Three Days
Boboiboy © Animosta Studio
Warn : Typo! OOC, Fem! Ice
Happy Reading ^^
Setetes liquid mengalir lembut dari pucuk daun berklorofil, terjatuh terbawa gravitasi. Embun pagi mengaburkan pandang, menurunkan derajat atmosfir kota itu. Suasana rumah sakit di pagi hari tidaklah begitu ramai, hanya beberapa perawat dan dokter yang masih bertahan dalam shift mereka.
Seorang lelaki berjalan menyusururi koridor yang masih lengang oleh pengunjung. Manik gelapnya menerawang menembus suasana berkabut yang menciptakan halusinasi horor. Jika ada suara pun, itu ungkapan kekesalan terlontar dari mulutnya pemuda itu, benar-benar sunyi.
"Brrr, dingin sekali pagi ini. Kalau tidak untuk basket, tak akan mau aku bangun sepagi ini. Lagi pula untuk apa ayah memintaku ke tempat ini?" kesalnya sambil mengeratkan jaket yang membalut tubuhnya.
Yups, seorang pemuda berkanta nila, penggila basket dan donat lobak merah. Fang nama pemuda itu. Entah apa yang ia lakukan di tempat ini, Rumah Sakit Central Pulau Rintis. Namun kakinya terus melangkah, menciptakan decitan yang tak beraturan pada lantai di antara kesunyian.
Dari kejauhan, sirine sebuah mobil ambulans berbunyi nyaring memecah ketenangan pagi itu. Seketika suasana tengang menyelimuti tempat itu dikala putaran rodanya terhenti paksa tepat di depan rumah sakit. Beberapa perawat dengan sigap langsung menghampiri mobil berwarna putih itu. Seorang gadis berlumuran darah dipindahkan menuju kereta dorong pasien dan segera di larikan ke UGD.
Iris di balik kacamata nila itu menjadi saksi keributan pagi itu hanya dipenuhi oleh berbagai pertanyaan. Tiba-tiba tubuhnya merinding ketika melihat pakaian gadis itu tampak bercak darah, "Dia kenapa? Korban kecelakaan? Darahnya banyak sekali." Gumamnya.
Sekilas ia seperti mengenal orang itu, nampak sangat familiar baginya. Namun ia ragu, karena darah menutupi sebagian wajahnya. Sepertinya memorinya sedang terganggu, hingga mengingat kerasnya dengan keraspun hasilnya nihil. Ia mengendikan bahu, mengabaikan perasaan yang menggangunya.
Sepatu kets didominasi warna indigo itu berhenti di sebuah pintu bercat putih, di sana tertulis 'Dokter Kaizo'. Tanpa basa-basi ia langsung masuk begitu saja, tanpa meminta ijin dari penghuninya.
Seseorang berjas putih yang berpose seperti orang berpikir duduk tenang di singgasananya, sebuah lembar hasil CT scan di tangannya ia perhatikan dengan teliti. Seketika konsentrasinya buyar ketika Fang tiba-tiba masuk ke ruangannya. Iris senada mereka saling bertemu, untuk alasan tertentu mereka terdiam.
"Apa kau tak pernah diajarkan sopan santun sebelum masuk ke ruangan seseorang? Dan apa yang kau lakukan di sini, Pang?" Tanya Kaizo, langsung pada inti pembicaraan.
"Menyampaikan pertanyaan dari ayah, 'Kaizo pergi ke rumah sakit? Hari inikan hari Minggu, hari untuk kelurga! Untuk apa ia bekerja!?'. Dan tolong, singkirkan panggilan itu, aku sudah bukan anak berumur 3 tahun yang belum bisa mengucapkan namanya sendiri dengan benar." Tuntut Fang dengan logat yang ia buat mirip dengan pesan ayahnya.
Kaizo memijat pangkal hidungnya, "Kau datang kemari hanya dengan alasan seperti itu. Pulang saja sana." Ujarnya malas.
"Ya elah, adek sendiri baru datang langsung di usir, tegaamatsih lu bang. Kau yang membuatku dalam situasi ini, kau tau quote ayah nomer 1 'Keluarga adalah ikatan harmonis yang tercipta dari kelembutan sesama anggota.' Dan sebagai anak dan adik yang baik, aku memenuhi permintaan Ayah plus menemanimu hari ini." Tambah Fang dengan nada yang dibuat-buat.
Padahal kalau ini bukan permintaan ayah, Fang juga tak akan mau datang weekend, seharusnya iadi rumah saja. Rasa pegal juga masih belum hilang dari tubuhnya setelah festival holi kemarin.
Kaizo tertawa garing, "Jangan membuatku muntah dengan ucapan sok manismu itu. Pantas saja banyak yang suka padamu, ternyata kau ini suka ngegombal." Ejek Kaizo.
"Hei, aku ini memang keren tau. Tanpa jurus gombal cap buaya pun, banyak yang sudah terpikat." Ujar Fang dengan PD-nya.
Kini Kaizo benar-benar ingin muntah mendengar penuturan adiknya yang sok kegantengan.
Mengabaikan keberadaan adiknya saat ini, ia kembali memeriksa pekerjaannya. Meja kerja Kaizo benar-benar berantakan, kertas berwarna putih dengan tinta hitam berserakan tak tertata.
'Berantakan sekali.' batin Fang.
Fang yang masih dalam keadaan berdiri, memilih untuk duduk-toh kakaknya juga tak mempersilahkan nya duduk, dasar kakak tidak peka.
