Seorang gadis dengan tinggi semampai berdiri di depan cermin, menyisir surai panjangnya yang tergerai bebas. Perlahan liquid sebening kristal mengalir lembut membasahi pipi chubbynya.

"Ya Tuhan, rambutku mulai rontok. Helai demi helai, dan pada akhirnya tak ada lagi yang tersisa." Gumamnya lirih.

Manik aquamarine-nya memandang nanar telapak tangan yang dipenuhi helai hitamnya tersangkut di sana. Jari-jemari lentiknya menarik lembut rambutnya yang mulai menipis ke arah samping, dibantu sisir untuk merapikannya. Ia mengikat ponytail rambutnya dengan arah menyamping, dihias pita biru, membuatnya nampak lebih imut.

Marmer putih kini dipenuhi helaian yang berserakan, rasa sesak mengisi relung hatinya., seperti atmosfir yang mengeras di paru-parunya. Netranya memanas, sebuah anak sungai mengalir tak bermuara.

Aku ini hanya bunga snowdrop

Yang tumbuh di permukaan tanah yang masih tertutup salju

Siapa yang akan menyadari keberadaanku?

Tak mungkin bagiku untuk bisa hidup di tempat hangat

Sehangat mentari yang mencairkan salju

Terlalu rapuh untuk bertemu sang surya

Three Days Forever

Boboiboy © Animonsta Studio

Warn : Typo, OCC, Fem! Ice

Happy Reading

Jam dinding yang terus berdetik kini menunjukan pukul 06.17, detiknya membaur dengan nyanyian cicitan burung bersahutan. Pemilik sepatu kets berwarna putih dengan stiker biru di beberapa sisi berjalan dengan riangnya menuruni undakan anak tangga. Wajah putih pucat itu sama sekali tak menunjukan beban, semua masalahnya tertutupi secara sempurna.

"Selamat pagi, ayah." Sapanya tanpa melepas senyumannya.

"Pagi sayang, sudah siap? Sini sarapan dulu." Ujar pria paruh baya yang tengah menikmati sarapan paginya tanpa melepas tablet di tangannya. Tanpa diminta pun Ice sudah pasti menempatkan diri di samping ayahnya untuk memulai ritual pagi keluarga mereka yaitu sarapan.

"Kenapa wajahmu pucat? Sakit lagi?" Tanya ayah sedikit khawatir ketika memandang wajah Ice.

Ice menggeleng, "Tidak, aku baik-baik saja." Ujarnya mencoba meyakinkan ayahnya.

"Kalau sakit bilang saja, tidak perlu di sembunyikan." Ujar ayah yang langsung ditolak lembut oleh Ice.

"Iya, hari ini aku akan baik-baik saja." Ice mengulangi ucapannya.

Ayah memandang Ice penuh selidik, namun kemudian tersenyum. Tak berhasil menemukan kebohongan di raut putrinya. Sepertinya Ice memang pandai mendrama.

"Ya sudah ayah harus berangkat sekarang, ada meeting pagi ini. Maaf ayah tidak bisa menemanimu festival hari ini."

"Tidak apa-apa, ayahkan memang sedang sibuk. Lagi pula aku juga bersama teman-teman, jadi ayah tak perlu khawatir." Ujar Ice seusai melahap suapan kedua dari nasi gorengnya.

Ayah tersenyum mendengar ucapan lembut putrinya, walau ada sedikit rasa bersalah. Ia pikir seharusnya mengambil cuti untuk menyediakan waktu bagi keluarganya.

"Kalau begitu ayah berangkat dulu, habiskan sarapanmu dan jangan lupa obatnya diminum ya? Semoga harimu menyenangkan sayang." Pesan ayah sambil mengecup pucuk rambut Ice, yang kemudian beranjak, meninggalkan putri satu-satunya di meja makan.

"Ya, hati-hati di jalan ayah." Ujar Ice, ketika sosok sang ayah menghilang di balik pintu.

Ice menghela nafas, entah kenapa nafsu makannya langsung hilang begitu saja. Obat berbentuk tablet yang telah tersedia di depannya menghancurkan mood paginya. Selalu saja seperti ini, ia mulai bosan dengan rasa obat yang ia konsumsi, selalu saja pahit.

Apa hidup juga selalu sepahit benda bernama obat yang berada di hadapannya saat ini? Sayangnya ia menyadari satu hal dari obat itu. Penyakit sialan itu tak akan enyah dari hidupnya, walau ia makan1000 kapsul sekalipun. Karena pada dasarnya itu hanya obat pereda sakit. Tidak mengurangi atau menghilangkan sel abnormal yang bersarang di otaknya.

