Three Days
Boboiboy © Animosta Studio
Warn : Typo! OOC, Fem! Ice
Happy Reading ^^
Aroma embun bercampur dengan rerumputan hijau yang basah akan hujan sisa semalam, nampak kemilau membias cahaya surya. Para burung mulai meninggalkan sarang, saling menyapa melalui kicauan merdunya.
Meskipun sendirian aku akan tetap maju, Meskipun jika aku ingin mati
Namun aku mendengar suaramu untuk tidak mati
Meskipun menyakitkan, meskipun aku menangis dalam kesendirian
Jauh dilubuk hatiku, aku merasakan kehangatanmu
*Ichiban No Takaramono
Sepasang earphone terpaut di telinganya, memutar lagu yang sama berulang kali. Koridor mulai ramai dengan aktifitasnya masing-masing, sepatu mereka basah karena genangan air dan udara pagi itu bercampur bau khas angin lembab.
Gadis itu, gadis beriris warna lautan kala musim panas itu, duduk seorang diri di bawah naungan pohon besar di tengah taman.
"Selamat pagi." Bisik seseorang bersuara baritone dari belakang.
Sedetik kemudian, gadis itu terkesiap ketika merasakan hembusan nafas menerpa telinganya. Memaksanya untuk melepas earphone dan menoleh kebelakang.
"Hah, kau rupanya. Apa yang kau lakukan pagi-pagi seperti ini di sini?" tanyanya sambil memasang kembali satu earphone di telinga kirinya.
"Memangnya apa yang biasa aku lakukan di sini?" tanya balik lelaki itu usai mendudukan diri di samping gadis bernama Etenia Ice itu.
Di tempat yang sama, atmosfer yang sama, namun pemikiran berbeda. Daun dan ranting yang bergemerisik ketika angin menyampanya, mengisi kekosongan waktu yang terus berjalan.
"Bagaimana keadaanmu?" pertanyaan yang selalu Fang lontarkan tiap kali ia bertemu dengan Ice.
Ice menarik nafas dalam, "Jauh lebih baik, setelah istirahat semalam rasanya aku jadi sehat kembali." ujarnya semangat.
"Oh ya, ngomong-ngomong bagaimana bisa kau tau aku di sini?"
Ah iya, benar juga. Ice sudah berada di sini sejak tadi, bahkan sampai ayahnya belum menemuinya pagi ini.
Fang tersenyum sok detektif, "Tentu saja, sangat mudah menemukan orang yang benci bau obat-obatan sepertimu."
Ice mempoutkan bibirnya, mengayunkan kakinya seperti anak kecil. "Habisnya sejak hari Selasa kemarin aku sama sekali tak keluar dari ruang inapku. Apalagi kemarin usai menjalani kemo, perasaan mual ditambah aroma obat seperti itu sungguh membuatku muak. Beruntung kau selalu membawakan bunga, setidaknya aku bisa bernafas sedikit lebih lega." Tuturnya.
Fang hanya tersenyum simpul, kemudian mengacak rambut Ice, "Dasar anak manja." Ejeknya yang sukses membuat Ice merajuk kesal. Namun kemudian…
Usai mengacak rambutnya, beberapa helai surai hitamnya nampak tersangkut di jemari berlapis sarung tangan fingerless itu, membuat Fang menahan nafas untuk beberapa detik.
"M-maaf."
Ice hanya bisa tersenyum miris memandang helaian rambutnya yang mulai rontok, "Tidak apa-apa, aku… akan terbiasa dengan ini." Ujarnya sambil mesisir rambutnya dengan jarinya, dan beberapa helai rambut menghiasi tangannya. Helaian tipis itu terbang dari jarinya bersama angin berhembus sedikit lebih kencang.
"Aku… tak pernah menyukai tempat ini. Aroma antiseptic, suara langkah kaki yang terburu-buru, lantai linoleum yang berwarna seputih awan. Semua itu mengingatkanku tentang ibuku." ujar Ice bermonolog.
Netranya memandang lurus pada seorang anak kecil yang berlarian dari koridor mulai memasuki area taman, dengan seorang wanita paruh baya yang mengejarnya dari belakang, ibunya mungkin.
"Aku tak menyangka aku akan mengalami hal yang sama. Di mana sikap keputusasaan dan sikap membabibuta membuatku mengangkat tangan ke langit untuk menggapainya, tapi hanya udara kosong yang kugenggam dan hanya bisa meluruskan pandangan pada kegelapan angkasa yang membentang."
"Sesekali aku ingin melupakannya rasa sakitnya, dan mengimpikan hal indah yang tersisa untuk hidupku." Tambahnya dengan tawa dalam senyum, menertawakan bagaimana lincahnya anak kecil itu lolos dari tangkapan wanita itu.
BRUKKK…
"Hwaaaa!" tangisan seorang anak kecil itu mencuri perhatian orang sekitarnya, tak terkecuali Fang dan Ice.
Seorang gadis kecil terjatuh di sekumpulan bunga dandelion yang mekar dengan indahnya. Wanita di belakangnya langsung menghampiri anak yang masih dalam keadaan tengkurap itu dan membantunya berdiri. Sudah begitu anak itu masih saja menangis walau ia tak terluka.
Ice bangkit dari tempat duduknya, berjalan perlahan mendekati gadis yang kini dalam pelukan ibunya. Kemudian bersimpuh, menyamakan tinggi dengan gadis itu.
Di sekitarnya bunga dandelion yang rapuh melepas mahkotanya, dengan indahnya terbawa hembusan angin. Setangkai bunganya Ice petik dan meniupnya ke arah wajah gadis itu yang basah oleh air mata.
Dengan mata berkaca, ia memandang Ice seolah bertanya 'Apa yang kakak lakukan?'
"Sssttttt, sudah jangan menangis. Lihat bunga ini dan tiup."
Gadis kecil itu meniup setangkai bunga di tangan Ice, raut wajahnya nampak senang ketika mahkota bunga itu bertebangan. Gadis itu kembali berlari, meniup bunga dandelion di sekitarnya dan tertawa kegirangan dengan hal sederhana seperti itu.
Kebahagiaan itu sederhana, cukup dengan melihat orang lain bahagia, kita juga akan ikut bahagia
Fang sedari tadi hanya duduk memperhatikan, menyunggingkan senyum pada gadis yang kini memunggunginya.
Perlahan ia mendekati sosok itu, memandang punggung yang nampak rapuh jika tidak disentuh dengan lebut. Kadang tersenyum, kadang bersedih, kadang tertawa, kadang menangis, kadang bahagia, kadang menderita, kadang terasa hangat dan terkadang juga dingin. Hidup ini penuh warna, terang dan gelap. Yang bersatu dan menjadi kusam.
"Apa aku salah berharap pada bunga dandelion?" tanyanya lirih, yang hanya dibalas dengan senyuman penuh arti.
Dalam lubuk hati Ice berkata bahwa bunga dandelion itu adalah bunga yang bahagia. Walau ia bersanding dengan rerumputan liar yang tak dianggap, tapi ia tak pernah sedih karena ia masih bisa mekar dengan indahnya.
Nampak lemah tapi kuat, ketika bagiannya berhamburan terbawa angin entah kemana, terbang tinggi menantang manis pahitnya hidup, melintasi semesta melihat berbagai hal. Hingga suatu hari, di suatu tempat, sejauh apapun ia pergi, ia pasti akan kembali, kembali ketempat ia berasal.
"Ice? Bagaimana kalau hari ini kau ikut denganku?" tawar Fang yang langsung menghancurkan lamunan Ice.
"Kemana?"
"Gladiol, hari ini aku ada pertandingan, kau mau ikut mendukungku, kan?"
Pertandingan? Ah iya, hari ini Blaze juga bertanding. Apa dia akan baik-baik saja? Sudah seminggu ini ia tak bertemu atau bertukar pesan dengannya. Jadi mana yang harus ia dukung?
"Memangnya dokter Kaizo akan mengijinkanku?" tanya Ice pesimis.
"Akan aku usahakan."