Tangan yang dilapisi sarung tangan fingerles itu meraih beberapa lembar kertas dari meja Kaizo, penasaran dengan apa yang tengah dipelajari kakaknya. Entah apa yang tulisan itu bicarakan, ia tak bisa membaca istilah latin seperti ini. Namun ada satu kalimat yang menarik perhatiannya. Matanya membulat ketika sebuah nama tertera di sisi atas kertas itu.
Etenia Ice?
Ia membacanya dengan teliti walau beberapa istilah kedokteran membingungkannya,namun sepertinya ia mampu memahami isi dari lembaran itu.
Sret..Kertas yang tengah ia baca kini sirna, diambil paksa si empunya.
"Hei!?"
"Apaan sih? Jangan baca-baca dokumen orang, ini data pasien ini rahasia, kau tak boleh membacanya. Itu sama saja aku melanggar etika seorang dokter. Kalau kau hanya mengacaukan pekerjaanku, lebih baik kau pulang saja sana. Hush, hush." Ujar Kaizo sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Kau pikir aku ayam?" Fang hanya sweardrop melihat bagaimana cara kakaknya memperlakukannya.
Rasa penasaran dibenaknya masih belum terjawab, oleh karena itu , "Kak, itu Ete-,"
Tok… Tok.. Tok...
"Masuk." Ijin Kaizo.
"Dokter Kaizo ada pasien yang membutuhkan anda sekarang!" seru seorang perawat yang muncul dengan wajah yang cemas.
"Baik, aku akan ke sana!" Respon Kaizo yang langsung meninggalkan ruangan itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Sekarang aku ngga dianggep." Gumam Fang.
Padahal ia belum selesai menanyakan pasal Ice tadi. Tapi kenapa harus menunggu Kaizo kembali, sedangkan ia bisa mencari tau sendiri.
Ia mencari berkas yang berisi data tentang Ice. Lancang memang, tapi ia tak bisa menahan hasrat untuk mengetahuinya. Entah apa yang mendorongnya untuk mencari informasi lebih tentangnya, bukankah selama ini ia tak pernah peduli dengan apa yang gadis itu lakukan?
Ketemu!
Hasil CT Scan dan beberapa lembar terdapat di berkas itu. Iris dibalik lensa nilanya memindai cepat setiap kalimat yang tertulis di sana. Matanya membulat sempurna, tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca.
.
.
.
BRAK…
Fang tersentak mendengar suara yang memekakkan telinga itu, ia hanya bisa memandang pada sosok kakaknya yang muncul dari balik pintu dengan eksprei yang sulit diartikan.
"Pang! Golongan darahmu AB negatif kan!?" Tanya Kaizo dengan nada tinggi.
"Y-ya." Jawab Fang, masih setengah sadar dari keterkejutannya.
Fang mencoba bersikap senormal mungkin, berkas yang ia baca tadi juga sudah kembali pada tempatnya agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Donorkan darahmu untuk pasien yang ku tangani saat ini." Pinta Kaizo mendadak.
"Hah!? Kenapa harus aku? Memangnya di bank darah sudah kehabisan stok darah?" jawab Fang santai.
"Kau tau sendiri golongan darah AB negatif itu langka." Ujar Kaizo, masih dengan nada tinggi.
"Wow, aku tak menyangka darahku ini langka." Ujar Fang yang masih sempat mengagumi golongan darah sendiri.
Dirasa sedari tadi Fang hanya buang waktu, tangannya langsung menyeret Fang keluar untuk pemeriksaan dan diambil darahnya. Tubuh Fang mencoba melepas cengkraman Kaizo untuk berhenti memperlakukannya seperti hewan kurban.
"Tunggu dulu! Memang apa untungnya bagiku? Kau memintaku untuk mendonorkan darahku, bahkan untuk orang yang tak ku kenal." Ujar Fang dengan egonya.
Emosi Kaizo memuncak, inilah yang sering ia benci dari sifat adiknya yang selalu memainkan ego-nya. Tangannya mengepal erat, "Apakah untuk menolong orang lain kau harus mengenalnya terlebih dahulu!? Kalau semua orang di dunia ini berpikiran sepertimu, tak ada satupun orang di dunia ini yang mau jadi dokter hanya karena ego mereka! Kau pikir seberapa murah nyawa seseorang itu!?"
Semua orang di tempat itu memandang kakak-adik yang tengah berdebat hebat. Kini Fang hanya terdiam, menatap kakaknya dengan pandangan sengit. Belum pernah ia melihat kakaknya semarah ini, nampak kilat kesungguhan dimatanya, akhirnya ucapan Kaizo melunakkan hatinya.
"Tch, baiklah. Terserah apa katamu saja." Decak Fang.
Kaizo melemaskan ototnya yang kaku, ia menarik nafas panjang untuk menormalkan denyut nadinya yang sempat terpacu. Tangannya melambai pada seorang suster yang nampaknya tengah bebas kerjaan.
"Tolong cek dan ambil darahnya, setelah itu berikan pada pasien yang baru datang pagi ini." Ujar Kaizo yang langsung diterima dengan anggukan oleh suster itu.
~LuckyRa~
"Terima kasih sudah mau mendonorkan darahmu." Ujar Kaizo.
Saat ini mereka ada di kantin rumah sakit, Kaizo langsung mentraktir Fang setelah ia selesai menangani pasiennya. Wajah Fang nampak sedikit pucat karena hemoglobinnya yang berkurang.
