Author : Yuri Masochist or Han Youngra
Title : The Time: Black Whisper | August 31st, 2012
Cast :
+ Main Cast : YooMinKyu (YoochunxChangminxKyuhyun)
+ Other Cast : Yunho, Taemin, Jungmo, Junsu, Tao, Lay, Kris, Eunhyuk, Ryeowook, Minho, OnKey, Baekhyun
+ Cameo : Soohyun, Henry, Shindong, KiVin (KiseopxKevin), HanChul, Siwon, Jonghyun, Leeteuk, Yesung, Eli, T.O.P, GD, Kangin, Sooman, Jay, Seungri, Daesung, Alexander, SooSun (SooyoungxSunny), YulSic (YurixJessica), YoonSeo (YoonaxSeohyun), Narsha, Thunder, Mir, Joon
+ Say 'Goodbye' to : Sungmin, Donghae, Kibum, Kai, Zhoumi, Jaejoong, Junho, Se7en and who's next?
[DBSK | Super Junior | SHINee | TRAX | EXO | Big Bang | U-Kiss | Se7en | MBLAQ]
[SNSD | B.E.G]
Genre : Mystery | Crime | Romance | Horror
Rated : PG-15 | T semi M deh untuh semua chap~
Type : Yaoi
Length : Chapter
Summary : Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini | You can not stop the cycle
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan! Dan mereka saling memiliki!
Warning : Setelah selama ini nulis alur kecepetan, ternyata ALUR DIBUAT SANGAT LAMBAT! Bahasa berantakan! Banyak TYPO(s) and Miss TYPO! This is YAOI fic! Boyxboy! Don't Like Don't Read!
A/n : 8J! AYO REVIEEEEEW u,u
.
.
.
.
The Time: Black Whisper | August 31st, 2012
.
Friday
August 31sth, 2012
10:03 AM
Changmin berjalan di koridor rumah sakit lantai limabelas, lantai teratas di bangunan itu. Seperti hari-hari biasanya, ia ikut ke rumah sakit karena Yoochun memintanya. Dia tidak membiarkan Changmin sendiri di rumah dan Changmin agak jengkel dengan perlakuan itu.
Langkahnya membawa ia ke jendela besar—berfungsi sebagai pengganti dinding—dan berdiri disana. Matanya mengarah pada pemandangan yang tersuguhkan. Dan salah satu tangannya menyentuh permukaan kaca itu.
Dia berusaha berpikir tentang semuanya.
Tentang semua kejadian yang menimpanya.
Dan seluruh serpihan memori itu.
Changmin merogoh sakunya dan meraih handphone baru miliknya. Dia mencari kontak seseorang yang Yoochun tambahkan; total dia hanya memiliki sembilan kontak. Lalu menghubunginya.
"Ayah, kapan kau ada waktu luang untukku?"
Ada beberapa jeda sebelum Changmin membalas kembali.
"Baiklah. Hari minggu Ayah harus datang ke rumah. Banyak sekali yang ingin kutanyakan."
.
.
The Time
Black Whisper | August 31sth, 2012
A Nonsense Fanfiction
.:o Yuri Masochist Presents o:.
"Kau terpilih untuk mengikuti permainan ini"
Time to Play
.
.
.
Friday
August 31sth, 2012
12:23PM
Tengah hari.
Dia menunggu Yoochun untuk makan siang, tapi setelah ia bertanya pada salah satu staf, ia mengatakan bahwa Yoochun cukup sibuk karena menangani operasi. Jadi Changmin terpaksa diam di kafetaria—kantin—dan memesan bori cha—tidak berselera memesan makanan.
Jarinya memainkan handphone pada sebuah aplikasi game. Ya, setidaknya ini mengisi kekosongannya. Changmin harap ia mendapatkan teman bicara.
Dan beruntungnya ia saat seseorang duduk di kursi hadapannya.
"Dimana Yoochun?"
Changmin mengangkat wajahnya dan mendapati Jungmo duduk disana sambil merenggangkan tubuhnya.
