Three Days
Boboiboy © Animosta Studio
Warn : Typo! OOC, Fem! Ice
Happy Reading ^^
Menyusuri keramik putih bersama atmosfer menyesakkan, dalam ruang dimensi 3 yang mengantarkan sosok gadis bersurai panjang yang terbaring lemah di atas ranjang pasien itu menuju UGD. Seragam putihnya ternodai merah. Pucat pasi melukis wajah khas Asia gadis itu.
Kelopak matanya perlahan terbuka, menampakan iris aquamarine yang sayu. Memandang samar langit-langit bercat putih yang terus bergerak.
'Di-mana?' Pikirnya kacau.
Perlahan pandanganya teralih pada sisi kanan, di mana Kaizo dan beberapa perawat berbusana putih terburu-buru mendorong ranjangnya. Siapapun pasti telah mengenali tempat ini, tapi entah dari mana pemikiran bodoh yang tiba-tiba saja muncul di benak Ice. Ia pikir ia telah mati, karena warna pandangan putih buram yang mencapai pupilnya pertama kali.
Sayu netranya memandang atmosfer kosong, mengulang memori yang menyiksa batin. Bukan hadiah tamparan atau ucapan yang menohok jantung Ice, melainkan sehelai benang hitam rapuh yang kini patah, ikatan yang terurai.
Batinnya mulai merintih, merasakan sesak yang tertahan. Nafasnya mulai tak beraturan, atmosfer menjadi terasa seperti bebatuan beku, tak bisa dinikmati maupun menyejukan. Setiap tekanan yang ia terima seperti pukulan palu godam yang siap menghancurkan kepalanya kapan saja.
Ingin ia mengadu, tapi tak sepatah katapun keluar dari pita suararnya. Jangankan untuk berucap, menggerakan satu jari pun ototnya terasa kaku. Bulir-bulir keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya. Keningnya berkerut, menahan sakit di setiap inchi kepalanya.
"Ugh.." Ice melenguh lirih.
Terdengar samar, tapi Kaizo tidak tuli. Ia memperhatikan gerak-gerik Ice yang seperti menahan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya, merunduk dan berbisik, "Bertahanlah sebentar lagi Ice."
Walau setengah sadar, Ice masih mampu merasakan respon di sekitarnya. Pandangan netranya teralih pada seseorang yang menggenggam erat tangannya, membagi kehangatan pada tubuh ringkih itu.
Nampak samar sosok ayah yang tersenyum lembut, meski jejak air mata terlihat tak mampu menyembunyikan rasa cemas dan khawatir. Ingin rasanya membalas genggaman hangat itu dan menghapus air matanya. Tapi perlahan pandangannya memburam,
"Kau pasti kuat sayang." Bisik ayah sebelum Ice menutup kembali matanya karena kelelahan. Seulas senyum terlukis di wajah malaikatnya, setidaknya ia mampu membalas senyuman itu, sebelum kesadarannya benar-benar terenggut kegelapan.
Pintu UGD terbuka, salah seorang perawat menahan ayah untuk menunggu di luar. Tak ada pilihan lain, ia hanya bisa mengangguk pasrah. Mendudukan diri di bangku yang telah tersedia dan menengadahkan kepala memandang langit-langit putih, masih terlarut dalam pikiran parau hanya bisa menutupi wajah dengan kedua tangan.
Satu jam…
Dua jam…
Tapi tak seorangpun keluar dari ruangan itu untuk sekedar memberitahu keadaan Ice. Masih dalam penantian, rasa khawatir masih menyelimuti perasaan ayah. Bagaimana tidak? Tiba-tiba saja Ice pingsan dengan darah yang mengucur deras dari hidungnya, dan kalimat yang ia katakan sebelum itu…
Cklek…
Pintu terbuka, menampakan sesosok berjas putih yang berpredikat sebagai seorang dokter datang dan menghampiri ayah sambil tersenyum.
Hanya dengan melihat senyuman itu, ayah mulai bisa bernafas lega. Kemungkinan besar hal baik yang akan ia dengarkan.
"Dia baik-baik saja. Hanya saja, jangan membuatnya menanggung beban pikir yang berat. Hal itu akan membuat otaknya tertekan dan membuatnya drop seperti ini." Jelas Kaizo singkat.
"Baik, terima kasih." Ujar ayah sedikit membungkuk memberi hormat.
