksa,'

Dengan susah payah, Ice mengangkat kepalanya dan mengisi 3 nomor terakhir yang bahkan belum sempat ia baca soalnya. Hanya bermodal keyakinan dan berharap keberuntungan akan berpihak padanya.

'Akhirnya selesai juga.' desah Ice lega. Ia merebahkan kepalanya yang terasa berat di atas meja, sambil memejamkan mata mencoba mengusir penderitaannya.

"Ice, mau ke kantin?" Tanya Ying yang tiba-tiba muncul dihadapannya.

"Tidak aku tidak lapar," Jawab Ice singkat.

Jujur saja, saat ini ia tak ingin diganggu oleh siapapun, rasa sakitnya mulai berangsur menghilang walau masih terasa sangat menyiksa. Ia justru menyembunyikan wajahnya dilipatan tangannya.

"Nanti pulang sekolah jadi ke kedai dekat taman? Aku deh yang traktir." Tawar Ying.

Belum sempai Ice menjawab, ponsel Ice bergetar memberi tanda pesan masuk.

From : Ayah

Pesan : Nanti pulang sekolah Ayah jemput. Kita makan siang bersama.

Ice memandang Ying sebentar, "Maaf, aku tidak bisa. Pulang sekolah nanti ayah akan menjemputku."

Ying hanya ber-oh ria sebagai tanggapannya, Ice kembali mengucap kata maaf. Sebenarnya ia tak enak hatu juga pada Ying, karena sebelumnya ia yang mengajaknya. Tapi sekarang justru dia yang mengingkari ucapannya. Tapi mau bagaimana lagi, ia tak bisa menolak ajakan orang yang paling ia sayangi.

.

.

"Akhirnya ujian hari ini selesai juga." Desah Ice lega.

Ujian terakhir ialah sejarah. Tak perlu berpikir terlalu keras jika kalian mendengarkan penjelasannya di kelas dan kembali mereviewnya di rumah. Kakinya berjalan meninggalkan ruang ujiannya. Dengan irama tak beraturan, tubuh itu berjalan gontai menuju gerbang sekolah. Setelah di rumah nanti dia akan langsung tidur, tubuhnya terasa sangat lelah sekali padahal hanya duduk sambil mengerjakan ujian.

Hyuuung-

'Eh? Apa itu barusan?'

Langkahnya terhenti, tangan kanannya menjadi tumpuan penyeimbang. Hampir saja ia jatuh dari anak tangga jika saja berpegangan pada tembok.

"Yo, Ice." Blaze tiba-tiba saja muncul di belakang Ice sambil menepuh bahu Ice. "Mau pulang?"

"Ah, Blaze. Hai. Ya, aku mau pulang." Ujar Ice sedikit tersentak, namun berusaha menyembunyikan keterkejutannya.

Blaze berjalan mendahului Ice, "Ayo pulang." Ajaknya ketika sampai di bahwah sambil menatap Ice yang masih belum bergerak seinchi pun.

"Ah, tapi hari ini aku di jemput ayah. Jadi kita akan berpisah di gerbang." Ujar Ice.

"Yah, bukan masalah. Besok Minggu kau ada acara?" Tanya Blaze.

Iris aquamarine memandang langit, mencoba mengingat-ingat apa ia pernah ada janji sebelumnya, "Aaaa, sepertinya tidak. Memang kenapa?"

"Kalau begitu kau mau temani aku technical meeting, Gempa bilang dia ada acara, dan Taufan tak mungkin bisa bangun pagi, apalagi setelah ujian seperti ini. Dia pasti ngebo sepanjang hari. Gopal juga tak diijinkan keluar rumah oleh ayahnya, jadi aku mengajakmu. Kau mau kan?"

Ice tampak menimbang permintaan Blaze, pada akhirnya ia menyetujuinya.

"Yatta! Kalau begitu aku jemput kau jam 8 ya. Sampai jumpa hari Minggu." Ujar Blaze kegirangan. Ia berlari meninggalkan Ice ketika mereka sampai di gerbang.

