Hari ini, tertanggal 26 September, Sabtu pagi cerah nampak dari gumpalan kapas putih menggantung berarak teratur mengikuti arag sang bayu di hamparan langit biru menggantung.
Sebuah bus berwarna putih beraksen hijau toska berhenti di sebuah halte yang sepi penumpang, menurunkan 2 gadis seumuran anak SMA.
"Langsung ke sana?" Sahut seorang gadis berciri khas beanie rajut yang menyembunyikan surai hitam terikat twintail. Mungkin aneh dipandang sebelah mata, mengenakan beanie di hari nan indah seperti ini. Namun mengapa ia harus peduli? Setiap orang kan memiliki fashion mereka sendiri. Justru meninggalkan kesan dewasa yang cute di paras gadis keturunan Cina satu ini.
Di sampingnya, seorang pinky girl berhijab tak melepas pandangan manik hazel dari ponsel keluaran Android kesayangannya. Ia sibuk memindai kalimat yang tertera di layar flat itu, ia tersenyum tipis.
"Dia sudah sampai di sana, sebaiknya kita segera menyusul." Ujar Yaya yang telah memacu langkah terlebih dahulu.
"Heh!? Sudah sampai? Curang, dia bilang akan berangkat bersama." Gerundel Ying sambil berlari kecil mengejar langkah sahabatnya.
Yaya mengendikan bahu sesaat, "Entahlah. Sudahlah ayo cepat!" Titahnya singkat.
Sebelah pipi Ying menggembung kesal, "Huh, kau ini."
Three Days
Boboiboy © Animosta Studio
Warn : Typo! OOC, Fem! Ice
Happy Reading ^^
Angka 3 ditunjuk oleh jarum panjang yang bergerak konstan, berdetik menunjukan pukul 08.15. Untuk kesekian kalinya manik aquamarine itu melirik jam yang terlilit di pergelangan tangannya, sesekali memperhatikan kondisi sekitar.
"Mereka ini di mana sih? Apa mereka sudah masuk duluan?" Gumaman kecil lolos dari bibir gadis itu.
"Santai saja, pertandingannya kan belum dimulai." Respon seseorang bersuara baritone yang sedari tadi terdiam, hingga suara lirih pun mampu ditangkap indra pendengarannya.
"Hah, seharusnya aku berangkat bersama mereka saja tadi." Ujarnya dengan nada berat.
"Kau tidak suka pergi bersamaku?" tanyanya.
Ice memandang orang itu tak percaya, apa kalimatnya benar-benar melukai hatinya. "Bu-bukan begitu. Tapi kan kalau aku berangkat bersama mereka tadi tak akan jadi kucing-kucingan seperti ini." Ujar Ice lirih.
Sekali lagi, ia memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Memang sulit jika mencari seseorang di keramaian seperti ini, jika salah menunjuk orangpun hanya akan memalukan diri sendiri. Jadi lebih baik diam ditempat dan mengabarkan koordinat posisi kita, kan?
Warna merah jambu pasti terlihat mencolok di antara kerumunan, atau beanie kuning khas yang tampak jelas di antara kepala kebanyakan orang dan itulah yang berhasil netra Ice tangkap. Wajahnya tersenyum cerah, dengan lambaian tangan ia memanggil orang itu.
"Yaya! Ying!" panggilnya.
Merasa namanya terpanggil mereka menoleh ke sumber suara dan mendapati sosok Ice yang tengah melambaikan tangan ke arah mereka, di temani seseorang yang sangat familiar dengan mereka.
Menyadari keberadaan orang disamping Ice, Ying tertegun sesaat. 'Fang? Kenapa dia bersama Ice?'herannya.
"Hey, sorry lama. Ternyata sulit menemukanmu di tempat seluas ini." Ujar Yaya.
Ice tersenyum, "Tidak apa-apa, aku khawatir kalau kalian malah nyasar tadi." Ujarnya.
Yaya tertawa sejenak, menolak kekhawatiran Ice itu. "Hai Fang, kau menonton pertandingan ini juga?" sapanya pada orang yang menemani Ice sejak tadi..
Fang mendengus mendengar pertanyaan tak bermutu yang ia lontarkan, "Kalau tidak, untuk apa aku kemari? Jadi calo tiket?" jawab Fang klise.
Yaya mengendikan bahu, "Yah, atau penjaga toilet. Bisa turun berapa derajat 'kegantenganmu' itu?"
Fang melipat tangan di depan dada, "Jangan sampai itu terjadi." Dengusnya.
Yaya dan Ice tertawa hampir bersamaan mendengar respon Fang yang dianggap berlebihan.