~Luckyra~
"Tak boleh…!" seru Kaizo dalam satu kalimat tegas saat Fang mengajukan permintaannya.
"Alah, ayolah Kak. Sekali ini saja." Rengek Fang.
"Kau taukan kondisinya semalam? Ia harus banyak istirahat! Kalau dia drop lagi, siapa yang susah?"
"Dia seperti itu bukan semata-mata hanya karena efek kemoterapinya, tapi juga karena dia stress terus berada di tempat yang ia benci." Fang menatap tajam kakaknya.
"Ah, ayolah! Dia hanya duduk di tribun sambil menonton pertandingan, tak akan sampai kelelahan. Aku janji akan menjaganya." Tambahnya lagi.
Perdebatan antara kakak beradik ini terdengar seru,
Kini justru Kaizo yang menatap tajam adiknya, "Kenapa kau ngotot sekali untuk mengajaknya keluar?"
Fang menyentuh tengkuknya, terasa gugup, "Ya, memangnya apa salahnya sekali-kali mengajaknya keluar. Hiburan itu baik untuk orang sakit agar tidak stress, kan?"
Pada akhirnya Kaizo menghela nafas panjang dan mengijinkan Ice pergi, "Baiklah, tapi bawa dia pulang dengan keadaan untuh." Pesannya.
"-_-" memangnya barang, bisa rusak?"
Kaizo hanya bisa menepuk wajahnya malas, "Bukan itu maksudku, setelah pertandingan berakhir segera pulang, jangan sampai kelelahan, jangan lupa untuk membawa obatnya jika sewaktu-waktu ia kambuh, jaga dia baik-baik."
"Kau jadi terdengar seperti seorang ayah yang ngomel kalau anak gadisnya diajak jalan sama cowok. Tapi baiklah, apapun katamu. Intinya Ice boleh pergi, kan?" Komentar Fang
"Ya, tapi jangan lupakan pesanku tadi."
"Ya…" seru Fang sambil berlari keluar ruangan Kaizo, kegirangan.
"Ish, anak itu, dasar." Keluh Kaizo, tapi senyum bahagia juga tak bisa lepas dari paras lelaki berumur 20-an itu.
"Akhirnya kau punya teman ya Fang?" gumamnya.
Kaizo sedikit khawatir tentang kehidupan social Fang yang lebih ke anti social karena ia tak pernah dekat dengan siapapun, sikap dan tampangnya pun tak jauh beda dinginnya. Ia takut ketika Fang terjun dalam dunia masyarakat nantinya kesulitan. Walau ia menjabat sebagai kapten tim basket di sekolahnya, rasanya tidak cukup membantu sosialnya. Tapi kini ia tak khawatir lagi, setidaknya ia memiliki teman untuk berbagi sekarang.
.
.
.
"Ugh,, akhirnya aku bisa menghirup udara bebas juga." Ice meregangkan ototnya yang ia rasa bisa bergerak bebas sekarang. Tanpa jarum infuse yang mengganggu pergerakannya atau bebauan yang membuatnya kesulitan bernafas.
"Oh ya, ngomong-ngomong bagaimana reaksi kakakmu saat kau ingin mengajakku keluar?"
"Yah, tidak terlalu buruk. Aku hanya perlu meyakinkannya bahwa kau akan baik-baik saja bersamaku." Ujar Fang sambil senyum-senyum gaje.
Sejenak, Ice melirik ke arah jam tangannya yang menunjukan pukul setengah 8, "Kau main jam berapa?"
"Hmm, jam 8."
'Jam 8, ya? Kalau tidak salah Blaze juga bertanding jam 9 nanti.' Pikir Ice.
"Heh!? Tunggu, jam 8? Ini jam 07.30 looo, tidak telat? Tau begitu, kenapa kau malah datang ke rumah sakit?"
Fang tertawa melihat tingkah Ice yang panik tapi menggemaskan, "Hahaha, tenang saja. Aku punya waktu yang cukup untuk persiapan." Ujarnya sambil menunjuk bag dipunggungnya.
Hanya butuh waktu beberapa menit, mereka mulai memasuki kawasan Gladiol, tempat Fang akan bertanding. Ice nampak gelisah meratapi layar ponselnya, memandang cerminan dirinya dalam layar hitam itu.
'Apa ia harus mengirim pesan untuk memberi semangat pada Blaze?' pikirnya.
Blaze memang sering mengirim pesan padanya, entah menanyakan keberadaan, kabar atau sebagainya. Namun tak satupun ia balas, walau sebenarnya ia tahu akan membuat Blaze khawatir.
Tiba-tiba nada tanda sebuah pesan masuk berbunyi, sayangnya bukan dari ponsel Ice, melainkan milik Fang.
"Ah, maaf. Bisa tunggu sebentar?" ujar Fang menghentikan langkahnya untuk sejenak membaca pesan itu. Entah setan apa yang merasuki dirinya, hingga membuatnya senyum-senyum sendiri. Ice yang berdiri di sampingnya pun ikut merinding melihat senyum misterius lelaki berambut pacak itu.
"Heh!? Hentikan senyuman iblismu itu. Bikin merinding tau." Seru Ice.
"Seburuk itukah senyumanku?"
"Memangnya pesan dari siapa sih?" Ice mencoba mengambil ponsel dari tangan Fang, tapi apa daya? Toh tingginya juga hanya sebatas hidung Fang.
Fang tersenyum penuh kemenangan, "Nanti kau juga akan tau." Ujarnya penuh misteri.
Ice kembali mempoutkan bibirnya kesal. memangnya siapa yang akan ajak selain dirinya? Kecuali,
"Hai Ying, sudah lama di sini?" sapa Fang pada gadis yang tengah berdiri di pintu masuk.
"Tidak juga, aku baru saja sampai."
DEG…
Ice terpaku di tempatnya, jadi yang Fang juga mengajak Ying? Gawat, ini buruk. Rasanya ingin melarikan diri saja daripada ia harus berhadapan dengen Ying. Hubungan mereka masih sangatlah buruk, hatinya belum kuat jika harus bertatap muka Ying kembali.
"Hei Ice, kenapa kau hanya berdiri di sana saja? Kemarilah." Ujar Fang yang terpaut jarak beberapa meter darinya.
Tapi Ice tetap membeku di tempat, dengan samar menatap mata Ying. Mata itu, pandangan milik Ying itu nampak diselimuti kebencian, yang seketika membuat nyali Ice ciut untuk bertukar pandang dengannya.
Fang merasa aneh dengan gerak-gerik Ice mulai khawatir dan berjalan mendekatinya sekedar untuk mengecek apakah ia baik-baik saja?
"Ice, kau baik-baik saja?" sambil meletakan punggung tangannya ke dahi Ice, yang langsung ditepis halus oleh Ice. Ia tak ingin terjadi salah paham lagi antara dirinya dan Ying.
"A-aku baik-baik saja Fang."
"Ehem, maaf. Aku ingin ke toilet dulu, kalian bisa masuk duluan." Ujar Ying tiba-tiba dan tak lama langsung menghilang dari pandangan mereka berdua.
"Kau yakin tidak apa-apa, Ice? Pusing atau kepalamu sakit? Kau sudah minum obatmu pagi ini? Kalau sakit katakan saja, aku bisa dibunuh kakakku kalau kau sampai drop lagi." Ujar Fang dengen serentetan pertanyaan.
"Aku baik-baik saja Fang, sungguh. Kau tak perlu secemas itu. Lebih baik kau fokus untuk pertandingan nanti, oke?"
Sekarang Ice menjadi bingung sendiri, ia hargai sikap care Fang padanya, tapi ia juga tak ingin membuat Ying menjadi lebih salah paham lagi. Di sisi lain, ia tak mungkin meminta Fang bersikap biasa saja padanya secara terang-terangan.
Ying POV
Suara air keran mengalir deras dari tempatnya, membasuh wajahku, merasakan sejuknya air, tapi tak lama kemudian cairan hangat kembali mengalir dari pelupuk mata. Seribu kalipun aku membasuh wajah, air mata ini tak pernah bisa tertutupi tentang betapa sakitnya aku.