Ice hanya geleng-geleng kepala, ini kan masih hari senin. Hari minggu saja baru saja terlewati.

Dari kejauhan nampak mobil range rover sport 3.0 HSE telah menunggu kehadirannya.

"Hai ayah." ujar Ice lesu, sekedar basa-basi segera masuk ke mobil itu.

"Hai sayang," Sapa ayah, sejenak ia memperhatikan sikap Ice. "Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali?"

Ice mengangguk pelan, "Ya, aku baik-baik saja. Kurasa hanya butuh asupan nutrisi." ujar Ice yang terlebih dahulu memasuki mobil.

Sebenarnya ada beberapa hal yang mengganggu di benak ayah, tapi rasanya kurang tepat jika membicarakannya saat ini. "Bagaimana ujianmu hari ini?"

"Biasa saja, tidak ada soal yang terlalu sulit. Hanya beberapa soal yang ku ragukan jawabannya."

Mereka terdiam, mobil melaju tak terlalu cepat hanya 50km perj jam.

"Ayah, bisa belikan aku lensa kontak? Ku rasa mataku mulai minus." Ujar Ice tanpa memandang lawan bicaranya.

"Kenapa tidak memakai kacamata saja, biar seperti ayah?"

"Penggunaan kacamata itu terlalu mecolok bagiku, pasti langsung jadi trending topic di sekolahan jika aku memakai kacamata karena wajahku akan terlihat bulat. Dan mereka akan memanggilku tomat."

Ayah tertawa, "Sepeti waktu SMP. Ya, baiklah. Tapi kita pergi ke optic hari minggu ya? Ayah sedang banyak urusan, sekalian cek kesehatanmu. Kau sudah bertemu dokter Kaizo?"

Ice menggeleng, "Kalau hanya ke optic aku bisa pergi sendiri, lagi pula hari Minggu aku ada janji. Aku juga sedang sibuk dengan tugas sekolahku, jadi belum sempat menemui dokter Kaizo."

.

.

Seperti yang dijanjikan, hari ini Ice menemai Blaze untuk TM. Ice bahkan membolos cek kesehatannya hari ini, padahal ia tau konsekuensinya. Di pertemuan berikutnya, ia pasti kena sembur dokter Kaizo lagi, tapi baginya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Selama ia mampu bertahan, ia akan bertahan.

"Huft, jadi deg-degan. Siapa ya lawan kita nanti?" Jari Blaze mengetuk mejanya, tak sabar menunggu giliran nama sekolahnya dipanggil.

"SMA pulau Rintis." Panggil panitia dari pengeras suara.

"Ini dia, doakan aku ya?" ujarnya pada Blaze.

"Ya, semoga beruntung." ujar Ice sambil tersenyum.

Dari sekian ribu sekolah di negeri ini, hanya 14 sekolah yang terpilih untuk mengikuti ajang ini. Ditentukan dari kejuaraan musim panas yang dilaksanakan beberapa bulan yang lalu.

Karena jumlahnya yang ganjil disetiap grup, orang yang beruntung akan memperoleh Bye dengan cara pengundian. Bye terpasang pada no 1 dan 16, sedangkan Blaze mendapat nomor 15 yang mendapat Bye..

"BYE! YES! Ternyata mengajak Ice membawa keberuntung." Girang Blaze.

Dengan ini, mereka hanya harus bertanding 3 kali untuk menuju final dengan pertimbangan score.

~LucKyra~

Hasil ujian kemarin telah diumumkan, beberapa orang mengerubungi papan pengumuman untuk melihat peringkat mereka.

"KYAAA, aku peringkat 4! apa-apaan ini!? Aku tak masuk 3 besar paralel. Bahkan nilaiku di bawah Fang!" teriak membahana tercelos dari mulut Ying.

1. Etenia Ice 958

2. Yaya Yah 947

3. Prevet Fang 925

4. Ying Jean 899

"Ah, Aku tidak masuk 50 besar paralel." gumam Blaze meratapi namanya papan pengumuman.