Ying yang masih berdiri terpaku di samping Yaya masih terdiam, sibuk dengan pikirannya sendiri. 'Apa mungkin mereka bertemu di jalan tadi? Tapi kan Fang tidak dekat dengan Ice. Tidak mungkin juga Fang mau menonton pertandingan sepak bola seperti ini, bahkan jika ia diminta menjadi supporter pun, dia pasti lebih memilih untuk bermain basket. Argh kenapa aku jadi memikirkan hal ini? Memang apa yang salah jika sekali-kali Fang menonton sepak bola? Itukan bukan urusanku. Tapi kenapa Fang bisa bersama Ice? Hm, tanda tanya besar.' Pikirnya sambil sesekali mencuri pandang dari Fang.
"Ying?" panggil Yaya sambil melambaikan tangannya di hadapan Ying yang tengah bergelut dengan pikirannya sendiri.
"Hah!? Iya?" Sahutnya yang baru saja tersadar dari lamunannya.
"Kau kenapa?" Tanya Yaya kebingungan melihat sikap sahabat yang umumnya cerewet.
Gadis itu menggeleng cepat, "A-aku tidak apa-apa, hehehe." Cengir Ying agak canggung.
Yaya memperhatikan temannya dengan teliti, mencoba mencari kebohongan yang tersembunyi di mata beriris kelabu dibalik kacamata berkanta bulat itu.
"E-eh oh ya Ice, bagaimana lukamu? Baru hari ini kan kau diijinkan keluar rumah sakit? Apa tidak apa-apa kalau kau justru menonton pertandingan ini? Bukankah sebaiknya kau istirahat?" Ujar Ying mengalihkan pembicaraan.
Ice tersenyum, "Tidak apa-apa, lukanya juga hampir sembuh." Ujarnya sambil menunjukan plester luka yang tertutupi poninya. "Lagi pula terlalu lama di rumah sakit itu membosankan. Di sana aku sudah terlalu banyak istirahat, hingga ototku terasa kaku. Karena itu, untuk hari ini saja, aku ingin bersenang-senang." Lanjutnya.
Ying hanya mengangguk, sebagai respon atas pernyataan Ice. Dari kejauhan sepasang netra memperhatikan mereka, tangannya ia masukan ke dalam saku jeans hitam yang ia kenakan. Berjalan dengan santainya menghapiri beberapa orang yang berkumpul itu yang sedari tadi menjadi objek pengamatannya.
"Ternyata memang kalian." Ujarnya dengan nada bicara khas yang dingin.
Jaket hitam bercorak petir merah dan topi dengan warna senada yang menutupi sebagian rambutnya.
"Halilintar!?"
"Yo." Sapa pemuda berciri khaskan hitam merah itu.
"Hmm, hari ini hari keramat apa sih? Kenapa banyak orang jadi ingin nonton sepak bola?" heran Ying.
Halilintar menghela nafas panjang, "Kalau bukan karena ajakan si biru itu aku juga tak mau menonton pertandingan ini." Ujarnya malas.
Tempo hari, Taufan terus memintanya untuk melihatnya bertanding. Tak peduli Halilintar datang dengan setengah hati atau seperempat, pada akhirnya ia juga yang harus mengalah. Anggap saja sebagai balas budi, karena Taufan selalu datang untuk menontonnya bertanding tae kwon do. Dan sorakan cempreng si biru itu mampu membawanya menjadi juara. Kenapa? Tentu saja karena suara cemprengnya yang mampu membuatnya termakan api emosi dan pada akhirnya terlampiaskan pada lawannya.
"Ano, mau sampai kapan kita di sini? Pertandingan hampir dimulai." Kata Ice yang akhirnya mengingatkan tujuan mereka kemari.
"Tahun depan juga bisa," ujar Fang asal.
"Kalian masuk duluan saja, aku mau beli minum dulu. Ada yang mau nitip?" Ujar Halilintar.
"Aku titip minuman isotonik ya?" Ujar Yaya.
"Aku soda kaleng." Sahut Ying.
"Hmm, aku air mineral saja." Ujar Ice.
"Aku juga mau cari kacang, kalian masuk duluan saja. Kami segera kembali." Ujar Fang.
"Oke."
Sejenak Halilintar memandang Fang dengan pandangan aneh, "Heh? Pantesan hidup lu suram, kebanyakan kacang." Ujar Halilintar tak berdosa.
JLEB..