Pintu UGD kembali terbuka, beberapa perawat nampak mendorong ranjang Ice yang memejamkann matanya. Wajahnya masih sangat pucat, dengan masker oksigen yang menutupi sebagian wajah. Walau begitu, terlihat tenang dan damai seperti seorang malaikat cantik yang tertidur, -mungkin- tanpa masalah dan beban.
"Ice…?"
"Dia akan dipindahkan ke ruang rawat inap." Ujar Kaizo sambil memandang ranjang Ice yang mulai menjauh.
^,^
Para perawat yang mendorong ranjang Ice tadi meninggalkan ruangan itu usai merapikan tabung oksigen, meninggalkan Kaizo bersama ayah dan Ice yang masih belum sadarkan diri.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" ayah mengulangi pertanyaan yang sama, tanpa melepas pandang dari Ice.
"Untuk saat ini dia baik-baik saja, tapi kita tak tau bagaimana kondisinya ke depan. Saya akan terus memantaunya," Kaizo sedikit memberi jeda pada kalimatnya, "Dan sepertinya kemoterapinya tak bisa dilakukan hari ini, saya takut jika dipaksakan justru membuatnya semakin drop."
"Saya serahkan yang berbaik pada anda." Ujar ayah singkat.
"Dan satu lagi," Untuk terakhir kali Kaizo memperhatikan Ice sebelum melanjutkan ucapannya, "A-ah, sebaiknya kita bicarakan ini di ruangan saya." Ujar Kaizo yang kemudian beranjak terlebih dahulu meninggalkan ruangan itu.
Ayah tak bergeming, jari-jemarinya menggenggam tangan Ice yang tertancap jarum infus.
"Selamat malam sayang." Sebuah kecupan selamat malam ia berikan, sebelum beranjak meninggalkan ruangan itu.
~LucKyra~
"Ini adalah hasil CT Scan yang terakhir kali Ice lakukan. Kemarin saya memang sengaja memintanya datang kemari untuk sekedar pemeriksaan setelah mendengar Ice sempat tak sadarkan diri di sekolahan."
Kaizo menunjuk permukaan kertas yang berwarna kontras yang dianggapnya sebagai sel kanker, "Dilihat dari ukurannya, perkembangannya cukup cepat. Karena itu sejak awal saya langsung menawarinya untuk kemoterapi, anda pasti juga sudah mengetahui hal ini?"
Ayah mengangguk singkat, mengiyakan pertanyaan Kaizo.
"Kemo ini merupakan pemberian obat-obatan keras yang akan dimasukan melalui pembuluh darah dan akan menyerang sel abnormal." Ia menarik nafas sejenak, "Tapi pengobatan ini tidak bersifat menghilangkan seluruh sel kankernya, hanya menghambat dan mengecilkan ukurannya saja. Dan ada satu hal yang perlu anda ketahui."
Kaizo menutup sejenak matanya, dan kembali membukanya. "Untuk kanker stadium akhir, hampir mustahil kanker otak untuk disembuhkan. Sistem otak dalam tubuh seperti CPU pada komputer yang mengatur seluruh kinerja tubuh, dan sel kanker seperti virus yang merusak sistemnya. Sangat sulit membersihkan virus itu, sedangkan mengganti CPU sama seperti mengganti komputer itu sendiri." Jelas Kaizo dengan perumpamaan.
Kini giliran ayah yang bingung harus berkata apa, apa kali ini ia juga akan kehilangan putrinya?
"Kalau begitu, untuk apa Ice menyetujui kemo itu jika hasilnya sama saja nol?" Ayah menutupi wajahnya frustasi.
Kaizo kembali menutup matanya, walau ia tak begitu mengerti tentang kondisi seperti ini tapi batinnya mampu tersentuh. "Sebenarnya …"
Flashback
Tok… Tok… Tok…
"Ya, silahkan masuk."
Ice masuk ke ruangan Kaizo bersama suster Wika yang menemaninya setelah melakukan berbagai pemeriksaan yang sudah biasa ia rasakan. Sebuah map berisi hasil pemeriksaan Ice kini telah di berada di tangan Kaizo dan suster Wika langsung ijin meninggalkan ruangan itu.
Ia mempelajari lembaran demi lembaran dengan teliti. Dahinya berkerut dan sesekali mengalihkan pandangannya pada gadis yang duduk bersebrangan dengannya. Sesampainya di halaman terakhir ia menarik nafas yang terasa berat.