Awalnya aku sangat senang ketika Fang mengajakku menonton pertandingannya, kupikir ia memberiku kesempatan untuk dekat lagi dengannya. Tapi ternyata dugaanku 100% SALAH, ternyata dia mengajakku hanya untuk melihat mereka berduaan?
"Tch, bodohnya aku terlalu tinggi berharap."
Aku hanya bisa menggigit bibir ku agar tak ada isakan yang keluar, rasanya sesak.
"Apa aku memang harus melepaskannya?" pikirku dalam kalut.
Angel : Sudahlah Ying, lepaskan saja dia. Persahabatan itu jauh lebih baik.
Devil : Jangan lepas, kenapa harus kau yang mengalah? Kau juga punya hak untuk mencintai.
Angel : Tapi pikirkan sekali lagi tentang hubungan persahabatanmu dengan Ice. Dari miliaran manusia di dunia ini, belum tentu kau memiliki teman sebaik dia.
Devil : Hah!? Baik? Ice sudah terlalu sering mengambil kebahagiaanmu, kepandaian, kekayaan, kepopuleran, apa lagi yang tidak ia miliki? Jangan mengalah untuk yang satu ini. Maju dan hancurkan si Ice itu.
Angel : Jangan Ying! Dia sahabatmu.
Devil : Dia bukan sahabatmu, kalau dia sahabatmu, sudah pasti dia akan mendukung hubungan kalian berdua, bukan malah semakin mendekati Fang. Kau lihat tadi? Ice berangkat bersamanya, kenapa kau justru berangkat sendiri? Hancurkan si Ice itu!
"Hancurkan Ice, Fang tidak pantas untuknya."
Normal POV
"Maaf, aku terlalu lama ya?" Ying berlarian menuju 2 temannya yang ternyata masih menunggunya di depan gelanggang.
"Tidak juga."
Harap tim basket putra dari SMA Pulau Rintis segera bersiap menuju ke lapangan sekarang
"Sepertinya sudah waktunya. Aku masuk lewat pintu samping. Kalian berdua, dukung aku ya, bye." Kata Fang sambil melambaikan tangan.
"Ya, pasti." Sahut Ying membalas lambaian tangan Fang. Berbeda dengan Ice yang lebih memilih untuk diam dan pundung di tempat.
Seperti menganggap sosok Ice tiada, Ying dengan santainya melenggang memasuki bangunan itu tanpa mengucap sepatah katapun. Namun genggaman tangan Ice menahan Ying untuk berjalan lebih jauh.
"Ying, ada yang ingin kubicarakan, hanya kita berdua. Soal waktu itu, aku pikir terjadi salah paham."
Ying terdiam, memandang gadis dihadapannya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Sudahlah Ice, aku tak peduli lagi." Jawabnya sekenanya.
"A-aku ingin menjelaskan semuanya!"
Dengan cepat Ying menepis tangan Ice, "Tak perlu penjelasan, aku sudah mengerti. Sudah terlalu banyak bukti yang kau tunjukan padaku. Sekedar kau tau saja ya Ice. Dari sisi manapun, kau tidak pantas untuk Fang." Kata Ying dengan penekanan pada kalimat terakhir.
Bisa dilihat dari tatapan tajam Ying yang seolah berkata, 'Aku akan menghancurkanmu jika kau mendekatinya lagi'.
Ice menghela nafas panjang, "Sudah ku duga, dia memang salah paham. Aku kan hanya ingin minta maaf dan menjelaskannya, apa itu salah?" gumam Ice seorang diri.
Ying duduk seorang diri di tribun bagian tengah, memaksa Ice membuat jarak dengan duduk di bangku tribun paling depan. Ying bahkan tidak menanyakan kemana saja atau kenapa ia tak masuk sekolah berhari-hari. Ia pikir ia tahu alasannya mengapa Ying tidak menanyakannya. Masa bodo.
Pertandingan di mulai, para supporter mulai meneriakan dukungan mereka. Dalam keramaian ini, hanya dirinya seorang yang membisu. Dalam pikirnya benar-benar kacau, bahkan dalam kebisingan ini seolah menjadi tuli.
Kekacauan dalam berpikir dan kebingungan dalam bertindak. Apa yang harus dilakukan? Ketika pertanyaan itu muncul di benak, dan tak bisa kau putuskan sendiri. Pada siapa kau akan mengadu?
Gadis itu sudah terlalu banyak membuang air matanya, terluka dan berdarah. Sesekali juga ia ingin berkata pada Tuhan, keinginan bersandar untuk beristirahat barangwaktu sejenak. Dalam indahnya dunia pun, akan tiba waktu untuk berhenti.
Detik demi detik terus berlalu, bunyi nyaring peluit panjang menandai akhirnya pertandingan ini. 40 menit mereka berlarian sambil berusaha mencetak poin, kenapa Ice tidak menyadarinya? Seberat itukah ia memikirkannya?
Saat itu berbanding lurus dengan langit biru hari ini. Tembakan three point dari Fang tadi, cukup untuk membuat tim basket putra SMA Pulau Rintis menang telak dengan score 79-28.
Tepat seusai pertandingan, Fang langsung menghampiri Ice yang belum beranjak dari tempatnya. Jujur saja, saat itu Ying sangat kecewa. Hal itu semakin menguatkan hipotesisnya tentang Fang memang menyukai Ice.
"Hei Ice, bagaimana permainanku tadi?"
"…"
Fang berkali-kali memanggil Ice, namun pandangan Ice nampak kosong. Dengan sedikit tepukan di bahu, akhirnya ia menyadari juga keberadaan Fang di dekatnya.
"Ah, maaf. Aku melamun, tadi kau bilang apa?"
Fang mendengus kesal, "Bukan apa-apa. Oh ya di mana Ying?"
Dahi Ice berkerut, "Maaf, kau bilang apa? Sepertinya pendengaranku sedikit terganggu karena suara supporter tadi."
Fang sedikit menaikan volume bicaranya, rasanya itu sudah cukup keras dengan suasana tribun yang tak terlalu ramai karena pertandingan berikutnya belum di mulai. Ice baru paham apa yang dikatakan Fang dengan membaca gerak bibirnya.
"Oh, Ying? Dia ada di belakang."
Kemudian Fang menoleh kebelakang, di saat yang bersamaan Ying juga memandangnya. Hanya seulas senyum yang Fang berikan, tanpa sepatah kata ia lontarkan. Tak jauh beda dengan Ying yang langsung menundukan kepala setelah melihat senyuma Fang.
Ada udang di sebalik batu…
Jujur, Ying sangat cemburu melihat kedekatan mereka dan kenapa Fang hanya memandangnya dengan seulas senyum tanpa mengucapkan sepatah katapun walau hanya kata 'Hai'?. Benar-benar membuatnya kesal.
Ia mengambil ponselnya dan mengambil foto diam-diam saat mereka mengobrol dengan serunya.
Cekrek…
"Kena kau Ice." Seringaian jelas terpatri dari wajah gadis keturunan cina itu.
~Luckyra~
Di sisi lain kota Pulau Rintis juga tengah dilaksanakan pertandinga yang tak kalah seru dengan cabang olahraga lainnya.
Stadion yang berdiri di pusat kota itu nampak lebih ramai dari hari-hari sebelumnya. Bukan tanpa alasan, hari ini adalah pertandingan hebat antara 2 SMA yang terkenal akan prestasi nonakademik khususnya sepak bola. Karena itu mereka sering dijuluki rival abadi yang selalu bertukar posisi juara.
Blaze yang masih mengenakan jaket training timnya menghampiri sekumpulan pendukungnya yang masih berdiri di luar stadion. Iris terangnya menelisik setiap dari mereka, mencari-cari orang yang ia harapkan kehadirannya.
Tapi tak ia jumpai sosoknya, ia menghapiri gadis berhijab merah jambu.
"Yaya, apa kau sudah tau kabar tentang Ice?"
