Three Days

Boboiboy © Animosta Studio

Warn : Typo! OOC, Fem! Ice

Happy Reading ^^

Blaze POV

"Maaf, tapi aku ada urusan setelah ini. Bukankah aku sudah pernah bilang padamu. Jangan buang-buang waktumu untuk hal yang tidak penting. Mengantarku pulang itu sama saja membuang waktumu, lebih baik kau latihan saja."

Hal yang tidak penting dia bilang? Apa begitu caranya menghargai kekhawatiran orang lain?

"Bukan maksudku untuk menolakmu tawaranmu, aku hargai rasa pedulimu padaku. Aku tau, lawanmu di pertandingan berikutnya akan lebih berat. Seharusnya kau berlatih lebih keras dari pada hanya untuk mengantarku pulang."

Tak perlu kau beritahu aku juga mengerti nona.

Tanpa kusadari, jemariku meremas rerumputan hijau di sekitarku. Melampiaskan rasa kesalku akan sikap 'gadis' itu akhir-akhir ini. Kesal atau kecewa ya?

"Pengen tau aja urusan orang lain, pengen jadi obat nyamuk?"

Kupejamkan mata, menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk menjernihkan pikiranku. Kejadian 3 hari lalu terus terngiang di pikiranku, membuatku tak bisa berhenti memikirkannya.

Apakah ini hanya perasaanku atau memang Ice yang menghindar dariku? Memangnya apa salahku? Sungguh aku tak mengerti apa yang dipikirkan gadis itu. Ugh, membuatku bimbang saja.

Sensasi dingin yang tiba-tiba terindra kulit pipiku memaksaku membuka mata dan menoleh ke arah asalnya. Lelaki beriris emas yang menjabat sebagai kapten menyodorkan sebuah botol mineral padaku.

"Gempa!?"

"Ambilah." Ujarnya seraya duduk di sampingku, ikut memandang beberapa pemain yang tengah memunguti bola usai latihan hari ini.

"Kau sama sekali tidak konsentrasi saat latihan, kalau ada masalah, bicarakan saja padaku. Kalau bisa aku akan membantumu." ujarnya ramah. Sangat berwibawa, pantas saja kalau dia sering diberi tanggung jawab besar.

Aku termenung,tak seharusnya aku tak memasukan masalahku saat berada di lapangan. Aku hanya memandang kilauan cahaya yang terbiaskan botol di tanganku.

"Maaf." ujarku singkat.

"Manusia itu memiliki satu pemikiran, mau dimanapun kau berada, masalah itu akan terus membayangimu jika kau tidak menyingkirkannya."

Aku memang mengerti ucapan Gempa, tapi hanya ucapan maaf yang bisa aku lontarkan.

"Hei, Gempa. Apa yang harus aku lakukan?" tanyaku tak sadar.

"Apanya?"

Aku menenggelamkan kepalaku di antara lututku, "Sudah dua hari ini Ice tidak masuk tanpa keterangan, nomornya tidak bisa dihubungi. Baik Yaya maupun Ying, tak ada yang tau di mana atau bagaimana keadaan Ice."

"Kau khawatir?"

"Tentu saja! Sikapnya akhir-akhir ini berubah, seperti menghindariku. Pasti ada yang terjadi padanya. Aku pikir aku berbuat salah padanya dan perasaan itu sangat mengganggu." Ungkapku.

"Kau sudah pergi ke rumahnya?"

Aku menggeleng lemah, "Belum,"

"Kalau begitu ke rumahnya saja, atau coba tanyakan pada Fang. Bukankah mereka cukup dekat akhir-akhir ini?"

"Ah, si landak anggur itu? Males banget bicara dengannya." Dengusku kesal.

"Kenapa? Cemburu?" ujar Gempa terang-terangan.

"Ce-cemburu? Apa yang harus ku cemburui darinya? Aku keren, pemain sepak bola kan kece, skill ku juga ngga buruk-buruk amat, banyak fans pula." Jawabku kepedean.