"Pfffttt…" Ice masih bisa menahan tawa, tak seperti kedua temannya yang tertawa lepas mendengar ejekan Halilintar. Sebuah perempatan imajiner muncul di pelipis Fang berlipat ganda, "Heh!? Apa kau bilang? Ngaca mas, hidup lu malah lebih suram." Seru Fang.
Akhirnya Fang dan Halilintar hilang tertelan keramaian setelah keributan kecil berakhir, mereka bertiga mulai memasuki stadion terbesar di kota itu. Sepertinya penonton hari ini lebih banyak dari pada pertandingan sebelumnya, nampak dari bangku yang hampir terisi sepenuhnya.
"Tak ada tempat kosong ya?" Gumam Ice sedikit kecewa.
"Tenang saja, teman-teman kita sudah sepakat untuk mengadakan suporteran hari ini. Lihat, itu mereka. Ayo ke sana." Ujar Yaya yang menunjuk sisi kanan trimbun yang dipenuhi orang-orang yang mengenakan kaos hitam bertuliskan migliori.
"Heh!? Kau tidak bilang kalau harus mengenakan kaos itu!" Seru Ice panik karena ia memakai kaos putih yang di balut hoodie yang biasa ia kenakan. Pasti akan nampak mencolok jika duduk di antara mereka.
"Tidak masalah, karena itu kita duduk di bagian belakang saja agar tidak kontras di tengahnya." Jawab Yaya santai.
Mereka mendudukan diri di bangku yang masih kosong, tepat dibelakang para supporter sekolah mereka.
Ice memperhatikan sekitarnya, "Bukankah ini hanya turnamen sekolah biasa? Kenapa penontonya sebanyak ini?" Tanya Ice keheranan.
"Ini kan turnamen nasional, juga menyeleksi pemain untuk TimNas U-18. Jadi wajar saja jika banyak orang yang ingin melihat seberapa bagus pemain yang akan masuk timnas." Jelas Yaya.
"Oh, begitu ya?" gumam Ice lirih. Netranya memandang lapangan hijau yang kini sedang dilakukan persiapan sebelum pertandingan dimulai. Tiba-tiba sebuah botol transparan mendarat tepat dihadapannya, menghalangi pandangannya dari objek pengamatannya.
"Nah," Fang mengulurkan sebotol air mineral yang dipesan Ice tadi.
Ice menoleh ke samping, memandang Fang yang masih membawa minumannya. Untuk pertama kalinya Ice berpikir, sejak kapan mereka sedekat ini. Perasaan dulu Fang selalu iri dengannya, tapi kenapa ia menjadi baik sekarang?
"A-ah terima kasih." Ia meraih botol itu, tapi tak sengaja botol itu terlepas dari tangannya.
!?
"Ma-maaf."
"Tidak apa-apa." Fang sedikit membungkuk untuk mengambilkan minuman Ice, sesaat ia melihat Ice memperhatikan tangannya yang gemetar. Ia tertegun sejenak mengingat percakapan bersama kakaknya waktu itu.
Flashback
Sore itu Fang datang ke tempat kakaknya bekerja, akhir-akhir ini ia memang sering kemari agar bisa pulang bersama. Namun di sisi lain ia juga sering menjenguk Ice. Mengobrol banyak hal dengan gadis itu sepertinya sangat menyenangkan. Sambil menunggu pekerjaan kakaknya selesai, ia menghabiskan waktu untuk menemani Ice.
Terkadang ia sendiri terheran, sejak kapan ia dekat dengan gadis penderita kanker otak? Ah, coret 3 kata terakhir itu. Tapi hanya dengan Ice, ia bisa mengucapkan banyak hal. Padahal dalam kehidupan sehari-harinya ia jarang bicara banyak, bahkan pada keluarganya sekalipun.
Dan setiap kali menjenguknya, ia tak pernah lupa untuk membawa seikat bunga untuk pengharum ruangan tempat Ice di rawat. Jangan salah paham, ini permintaan Ice sendiri.
"Menjenguknya lagi, hm?" tanya Kaizo yang baru saja menyelesaikan tugas terakhirnya, mereka berjalan beriringan menuju parkiran tempat dimana mobil Kaizo terparkir.
"Ya, banyak sekali hal yang ku bicarakan dengannya hari ini." Jawab Fang.
Tangan Kaizo membuka kunci mobilnya, "Kau menyukainya?" tanya Kaizo saat ia membuka pintu mobinya.
"Hah?"
"Kau menyukai Ice?" Kaizo mengulang pertanyaannya.