Gadis itu menggeleng singkat, "Maaf Blaze, aku tidak tau. Waktu aku ke rumah, pembantunya tidak mengatak apapun. Eumm, tapi Blaze, walau Ice tidak di sini, ku harap kau tetap bermain baik hari ini. Kami semua datang untuk mendukung tim sekolah kita." Katanya, dengan sedikit khawatir mengenai keadaan Blaze setelah mendengar cerita dari Gempa.
Wajah Blaze yang awalnya murung kini menjadi sedikit lebih semangat, tentu saja, hilangnya satu orang dari ratusan supporter yang mendukungnya bukanlah masalah yang patut dibesar-besarkan.
"Ya, kau benar. Aku akan kembali, semangati kami ya." Ujar Blaze sambil mengepalkan tangannya.
Beberapa menit lagi pertandingan akan di mulai, semua pemain tengah bersiap. Rasanya ini pasti mereka rasakan, gugup dan gemetar. Tapi mereka telah berlatih keras untuk pertandingan ini, kerja keras pastilah tidak mengkhinati hasil.
Blaze tengah membasuh wajahnya, berharap rasa itu ikut larut bersama air. Bayangan dirinya yang terpantul di cermin, memejamkan mata sesaat, menepis hal negative yang bersarang di kepalanya. Menepuk pipinya sendiri untuk menyadarkannya waktu terus berjalan.
"Show time, Blaze. Kau yang akan jadi bintang lapangannya."
Drrrtttt…
Tiba-tiba hp di saku Blaze berbunyi, menandakan sebuah pesan ia terima. Sejenak ia menyempatkan diri untuk membuka pesan itu.
"Eh? Dari Ying?"
Memuat gambar…
Netra terang Blaze membulat sempurna ketika membuka pesan dengan gambar terlampir,
"Fo-foto ini..!?"
Gambar yang dikirim Ying adalah foto saat Ice dan Fang berduaan, bukan hanya satu, tapi sampai 4 foto ia kirimkan. Fang nampak mengenakan jersey basket bernomor punggung 10 dengan background pertandingan lapangan basket.
"Pantas saja dia tidak datang, ternyata dia menonton pertandingan si landak itu."
Jari Blaze mengepal erat hingga kulitnya memutih, ia menunduk dalam.
"Sial… Sial.. Siaaaal… Si landak itu…" Tangannya meninju dinding kamar mandi hingga menimbulkan suara debuman yang cukup keras. Beruntung hanya dia seorang di kamar mandi itu.
Kini emosi Blaze meluap, percuma saja ia mendinginkan kepalanya tadi jika sekarang ada kompor seperti ini.
Seseorang mengetuk pintu dari luar, "Blaze, ini sudah waktunya." Panggil seseorang di luar sana.
Sejenak Blaze memandang dirinya di cermin, "Kita lihat siapa yang terbaik untuknya."
~Show Time~
Kedua tim mulai memasuki lapangan hijau, disambut dengan sorak sorai para penonton yang di dominasi supporter kedua tim yaitu SMA Pulau Rintis VS SMA Vanlith.
Kick off dimulai dari SMA PR, dimana Gempa dan Taufan yang membawa bola.
Sang wasit meniup peluit tanda pertandingan di mulai. Bola berada di kaki Taufan, mendribblenya hingga setengah daerah lawan. Namun akhirnya larinya terhenti juga oleh penjagaan lawan yang ketat.
Ia mencari rekan satu timnya, tapi semua di jaga man to man hingga kesulitan untuk melepaskan diri.
"Taufan, di belakang."
Dengan cepat bola berpindah ke kaki Blaze, ia menggiring bola sedikit dan melepaskan tembakan datar yang cukup keras dari luar kotak pinalti. Sayang tembakan itu seperti arah anak panah yang sangat mudah terbaca, hingga belum mampu untuk mencetak poin pertama.
Pertandingan berlanjut, sang keeper dari Vanlith menendang bola hingga ke tengah lapangan, dan di terima baik oleh pemain no 10. Ia berlari solo run tanpa kesulitan melwati pemain PL, hingga sampai di kotak pinalti ia memberanikan diri untuk menembak. Dan sepertinya dewi Fortuna belum berpihak kepadanya, tembakannya meleset mengenai mistar gawang,
Dan begitulah 45 menit pertama dengan perebutan poin pertama yang belum membuahkan hasil. Skor masih seimbang 0-0, para pemain kembali ke bench mereka untuk memulihkan tenaga selama 15 menit, juga untuk menyusun strategi ulang.
"Blaze! Kau ini kenapa? Kau bermain sendiri. Oper bolanya jika kau tak bisa menerobos pertahanan lawan. Kau sama sekali tidak berkomunikasi dengan rekan satu timmu." Seru pelatih itu.
"Maaf." Selama itu juga Blaze hanya menunduk, meremas kedua tangannya yang gemetar.
Pelatih hanya mengusap wajah kasar, kembali memutar untuk menyusun strategi baru untuk anak didiknya.
"Baiklah, kita lupakan hal tadi. Sekarang coba konsentrasi dan dengankan ini…"
Blaze POV
Kenapa gemetar? Apa aku takut?
Kepalaku panas, padahal handuk dingin berada diatas kepalaku.
Dag… Dig… Dug…
Jantungku berdegup kencang tak berirama. Emosionalku benar-benar mempermainkanku. Aku memang mendengar arahan coach, tapi pikiranku tak bisa fokus ke sana.
3 hari tak masuk sekolah dan sejak saat itu juga tak ada kabar apapun. Dan baru-baru ini ia mendapati Ice tengah dekat dengan Fang.
Sudah ku duga, si landak itu memang mengetahui sesuatu tentang Ice. Beraninya ia membohongiku, awas saja kalau aku bertemu dengannya.
"Blaze…"
"…"
"Blaze…" seseorang menepuk bahuku, membuatku tersadar bahwa aku masih dalam pertandingan.
"Blaze, kau tidak mendengar arahan pelatih tadi?" Tanya Gempa memandangku sedikit khawatir.
Aku memijit pelipisku pelan, "Ah, maaf Gempa. Moodku hari ini sedang buruk, ada hal yang sedikit mengganggu pikiranku."
Baru aku sadar jika di ruangan ini hanya meninggalkan aku dan Gempa, semuanya sudah keluar duluan.
"Kau memikirkannya? Apa itu sebabnya hari ini kau tidak bisa fokus?" tanyanya dengan nada dingin, sepertinya ia kesal.
Aku bangkit dari dudukku hendak menyusul yang lain,"Tidak."
"Kau tidak bisa menutupinya Blaze, aku tau perasaanmu saat ini tidak menentu. Dia pergi tanpa kabar apapun dan saat kau menemukannya, dia tidak datang mendukungmu, tapi malah bersama Fang kan? Kau cemburu melihat mereka berdua."
Langkahku terhenti, tanpa menoleh aku bertanya, "Bagaimana kau bisa tau Ice bersama Fang?"
"Maaf, aku tau ini lancang. Tapi aku sempat melihat ponselmu tadi sesaat sebelum pertandingan. Tapi kau tidak bisa terus seperti ini! Kesampingkan masalahmu untuk bekerja sama dengan ini. Setelah itu terserah apa maumu. Kau tidak bisa fokus karenanya kan? Karena foto itu yang membuatmu cemburu."
"TIDAK! Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Ice atau si landak itu! Kenapa kau suka sekali mengurusi urusan orang lain, Gempa? Urusi saja urusanmu sendiri." Seruku.
Aku pergi meninggalkan ruangan itu dengan sangaja membanting pintu. Dia tidak tau apapun tentangku.
Normal POV
Setiap detik, setiap tarikan nafas dan setiap tetesan keringat yang Blaze keluarkan di bawah terik mentari, setiap itu juga bayangan Ice muncul di benaknya. Setiap detakan jantungnya ingin bertanya padanya, kenapa?
Seruan para supporter kembali menyuarakan YEL-YELnya ketika pertandingan dimulai.
