Waktu bergulir dengan cepat usai pertandingan tempo hari, kini semua orang dipertemukan kembali dengan hari penuh kesibukan. Sengatan matahari pagi di hari Senin, seperti mengerjai sekelompok orang yang berbaris rapi di tengah lapangan hijau. Langit biru yang membentang luas hanya dengan garis putih memanjang tak mampu menghalau silaunya, atau berhembusnya angin walau sekedar menyapa.
Cuaca hari ini sungguh tak mendukung kesehatan perempuan bersurai panjang yang masih bertahan dalam barisan. Sayangnya tak ada yang menyadari rasa lelah yang terpancar dari mata sayu yang terlukis di wajah pucatnya. Sebisa mungkin ia mengatur pernapasannya yang terasa berat disetiap tarikan nafas. Sialnya bebannya tidak sampai di situ, rasa pening yang telah ia rasakan sejak pagi tadi kini menjadi lebih menusuk menjalari setiap inchi kepalanya karena paparan sinar matahari.
"Ugh..!"
Sebuah lenguhan kecil terdengar samar, mencuri perhatian beberapa orang di sekitarnya. Iris hazel milik Yaya melirik ke muasal suara itu yang bukan lain berasal dari Ice, orang yang berdiri tepat di belakangnya. Netranya melebar ketika memperhatikan wajah temannya itu bak mayat hidup, matanya terpejam seolah menahan sakit yang luar biasa.
"Ice, kau sakit? Biar aku antar ke UKS sekarang ya?" Bisikan Yaya tak mampu menutupi kekhawatirannya saat ini. Ketika kebanyakan orang ingin mengibaskan kipas meminta kesejukan, tubuhnya justru berkeringat dingin. Tangan Ice yang ia genggam saat inipun juga terasa dingin.
Ia pun tak mengerti kenapa begitu sulit untuk mengucap 'Tolong, bantu aku!' atau kalimat sejenisnya. Seluruh tubuhnya terasa kaku dan kakinya telah mencapai batas, tak mampu lagi menompang masa tubuhnya sendiri, hingga ia akhirnya limbung dalam pelukan Yaya.
Gelap, namun ia masih mampu mendengar keributan di sekitarnya, orang-orang yang memanggil namanya. Ia pun masih mampu merasakan tubuhnya terangkat, menjauh dari keributan. Namun semua itu tak bertahan lama, ada kalanya ketika kesadarannya termakan kegelapan sepenuhnya.
Three Days Forever
Boboiboy ©Animonsta Studio
Warn : Typo, OOC, Fem! Ice
Happy Reading! ^^
"Eunghh.." Gumaman kecil terdengar singkat diikuti dengan terbukanya netra aquamarine yang terpejam sejak beberapa jam yang lalu. Wajah manisnya memang masih terlihat pucat namun tak sepucat sebelumnya.
"Sudah sadar?" Tanya seseorang yang sepertinya telah menunggunya sejak tadi.
Setelah memperjelas pandangannya, iris itu beralih memandang Blaze yang duduk di kursi, di samping ranjangnya.
"Bla-ze? Ugh," panggilnya lirih. Ternyata peningnya masih bertahan menyerang dirinya.
"Kepalamu masih sakit? Kalau membutuhkan sesuatu, bilang saja." Ujar Blaze.
"Ya, tapi bukan hal yang besar. Hanya masih merasa pusing dan lemas." Jawab Ice lemah.
"Ini, kedua kalinya aku menjagamu di UKS. Kau itu sukanya membuat orang panik ya? Saat Yaya bilang kau pingsan tadi, aku langsung kemari. Aku khawatir hal buruk terjadi padamu, jadi aku memintanya agar membiarkanku tetap di sini." Paparnya.
"Maaf, aku selalu merepotkanmu." Sesal Ice. Ia merutuki dirinya yang selalu saja membuat orang di sampingnya itu kerepotan atas dirinya, dan juga betapa bodohnya ia hingga ia pingsan di lapangan tadi. Bagaimana kalau semua rahasianya terbongkar? Beruntung, dokter penjaga UKS tak mengirimnya ke rumah sakit, jika saja dokter itu tau. Sudah dipastikan ia akan kembali ke dalam sel putih itu.
"Bu-bukan itu maksudku, aku malah senang jika bisa membantumu. Karena kau itu, orang yang berharga." Kata Blaze.
Ice memandang heran sahabatnya, "Maksudmu?" tanyanya, meminta penjelasan atas kalimat terakhir yang Blaze ucapkan. Namun bukan jawaban yang ia peroleh, Blaze justru tersenyum lembut kepadanya hingga membuat Ice terkesima.
Tapi saat ia menyadari satu hal, senyuman di wajah Ice sirna. Sayangnya, tak lama lagi ia tidak akan pernah melihat senyuman hangat yang selalu Blaze tujukan padanya. Yang tersisa hanya rasa sakit, hidup bersama dengan kenangan itu menyakitkan.
Ice menyibakkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, ia mulai beranjak dari ranjang tempat ia beristirahat tadi.
Namun pergerakannya tertahan oleh tangan Blaze yang menggenggamnya, "Tunggu, kau mau kemana?" tanya Blaze.
"Kembali ke kelas." Jawab Ice singkat.