"Berapa lama lagi ya?" gumamnya sambil memandang langit-langit rumahnya. Seolah mengharapkan sesuatu datang tiba-tiba dari langit-langit rumahnya.

~LucKyra~

Langit biru membentang luas sejauh mata memandang, kapas putih melayang berarak tak berirama membentuk siluet teduh di bumi. Seorang pemuda menyandarkan punggungnya di batang pohon, sambil memainkan poselnya. Rambutnya ditebangkan angin lembut yang menuntun awan menjelajah angkasa. Lengan baju putihnya ia sisingkan hingga ke bahu, membiarkan kulit lengannya terpapar sinar matahari yang menelusup melewati celah dedaunan. Hoodie bercorak api yang biasa dikenakan, ia tanggalkan untuk hari ini.

"Maaf, lama ya?" ujar seseorang dari kejauhan.

Tak butuh waktu lama manik beriris jingganya untuk mampu mengenali sosok yang kini tengah berjalan ke arahnya.

"Tidak juga, aku juga baru sampai." Ujarnya dengan ekspresi yang tak jarang lepas dari senyum cerahnya. Iris terangnya tak henti memandang objek lawan bicaranya, "Kau mengikat rambutmu?"

"Kau ada kelainan mata ya?" ujar Ice polos yang langsung menohok jantung Blaze.

Tak ku sangka, sikap sadis dengan wajah lolinya (?) masih melekat di dirinya.

"Y-yah, hanya saja kau tampak berbeda." ujar Blaze canggung. "Sudahlah, ayo pergi sekarang. Nanti mereka ngomel lagi kaya semalam." Kata Blaze malas.

Ice segera menyamakan langkah, sejajar dengan Blaze. Padahal sudah lebih dari setahun mereka berteman. Tapi kenapa ia baru sadar kalau Ice hanya setinggi pelipis Blaze, atau memang petumbuhan Blaze lebih tinggi darinya?

Rasanya baru beberapa menit mereka berjalan, tapi keramaian sudah tersaji di hadapan mereka. Pintu masuknya dihias dengan papan bertuliskan 'Happy Holi', dengan corak noda yang tak beraturan.

"Kita tunggu saja mereka di sini." Usul Ice.

"Ya, baiklah." Jawab Blaze langsung menyetujui usul Ice.

15 Menit kemudian

"Mereka lama, seharusnya mereka sudah sampai di sini dari tadi! Padahal mereka yang meminta kita untuk datang sepagi ini!" Seru Blaze.

Emosinya memuncak karena lelah menunggu terlalu lama. Waktu yang cukup untuk berkeliling tempat itu, hingga kaki terasa pegal karena terlalu lama berdiri, bahkan sebelum festival dimulai. Blaze menghentak-hentakan kakinya khalayak anak kecil ngambek tak dibelikan balon. Mulutnya tak berhenti mengoceh, meluapkan segala kekesalannya, entah pada siapa. Tapi gadis di sampingnya sama sekali tak menggubris satu kecap pun dari kalimat yang terlontar dari mulutnya.

Iris aquamarinenya mengedar pandang, beberapa pengunjung asing nampak berlalu lalang, hendak ambil bagian festival warna ini. Ia lelah dengan segala umpatan Blaze yang membuatnya harus menulikan indra pendengarannya.

"Berhentilah Blaze, apa kau tak lelah sedari tadi ngomel?" ujar Ice malas.

"Habisnya mereka lama sekali!" Serunya.

"Daripada kita jadi pusat perhatian gara-gara sikapmu yang over. Lebih baik kita minum cokelat di kedai itu, aku haus." ujar Ice.

Tangan dingin Ice langsung menarik Blaze menuju kedai yang ditunjuk jarinya.

"H-hei, tunggu! Aku tidak suka cokelat." Seru Blaze mencoba menghentikan Ice.

"Kau bisa memesan frappucinno atau milkshake. Kalau tidak mau setidaknya temani aku." ujar Ice untuk memaksa Blaze. Dan mau tak mau ia harus ikut ke arah tangan itu menariknya.

"Satu hot chocolate caramel dan ..." Ice menggantungkan kalimatnya, memberi celah Blaze untuk bicara dengan lirikannya.

"Frappucino." gumam Blaze.

"Satu hot chocolate caramel dan frappucino, segera datang." ulang pelayan yang menulis pesanan mereka.

Tanpa menunggu lama, minuman mereka kini telah tersedian di meja mereka.

"Kau tak takut gemuk?" tanya Blaze yang memandang Ice mulai menyeruput minumannya.

Ice menggeleng, " Tidak." jawabnya singkat.