"Hm," gumam Fang sambil mengunyah donat lobak merahnya.
Sebuah perempatan imajiner muncul di pelipis Kaizo, "Yang sopan kalo ngomong sama yang lebih tua."
"Iya, aku kan udah jawab. Orang lagi makan juga." Jelas Fang setelah menelan makanannya.
Sebuah helaan nafas dari Kaizo, tangannya meraih sebuah donat di hadapan Fang dan memakannya dengan santai.
"Hei, itukan milikku!" Seru Fang.
"Yang belikan aku juga," elak Kaizo.
Fang hanya mendengus melihat tingkah kakaknya yang suka bertindak sesuka hati, tapi di sisi lain ia juga merindukan momen seperti ini bersamanya.
"Oh ya, kak?"
"Hm?"
"Kenapa kakak malah milih jadi dokter? Kenapa tidak meneruskan perusahaan ayah saja?" Tanya Fang.
Akhirnya, pertanyaan yang selama ini terpikir olehnya berhasil ia sampaikan. Jangan salahkan Fang yang tak bertanya langsung pada Kaizo sejak dulu. Kaizo jarang punya waktu luang, sekali di rumah ia hanya akan menghabiskan dengan laptop kesayangannya.
Iris merah Kaizo memandang Fang yang menanti jawaban darinya. Bukannya segera menjawab, ia justru meluangkan waktu untuk meminum jus mangga yang ia pesan tadi.
"Karena aku kakak yang baik, ku percayakan perusahaan ayah untukmu. Jadi setelah lulus SMA nanti, ambil saja jurusan managemen atau sejenisnya. Dan lanjutkan perusahaan keluarga kita. Kalau aku, cukup jadi dokter saja. Menyelamatkan nyawa seseorang, mungkin tak banyak orang yang bisa melakukan hal itu. Tapi Tuhan, manusia hanya bisa berusaha, selebihnya Tuhan yang menetukan." Ujar Kaizo.
"Pasaran banget kata-katamu. Tapi kenapa kenapa kakak memilih jadi dokter spesialis kanker? Kenapa tidak jadi dokter gigi saja?" Tanya Fang polos.
"Kau mau setiap hari gigimu aku cabuti?" Canda Kaizo, yang hanya dibalas dengan dengusan kesal adiknya.
"Seorang penderita kanker itu, mereka luar biasa. Aku pernah mengunjungi panti khusus penderita kanker waktu aku masih kuliah di Inggris. Mereka terus bertahan hidup dengan rasa sakit yang mereka rasakan, tapi rasa sakit itu mereka citrakan dengan keceriaan. Dengan harapan orang lain ikut bahagia, mereka tak suka dikasihani.
Di sana aku bahkan menemui seorang gadis berumur 5 tahun yang mengidap kanker darah, ibunya meninggal karena penyakit yang sama, sedangkan ayahnya tak mau mengurusinya. Dengan kepala yang plontos ia masih bisa tertawa lepas, seolah tak ada beban sama sekali. Bukankah bahagia jika kita bisa menyelamatkan senyuman mereka?" jelas Kaizo panjang lebar.
Fang kembali terdiam, ia tak menyangka kakaknya berpikir sejauh itu. "Jadi orang yang menerima darahku tadi, juga pasien kakak yang menderita kanker?" Tanya Fang.
"Ya, tapi sepertinya ia sudah kehilangan semangat hidup. Dia menolak dioperasi atau menjalani kemoterapi. Walau hanya dengan obat-obatan dia masih mampu bertahan sejauh ini. Tapi sepertinya kondisinya memburuk sekarang." Ujar Kaizo lesu.
"Aku, ingin bertemu denganya. Dia berhutang terima kasih padaku."
"Yah, boleh saja."jawab Kaizo.
.
.
.
Fang ditemani Kaizo sudah tiba di depan ruang perawatan yang dibicarakan kakaknya tadi. Ia membuka pintu itu perlahan agar tidak mengganggu pasien di dalamnya, dengan perlahan ia berjalan mengekor di belakang Kaizo. Matanya langsung tertuju pada sebuah objek yang tengah terbaring di ranjang dengan kepala yang terbalut kasa, seketika tubuhnya menengang.
"Dialah orang yang menerima darahmu, sepertinya kepalanya terbentur bersamaan dengan mimisan. Hingga ia kehilangan banyak darah, beruntung penghuni dirumahnya cepat mengetahuinya. Namanyagadis ini,-"
"Etenia Ice." Ujar Fang lirih.
Kaizo sempat terkejut dengan penuturan Fang, "Kau mengenalnya?"
Iris Fang menatap lurus pada gadis yang masih menutup matanya, "Dia satu sekolahan denganku, kelas 2 kemarin kami sempat sekelas. Tapi sepertinya ia tak pernah menunjukan rasa sakitnya." Ujar Fang.
"Ia menderita kanker otak, untuk stadium satu dan dua, gejalanya tak begitu terlihat. Namun memasuki stadium 3 akan mulai terlihat, dan dalam stadium ini sudah termasuk parah." Jelas Kaizo.
Saat itu juga, entah kenapa Fang merasa mual. Ia menutup mulut dan mencengkeram erat perutnya yang terasa mual. Ia teringat kemarin saat perayaan festival holi ketika Ice mimisan, jadi itu sebagian dari gejalanya?