"Tapi kau masih sakit, wajahmu saja masih sangat pucat. Lebih baik kau istirahat saja, sampai setidaknya tubuhmu berhenti gemetar." Dari genggamannya, ia bisa merasakan tangan dingin Ice itu gemetar.
Ice tertegun sejenak, ia tak berani menatap iris menyala Blaze. Takut tak mampu menahan liquid bening yang tiba-tiba mengalir dari pelupuk matanya. 'Maaf, tapi kita tak bisa seperti ini selamanya. Jangan memberiku harapan yang pada akhirnya akan menyakiti kita berdua. Jangan berharap pada bunga snow drop yang layu.'
Ice melepas genggaman tangan Blaze, "Kita ini sudah kelas 3, ujian masuk universitas akan segera tiba, tak ada banyak waktu yang tersisa. Kau juga jangan buang-buang waktumu untuk hal yang tidak penting." Ujar Ice dingin.
Dingin dan menusuk, belum pernah Blaze melihat Ice yang ketus seperti ini –kecuali satu tahun yang lalu-, apa otaknya mulai error lagi? Ia hanya bisa memandang kepergian Ice yang pada akhirnya menghilang ketika pintu kembali tertutup, meninggalkannya seorang diri.
~LucKyra~
Detik demi detik berlalu seiring dengan detakan jantung yang berirama, dan helaan nafas panjang yang mengisi kekosongan pikir. Gumpalan awan putih yang berarak di atas sana itu terlihat membosankan, ya jika hanya di pandang. Apa bedanya dengan tulisan hitam dengan alas putih di depan sana? Tubuh dan nyawanya memang di sini, tapi pikirnya terbawa angin yang berhembus.
Pandangan teralih pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya, 360 detik menuju bel istirahat makan siang. Ah, terasa lama sekali. Guru di depan sana tengah menjelaskan tentang integral tentu, ah kelanjutan materi tahun lalu, sama sekali tidak menarik.
Kepalanya ia rebahkan begitu saja, matanya terpejam menikmati hembusan angin yang melewati menerpa wajahnya. Entah apa yang membuat memorinya mengulang rekaman yang sama, ucapan Blaze saat di UKS tadi kembali teringat olehnya.
"Karena kau orang yang berharga ya?" Gumam Ice mengulang kalimat Blaze.
'Sepertinya aku sudah terlalu jauh masuk ke dalam kehidupannya, tak akan mudah mencabut akar yang sudah tertanam jauh di dalam tanah. Jikalau bisapun, pasti akan menciptakan lubang yang dalam, dan tubuhannya pasti mati.'
Kringgg…
Suara bel istirahat seperti lonceng yang terdengar dari surga, begitu indah diindra oleh telinga. Sebagian besar murid langsung keluar kelas, menyegarkan kembali otak mereka dengan makanan yang mereka bawa dari rumah atau membelinya di kantin.
Yaya dengan cepat menghampiri Ice yang tengah merapikan bukunya, disusul Ying yang sepertinya tak terlalu semangat menyapa si gadis biru itu.
"Hei, Ice? Kenapa kau kembali dari UKS, padahal wajahmu masih pucat seperti itu? Bukankah Blaze tadi menjagamu? Atau dia meninggalkamu sendirian ya?" Berbagai pertanyaan Yaya lontarkan demi meminta kejelasan pada satu temannya itu.
Sebenarnya Ice tak terlalu berminat untuk menjawab, tapi tidak sopan kiranya tak menjawab pertanyaan orang yang mengkhawatirkannya.
"Aku hanya tidak ingin terlalu banyak ketinggalan pelajaran, satu minggu di rumah sakit kemarin sudah cukup membuatku kepayahan untuk mengejar materi. Hanya pusing saja tak bisa dijadikan alasan untuk meninggalkan kelas, kan?" Jawab Ice.
Yaya menggembungkan pipinya, "Huh, kau itu sudah terlalu pintar. Apa lagi yang ingin kau kejar? Lagipula kesehatan itu no. 1, jadi jangan pernah mengabaikannya. Kalau kau sakit saat ujian bagaimana? Bisa-bisa aku yang jadi peringkat pertama." Ujar Yaya sedikit meledek.
Ice menghela nafas, tanpa Yaya beritahupun anak SD juga tau kesehatan itu no 1. Tapi sepertinya kalimat Yaya sukses menohok Ice, jika ia boleh bertanya 'Bagaimana jika kesehatan itu sudah terganggu dan tak bisa diperbaiki lagi? Seperti virus yang menyerang computer hingga data-datanya terhapus?'. Mungkin jawaban untuk komputernya adalah 'buang saja!', tapi apakah manusia juga akan dibuang seperti sampah jika bernasib sama dengan komputer itu?
Terkadang Ice berharap pada imanjinasi, jika saja hidup ini memiliki tombol reset. Ia pasti akan mereset kehidupannya dari nol, walau hanya mampu digunakan sekali seumur hidup.
"Huh, ya sudahlah. Ayo kita makan, Blaze dan yang lain mungkin sudah menunggu di atap sekolah." Perkataan Yaya menyadarkan Ice dari lamunannya.
"Ah, sepertinya aku lupa membawa bekal. Aku akan makan di kantin saja, kalian bisa pergi tanpaku." Ujar Ice usai membereskan barangnya.