Bola dimulai dari Vanlith, mereka merubah tempo bermainnya. Menjadi lebih cepat dan agresif, mereka tidak lagi bertahan tapi menfokuskan pada serangan dengan menggempur habis-habisan tim PL yang waktu itu defense tidaklah terlalu rapat.
Gopal pun berkali-kali harus menerima hantaman bola di tubuhnya untuk melindungi gawang.
"Perketat pertahan! Jangan biarkan mereka menembak dengan mudah!" seru Gempa.
"Amar Deep jaga pemain no 10, jangan sampai ia menerima umpan!" titah Gempa.
Beberapa kali pemain No 10 dari Valith mengancam gawang tim PL dengan tendangan mautnya yang keras..
Pertandingan kini jadi berat sebelah, wilayah permainan yang hanya mengambil setengah lapangan daerah bertahan tim PL.
Menit ke-25 babak ke dua, Tim Vanlith merebut skor pertama mereka akibat Blaze yang emosi. Dengan tenaganya yang luar biasa saat emosi, Blaze menabrak striker tim Vanlith sampai terjatuh, yang membuat mereka di hukum penalty.
"Blaze tenangkan dirimu!" Gempa mendekati Blaze memintanya untuk lebih tenang.
"Dari tadi kita hanya bertahan, kalau begini terus kapan kita bisa mencetak poin?" serunya frustasi.
"Kalau kita tak bisa tenang, konsentrasi kita akan buyar dan kita bisa kalah. Karena itu tenangkan dirimu! Kau tidak bisa merasakan tempo permainan mereka? Bersabarlah, aku sedang mencari celah untuk kita bisa menyerang."
Blaze menatap tajam iris emas Gempa, "Kalau tak ada yang maju, biar aku yang maju." Ujar Blaze kesal dan langsung kembali ke posisi.
"Blaze..!" seruan Gempa sama sekali tak dihiraukan Blaze, sepertinya otaknya sudah penuh dengan api hingga membuatnya panas.
SMA Vanlith memimpin dengan skor sementara 1-0, walau begitu mereka tak mengubah atau menurunkan tempo bermain mereka.
"Tidak ada celah." Gumam Gempa sambil menghapus keringat yang telah membajiri.
"Fisik mereka benar-benar bagus, mereka terus menyerang tanpa menurunkan performa sedikitpun." Ujar Taufan dengan nafas yang tinggal setengah.
Pertandingan hanya tersisa beberapa menit dan skor belum berubah sama sekali. Dan sekali lagi, di menit ke 40 babak kedua, hampir saja Tim Vanlith mencetak poin ke duanya dari tendangan sudut.
Bola di tangan Gopal kini melambung tinggi menuju Taufan, dengan baik diterimanya dan langsung mendribble maju ke daerah lawan.
"Bagus, ini kesempatan kita!"
Taufan menyisir sisi sayap kiri memberi umpan silang ke tengah daerah pertahanan tim Vanlith yang masih mentah. Blaze yang tidak terlihat datang dari belakang dan menyambut bola dengan kepalanya. Bola masuk tanpa bisa di tahan oleh sang keeper.
"Bagus! Ayo satu poin lagi."
Tim Vanlith kembali menyerang dengan kekuatan penuh. Akibat tekanan hebat ini membuat pertahan belakang lengah hingga tak melihat pergerakan lawan dari sisi sayap yang mendapat umpan terobosan lepas dari penjagaan mereka. Dan pemain No 10 itu lagi-lagi menunjukan tendangan mautnya dengan mudahnya menembus pertahaan Gopal.
Bunyi peluit panjang saat itu seperti menghentikan segalanya.
Berakhir…
Semuanya sudah berakhir, mimpi untuk menggenggam piala kini tinggal abu hasil perapian.
"Aku… kalah."
Sebuah anak sungai mengalir bebas dari pelupuk iris jingga terang itu berkebalikan dengan langit di hari itu biru sempurna tanpa awan gelap yang menodainya.
Blaze melupakan mimpinya dan saat ia menyadarinya, itu sudah terlambat untuk kembali berjuang.
Gumpalan kapas putih yang berarak terhawa angin di atas hanya membisu menjadi saksi kekalahan mereka. Sorak sorai ramai seisi stadion sayangnya bukan ditujukan untuk tim yang kalah.
"Si-sial… Aku kalah." Geramnya sambil meremas jerseynya sendiri.
Seseorang menepuk bahu Blaze, "Jangan sedih, kita sudah bermain sebaik mungkin.
"Ini pertandingan terakhir kita di SMA, aku ingin membawa piala untuk sekolah kita untuk terakhir kalinya. Tapi belum sampai final kita saja sudah kalah. Seharusnya kita berlatih lebih keras. Seharusnya kita…-Ugh." Nafasnya tertahan, tanpa ia sadari bulir liquid bening semakin deras mengalir.
Dengan cepat ia menghapus air matanya, tidak kerenkan seorang Blaze menangis bawang seperti ini di depan umum.
"Maaf, ini salahku." Ujar Blaze untuk terakhir kalinya menatap iris emas itu sebelum pergi meninggalkannya untuk kembali berbaris dan bersalaman.
Pertandingan berakhir, dengan kekalahan SMA Pulau Rintis atas SMA Vanlith.
~Luckyra~
Minggu pagi, Ice telah diijinkan pulang setelah Kaizo mengecek kondisinya yang membaik. Sebelum meninggalkan rumah sakit Kaizo mengingatkannya agar tidak terlalu memaksakan diri dan memintanya kembali 2 minggu lagi untuk melakukan kemoterapi kedua.
Ice hanya menanggapinya dengan desahan nafas panjang. Dia akan merasakan rasa sakit yang sama, lagi.
Sesampainya di rumah ia tak langsung tidur untuk beristirahat walau ayahnya memintanya begitu. Rak bukulah yang pertama kali ia hampiri, ia telah tertinggal beberapa materi untuk ujian akhir semester besok.
Ketukan pintu membuyarkan konsentrasinya ketika ia tengah berkutat dengan pena dan bukunya. Terpaksa ia meninggalkan kegiatannya sesaat untuk membukakan pintu.
"Maaf Nona, ada teman anda yang ingin bertemu." Ujar maid itu sopan.
Untuk sesaat ia menahan nafas, 'Siapa? Blaze kah?' tanyanya dalam hati.
"Baik, aku akan segera turun. Suruh dia menunggu di ruang tamu." Ice kembali melesat ke kamarnya untuk mengganti baju.
Pemuda yang mengenakan jaket ungu telah menunggunya di ruang tamu kediaman Etenia. Awalnya ia terkejut dengan kedatangan orang itu, namun ia tetap menyambutnya dengan senang hati.
"W-wow, aku tak menyangka kau akan langsung kemari setelah kau tau aku pulang dari rumah sakit."
Orang itu sedikit terkekeh, "Aku tak perlu membawakanmu bunga sebagai tanda selamat atas keluarnya dirimu dari tempat itu kan."
Ice menyunggingkan sedikit senyum, "Seharusnya kau membawanya. Ada apa kau kemari, Fang?"
Fang menyodorkan sebuah bingkisan, membuat Ice bertanya-tanya apa isinya.
"Aku yakin saat ini kau tengah bergelut dengan bukumu untuk ujian besok kan? Aku punya salinan catatan terakhir saat kau tidak masuk."
Jujur Ice sedikit berbinar melihat kemurahan hati lelaki berdarah dingin itu, kemudian pandangannya berubah menjadi penuh selidik dan tanya. Fang tidak mungkin jauh-jauh datang kemari hanya untuk menyerahkan catatan itu kan?
Ia menggaruk helai ungunya yang tak gatal ketika Ice menanyakan hal itu, "Yah, memang sebenarnya ada yang ingin aku obrolkan denganmu."
Ice tersenyum, lebih tepatnya menyeringai. "Tentang orang yang kau sukai?" tebaknya.