"Ada operasi."
"Oh, begitu." Jungmo menatapnya kemudian. "Yoochun memperlakukanmu seperti anak kecil, ya? Sampai-sampai kau harus menghabiskan waktu setiap hari disini."
Changmin mematikan aplikasi dan kemudian meletakkan handphone itu di samping gelas bori cha-nya. "Jujur saja, aku tidak suka Yoochun-hyung memperlakukanku seperti itu."
"Aku saja prihatin padamu." Jungmo terkekeh. "Bilang saja kau tidak mau."
"Dia terlalu khawatir padaku."
Jungmo mengetukkan jarinya ke dagu. "Aku tahu hal itu. Tapi disisi lain itu bagus. Artinya kau tahu seberapa tulus ia padamu. Seberapa besar rasa tidak ingin kehilangannya."
Namun respon Changmin diluar dugaan Jungmo. "Kalau begitu aku tidak bisa mandiri. Lihat! Aku rasa aku sudah pulih, tapi dia tetap melarangku untuk bekerja."
"Datang saja ke NCIS kalau begitu."
Pemuda itu terdiam sebentar, mencerna ucapannya.
"Eh, aku tidak menyuruhmu macam-macam ya. Aku tidak ingin disalahkan Yoochun karena menyarankan hal ini, tapi mengapa tak kau datang saja ke NCIS?"
Dia benar. Jungmo benar.
"Ya mungkin itu bisa meyakinkan Yoochun bahwa kau sudah bisa bekerja."
"Kau benar, Hyung."
Jungmo tersenyum tipis.
"Sepertinya aku akan datang kesana har—"
"Ah, Jungmo." Kalimat Changmin terpotong saat seseorang menghampiri meja keduanya, dan membuat Jungmo berbalik. "Kau dicari Dokter Sooman."
Jungmo berdiri dari kursinya dan mengangguk. Kemudian dia menatap Changmin. "Maaf, aku harus pergi."
"Bukankah Hyung sedang istirahat?"
"Kalau ada panggilan tugas, aku harus apa?" Jungmo terkekeh lalu mengacak rambut Changmin. "Nah, aku tinggal ya?"
Changmin mengangguk perlahan dan Jungmo pun beranjak keluar kafetaria bersama orang itu. Dan Changmin berpikir bahwa dia akan kesepian lagi. Tapi ternyata dugaan itu kembali salah saat seseorang duduk di kursi yang sebelumnya ditempati Jungmo.
"Wah, Hyung banyak kenalan dokter rupanya."
"Eh?" Changmin mengangkat wajahnya dan kemudian tersenyum. "Tao."
Tao—orang itu—tersenyum cukup manis sebelum mengedarkan pandangannya. "Ah, aku belum pernah kemari."
"Kakakmu sedang check up?"
"Yeah, terapi rutin." Tao mengembalikan pandangannya pada Changmin dan menumpu dagunya dengan tangan. "Hyung kemari untuk check up?"
"Tidak. Hari ini aku hanya mengantar kekasihku bekerja."
"Oh~ Hyung sudah punya kekasih ternyata." Tao terkikik. "Apa itu sudah lama?"
"Begitulah." Changmin tersenyum simpul. "Mungkin kami akan segera menikah jika sifatnya tidak kekanakkan."
"Kekanakkan bagaimana?"
"Terlalu overprotective. Aku merasa tidak bebas."
"Kenapa tidak Hyung tinggalkan saja?"
Deg!
Changmin segera menatap Tao dan terdiam.
"Hidupmu mungkin akan lebih tenang tanpanya." Lanjutnya tanpa beban sambil mengarahkan pandangannya ke sekitar.
"Aku tidak bisa." Changmin berkata pelan seperti berbisik.
Tao terkekeh. "Aku hanya bicara. Aku tidak memintamu untuk mengikutinya." Lalu kembali menatap Changmin.
Hanya saja Changmin tidak bicara lagi.