Yaya nampak berpikir, menimbang kalimat Ice. "Baiklah kalau begitu, kita makan di kantin saja." Usul Yaya langsung memberi keputusan.
"Heh, tidak, aku tidak apa-apa ke kantin sendiri, kalian bisa makan dengan yang lain." Tolak Ice.
"Tidak, kami akan menemanimu. Ya kan Ying?" Ia menoleh pada Ying yang sejak tadi hanya terdiam, itupun hanya direspon dengan anggukan kepala.
Entah sejak kapan Fang berdiri terpaku di depan kelas 3-1, yang bukan lain adalah kelas Ice. Tangannya melambai pada gadis biru yang justru keheranan melihat dirinya berada di kelas itu. Tidak biasanya Fang berkeliaran di kelasnya, kecuali ada urusan penting.
"Ice! Mau ke kantin?" tanyanya. Pucuk di cita ulam pun tiba, entah setan apa yang membawanya kemari, tapi ini kebetulan sekali.
"A-ah, kebetulan sekali. Aku akan ke kantin bersama Fang saja, kalian tidak perlu repot-repot menemaniku. Sampai nanti." Ujar Ice yang dengan cepat menghampiri lelaki ungu itu.
Yaya hanya melongo melihat Ice yang dengan cepat menghilang dari pandangannya. "Hm, tidak biasanya mereka dekat seperti ini, ku pikir hanya waktu menonton pertandingan itu." Gumam Yaya.
Ying pun juga hanya bisa memandang kosong pada kedua sosok yang terlihat sangat akrab itu, namun dengan ekspresi yang berbeda. Tak bisa diungkapkan, perasaan yang terpancar dari iris biru itu. Akhirnya hanya mereka berdua yang makan siang bersama yang lain.
"Loh? Ice kemana?" tanya Gempa ketika dua gadis itu muncul dari balik pintu.
"Dia tidak membawa bekal, jadi ia pergi ke kanti bersama Fang tadi." Jawab Yaya. "Oh ya, BLAZE! Kau meninggalkan Ice sendiri di UKS ya, sampai ia kembali ke kelas sendirian!? Kau tau wajahnya itu masih sangat pucat!" Serunya menuntut Blaze.
"Bu-bukan seperti itu." Potong Blaze cepat sebelum ia diamuk singa. "Tadi aku menunggunya sampai sadar kok. Aku sudah melarangnya untuk kembali ke kelas, tapi tiba-tiba saja dia berubah menjadi dingin padaku."
"Itu pasti karena kau bersikap aneh-aneh padanya!"
"Bersikap aneh-aneh apa? Justru dia yang bersikap aneh, tanpa alasan yang jelas dia menjadi dingin dan cuek padaku."
"Tidak bisakah kalian diam!? Mengganggu orang makan saja, lihat Ying saja bisa makan dengan tenang!" Seru Gempa menengahi pertengkaran itu.
Tapi tunggu, Ying, orang yang terkenal cerewetnya bisa tenang seperti itu adalah hal yang hampir mustahil. Kenapa Yaya, sahabatnya sejak kecil tak menyadari perubahan sebesar itu pada diri Ying? Ia terlalu sibuk dengan sahabat baru mereka.
"Ying? Kau kenapa?" tanya Yaya sedikit berhati-hati.
Ia baru sadar raut wajah Ying tidak cerah seperti biasanya, lebih terlihat gelap dan suram. Memang kalau soal hati, manusia tak pernah bisa menyembunyikannya, apalagi jika dengan orang terdekatnya. Dan itulah yang Yaya bisa baca dari Ying. Namun sebanyak apapun ia bertanya, jawabannya juga tak akan berbeda jauh.
"Maaf Yaya, tapi untuk hal ini sebaiknya kau jangan tau dulu. Suatu saat nanti kau juga akan mengetahuinya juga." Ying pikir, lebih baik ia pendam hal ini sendiri saja. Biar saja menjadi rahasianya seorang diri.
~Luckyra~
Suara pantulan bola yang berirama dengan lantai menghiasi ruang latihan klub basket, begitu juga dengan suara benturan bola pada papan pantul dan ring yang terdengar setelahnya.
"Fang, bisakah kau berhenti melakukannya? Kau ini memang benar-benar sedang latihan atau hanya pamer kehebatanmu?" Ice menggerutu kesal, ia bahkan tak bisa berkonsentrasi mengunyah sandwich yang ia beli di kantin tadi.
Fang tertawa garing dan akhirnya menghentikan tembakan three pointnya. Ia menghampiri gadis yang sejak tadi menontonya di tepi lapangan yang tengah memasang ekspresi kesal. Entah kenapa melihat ekspresinya itu membuatnya ingin mencubit pipi itu.
"Maaf, aku sering latihan di sini saat istirahat makan siang." Ujarnya setelah menghabiskan setengah botol air mineral di tangannya.
"Huh, dasar maniak bola."
Tangan berlapis sarung tangan fingerless itu mulai membuka perekat kemasan donat lobak merah, "Oh ya, yang pingsan tadi, itu kau ya?"
Ice memandang Fang tak percaya, "Kau tau? Sepopuler itukah aku hingga orang yang tak mau tau urusan orang lain sepertimu tau?"