Ice terkekeh melihat raut wajah Fang sangat menggelikan ketika tebakan lawan bicaranya tepat sasaran. "Hentikan wajah konyolmu itu, membuatku ingin melempar sandalku ke wajahmu saja.. Jadi, apa yang ingin kau bicarakan tentangnya?"
Lelaki itu berdehem sambil memperbaiki posisi kacamatanya sebelum menceritakan hari 'itu'. Mulai dari pertemuan yang tak terduga sampai kejadian di gang Pak Senin Koboi. Dan selama itu juga Ice harus menghapus air matanya akibat tawa tak tertahan, butuh beberapa saat hingga tawanya mereda dan memandang wajah ilfeell Fang.
"Berhenti tertawa!"
Ice kembali menyeka air matanya, "Maaf, maaf. Tak ku sangka lelaki yang memiliki fansclub Fangtastic sepertimu masih mentah dipercintaan."
Sebuah perempatan imajiner muncul di kening Fang, "Diamlah!" katanya bersungut-sungut.
Kata maaf kembali terlontar dari gadis beriris aquamarine, menghentikan tawanya untuk memberi kesempatan Fang untuk bicara.
"Entah kenapa akhir-akhir ini saat aku menatap matanya jantungku berdegup lebih kencang, lidahku menjadi kelu saat aku ingin bicara padanya dan akhirnya akulah yang menghindarinya. Padahal saat festival kembang api, aku tak merasakah hal ini. Kami mengobrol seperti biasa, dan itu menyenangkan."
Pandangan Ice melunak, senyuman tipis kembali ia torehkan. "Itu karena kau mulai mengakui jika kau memang menyukai Ying. Saat kau menyadari perasaanmu pada seseorang, hatimu akan bergetar dan membuatmu bingung bertingkah seperti apa dihadapannya. Karena kau takut ia menjadi membencimu, kau memilih menghindar. Kurasa itu wajar untuk rasa yang tidak mainstream."
"Memangnya kau pernah merasakannya?"
"Setiap manusia yang hidup dan memiliki hati dan perasaan pasti merasakannya."
Sesaat kemudian wajah manis itu menjadi muram, mengingat kesalahpahaman yang masih terjadi diantaranya dan Ying. Tapi tunggu, ia sudah mengetahui perasaan keduanya saling beresonansi.
Lampu imajinasi Ice memancarkan cahaya terang, "Itu dia! Aku akan membantumu menyatakan perasaanmu pada Ying."
Dengan begitu kesalahpahaman antara mereka akan mencair, dan satu kebahagiaan akan berhasil ia lukis di sisa waktu yang ia miliki.
"Bagaimana caranya?" tanya Fang polos.
"Asal kau tau, jika kau benar-benar menyatakan perasaanmu saat di vending machine kemarin. Aku yakin kau menjadi lelaki paling tidak romantis sedunia, karena itu aku bilang kau itu masih mentah." Cibir Ice.
Fang mendengus kesal, "Lalu? Apa yang harus aku lakukan?"
"Aku akan membantumu setelah kau membantuku mempelajari materi terakhir untuk ujian besok." Ujar Ice langsung mengalihkan pembicaraan mereka.
Fang menyambut ucapan Ice dengan tatapan bosan. Ice beranjak kembali ke kamarnya untuk mengambil alat tulisnya, tak lupa meminta maid-nya untuk membawakan minuman dan beberapa cemilan.
Fang hanya menghela nafas panjang saat Ice kembali dengan setumpuk buku yang akan ia pelajari.
"Bukankah seharusnya kau istirahat?"
"Mereka pasti akan bertanya-tanya apa yang terjadi padaku saat nilaiku turun drastis gara-gara penyakit ini. Lagi pula aku sudah sering absen di semester pertama, itu sudah membuat raporku sangat buru." Jelas Ice yang dapat di terima akal.
Hampir 2 jam mereka belajar, konsentrasi Ice perlahan mulai buyar akibat rasa pening yang perlahan mulai menjalari kepalanya, otaknya mulai berontak ingin diistirahatkan.
"Jadi ini harus dihitung dulu dengan rotasinya, baru dikalikan dengan refleksinya. Setelah itu baru cari tranformasinya, caranya sama dengan saat kau mencari bayangan. Kau hanya tinggal mengalikan dan memindahkannya saja." Ujar Fang panjang lebar.
Sejenak ia melirik Ice yang tengah memijit pelipisnya, nampaknya ia kesulitan untuk berkonsentrasi. Tiba-tiba liquid merah mengotori buku putih dengan coretan tangan Ice
"Ah, maaf." Gumam Ice, langsung menggapai tissue yang tersedia.
Fang menghela nafas panjang, "Kita sampai di sini saja dulu, kau pasti sudah penat juga kan?"
Ice menengadahkan kepalanya, mencoba mengehentikan aliran darah dari hidungnya. "Tidak, aku masih bisa sedikit lagi."
"Bukankah seharusnya kau ini istirahat?"
"Aku akan beristirahat nanti, tapi kita selesaikan ini dulu." Ujar Ice masih bersikukuh untuk belajar.
"Kau ini keras kepala juga ya ternyata. Dengar ya, kalau kau sakit lagi, kau tak akan bisa ikut ujian besok. Apa artinya kerja kerasmu hari ini jika kau tidak bisa ikut ujian?"
"Aku hanya perlu istirahat sejenak, sedikit lagi, ya?" rengek Ice.
Fang mendengus kesal, memutuskan untuk mengalah, "Terserah kau sajalah."
Ice menghela nafas lega dan tersenyum cerah seperti biasanya. "Terima kasih."
~Luckyra~
Pagi yang suram mewarnai kelabu kota keci bernama Pulau Rintis. Kelabu menggelung tebal seolah siap menangis kapan saja. Dan pagi bagi gadis itu semakin suram karena disambut dengan pening yang tak kunjung sembuh sejak semalam.
Ini hari pertama ujian dan ia tak mau terlambat. Setidaknya ia harus berangkat 'sedikit' lebih pagi untuk mengambil kartu ujiannya dan mencari ruangan yang akan ia tempati. Ia menguap lebar sekali lagi dan mengucek matanya yang terasa agak perih sebelum ia bangkit menuju kamar mandi.
Semalam ia belajar sampai jam 1 dini hari, walau Kaizo mengatakan untuk banyak istirahat, tapi ia tak punya banyak waktu untuk mempelajari semua bab semester 1. Ia hanya bisa berharap agar semua yang ia pelajari akan keluar di ujian nanti.
.
.
"Aku pikir setelah kemoterapi keadaanku akan membaik, tapi ternyata sama saja." Gerutunya sambil memijit pelan pelipisnya.
Dilihatnya kartu berwarna kuning di tangannya, "Ruang 21 ada di mana sih?" jeritnya kesal, tak kunjung menemukan ruangannya.
Koridor yang ia lalui saat ini tidaklah terlalu ramai, lantai sedikit lebih kotor akibat tanah lembab yang terbawa langkah kaki. Di persimpangan ujung koridor sana, nampak sesosok lelaki yang sangat familiar baginya.
Ice memasang senyum, tangannya terangkat rendah hendak melambai untuk menyapa,
"Selamat pagi, Blaze."
"…"
Ia hanya melirik sesaat, kemudian kembali meluruskan pandangannya dan berlalu begitu saja.
Terluka tapi tak berdarah, sakit tapi tak berwujud. Apa-apaan sikap Blaze tadi? Sejak kapan ia meng-copy gaya Halilintar?
Ice berbalik, memandang punggung pemuda itu yang semakin memperjauh jarak mereka tanpa menoleh sedikitpun.
Di atas jalanan aspal dan tanah coklat tercipta bulatan kecil, yang perlahan menjadi banyak dan meluas. Akhirnya langit menumpahkan semua beban yang dikandungnya pada bumi.
"Aku salah ya?" gumam Ice dalam gemercik rinai yang membuat suhu di sekitarnya menjadi lebih dingin.
Ice POV
Hari demi hari berlalu, tanpa ada sesetes darahpun yang absen menemani ujian ini berlangsung. Rasanya ingin menangis, tapi tak boleh kuperlihatkan pada siapapun. Terasa sangat melelahkan, tapi aku tak boleh berhenti.