Melihat gerak-gerik adiknya yang seperti ingin muntah, Kaizo Nampak panik dan segera membawa Fang keluar dari ruangan untuk mendapat udara segar. Rasa takut dan tertekan akan mempengaruhi fungsi tubuh dengan melepaskan hormon tertentu yang membuat rasa tak nyaman di perut.
~LucKyra~
Detik-detik tenggelamnya sang surya, menyisakan semburat jingga di langit gelap ufuk barat. Seorang pria paruh baya berjalan terburu-buru menyusuri koridor mencari ruangan no 37 di bangunan yang serba putih.
I berhasil menemukan ruang tempat putrinya di rawat, di dalamnya seorang dokter dan satu perawat tengah mengecek kondisi putrinya yang masih terbaring di atas ranjang dengan kelopak mata tertutup.
Dengan nafas terengah-engah ia memasuki ruangan itu, "Bagaimana keadaannya?" Tanya pria paruh baya yang bukan lain merupakan ayah Ice.
Dokter itu menoleh ke arah suara, "Dia sudah sadar sejak tadi siang, tapi kembali tertidur setelah meminum obat yang saya berikan. Biarkan saja, dia butuh banyak istirahat. Beruntung pembantu di rumah anda segera menelpon ambulans ketika menemukan Ice yang bersimbah darah di kamarnya. Walau kehilangan banyak darah, tapi itu bisa diatasi, sekarang ia akan baik-baik saja." Jelas dokter Kaizo yang baru saja memeriksa keadaan Ice.
Walau Kaizo mengatakan seperti itu, bukan berarti rasa bersalah yang hinggap di hati sang ayah sirna begitu saja. Justru membuat perasan itu semakin meledak.
Malam itu, ia ijin pergi ke luar kota dengan alasan ada pekerjaan penting yang harus ia kerjakan. Awalnya ia ragu untuk meninggalkan Ice sendiri di rumah, tapi justru Ice sendiri yang mengatakan ia akan baik-baik saja di rumah. Namun faktanya, ponsel berdering keras di pagi hari yang mengabarkan kalau Ice masuk rumah sakit. Saat itu juga, ia langsung pulang, padahal dirinya baru sampai di kota yang dituju. Terbayang rasa lelahnya setelah pulang pergi dalam waktu hampir bersamaan demi putrinya.
"Aku ayah yang bodoh, aku terlalu sibuk bekerja padahalputriku satu-satunya tengah sakit parah dan aku bahkan meninggalkannya sendiri di rumah. Aku memang ayah yang tak berguna." ujar ayah mulai terisak.
Kaizo hanya bisa termenung, memandang dengar hati miris. Ia hanya bisa menyarankan untuk lebih memperhatikan Ice, mencoba menenangkan sang ayah yang terisak
"Bisa kita bicarakan satu hal di ruangan saya? Saya takut jika di sini istirahat Ice akan terganggu." ujar Kaizo.
Ayah hanya menyetujuinya saja setelah ia tenang, namun ia ijin untuk membersihkan diri terlebih dahulu setelah perjalanan panjang hari ini.
~LucKyra~
"Jadi?" Tanya ayah memulai pembicaraan terlebih dahulu ketika ia sampai di ruangan Kaizo.
Kaizo masih terdiam, sekali lagi ia memperhatikan lembaran berwarna gelap. "Sebelumnya saya meminta anda untuk tenang terlebih dahulu." Ujar Kaizo sambil memperlihatkan lembaran yang berada di tangannya. "Ini hasil CT Scan kepala Ice yang terbaru. Dapat dilihat sel kanker di otak Ice semakin membesar." Ujar Kaizo sambil menunjuk bagian gambar yang ditunjuknya sebagai sel kanker.
"Sebelumnya saya ingin bertanya, apakah akhir-akhir ini penglihatan Ice terganggu?" Tanya Kaizo.
"Beberapa waktu lalu, ia memang meminta ijin untuk memakai lensa kontak karena katanya ia kesulitan membaca soal ujian saat itu." Ujar ayah.
"Itu karena sel kankernya mulai merusak saraf penglihatannya. Dan dari kecelakaan pagi ini, bisa disimpulkan kalau sel itu juga telah merusak keseimbangan tubuhnya hingga ia kesulitan bergerak. Jika sudah sampai seperti ini, ditinjau dari ukuran dan tanda-tandanya, kanker itu bisa dikatakan mulai memasuki stadium 4. Jika kemoterapi tidak dilakukan secepatnya, kemungkinan Ice bisa mengalami buta dan lumpuh." Jelas Kaizo.
Mendengar penjelasan dokter dihadapannya, hati ayah hancur berkeping-keping. Ia merutuki kebodohannya yang tak becus mengurus satu putrinya saja. Dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah yang menghantuinya.
"Obat yang selama ini saya berikan hanya untuk mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan." Tambahnya.
"Lalu, apa yang harus saya lakukan agar Ice mau melakukan kemoterapi? Saya tidak mau melihat putri kesayangan saya, duduk di kursi roda dengan tatapan kosong." Ujar ayah dengan suara parau yang disusul dengan jatuhnya cairan bening dari pelupuk matanya.
"Adik saya satu sekolahan dengan Ice, saya juga akan memintanya agar ia juga ikut membujuk Ice untuk kemoterapi, bahkan kalau bisa lebih baik ia mau dioperasi." Ujar Kaizo.
"Saya juga akan berusaha membujuknya."