"Katakan saja yang sebenarnya, tidak apa-apa." Ujar Ice mengulas senyum, seolah bersiap mendengar hal terburuk sekalipun dari Kaizo. Ia telah menguatkan hatinya.
"Ekspresi yang bagus. Yah sepertinya bukan masalah memberitahumu yang sebenarnya." Ujar Kaizo ikut tersenyum.
Perlahan Kaizo menjelaskan tentang berbagai penilaiannya tentang hasil lab dan dengan tenang Ice menyimaknya. Walau sebenarnya bukan hal yang ingin ia dengar.
"Begitu ya, waktuku sudah tak banyak." Gumam Ice singkat.
"Seharusnya untuk seorang penderita kanker stadium akhir sudah dirawat intensif di rumah sakit." Kata Kaizo
"A-ah benarkah? Tapi aku merasa lebih sehat saat berada di rumah." Ujar Ice dengan sedikit tawa garing.
"Yah, setiap orang mempunyai keistimewaan tersendiri." Ujar Kaizo.
Ice tertunduk sesaat, melihatnya membuat Kaizo berpikir sejenak tentang perasaan Ice. Apa ia salah telah mengatakan hal buruk tentang penyakitnya? Ia kini justru bergelut dengan pemikirannya sendiri.
Ice mengangkat kepala, memandang Kaizo yang sepertinya tengah melamun, "Dokter? Bukankan dengan menyusutkan ukurannya, berarti aku bisa hidup lebih lama?" tanyanya polos.
"Apa dengan kemoterapi bisa membuatku memiliki lebih banyak waktu?Aku tau penyakitku ini tak bisa sembuh, tapi ada beberapa hal yang ingin aku lakukan." Lanjutnya.
Kaizo terdiam, memandang Ice dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kau menyerah?" tanya Kaizo tanpa ekpresi.
Senyuman Ice tetap bertahan,"Tidak, aku mengatakan ini bukan karena menyerah pada penyakitku. Menurutku hidup selama 17 tahun sudah cukup bagiku sebagai alasan aku ada. Aku hanya berpikir tentang orang-orang yang kusayangi. Karena itu, aku ingin hidup sedikit lebih lama, untuk mereka."
Kaizo tertegun, 'Gadis ini sudah memikirkan masa depannya sendiri.' Pikir Kaizo. Ia menggeleng cepat, menepis hipotesanya sendiri.
Normal POV
Kini ayah berlinang air mata, bagaimana ia sanggup mendengar putrinya sendiri yang mengatakan hal itu. Berbicara seolah tak ada harapan lagi.
"Kalau begitu, saya mohon, lakukan apapun yang terbaik, untuk Ice." Pintanya.
"Tentu."
Setelah berbicara dengan Kaizo, ia kembali keruangan Ice yang masih belum sadarkan diri. Semburat noda jingga menghilang, terganti luna bersama lautan bintang, menjanjikan mimpi-mipi indah pada setiap rasinya.
Langkah perlahan ayah mendekati sosok Ice yang masih terbaring dengan kedua manik aquamarine yang masih terpejam. Sorot luna menembus kaca transparan menemani sosok itu yang terlelap dalam mimpi indahnya.
Ia mendudukan diri di samping Ice, membelai lembut surai hitam Ice dan menggenggam hangat tangan lemah itu sambil terus merutuki kebodohannya yang tak becus menjaga buah hatinya.
"Maafkan aku yang tak becus menjaga anak kita. Aku mohon ijinkan ia tetap bersamaku Tuhan."
~Luckyra~
Kaizo membuang sembarang jasnya, dan menghempaskan tubuhnya sendiri ke arah sofa. Ia memijat pelan pangkal hidungnya, tak peduli dengan wajah kusut karena menjalani hari yang menurutnya sangat berat.
Matanya terpejam dengan wajah menengadah, memikirkan bagaimana hari ini berlangsung. Terutama salah satu pasiennya yang membuatnya sedikit frustasi, rasanya sangat disayangkan jika dunia kehilangan sosok sepertinya. Ada hal istimewa dalam dirinya,
"Etenia Ice… Sebenarnya seperti apa kehidupannya?