Aku mulai berpikir, sebenarnya aku ini kuat atau sebaliknya?
Kenapa ya manusia yang sebenarnya lemah berpura-pura kuat? Jika ku tanya setiap orang mungkin jawabannya sama, karena aku juga melakukan hal itu. Sampai kapan manusia bisa berakting seperti itu?
Pada akhirnya sekokoh apapun kayu, pasti lapuk juga kan?
Sama seperti hari ini, hari terakhir ujian, mata pelajaran bahasa inggris dan fisika. Kepalaku kembali berdenyut ketika otakku diperas untuk memunculkan rumus yang beranak. Rasanya ingin muntah saja ketika menggoreskan tinta hitam untuk menorehkan jawaban.
Bel berbunyi nyaring membuatku menghela nafas lega,
"Hah, tepat waktu." Desahku ketika aku berhasil menjawab soalan terakhir.
"Kalian bisa pulang sekarang." Ujar si guru penjaga usai membereskan map ujian.
Bisa ku dengar gerutu dari beberapa murid yang mengeluhkan soal fisika yang tak terduga, bisa dimaklumi karena pemerintah yang membuat soalnya. Murid menjadi tak tahu model seperti apa yang akan diujikan, seperti permainan monopoli.
Aku masih belum beranjak dari tempat dudukku, bahkan sekarang aku merebahkan kepalaku seperti orang pemalas. Terserahlah apa kata orang, setidaknya aku bisa mngistirahatkan otakku untuk beberapa saat ke depan.
Angin berhembus dingin terasa nyaman ketika menerpa wajahku. Sangat tenang dan menyenangkan, rasanya seperti ingin menghentikan waktu. Sayangnya ketenangan ini tak bertahan lama setelah seseorang datang dan duduk di bangku depan.
"Apa maumu?" Aku menatapnya malas tanpa mengangkat kepala satu inchipun dari batalan tanganku.
"Ujian sudah berakhir nona, kau masih berhutang padaku." Tuntut lelaki berkacamata itu.
Ah, sekarang aku ingat janji itu. Dengan setengah hati aku bangkit, meraih tas dan berjalan keluar.
"Kita bicarakan ini di setelah makan, aku lapar."
Nampak ia sedikit terkekeh, "Ternyata berpikir menguras tenagamu juga ya?"
Dengan cepat ia menyamakan langkah denganku. Selangkah sebelum kakiku menapak lantai di luar kelas, sosok Blaze kembali muncul di hadapanku, bersama beberapa temannya termasuk Gempa dan Gopal.
Sekali lagi kejadian itu terjadi, dia hanya terdiam, melirikku sesaat dan berlalu begitu saja. Ingin aku panggil namanya dan bertanya kenapa, daripada harus menyimpan rasa sakit ini lebih. Tapi hanya sampai di pita suara dan berhenti di lidah.
.
.
"Jadi bagaimana rencananya?" ujar Fang usai menyesap espressonya.
Ku serahkan ponselku yang layarnya membuka suatu web tegnologi. Dahinya berkerut seolah menanyakan apa ini.
Tanpa menunggu ia menanyakannya pun aku juga akan menjelaskannya, "Sebuah perusahaan bernama Ascending Technologies melakukan debut pertama mereka dengan melukis cahaya di langit malam menggunakan modifikasi dari drone AscTec Falcon 8 UAS yang ditambah lampu LED. Gunakan momen mewah itu untuk menyatakan perasaannya. Perform akan dilaksanakan di taman kota." Ujarku sambil memakan red velvet yang hanya tersisa setengah.
"Sepertinya romantic."
"Tentu saja, memangnya sepertimu yang dengan kepercayaan dirinya yang bodoh ingin mengatakan hal istimewa pada seorang gadis di depan vending machine? Sama sekali tidak ada bau romance."
"Berhenti meledekku! Lalu bagaimana aku mengajaknya?" ujarnya mengalihkan pembicaraan.
Aku menghela nafas, "Aku akan meminta Yaya untuk mengajak Ying melihat atraksi itu. Aku sudah menentukan tempat yang strategis untukmu."
"Kenapa tidak kau saja yang mengajaknya?"
"Dengarkan baik-baik, gara-gara kau yang sok perhatian denganku, Ying jadi paham dengan hubungan kita. Ia mengira aku ini pa…" Aku langsung memotong kalimatku.
Beruntung alam bawahku masih bekerja baik untuk menghentikan mulutku, jika Fang tau perasaan Ying padanya bukan surprise lagi namanya.
"A-ah maaf, seharusnya aku tidak berkata seperti tadi. Maaf, a-aku sedikit pusing." Ujarku yang kemudian menyesap latte caramel yang masih hangat.
"Ya, bukan masalah. Kau mau pulang sekarang? Wajahmu lebih pucat daripada saat kita bertemu di kelas tadi."
Sejenak aku memejamkan mata, "Ya, ku rasa aku butuh istirahat." Gumamku lirih.
Kami langsung meninggalkan caffe itu dan Fang langsung memanggilkan taksi untukku ketika ia melihat jalanku yang seperti orang mabuk. Aku akui, untuk orang sok cool sepertinnya cukup baik menurutku.
Blam…
Aku menutup pintu kamarku, rasanya aku ingin segera merebahkan tubuh ringkih ini ke kasur empuk yang telah terpampang di depan mata. Langkahku yang terhuyung memaksaku untuk menjadikan tembok sebagai barang tumpuan untuk menahan masa tubuhku.
"Aneh, kakiku gemetar. Apa aku terlalu lelah?"
Yah, memang ku akui selama 5 hari ujian ini aku hanya tidur 5 jam sehari untuk mengejar materi yang tertinggal.
Ku rasakan pandanganku menjadi berputar, "A-ah, kurasa aku memang kelelahan."
Saat tanganku hendak meraih kasur, tubuhku limbung, merasakan dinginnya lantai. Nafasku terputus seperti ada sesuatu yang melilit leherku, perlahan pandanganku menjadi menggelap. Yang ku ingat terakhir kali hanyalah genangan berwarna merah yang mengotori lantai putih itu.
.
.
"Keadaanya sudah mulai stabil."
Suara baritone yang terdengar familiar bagiku, sedikit membangkitkanku dari alam bawah sadar. Aku sedikit melirik ke arah suara itu berasal, dan benar saja, dokter Kaizo tengah mengobrol dengan ayah tentang diriku, tentang penyakitku, lagi.
Tanpa menyadari diriku yang telah terbangun, ia melanjutkan pembicaraannya dengan sosok yang berdiri di depannya yang bukan lain adalah ayahku.
"Tapi apa yang ia lakukan hingga drop seperti ini? Bukankah sudahku memperingatkannya untuk banyak istirahat? Padahal belum ada satu minggu ia meninggalkan tempat ini."
"Ia tengah ujian saat ini, mungkin karena ia terlalu bekerja keras untuk belajar hingga dia jadi seperti ini.
Dalam diam aku kembali memejamkan mataku. Ini memang salahku, membuat ayah selalu repot karena ulahku yang seperti masa bodoh dengan kesehatanku sendiri.
Ia sering memperingatkanku untuk banyak istirahat, tapi aku selalu menganggapnya angin lalu dengan perkataan yang menipu 'aku baik-baik saja'. Sekarang aku juga yang kena imbasnya.
"Sepertinya ia akan dirawat di sini 'lagi' untuk beberapa hari ke depan, untuk memastikan dia benar-benar istirahat." Kedua netra Kaizo menatapku yang berpura-pura terlelap.
"Baiklah, terima kasih."
Ku dengar langkah kaki yang semakin menjauh bersama dengan pintu yang tertutup. Tak lama ku menunggu, perlahan, bersama gerakan yang lembut, telapak tangannya menyentuh punggung tanganku. Ia menggenggamku erat, seolah tak mengijinkan aku pergi kemanapun.