Blaze menompang dagu, memandang heran pada gadis di depannya. "Bukankah biasanya cewek itu takut gemuk ya?"

Ice tertawa, entah bagian mana yang ia anggap lucu. Tapi menurutnya pertanyaan Blaze itu lucu. "Dari mana kau mendapat persepsi itu?" Tanya Ice di sela tawanya, yang hanya direspon oleh gendikan bahu Blaze.

Tawa Ice mereda..

Hening..

Mereka terdiam..

Sejenak terlintas di benak Ice, kalau dipikir-pikir ia tak pernah takut gemuk. Penyakitnya pasti sudah menggerogoti tubuhnya dan perlahan akan membuat berat badannya turun. Jadi apapun pasti ia lakukan untuk mempertahankan berat badannya dan juga menghindari rasa curiga temannya.

"Manusia itu hanya hidup sebentar. Ketika dihadapkan pada kematian, rasanya seperti terlahir kemarin. Dan mungkin mereka akan bertanya, 'Apa yang ku lakukan kemarin?' Karena itu, selama seorang manusia masih diijinkan untuk hidup. Lakukan saja apapun yang ingin kau sukai selama itu tidak melanggar, karena hidup ini hanya sekali." Ujar Ice, bertanya memandang permukaan coklat yang tenang.

Blaze hanya terdiam, merenungi tiap kata Ice. Memang ini seperti bukan dirinya. Tapi kalimat yang terlontar dari mulut Ice rasanya memang benar adanya.

"Ehem, pantas saja ditungguin lama banget. Ternyata ada yang lagi berduaan." Sindir gadis berkincir dua yang tak jauh dari mereka.

Tersadar dari lamunan, Blaze memandang orang yang baru saja bicara. Ternyata tidak hanya Ying di sana, Yaya, Gempa, dan Fang juga telah berkumpul. Dan entah kenapa di sana juga ada Taufan dan Halilintar.

"Dari mana saja kalian? Kami sudah menunggu lama di pintu masuk, kalian tak juga muncul. Bahkan sampai kami berdiri lama, kalian juga belum muncul juga.." ujar Blaze sambil meminum frappucinonya.

"Ma-maaf, di sini pintu masuknya ada banyak, aku lupa memberi tahu kalau kami masuk lewat pintu di selatan." Ujar Yaya malu-malu, takut teman-temannya akan mengamuk.

Tak seburuk pemikirannya, mereka hanya menghela nafas mendengar pernyataan Yaya. "Ya sudah. Yang penting semuanya sudah berkumpul."

"Ayo kita segera ke lapangan, sepertinya festivalnya akan segera dimulai."

"Oh ya, tunggu! Ini untuk festival nanti." Kata Yaya sambil membagikasebungkus serbuk warna.

"Dan jangan lempar serbuk ini sebelum acaranya di mulai, aku tak akan memberimu lagi jika serbukmu nanti sudah habis duluan." Ujar Yaya sambil melirih Taufan yang sudah bersiap menaburkan serbuk berwarna itu.

"Hihihi, oke oke. Akan ku simpan ini untuk nanti." Kata Taufan dengan seringai khas dirinya.

"Akan ku patahkan tanganmu jika kau berani macam -macam." ujar Halilintar sadis.

"Oh, ayolah Hali. Lepas sikap sakars mu itu, bersenang-senanglah hari ini. Nanti nyesel lo kalo udah mati." ujar Taufan asal.

"Aku bisa mengantarmu ke neraka sekarang." jawab Halilintar tak kalah ngasal

.

.

Di lapangan utama, suasana sudah ramai dengan orang-orang berkaos putih.

"ARE YOU READY!?" seru seorang DJ di depan panggung sana.

"YEAH!" Seruan bergema di lautan manusia.

"LET'S TO COUNTDOWN!

THREE...

...TWO..

...ONE!

HAPPY HOLY!"

Jika pada awalnya hidupmu hanya berwarna abu-abu, bersiaplah untuk warnai hari ini jadikan hari ini sebagai penanda di buku harian kelabumu.

Serbuk berwarna warni menghiasi atmosfir di atas mereka, si DJ menaikan volume yang semakin meramaikan suasana dengan musik genre techno. Orang-orangmenari mengikuti dentuman musik, sambil saling melempar serbuk berwarna yang mereka miliki. Warna yang ke sana kemari terbawa angin menyelimuti tubuh mereka.

They can imitate you

But they can't duplicate you

Cause you got something special

That makes me wanna to taste you

I want it all day

I'm addicted like it's wrong

I want it all day

I'm addicted like it's wrong

"Happy Holi!"