Gempa memutar bola matanya bosan, "Tch, ngaca sono! Padahal muka juga pas-pasan. Sudahlah, aku mau pulang. Dan satu lagu, aku minta kau fokus untuk pertandingan ini. 2 hari lagi pertandingan melawan SMA Vanlith. Kau tau mereka itu rival abadi sekolah kita, jadi fokuslah untuk pertandingan itu."

Menghela nafas panjang, "Ya ya, kapten." Ujarku malas.

Kemudian dia bangkit, "Oh ya, kalau kau menyukai Ice, sebaiknya cepat katakan. Nanti hilang, kau akan menyesal." Ujarnya sambil menepuk bahuku dan berjalan menjauh dariku.

Blush…

"Aku menyukainya hanya sekedar teman!" teriakku kesal.

Kulihat Gempa tergelak mendengan seruanku yang terdengar berlebihan, "Hati-hati, bisa-bisa jadi teman rasa pacar." Godanya yang telah berada cukup jauh dariku.

Ah, dasar! Tapi khawatir, rasa ingin bertemu… Perasaan ini namanya apa ya?

~Luckyra~

Padang gurun langit senja menerawang kaca jendela, waktu yang terbuang sia-sia, rasa sakit yang menyiksa, semua ini sedikit demi sedikit mengikis hati.

'Aku menyukai Fang!'

Guratan pada bebatuan tua yang tersembunyi dan tetesan air hujan merapuhkannya.

Lamunan gadis itu melebur bersamaan dengan ketukan pintu yang membawanya ke dunia nyata. Seseorang berpakaian serba ungu memasuki ruangan itu tanpa mendapat persetujuan penghuninya.

Seikat bunga gardenia penuh harapan berada ditangan berlapis sarung tangan itu mengganti bunga layu di vas putih dengan guratan indah di tepinya, begitu, setiap hari.

"Kau membawanya lagi?" kata gadis yang memalingkan wajahnya memandang bagaimana angin selembut itu bisa menggugurkan dedaunan.

"Kau bisa memintaku berhenti membawanya." Jawab Fang yang tengah mengganti air dalam vas.

Angin senja mengiringi kepulangan camar menuju cakrawala, berharap kembali bertemu dengan mentari pagi. Bersamanya, gadis beriris cerah itu menghirup aroma bunga gardenia yang menyelimuti atom .

Dunia nampak begitu penuh warna,

Birunya cerminan langit

Jingga, cerahnya senyuman mentari

Putihnya kabut menyentuh fajar

Ungunya kegalauan hati

Lelaki berambut gelap itu mendudukan diri di samping ranjang Ice, "Hari ini, bagaimana keadaanmu?"

"Entah. Baik, mungkin." Jawabnya singkat.

Tak ada lagi putih dalam biru, yang ada hanyalah putih dalam hitam, berangsur-angsur bersatu menjadi kelabu.

Setetes air menciptakan riak, meluas, terpantul dan kembali. Begitu iris gelap Fang memandang tetesan cairan infuse yang terhubung dengan jarum tertancap di punggung tangan gadis itu.

Hening… Hanya detikan jam di dinding yang mengisi kebingungan dalam pikir.

"Selamat ya untuk kemo pertamamu." Ujar Fang membuka pembicaraan, memecah keheningan.

Ice menghembuskan nafas yang terasa berat, "Ya, terima kasih." Ujarnya singkat.

"Fang? Apa kau tidak lelah menjenguk dan membawakanku bunga setiap hari?"

Fang terdiam sesaat, memandang wajah samping gadis itu yang nampak lebih tirus dari biasanya.

"Tidak, karena kau bukan orang yang membosankan untukku terus menemui setiap hari."

Sekilas, ia tersenyum mengejek. "Hm, jawaban klise." Gumamnya tak jelas.

Tiba-tiba saja setetes liquid berwarna merah kental menetes dari hidung Ice, membuatnya tersentak akan kehadiran zat yang tak diinginkannya. Dengan gerakan reflek, Fang langsung menyodorkan sekotak tissue yang telah tersedia di meja.

"Terima kasih."

Tak cukup satu atau dua lembar tissue untuk menghentikannya, entah sudah berapa lembar Ice habiskan untuk menghentikan mimisannya.