Namun sebuah decitan pintu terbuka menghacurkan lamunannya. Ia melirik ke sumber suara, dan sejurus kemudian Fang muncul dari balik pintu dengan bola basket berada di tangannya.
"Baru pulang? Dari mana?" Tanya Kaizo, berbasa-basi.
"Menurutmu?" Jawab Fang yang kemudian melempar bola basketnya pada Kaizo.
"Kau hanya bermain-main dengan bolamu sampai pulang jam segini?" Tanya Kaizo dengan nada tinggi, sepertinya hendak mengeluarkan tanduknya (?).
"Kenapa yang ada di pikiranmu itu selalu hal negatif tentangku? Dengar ya kakakku tersayang, aku baru saja pulang latihan basket untuk turnamen besok Sabtu di Gladiol, apa itu kurang jelas?" ujar Fang dengan kalimat penuh penekanan.
Kaizo hanya berdecak kesal, lagipula ia juga terlalu lelah untuk berdebat dengan adiknya. Fang kemudian melenggang pergi menuju dapur, mencari obat penghilang dahaga setelah perjalanan panjang ke rumah hari itu.
"Kau sendiri? Muka kusut, penampilan acak-acakan, baru pulang juga?" tanya Fang sambil melontarkan ejekan secara bersamaan.
"Udah tau nanya." Ujar Kaizo sambil menutup matanya dengan sebelah tangan.
Hening… Hanya detikan jarum jam yang menunjukan pukul 19.57 yang mengisi ruang tamu itu.
"Oh ya, bagaimana kemoterapinya? Sebenarnya aku ingin menemaninya hari ini, tapi aku ada latihan mendadak hari ini." tanya Fang usai menenguk habis segelas air mineral di tangannnya.
Kaizo terdiam sesaat, Fang yang melihat kakaknya bersikap seperti itu mulai merasakan hal ganjil tentang hal ini.
"Kak?" Panggil Fang menuntut jawaban.
"Kau ingin tau? Saat dia datang ke rumah sakit, dia sudah tak sadarkan diri. Darah terus mengalir dari hidungnya, bahkan sampai mengotori pakaiannya. Aku tak tau apa yang terjadi padanya, tapi kondisi fisiknya memburuk. Aku yakin dia belum sadar saat ini." Ujar Kaizo tanpa memandang lawan bicaranya.
Fang membeku di tempat, ada rasa bersalah di hati kecilnya. Seharusnnya ia menunggu Ice, bukan meninggalkannya begitu saja. Hanya penyesalan yang terbayang di benaknya, tubuhnya bergerak reflek. Ia berlari hendak keluar rumah tapi sebuah tangan menahannya, siapa lagi kalau bukan Kaizo?
"Ini sudah malam, kalau kau mau menjenguknya besok saja. Biarkan dia istirahat, aku sudah meminta seorang perawat untuk memantau kondisinya. Kau juga sebaiknya mandi dan istirahatnya. Tenang saja, dia akan baik-baik saja. Percaya padaku." Kaizo berusaha menenangkan adiknya yang nampak cemas.
"Tapi-" Fang menghela nafas, kakaknya benar. Ice pasti akan baik-baik saja, ia hanya akan mengganggu istirahatnya jika ia memaksa untuk pergi.
"Aku mengerti," Ia berjalan menuju kamarnya di lantai dua dan langsung merebahkan diri di kasur tanpa menghidupkan lampu. Membiarkan cahaya sang rembulan yang menerangi ruangan bercat indigo.
Dalam sunyinya malam, hembusan nafas berat dari lelaki bersurai pacak itu mengisi kekosongan pandang dalam gelap.
"Secepat inikah waktu bergulir?" Gumamnya pada angin yang memutih.
~Luckyra~
Pagi menyingsing, kemilau para bintang terkalahkan oleh sang surya. Kembali menatap satu hari lagi yang terlahir dari semburat merah hangat di langit timur menggantung biru.
Manik pesisir pantai perlahan menyaingi kuning perlahan menampakan sosoknya. Beberapa kali ia mengeryap, butuh waktu lama baginya untuk beradaptasi dengan cayaha yang terpantul ruangan putih itu.
"Kau sudah bangun, Ice?" ujar seseorang yang baru muncul di dari balik pintu.
Ia melirik ke arah sumber suara, "A-yah?" panggilnya lirih, tenaganya masih belum terkumpul.