Fang mengendikan bahu, mengabaikan pertanyaan Ice dan mulai melahap donat kesukaannya itu. Merasa tak akan direspon, ia hanya bisa mengerucutkan bibir sambil menggerutu tidak jelas.
Tiba-tiba saja layar ponsel Ice berkedip, menandakan sebuah pesan masuk. Dengan cepat ia meraihnya untuk membaca pesan. Ice sedikit heran ketika nama 'Dr. Kaizo' tertera di kolom pengirim.
To : Ice
From : Dr. Kaizo
Ice, bisakah check up ke rumah sakit setelah pulang sekolah nanti? Aku tunggu di ruanganku.
'Kenapa tiba-tiba sekali?' pertanyaan itu langsung tertulis di benak Ice, tapi ia tak terlalu ambil pusing. Ia segera membalas pesan tersebut dan kembali mematikan layar ponselnya.
"Kakakmu mengirim pesan padaku." Ujar Ice di sela keheningan mereka.
"Hm, apa?" tanya Fang setelah menelan donatnya.
"Dia memintaku untuk datang ke rumah sakit pulang sekolah nanti." Jawab Ice.
Fang nampak berpikir sejenak, "Hm, kalau begitu kita pergi bersama pulang sekolah nanti. Aku sering mampir ke rumah sakit setelah pulang sekolah."
"Ngapain?"
"Nyari tebengan, habisnya dia tak pernah mau menjemputku. Padahal jarak rumah sakit dengan sekolahan kan tak begitu jauh." Gerutunya.
Ice sweatdrop berat, awalnya ia kira hubungan kakak adik mereka sangat akrab hingga membuatnya iri. Ternyata hanya simbiosis komensalisme antara adik dan kakak, drama sekali.
Tapi sebenarnya bukan kebetulan Kaizo meminta Ice datang ke rumah sakit hari ini. Fang yang mengetahui kalau Ice tak sadarkan diri saat upacara tadi, langsung memberi laporan padanya. Fang layaknya mata-mata Kaizo yang selalu memantau Ice. Entah imbalan apa yang Kaizo berikan, sampai Fang mau melakukan hal seperti itu, atau hal itu benar-benar murni dari diri Fang.
~LucKyra~
Bel tanda berakhirnya seluruh pelajaran hari ini berbunyi, sepertinya umum bagi sekolah manapun, dimana para murid langsung berhamburan keluar dari ruang kelas, mungkin kebanyakan siswa akan langsung pulang dan merebahkan diri di kasur kesayangannya, atau pergi hang out bersama untuk melepas penat sesaat.
Hari ini Ice tidak seperti biasanya, ia langsung keluar kelas mendahului kedua sahabatnya, bahkan tanpa mengucap sepatah katapun. Langkahnya terdengar sedikit tergesa-gesa, namun ia terhenti ketika seseorang memanggil namanya.
"Yo, Ice. Kau mau pulang bersama?"
Ia memandang sosok yang taka sing baginya, "E-eh, bukankah kau ada latihan usai pulang sekolah?" Tanyanya balik.
Blaze menggaruk pipinya yang tak gatal, menjawab dengan ragu."Y-yah, memang. Tapi aku ingin mengantarmu pulang, aku khawatir jika ada hal buruk terjadi jika kau pulang sendirian."
Ice memasang ekspresi poker face, "Maaf, tapi aku ada urusan setelah ini. Bukankah aku sudah pernah bilang padamu. Jangan buang-buang waktumu untuk hal yang tidak penting. Mengantarku pulang itu sama saja membuang waktumu, lebih baik kau latihan saja."
Ice menarik nafas untuk memberi jeda, "Bukan maksudku untuk menolakmu tawaranmu, aku hargai rasa pedulimu padaku. Aku tau, lawanmu di pertandingan berikutnya akan lebih berat. Seharusnya kau berlatih lebih keras dari pada hanya untuk mengantarku pulang." Jelas Ice panjang lebar.
"T-tapi aku sama sekali tidak keberatan, absen latihan sehari saja tak akan mengurangi skill permainanku. Hm, memang ada urusan apa?" tanya Blaze kepo.
"Pengen tau aja urusan orang lain, pengen jadi obat nyamuk?" Fang tiba-tiba saja muncul di antara mereka.
"Eh!?"
"Ayo Ice." Fang menggandeng tangan Ice menjauh dari Blaze.
Blaze hanya melongo tapi tunggu, Fang tadi bilang obat nyamuk? Itu artinya…
"Emang mereka udah jadian? Atau sekedar ngedate?" tanya Gempa yang ikut serta menyaksikan kejadian itu.
"…" Blaze membisu, sama sekali tak berminat menjawab pertanyaan Gempa. Ia hanya bisa memandang kepergian sosok itu dalam diam.
Hup…
Seorang bertubuh gempal merangkul Blaze, sambil berkata, "Santai aja (jo)mblo, kalau jodoh itu kaya magnet kok, deket dikit langsung nempel. Tapi kalau dibandingkan dengan Fang, kau itu bukan apa-apa sih." Ujar Gopal tanpa sadar.
Sebuah perempatan imajiner muncul di pelipis Blaze, "Jangan bandingkan aku dengan landak itu!"