Noda merah yang menghiasi tisu itu cukup membuat Fang bergidik ngeri. Ia bukan hemophobia, tapi membayangkan darah yang keluar sebanyak itu setiap hari, apakah tidak membuatnya anemia? Pantas saja paras gadis itu selalu pucat. Tapi di sisi lain muncul rasa empati yang lebih besar di hatinya.

"Kau tak perlu memandangku dengan tatapan sendu seperti itu, kau tau aku tidak suka dikasihani." Diliriknya lelaki yang duduk menemaninya sore itu.

Fang memperbaiki posisi kacamatanya, bersikap sekeren mungkin di hadapan gadis pendiam itu.

"Ehem, maaf." Ujarnya dengan deheman kecil.

"Fang," Panggil Ice tanpa memandang lawan bicaranya, "Apa ada seseorang yang kau sukai?" tanyanya langsung to the point.

Jujur Fang terkejut ketika Ice tiba-tiba menanyakan hal aneh seperti ini, namun kemudian seulas senyum bertengger di bibirnya.

"Ya, tentu saja ada. Dan itu kau." Ujar Fang.

Ice memandang Fang tak percaya, dan beberapa detik kemudian Ice kembali menunjukan senyuman mengejek.

"Kau berbakat jadi playboy ya? Dengan tampang dan gombalan tak bermutu milikmu, aku yakin banyak gadis yang akan jatuh hati padamu. Sayangnya itu tak akan mempan untuku."

"Hey! Kata-katamu menusuk sekali, kau memuji sekaligus menghinaku dalam satu waktu." Gerutu Fang kesal. "Tapi setidaknya kau bisa tersenyum sekarang. Asal kau tau ya, ekspresimu tadi itu buruk sekali. Aku yakin burung hantu saja tak mau melihat wajahmu tadi."

"Hahaha, terima kasih ejekannya. Maaf, dua hari moodku hancur lebur. Di sini sangat sepi dan membosankan."

"Kalau begitu bersyukurlah ada aku yang menemanimu."

Ice memutar bola matanya, "Ya ya ya, terima kasih pangeran landak."

Senyuman, tawa dan canda mengisi atmosfir ruangan berwarna netral dan merubahkan dengan warna-warni dunia yang indah.

Mungkin hampir 1 jam mereka mengobrol hal tidak penting seperi itu, dan baru Fang sadari langit telah menjadi gelap. Mau tak mau ia harus segera pergi jika tak mau ditinggal kakaknya.

"Ah, sudah jam segini. Sepertinya kakakku sudah menunggu di ruangannya." Ujar Fang sambil meraih tas yang berada tak jauh darinya.

"Ya, terima kasih sudah menemaniku hari ini."

"Sama-sama, aku akan datang lagi besok. Selamat malam."

Fang beranjak dari tempat duduknya, berjalan keluar dengan sedikit terburu-buru. Tapi ada satu hal yang harus Ice sampaikan.

"Fang!" panggil Ice ketika Fang yang masih bertahan di ambang pintu, sejenak menoleh menanti ucapannya berikutnya.

"Kau harus segera menyampaikan perasaanmu pada orang yang kau suka, sebelum ia pergi jauh dan kau tak bisa menggapainya lagi."

Fang terpana akan kata-kata Ice, mungkin terdengar sederhana dan klise tapi memiliki makna yang berarti.

"Ya, pasti. Kau juga." Ujar Fang dengan senyuman cerah.

"Heh!? Aku?"

Fang tersenyum tipis, memberi jeda pada kalimatnya agar membuat Ice penasaran, "Jangan bohongi perasaanmu sendiri, aku tau kau menyukai'nya'. Oke, sampai jumpa besok." Ujar Fang yang kini benar-benar menghilang dari pandangan Ice.

Sepeninggalan Fang, meninggalkan Ice seorang diri di ruangan itu. Sepi kembali menyelimuti ruangan itu, ingin bicara pada bintang pun hanya kelipannya yang tak ia pahami artinya.

"Aku? Mana mungkin aku memiliki waktu yang tersisa untukku menyampaikan hal seperti itu? Aku akan terbang tinggi, hingga tak akan ada yang menggapaiku."