Tanpa mereka sadari seseorang berpakaian pasien mendengar percakapan mereka.
Ice POV
Aku terbangun di salah satu hari di mana kondisiku benar-benar buruk. Hari ini aku kembali menjadi pasien di rumah sakit, karena kelemahanku sendiri yang tak mampu menahan massa tubuhku./
Kulihat cahaya rembulan yang menembus jendela ruang rawat inapku. Satu hal yang aku benci dari tempat ini adalah bau obat yang selalu menyeruak mengisi rongga dadaku. Aku benar-benar muak dengan ini. Aku mencoba mendudukan diri, walau rasa sakit di kepalaku belum menghilang. Seharusnya ia beristirahat di tempat tidur, namun bau ini tak bisa membuatku istirahat dengan tenang. Berada di kamar seorang diri membuatku bosan, hingga kuputuskan untuk berjalan-jalan sejenak untuk mencari udara segar. Perduli setan dengan omelan dokter Kaizo nanti.
Aku meraih kantung infuse yang tergantung, kakiku berjalan perlahan agar tidak terjatuh seperti tadi pagi. Ternyata suasana rumah sakit ketika malam hari menyeramkan juga, imajinasiku menjadi liar membayangkan jika ada sesosok makhluk yang tergantung di ternit tempat ini.
Aku tertawa dalam hati, sungguh pemikiran yang konyol bukan. Karenanya aku menendang jauh-jauh khayalan itu dan melanjutkan untuk mencari udara segar.
Sebuah ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka menarik perhatianku, aku teringat,bukankah itu ruangan dokter Kaizo?
Aku berjalan mendekat, tak sengaja ternyata ada sebuah percakapan yang sepertinya penting. Aku mengenal suara ini, ini suara ayah. Jadi ayah sudah pulang dari luar kota? Bukankah ayah pergi selama 3 hari?
"…Jika sudah sampai seperti ini, ditinjau dari ukuran dan tanda-tandanya, kanker itu bisa dikatakan mulai memasuki stadium 4. Jika kemoterapi tidak dilakukan secepatnya, kemungkinan Ice bisa mengalami buta dan lumpuh."
Deg…
Itu suara dokter Kaizo, apa benar yang dikatakannya? Penyakitku sudah memasuki stadium 4? Buta dan lumpuh? Yang benar saja, bagaimana aku bisa terus berlagak baik-baik saja di depan teman-temanku?
Perlahan air mataku mulai menetes tanpa dikomando. Hancur? Tentu saja, bagaimana aku menjalani hidupku setelah semua yang kudengar ini? Padahal aku ingin bersama semuanya lebih lama lagi. Tapi maaf, sepertinya aku tak bisa lagi.
'Mereka harus membenciku!' gumam Ice dalam hati.
"Terima kasih atas semuanya, kalau begitu saya permisi dulu." Ijin ayah yang sepertinya mulai beranjak dari tempat itu.
Gawat!
Aku langsung berlari sekuat tenaga agar ayah tak mengetahui keberadaanku, walau kepalaku terasa seperti ingin pecah setiap hentakan kakiku. Tapi aku mengabaikannya, walau sempat terhuyung bahkan hampir jatuh berkali-kali.
Akhirnya aku sampai di kamarku, dengan nafas memburu dan air mata yang belum berhenti berlinang, aku mendudukan diri. Aku ingin sekali berteriak dan bertanya kepada Tuhan. Kenapa semua ini harus aku alami? Tak puaskah Engkau mencobaku dengan masa kelamku?
Ku dengar derap kaki yang semakin mendekati kamarku, pasti ayah. Aku menggantungkan kantung infuse ke tempat semula, dan kembali berbaring. Menghapus jejak air mataku dan berpura-pura terlelap seperti putri tidur.
Aku dengar suara pintu terbuka dan kembali tertutup. Kini seseorang menggenggam tanganku dengan hangat sambil sesekali menciumnya. Ayah mulai terisak dengan mengucapkan kata maaf berkali-kali. Ingin rasanya aku bangun dan memelukmu, tapi aku harus tetap memerankan tokoh seorang putri tidur yang terlelap dengan wajah manis. Jika aku tiba-tiba terbangun, itu hanya akan memperburuk suasana hati ayah.
Normal POV
~LucKyra~
Suara alam membangunkan Ice kembali, kicauan burung yang saling menyahut menandakan betapa indahnya hari ini. Ice terbangun dari mimpi buruknya yang nyata.
Seseorang muncul dari balik pintu dengan membawa nampan berisikan sarapan untuk Ice, "Selamat pagi sayang, udah bangun?" Sapanya.
Ice teringat, ia masih harus mendrama seperti ia tak tau apa-apa, termasuk kejadian semalam.
"Ayah? Bukankah seharusnya ayah pulang besok?" Tanya Ice khas dengan suara orang bangun tidur.
"Yah, pekerjaan ayah selesai lebih cepat selesai dari perkiraan. Jadi ayah bisa pulang lebih awal, dan sampai di rumah dengar kabar kamu masuk rumah sakit jadi ayah langsung ke sini." Jawab Ayah tanpa melepas senyumannya.
Walau sebenarnya Ice tau itu hanyalah sekedar senyuman palsu untuk memberi kenyamanan padanya. Ice mencoba mendudukan diri dengan bantuan ayah.
"Ayah bawakan bubur untukmu, ayah suapin ya?" ujar ayah lembut.
Ice hanya terdiam, tak menjawab pertanyaan ayah.