"Hyung," seru Tao. "aku jarang keluar rumah. Hyung mau tidak mengajakku berjalan-jalan lain waktu? Aku akan sangat senang."
"Um, boleh." Changmin mengangguk. "Aku rasa aku juga perlu keluar. Tao ingin kemana?"
"Dongdaemun, Banpo Bridge, dan tempat lainnya. Aku juga ingin tahu rasanya makan di kedai-kedai pinggir jalan."
Changmin tertawa sampai punggungnya menyentuh sandaran kursi. "Memangnya belum pernah mencobanya?"
Tao hanya menggeleng dan hal itu membuat Changmin tertawa lagi.
"Astaga! Kalau begitu nanti kita cari hari untuk pergi bersama." Changmin melirik handphone-nya lalu mendorongnya pelan ke arah Tao. "Simpan nomormu disitu."
"Hyung jangan menertawakanku seperti itu." Changmin bisa melihat Tao mengerucutkan sedikit bibirnya sambil meraih handphone dan mengetikkan nomor. "Itu terdengar memalukan. Seakan-akan aku ini alien dari planet mana."
"Tapi itu lucu." Changmin menerima handphone-nya kembali dan memeriksa sebuah kontak baru. "Kau seperti turis. Ah, tidak. Turis saja kurasa sudah pernah mendatangi tempat-tempat itu."
"Tolong alihkan pembicaraannya~."
Changmin terkikik dan mendekat untuk mengacak rambut Tao.
"Hei, Hyung! Kau mengacak rambutku~!"
"Memangnya kenapa?" Changmin tertawa kecil.
"Tidak ada yang boleh menyentuhnya~!"
"Oh, mulai saat ini kau akan terus menerimanya~."
Tao menyipitkan matanya pura-pura menghakimi, namun hal itu malah mengundang tawa lagi bagi Changmin.
Changmin memiringkan kepalanya. "Kenapa?"
"Hyung jangan terlalu sering tertawa. Kau bisa dianggap gila."
"Dan orang-orang akan berpikir kau mengobrol dengan orang gila."
"Aish."
Tawa Changmin terdengar puas saat melihat Tao kalah telak.
"Hyung, berhentilah. Ayo kita keluar." kata Tao. Ia berdiri dan menunggu Changmin. "Kita ke taman rumah sakit. Cuacanya sedang bagus."
Changmin mengangguk sambil memasukkan handphone-nya ke dalam saku celana lalu berdiri. Tao berjalan lebih dahulu dan Changmin mengikutinya sampai keluar. Kemudian keduanya berjalan berdampingan menuju taman.
"Wajahmu itu berbeda dengan kepribadianmu." Changmin memulai obrolan kembali.
"Maksud Hyung?"
"Kau terlihat seperti orang yang keras dari luar. Tapi pada kenyataannya kau itu polos."
Tao mengamati keadaan taman ketika mereka sampai. "Kau harus menarik ucapanmu kembali."
"Eh, kenapa?"
"Aku itu tidak polos. Karakter itu sangat menjijikkan." Tao melirik Changmin. "Aku ini kan berkharisma." tambahnya.
Changmin kembali tertawa dibuatnya. "Kau ini ada-ada saja."
"Eih, itu benar." Tao mengarahkan langkah mereka pada satu bangku taman yang kosong, kemudian duduk disana bersama Changmin.
"Okay, okay." Changmin memilih mengalah sambil berusaha berhenti menertawakannya.
Kemudian keduanya terdiam, merasakan hembusan angin sejuk yang menerpa. Kedua pasang mata itu menatap ke atas, tepatnya ke arah dahan daun dari pohon di belakang mereka.
"Hyung," lalu Tao memanggilnya pelan.
Changmin hanya menyahutnya dengan gumaman.
"Apa kau takut mati?"
"Mati?" Changmin agak tergelak, tapi tidak beranjak dari posisinya.
"Hum. Semua orang takut mati. Kau?"