Bulir-bulir liquid perlahan menciptakan anak sungai, dari pelupuk mata hingga jatuh membasahi selimut putihnya. Dalam diam ia menangis, hanya cahaya sang rembulan yang mampu menyentuhnya.

"Hidupku ini…"

"…. Menyedihkan sekali."

~Luckyra~

Hari berikutnya, hari Jumat. Pertemuan terakhir sebelum menghadapi ujian akhir semester. Tak ada kegiatan belajar mengajar hari ini, hanya acara bersih-bersih kelas dan hari tenang, sebelum bertempur habis-habisan dengan pertanyaan yang mungkin bisa berdampak mual, pusing dan gelaja stress lainnya.

Dan juga, persiapan untuk tim basket dan tim sepak bola SMA Pulau Rintis yang akan bertanding besok. Mungkin para pengurus OSIS juga tengah sibuk untuk mencari tanda tangan kepsek untuk classmeeting.

Seruan semangat dari lapangan sepak bola, tak kalah ramai dari decitan sepatu di lapangan basket indoor. Begitu juga seruan para gadis yang mengidolakan pemain yang menurut mereka keren.

Peluit berbunyi panjang, tanda latihan selesai. Masih dengan nafas terengah-engah dan peluh yang deras membasahi kaos latihan, seluruh pemain kembali ke tepi lapangan untuk mendengar arahan dari pelatih.

"Untuk pertandingan besok, aku mengandalkanmu Fang, seperti biasa kau yang jadi play maker." Ujar pelatih berumur 34 tahun itu menunjuk Fang, yang diresponnya dengan anggukan kepala mantap.

"…. Jadi seperti itu, mengerti?" tanyanya usai memberi arahan strategi dan formasi.

"Mengerti!" jawab semua pemain serentak.

"Bagus. Latihan hari ini cukup sampai di sini saja. Setelah ini beristirahatlah, pastikan besok kalian main dengan kondisi sebaik mungkin."

Kebanyakan pemain langsung berhamburan meninggalkan lapangan. Tapi tidak dengan Fang yang tak langsung bubar seperti rekannya, ia masih bertanggung jawab untuk membereskan bola yang berserakan di dekat ring.

"Fang, kalau sudah selesai. Tolong kunci sekalian ya?" pinta pelatih.

"Baik, coach."

"Kak Fang, kami pulang dulu." pamit beberapa juniornya.

"Ya, hati-hati di jalan."

Kini tinggal ia seorang di tempat itu. Tak terlalu lama untuk membereskan semua itu, setelah semuanya beres ia segera mengambil tas masih berada di bench dan segera keluar dari bangunan itu.

Seseorang telah menunggunya di luar bangunan itu, dan baru Fang sadari ketika ia hendak mengunci pintu.

"Fang?" panggil seseorang yang telah menantinya sejak tadi, membuat Fang terkejut hingga kunci di tangannya terjatuh.

"Hwaaa! Apa yang kau lakukan di sini, Blaze!?" seru Fang tak lepas dari keterkejutannya.

Mimik wajah Blaze berubah menjadi serius, menatap tajam ke arah lawan bicaranya, "Ada yang ingin kutanyakan."

Fang tak cepat merespon, bahkan dengan santai mengunci pintu itu terlebih dahulu. "Cepat katakan, aku tak punya banyak waktu untuk bicara denganmu."

"Apa kau tau apa yang terjadi pada Ice?" tanya Blaze dingin.

Fang membeku, apa Blaze sudah mengetahui keadaaan Ice yang sebenarnya?

"A-apa maksudmu?"

"Akhir-akhir ini Ice sering bersikap aneh, kau dekat dengannya bukan? Kau pasti mengetahui sesuatu."

"Tidak."

"Di mana dia?"

"Mana aku tau."

Blaze mengertakan giginya, muak dengan jawaban tak bermutu Fang. Ia maju selangkah, mencengkram kerah sambil mengulangi pertanyaan yang sama. Namun justru jawaban sama yang Fang lontarkan.

"Sudahlah, aku ada urusan yang lebih penting." Ujar Fang sambil mendorong tubuh Blaze menjauh darinya agar melepaskan cengkraman yang terasa mencekiknya.

Tapi apakah Blaze membiarkan Fang pergi begitu saja?