Fang terdiam sejenak, seulas senyum terpatri di wajah khas keturunan cina itu. "Mungkin. Aku suka dengan sikapnya yang seolah mengatakan aku baik-baik saja. Walau sebenarnya ia juga menahan sakit. Itu yang sering aku lihat dari matanya ketika ia tersenyum."
"Sudah ku bilang, mereka itu lebih kuat daripada manusia pada umumnya." Kaizo mulai menginjak gas, meninggalkan parkiran rumah sakit itu. Selama perjalanan mereka terdiam.
"Kau itu, teman pertamanya yang mengetahui tentang rahasianya. Aku yakin temannya tidak mengetahui penyakitnya." Ujar Kaizo mulai bicara. "Dia bilang dia akan menonton pertandingan sepak bola Sabtu besok. Kau berangkatlah bersamanya, aku juga sudah bilang padanya kalau kau akan ikut." Ujar Kaizo santai.
Fang ternganga, menatap kakaknya tak percaya, "APA!? Kenapa kau memutuskan seenakmu sendiri?" sembur Fang.
"Hei hei, sebagai kakak yang baik, aku membantumu dari sikapmu yang anti sosial itu. Sekali-kali berinteraksilah dengan orang di sekitarmu." Ujar Kaizo. "Juga aku ingin kau menjaganya." Lanjut Kaizo, kini dengan mimik yang lebih serius.
"Eh?"
"Karena kau satu-satunya teman yang mengetahui kondisi sebenarnya, aku ingin kau menjaganya. Sel kankernya mulai mengganggu keseimbangan tubuhnya, itu sebabnya ia sering terjatuh atau kesulitan untuk bergerak. Cobalah jadi teman yang baik dengan membantunya."
Fang terdiam sesaat, memandang ke depan. Lampu jalanan mulai menyala ketika cahaya surya habis menyinari kota itu.
"Aku mengerti."
Flashback End..
'Mungkin karena itu.' Pikir Fang.
"Hei Fang, mana minumanku?" seru Yaya.
Fang tersadar dari lamunannya memperhatikan gadis berhijab itu, "Di bawa Halilintar." Ujar Fang dan langsung mendudukan diri di samping Ice yang masih terdiam.
"Tangkap!" Ujar Halilintar yang melayangkan minuman pesanan mereka ke arah Yaya dan Ying.
"Thank's."
~LucKyra~
Para pemain dari kedua tim mulai memasuki lapangan, berbaris rapi dipimpin sang wasit. Membawa kebanggaan atas nama sekolah masing-masing. Sorak sorai riuh menggelora sepanjang trimbun, para pendukung mulai meneriakan tim kebanggaan mereka.
"Wah, hari ini penontonya banyak sekali!" Seru Gopal terkagum-kagum.
"Kita di sini untuk bertanding, bukan untuk bersenang-senang. Awas kalau kalian gagal fokus gara-gara hal sepele. Ku hajar kalian!" Ancam Gempa yang menyandang posisi kapten. Entah sejak kapan Gempa jadi OOC seperti ini, mungkin tertular virus halilintar.
Di salah satu sisi stadion, para supporter mengelu-elukan nama sekolah mereka dengan chant diiringi suara drum yang membuat hari ini semakin meriah. Taufan melambaikan tangan ke arah pendukung mereka dan di sambut oleh seruan para gadis yang tergila-gila dengan pemuda bernomor punggung 13.
"Tch, playboy itu percaya diri sekali. Seharusnya ia fokus saat di lapangan, dasar. Kau bisa menunjukan rasa banggamu setelah kau memenangkan pertandingan ini." Decak Halilintar.
"Kalau Taufan bersikap seperti itu, artinya ia baik-baik saja dan siap bermain baik hari ini. Bertanding di stadion sebesar ini bukan masalah gampang, dilihat dari berbagai faktor seperti penonton dan seberat apa pertandingan yang dilakukan mempengaruhi mental pemain." Jelas Yaya panjang lebar.
Halilintar memutar bola matanya, malas mendengarkan ocehan dari gadis singa ini. "Terserah apa katamu, Pink."
Yaya mendengus kesal mendengar respon dari Halilintar, untung saja ia sudah terbiasa dengan sifatnya.
Pertandingan hampir dimulai, SMA Pulau Rintis mengenakan jersey berwarna putih dengan palet warna merah dilengannya melawan SMA Santa yang mengenakan jersey berwarna hitam dengan celana berwarna merah. Masing-masing tim tengah mempersiapkan diri dengan coach mereka.