"Aku…" Changmin tersenyum tipis sambil memejamkan mata. "Aku tidak tahu apa yang harus ditakutkan dari kematian."
Deg!
Deg!
Ada yang salah dengan kalimat itu.
Changmin tiba-tiba membuka matanya dan itu membuat Tao menatapnya.
Benar-benar ada yang salah dari keyakinannya dahulu.
Ia bukan orang yang takut akan kematian. Tidak. Sampai sesuatu terjadi…
—tapi Changmin tidak ingat hal itu!
Changmin menggigit bibir bawahnya secara tidak sadar dan mulai meremas rambutnya. Serpihan-serpihan memori itu mulai bermunculan. Tapi bayangannya tidak jelas, semuanya buram, semuanya tampak kabur. Changmin mendengar Tao memanggil namanya, tapi ada paksaan dalam ingatannya yang membuatnya kesakitan.
Lalu ia menjerit, sampai jatuh pingsan.
Bersamaan dengan Junsu yang diantar Soohyun menggunakan kursi rodanya ke taman.
Junsu hanya menatap Tao yang memperhatikan Changmin.
.:o~o:.
Friday
August 31sth, 2012
02:44PM
Di sebuah ruang rawat sekitar dua jam kemudian.
Changmin tersadar sambil mengerjapkan matanya perlahan. Ada denyutan sakit di kepalanya. Bahkan matanya terasa sangat sakit saat berusaha menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Dan beberapa detik setelah itu, ia dapat mengubah posisinya menjadi duduk.
"Ukh… dimana aku?"
"Kau pingsan tadi." Tao tersenyum simpul.
Changmin mengurut kepalanya yang masih berdenyut. "L-lagi?"
"Begitulah." Tao menarik lengan Changmin perlahan lalu mengusapinya. "Coba makan banyak kenari. Kenari itu meningkatkan memori."
Sedangkan Changmin hanya mengangguk saja sambil berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi sebelumnya.
"Ah, iya, tadi ada seorang dokter—sepertinya dia kekasihmu. Dia melihatku menggendongmu sampai kamar ini, tapi dia terlihat tidak peduli. Bahkan sempat kudengar dia mengatakan sesuatu."
Dengan cepat Changmin mengarahkan pandangannya pada Tao.
"Dia bilang kau menyusahkan."
Deg!
"A-apa?"
Bersamaan dengan itu terdengar suara gaduh dari luar. Ada beberapa percakapan yang bercampur. Beberapa terdengar seperti 'kenapa tidak bilang?!' dan 'kau sedang di ruang operasi' atau semacamnya. Dan setelah itu pintu terbuka, menampilkan sosok Soohyun beserta seorang dokter lainnya.
Dia Yoochun, yang membulatkan matanya karena melihat sosok Tao.
Dan Changmin segera mengalihkan pandangannya. "Pergilah. Aku tidak butuh kau disini, Yoochun-hyung."
Yoochun merasa ia baru datang dan tidak mengerti apa-apa semakin membulatkan matanya. Lalu matanya mengarah pada Tao yang tersenyum dengan sebuah arti kepadanya.
.:o~o:.
HAIIIIIIIII *sembunyidibelakangChangminnie*
Um, maaf, aku sampai meninggalkan ff ini untuk beberapa bulan. Habisnya memang banyak kendala (imajinasi) menuju tanggal 9 September. Rasanya beraaaaaaaaaaaaaat sekali u.u
Tapi sekarang aku memutuskan untuk terus melanjutkan ff ini karena targetku tahun 2014 ini The Time selesai. Karena apa? Tahun 2015 nanti aku mau membuat ff yang konfliknya berat juga. Jadi ini perlu diselesaikan :3
So, mungkin beberapa dari kalian ada yang bosan, tapi saya senang dengan yang masih menunggu fanfic ini :) beribu terimakasih pun rasanya tidak cukup, love you all *hugs*
Ditunggu reviewnya, setidaknya itu membuatku lebih semangat hohoho :D
Lovelovelove, Yuri Masochist