Seseorang bertopi biru yang ia kenakan ke samping mengendap di antara kerumunan orang-orang yang tengah menari-nari. Mengintip sosok yang akan menjadi targetnya.

Di tangan kirinya sudah siap serbuk berwarna kuning, sedangkan tangan kanannya memegang ponsel dengan kamera yang aktif.

"Momen langka." gumamnya diiringi tawa cekikikan.

Langkahnya semakin mendekat, matanya berkilat siap untuk beraksi. Bak seekor singa yang mengincar zebra yang tenang. Ah, bukan. Lebih tepatnya, seekor zebra yang menantang seekor singa yang damai.

Halilintar nampak sedang mengobrol asik dengan temannya yang pernah ia lawan di pertandingan Tae kwon do beberapa waktu. Namun suatu hal yang sama sekali ia duga, menghancurkan suasananya.

"Happy Holy Hali!" serunya membuat sosok yang ia kejutkan reflek menoleh ke arahnya.

Splash...

Cekrek...

"Hyaaa, aku dapat foto ekspresi polos Halilintar." seru Taufan kegirangan.

Wajah Halilintar kini dipenuhi serbuk berwarna kuning, bahkan sebagian masuk ke mata dan mulutnya.

"Tchuih!"

Taufan terlalu sibuk dengan ponselnya tanpa disadari ia baru saja membangunkan emosi singa yang tenang.

"TAUFAN! Hapus foto itu, atau aku akan benar-benar akan mengantarmu ke neraka!."

Yang benar saja, bisa hancur imagenya jika sampai foto itu tersebar.

"Tidak akan. Ini gambar eksklusif tau, limited edition." ujar Taufan sambil berusaha mengamankan ponselnya dari jangkauan Halilintar.

Dan terjadilah aksi kucing-kucingan di antara keramaian, yang mencuri perhatian sebagian penonton hingga tergelak. Walau berakhir dengan benjolan yang tak bisa dikatakan kecil di kepala Taufan dan terhapusnya foto langka Halilintar. Ah, bahkan lebih buruk. Halilintar memformat semua data Taufan.

"Huhuhu, Halilintar. Jahat sekali kau menghapus semua koleksi waifuku." seru Taufan.

"Satu tikus kecil dibereskan. Masih mending cuma memori yang ku format, mungkin kalau api unggun aku akan membakarnya." ujar Halilintar penuh kemenangan, meninggalkan Taufan yang sweatdrop berat sambil meratapi nasib ponselnya.

Kembali ke suasana umum, DJ di depan sana makin meramaikan suasana. Tempat itu diselimuti serbuk penuh warna, yang bahkan lebih indah daripada pelangi di langit.

Dalam suasana seperti itu, siapa yang sadar dengan sekeliling mereka.

Jdukkk..

"ADUH!" Pekik mereka bersamaan, ketika tak sengaja kepala mereka saling berbenturan.

"So-sorry, kacamataku kotor dan mataku kemasukan debu." Ujar sesorang berkacamata.

"A-ah, iya. Aku juga minta maaf." sahutnya.

Ice baru sadar ternyata orang yang baru saja ia tabrak adalah Fang.

"Bisa ku bantu membersihkan kacamatamu?"

"Ah, tidak perlu. Aku bisa membersihkannya sendiri." tolaknya.

Ia meraih sapu tangan dari sakunya dan membersihkannya, setidaknya cukup bersih untuk melihat.

"Sorry Ice, ngga sengaja tadi. Ugh mataku perih sekali." rintih Fang.

"Hey, tanganmu kan kotor, jangan untuk menyentuh matamu." seru Ice ketika Fang hendak mengucek matanya.

"Lalu bagaimana? Mataku perih!" Seru Fang.

"Biar aku tiup, kemari." Ujar Ice sambil meniup lembut mata kiri Fang yang katanya terasa perih.

"Bagaimana?'

"Yah, sudah baikan. Terima kasih."

Penglihatan Fang tanpa kaca benar-benar buruk, semuanya nampak buram. Bahkan sosok Ice yang dihadapannya nampak seperti orang lain baginya, karena itu ia tak pernah lepas dari kacamata berlensa nila itu.

"Eh Ice, itu, hidung mu berdarah." Ujar Fang selepas memakai kacamatanya.

Seketika Ice terkesiap, jarinya telunjuknya mengelap kasar cairan merah kental yang mengalir dari kedua lubang hidungnya.

"Ah, biar aku saja." Kata Fang menawarkan bantuannya pada Ice. Kebetulan hari ini ia membawa sapu tangan untuk membersihkan kacamatanya jika kotor.