"Dengarkan sorakan pendukung kita, kita tak berjuang sendiri. Untuk mereka, kita menangkan pertandingan hari ini. Hari ini bermainlah sebaik mungkin, bermainlah seolah kalian akan mati besok. Kalau kalian ingin menang, jangan berencana untuk kalah!" Ujar Gempa member semangat pada timnya. Tidak heran jika Gempa yang terpilih menjadi kapten 3 tahun berturut-turut, sikap kepemimpinannya dan skillnya yang bagus cukup untuk mengarahkan timnya di lapangan.
"YAAA!"
"Bagus, untuk pertandingan hari ini. MIGLIORI!"
"FIGHTING!"
Para pemain mulai menempatkan diri pada posisi mereka masing-masing. Pemain dari Pulau Rintis dengan nomor punggu 10 dan 13, Blaze dan Taufan berdiri di barisan depan.
Blaze POV
Mataku terpejam, menarik nafas dalam-dalam, menghirup aroma tanah lapangan ini, pucuk daun yang agak basah karena embun tadi pagi, menikmati sensasi berdiri di tengah lapangan yang dipenuhi sorakan dukungan.
Ketika ku buka kembali mataku, lapangan tempat aku berdiri saat ini telihat begitu luas. Jarak yang memisahkanku dengan gawang lawan ini,. Aku menatap jauh ke depan, memandang lawanku satu aku ingin meledak karena terbakar api semangat.
'Hari ini aku yang akan jadi bintang lapangan.' Ujar ku dalam hati, penuh keyakinan.
Normal POV
Pritttttt…
KIKC OFF…
Ice menyandarkan kepalanya pada bangku di depan, memandang lantai trimbun tempat kakinya berpijak. Suara peluit itu, seperti tanda diantara kehidupan dan kematian. Padahal bukan ia yang berdiri di sana, ia di sini, duduk nyaman sebagai penonton, tidak berlari kesana kemari menggiring bola. Tapi kenapa ia yang gemetar jika melihat pertandingan itu?
"Ice kau baik-baik saja?" tanya Yaya panik ketika melihat gerak-gerik Ice yang aneh.
Mendengar nama Ice, reflek Fang langsung menoleh ke arah Ice. "Ice kau kenapa? Kepalamu sakit lagi?" tanya Fang sedikit panik
Deg…Ying menoleh, melihat wajah Fang yang terlihat sangat panik melihat keadaan Ice. 'Kenapa dia sepanik itu?'
Ice menggeleng lemah, masih dengan posisi yang sama, "Aku tidak apa-apa, hanya saja. Entah kenapa ketika aku melihat mereka bertanding seperti itu-…"
Yaya tersenyum tipis, ia tau siapa yang Ice khawatirkan. Tangannya menepuk lembut bahu Ice, seraya berbisik. "Tenang saja, dia akan baik-baik saja. Lihat mereka. Kau hanya perlu mendukung dan percaya pada mereka."
Perlahan Ice mulai mengangkat kepalanya, memperhatikan alur pertandingan yang baru berjalan beberapa menit. Nampak Blaze tengah di jaga ketat oleh beberapa pemain lawan, namun ia berhasil meloloskan diri dari kurungan lawan dengan trik yang menawan. Dan kini ia tengah menggiring bola mendekati gawang lawan, sama sekali belum mengoper bola, ia maju seorang diri.
Cahaya matahari menyinari tempat itu sepenuhnya, tanpa ada awan yang menghalangi kehangatannya. Tampak berkilau terpantul keringat yang membasahi tubuhnya. Seperti lautan yang menyimpan mutiara di dalamnya. Rambut yang terurai diterbangkan sang angin, Keren.
Untuk pertama kalinya, Ice merasakan perasaan yang berbeda, apa dulu ia juga sekeren ini?
Ying yang sejak tadi memperhatikan keributan di sampingnya hanya terdiam, 'Kenapa hari ini Fang sangat berbeda? Kami sama sekali belum bicara sejak pertama bertemu hari ini.'
~LucKyra~
Pertandingan telah berjalan 45 menit, sampai quarter pertama berakhirpun score masih bertahan 0-0. Pertandingan akan kembali dilanjutkan 15 menit lagi, sementara itu pemain beristirahat sekaligus menyusun strategi baru untuk memenangkan babak kedua nanti.
"Aku mau ke toilet dulu." Ijin Ice.
"Mau ku temani?" ujar Yaya menawarkan diri.
"Tidak perlu." Ice bangkit dari bangkunya, berjalan meninggalkan tempat duduknya.
.
.