"Peringkat ku hampir keluar dari 50 besar." gumam Gempa yang berdiri di samping Blaze.

59. Boboiboy Blaze 771

"Kau peringkat satu lagi Ice. Aku heran, kita ini sama-sama manusia. Tetapi kenapa otak kita berbeda ya? Ternyata kau memang hebat ya, Ice." puji Blaze.

Ice terdiam, sana sekali tak berniat untuk merespon. Baginya mendapat peringkat satu dengan kondisi saat ini, di mana tak ada satu hari yang terlewatkan tanpa darah dan rasa sakit, adalah keberuntungan yang luar biasa.

"Hei, nilai kita tidak buruk-buruk amat kok. Ayo kita ikut festival ini, sebagai perayaan kita." Seru Yaya sambil menunjukan sebuah brosur penuh warna.

Gempa mengambil brosur itu dari tangan Ying, "Apa ini?" Tanya Gempa.

"Festival Holi." Jawab Yaya. "Hari minggu ini, sehari sebelum festival. Malamnya ada pesta kembang api." tambahnya.

"Sepertinya seru, kau ikut kan Ice?" tanya Blaze.

"Ah, iya. Aku ikut." jawab Ice singkat.

Semoga aku baik-baik saja.

~LucKyra~

Matahari telah sepenuhnya terbenam, menyisakan semburat noda jingga di horison barat. Langit berubah menjadi gelap, dihias oleh titik garis yang terbentuk dari bintang-bintang.

Seorang gadis memantaskan diri di depan cermin almarinya, sesekali berputar seraya bertanya pada dirinya sendiri. Apa aku pantas dengan pakaian ini? Kaos putih bergambar mascot Tippy yang dipadukan rok pendek berwarna putih. Kaus kaki putih biru membalut kakinya hingga betis dan sepatu kets berwarna senada, membuatnya tampak berbeda dari biasanya.

Ia mengenakan hoodie kesayangannya, tak lupa menutupi sebagian rambutnya. Sentuhan terakhir, ia merapikan poninya sebelum ia melesat keluar menuruni tangga.

Ayah tengah menonton TV di ruang utama, ditemani secangkit teh yang masih mengepul mengeluarkan uap. Dari belakang, Ice mengejutkannya dengan pelukan kasih sayang.

"Hei, sayang. Sudah siap?" Tanya ayah, mengalihkan pandangan dari layar televisi menghadap putrinya.

Ice mengangguk, dengan senyuman manis ia bertanya, "Bagaimana?"

Ayah tersenyum, Ice sangat cantik malam ini walau hanya dengan penampilan sederhana seperti itu. Paras yang mengingatkannya pada mendiang pendamping hidupnya, seperti duplikat saja. Selalu saja teringat setiap kali ia memandang putrinya.

"Kau sangat cantik sayang." Pujinya.

Senyumannya mengembang cerah, kemudian ia mengambil duduk di samping ayahnya sambil menunggu seseorang.

"Menunggu Blaze?"

"Ya, dia bilang sedang otw kemari." Jawab Ice yang fokus pada layar televisi.

Ayah tersenyum usil, ia berbisik di telinga Ice. "Kalian pacaran ya?" Tanya ayah dengan nada menggoda.

Aliran darah Ice tertuju pada otak, wajahnya terasa panas dan memerah. "A-ayah! Tentu saja tidak, kami kan hanya teman." Ujar Ice gelagapan, bantal sofa ia gunakan untuk menutupi wajahnya.

Ayah tertawa melihat respon Ice yang menggelikan, "Ayahkan hanya bertanya." Ujarnya masih dengan nada menggoda.

Ice tidak merespon, masih bertahan pada posisinya sambil berfikir. 'Iya ya? Ayahkan hanya bertanya, kenapa responku berlebihan sekali tadi. Ahh, tapi tetap saja pertanyaan itu seperti tanda.'

Suasana menjadi hening, hanya suara televisi yang terdengar di ruangan itu.