"Selamat pagi sayang," sebuah kecupan selamat pagi mendarat di pucuk kepala Ice. "Bagaimana perasaanmu?" tanya ayah usai mendudukan diri di samping ranjang.
Ice mengangguk kecil, "Aku baik-baik saja sekarang." Jawabnya.
Ayah tersenyum sambil membelai rambut Ice. Sungguh Ice tidak bohong, ia merasa jauh lebih baik sekarang. Wajahnya pun terlihat lebih segar walau pucat belum lepas dari parasnya.
Tak berselang lama, Kaizo datang bersama beberapa perawat yang akan mengecek kondisi Ice.
"Selamat pagi. Bagaimana perasaanmu Ice?" sapa Kaizo ramah.
"Selamat pagi, yah, lebih baik daripada kemarin. Kepalaku tidak sakit lagi," jawab Ice.
Kaizo meletakan jarinya pada pergelangan Ice dan meminta perawat yang datang bersamanya untuk mengukur tensi darah serta memeriksa infusnya.
"Baguslah, sepertinya kemoterapi bisa dilakukan hari ini." Ujar Kaizo usai melihat data yang dicatat perawat itu menujukan kondisi Ice yang cukup stabil. "Kau siap kan?"
Ice mengangguk mantap, "Ya, kapan saja."
Kaizo tersenyum dalam hati, Ia telah menemukan jalannya. "Baiklah, aku akan membuatkanmu jadwal kemo baru yang akan dilakukan sebanyak 8 sesi dan hari ini yang pertama. Jam 11 nanti akan ada perawat yang membantu proses kemoterapinya, semoga saja kemo ini cocok sebagai pengobatanmu."
"Ya, semoga." Ujar Ice ikut berdoa.
Setelah ini gilirannya yang berjuang hidup untuk dirinya, dan orang lain. Untuk melihat indahnya dunia, sedikit lebih lama lagi. Untuk senyuman mereka yang akan mekar bersama kembang api, tahun baru.
~Luckyra7~
Jam istirahat makan siang di SMA Pulau Rintis…
Semilir angin yang melewati celah pepohonan rindang, menggugurkan dedaunan rapuh, menyentuh tanah. Di sanalah, di bawah pohon rindang dekat lapangan sepak bola, Ying duduk seorang diri. Sepasang handsfree tertaut di pendegarannya, netranya memandang lapangan hijau dimana beberapa orang sedang bermain sepak bola di sana, bersama semilir angin yang menerbangkan helai ramputnya, terlihat sangat damai.
Langit biru tanpa goresan kapas putih melayang, entah apa yang membuat seorang lelaki berambut pacak itu mendatanginya. Ah salah, bukan mendatangi untuk menyapa, namun hanya sekedar ingin menikmati indahnya hari ini ditempat yang sama.
Pipi Ying bersemu, jantungnya berdegup kencang tak kala menyadari keberadaan orang yang disukainya berada sedekat ini, rasanya seperti mimpi. Jika saja desir angin yang menggoyangkan rerumputan, juga mampu menggerakan hatimu untuk menyadari keberadaanku. Ini akan jadi memori terindah musim ini.
Sayangnya buku yang kini berada ditangan berlapis sarung fingerless Fang dan sekotak pocky banana yang menemaninya seolah tak mampu mengalihkan dunianya. Mungkin hampir 5 menit mereka seperti itu dalam keheningan, dalam radius jarak tak lebih dari 1 meter, benar-benar atmosfer yang menyebalkan bukan? Haruskah Ying yang memulai?
"Kau mau?" ujar Fang yang masih menahan sebuah pocky di mulutnya, tangannya menyodorkan sekotak pocky yang sedari tadi ia nikmati sendiri.
Jika saja Ying adalah mozzarella, ia pasti telah meleleh melihat ekspresi Fang yang terlihat polos serta naiknya suhu tubuhnya, entah karena memang cerahnya hari ini atau jantungnya yang berdegup lebih kencang?
"Te-terima kasih." Ying mengambil sebuah pocky. Dalam keheningan, sesekali ia mencuri pandang ke arah netra dibalik lensa ungu itu yang masih terfokus pada buku bacaannya.
"Kau membaca buku itu?" tanya Ying yang nampak tak asing dengan buku itu.
"Ah, ya, memangnya kenapa?"