Ice memandang dirinya di cermin, jika dilihat wajahnya masih pucat, pipi tembemnya lebih tirus dari biasanya, kantung matanya juga mulai terlihat. Ia menghela nafas beras, dan mengeluarkan obat yang sering ia bawa kemanapun untuk berjaga-jaga ketika rasa sakitnya kambuh. Entah sampai kapan ia harus mengkonsumsi obat ini, lebih dari 7 tablet dan kapsul harus ia minum..
"Kau lihat gadis tadi? Obatnya banyak sekali." Bisik seorang gadis pada teman di sampingnya.
"Kau benar, dia minum itu setiap hari?"
Bisik-bisik yang terdengar dari dua wanita yang tengah berdandan melihat Ice meminum obat sebanyak itu, setelah orang yang mereka bicarakan pergi.
.
.
Ying berjalan dengan pikiran yang kalut, baru saja ia ijin untuk membeli camilan di luar atau lebih tepatnya menyegarkan pikirannya. Ia memikirkan bagaimana hari ini berjalan, terasa sangat aneh baginya. Ia tak peduli kemana langkahnya membawa dirinya, selama itu bisa menghilangkan kegalauan hatinya. Saaat ia mengangkat kepala, memandang ke depan. Baru ia tersadar, sosok Fang berjalan tak jauh darinya
"Apa kutanyakan saja ya?" Gumamnya lirih. Ia memandang punggung Fang yang semakin jauh darinya, "Sikapnya hari ini benar-benar menganggu pikiranku. Yosh, sebaiknya kutanyakan saja, kenapa sikapnya aneh hari ini."
Ia berlari kecil, menyusutkan jarak antara mereka, "FA-, Eh!?"
.
Langkah Ice tertuju pada anak tangga menurun yang menghubungkan dengan pintu keluar, ia ingin mencari udara segar sejenak. Namun betapa cerobohnya dia hingga ia tersandung, dan jatuh terbawa gravitasi. Rasanya tangannya juga terasa kaku untuk menggapai benda terdekat untuk menjaga keseimbangannya. Detik selanjutnya ia hanya pasrah, ia pasti akan masuk rumah sakit lagi setelah ini.
Bruk…
"Eh!?" Tubuhnya tak membentur lantai yang keras, justru kehangatan yang ia rasakan saat ini.
"Ice!? Kau baik-baik saja?" ujar seorang pemuda yang menangkap Ice sebelum ia terjatuh.
Wajah Ice memerah, melihat siapa yang menangkap dirinya sebelum terjatuh, seperti drama saja. Tanpa Fang sadari, Ying melihat semua kejadian itu, detik demi detik. Tanpa dikomando, air mata menetes dari pelupuk mata gadis keturunan cina itu. Tanpa ia ketahui alasan yang tepat untuk air matanya mengalir di situasi seperti ini.
"Ma-maaf. Aku tidak sengaja." Ujar Ice yang langsung melepaskan diri dari pelukan Fang. "M-maaf, ugh." Sebuah lenguhan kecil lolos dari bibir Ice. Tangannya menyentuh kepalanya yang tiba-tiba terasa berdenyut.
"Ice? Kau baik-baik saja?"
"Ugh, ya. Hanya saja, kepalaku-"
Fang bergerak cepat, ia merangkul Ice agar ia mampu berjalan. "Kita cari tempat duduk dulu ya?"
~LucKyra~
"Ini, minumlah." Ujar Fang sambil menyerahkan sebotol air mineral.
"Terima kasih. Maaf, aku merepotkanmu lagi."
Fang hanya terdiam, ikut duduk dengan tenang di samping Ice. Angin berhembus sepoi, menerbangkan beberapa dedaunan yang rapuh. Telihat seperti bunga sakura yang gugur di musim semi dengan langit yang selalu berwarna biru.
Jemari Ice menggenggam erat botol minumannya, menggigit bibir bawahnya ketika air matanya berlinang tanpa alasan yang jelas. "Fang, maukah kau membantuku?" Suaranya bergetar karena air mata yang terus berlinang membasahi pipinya.
Fang terkejut melihat Ice yang tiba-tiba saja menangis, "I-ice? Kenapa kau menangis? Ada yang sakit?"
Sebuah gelengan kepala menjadi jawaban Ice, tangannya menggenggam erat tangan Fang. Fang bisa merasakan rasa sakit Ice melalui genggamannya, menyedihkan dan sakit. Ia baru tersadar, tak ada orang yang mampu beban seberat ini sendirian. Dengan begini, setidaknya ia mampu mengurangi sedikit beban hati Ice.
"…"
Suara yang tersamarkan oleh angin, hanya terdengar oleh mereka berdua. Netra Fang membesar mendengar permintaan Ice.