Blaze menahan tangan Fang paksa, "Apa kau mau aku menghancurkan tanganmu, agar kau mau bicara! Hah!?" cengkraman Blaze cukup membuat pergelangan tangannya terasa perih, tapi justru membuatnya ikut tersulut emosi.

"Dan kau mau aku menendang kakimu agar kau tidak bisa bertanding besok!? Kau pikir aku ayahnya yang mengetahui di mana dia, sedang apa? Kalau dia mulai berubah, mungkin dia sudah bosan dengan mu atau sikapmu yang tidak peka itu. Sekarang lepaskan aku!" ujar Fang melepas cengkraman Blaze paksa dan pergi begitu saja, meninggalkan Blaze yang terpaku di tempat.

"Tidak peka!?"

Fang POV

Sepanjang jalan aku terus menggerutu tak jelas, rasanya ingin sekali menonjok wajah Blaze jika mengingat pembicaraan barusan.

Tapi, aku jadi sedikit merasa bersalah. Apa tindakanku tadi itu benar ya? Aku tau betapa khawatir nya ia memikirkan Ice.

Argh, aku mengacak rambutku yang memang sudah berantakan. Taph,sudahlah, toh sudah terlanjur juga. Biar waktu yg menjawab.

Aku menyampatkan diri untuk membeli minuman di vending machine yang tak jauh dariku. Menenangkan pikir dalam lamunan memandang jingganya langit.

"Hah, hari yang melelahkan." Gerutuku usai meneguk sekaleng soda. "Setelah ini aku akan menemuinya lagi." Gumamku.

"Permisi." Seseorang memintaku, aku baru tersadar kalau posisiku menghalangi orang yang juga ingin membeli minuman.

"Ah, maaf. Eh, hai Ying." Sapaku pada orang itu yang ternyata orang yang familiar bagiku.

Ku lihat wajahnya sangat sumringah, namun dengan cepat berubah menjadi ekspresi datar dan dingin. "Oh, Fang? Hai."

"Dari perpus?" nampak beberapa buku pelajaran yang ia bawa.

Dia mengangguk, "Ya, minggu depan sudah ujian, jadi aku sudah harus mulai belajar lebih giat."

"Begitu."

Hening menguasai kami untuk beberapa detik saja, entah kenapa. Walau aku sering dikelilingi fansku yang semuanya perempuan, tapi perasaan ini berbeda.

Lebih berdegup kencang dan berbunga.

"Mau pulang?" tanyanya langsung.

"Eh-ah.. Ekhem, ya, tapi aku masih ada urusan." Ujarku agak terbata.

Dia memandangku sesaat, "Kalau begitu, sampai besok." Ujarnya kemudian berbalik, berjalan mulai membuat jarak denganku.

"Ah, y-ya."

"Kau harus segera menyampaikan perasaanmu pada orang yang kau suka, sebelum ia pergi jauh dan kau tak bisa menggapainya lagi."

Atmosfer ini, langit jingga yang tersenyum ramah, aspal legam yang sepi kendaraan. Apa ini waktu yang tepat? Hembusan angin seolah mendorongku untuk meluapkan perasaanku.

"Yi-Ying!?"

Ia berhenti dan menoleh padaku. Langit senja mewarnai kota-kota, satu garis arah cahaya jingga, bayangan kami bersatu, hitam dan memanjang.

"A-aku..."

Kenapa jadi seperti ini? Kau hanya perlu mengatakannya, katakan perasaanmu!

"Aku, besok aku akan bertanding basket di Gladiol. Apa kau mau datang besok?"

Bodoh...!

Pada akhirnya aku hanya bisa menelan kata-kataku sendiri.

Ia nampak menimbang tawaranku, dan ekspresinya cepat sekali berubah.

"Uhm, sepertinya bisa."

"Yosh, baguslah."

"Jaa, kalau begitu sampai jumpa besok."

"Ya, sampai jumpa."

Dia tersenyum padaku, manis dan terlihat sangat senang. Cantik...Bayangan kami berpisah, bersama hembusan angin, sosoknya menghilang di tikungan trotoar.