"Kalaupun kalian pacaran, ayah tidak melarang. Menurut ayah, Blaze itu baik dan bisa dipercaya untuk menjagamu. Jadi ayah merasa tenang jika dia ada bersamamu." Papar ayah memecah keheningan.

"Ayah terlalu berlebihan memujinya. Di sisi lain, dia itu ceroboh, kekanak-kanakan dan temperamental, memang dia itu tipe orang yang bertanggung jawab. Lagi pula, aku sudah kelas 3, tak ada waktu untuk memikirkan pacaran, sedangkan masa depan sudah di depan mata." Ujar Ice.

"Kau bahkan mengetahui sifatnya." Ujar Ayah.

"Kan aku sudah bilang kami itu sahabat. Sahabat adalah seseorang yang mengetahui tentang dirimu dan tetap mencintaimu-Ellen Hubbard-. Sahabat hanya mengerti bahwa persabatan dimulai dengan saling mengerti, mengerti bahwa mengetahui semua hal membuatmu semakin mencintai sahabatmu."

Ayah terhenyak mendengar perkataan Ice, memandang bangga putrinya yang baru ia sadari telah menjadi dewasa dan bijak. Tangannya perlahan terangkat, mendarat di pucuk kepala Ice dan mengacak-acak kecil.

"Ayah, rambutku sudah aku rapikan." Seru Ice.

Ting Tong…

Fonetik bel terdengar dalam rumah yang didominasi warna netral. Tanpa harus memencet bel untuk kedua kalinya, seorang pria paruh baya membukakan pintu, menyambut dengan ramah orang yang sedari tadi dinanti.

"Selamat malam, om." Sapanya ramah.

"Malam, mau njemput Ice?"

"Iya, kami mau melihat pesta kembang api. Apa Ice sudah siap?"

Bingo! Baru saja dibicarakan, Ice muncul dari dalam rumah. "Hai Blaze, sudah sampai?" Ice melontarkan pertanyaan bodoh.

"Belum, Blaze masih di rumah. Sudah jelas aku sudah ada di depanmu." Canda Blaze. "Ah, iya. Ini, terima kasih sudah meminjamkannya." Ujar Blaze sambil menyodorkan sapu tangan yang dipinjamkan Ice tempo hari.

"Sama-sama. Kalau begitu ayo berangkat sekarang, yang lain pasti juga sudah menunggu." Ujar Ice seraya berpamitan pada ayahnya, diikuti Blaze yang meminta ijin mengajak Ice mala mini.

Baru beberapa langkah mereka meninggalkan teras, ayah memanggil Blaze dan mengatakan untuk menjaganya.

Dengan sikap hormat, Blaze berseru, "Siap om, tenang saja. Ice aman bersama saya, kami permisi om."

"Ya, hati-hati di jalan." Ayah memperhatikan mereka sampai keluar dari gerbang. Tersenyum bahagia, namun senyuman itu luntur ketika memori sang ayah memutar kembali masa lalunya. Perlahan namun pasti, liquid bening membentuk anak sungai di wajahnya.

~LucKyra~

Pusat kota menjadi lebih ramai ketika langit semakin gelap dengan bintang yang tersebar seantero angkasa raya. Banyak stand yang didirikan dengan lampu germerlap yang membuat suasana pusat kota semakin meriah.

"Ah, itu mereka." Ujar seorang gadis dari sekelompok orang yang seperti tengah menunggu kehadiran mereka.

Langkah mereka beriringan mendekati kumpulan orang itu. "Maaf, lama ya?" Cengir Blaze seolah tak memiliki dosa.

"Yah, kira-kira sejak 30 menit yang lalu." Ujar Gempa sambil memandang jam tangannya, memastikan waktu..

"Dasar lambat." Ujar seseorang yang bersandar di dinding sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Tak perlu banyak waktu bagi Blaze untuk mengenali sosok itu, pakaian serba ungu dengan tatapan sombong dari balik lensa nila yang pasti tak pernah ia lupakan. "Kau!? Apa yang kau lakukan di sini!?" tunjuk Blaze.