Ying menggeleng kecil, "Tidak, hanya saja seorang lelaki membaca buku menyedihkan seperti itu…," Ying tak berniat untuk melanjutkannya.
"Buku ini memang sudah sangat lama sekali. Tapi baru kali ini aku membacanya, entah sejak kapan aku suka membaca buku seperti ini. Kau tau buku ini?" tanya Fang sambil bertukar pandang.
-Notes Left Behind : 135 Hari Terakhir Bersama Elena Gadis Cilik Penderita Kanker Otak-
Ying mengalihkan pandangannya, seolah tak ada keberanian untuk menatap langsung iris gelap itu, "Y-ya, aku membacanya di perpustakaan kota."
"Begitu?"
Ying mengangguk, "Novel itu diambil dari kisah nya, menceritakan tentang bagaimana kehidupan Elena, seorang gadis kecil berumur 5 tahun yang berusaha keras melawan kanker otak, walau pada akhirnya ia meninggal dunia. Kisah yang tidak pasaran untuk dunia nyata ini." Komentar Ying
"Meninggal ya?" gumam Fang, jemarinya mengusap cover buku itu yang telah usang.
"Tapi aku yakin kau tak akan menyesal membacanya." Ujar Ying kini dengan senyuman.
'Ia tak akan pernah tau perasaan ini jika aku hanya terus berdiam dan mencuri pandang darinya. Sampai kapanpun tak akan bisa. Matahari bersinar hangat, aku juga harus melangkah untuk menggerakan waktuku aku bisa memiliki kesempatan dengannya lagi.' pikir Ying optimis.
"Hei, Ying..?" Panggil Fang,
Ying mencondongkan tubuhnya, memadang Fang, "Ya?"
"Jika kisah yang tertulis di buku ini terjadi pada orang yang dekat denganmu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Fang tanpa mengalihkan pandang.
Ying terdiam, lapangan hijau kini menjadi pemandangan yang membosankan. "Entahlah, aku sama sekali tak ada pemikiran tentang hal itu. Memangnya kenapa? Kau menanyakan hal yang aneh." Ujar Ying.
Lelaki beramput pacak itu sedikit tersentak, baru menyadari akan pertanyaan aneh yang ia lontarkan. "A-ah tidak, pertanyaan itu lepas begitu saja."
"Ini pertama kalinya kita bicara sebanyak ini," ujar Ying terhenyak.
Fang hanya tersenyum dan berkata, "Kau benar. Ngomong-ngomong, minggu depan ujian akan dilaksanakannya ya? Apa Ice akan menduduki peringkat 1 lagi ya?" ujar Fang memandang langit.
Ying tersenyum pahit, nama itu seperti menohon jantung. Ia bahkan tak ingin menyebut nama itu, hatinya membatu akan keegoisannya sendiri.
"Dia itu hebat ya? Biasanya kau akan rebut dengan Ice tentang nilai kalian." ujar Fang sambil menahan tawa jika mengingat kelucuan mereka saat berdebat.
'Bisakah kau tidak melebih-lebihkannya saat bersama cewek!? Dasar ngga peka' jerit Ying dalam hati.
"Ahaha, kau benar. Tapi Ice tidak berangkat hari ini." Tawanya garing.
Fang yang mengetahui Ice sudah pasti tidak berangkat hanya bisa memang mimik terkejut dan berpura-pura tidak tahu, "Benarkah? Memangnya kenapa?"
Tapi sikap Fang yang seperti itu justru membuat persepsi Ying berubah.
"Entah." Jawabnya singkat.
'Ternyata Fang memang menyukai Ice ya? Dilihat dari mimik mukanya saja sudah terlihat. Tapi aku tak akan tau kepastiannya jika tak bertanya langsung.' Pikir Ying mendadak murung.
"Fang…?" panggil Ying.
Fang menoleh, menanti perkataan berikutnya dari gadis yang duduk tak jauh darinya.
"Apa kau menyukai Ice?"
Sekalilagi pandangan Fang menerawang di antara dedaunan di mana cahaya matahari yang menerobos melewati celah-celahnya.
"Mungkin," jawabnya dengan seulas senyum.
Seketika itu juga pertahanan hati Ying hancur berkeping-keping. Kalian tau rasanya? Sakit, tapi tak berdarah, tak bisa disentuh atau diobati.