Dan terjadilah pertengkaran kecil yang berakhir dengan gunung di kepala Gopal
"Hei, kalian tau Ice di mana?" tanya gadis berhijab ditemani BF-nya yang hanya terpaut jarak beberapa meter dengan Blaze and the genk.
Blaze menoleh, "Eh, dia tidak bilang pada kalian tadi?"
Gadis itu menggeleng, "Dia pergi begitu saja, tanpa mengatakan apapun. Dia terlihat buru-buru sekali."
"Dia pergi kencan dengan Fang, mungkin." Jawab Gempa asal.
"Ke-kencan!?"
"Dengan Fang!?"
~Luckyra~
"Fang, kau bersikap seolah aku ini pacarmu!" Seru Ice bersemu.
"Maaf maaf, tapi jika aku tidak mengatakan hal seperti itu, dia pasti akan bersamamu. Memangnya kau mau, mereka tau kau pergi ke rumah sakit?" ujar Fang santai.
Iris gelap di balik kacamata itu menerawang langit biru dengan sedikit semburat jingga, walau bukan Jepang, tapi hembusan angin yang memisahkan dedaunan kuning dengan dahannya terlihat seperti guguran bunga sakura di musim semi.
"Ngomong-ngomong, penyakitmu itu, stadium berapa?" tanya Fang ragu.
Sejenak Ice menatap Fang, "Kakakmu tidak memberi tau?"
"Dia selalu bilang tentang etika seorang dokter yang tak mengijinkan seseorang yang tak berhubungan dengan pasiennya." Jawab pemuda itu.
Ice bergumam, netranya memandang jalanan gang yang sepi di hadapan mereka, "Stadium akhir." Jawabnya singkat.
Iris gelap Fang melebar mendengar penuturan gadis biru di sampingnya.
"Kau, kasihan padaku?" tanya Ice.
Iris aquamarine bertemu dengan iris gelap Fang untuk sepersekian detik. Lidah Fang kaku, membisu dalam tatapan dingin Ice. Ia tak tau harus berkata apa, dalam atmosfer di mana angin berhembus sejuk namun terasa berat.
Ice mengulum senyum, "Sudah kuduga, orang yang selalu bersikap sinis padaku saja bisa berekspresi seperti itu. Apa lagi yang lebih dekat denganku?"
'Itu karena aku mulai terikat denganmu.' Hal yang ingin diungkapkan Fang, namun tertahan dan hanya ucapan maaf yang keluar dari pita suaranya.
"Kau tidak pernah mengambil pengobatan apapun? Kemoterapi atau operasi?"
"Hal seperti itu hanya buang-buang waktu." Jawab Ice.
"Kau bicara seolah hidupmu tak berharga lagi."
"Yah, hidupku memang menyedihkan. Untung sebentar lagi aku meninggal." Jawabnya santai.
Tangan Fang mengepal, menggeram kesal dengan sikap Ice yang seperti masa bodoh dengan hidupnya. "Kenapa kau sesantai itu? Aku membicarakan tentang nyawa dan hidupmu."
Ice tertawa sinis, "Memangnya aku bisa apa? Seperti kata pepatah 'Manusia hanya bisa merencanakan dan Tuhanlah yang menentukan.' Karena hidup itu tak selalu manis, kenapa tidak bersiap untuk menerima hal pahit?"
"Kau bahkan belum berusaha, mana kau tau jawaban dari Tuhan."
"Aku sudah berusaha menjauhkan orang-orang yang ku sayangi!"
"Kau pikir jika kau mati, orang yang kau tinggalkan akan senang? Apa kau tidak memikirkan perasaan mereka!?" Ujar Fang dengan nada tinggi.
Ice terdiam sejenak, "Memang kau tau rasa sakitnya di tinggalkan orang yang sangat kau sayangi? Kau tau beratnya melepas orang-orang yang kau sayangi, membuat mereka membenci dan berpaling darimu?"
"Aku pikir semua itu jauh lebih baik daripada semua orang merasakan sakitnya, cukup aku saja yang merasakan rasa sakit itu. Kau juga merasakan sakitnya kan? Akibat ikatan itu?" Ice menatap Fang sendu.
Tes…
Untuk pertama kalinya, dalam hidup Fang, ia melihat seorang gadis menangis di hadapannya. "Sesungguhnya aku takut mati. Setiap aku hendak terlelap, aku selalu berpikir bagaimana jika ketika aku membuka mata, aku tidak berada di dunia ini lagi."
Grep…
Tangan Fang merengkuh tubuh kurus itu, membawanya dalam dekapan hangat lelaki pecinta basket itu, "Tenang saja, kakakku pasti akan melakukan segala cara agar kau bisa sembuh."
~Luckyra~
Berjalan dengan bahu yang sejajar dan irama langkah kaki yang mengisi keheningan, mereka berjalan di koridor rumah sakit, "Bagaimana pemeriksaannya?" tanya Fang di sela keheningan.
Ice menghela nafas berat, "Seperti biasa, tak ada yang istimewa. Terima kasih sudah menemaniku hari ini."
"Tak perlu berterima kasih, aku memang mau kemari."
Tak terasa kini hanya tersisa semburat jingga di ufuk barat ketika mereka keluar dari bangunan berwarna putih itu.