"Kenapa diam? Tidak suka dengan menu sarapannya?" Tanya ayah.
Ice menggeleng singkat, "Tidak, hanya saja aku tak bisa makan apa-apa dengan aroma obat seperti ini. Bisakah kita sarapan di taman saja? Cuaca hari ini cerah, pasti udaranya juga segar."
Ayah memandang Ice seraya tersenyum, " Baiklah, ayah ambil kursi roda dulu ya?" Ayah beranjak dari kursi yang di sediakan di samping ranjang Ice.
Pagi itu mereka menikmati damainya pagi yang jarang mereka habiskan bersama, senangnya bisa bersama keluarga di saat-saat seperti ini. Seperti telah tertulis di buku kehidupan saja. Sampai siang haripun, ayah masih setia menemani Ice.
"Ayah tidak bekerja?" Tanya Ice.
"Hari ini hanya untukmu sayang." Ujar ayah dengan nada menggoda.
Ice tertawa, "Pantas saja ibu jatuh hati pada ayah. Ternyata ayah orangnya suka ngegombal." Ejek Ice.
"Ibumu itu memang cantik dan baik, jadi apapun pasti ayah lakukan untuk mendapatkan cintanya. Sama seperti putriku yang juga cantik." Ujar ayah.
Ice tersipu, "Berhenti menggodaku ayah.". Mereka tertawa bersama.
Seseorang mengetuk pintu ruangan itu, membuat mereka meredakan gelak tawa. Dokter Kaizo datang bersama beberapa perawat yang sepertinya akan mengecek kesehatan Ice.
"Selamat siang, maaf mengganggu waktu kalian. Tapi sekarang saatnya untuk pemeriksaan Ice." Ujarnya ramah.
"Ah, sudah waktunya ya? Kalau begitu ayah keluar dulu ya Ice, sekalian makan siang. Mau titip sesuatu?" Tanya ayah.
"Hm, aku ingin buah apel, boleh?" Tanya Ice pada Kaizo.
"Tentu saja, tapi sebaiknya diblender bersama ampasnya, jangan hanya sari buahnya saja." Saran Kaizo.
"Baiklah, ayah akan segera kembali. Saya permisi dulu, dok." Pamit ayah yang tak lama kemudian menghilang di balik pintu.
"Baiklah, kita mulai pemeriksaannya. Jadi bagaimana perasaanmu?" ujar Kaizo sambil menyentuh pergelangan tangan Ice, mencari letak denyut nadinya. Matanya tertuju pada jam di tangan, menghitung waktu.
"Rasanya masih sedikit pusing, dan aku sering merasa mual karena bau obat yang menyengat di sini." Ujar Ice.
"Kau hanya belum terbiasa saja di sini, setelah makan siang nanti minum obatmu dan istirahatlah." Ujar Kaizo.
"Hm, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan pada anda." Ujar Ice ragu.
"Apa itu? Kalau aku bisa menjawabnya, pasti akan ku jawab."
"Apa benar, kankerku sudah memasuki stadium 4?" Tanya Ice.
Kaizo nampak terkejut, namun ia berusaha agar tidak terlalu menonjol, "Kau tau dari ayahmu ya?"
Ice menggeleng dan terdiam sejenak, "Semalam, aku keluar kamar karena bosan. Dan aku lihat ruangan anda sedikit terbuka, dan tak sengaja aku mendengar percakapan kalian. Semuanya, aku mendengar semuanya." Ujar Ice tanpa berani bertemu pandang dengan iris merah Kaizo.
Kaizo hanya menghela nafas, mau bagaimana lagi? Ia juga sudah mengetahuinya, tak ada gunanya juga ditutupi. "Sebenarnya aku ingin memberitahumu hal itu setelah kondisimu stabil. Tapi karena kau sudah mendengarnya sendiri," Kaizo memberi jeda pada kalimatnya. "Jadi apa jawabanmu?"
Ice tertunduk lesu, "Entahlah, beri aku waktu untuk memikirkannya."
"Aku menunggu jawabanmu segera, lebih cepat lebih baik."
"Ya, aku tau." Ujar Ice lirih.
Pemeriksaan hari ini selesai sampai di sini saja. Kaizo berharap Ice memberi jawabannya segera. Tiba-tiba sesorang mengetuk pintu ruangan itu. Setelah mendapat ijin dari dokter Kaizo, orang itu masuk.
Awal Ice mengira bahwa itu ayahnya, namun ternyata bukan. "Ayah, cepat sekali-,"
Ralat, bukan ayah yang memasuki ruangan itu. Melainkan orang yang tak pernah Ice duga sebelumnya.
"Fang!?"
"Hai," Sapa Fang singkat.
"Oh, kau sudah sampai, Pang?" ujar Kaizo yang menoleh ke arah Fang.
"Pang!?" Ice menjadi semakin bingung dengan panggilan Kaizo pada Fang.
"Oh ya, kau belum tau ya? Dia adikku." Ujar Kaizo sambil tersenyum.
Mungkin jika Ice melupakan imagenya, ia akan jawdrop. Ice menutup mulutnya, seperti menahan sesuatu. Namun pada akhirnya lepas juga, Ice tertawa mendengar pernyataan Kaizo. "Orang sebaik anda memiliki adik seperti Fang, tidak salah? Ups, maaf kelepasan." Ujar Ice sambil menahan tawa.