Sekarang apa? Aku hanya bisa merutuki diriku sendiri? Entah mengapa, saat kutatap matanya, keberanianku menciut seketika. Padahal saat aku sering bersamanya, hal seperti ini tak pernah terjadi.

Kaleng soda di tanganku kini menjadi tak berbentuk, sebagai bentuk kekesalanku. "Tch, dasar pengecut!"

Walau aku berhasil mengajaknya ke pertandingan besok, tetap saja moment ini terasa sangat menyebalkan.

Tempat sampah di dekat vending machine kutendang, hingga isinya berceceran.

"Aduh, aduh, dasar tempat sampah bodoh!" kesalku pada benda mati yang bahkan tak bersalah.

Tak sampai disitu, kaleng soda kosong ku tendang sembarang arah, sepertinya akalku mulai terganggu. Tak sengaja kaleng itu mengenai seekor anjing ber-ras Belgian Malinois yang tengah berjalan-jalan dengan seorang wanita. Walau anjing itu berkalung rantai, mungkin karena kuatnya, sampai lepas dari dari tangan majikannya dan langsung mengejarku.

"Blacky, kembali!" seru wanita dan ikut mengejarku.

"HWAAAA! TOLONG!"

Aku berlari secepat mungkin, semua orang langsung menepi ketika aku lewat. Saat aku menoleh, anjing itu hanya berjarak beberapa meter dariku.

"Anj*ng!"

Kulihat sebuah pagar besi menutupi sebuah gang kecil, secepat mungkin aku memanjat pagar itu. Huft, pagar penyelamat. Anjing itu terus menyalak karena kehilangan targetnya. Ah, persetan yang penting aku selamat.

Aku memegangi lututku dengan nafas terengah-engah dan mengelap keringat di dahiku. Aku hanya memandang anjing itu sesaat, kemudian meinggalkannya.

Langit berwarna ungu dan bintang mulai samar terlihat, aku menyusuri gang kecil itu, sesekali membuang nafas berat.

"Apa ini yang namanya karma?" gumamku seorang diri.

Sebesit siluet hitam mencuri pandanganku, namun saat aku menoleh ke asalnya, tak ada siapapun di sana. Aku baru sadar, atmosfer disekitarku berubah menjadi dingin. Entah karena hari beranjak malam atau tempat ini yang memang lembam. Bulu kudukku mulai berdiri.

"Tu-tunggu, gang ini kan sering aku lewati saat SD dulu. Tapi aku lupa nama gang ini, ada kenangan mengerikan saat aku melewati gang ini, tapi apa?" Aku memegang kepalaku, mencoba mengingat masa lalu itu.

"Ah, sudahlah. Lagi pula tidak penting juga." Aku terus berjalan, namun lagi-lagi siluet hitam bergerak sangat cepat, menghilang dari pandanganku.

Ku coba mengabaikannya dengan menerawang pandangan sekitar, sebuah papan bertuliskan nama jalan itu,

"Pak Senin Koboi? Seperti tak asing-, EEEHHHH!?" Kini aku teringat gang ini.

Meeeoong…

Gluk, dengan susah payah menelan ludah, aku membalikan badan, menatap horror ke arah kucing yang berdiam ditempat sambil menjilati tangannya. Kemudian cakar-cakar tajam yang keluar dari jarinya berkilat ditimpa cahaya bulan

"Ku-kucing gila Pak Senin Koboi!"

Meooonggg…

.

.

.

Normal POV

"Hari ini, hari sialku ya?" Gumam lelaki bermuka kusut itu. Bekas cakaran kucing nampak kentara di kulit mulusnya.

"Ugh, semoga tak ada yang lebih buruk dari ini." Harapnya sambil memakai jaket yang biasa terikat di pinggangnya.

Diliriknya jam ditangannya menunjukan pukul 06.30 PM,

"Ah, aku sampai lupa untuk pergi ke sana. Jam segini toko bunga mana yang buka?" netranya menyusuri setiap toko yang masih buka, namun tak satupun toko bunga yang masih buka dilihatnya.

"Ah, ya sudahlah. Sesekali tak perlu ku bawakan bunga untuknya, memang aku siapanya juga?" gumamnya, kemudian melanjutkan langkah menuju bangunan tinggi berwarna putih yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.