"Huh!? Kenapa? Ini tempat umum, kau tak berhak melarang siapapun ke sini." Ujarnya sinis.

Entah kenapa, setiap Blaze bertemu dengan Fang, selalu saja ia terbawa emosi. Entah Blaze yang memang temperamental atau Fang yang bernotabene sinis dan keep cool.

Tangannya mengepal erat, rasanya ingin sekali meninju wajah orang berkacamata nila itu. Mungkin semua hasratnya akan terpenuhi, jika saja Ice tidak menarik tangannya untuk menurunkan emosi.

"Ini tempat umum Blaze, setidaknya jaga sikapmu." Ujar Ice kalem. "Kau juga Fang, jangan buat orang lain emosi dengan mulut pedasmu itu." Tegurnya lagi.

"Ice benar, jadi jaga sikap kalian. Kita ini pelajar bukan preman jalanan." Sanggah Yaya.

"Kalian mengguruiku?" tandas Fang.

Ying bertepuk tangan 2 kali, memecah suasana yang tegang akibat perdebatan barusan. "Kita di sini untuk bersenang-senang setelah UTS, jangan bawa emosi kalian kemari atau ku tendang kalian." Ujarnya.

"Masih sekitar 1 jam lagi, sambil menunggu kembang apinya dimulai, ayo kita jalan-jalan dulu." Seru Ying semangat.

Mereka berenam berjalan di antara keramaian, mengitari pusat kota sambil berburu makanan yang terjual di stand. Walau begitu, atmosfir permusuhan terasa menusuk antara merah terang dengan ungu gelap membentuk aliran listrik imajiner di kepala mereka.

-_-# Ice yang berada di antara mereka sungguh merasa seperti dianggap lalat terbang yang numpang lewat. Ia mendorong kedua orang itu ke arah berlawanan, "Bisakah kalian membuat suasana yang menyenangkan ketika bersama seorang cewek?" Seru Ice yang kemudian langsung berlari, menghilang di antara kerumunan orang.

"Dia kenapa?" Tanya Fang heran.

Blaze mengangkat bahu, "Entah, pms kali."

.

.

Ice berjalan sendiri tanpa arah sambil terus ngegrundel. Tapi semua rasa kesalnya lenyap, terganti oleh senyuman yang terukir diparasnya. "Tapi, semua hal seperti ini tak akan terjadi lagi. Masa SMA itu, memang masa yang selalu tersimpan dalam memori."

Hyuungg-

"Eh!?"

Rasanya seperti kehilangan keseimbangan tubuh, hingga ia terasa seperti ingin jatuh. Beruntung tubuhnya cepat merespon, tangan kirinya ia gunakan untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Entah sejak kapan nafasnya mulai terengah-engah, matanya terpejam untuk menghindari pandangangan yang justru membuatnya bingung.

Ia baik-baik saja. Ia menarik nafas panjang, mengijinkan oksigen mengisi sebagian rongga dadanya.

"Ice!" panggil seseorag dari kejauhan, merasa namanya dipanggil, ia menoleh kearah belakang. Blaze berlari tergopoh-gopoh menuju dirinya.

"Akhirnya ketemu juga, hah hah hah" Ia mencoba menetralkan nafasnya yang berburu. "Kau ini, jangan menghilang sesuka hati dong. Aku sudah berjanji pada ayahmu untuk menjagamu, kalau kau hilang aku juga yang susah." Sembur Blaze.

Ice menggembungkan pipinya, "Seharusnya aku yang kesal karena berada di antar 2 orang yang emosi, rasanya itu seperti roti hambar." Ujar Ice.

"Oke oke, aku minta maaf. Setelah ini jangan menghilang lagi, oke?" Pinta Blaze.

Ice nampak sedang menimbang-nimbang dan kemudian tersenyum, "Oke, setelah kau belikan aku pountine." Ujar Ice.

-_-" Mencari kesempatan dalam kesempitan. Blaze menghela nafas berat, walau pada akhirnya menyetujuinya juga.

"Argh, ye lah. Aku belikan." Jawab Blaze.