Tak sengaja seseorang tak dikenal menabrak Ice hingga ia terdorong. Beruntung Fang menangkap Ice hingga tak terjatuh. Dengan jarak sedekat ini, Ice bisa mendengar deru nafas Fang.

Tanpa mereka sadari sepasang mata memperhatikan mereka, tangannya mengepal erat.

"Ma-maaf.. Ngga sengaja." ujar Fang canggung.

"Ah, terima kasih." ujar Ice dengan wajah memerah.

Hari ini, hingga matahari beralih menyinari belahan dunia lain. Serbuk penuh warna terus menghiasi lapangan pusat kota.

Tawa dan kesenangan, semua terlampiaskan dengan warna. Merah, kuning, hijau, warna apa yang kamu pilih? 😊

Sayangnya semakin indah suatu kejadian semakin menyedihkan kenangan yang termakan waktu. Ingin rasanya menghentikan waktu, tapi waktu tak akan berhenti kan?

Seperti jam digital, tak pernah berhenti sepersekian detik, tak bergema.

~LucKyra~

Remang-remang cahaya dari jendela mengisi ruang bercat biru itu, Ice mengeryap perlahan, seperti tak ada pagi yang indah untuk dinikmatinya, selalu saja ada penderitaan yang terlebih dahulu menyapan harinya. Bahkan sebelum radiasi sang surya mencapai dirinya.

Rasanya seperti ingin membenturkan kepala ke dinding jika saja itu bisa menghilangkan rasa sakit di kepalanya saat ini juga. Perlahan ia bangkit dan berjalan terhuyung menuju kamar mandi. Apa semalam ia bermimpi berkeliling dunia? Hingga kakinya seperti tak bertenaga, untuk menahan massa tubuhnya sendiri saja masih harus di bertumpu pada benda di dekatnya.

Brukk…

"Ukh, ssshhhh." Ice merintih pelan, sambil memegangi kepalanya yang terantuk lemari. Dibenaknya telah tercipta banyak pertanyaan yang entah akan ditanyakan pada siapa. Tiba-tiba saja otot kakinya kehilangan fungsi gerak.

Dan ada satu hal yang baru saja ia sadari, aroma anyir yang menyeruak mengisi parunya. Liquid berwarna merah segar yang mengalir melewati pelipis dan entah sejak kapan kedua lubang hidungnya ikut mengeluarkan liquid yang sama. Pandangan manik aquamarinenya memburam, terasa berat. Hingga kesadarannya terenggut oleh kegelapan. Kelopak matanya tak mengijinkan manik berlian itu menerima cahaya. Darahnya masih terus mengalir membasahi lantai putih nan dingin.

TBC

1…

2…

3…

GOMENNASAI! Ya ampun, sampe lama banget ngga update.. Maaf maaf,, 2 minggu ini kesehatan Lucky labil, tiba-tiba aja langsung demam, besoknya sembuh.. jadi mau nyentuh laptop aja mikir dua kali.

Aaaa, tunggu kenapa di bagian ini Fang mendadak OOC? Ada apa hayo? Bahasanya ngga romantis banget.

Fang : Balas budi, tidak pernah diajarkan balas budi ya?

Lucky : Budiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…

Oke, abaikan yang di atas., Bales review dulu ya ^^

Ililara : Myaaaa,, senangnya bisa bikin orang terharu #Plak :D Thank's ya udah stand by sama fic ini. Makasih atas dukungannya. Semangat juga ya ^^

Rampaging Snow : YAYYYY,, Mkasih.. aku juga suka kata-katanya.. Makasih udah nyempetin review ^^

Blackcorrals : Ngga papa, makasih udah nyempetin mampir n review… Myaaaa! Aku juga suka scene terakhir itu :D

Willy0610 : Ngga usah ngrasain, emang chap sebelumnya bener-bener acak kadul kok ;'(( Aku juga ngrasa, ngarasa banget malah.. Iya niatnya emang mau buat yang panjang, tapi ternyata fail.. Itu juga salahku sih, mau melampaui batas kemampuan sendiri.

Oke,, ngga papa kok, tenang aja, aku orangnya terbuka kok.. Aku malah seneng kalo ada yg ngasih kritik n saran.. Makasih ya udah kasih reviewnya ^^

Vanilla Blue12 : Hai, Blue #Kok Blue sih? Makasih udah nyempetin baca n review fic gaje ini.. Mampir lagi ya ^^

Udah ya, aku udah ngga bisa ngomong apa-apa lagi. Rasanya ceritaku makin ke sini makin acak-acakan gara" kejar-kejaran sama tugas sekolah.. Sekali lagi maaf jika late update ato alurnya yang ngaco… Makasih udah nyempetin baca ^^