"Kau yakin?" tanya Fang tak percaya.
Ice kembali mengangguk, "Itu akan lebih baik, daripada mereka juga harus merasakan sedihnya."
~LucKyra~
Kembali ke pertandingan, quarter kedua telah dimulai. Masing-masing tim harus berusaha semaksimal mungkin untuk mencetak point di quarter terakhir ini. Kini tim dari SMA Pulau Rintis mulai mendominasi area lawan. Dengan arahan sang kapten, beberapa kali gawang SMA Santa hampir kebobolan.
Pemain no 21, Amar Deep mengoper bola pada sang kapten. Gempa menggiring bola, mencoba mendekati gawang lawan. Gawang telah di jaga oleh 3 pemain, mustahil jika ia menembak dengan pertahanan seperti itu. Tapi tidak bagi Gempa, ia justru nekat menembak dengan tendangan lambat ke arah gawang.
"Gawat! Bola akan diambil musuh!"
"Gempa apa yang kau lakukan?" seru Blaze emosi. Entah apa yang Gempa pikirkan, ia justru nekat menendang bola itu ke lawan.
Namun ia hanya terdiam, dan tersenyum tipis. "Masuk." Ujarnya lirih.
Gooool… Stadion menjadi riuh dengan masuknya bola ke gawang SMA Santa. Namun banyak juga yang melongo, terkagum dan sejenisnya dengan tendangan yang Gempa lakukan hingga menciptakan gol bunuh diri.
Ia sengaja menendang bola itu tak terlalu rendah, agar mengenai betis lawan. Dengan jarak sedekat itu dengan gawang, bola pasti masuk karena si keeper mengira bola akan ditendang langsung setelah dioper. Sementara ini SMA Pulau Rintis memimpin dengan score satu point.
Detik berikutnya SMA Santa langsung bangkit dan mengadakan serangan besar-besaran, bahkan sampai pemain belakang SMA Pulau Rintis kewalahan untuk menjaga. Pertandingan akan berakhir beberapa menit lagi. Serang dan bertahan, hanya untuk satu kemenangan.
Permainan lebih mendominasi bagian sayap kiri yang menjadi strong side, mereka bermain dengan terus mengoper bola untuk membuka sela di antara ketatnya penjaagaan pemain SMA Pulau Rintis.
Dan bola kini berada di kaki pemain no 10, striker andalan dari SMA Santa. Ia langsung menembak dengan kecepatan tinggi, dengan akurasi yang tepat ia mengincar sudut gawang yang sulit di jangkau keeper.
Namun di luar dugaan, Gopal berhasil menahan bola walau dengan wajahnya.
"Gopal, kau oke kah?" Seru Amar.
"Ugh, sakitnya. Jadi makin pesek nih." Keluh Gopal yang membuat beberapa pemain di sekitarnya sweatdrop.
"Di saat seperti ini masih sempat mikir hidung pesek." Gumam salah seorang pemain.
Gopal segera bangkit, dan melempar bola sejauh-jauhnya. "MAJU TAUFAN!" Seru Gopal ketika bola mendarat mulus di kaki Taufan.
"Yosh, ayo Blaze."
"YOSH!"
"Kembali cepat! Bertahan!" seru kapten tim Santa.
Dengan cepat mereka kembali membentuk pertahanan, menghindari terciptanya point tambahan. "Sial mereka cepat!" Umpat Taufan.
"Blaze!" seru Taufan memberi tanda. Dengan cepat ia mengoper bola pada Blaze dan dilanjutkan tendangan langsung olehnya.
3 detik…
2 detik…
GOOOOOOOOOOOL…
1 detik…
Pritttttt…
Pertandingan pertama bagi SMA Pulau Rintis, dan mereka memenangkan untuk yang satu ini dengan score 2-0 yang di cetak oleh Blaze dan satu tembakan bunuh diri.
"Kita menang! Kita menang!" Seru para pemain yang memenangkan pertandingan hari ini. Begitu juga para pendukung yang menyanyikan MARS sekolah mereka.
"Tu kan, apa aku bilang. Kau harus percaya, sekarang mereka menang." Ujar Yaya.
Ice mengangguk, ikut bahagia melihat kemenangan yang mereka peroleh. Walau tak lama lagi, semua ini akan sirna.
"Eh, Ying kemana?" tanya Ice yang menyadari Ying tidak ada di samping Yaya.
"Eh? Oh iya? Dia kemana?" Heran Yaya yang baru saja menyadari kalau Ying sudah tidak ada di sampingnya sejak istirahat quarter pertama tadi.