Sebuah mobil keluaran Jerman telah menanti di depan, "Maaf ya jadi merepotkanmu." Ujar Ice.
"Tidak masalah,"
"Terima kasih untuk hari ini," Ujar Ice sebelum memasuki mobil berwarna hitam itu. Fang hanya memberi seulas senyum sebagai respon.
"Fang…" panggilnya sambil membuka kaca jendela.
"Ya?"
Ice terdiam sejenak, "Terima kasih," ujarnya dengan seulas senyum. Jendela kaca itu kembali tertutup dan mobilpun melaju, meninggalkan Fang yang masih berdiam diri di tempat.
Entah sudah berapa kali ia mengatakan hal itu, tapi sepertinya Fang juga tak bosan meresponnya. Dan senyuman yang terakhir itu…
Cklek…
Pintu kayu berwarna putih dengan papan nama di atasnya kembali tertutup setelah seorang lelaki berambut pacak memasuki ruangan itu.
"Sudah pulang?" tanya seseorang yang duduk santai di kursinya.
Ia hanya mengangguk dan duduk bersebrangan dengan kakaknya yang menatap dengan pandangan selidik.
"Apa liat-liat? Baru sadar kalo adikmu ini cakep?" tanya Fang sinis.
"Kau, apa yang kau lakukan pada Ice?" tanya Kaizo dengan nada mengintimidasi.
Fang terperanjat, "Melakukan apa maksudmu!?"
Kaizo menyederkan punggungnya pada kursi, "Dia tiba-tiba saja menyetujui untuk di kemoterapi. Apa yang kau lakukan padanya?" Ulang Kaizo.
Fang mengangkat bahu, "Aku tidak melakukan apapun, hanya bicara sedikit dan entah apa yang ia lakukan."
"Hm, tapi baguslah kalau dia mau kemoterapi. Setidaknya itu bisa menghambat pertumbuhan kankernya." Jawab Kaizo lega.
"A-apa? Menghambat?" seru Fang.
"Ya, kau tidak berpikir kemo itu menghilangkan semua selnya kan?" Fang terdiam.
Kaizo menghela nafas, kemudian menatap Fang. "Kemoterapi hanya menghambat sel kankernya dan mengecilkannya, bukan berarti semua sel kankernya mati."
Kaizo mengalihkan pandangannya pada atmosfer kosong, "Ditambah lagi stadium kankernya, aku khawatir tubuhnya tak mampu bertahan. Untuk stadium akhir sepertinya hampir mustahil untuh sembuh."
Seketika otot tubuh Fang melemas, "Mu-mustahil?"
'Padahal dia baru saja menemukan hidupnya kembali, padahal baru saja aku memiliki ikatan teman dengannya. Apa semua ini juga akan hilang begitu saja?'
~LucKyra~
Hari berganti, rumor tentang hubungan Ice dengan Fang menjadi tranding topic di sekolahan. Dan entah sudah berapa kali Ice harus menjelaskan kebenaran tentang hubungannya.
Ice datang bersungut-sungut saat jam makan siang bersama Fang di lapangan basket indoor.
"Kau ini bodoh atau apa? Gara-gara kau mengatakan hal aneh pada Blaze kemarin, entah sudah berapa kali aku harus menjelaskan tentang hubungan kita." Ujar Ice sambil mempoutkan bibirnya.
Fang hanya bisa keingingan untuk mencubit pipi itu, "Para gadis memang hobby menggosip ya? Kalau kau tidak merasa kau pacarku, kenapa harus kau pedulikan?" ujarnya santai.
"Mereka hampir membunuhku dengan tatapan tajam mereka. Fans mu itu mengerikan sekali." Komentar Ice.
Fang harus menahan tawa mati-matian untuk tetap menjaga imagenya, tapi ekpresi Ice saat itu memang sangat menggelikan bagi Fang, polos dan imut.
"Oh ya, hari ini hari pertamamu kemoterapi kan?" Tanya Fang di sela makan siangnya.
"Kok tau?" Ice memandang Fang penasaran.
Fang tersenyum tipis, "Tentu saja, tapi aku tak menyangka kau akan mengambil keputusan secepat ini."
Ice mengangkat bahunya, "Ya, begitulah." Ice mulai melahap makan siangnya.
"Tapi maaf, hari ini aku tak bisa menemanimu. Pulang sekolah nanti aku ada latihan basket."
"Ah, tidak apa-apa. Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu. Lagi pula, ayahku akan menjemputku pulang sekolah nanti. Oh ya, memang akan ada pertandingan ya?"
Fang menghabiskan gigitan terakhir donatnya sebelum akhirnya menjawab, "Ya, besok Sabtu ada turnamen di Gladiol, jadi mulai hari ini akan latihan." Ujarnya.
"Hm, begitu ya?" Ice berguman seorang diri.
Ice mengalihkan pandangannya pada ponselnya yang sedari tadi berkedip menandakan ada sebuah pesan masuk.
To : Ice
From : Ying
Ice, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Ku tunggu di atas usai pulang sekolah.
Ice mengernyit, ah, ia baru teringat hari ini ia sama sekali belum bicara dengan gadis twintail kuning itu. Ia berpikir sejenak, pulang sekolah nanti ayahnya akan menjemputnya, mungkin tak masalah ia menemui Ying sebentar, siapa tau ada hal penting yang akan ia bicarakan.