"Hahaha, tidak apa-apa. Fang ini memang berbeda denganku." Ujar Kaizo sambil menjitak kecil kepala Fang.
"Aduh, Hei!" seru Fang.
"Apa dia sering membuat rusuh di sekolahan?" Tanya Kaizo.
"Ah tidak juga, dia murid yang cerdas, waktu kelas 11 kami sekelas dan sering berebut untuk mendapat peringkat 1. Dia juga pemain basket yang hebat." Puji Ice.
"Hahaha, benarkah? Aku tak pernah tau. Ah ya, aku harus memeriksa pasien lain. Fang kau bisa menemani Ice, setidaknya sampai ayahnya kembali." Ujar Kaizo yang kemudian meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.
"Kau mengejekku?" Tanya Fang dengan ekspresi datar.
"Justru aku sedang memujimu." Jawab Ice sambil mengendikan bahu.
Mereka terdiam, Fang hanya memperhatikan Ice dari kejauhan. Masih seperti kemarin, perban itu masih melilit di kepalanya, wajah itu juga masih sama pucatnya.
"Aku tak menyangka kau akan menjengukku untuk pertama kalinya." Ujar Ice sambil tersenyum. Tak ada jawaban dari Fang, ia masih berdiri di tempat dengan ekspresi yang belum berubah.
Perlahan senyuman Ice memudar, "Kau bisa mengejekku sekarang, atas ketidakberdayaanku di tempat ini. Aku yakin kau sudah tau kakakmu itu seorang dokter spesialis kanker, dan ia juga menanganiku. Kau yang pertama kali hal ini dari semua temanku."
"Memang aku temanmu?" Tanya Fang.
Ice tertawa hambar, "Oh iya, aku lupa. Aku ini kan musuhmu. Tapi apapun pemikiranmu, aku tetap menganggapmu temanku." Ujar Ice.
Mereka kembali terdiam, atmosfir tempat ini menjadi sangat canggung. Jika saja bukan Ice yang memulai pembicaraan, mungkin suasana menjadi seperti kuburan.
"Mau sampai kapan kau berdiri di sana? Duduklah." Kata Ice sambil menunjuk kursi di sampingnya.
Akhirnya Fang bergerak juga mengikuti ucapan Ice, ia duduk di samping ranjang Ice. Sesaat pandangan mereka bertemu.
"Fang?" panggil Ice.
"Ya?"
"Sebenarnya kau berniat menjengukku atau tidak sih? Kau sama sekali tidak membawakanku apa-apa, tidak sopan sekali." Ujar Ice.
Sebuah perempatan imajiner muncul di pelipis Fang, "Memangnya kau mau kubawakan apa?" Tanya Fang.
Ice mendengus kesal, 'Dasar tidak peka,' pikir Ice. Iris aquamarine Ice menerawang langit-langit ruangan itu dan pandangannya tertuju pada sebuah vas bunga yang kosong.
"Kau bisa membawakanku bunga. Jujur saja, hal yang membuatku tak tahan di tempat ini adalah bau obat-obatan yang setiap saat tercium." Ujar Ice.
Fang menghela nafas, "Baiklah, akan ku bawakan besok."
Ice memandang Fang dengan pandangan, tak percaya dengan ucapan Fang. "Heh!? Kau akan menjengukku lagi besok?"
"Memangnya kenapa? Tidak boleh, toh kakakku juga bekerja di sini. Mungkin aku akan sering ke sini." Jawab Fang.
"Oh, begitu." Ujar Ice lirih.
"Jadi, setelah ini apa yang akan kau lakukan?" Tanya Fang.
Ice memandang heran pada Fang, seolah berkata 'apa maksudmu?'. Pandangan itu dengan mudah Fang tafsirkan, "Penyakitmu sudah mencapai tahap akhirkan? Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?"
Ice langsung membuang muka, "Kau menanyakan hal yang sama dengan kakakmu." Ice member jeda untuk melanjutkan kalimat selanjutnya, "Aku sedang memikirkannya. Tapi Fang, bisakah kau menjaga rahasia ini untukku? Setidaknya jangan sampai yang lain tau." Ujar Ice lirih namun dapat di dengan oleh orang di sampingnya.
Entah benang apa yang mengaitkan hati mereka, seolah Fang bisa mengerti perasaan Ice saat ini. Sedih, takut dan khawatir menjadi satu. "Aku tak akan melakukannya demi dirimu, tapi demi kakakku. Asal kau tau, sebenarnya kakakku juga berusaha untuk menyelamatkanmu. Walau kau selalu menolak semua saran yang kakakku berikan, ia masih terus member semangat walau secara tidak langsung. Karena itu, setidaknya berikan dia harapan untuk menyelamatkanmu. Tak peduli seberapa berat penyakitmu, ia tetap akan tetap berusaha." Untuk pertama kalinya Fang bicara sebanyak ini pada Ice, walau tanpa menunjukan ekspresi sedikitpun.
Ice tersenyum, "Ya, aku mengerti."
~LucKyra~
Hari Rabu, Ice masih tinggal di rumah sakit ini. Rasa bosan selalu menghinggapi dirinya ketika ia harus ditinggal sendiri di kamarnya. Ice memang meminta ayahnya untuk tetap bekerja agar pekerjaannya tak menumpuk terlalu banyak. Walau dampaknya adalah kesepian yang berlebih. Ia juga tak bisa mengobrol dengan Kaizo terlalu lama karena ia juga harus bekerja.