"Loh, diakan yang duduk di sampingmu." Ujar Ice juga bingung.
Yaya mencari ponsel di dalam tasnya untuk menghubungi Ying. Layarnya berkedip menandakan ada pesan masuk.
From : Ying
To : Yaya
Maaf, aku pulang duluan. Tiba-tiba saja aku ngga enak badan. Beritahu scorenya ya kalau pertandingan sudah selesai ^^
ps : Jangan khawatirkan aku, aku hanya ngga enak badan kok.
Yaya memantikan layar ponselnya, dan menatap Ice. "Dia pulang duluan, ngga enak badan katanya."
"Apa benar dia baik-baik saja?" gumam Ice.
"Tenang saja, aku kenal siapa Ying. Besok kita akan bertemu di sekolahan. Jangan telalu mengkhawatirkannya." Ujar Yaya menenangkan Ice.
.
.
Blam… Ying menutup pintu kamarnya, berjalan gontai menuju kasur berwarna biru dengan goresan berwarna kuning. Ia menyembunyikan wajahnya dalam dekapan boneka penguin kesayangannya. Perlahan air matanya menetes, "Kenapa? Rasanya sakit sekali ketika melihat Fang dan Ice seperti itu? Hari ini Fang berubah drastis ketika bertemu dengan Ice. Ia lebih sering tersenyum. Apa mungkin Fang menyukai Ice?" gumamnya.
Ying mendekap erat bonekanya, berusaha menghilangkan rasa sesak yang memenuhi hatinya. "Tidak, itu tidak boleh."
TBC
Oke, saya tau makin ke sini makin lama updatenya. Huhu, padahal pengennya cepet update, tapi apa daya. Oh ya, mohon masukannya buat chapter ini, aku buatnya kok rasanya kaya setengah hati. Kayaknya kurang bagus, apa idenya yang kadaluarsa ya? :3
Bales review dulu yak
Illiara : Hmm, tapi menurutku lama banget. 2 minggu T,T… Yups, makasih review n dukungannya. Padahal scene Kaizo n Fang itu di luar dugaan, Cuma kebetulan ide nyangkut dan asal ketik… Lucky rasa cukup segitu, sampai jumpa lagi ^^
Willy0610 : Hallo Willy :D Ngga ketinggalan banyak kok, orang updetnya juga kelamaan. Huah, aku juga seneng kalo kamu seneng :D
Hahaha, Ice tu ngga aku siksa, Cuma dikasih cobaann (?) Hmm, terima kasih review n dukungannya. Semangat UTSnya, semoga nilainya baik ^^ Aku minggu depan juga UTS kok. Jadi sama" berjuang ya ^^
Vanilla Blue12 : Hallo juga Blue,
Ice : Panggil nama orang sesuka hati, kebiasaan!
Lucky : Yang penting masih bagian namanya :D
Alhamdulillah masih sehat, Blue sendiri apa kabar? Heh? Benarkah? Ngga nyangka ada yang kangen sama fic amburadul ini. Maaf karena kelamaan updatenye
Yups, kita sama" sibuk kok, jadi hadapi aja. :D… Hmm, entah. Lucky ngga tau goldar Fang apa. Tapi disini aku buat AB, biar langka gitu (?) Yups, makasih atas review n dukungannya. Sipp, pasti lanjut, Cuma yang sabar aja nunggu updatenya :D
Rampaging Snow : Bukan aku yang bikin mereka benci sama Ice, tapi Icenya sendiri yang pengen *Nah loh?* Hmmm, aku suka quotesmu "Seseorang meninggal bukan karena ia dibunuh, kecelakaan atau terkena penyakit mematikan. Tapi seseorang meninggal karerna orang" melupakannya." Tapi, "Hidup dalam rasa sakit itu lebih baik di pendam sendiri daripada menarik kehidupan orang dalam kehidupan yang menyakitkan. Intinya, tersenyumlah apapun yang terjadi, jika senyuman itu membuat orang bahagia, tak peduli seberapa sakitnya kita. *Ngga nyambung kale #Abaikan
Oke,, makasih review n dukungannya ^^
Himehana Helena : Wahhhhh, kenapa aku jadi ikutan baper :'(( Padahal Icenya belum tiada :') #Abaikan Yups, pasti lanjut kok Cuma updatenya aja yang lama :D. Kalo berani memulai harus bisa mengakhiri,, Makasih ya revienya,..
Oke, udah semua.. Lucky minta doanya biar UTSnya lancer n dapat nilai baik, biar ngga remidi + bisa ngerjain lebih cepat..
Sekian, dan terima kasih :D See You ^^