Dan sesuai janji Ice usai pulang sekolah, ia hendak menemui Ying di atap sekolah. Kelas telah sepi sejak beberapa menit yang lalu, ia pun sama sekali tak berbicara pada Ying, sedangkan Yaya hari tak masuk karena mengikuti ekspo di universitas.
Sosok Fang nampak berdiri di depan pintu kelasnya sambil melambaikan tangan ke arahnya. "Mau jalan bareng sampai depan?" tanya Fang.
"Ah, maaf. Aku ada sedikit urusan setelah ini, kau duluan saja." Ujar Ice.
"Okey, sukses ya untuk hari ini." Ujarnya seraya berjalan meninggalkan Ice seorang diri di kelas itu.
Jam tangan di tangannya menunjukan pukul 04. 10, ia segera merapikan barangnya secepat kilat, ia tak mau membuat Ying menunggu terlalu lama. Kalau di pikir aneh juga, mereka kan sekelas, dan tempat duduk mereka hanya terpaut beberapa meter. Tapi kenapa rasanya seperti ada jurang yang memisahkan mereka? Aneh bukan?
Cklek…
Angin berhembus kencang, menerbangkan helai rambut panjang milik Ice. Silaunya matahari menunjukan bertapa cerahnya hari ini. Iris cerahnya memadang seorang gadis keturunan cina yang berdiri membelakangi dirinya.
"Maaf Ying membuatmu menunggu. Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" Ice berjalan mendekati gadis itu.
Ying berbalik, menatap iris Ice dengan intens.
PLAK…
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Ice.
"Heh?" Ice memandang bingung pada sosok di depannya sambil menahan perih atas tamparan itu.
"Apa kau tidak puas?" Ying menatap kosong pada sosok Ice.
"Hah!?" Ice hanya bisa memandang bingung pada sahabatnya itu.
Ying terdiam sesaat, menutup mata dan kembali memandang Ice dengan tatapan dingin, "Kau mengambil semuanya dariku." Suara Ying mulai terasa berat.
"Aku tau kau itu kaya, ayahmu juga pemegang saham terbesar di sekolah ini. Kau juga cerdas, bahkan aku bukanlah sainganmu. Kau itu sempurna, tak puaskah kau dengan semua itu?" ulang Ying.
Ice justru semakin bingung dengan semua ucapan Ying dan segala tingkah lakunya saat ini.
Ying memandang Ice dengan mata berkaca, "Kau itu baik, bahkan sahabat ku sejak kecil saja lebih senang berteman denganmu. Jika dibandingkan dengamu itu, aku ini apa? Kau juga cantik, pantas saja jika banyak lelaki suka padamu." Ujar Ying dengan nada bergetar, seperti menahan luapan perasaan yang menyakitkan.
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan, Ying?" tanya Ice memandang sosok di depannya dengan pandangan datar.
Tangan Ying mengepal erat, air matanya mulai mengalir dari pelupuk mata. "Aku menyukai Fang!" Serunya lepas.
Deg…
Rasanya jantung Ice berhenti berdetak, ia tak tau orang yang selama ini dekat dengannya, ternyata Ying menyukainya.
"Selama ini aku menyukai Fang, 3 tahun aku memendam ini seorang diri. Apa kau tau sakitnya ketika melihatmu dekat dengan Fang!? Selama ini aku hanya bisa memandangnya dari jauh, tanpa bisa menyapa atau mengobrol dekat sepertinya karena sikapnya yang dingin! Aku berharap suatu saat ia bisa melihatku. Tapi kau datang, dan menghancurkan harapanku."
Semua emosi Ying tumpah, terungkap saat ini dengan nafas terengah-engah. Semua rasa sakit yang ia pendam selama ini akhirnya terucap. "Apa sekarang kau puas telah menghancurkan hidupku?" Tanya Ying lunglai.
Ia mengatur pernafasannya agar lebih tenang. Dan tanpa ada tanda apapun, ia berjalan melewati Ice setelah semua perasaannya selama ini terungkap.
"Terima kasih, sudah menghancurkan hidupku." Bisik Ying tepat ketika ia melewati Ice.
Sepeninggalnya Ying, Ice masih berdiri kaku di tempat. Secara tidak langsung, ia merasa ada jurang dalam di antara mereka, ia merasa telah memutuskan tali persahabatan mereka.
Setiap ucapan Ying terus terngiang di memorinya, membuat kepalanya berdenyut tak karuan. Ia meremas rambutnya, rasa sakit mulai menyerangnya. Air matanya mulai mengalir, pikirannya tergoncang.
Tapi rasa sakit ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan rasa sakit di hatinya, seperti teriris pisau belati. Sesak, dadanya terasa sesak, hingga untuk bernafas pun terasa berat.
Ice jatuh terduduk, kepalanya terasa benar-benar ingin pecah. Ia seperti lupa bernafas, nafasnya pun terengah-engah seperti tak ada oksigen yang bisa ia hirup. Rasanya ia ingin pingsan saja, merasakan rasa sakit ini.
'Ice tenang.' Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. Nafasnya perlahan mulai teratur walau rasa sakitnya masih terasa sangat dalam.