"Dia itu gadis yang baik, aku jadi menyesal tak dekat dengannya sejak dulu. Dia juga manis, walau terkadang sifat cueknya yang menyebalkan, tapi sebenarnya dia lembut. Kau pasti juga lebih taukan dari pada aku? Ah, aku jadi iri." Ungkap Fang.
"Begitu ya?" ujar Ying dengan nada bergetar, ia berharap desir angin rerumputan yang bergoyang mampu menutupi suara seraknya.
Bel tanda berakhirnya jam istirahat berakhir, terdengar seperti penyelamat bagi Ying dimana sudah tak mampu berkata-kata. Lidahnya kelu, matanya terasa perih, dan hatinya ikut hancur bersama dedaunan kering yang terkoyak.
"Ah, sudah masuk. Kau mau kembali ke kelas bersama?" Tawar Fang.
Ying tak merespon, ia langsung bangkit dan berlari menjauhinya, sebisa mungkin ia menahan liquid di pelupuk matanya. Ia menulikan panggilan Fang, hanya berlari dan berlari, hingga suara itu lebur terpaut jarak.
Ying POV
Kenapa? Aku yang selalu menanti hembusan angin kembali dan membuatmu berpaling sejenak padaku, walau barang sepersekian waktu dalam hidupku.
Pepatah memang pernah mengatakan 'Orang yang mencintai paling besar adalah orang yang paling besar terluka', Tapi ia tak tau akan sesakit ini jadinya.
Aku terus berlari, tak peduli akan orang-orang yang menggerutu kesal akibat ku tabrak. Pandangan memburam akibat air mata yang kini lolos dari pelupuk mataku. Akhirnya langkah ku terhenti, di kaki pohon cemara.
"Ying!?" Panggil seseorang yang berlari tak jauh dariku.
"Yaya..?"
"Yi-Ying? Kau kenapa?" tanya Yaya setelah berjarak hanya beberapa langkah dariku.
Aku berbalik dan tersenyum ke arahnya, seolah menertawakan nasib cintaku yang tragis, "Aku- ku rasa… aku patah hati." Seketika tangisanku pecah. Dalam dekapan sahabat terbaikku, aku menumpahkan segala kesedihanku dalam air mata ini.
Angin berhembus menerpa wajahku yang basah akan air mataku sendiri, rasanya menyenangkan. Sejuk, dingin dan … menyedihkan.
Apakah aku harus tetap menjaga perasaan ini?
Aku telah mencintai orang yang menyukai sahabatku, bukan lebih tepatnya mantan sahabatku. Tapi perasaanku itu tak terbalaskan. Aku harus mengubur perasaan itu dalam-dalam, jadi suatu hari aku bisa melupakannya.
Normal POV
Singit mentari ke arah barat, burung camar menuju sinarnya, bersiap mengakhiri petualangan hari ini. Terlihat anggun dipandang netra, andai saja pemandangan ini bisa dinikmati semua orang, tak terkecuali oleh netra beriris aquamarine. Sayangnya netra itu masih saja tertutup.
Tok.. Tok… Tok…
Ketukan pintu membuyarkan lamunan seorang pria paruh baya yang duduk tenang di kursinya.
"Masuk." Ujarnya mengijinkan orang di luar sana.
"Selamat sore." Sapanya sopan.
"Ah, Fang selamat sore. Ingin menjenguknya?" tanya pria itu.
Sebuah anggukan kecil Fang berikan, "Iya, om."
Sebucket bunga mawar putih ditangannya kini menggantikan bunga marigold layu di vas bunga, nampak menawan di pandang. Sejenak ia melirik ke arah sosok yang terbaring tak sadarkan diri.
"Sudah 4 jam dia belum sadar, sejak kemoterapi dilakukan siang tadi. Dia terus muntah dan mengeluh kepalanya sakit, ditambah dengan bau obat yang menyengat di ruangan khusus itu, sampai dokter harus memasang oksigen untuk memudahkannya bernafas. Aku tak tau seberapa menderitanya dia." Ujarnya seperti orang frustasi.
"Ah, maaf. Aku jadi terbawa suasana. Maaf ya, Ice belum bisa mengobrol denganmu seperti biasa." Tambahnya sambil menghapus air mata yang entah sejak kapan mengalir.
Fang ikut terenyuh mendengar cerita dari ayah Ice, "Tidak masalah, aku hanya ingin melihat keadaannya saja."