.

.

Langkah sepatu kets Fang mulai memasuki bangunan beraroma khas antiseptic, baru beberapa meter ia masuk, salah seorang pegawai sudah menyapanya.

"Hai, Fang. Menjenguknya lagi?" sapa seorang penjaga di lobby bername tag Lena.

"Ya, seperti biasakan Kak Len? Di mana Kakak?"

"Mungkin di ruangannya. Oh ya, ngomong-ngomong kau tidak membawakannya bunga lagi?"

"Tidak, sepertinya hari ini aku datang terlambat. Tak ada satupun toko bunga yang masih buka jam segini."

"Begitu ya. Kapan kau mau menembaknya?" godanya, cukup membuat Fang gelagapan.

"A-apa maksudmu? Kami kan hanya teman, kebetulan saja kakakku yang merawatnya, jadi wajarkan aku sering bertemu dengannya. Lagi pula, ada orang lain yang aku sukai." Ujar Fang menahan malu.

"Eh? Benarkah? Ku pikir kau menyukai Ice." Godanya lagi.

"Ti-tidak. Ah, sudahlah. Aku ingin menjenguknya." Ujar Fang kesal karena terus digoda.

Lena hanya bisa tertawa melihat tingkah Fang yang kesal dan meninggalkan lobby begitu saja.

"Diajar ribut sama Blaze ,gagal nembak, kaki sakit gara-gara nendang tempat sampah, dikejar anjing, dicakar kucing, dan sekarang ditanyain kapan nembak? Apa ada hari yang lebih buruk dibanding hari ini?" gerutu Fang dalam lift, jemarinya menghitung berapa kesialan yang ia alami hari ini.

Ting…

Pintu lift terbuka, dengan santai ia mengayunkan kakinya menuju kamar rawat inap no 107.

"Sudahlah, tak ada gunanya juga merutuki hari ini. Kalau aku menceritakan hal ini pada Ice, dia pasti akan mengejeku habis-habisan."

Sesaat ia tersenyum, membayangkan ekspresi lucu Ice ketika mendengar ceritanya hari ini. Bagaimana cara gadis itu tertawa dan mengejeknya, ingatan yang tak pernah hilang dari otak Fang.

Ia mempercepat langkahnya, namun beberapa langkah dari ruang Ice ia berhenti…

Hoek… Hoek… Hoek…

Kini Fang tengah berdiri tepat di depan pintu rawat Ice, namun ia enggan masuk jika akhirnya ia akan melihat Ice menderita.

"Ice! Kau baik-baik saja? Sebentar, ayah akan panggilkan dokter." seru seseorang di dalam sana.

Cklek…

Pintu terbuka, mereka sama-sama terkejut akibat pertemuan yang mendadak ini.

"Ah, Fang? Kau ingin menjenguknya lagi?"

"Ah- i-iya." Sesaat Fang melirik ke arah ranjang di mana Ice berbaring. Nafasnya tersenggal, terlihat dari dadanya yang naik-turun tak beraturan, keringat dingin yang mengucur dari pelipisnya, dan jangan lupa wajah pucat itu, setidaknya mampu membuat perasaan Fang teriris memandangnya.

"Kebetulan sekali, bisa kau jaga Ice sebentar? Aku akan memanggil dokter, karena ia terus saja muntah."

Fang mengangguk singkat, "Ya, saya akan menjaganya."

"Terima kasih, aku akan segera kembali."

Langkah perlahan mendekati ranjang itu, netra Fang tak lepas dari sosok di atasnya. Matanya tertutup rapat seolah menahan sakit yang luar biasa. Tangan yang dilapisi sarung tangan itu menggenggam tangan Ice.

Dingin

Perlahan netranya terbuka, manik aquamarine itu menatap sayu lelaki berkacamata itu.

"Fa-ang?"

Ice membekap mulutnya sendiri, menahan mual yang menyiksanya sejak pagi tadi, namun baru ini puncak penderitaanya.

"Kau mau muntah lagi?' tanya Fang tanpa perasaan jijik.

Ice menggeleng, tidak ada lagi yang ingin ia muntahkan, tapi entah kenapa rasa mualnya tak kunjung hilang.