Tok… Tok… Tok…
'Siapa? Bukankah pemeriksaan sudah dilakukan tadi?'heran Ice
"Masuk."
Cklek…
"ICE!" Seru tamu tak diundang itu.
"Kalian!? Bagaimana bisa kalian tau aku ada di sini?"
Tenyata yang datang adalah Yaya dan Ying.
"Tidak masuk berhari-hari, tanpa memberi kabar sama sekali, dihubungipun hasilnya nihil. Kau sudah tidak menganggap kami temanmu ya?" kesal Ying.
Ice tersenyum, ia sangat merindukan gaya bicara Ying yang cepat dan juga omelannya.
"Jadi kami pergi ke rumahmu, tapi pembantu di rumahmu bilang kalau kau sedang sakit dan di rawat di sini. Makanya kami langsung kemari." Ujar Yaya
"Maaf, bukan maksudku membuat kalian khawatir." Ujar Ice.
"Huft, kau ini. Kalau ngga mau bikin orang khawatir bilang dong kalo sakit. Ngomong-ngomong dahimu kenapa?" Ying menunjuk dahi Ice yang masih di perban.
"A-ah, i-ini hanya luka kecil. Aku tak sengaja menumpahkan minumanku, saat mau membersihkannya, aku justru terpeleset dan menabrak sudut meja."
"Kau ini, lain kali hati-hati."
"Tenang saja, setelah perban ini dibuka aku diijinkan pulang kok."
Ralat, sebenarnya Ice lah yang ngotot tak mau tinggal di sini dengan alasan ia tak kuat dengan aroma obat di sini. Sering ia muntah hanya karena aroma yang membuatnya muak ini. Padahal ia tak ingin menghilang terlalu lama dari teman-temannya. Karena hanya merekalah yang membuat hidup ini indah. Tapi sekarang ia justru berharap teman-temannya meembencinya, karena ia tau hidupnya tak akan lama lagi.
"Ah, kami bawakan cake. Tidak apa-apakan kalau hanya makan cake?"
Ice menganggung, "Terima kasih."
"Maaf, yang bisa datang hanya kami berdua. Soalnya Gempa, Blaze dan yang lainnya sedang latihan untuk turnamen besok Sabtu."
"Oh, jadi mereka bertandi besok Sabtu ya?"
Ying mengangguk cepat, "Kau akan menontonnya kan? Nonton ya, kita udah kelas 3 lo, buatlah kenang-kenangan yang indah. Jadi kita banyakin jalan bareng."
Yaya menyikut Ying, karena dirasa kalimatnya kurang pantas, "Ish, Ying. Kau ini, kau tidak lihat Ice sedang sakit? Pelankan suaramu."
"Tidak apa-apa. Aku pasti akan menonton pertandingan itu, lagipula ini kan pertandingan pertama setelah mendapat bye." Ujar Ice sambil tersenyum.
'Suasana ini, benar-benar aku rindukan. Kebersamaan yang tak lama lagi akan sirna. Maaf, tapi kalian. Harus membenciku.'
Memang menyakitkan dibenci oleh orang yang kita sayang, namun Ice melakukan ini juga untuk kebaikan mereka. Ice ingin menghilang dari hidup mereka secara perlahan, jadi ketika ia benar-benar hilang, mereka akan terbiasa
TBC
Hai-Hai, Lucky balik lagi ni :3 … Entah harus berapa kali Lucky minta maaf atas keterlambatan updatenya.. Tapi Lucky ngga pernah bosen buat ngucapin terima kasih buat yang udah mampir baca dan yag udah nyepetin review… Pokoknya makasihhhhhhhhhhhhh Bangettttttttttt..
Huaaa, aku jadi pengen juga di periksa sama Kaizo ,
Oke abaikan yang diatas, bales review dulu yak..
Shidiq743 : Sebenernya Hali sama Taufan itu Cuma selingan aja sih biar ngga monoton. Ah masak sedih" terus, toh kasian juga Ice nya :3 #Digampar… Makasih udah nyempetin ngreview ^^
Illilara : Maaf kelamaan nunggu, :3 Cerita humor HaliTau itu emang ngga ada habisnya… Hmm, kenapa ya? Biar Ice agak deket aja sama Fang, #Ditabok :3
Yey! Ice masuk rumah sakit lagi. #####Suka banget sih nyiksa cast sendiri :v Oke makasih udah nyempetin review… ^^
Rampaging Snow : Itu emang sengaja, biar ngga monoton alurnya. Masak Ice susah terus sih..
Ice : Padahal sekarang lu masukin gue lagi ke rumah sakit..
L : Bersenang-senang dahulu, bersusah susah kemudian #Kebalik woy!
Hmmm,, siapa yang ngliatin mereka berdua? Tenang aja, nanti juga kejawab dicerita kedepan.. Makasih udah nyempetin review ^^
Vanilla Blue12 : Wahhh,, makasih udah nyempetin review, padahal lagi sibuk ya.. Maaf updatenya kelamaan juga..
Oke thank's doanya, semangat juga ngerjain tugasnya ^^
HimehanaHelena : Hahaha, ngga masalah.. Udah nyempetin di chapter sebelumnya aja, aku udah makasih banget ^^… Hmm, tenang aja.. Blaze sama Ice nanti ada waktunya sendiri, sekarang biarin aja Ice sama Fang #Sok misterius
Oke, cukup segitu aja ya ^^ Sampai jumpa di chapter berikutnya…
See you