"Dokter bilang kondisi Ice sudah stabil, tapi entah kenapa Ice masih belum sadar juga." Herannya.
"Mungkin dia hanya kelelahan, sehingga dia butuh banyak istirahat. Tenang saja om, Ice pasti akan baik-baik saja, kakak saya sudah cukup berpengalaman menangani pasien sepertinya." Jawab Fang mencoba menenangkan ayah Ice.
Iris dibalik lensa ungu memandang lekat sosok Ice yang tertidur seperti gadis kecil, nampak damai.
'Ya kan Ice? Kau akan bertahankan? Kau pasti kuat.' Harap Fang.
TBC…
Yaa, cukup segitu aja. Kalo lebih nanti updatenya bisa molor lebih lama lagi.. Aaaa, gomenasai… Telatnya sampe sebulan lebih.. Gegara laptop masuk rumah sakit lagi :3 , giliran udah balik eh malah ujian yang menanti T.T Karena itu Kyra mohon maaf sebesar-besarnya atas keterlambatan ini.
Sebenernya Kyra ngga terlalu puas sih sama fic ini, soalnya bahasanya klise banget dan pokoknya banyak text yang ngga nyambung deh, mana buat nyari mood yang bagus buat ngetik itu susah lagi T,T sampe otak berasap :3 .. Tapi Kyra tetep usahain nulis walau mood alakadarnya..
Ya ya, Kyra tau kok fic ini ngga memuakan, karena itu Kyra mohon masukannya buat chapter berikutnya…
Oke udahan curhatnya, lanjut ke sesi bales review =
Shidiq743 : Yups, cintanya mereka itu cinta bujur sangkar. Dan Ice itu burung dalam sangkarnya. *Apa hubungannya?*
Illilara : Hohoho, kita sama kok. Giliran mau ngejain makalah malah nonton anime *Pantesan tugas sejak jaman bahulak kaga kelar-kelar* :D
Ya, kalo aku jadi Ying sih mungkin juga negthink kaya gitu. Iya, memang mereka berdua langka (?) di sini. Soalnya kalo masukin mereka berdua malah jadi humor.
Yups, aku masuk pagi terus, masuk jam 7 pulang jam 4. Ya ampun, mata ini sampe perih gara-gara kurag tidur buat lembur tugas -_-"
Oke, makasih.. Pasti lanjut kok… ^^
Guest : Hihihi, Ying kan type character yang crewet, jadi kalo dibuat marah-marah kan cocok. Uluh uluh, Kimi Uso emang bikin baper, tapi menurutku endingnya kurang greget. Soalnya abis si Kousei selesai maen, terus lanjut ke pemakamannya Kaori.. Siap, akan aku buat baper semua reader, #KaloBisa :D
Vanilla Blue12 : Ara, ngga nyangka ada yang menanti fic gaje ini.. Arrigatou.. Walau Hali ketus gitu tetep cakep kok, , *Abaikan*
Emang kehidupan anak SMA itu jauh beda ya sama kehidupan masa lalu (?) Beda guru, beda cerita, beda pemahaman, beda nasib T,T
Neviyandini : Hallo salam kenal juga, makasih ya udah mau baca fic gaje ini Ngga papa, nanti juga baikan lagi kok mereka. *Mungkin (?)*
Rampaging Snow : Hmm, apa iya cinta mereka bertambah besar? Yaaaa, kita liat aja kelanjutannya*Smirk smile*
Hm,, oke segitu saja.. Makasih ya yang udah nyempetin baca n review story ini. Oh ya, Mungkin story ini akan selesai akhir Desember nanti, soalnya semester 1 kan udah abis dan semester 2 nanti pasti Kyra ngga ada banyak waktu buat mampir ke ffn. Kyra aja libur semesteran cuma 1 minggu T.T. Sekalian nunggu cast baru dari Boboiboy Galaxy buat nambah pemain di story selanjutnya. Walau baru kemungkinan sih, tapi Kyra tetep usahain buat selesai akhir tahun ini.
Sebelum Kyra mengakhiri chapter ini, Kyra mau tanya, "Mending satu konflik dibuat satu chapter tapi cepet update ato beberapa konflik skalian dijadiin satu tapi makan waktu?"
Oke mungkin cukup itu saja dari Kyra.. Sekian dan terima kasih… Bye Bye ^^
Regard
Luckyra