Tak berselang lama, Kaizo bersama beberapa perawat memasuki ruangan itu.

Melihat Ice yang terlihan menderita, ia bertindak cepat. Mengecek denyut nadinya dan meminta perawat yang ikut bersama untuk memasang masker oksigen.

"Tolong, beri aku ondansentron."titahnya.

Dalam dosis tertentu, Kaizo menyuntikan cairan itu melalui pembuluh vena.

Mungkin rasa lelah membuat obat tidur yang Kaizo suntikan bersama obat pereda mual itu membuat Ice cepat terlelap hanya dalam hitungan menit.

"Efek kemoterapinya mulai terlihat. Tapi dia baik-baik saja. Biarkan dia istirahat malam ini, besok dia akan sehat kembali." jelas Kaizo.

Aku memang bersyukur Ice tidak lagi merasa sakit, setidaknya untuk saat ini. Ku perhatikan wajahnya yang nampak damai, cantik.

Tapi bukankah sayang, jika bunga melati yang cantik dan lembut sepetinya, perlahan layu dan gugur secara perlahan?

'Padahal banyak sekali yang ingin aku ceritakan padamu Ice.'

TBC...

Hello, Kyra balik lagi… Tebar pesona/Eh, salah/ tebar bunga yang bener…

Anooo, rasanya kurang greget, iya ngga sih? Ceritanya loncat-loncat. Alurnya ngajak balapan… Ara rasanya makin kesini makin ancur ni fic. Mohon kritik dan sarannya…

Jangan takut ngasih kritikan, Kyra orangnya berpemikiran terbuka kok.. Jadi santai aja, Kyra kan juga masih belajar.

Oke, bales repiew dulu yak. Cekidot

Floral Lavender : Hai Hai, makasih atas sarannya… Tapi percaya sama Kyra, adegan bagian itu akan lebih drama lagi. #KarenaHidupPenuhDrama, ff ini punya banyak drama untuk harimu :D #IklanLewat…

Mochiron, pasti ff ini bakal aku selesaiin kok sampe ending yang entah sampe chap berapa…

Vanilla Blue12 : Cieeee yang baper… Okay, makasih atas sarannya.. Sebenernya aku juga lebih suka satu konflik satu chapter sih,, kalo banyak waktu sih aku buat gitu.. Sayangnya libur semester aja Cuma seminggu T,T

Ililara : Ya Ying sih Cuma ngga tau kebenarannya aja, coba kalo dia tau. Pasti malu sendiri :3

Untuk cast Blaze emang yang chapter kemarin emang ngga ada, soalnya kepotong. Kalo aku lanjutin sampai Blazenya nongol, pasti updatenya makin lama…

Kyra sih suka anime Sword Art Online, Kuroko No Basket dan beberapa anime yang sad ending :3

Nevyandini : Iya emang konfliknya makin banyak, tapi kapan klimaksnya? Sampe penuh ni buku buat nulis konflik n penyelesaiannya. Tapi ngga papa, demi terwujudnya imajinasi dan memuaskan reader ^^

Nanti juga aka nada waktunya buat memperbaiki hubungan mereka, tunggu aja ^^

Zahea-chan610 : Nah, Blazw udah muncul kan? Walau ngga banyak sih, tapi kece kan? ,

Rampaging Snow : Hehehe, padahal bahasanya garing, kurang greget gimana gitu , .. But, it's okay… Makasih ya sarannya. ^^

Regietta580 : Hello Regietta, welcome to Three Days fic ^^ Jarang mampir ffn? Sibuk ya ^^ Aku juga ╥﹏╥

Chocolate White : Hello, makasih udah mampir.. Iya,, ngga papa kok.. Makasih ya sarannya^^

Hai hai, arrigatou… pengennya sih kalau bisa tiap hari update, tapi libur semester aja baru minggu depan :3 , mana koneksi lelet lagi buat nyari ide :3

Oke, makasih ya semuanya yang udah mampir baca fic ini, yang udah ngreviw.. Pokoknya semua yang udah berpartisipasi dalam fic ini. Kyra ucapin thank you so much…

n see you next time.. Bye bye ^^