"Apa yang kau lakukan Ice? Kau ini benar-benar bodoh." Sesalnya dalam hati.
~LucKyra~
Ice berjalan menunduk menuju mobil ayahnya yang telah terpakir di halaman sekolahnya. Hari ini beliau memang berniat untuk menjemput putrinya dan menemani Ice untuk kemoterapi pertamanya.
"Kenapa lama sekali? Ayah sejak tadi menunggu. Dokter Kaizo pasti sudah menunggu."
"Maaf." Ujar Ice lesu.
"Kau kenapa? Sakit lagi?" tanya Ayah menunjukan raut khawatir.
Ice terdiam sejenak, "Ayah," panggilnya dengan suara lemah.
"Ya?"
"Aku lelah."
Brukkk…
Setidaknya itulah kalimat terakhir Ice sebelum kegelapan merenggut kesadarannya, bersama darah segar yang mengalir deras dari kedua lubang hidungnya.
Sudah berkali-kali ayah mencoba menyadarkannya, namun tak ada respon. Beliau nampak sangat khawatir karena darah yang terus mengalir hingga mengotori seragam putihnya. Dan tanpa pikir panjang Ice langsung di bawa ke rumah sakit.
TBC…
Gaje, ending nggantung, untuk bukan authornya yang digantung :v
Lucky :Hai hai, Kyra balik lagi.. Adakah yang menantikan fic ini? *tebar bunga*
Hali : Kaga ada! Gampar aja authornya kaga pernah update!
Lucky : #Pudung… Gomen, udah sebulan ngga update ya?
Taufan : Udah tau, nanya.
Lucky :T,T maap maap :p … Abisnya hari Senin-Jumat pulangnya jam 4 terus sih. Kalo udah jam 4 ngga usah dikasih PR+tugas juga lagi pak bu T,T…
Taufan : Curhat neng?
Lucky : Meringankan beban mas,
Oke, udahan bapernya.. Mending langsung bales repiew aja yuks… =
Himehana Helena : Arrigatou, maaf updatnya kelamaan.. Tau tu si Ice, udah sama Blaze aja..
Ice : Kenapa aku lagi T,T
Hehehe, makasih ya udah nyempetin baca + review dan maaf atas keterlambatanya ^^
Vanilla Blue12 : Ying jealous, Ying jealous
Ying : LAO DAO! (Cerewet) #Dilemparin meja…
Yokatta, UTS nya udah kelar… Dan nilainya juga ngga mengecewakan *Baru kali ini kimia aku dapet nilai bagus, :') #Curhat
Makasih ya udah nyempetin baca n reviewnya… Maaf ya kelamaan updatennya.. See you…
Illilara : Yups, akhirnya terjawab sudah pertanyaannyakan setelah lama nunggu, maaf ya kelamaan nunggu..
Hali : Aduhai, suara cempreng Taufan itu mempesona, jadi pengen nggebukin dia..
Taufan : -_-" pergi aja deh..
Akhir kata, makasih udah setia baca fic ini, dari chap pertama sampe sekarang masih setia.. Huhuhu bikin terharu.. Maaf kelamaan nunggunya dan makasih dukungannya.. ^^
Regietta580 : Hahaha, ngga papa. Makasih udah mau baca fic ini sampe sekarang.
Hmm, kayaknya alurnya mudah banget kebaca ya? Dan 100 buat anda, perkiraan anda benar sekali. Makasih udah nyempetin baca n review, maaf updatenya kelamaan.. Urusan dunia nyata, See you next time..
Diah869 : Huaaaa! Gomennasai, ngga bisa kilat.. Seminggu berlalu sejak UTS masih belum bisa move on dari bahasa inggris, oh bahasa inggris kenapa grammarmu sulit sekali T,T
Hali : Baper lagi…
Yups, emang beberapa adegan terinpirasi Shigatsu wa kimi uso/ Your lie in april, aduh bikin susah move on anime satu ini… Hihihi, semoga aja endingnya bisa bikin lebih baper.. Makasih ya udah nyempetin baca n review, maaf ngga bisa update kilat, tapi lain waktu aku usahakan kilat…
Rampaging Snow : Bingo! Tebakannya hampir betul, sebagian… Tapi tunggu aja tanggal mainnya, dan lihat apa yang akan terjadi nanti. Makasih udah nyempetin baca + review. See you next time…
Shidiq743 : Hmm, sebenernya mereka berdua cuma jadi figuran sih..
Hali n Taufan : JAHAT BANGET SIH LU! #Dibuang ke laut..
Mereka itu cuma jadi preman kalo di sekolahan aja, tapi kalo di luar jadi anak kucing yang manissss yang kejar-kejaran sama tikus..
Taufan : Kita dikataain kucing manis n tikus, Hal..
Hali : Wah wah, nyari masalah author satu ini…
Oke sebelum saya gosong karena sambaran Hali, saja ijin mengakhiri chap ini terlebih dahulu.. Makasih semua yang udah baca, review, foll n fav.. Kyra ngga akan bisa berdiri sendiri sendiri tanpa kalian..
Hali : Ah, kelamaan! Halilintar Slash…
#BlackSweet #Gosong
Jahat banget sih lu Hal, oke para pembaca sekalian, sampai jumpa di chapter berikutnya. Hadeh
Regard
Luckyra