"Cepat sembuh sayang." Bisik ayah pelan seolah tak menginginkan aku terbangun, kemudian disusul kecupan singkat di keningku.
Aku memillih untuk terus terpejam, berpura-pura menjadi malaikat manis yang tengah terlelap. Padahal aku hanya takut untuk melihat wajah orang yang kusayangi berlinang air mata.
~Luckyra~
Normal POV
Langit yang dipenuhi cahaya kecil berkerlip nampak mempesona ditemani bulan sabit nan cemerlang.
Akhirnya event yang dinantikan datang juga. Taman kota nampak ramai dengan para pasangan yang ingin menghabiskan malam minggu yang indah ini bersama.
"Yaya, kenapa banyak orang pacaran sih di sini?" bisik Ying yang sedikit merasa risih dengan pasangan alay yang duduk di bawah pohon beringin.
"Inikan malam minggu, bukannya sudah biasa pemandangan seperti ini?" ujar gadis berhijab merah jambu disampingnya.
"Kebiasaan yang buruk." Komentar Ying.
"Sudahlah, ayo pergi ke bukit itu. Sepertinya performnya akan lebih nampak jelas dari sana." Saran Yaya yang berjalan lebih dulu, membuat Ying yang tertinggal di belakang kehilangan sosoknya di antara kerumunan.
"Ih, Yaya di mana sih? Bukankah dia yang mengajak ke bukit ini, sekarang malah dia sendiri yang ngilang." Gerutu Ying sesampainya ia di puncak bukit.
Tempat itu memang tempat yang strategis untuk melihat pertunjukan light drone, tak perlu berdesakan seperti penonton di bawah sana.
Perlahan drone mulai terbang dari landasannya, bersamaan dengan melodi biola yang mengawalinya. 100 drone mulai membentuk berbagai formasi yang indah. Hanya dengan cahaya dan gelap yang menyatu dengan langit sepeti kumpulan kunang-kunang yang menari bersama jutaan bintang.
Sayangnya keindahan ini hanya dinikmati gadis berkuncir dua itu seorang diri, ketika kebanyakan orang bersama orang yang disayangi. Sedangkan sahabatnya menghilang entah kemana. Angin malam sedikit berhembus lebih kencang, membuat malam ini menjadi lebih nampak menyedihkan baginya.
Melodi orchestra mengalahkan melodi yang alam ciptakan, gemerisik dedauan terdengar berlalu bersama angin yang menerbangkan helai rambut sebagian yang tertutup beanie rajut.
"Indah ya, tarian dari 100 drone itu." Ujar orang yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
Gadis itu berbalik, memandang familiar sosok di hadapannya.
"F-Fang…" lidah Ying terasa kelu walau hanya dengan memanggil nama orang yang kini berjalan ke arahnya.
"Ba-bagaimana bisa kau..?"
Iris gelap itu menatap intens iris biru milik Ying, terlihat dalam dan penuh arti.
Tidak.. Ying tidak sanggup lebih dari ini, ia tau air matanya tak akan bertahan untuk bertemu iris itu lagi. Karenanya Ying lebih memilih untuk menyingkir dari hadapan lelaki bersurai pacak itu. Tapi tangannya ditahan oleh tangan bersarung tangan fingerless itu.
"Tunggu, tetaplah di sini. Bersamaku." Ujar Ice tanpa melepas kotak mata mereka, dengan lembut menarik Ying untuk tetap berdiri di sampingnya.
Hangat… Itu yang Ying rasakan ketika jemari Fang semakin erat menggenggang tangannya.
"Fang, kurasa…"
"Ying…"
Ying membeku.
"Aku mencintaimu," lirih Fang, membuat Ying terpana akan pandangan lembut yang Fang tunjukan padanya.
Netranya membesar, pantulan cahaya bulan di kaca lensanya, Ying menggeleng sambil menatap Fang dengan tatapan tak percaya.
Ia melepas genggaman tangan Fang, menunduk dalam, melepas kontak mata diantara mereka.
"T-tapi bukankah kau menyukai Ice?"
Fang tersenyum tipis, "Aku memang pernah bilang aku menyukainnya, tapi hanya sebatas teman."
Ia kembali menggenggam lembut kedua tangan Ying, "Tapi aku hanya mencintai satu orang, dan itu kau. Ying."
"T-tapi selama ini kau seperti sama sekali tak peduli padaku."
"Maaf jika selama ini aku begitu. Aku ini pengecut, tak berani mengatakan hal yang sebenarnya pada orang yang ku cintai. Tapi seseorang mendorongku untuk berani mengatakan hal ini. Aku tak ingin kau menjadi membenciku dan membuatku semakin jauh untuk meraihmu."
"A-aku.. hiks.. aku ini orang jahat ya?" ujar Ying mulai terisak.
"Aku pikir kau menyukai Ice, dan aku.. hiks…" Tubuh Ying bergetar hebat, kini rasa bersalah sepenuhnya menyelimuti hatinya. Tangisanya pecah dalam dekapan Fang, lelaki yang selama ini ia cintai.
Satu-satunya penyesalannya hanya satu, ia telah menghancurkan persahabat yang seharusnya lebih berarti dari apapun dalam sekejap mata hanya karena egonya. Ia pikir Ice yang jadi tokoh antagonis dalam kehidupannya, tapi ternyata ia salah. Justru dialah tokoh antagonis dalam hidupnya sendiri.
"Sahabat macam apa aku ini? Aku menyalahkan Ice karena semua egoku. Aku bahkan sempat membentaknya karena, karena, karena kau menyukai Ice."
Tangis Ying pecah, Fang menariknya dalam dekapan hangatnya.
"Ini bukan salahmu, ini salahku. Aku yang melukai hatimu akan sikapku yang seperti ini. Tapi percayalah, aku hanya mencintaimu seorang." Bisik Fang.
Tangisan Ying mulai menjadi, ia juga merasakan rasa sakit yang Ice rasakan ketika ia melampiaskan semua rasa kesalnya. Ternyata rasa sesakit ini, sakitnya bersalah atas diri sendiri dan menyalahkan orang lain sebagai pelampiasan.
.
.
.
TBC… :3
Hmmm, sepertinya banyak yang salah paham yak sama hubungan Fang sama Ice.. Maksudnya Fang menyukai Ice itu sebenernya itu cuma suka sebagai temen. Jangan percaya sama gombalan atau godaan Fang sama cewek yang gombalinnya.
Fang : Woy! :3
Cinta Fang itu Cuma buat Ying seorang, walau selama ini dia itu diam-diam suka ,
Fang : *Blush* Jangan buka kartu orang napa? -_-"
Apa akunya aja ya yang penyampaiannya ngga jelas? Hehehe :D
Oke kita langsung aja ke bales review =
Shidiq743 : Heh? Emang keliatan banget ya Fang suka sama Ice? Padahal Fang Cuma niat bantu Ice aja. Ara-ara jangan percayalah sama gombalan Fang.
Rampaging Snow : Iya, udah tau kan sekarang… Minta pajak jadian sama Fang sana :D Makasih dukungannya ^^
Illira : Kalo cast di fic ini pada punya kuasa, hancurlah fic ini :D … Hai,makasih dukungannya ^^
Chocolate White 2201 : :D :D :D Heh, aku ngga yakin Blaze punya pikiran buat nyari Ice kayak gitu.
Blaze : Intinya ngatain aku ngga peka atau bodoh ni? *Nyiapin bebola api
Lucky : Pikir aja sendiri :3
Hai, makasih dukungannya ^^
Vanilla Blue12 : Hai Blue ^^ *Kebiasaan manggil nama orang seenaknya
Ngga papa kok, aku juga updatenya sering kelamaan. Ternyata juga, saya salah buat kode keras pada readers, sampe pada nyangka Fang suka sama Ice T,T … Padahal niatnya Kyra Cuma buat Fang bantu Ice doing :3
Jaa, makasih ya atas dukungannya…
Minna mo, hountoni arrigatou…
Jaa, sampai jumpa di chapter berikutnya ^^