Ice tersenyum penuh kemenangan, ia segera menyetarakan langkahnya dengan Blaze. Namun keseimbangannya kembali terganggu, tak ada batu, tak ada tumbuhan, tiba-tiba tubuh itu limbung. Beruntung tidak sampai mencium tanah, tubuhnya di tahan oleh tangan Blaze.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya Blaze khawatir.

Nafas Ice kembali tak beraturan, "Ya, ku rasa aku hanya kelelahan." Jawab Ice.

~LucKyra~

Twinkle Twinkle Little Star

How I wonder what you are

Up above the world so high

Like a diamond in the sky

When the blazing sun is gone

When he nothing shines u-

"Kau itu seperti anak kecil saja menyanyikan lagu itu." Ujar Blaze, "Nah, minumlah." Blaze menyodorkan sebotol air mineral pada Ice.

"Terima kasih."

Blaze duduk di samping Ice, mendongakkan kepala memandang angkasa luas yang di penuhi jutaan bintang yang memancarkan cahaya mereka masing-masing.

"Kira-kira bintang mana ya yang bersinar paling terang di angkasa ini?" gumam Blaze, namun masih terdengar jelas di pendengaran Ice.

Ia mengikuti arah pandang Blaze ke langit, "Entahlah," jawab Ice.

"Orang dulu bilang, jika kau berharap sesuatu, tunggu saja sampai bintang jatuh dan harapan itu akan terkabul." Ujar Blaze.

Kemudian ia tertawa, "Bagaimana bisa harapan menjadi kenyataan begitu mudahnya? Jika hanya dengan menunggu bintang jatuh, harapan pasti terkabul. Untuk apa manusia bekerja?"

Beribu-ribu bintang di langit

Tak ada yang berubah

Ice hanya terdiam, belum mengerti arah pembicaraan Blaze. "Jika bintang jatuh benar-benar bisa mengabulkan permohonanmu, apa yang akan kau harapkan?"

"Tidak mungkin akan terjadi, semua itu butuh pengorbanan untuk mencapai suatu harapan. Tuhan menciptakan kita untuk berusaha, bukan untuk mengharapkan yang tak pasti seperti bintang jatuh."

Mereka terdiam, membiarkan keheningan menguasai mereka. Cukup lama mereka dalam suasana seperti itu, udara menjadi sedikit lebih dingin karena malam yang cukup larut. Hingga-

-SYUUUUUTTTT-

-DUAR!

DUAAAR!-

Mereka kembali memandang langit yang kini dipenuhi warna-warni kembang api yang saling bersahutan.

Hanya satu kata yang terlontar dari gadis beriris aquamarine, "Indah."

"Ya, benar-benar indah."

"Kau tau, hidup kita itu seperti kembang api?" ujar Ice tanpa mengalihkan pandangannya.

Blaze mengangkat sebelah alisnya, "Seperti?"

"Suatu saat nanti, manusia pasti mati. Walau mereka tau mereka akan mati, tapi mereka berusaha membuat hidup mereka berharga untuk orang lain, lebih-lebih bisa membuat orang di sekitarnya bahagia. Seperti kembang api itu, pada detik-detik kehidupannya yang sangat singkat, ia mampu membuat orang lain terpesona pada keindahannya. Dan ketika kembang api itu padam, semua orang berharap kehadirannya kembali. Sama seperti manusia yang berharap bisa melihat kembali orang yang berharga bagi mereka, walau orang itu telah meninggal." Ujar Ice.

Blaze tersenyum tipis, terpana dengan kata-kata Ice yang menohok jantungnya. "Kau benar-benar orang bijak."

Ice melirik ke arah orang di sampingnya yang masih memandang kemilau langit malam hari.

'Apa aku sudah melakukan sesuatu untuknya? Apa aku sudah membalas semua kebaikannya? Apa di hidupku yang singkat ini, aku sudah membuat orang di sekitarku bahagia? Seperti kembang api itu? Hidupnya sangat singkat tapi mampu membuat orang lain senang. Aku yakin kembang api itu tidak menyesali kematiannya. Karena di saat-saat terakhir, ia mampu membuat orang lain tersenyum bahagia.

Apa setelah aku mati, aku masih diharapkanku?"

"Lihat, ada kunang-kunang. Orang bilang dia jelmaan dari Lucifier." Sebuah kunang-kunang hinggap di telapak tangan Blaze.

Bersinar, kelap kelip, tenang tapi mempesona. Cahayanya mungkin tak seterang kembang api itu, tapi mereka sama-sama mempesona.

Ice menahan garing, "Kau percaya dengan mitos itu? Apa kau juga percaya kalau mereka itu tercipta dari kuku orang yang telah mati?"

Blaze mengendikan bahu, "Tidak juga. Setidaknya aku masih punya akal untuk berfikir logis."

Ice menghentikan tawanya, ikut memandang makhluk itu, "Tapi aku salut pada kunang-kunang itu, hidupnya sangat singkat dan lemah, tapi dia tetap bersinar sebagai tanda pada pasangannya."

Ia kembali mengepakan sayap mungilnya, meninggalkan tangan Blaze menuju rerumputan di bawah mereka. Ternyata sebuah kunang-kunang tak bercahaya tengah menunggunya.

"Kalau begitu, biar aku menjadi cahaya kunang-kunang. Aku akan menerangai jalanmu. Supaya kau tidak kehilangan arah, supaya kau tak memiliki penyesalan. Tak apa jika kau lelah dan ingin istirahat, aku akan menunggumu. Tapi aku tak akan berhenti menerangimu, aku akan selalu berada di sampingmu selamanya." Ujar Blaze lembut, dengan iris mata yang memantulkan cahaya kembang api, mengagumkan.

Sebuah kurva terlukiskan di wajah putih Ice, "Terima kasih."

TBC…

Yatta, akhirnya selesai juga… Lucky lagi ngga bisa ngomong apa-apa lagi nih... jadi langsung balesreview dulu yak ^^

Ililara : Iya makasih, semangat juga buat kamu... Makasih masuh stay ^_^

Willy0610 :

Halo Willy, ketemu lagi ^^ … Iya ngga papa, makasih udah nyempetin review ya ^^ .. Um, waktu SMA emang lagi sibuk"nya, apalagi kalau masuk OSIS. Siap" kerja double :D

Hmm, emang sih. Tapi Ice mati dulu lah, bikin happy" dikit :D

Semangat juga buat Willy ^^

Shidiq743 :

Berasa jadi karakter antagonis aku T,T

Ice : Penderitaanku berakhir, tak semudah itu enyah penderitaan (!?).. Kok kayaknya pada berharap aku cepet mati ya? T,T

Makasih udah nyempetin review ^^

Diah869 : Sipp (y) Ini udah lanjut myaaaa :3

Vanilla Blue12 :

Ice : Ngga papa maksain diri jika pada akhirnya menang :3

Makasih doanya, sekarang aku sudah sembuh , … Aku juga pernah cedera sendi jari, beberapa menit kemudian jadi bengkak. Sampe 3 bulan masih terasa nyerinya T,T

Siap! Makasih review nya

Himehana Helena :

L : Belum, Ice belum kenapa" :D

Blaze : Loh, Ice pingsan loh..

L : Ah manja, nanti juga bangun sendiri. #Ninggalin Ice

Ice : JAHAT!

Rampaging Snow :

Ice : Tu kan pada mikir kalo aku bakalan cepet mati, Lucky sih! Rasanya hidupku menyedihkan sekali T,T

L : Loh!?

Chocolate White : Yaaa,, mooo maaf nunggu kelamaan.. Hmmm, di hidup Blaze mah Cuma ada kesenangan, mana peka Blaze sama keadaan Ice?

Blaze : WOY!

Oh, ya nama Ying aku ambil dari seiyuunya, Yap Ee Jean.. Tapi cuma aku ambil Jeannya doang. Xp

Makasih semuanya yang udah mau baca fic aneh ini, sampai jumpa di chap berikutnya! ^^